My Destiny

November 28th, 2009 by mypastpresentandfuture

Akhirnya tiba kembali di Jakarta, dan mendaratkan tubuhku yang agak penat di Kopitiam Oei, Jl.Sabang. Makanan dan suasana disini selalu membuatku ingin kembali, nyaman aja.

Long weekend ini aku baru saja menghabiskan waktu yang berkualitas dengan Mamih, panggilan untuk My Mom, di Sumedang. Kebetulan ada tumpangan hari Kamis malem lalu, untuk menuju Bandung tanpa harus berdesak-desakan di kereta atau travel.

Salah satu misiku ketemu Mamih adalah untuk bertanya, jam berapa tepatnya aku dilahirkan pada tanggal 14 November 1975 itu. Aku hanya ingat pagi saat matahari terbit. Tapi jam berapa tepatnya, itu menjadi penting sejak aku bertemu Mbak Lucy yang tinggal di Penang Malaysia, ibu Goddess temennya Mbak Aida yang ketemu saat ultah Papa ke 75 di Jogja.

The exact hour, and minute of your birth is important. It has to be precise, karena selisih semenit aja akan beda hasilnya. Jam saat kita lahir ke dunia ini, menentukan posisi planet dan komposisi alam semesta saat itu, dan posisi itulah yang menentukan takdir si bayi dalam kehidupannya di dunia ini. Aku gak ngerti deh detail penjelasan astrologinya, tanya Mbak Lucy aja ya hehehe.

Ternyata Mamih pun gak ingat persis, ya iyalah lagi kesakitan gitu mana kepikiran juga kali tanya ibu bidan, jam berapa anaknya lahir. Mamih cuma ingat saya lahir setelah Subuh, karena saat tiba di klinik, bidan Neni yang membantu kelahiranku, meminta Mamih menunggu karena dia mau sholat Subuh dulu.

Tapi rupanya the baby (me) udah gak sabar pengen segera melihat dunia, karena tanpa pertolongan bidan pun, baby bandel itu udah nyelonong keluar sendiri, gak nungguin bidannya bantuin.

Tanpa harus mengejan dan bersusah payah, kata Mamih, aku keluar dengan mudah tanpa bisa ditahan lagi, dan bukan hanya keluar, tapi melesat lompat keluar dari rahim, dan mendarat di ujung kasur, hingga nyaris jatuh saking jauhnya. Tali ari-ari yang menghubungkanku dengan Mamih sangatlah panjang. Bahkan yang tersisa di rahim pun masih sangat panjang, begitu kisah Mamih.

Menurut cerita para tetua itu pula, Mamih sudah diingatkan bahwa anak perempuan keduanya ini sudah ditakdirkan akan menjadi pengembara yang menyusuri negeri-negeri seberang, dan tinggal jauh dari orang tuanya. Simbol tali ari-ari sangat panjang itu dan proses kelahiranku yang rada ajaib itu pertandanya.

Tapi meski sudah tahu tanda-tanda alam yang menjadi takdir kehidupan sang anak, Mamih masih suka gak terima kalau aku katakan mengenai rencana-rencanaku. Beliau sudah tahu rencanaku untuk tinggal di Amerika, mimpiku berkeliling dunia, dan menjadi pengembara alam semesta. Mamih masih suka terheran-heran dan tak bisa mencerna apa isi kepalaku dan hasrat ku ini yang untuk pemahamannya begitu jauh dan tak terjangkau.

Mungkin beliau hanya lupa, bahwa posisi alam semesta saat itu ketika aku lahir memang telah mentakdirkan ku bukan menjadi seorang perempuan biasa dan menjalani hidup yang biasa-biasa saja. Seandainya Mamih tahu, bahwa anak perempuannya ini adalah yang terpilih untuk menjadi orang besar kelak. Doaku hanya satu, semoga Mamih bisa menyaksikan saat semua mimpi besarku itu terwujud, dan ku harap tak lama lagi.

Ada hal “ajaib” lain yang terjadi beberapa hari lalu. Kali itu aku naik taksi Bluebird dari tempat meeting di Gatsu menuju rumahku untuk mengambil barang yang akan dibawa mudik. Jadi aku minta supir taxi untuk menunggu. Saat aku kembali dan taksi kuminta mengantar ke kantor di bilangan Kebayoran Baru, supir taksi mulai tanya-tanya.

“Rumahnya bekas rawa ya Mbak?”Waduh saya gak tahu pak, baru setahun tinggal disitu, jawabku. “Gak aman ya Mbak, lanjutnya. “Ah sejauh ini aman-aman aja sih Pak, saya betah kok disitu. “Itu bekas rawa mbak, banyak penunggunya.. Hmm kok ceritanya mulai horor begini pikirku. “Emang bapak bisa lihat ya?” Iya, jawabnya. Bisa ngerasain doang apa ngeliat juga ? Ngeliat dan bisa komunikasi, ceritanya. Duh kok makin horor. Tapi aku gak mau terpengaruh, ah biarin deh selama ini baik-baik aja kok pikirku.

Supir taxi nya lanjut tanya, belum menikah ya Mbak ? Nah kok pertanyaannya mulai masuk ke wilayah privat kataku dalam hati. “Belum pak.” Tapi ada pacar ? cecarnya. Aku bilang ada. Dia terus nyambung, tapi kayaknya gak bakal sama yang ini deh, saya lihat suami Mbak itu bukan orang sini, wajahnya bule-bule gitu. Hmm..aku nyengir aja dengernya. “Ya nggak apa-apa bule juga pak, yang penting baik dan sayang sama saya, ” aku berusaha menjawab diplomatis.

Sepanjang perjalanan menuju Kebayoran dia pun terus ngoceh soal apa yang ada di diriku. Rupanya dia cenayang yang sedang mengulitiku habis-habisan.  Dia bilang sudah memperoleh sense ini sejak kecil, dan tanggal kelahirannya pun unik, tanggal 7 bulan 7 tahun 1977. Tuh kan lagi-lagi tanggal lahir menentukan garis takdir.

