Pesta Demokrasi, Luka dan Cinta
July 2nd, 2009 by mypastpresentandfuturePesta lima tahunan ini begitu hiruk pikuk. Katanya sih pesta demokrasi. Demokrasi apa? Jangan tanya saya, karena saya juga tak tahu harus menjawab apa. Tak apalah mungkin memang tidak untuk dianalisa hingga kening berkerut, biarlah proses yang katanya demokrasi ini berjalan apa adanya.
Maklumilah bahwa negeri ini masih berjalan sempoyongan membangun demokrasi. Proses tentang apapun seringkali terasa menyakitkan, melelahkan dan menguras kesabaran. Tapi harus tetap dilanjutkan, jangan henti hanya karena kehilangan daya. Terus berjuanglah bangsaku !
Saya hanya berharap segala kegilaan sesaat ini segera usai dan tuntas. Semoga bapak berdua bernomor urut dua ini tentu pemenangnya. Tak terbayangkan akan seperti apa negeri ini bila dipimpin pasangan kandidat sebelah kiri dan sebelah kanan.
Semoga mimpi buruk itu tak akan pernah terjadi, sehingga saya bisa meninggalkan negeri ini dengan hati tentram, dan turut berkontribusi membangunnya dari jarak ribuan mil dengan tujuan yang pasti.
Mungkin tak lama lagi saya berada di tim ini, dan saya harap begitu. Tapi dimanapun, dan sesingkat apapun selalu ada pelajaran yang bisa dipetik, dikunyah dan diendapkan. Butir-butir kebijaksanaan, kesabaran bentuk baru dan perenungan-perenungan yang kadang wujudnya mengejutkan.
Disini saya bertemu dengan orang-orang hebat yang selama ini saya hanya temui di media massa. Goenawan Mohamad, Ayu Utami dan Nong Darol yang disatukan oleh isu, akhirnya bergabung merapat di belakang Boediono. Dua perempuan tangguh yang inspiratif, satu begawan sastra yang sudah menganggukkan kepala untuk membimbing saya menulis buku pertama saya.
Berkat tak terhingga, ketika seorang begawan seperti GM berkenan membimbing saya yang pemimpi berat dan banyak maunya itu. Saya sudah meminta untuk dijewer bila tak disiplin. Saya sadar kelemahan saya adalah seringkali kurang fokus, dan endurance rendah karena kebanyakan mau.
Saya butuh seorang pembimbing yang keras untuk mengarahkan saya berjalan di jalur dengan fokus. Bila sedang berurusan dengan diri sendiri seringkali saya menjadi terlalu fleksible. Kebiasaan buruk yang harus dikikis bila ingin maju.
Pada saat yang bersamaan, saya pun ingin mengalihkan rasa sakit yang mendera belakangan ini, menjadi energi kreatif yang menghasilkan sebuah karya yang inspiratif. Kembali dikhianati seseorang yang dicintai tentu saja bukan pengalaman menyenangkan yang ingin terulang. Tapi rupanya Tuhan begitu baik pada saya, dan membukakan mata saya bahwa lelaki tercinta itu bukan yang terbaik untuk saya.
Meski saat ini dia sudah bersama orang lain yang dipilihnya dengan segala kelebihan yang tak saya punya, saya masih ingin memanggilnya lelaki tercinta. Karena mencintainya adalah pengalaman terbaik dalam hidup saya. Setidaknya sampai hari ini. Ketika saya untuk pertama kalinya dalam hidup yang merangkak menuju angka 34 tahun, saya bisa mencintai seseorang dengan dua anak dari pernikahannya terdahulu, dan bersahabat dengan sang mantan istri.
Pengalaman yang membuat saya takjub pada diri sendiri. Ternyata hati saya sudah menjadi jauh lebih lega untuk menampung lebih banyak orang dicintai secara bersamaan. Bahkan saya bisa bersahabat dengan perempuan yang pernah menghabiskan hidup belasan tahun bersama lelaki tercinta itu. Hal yang tak mungkin saya lakukan sebelumnya. Ingin rasanya menghargai diri sendiri untuk pencapaian yang tak pernah terbayangkan ini sebelumnya, karena saya berhak.
Meski saat ini masih bergulat dengan rasa perih yang semakin memudar seiring waktu, keyakinan saya tak surut. Saya tak takut untuk mencintai lagi. Mencintai seseorang itu anugerah terindah yang pernah dirasakan manusia. Mencintai membuat kita melakukan hal-hal yang tak pernah terpikir kita bisa melakukannya. Mencintai memaksa kita bertumbuh secara personal dan spiritual.
Takut mencintai berarti takut menjadi dewasa. Bahwa mencintai seperti perbuatan aktif manapun, selalu mengandung risiko adalah sebuah keniscayaan. Risiko terluka salah satunya. Tapi memang perbuatan mencintai hanya untuk orang-orang pemberani. Berani mengambil risiko terluka, menghadang badai demi yang tercinta, dan tetap mencintainya meski dia telah berpaling, tentu bukanlah perbuatan biasa. Dan memang saya memilih untuk terus melangkah dengan kepala tegak, karena saya telah memilih untuk menjadi perempuan yang tidak biasa.