My Destiny
November 28th, 2009 by mypastpresentandfutureAkhirnya tiba kembali di Jakarta, dan mendaratkan tubuhku yang agak penat di Kopitiam Oei, Jl.Sabang. Makanan dan suasana disini selalu membuatku ingin kembali, nyaman aja.
Long weekend ini aku baru saja menghabiskan waktu yang berkualitas dengan Mamih, panggilan untuk My Mom, di Sumedang. Kebetulan ada tumpangan hari Kamis malem lalu, untuk menuju Bandung tanpa harus berdesak-desakan di kereta atau travel.
Salah satu misiku ketemu Mamih adalah untuk bertanya, jam berapa tepatnya aku dilahirkan pada tanggal 14 November 1975 itu. Aku hanya ingat pagi saat matahari terbit. Tapi jam berapa tepatnya, itu menjadi penting sejak aku bertemu Mbak Lucy yang tinggal di Penang Malaysia, ibu Goddess temennya Mbak Aida yang ketemu saat ultah Papa ke 75 di Jogja.
The exact hour, and minute of your birth is important. It has to be precise, karena selisih semenit aja akan beda hasilnya. Jam saat kita lahir ke dunia ini, menentukan posisi planet dan komposisi alam semesta saat itu, dan posisi itulah yang menentukan takdir si bayi dalam kehidupannya di dunia ini. Aku gak ngerti deh detail penjelasan astrologinya, tanya Mbak Lucy aja ya hehehe.
Ternyata Mamih pun gak ingat persis, ya iyalah lagi kesakitan gitu mana kepikiran juga kali tanya ibu bidan, jam berapa anaknya lahir. Mamih cuma ingat saya lahir setelah Subuh, karena saat tiba di klinik, bidan Neni yang membantu kelahiranku, meminta Mamih menunggu karena dia mau sholat Subuh dulu.
Tapi rupanya the baby (me) udah gak sabar pengen segera melihat dunia, karena tanpa pertolongan bidan pun, baby bandel itu udah nyelonong keluar sendiri, gak nungguin bidannya bantuin.
Tanpa harus mengejan dan bersusah payah, kata Mamih, aku keluar dengan mudah tanpa bisa ditahan lagi, dan bukan hanya keluar, tapi melesat lompat keluar dari rahim, dan mendarat di ujung kasur, hingga nyaris jatuh saking jauhnya. Tali ari-ari yang menghubungkanku dengan Mamih sangatlah panjang. Bahkan yang tersisa di rahim pun masih sangat panjang, begitu kisah Mamih.
Menurut cerita para tetua itu pula, Mamih sudah diingatkan bahwa anak perempuan keduanya ini sudah ditakdirkan akan menjadi pengembara yang menyusuri negeri-negeri seberang, dan tinggal jauh dari orang tuanya. Simbol tali ari-ari sangat panjang itu dan proses kelahiranku yang rada ajaib itu pertandanya.
Tapi meski sudah tahu tanda-tanda alam yang menjadi takdir kehidupan sang anak, Mamih masih suka gak terima kalau aku katakan mengenai rencana-rencanaku. Beliau sudah tahu rencanaku untuk tinggal di Amerika, mimpiku berkeliling dunia, dan menjadi pengembara alam semesta. Mamih masih suka terheran-heran dan tak bisa mencerna apa isi kepalaku dan hasrat ku ini yang untuk pemahamannya begitu jauh dan tak terjangkau.
Mungkin beliau hanya lupa, bahwa posisi alam semesta saat itu ketika aku lahir memang telah mentakdirkan ku bukan menjadi seorang perempuan biasa dan menjalani hidup yang biasa-biasa saja. Seandainya Mamih tahu, bahwa anak perempuannya ini adalah yang terpilih untuk menjadi orang besar kelak. Doaku hanya satu, semoga Mamih bisa menyaksikan saat semua mimpi besarku itu terwujud, dan ku harap tak lama lagi.
Ada hal “ajaib” lain yang terjadi beberapa hari lalu. Kali itu aku naik taksi Bluebird dari tempat meeting di Gatsu menuju rumahku untuk mengambil barang yang akan dibawa mudik. Jadi aku minta supir taxi untuk menunggu. Saat aku kembali dan taksi kuminta mengantar ke kantor di bilangan Kebayoran Baru, supir taksi mulai tanya-tanya.
“Rumahnya bekas rawa ya Mbak?”Waduh saya gak tahu pak, baru setahun tinggal disitu, jawabku. “Gak aman ya Mbak, lanjutnya. “Ah sejauh ini aman-aman aja sih Pak, saya betah kok disitu. “Itu bekas rawa mbak, banyak penunggunya.. Hmm kok ceritanya mulai horor begini pikirku. “Emang bapak bisa lihat ya?” Iya, jawabnya. Bisa ngerasain doang apa ngeliat juga ? Ngeliat dan bisa komunikasi, ceritanya. Duh kok makin horor. Tapi aku gak mau terpengaruh, ah biarin deh selama ini baik-baik aja kok pikirku.
Supir taxi nya lanjut tanya, belum menikah ya Mbak ? Nah kok pertanyaannya mulai masuk ke wilayah privat kataku dalam hati. “Belum pak.” Tapi ada pacar ? cecarnya. Aku bilang ada. Dia terus nyambung, tapi kayaknya gak bakal sama yang ini deh, saya lihat suami Mbak itu bukan orang sini, wajahnya bule-bule gitu. Hmm..aku nyengir aja dengernya. “Ya nggak apa-apa bule juga pak, yang penting baik dan sayang sama saya, ” aku berusaha menjawab diplomatis.
Sepanjang perjalanan menuju Kebayoran dia pun terus ngoceh soal apa yang ada di diriku. Rupanya dia cenayang yang sedang mengulitiku habis-habisan. Dia bilang sudah memperoleh sense ini sejak kecil, dan tanggal kelahirannya pun unik, tanggal 7 bulan 7 tahun 1977. Tuh kan lagi-lagi tanggal lahir menentukan garis takdir.
Dia menyaranku untuk melakukan sedikit upaya, seperti puasa saat hari kelahiran untuk mempertajam “gift” yang ternyata sudah ada di diriku ini sebagai bawaan, tapi rupanya aku tak menyadari dahsyatnya pemberian itu.
“Orang lain untuk bisa seperti Mbak itu harus beli ratusan juta, Mbak itu udah punya, dikasih Tuhan ada di diri sendiri, tinggal ngolah, ” katanya begitu antusias. Kayaknya supir taksi bernama Ardian ini gemes banget melihat “bawaan”ku yang didiemin aja, dia mengaku ingin bantu, dan aku bilang terima kasih atas kesediannya.
Tapi aku sampaikan bahwa aku lebih suka menjalani proses penajaman itu sendirian, biar aku sendiri yang melakoninya dan memahami perjalanan itu sendiri. Mekar dengan segala pesona dan anugerah Tuhan yang telah diberikan padaku sejak lahir ini dengan alamiah.
Aku tak ingin terjebak dengan segala yang instan dan kemudian missing the key. Karena bagaimanapun, Tuhan memberikan ini semua tentu dengan sebuah misi yang baik bagi sesama, dan aku harus menjalankannya sesuai amanah. Hanya mohon kekuatan dan keikhlasan untuk bisa menerima dan melakoninya. Aku tahu Dia selalu mendampingiku di setiap langkahku. Thank You Lord..