Dia menyaranku untuk melakukan sedikit upaya, seperti puasa saat hari kelahiran untuk mempertajam “gift” yang ternyata sudah ada di diriku ini sebagai bawaan, tapi rupanya aku tak menyadari dahsyatnya pemberian itu.

“Orang lain untuk bisa seperti Mbak itu harus beli ratusan juta, Mbak itu udah punya, dikasih Tuhan ada di diri sendiri, tinggal ngolah, ” katanya begitu antusias. Kayaknya supir taksi bernama Ardian ini gemes banget melihat “bawaan”ku yang didiemin aja, dia mengaku ingin bantu, dan aku bilang terima kasih atas kesediannya.

Tapi aku sampaikan bahwa aku lebih suka menjalani proses penajaman itu sendirian, biar aku sendiri yang melakoninya dan memahami perjalanan itu sendiri. Mekar dengan segala pesona dan anugerah Tuhan yang telah diberikan padaku sejak lahir ini dengan alamiah.

Aku tak ingin terjebak dengan segala yang instan dan kemudian missing the key. Karena bagaimanapun, Tuhan memberikan ini semua tentu dengan sebuah misi yang baik bagi sesama, dan aku harus menjalankannya sesuai amanah. Hanya mohon kekuatan dan keikhlasan untuk bisa menerima dan melakoninya. Aku tahu Dia selalu mendampingiku di setiap langkahku. Thank You Lord..

It’s Been A Year

November 17th, 2009 by mypastpresentandfuture

Finally I replied that email after a week in my inbox after I read it. Short and sweet email from a friend who live in thousand miles distance. Just said happy birthday. Simple, and even he’s not remember the exact date of my birthday. All he remembered was it’s on November, and last year we had a great lunch gathering at a restaurant at TIM which provide delicious Menadonesse food.

I replied his email in awkward feeling. Suddenly I bumped myself to a mirror that reflects what happened in my life for last 12 months. Time flies. That email was from my old friend, who is literally old, knocked me out to this deep feeling of mixed. Suddenly all of those scenes appeared, and I can see them clearly through my computer screen. Amazing. And I cant help myself to write, because I need to relieve it, before I can continue to work.

I found him in Havana Cuba, three years ago. We still talking through email sometimes, and share our stories. His stories always bring me to revealed my memories in Havana back. And raised up the feeling of missing that place so bad, and promise myself that I get back there again.

Our email not as often as before, but  finally we made our real meeting again here in Jakarta a year ago. A homeland that he’s been leaving for more than 40 years ago. A moment of life. A dream come true.

He reminds me of how wonderful our meeting was. Yes, last year. His email forced me to remember the detail of that meeting, who was there, what happened and how we share that moments of joy.

Twelve months been gone, and so many things happened. I didn’t tell him the detail about what’s going on in my life since that. I just writing an mellow email, about my reflection of life recently. People come and go in our life, including one of our good friend in Havana who passed away early of this year. Scene by scene roll like a movie in a 365 days of duration. Laughter and sorrow, smile and tears, always two sides of coin, like a day and a night, inseparable.

Yes, it’s been a year gone by..wish we had a chance to meet each other again. And I wish to see and sit again with those people on that lunch gathering too later in the future. With the same ambiance, and the spirit of friendship. I wish the Universe will let us bump each other again at another crossroad.

November Bless

November 13th, 2009 by mypastpresentandfuture

“Let see what November brings into my life,” thats what I said to myself when November has come this year. November always special to me, since I was born on November..I was clueless at that time, no hope no extra ordinary dreams, just ask the universe and let it works.

Just days after..that sms, and series of BBM, brought me back to Jakarta for a while checking this and that, and finally drove me to a final decision, that I took one of the offer. Go back to my corporate life instead of working for government again. Enough with politics, and it’s time to make money and walk further in my professional life as a real career woman who pursue my goals to make my life worth for the people.

My life was in turmoil lately, like riding a roaller coaster, full of surprises here and there. Shocked til numb. Tears til smile. Pain til gain. All of those feeling where mixed it up once in a while, or come one after another within months.

Again He wants to teach me something. New lesson, and also old ones that I didn’t pass yet. It’s another difficult time in my life. Crying out loud til those sleepless nights because of struggling with my deepest pain and sorrow. It was there..and fade away, transform to a new wisdom and enlightment. I’m stil here standing still.

Three months I have been leaving Jakarta, back to my home town, working with different crowd and purpose, was another chapter. Living a different life and curing my broken heart at the same time. Tough but it works so well. Jogja is always a place to go home and family always be the best supporter in good and bad times.

Now on my 34 birthday, I pack my bag again to go back to Jakarta. A new chapter of life is waiting. November brings me a new job, new life, new friends, new joy and excitement.

God works in His mysterious way, it just us who sometime not realize that it is a bless until its time to be revealed. And today I want to say thanks to you all, for being here, reading my post, sharing these moments of my life. Maybe we’ve never met, or no longer meet each other because of distance or some reasons, but I know you are there and be with me somehow in someway.

For all of you out there..I love you, and you are the reason, why I continue to write and staying alive. Thank you..

A Lifetime Friend

October 15th, 2009 by mypastpresentandfuture

I was at Paseban Klaten, at a site project, when an sms notified me that my special guest has arrived. Since I moved to Jogja for almost three months, he’s my third VVIP one. First sang begawan, second my angel, and the third is a lifetime friend.

I’m so excited. Finally he’s here. And not just that, as promised, instead of driving a luxury car with driver, he pick me up with a motorbike, and off course extra helmet. Amazing..I have a really special ojek driver with me.

That was the dinner at Gadjah Wong last nite, and continue with blogshop today, and kopdar tonite. I remember this is the event that I was part of the initiation. I’m so happy it happened, even I wasn’t there anymore. It was a new year party 2009, when we discuss it at the first place.

It’s been a long time we’re not seeing each other. I miss him and his wonderful events, he’s such a great event organizer and Nokia man, who connecting people across the circle.

He always wonder why I “disappear” from Jakarta. I just told him that I need a break to give myself an extra space for my mentally exhausted condition. And Jogja always the be best place, as it is home to me.  I know I should get back, just a matter of time, my life is waiting. Maybe soon, maybe later, or maybe just direct to DC not Jakarta, or maybe another places on the globe. Never know what will happen in the future, I just do my part as a human, paint my dreams, give my best effort and let the universe do the rest.

He reminds me about my pledge on my 33th birthday last year, that we will always be friend, no matter what, wherever we will be on earth we will visit each other..

I know later on in our life, we will write another history for our both beloved countries, because we made one. And more to come..

“It’s a bless to have you in my life, even we’re distance, you know that you always have a special place in my heart. You’re the selected one. A true friend is the one who stay when everybody is leaving, the one who stand by my side through the stormy days. And you were there, stay and hold my hand and help me stand. I’m so grateful for that. Thanks you so much”.

When I look back, it’s so beautiful how we found each other. I remember it was at Presidential Office, both of us were working. It was a really hot day, I was so sweat, and a bit nervous to talk to him asked about my IVLP. That scene seems like long time ago, but it was just two years passed, and he will leave next year. Time flies, I hate to say goodbye, but I know there’s no goodbye for a lifetime friend, what we have to say just, see you later. Sampai jumpa lagi.

Cita-Cita, Fokus dan Ego

October 14th, 2009 by mypastpresentandfuture

Hari menjelang senja, udara dingin mulai membalut kulit. Sudah lama aku tak menginjak tanah berumput di kaki Gunung Merapi ini. Kali ini aku kembali kesana setelah bertahun-tahun yang lalu. Kaliurang, di lokasi biasa orang berkemah ini menjadi tempat ku berpijak selama kurang lebih satu jam setengah.

Bumi perkemahan ini menjadi tempat berkumpul sekitar 140 mahasiswa Komunikasi UGM 2009 yang mengikuti acara Great Camping 2009, 10-11 Oktober lalu. Aku datang diundang panitia, mahasiswa 2008, yang ingin aku berbagi cerita dengan adik-adik yang baru datang ke kampus kami itu.

Tanpa makalah, slide, atau materi yang ditampilkan apapun, aku hanya datang dengan niat baik. Semoga apa yang aku ceritakan bisa menjadi sedikit inspirasi bagi mereka yang baru saja menginjakkan kaki di jurusan ini.

Seperti berulang kali kuceritakan dalam forum yang berbeda, aku katakan bahwa sejak remaja aku memang sudah bercita-cita menjadi seorang jurnalis. Alasannya sederhana, karena aku ingin jalan-jalan gratis. Semua berawal karena majalah Gadis dan Hai yang menemaniku tumbuh remaja menyajikan liputan-liputan asik yang membuatku iri pada sang wartawan. Tekadku pun makin bulat, sehingga sempat tersesat di jurusan Sastra Perancis aku pun segera banting setir kembali ke tujuan semula.

Kisahku mempersiapkan karirku sebagai wartawan, semasa kuliah membuat mereka terlongong-longong. Bukan hebat-hebat amat sih, cuma mereka takjub dengan kebandelanku yang sering bolos kuliah demi merajut cita-cita, dan membekali diri dengan berbagai aktivitas kejurnalistikan. Aku paparkan juga bahwa yang aku raih saat ini tak kubangun dalam sehari, tapi karena jaringan yang sudah kubangun sejak masa kuliah, dan tentu saja nama besar UGM.

Intinya aku hanya ingin mereka memastikan diri, bahwa mereka tahu apa yang mereka mau dengan memasuki jurusan komunikasi. Mau jadi apa sih? Logikanya, bagaimana bisa merancang sebuah rencana study bila tujuan akhir yang ingin dicapai saja masih tak tahu. Aku selalu mengibaratkan kita tiba di terminal, tapi masih kebingungan akan menuju ke kota mana sehingga belum bisa memutuskan akan naik bis yang mana.

Tapi menetapkan tujuan dan merumuskan apa yang aku mau memang sebuah pekerjaan maha berat. Tak banyak yang bisa menjabarkan dengan jelas apa sebenarnya yang dimau dalam hidupnya. Petuah bijak sang malaikat tak bersayap itu, jadikan itu cita-cita sebagai patokan arah, jalani dengan sepenuh hati, fokus dan sabar, lalu biarkan alam memprosesnya.

“Jangan mengkambinghitamkan nasib atau takdir. Wong nasib itu kan kita sendiri yang menentukan dengan munculnya keinginan. Setelah ingin, tinggal apakah keinginan itu didukung hati dan alam apa tidak. Cilakanya, masih kata sang malaikat, seringkali hati dan pikiran itu tak sinkron, apalagi bila ego sudah bermain,” katanya panjang dan lebar.

Ah ego, sulit sekali diri ini hidup tanpanya. Setiap hari aku masih berjuang untuk menaklukannya, membakarnya hingga habis, karena hidup tanpa ego sungguh indah dan membahagiakan. Sahabatku yang baru pulang dari Bali itu berhasil membuatku iri setengah mati, ketika minggu lalu kami bertemu di sudut tercinta itu. “Enak banget Nden hidup kayak gini nih,” katanya dengan tatapan mata sungguh nyaman dan tenang. Huuuuu…aku iriiiii, wish me luck brow, I will be there too..soon..

Berdamai dengan Hati

October 5th, 2009 by mypastpresentandfuture

Hampir tiga bulan saya meninggalkan hiruk pikuk Jakarta. Kemacetan dan polusi itu sudah tak menjadi bagian keseharian saya lagi. Menyenangkan. Godaan untuk kembali memang tak juga surut. Berbagai telepon, email dan sms pun masih berdatangan mengundang bergabung ini itu. Beberapa kesempatan memang terpaksa harus saya lewatkan. Sedikit dilematis, tapi prioritas saya saat ini hanya satu, ingin rehat.

Mental saya lelah, hati saya masih tercabik-cabik, jiwa ini masih perlu ruang yang lega. Rupanya saya masih membutuhkan kelapangan untuk kembali menata hidup saya yang baru saja kena gempa 8,9 SR. Puing-puing itu masih berserakan meski proses evakuasi sudah berlangsung baik. Semoga masa tiga bulan ini cukup sebagai tanggap darurat bagi  gempa hati  ini.

Saat sulit seperti ini tentu juga jadi penyeleksi terbaik, untuk mengetahui manakah yang benar-benar sahabat, dan mana yang hanya menjadi teman di kala senang. Beberapa sahabat meski terentang jarak, bahkan terpisah benua dan samudera, telah menjadi penerang di kegelapan. Bahkan yang menyenangkan, tak jarang mereka menggampar saya dengan “kejam”. Tudingan pengecut pun mempir ke layar YM saya, yang saya terima dengan pasrah.

Mungkin benar apa kata mereka. Saya pengecut. Mengapa saya lari? Takut menghadapi kenyataan bahwa lelaki tercinta itu sudah memilih perempuan lain untuk dicintainya? Khawatir bila terpaksa harus berpapasan dengan mereka di sebuah tempat dan menyaksikan mereka sedang berpelukan mesra ? Lagi-lagi saya diam, rasanya semua perkataan sahabat saya yang ditulis dengan huruf kapital itu benar adanya.

Ya, saya takut menghadapi kenyataan bahwa lelaki tercinta itu sudah tak mencintaiku lagi. Semua yang pernah kami bangun tak ada artinya lagi untuknya. Saya hanya sekeping sampah yang bahkan harus dihapusnya dari contact list BBM nya. Fakta bahwa saya memang tak ada artinya lagi untuk dia, itu masih memedihkan hati. Saya masih tak bisa menahan rasa cemburu menyadari bahwa semua cintanya dan segenap perhatiannya tak lagi tersisa setetes pun untukku.

Saya masih enggan kembali ke rumah mungil itu, dimana kami pernah sama-sama menatanya. Saya tersiksa melihat semua barang-barangnya masih tersimpan aman di tempatnya. Menyaksikan pojokan tempat biasanya merokok itu sekarang kosong tak berpenghuni. Semua tak berubah. Saya memang masih tak ingin menyentuhnya. Entah kenapa, mungkin saya masih berharap suatu saat dia akan kembali ke sana, atau mungkin saya hanya masih dirundung rasa takut yang menghantui itu.

Sahabat saya yang “sadis” itu rupanya baru saja mengalami badai hidup yang kurang lebih sama meski dalam konteks yang lebih kompleks. Dia sampai harus mengasingkan diri ke Bali sepekan, dan mematikan semua alat komunikasi. Hanya saya satu-satunya yang tahu dia dimana saat itu. Karena dia masih mengabari saya via BBM sebelum benar-benar menghilang. Gone for a week.

Tapi rupanya sepekan itu sungguh ajaib untuknya. Saya yang mendengar ceritanya saja sepulang dia dari Bali itu sampai tercengang-cengang. Jujur saya iri padanya, sungguh sebuah pengalaman hidup yang menohok, mencerahkan dan menjadi titik balik dalam kehidupannya. Sendiri, menggelandang di pantai Kuta setiap hari, duduk di spot yang sama, bengong berjam-jam, kosong, bingung, dan hampa. Rupanya disaat itulah Tuhan mengirim utusan-utusan-Nya dengan cara yang aneh. Untuk menyampaikan pesan-Nya, mengajari sahabat saya esensi hidup, membuatnya terbangun, dan memaksanya berpikir ulang tentang hidup yang harus dijalani. Pengalaman batin yang berarti.

Oleh-oleh dari Bali itu rupanya yang kemudian dia bagikan pada saya. “Nenden elu pengecuuuuuuuuttttt!!!!!,” begitu teriaknya pada saya. Anjrit, udah lama saya gak dimaki orang seperti ini. Tak banyak yang berani melakukannya. Dan saya sangat menghargai siapapun yang berhasil memaki saya tanpa sungkan seperti ini. Karena saya tahu mereka melakukannya untuk apa. They care about me, and want me to wake up and move on. Saya pun cuma bisa misuh-misuh. Begitu tertohoknya saya ketika sederet kebenaran itu dipaparkan dengan gamblang di depan mata. Kebenaran memang seringkali menyakitkan. Tapi itulah obat yang saya yakin bisa menyembuhkan.

Saya tahu tak bisa lari terus-terusan dari kenyataan. Saya harus berhenti, berbalik arah, menghadapinya dengan berani. Saya ingat beberapa hari usai kejadian itu, saya berbincang dengan sang begawan, betapa saya ingin menyepi di Ubud untuk sementara waktu. “Why Ubud Nenden, the turmoil is in your heart, yes Ubud might help, but not that much,” katanya bijak..Lagi-lagi saya terdiam. Dia benar, kegundahan itu ada di hati saya. Suasana Ubud yang tenang hanya akan membantu sedikit, tapi tak akan serta merta menyembuhkan.

Hanya satu kuncinya, kata sahabat saya yang baru digampar preman Kuta itu, memaafkan. Memaafkan berarti menerima kenyataan dengan ikhlas, mengampuni apapun yang telah dilakukan lelaki tercinta itu, bagaimanapun dia pernah mencintai saya sebelum kemudian membenci saya. Memaafkan juga bermakna berdamai dengan diri sendiri. Menerima dengan lapang dada bahwa mimpi untuk membangun masa depan bersama lelaki tercinta itu tak akan menjadi nyata. Berdamai dengan diri sendiri bahwa kami ditakdirkan tak lagi hidup bersama. Bersiap dengan rencana hidup baru yang seringkali penuh kejutan. Tersenyum menatap fotonya, bersiap mengulurkan tangan dan mengucapkan selamat bila pada saatnya bertemu dengan lelaki tercinta itu dan pasangan barunya.

Ucapkan terima kasih Nden, begitu saran sahabat saya yang baru diruwat walisongo Bali itu. “Tatap matanya dalam-dalam, ucapkan terima kasih atas semuanya,” saran dia. Sekarang mungkin terdengar gila karena saya masih terluka, dan dia masih membenci saya. Tapi saya yakin pada waktunya saya akan bisa melakukannya. Saat kami berpapasan di sebuah jalan di Washington DC, saya akan bisa menyapanya riang, memeluknya hangat dan menatap mata itu dalam-dalam, dan mengucapkan terima kasih dengan tulus. Kalau tanpa campur tangan cinta dan sakit yang telah diberikannya, tentu saya tak akan berada dalam posisi itu kelak dan menjalani hidup yang saya mimpikan.

Saya tahu saya harus kembali, rasanya sudah lebih baik. Titik-titik pencerahan pun mulai membayang. Perlahan namun pasti tapi upaya perdamaian dengan hati yang cuma satu-satunya ini pun sudah membuahkan hasil. Memang belum utuh, masih perlu waktu, entah berapa lama lagi. Bulan, tahun..hmmm hanya Dia yang tahu. Saya hanya berusaha, melakukan yang terbaik, dan menyerahkan diri ini kembali ke pelukan-Nya, untuk diarahkan. Kemanapun Dia berkehendak.

Lagi, Tentang Mimpi

October 2nd, 2009 by mypastpresentandfuture

Sahabat saya yang cantik itu baru saja beli BB, bukan karena perlu-perlu amat sih, wong dia udah pake Nokia N series untuk kebutuhan push email dan lain-lainnya. ” Just to feel in that level”, katanya sambil ketawa, sesaat setelah kami tersambung dalam percakapan melalui BBM.

Curhat yang biasanya via sms atau YM pun sekarang berpindah medium ke BBM. Rupanya dia sedang gundah, Lebaran kemarin keluarga pacarnya sudah datang berkenalan dengan keluarganya. Belum ada acara lamaran resmi, tapi sudah semakin serius hubungan sahabat saya ini dengan pacarnya yang baru terjalin dalam hitungan bulan saja. Gerak cepat ala tim buru sergap pun segera dikebut, maklum sahabat saya sudah berusia 36 tahun bulan lalu. Penantian yang cukup panjang memang untuk datangnya pangeran tambatan hati yang siap melamar.

Tapi rupanya permasalahan tak sesimpel itu. Lelaki yang jatuh cinta berat pada sahabat saya itu rupanya tak juga berhasil menjanjikan kenyamanan dan kemapanan bagi masa depan pernikahan mereka yang sudah diujung gerbang. Usianya lebih muda sedikit, masih dalam tahap berjuang untuk mapan. Ditambah keluarga pihak laki-laki segambreng yang harus disupport secara keuangan rupanya membuat sahabat saya ini makin tak mantap. Belum-belum keluarganya sudah merecoki, bagaimana keluarga kecil mereka kelak bisa meniti membangun pondasi bila harus selalu mendahulukan keluarga besar, begitu kegelisahan sahabat saya.

Tak hanya itu, urusan hati pun rupanya terjadi kesenjangan. Lelaki muda itu jatuh cinta setengah mati, sedangkan sahabat saya biasa saja. Tidak seperti orang jatuh cinta yang kliyengan, dia hanya menanggapinya dengan kadar-kadar rasionalitas. Orangnya baik, sabar, perhatian, oke deh bungkus, cinta bisa dibangun sambil jalan, begitu prinsipnya.

Mimpinya untuk menikah mungkin akan segera terwujud, ditambah desakan dari orang tua yang sudah sangat ingin melihat putri tercintanya menjadi pengantin. Meski langkah sang calon pengantin masih tersendat, tapi rupanya sahabat saya tak berani memikirkan untuk mengambil langkah seribu. Dia hanya terdiam, merenung, shalat istikharah, dan berdiskusi dengan saya, salah satu sahabatnya yang lima tahun terakhir ini berjuang bersama-sama menaklukan Jakarta.

Kami memiliki banyak kemiripan sebagai perempuan-perempuan yang punya banyak mimpi. Bukan hanya sekedar mimpi, tapi mimpi-mimpi kami itu untuk kebanyakan orang tidak sederhana. Banyak laki-laki yang memilih mundur karena tak cukup pede bisa mengimbangi kami menggapai mimpi. Meski kalender terus berganti, dan beberapa lelaki yang cukup nekat menghampiri sempat datang dan pergi, kami tak gentar dan tetap berdiri ditengah badai ujian keteguhan atas keberanian kami bermimpi besar.

Kali ini saya melihat, sahabat saya berada di titik persimpangan. Haruskah dia melanjutkan rencana pernikahan ini dengan seorang laki-laki yang akan “mempersulit”nya menggapai mimpi ?Haruskah dia memasukkan impian-impian besarnya ke dalam laci, dan entah kapan akan dibuka lagi.. Atau dia memilih melepaskan kesempatan menjadi istri, dan meneruskan hidupnya mencapai mimpi-mimpinya.

Saya hanya mengatakan, dengarkan apa kata hatimu, karena dia tak pernah berdusta. Bila pun kamu tak juga menemukan kesesuaian antara suara hati dan keberanian untuk menjalankannya, cari alasan lain yang setidaknya akan membantu menentramkan. Lakukan pernikahan ini untuk mama tercinta. Jadi anak yang berbakti mungkin berbuah kebahagiaan yang tak dinyana, siapa tahu. Tak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi berikutnya..

Mungkin nasihat bijak mamanya juga benar, bahwa kita tak bisa terus-terusan egois, hanya berpikir mimpi kita sendiri. Mungkin benar juga petuah bijak lainnya, bahwa kadang kita harus berdamai dengan diri sendiri, bahwa tak semua mimpi bisa kita raih. Bahwa pada titik tertentu kita juga harus ikhlas menerima apa yang terjadi dalam hidup kita. Meskipun pasrah bukan berarti menyerah.

Sebagai sahabat saya hanya bisa meyakinkan dia, bahwa apapun keputusan yang akan diambilnya dalam hal ini, saya akan mendukungnya. “Gue akan selalu ada buat elu, rumah gue selalu terbuka buat elu, elu bisa dateng kapan aja dimanapun gue berada kelak, gue akan selalu bantu elu semampu gue, seperti juga anak-anak elu akan jadi anak-anak gue juga, ” begitu ketik saya di BBM. “Hiks, sedih.., ini keputusan besar buat gue, elu tau kan ?”, jawabnya.

Ya memang, menikah bagi perempuan-perempuan seperti kami adalah keputusan sangat besar. Karena buat kami menikah berarti komitmen seumur hidup, sanggupkah kami menjaganya sepanjang hayat tanpa menodainya ? Benarkan lelaki yang telah dipilih ini menjadi suami dan ayah yang terbaik?

Tapi ya hidup adalah rangkaian pilihan. Satu pilihan terkait pilihan berikutnya, meski kadang tak luput mengait ke pilihan sebelumnya yang kembali muncul di masa depan. Apapun yang sudah menjadi pilihan, mantap tak mantap, jalanilah tanpa mengeluh. Good luck, Sis..Be tough, as you said, next year 2010 gonna be ours..Yes it will !

6 Hari yang Berarti

September 17th, 2009 by mypastpresentandfuture

Manusia boleh berencana tapi Tuhan lah yang Maha Berkehendak. Gempa tak diundang kembali mengguncang negeri ini 2 September pukul 14.55. Kali ini bagian lempeng di bumi Jawa Barat yang bergerak, sehingga menciptakan gempa berkekuatan 7,3 SR yang memorakporandakan Jawa Barat bagian selatan.

Sebagai pekerja LSM, baru kali ini aku berurusan dengan bencana alam dalam lingkup kerja yang berbeda. Seminggu berselang setelah gempa, aku dikirim ke Jawa Barat untuk melakukan assesment fasilitas umum yang rusak akibat gempa, sebagai data bagi proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Tiga kabupaten menjadi daerah tujuan, yaitu Ciamis, Tasikmalaya dan Garut.

Sebagai orang Sunda asli, dan telah belasan tahun meninggalkan tanah Priangan, baru kali ini aku kembali merasakan menjadi orang Sunda yang sebenarnya. Tak salah mereka mengirimku, karena bahasa memang kunci untuk komunikasi yang baik, apalagi dengan masyarakat desa yang lebih menggunakan bahasa daerah dibanding bahasa nasional.

Rupanya memori itu melekat dengan erat di kepala, stok kosa kata yang halus dan santun itu masih meluncur mulus dari bibirku menyapa mereka. Perjalanan ini seperti membawaku kembali ke akar budaya yang membesarkanku. Ternyata aku tak pernah melupakannya, semua masih ada disana tersimpan dengan baik, meski mungkin aku tak menggunakannya lagi.

Meluncur di jalanan bagian selatan Jawa Tengah menuju Jawa Barat itu juga membetotku kembali ke masa lalu. Perjalanan darat dengan mobil adalah hobi yang kerap kulakukan di masa muda ku itu. Ah baru sepuluh tahun, tapi sudah tua rasanya.  Begitu cepat waktu berlalu. Masa-masa gila bersama Babe, pacar tercinta saat kuliah yang masih jadi sahabat terbaikku saat ini.

I miss you Be, still remember my dream to drive along the Daendels road ? It’s still a dream Be til now..waiting for the right partner who crazy enough to accompany me, like you..

Gara-gara Babe juga aku jadi mencintai perjalanan dengan mobil, berada di balik kemudi, memacu kendaraan menginjak pedal gas dan rem bergantian, meliuk, menikung, menyalip, dan melahap kilometer demi kilometer. Bertelanjang kaki, dengan setelan kursi yang dimajukan dan sandaran ditegakkan serta tubuh yang terikat sabuk pengaman, aku pun siap menjadi ratu jalanan.

Aku lebih merasa percaya diri mengemudi ketika kaki bersentuhan langsung dengan pedal tanpa alas, begitu juga soal posisi kursi, semata-mata karena kakiku tak cukup panjang dan badanku terlalu mungil untuk melihat jalan di depanku. Bila sudah dalam posisi itu, rasanya ada gejolak hati yang terpuaskan dan benar-benar siap menantang adrenalin.

Berada di kursi navigator pun tak kalah mengasyikannya. Mengamati jalanan, memantau sekeliling, membaca peta, dan menyiapkan keperluan sang supir selama mengemudi. Inilah petualangan itu, dimana kemitraan antara supir dan navigator sangat menentukan ritme perjalanan, apakah menjadi perjalanan yang menyenangkan ataukah malah mimpi buruk.

Untunglah, kolega kantor yang dipilih untuk menemaniku adalah sosok yang menyenangkan. Arsitek muda lulusan UGM yang papanya bekerja di Chevron, brondong ganteng yang baik hati dan kooperatif. Duh senangnya, thanks to my boss, yang sudah memilihnya menjadi teman seperjalananku selama enam hari.

Tak terbayang bila salah dipilih partner aku pasti akan jadi monster yang mengerikan selama enam hari bersama. Meskipun masih muda dia rupanya cukup sabar dan gentleman memperlakukan perempuan, sehingga hormon perempuanku yang sedang bergejolak bulanan tak harus meledak.Thanks hun..I wish there would be another trip with you..

Selain kolega yang menyenangkan, perjalanan ini bak sebuah refleksi buatku, yang selama bertahun terakhir ini berada di menara gading. Turun langsung ke pelosok dusun, yang seringkali di ujung bukit yang sulit dijangkau, menyaksikan kehidupan mereka yang memprihatinkan, sungguh menyentuh hati.

Setelah sekian tahun, aku kembali menjadi rakyat biasa, dan menyaksikan kehidupan manusia Indonesia kebanyakan yang apa adanya, tanpa polesan make up yang dibuat-buat untuk menyenangkan penguasa.

Perjalanan refleksi batin yang membuatku berkaca. Seandainya aku hidup di tempat mereka berada saat ini, bisakah ? Seandainya aku harus melakukan apa yang mereka lakukan saat ini, sanggupkah ? Tamparan yang membuatku terjaga, look at yourself Nenden, betapa beruntungnya hidupku, dan betapa tak tahu dirinya aku yang masih suka mengeluh ini dan itu.

Ini memang sebuah petualangan menikmati tanah Priangan yang menakjubkan. Aku yang 20 tahun menjadi orang Sunda pun belum pernah menjelajah Jawa Barat seluas ini. Menyusuri jalanan kota, hingga jalan desa yang berbatu sebesar kepalan tangan orang dewasa, dari perbukitan yang dikelilingi hutan kecil, hingga perkebunan teh, dan berakhir dengan menyusuri pantai selatan. Lengkap sudah, gunung, bukit, pantai, desa, kota, hingga hutan.

Rasanya aku sudah merindukan perjalanan itu lagi..Menyapa alam, berguru pada kehidupan yang bergerak dengan alamiah..Angin, hujan, matahari, pepohonan dan tanah basah. Aku berjanji akan sering-sering menjenguknya lagi.

Hidup Tak Pernah Sama Lagi

September 4th, 2009 by mypastpresentandfuture

Ini kalimat penutup dari posting Ndorokakung yang judulnya Kemarau. Posting indah, dengan pilihan kata yang mengukir dasar hati dengan telak. Aku tak peduli siapa yang Ndoro maksud dalam posting itu, tapi aku merasa perempuan wangi pandan itu adalah aku. Setidaknya kami memiliki kisah dan perasaan terdalam yang sama.

Hidupku memang tak pernah sama lagi sejak musim semi penuh bunga itu berlalu. Saat taburan kata manis dan hujan deras cinta sudah berakhir, berganti luka dan kesakitan tiada henti. Bahkan berbuntut kemarahan, benci dan dendam yang ditunjukkannya, dan tak berhasil kumengerti hingga kini. Mengapa dia begitu membenciku ? Kenapa hasratnya menghabisiku demikian berkobar? Dia tebar racun itu ke banyak arah, untuk sebuah tujuan yang lagi-lagi gagal kupahami.

Untuk apa ? Apa salahku? Bila iya mendendam itu dibolehkan, bukankah secara logika, seharusnya yang lebih “pantas” mendendam itu aku, sebagai pihak yang disakiti? Kok dia yang begitu semangat mengepalkan tinju dan mengibarkan bendera peperangan, yang tentu saja kutanggapi dengan dahi berkerut.

Ah sudahlah, yang waras ngalah, begitulah filosofi kami berdua, si mbak mantan istrinya dan aku, bila sudah menemui tindakan-tindakan ganjil darinya belakangan ini. Kalau ditanggapi bukankah sama gilanya ? Itulah cara kami berdua biasanya saling mengingatkan untuk meredam emosi masing-masing dan menanggapinya dengan pikiran positif dan cinta kasih. Dua hal yang tak ada dalam dunia politik.

Ya, dunia politik tempatnya bergelut memang begitu kental mengaliri darahnya. Teori konspirasi dan akal busuk adalah bagian tak terpisahkan bagi siapapun yang terlibat di dalamnya. Tega, kejam, manipulatif, injak sana sini demi tujuan adalah sah dan halal. Tak ada perbuatan apapun yang dilandasi niat tulus, semua berlandas motif untuk kepentingan tertentu.

Tak salah bila dia pun kemudian mencurigai setiap perbuatan orang lain, termasuk aku, diniati sebuah motif tertentu. Motif yang disangkanya tentu bukan sesuatu yang baik. Mungkin pikiran liarnya membayangkan persekongkolan dua perempuan yang pernah disakitinya, merencanakan sebuah konspirasi jahat untuk menghancurkan hidupnya.. Bayangan wajar dari seseorang yang punya jejak rekam panjang dalam menyakiti banyak hati perempuan yang mencintainya dengan tulus. Ketakutan akan sebuah pembalasan yang tentu saja sangat alami.

Karena ketakutan seseorang itu merefleksikan perilaku dan pemikirannya sendiri. Bila kamu punya pikiran jahat tentu kamu juga berpikir orang lain itu juga jahat, bila kamu pernah menyakiti orang lain tentu kamu juga berprasangka orang yang tersakiti itu akan membalaskan sakit hatinya padamu. Hukum sebab akibat yang berpendar di kepala dan hati seseorang tergantung amal dan perbuatan. Menurutku itu adalah sebuah keniscayaan.

Tapi sayangnya semua itu hanya prasangka yang berkembang di pikirannya yang terkontaminasi bayangan dosa-dosanya sendiri. Niatan jahat untuk menjatuhkan, menyakiti, apalagi menghancurkan itu sama sekali tak terpikirkan di kepala kami. Suatu yang terdengar janggal mungkin, karena yang terjadi adalah justru dua orang perempuan yang kemudian bersahabat, saling mendukung dan menguatkan, demi hidup yang lebih baik bagi kami  berdua, dan anak-anak. Maklum papa mereka terlalu sibuk dengan ambisinya pribadi, dan tebar pesona sana sini mencari panggung untuk tetap eksis dan dikagumi para perempuan. Aku jadi ingat kata malaikatku, diawal aku berhubungan dengannya, begitulah katanya karakter si pemilik shio ayam jago.

Tak hanya satu orang teman yang mengatakan kondisi ini sungguh absurd, tak heran bila berbuah kecurigaan darinya bahwa aku menyimpan motif busuk di balik ini. Praduga yang wajar. Bayangkan, dua perempuan yang pernah melewatkan hidup bersama laki-laki yang sama, dan pernah saling berprasangka, kemudian bisa berbalik arah dan berteman demikian dekat, saling mencurahkan isi hati, bertukar pengalaman, berbagi ide dan inspirasi. Perempuan yang telah memberinya dua anak itu, benar-benar menjadi role model bagiku saat ini.

Figur perempuan tangguh, matang, dan mandiri yang tahu apa yang dia mau dalam hidupnya, dan berani memperjuangkannya. Perempuan dewasa yang mengambil alih semua tanggung jawab keluarga di tangannya dari semua aspek, tanpa mengeluh, karena sadar inilah konsekuensi dari pilihan yang telah diambilnya. Orang tua tunggal dalam arti sebenarnya.

Kami melewatkan waktu yang berkualitas dengan anak-anak, outbound ke Puncak, camping, berenang, jalan-jalan di hutan, aksi sosial mulung sampah di Ciliwung, sampai sekedar mengajari mereka menari ala Michael Jackson. Aku dan  si Mbak pun saling berkirim email dan sms setiap hari, bekerja bersama saling membantu untuk isu-isu yang sedang kami perjuangkan, dan mendorong untuk kemajuan masing-masing, dengan saling berkabar peluang menarik. Suatu peristiwa yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya bisa terjadi dalam kehidupanku.

Bila aku meluangkan waktu di rumah mereka atas undangan si mbak, keluarganya pun menyambut hangat. Sepupu-sepupu kedua malaikat kecil kami pun turut bergabung menyambutku, dan kami bermain bersama, bahkan makin seru berebut perhatian. Sepertinya aku memang dianugerahi Tuhan talenta khusus yang membuat setiap anak kecil terpikat dan lengket. Talenta yang sebetulnya hanya dilandasi niat menyayangi mereka apa adanya, itu saja.

Ya, hidupku tak pernah sama lagi sejak musim berganti. Aku memang kehilangan seorang lelaki tercinta yang hingga kini masih kucintai dan kurindukan. Tapi rupanya Tuhan demikian arif, Dia menggantinya dengan seorang mbak yang hebat, dan dua malaikat kecil yang menjadi sumber kebahagiaanku. Hidupku sungguh berwarna, dengan sapuan kuas cinta kasih yang disentuhkan-Nya melalui tangan-tangan mereka. Tuhan Maha Pemurah, dan lagi-lagi menunjukkan dengan nyata, bahwa cara-Nya bekerja sungguh ajaib. Terima kasih Tuhan..

Meninggalkan Langit, Menjejak Bumi

August 13th, 2009 by mypastpresentandfuture

Kalimat ini saya dapatkan dua hari lalu dari seorang Inu. Wartawan Kompas super jail ini rupanya mencari saya, saat ada konferensi pers soal keputusan MK. Ketika Inu tak menemukan saya di tempat konpers, dia berinisatif mencari saya di YM. Lalu saya jawab, saya sudah mengajukan surat pengunduran diri dari kantor itu. Tapi saya masih ada di Jakarta untuk serangkaian meeting terkait pekerjaan baru saya sebagai seorang Program Development di sebuah LSM.

LSM kecil yang ingin tumbuh besar dan berbuat lebih banyak ini, menjadi tempat saya berlabuh usai hiruk pikuk pemilu ini. Berkantor pusat di Jogja dan proyek-proyek di luar Jawa, menjadikan pekerjaan baru ini membawa saya menjejak wilayah-wilayah baru dalam kehidupan saya. Saatnya mengenal Indonesia negeri tercinta ini dengan “benar”.

Inu menanggapi dengan nada “iri”. “Balik ke Jogja? Ah enaknya, segera menyusul,” tuturnya. Ya, untuk siapapun yang pernah mengenal Jogja panggilan untuk kembali itu seringkali begitu kuat. Kenyamanan kota ini memang selalu memanggil untuk pulang, untuk kualitas hidup yang lebih baik. Dimana kualitas yang lebih baik tak selalu terkait dengan materi yang berlimpah. Keduanya adalah dua hal berbeda yang tak selalu relevan bagi hidup orang yang satu dan lainnya.

“Salut untuk keberaniannya meninggalkan langit dan menjejak bumi,” kata Inu. Kalimat yang begitu mengena di hati saya. Metafora yang sungguh tepat. Bertahun-tahun saya hidup di langit melayani para dewa. Bergulat dengan isu-isu super besar yang berpusing di tataran menara gading. Status megah yang membuat siapapun tengadah. Membanggakan tapi tak selalu membahagiakan.

Tentu sebuah kehormatan pernah menjadi bagian dari kemegahan itu. Semua pengalaman bergaul dengan para dewa, manusia setengah dewa, yang pahit dan manis itu tentu sungguh berharga. Warna warni dunia kahyangan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup seorang Nenden. Puji syukur tak terkira.

Tapi rupanya cukup sudah semua itu. Adalah sebuah keberanian meninggalkan segala kemegahan status itu. Saya memilih untuk menjalani hidup yang berbeda, yang saya rasakan lebih bermakna. Hidup dengan sebuah tujuan, membaktikan diri bagi sesama, dan menyerahkan segala yang saya punya untuk Sang Pemilik Alam. Sekarang saatnya bekerja nyata untuk manusia-manusia kebanyakan. Real work for real people.

“Life with a purpose, Nu..It’s time to switch my direction in life.”"Wah dalem banget refleksinya,” kata Inu. Dalam, dangkal, ah itu hanya ukuran yang dibuat manusia. Saya hanya mendapati diri saya bangkit dari sebuah kematian dan menatap matahari baru bersinar dalam hidup saya. Membimbing saya ke arah yang lebih baik. Melihat bukan dengan mata, tapi dengan hati. Mendengar bukan hanya dengan telinga, tapi dengan cinta.

Ketika lelaki tercinta itu masih mempertanyakan soal ketenaran, uang dan kekuasaan sebagai nilai yang patut dikejar dalam hidup, maka saya memilih menjauhi ketiganya. Saya lebih suka berkarya dalam kesunyian, jauh dari hiruk pikuk kamera ketenaran. Uang memang perlu, tapi bukan berarti segalanya. Seperti kata Mahatma Gandhi, earth provides enough to satisfy every man’s need, but not every man’s greed. Saya hanya ingin menjadi cukup, tak perlu menjadi kaya. Kaya hati dan teman, jauh lebih ingin saya kejar daripada kaya harta.

Hiduplah secukupnya, maka kamu akan menjadi tentram. Saya tak butuh kekuasaan untuk membuat orang tunduk apa kata saya. Saya ingin didengar karena orang-orang mencintai dan menghargai saya, bukan karena dibujuk takut. Respect is earned, never given. Inilah babak baru dalam hidup saya, berkat Tuhan telah membukakan jalan ini dan membimbing saya memasukinya. Damai di hati damai di bumi..Kasih Tuhan untuk seluruh manusia dan semesta alam.