Archive for May, 2006

Thanks Dear..But can I stil ……?

Thursday, May 18th, 2006

Thank you for being honest to me

I do really appreciate it

But is it wrong if I stil wanna be with you ?

Sharing toughts and ideas

Laughter and sorrow

Colorful life that we’ve been through in the past

Is it ?

But for whatever happened

Nice to know you in my life dear….

                                    

Adisucipto airport, jogja

       May 17, 2006

      10.50 WIB

PS : I wish I could mention your name here dear..

      But I know you know that this is for you :)

Sunset at Cengkareng

Thursday, May 18th, 2006

Cloudly Jakarta

Matahari tenggelam di batas horison

Tapi batas itu tak terlihat

Tenggelam di balik asap polusi

Tidak seindah sunset di Kuta

Tapi tetap kusyukuri anugerah ini

Terimakasih Cinta - ku

Masih berkenan memberikan ku waktu

Untuk melihat sunset - Mu hari ini

Di bandara yang sibuk

Diantara deru kendaraan

Dan hiruk pikuk manusia

Tapi rasa damai menyeruak

Dalam kesendirianku

Dan suasana hati yang sepi

Membuat diriku sadar

Bahwa aku tidak pernah sendirian

Karena ada Cinta ku yang selalu bersama setia menemani

Dimanapun aku berada

Seperti saat ini, karena Dia yang kucintai

Selalu ada di hati ..

Cengkareng, 10 mei 2006

17.53

Hari marah marah

Sunday, May 7th, 2006

Bangun pagi saya sudah merasa ada yang aneh dengan badan saya. Rasanya badan saya bergetar cukup hebat. Memang biasanya badan saya juga selalu “shaking” terutama tangan. Katanya tremor, ada sesuatu yang kurang beres pada jantung saya, tapi memang belum pernah saya teliti lebih lanjut ke dokter, ada apa dengan jantung saya.

Selain “shaking” yang lebih dari biasanya saya, juga merasa gelisah gak keruan, dan nggak tenang. Untuk suatu alasan yang saya nggak tau. I just wondered why and what will happen today on me ?

Ternyata jawabannya nggak lama. Sampe kantor ada miskol di hape saya dari seseorang yang nagih utang. Adooooh ! Stres saya. Gajian dari kantor telat, uang jatah perjalanan dinas ke bali 3 minggu lalu belom cair juga sampe sekarang. Padahal pengeluaran saya lagi buanyak banget. Bayar kos dan beli macem – macem buat di kos. Namanya jadi anak kos lagi tau ndiri

kan

peralatan perangnya, semua mulai dari awal , menata kehidupan baru lagi.

Dan alih - alih menyelesaikan nya dengan kata – kata yang baik, saya malah marah – marah sama si penagih. Dan tentu saja si penagih juga marah balik sama saya. Akhirnya persoalan menjadi merembet kemana – mana dan kita arguing sampe capek. Karena saya memang punya persoalan pribadi yang sangat berat dengan si penagih utang itu. Dan itu sangat menyita energi dan emosi ku sebulan terakhir ini. Hah !

Tapi semarah – marahnya saya sama si penagih utang ini, ternyata saya pun kemudian menyesali kata – kata saya. Ya sudahlah, sudah terjadi, kata – kata yang sudah terucap tidak akan bisa ditarik lagi. Saya cuma bisa minta maaf meskipun saya tidak berharap bahwa itu bisa memperbaiki relasi yang rusak. Lha sebelum nya aja emang relasinya udah rusak parah, apalagi ditambah kejadian pagi ini..

But at least saya sudah menyadari bahwa saya salah dan minta maaf. However , I’m not supposed to act like that. Stupid me..ternyata masih aja terperdaya sama permainan pikiran yang tricky. Dan saya kalah, karena saya terprovokasi.. Huh..I should do better in term of working with my mind.

Tapi herannya setelah itu saya merasa lebih tenang. Tremor berkurang, rasa gelisah yang mendera dari tadi bangun pagi juga berkurang banyak. Saya menjadi lebih nyaman. Fyuh lega rasanya.

Saya jadi mikir bahwa “ledakan emosi” saya tadi itu memang rupanya sesuatu yang harus terjadi. Sebuah kesimpulan yang sarat dengan “pembenaran” dan kental nuansa egoisnya ya hehehe.. Saya hanya ingin meledakkan emosi, dan nggak peduli akibatnya buat orang lain. Uh..sound so selfish rite ? Ternyata PR saya masih banyak nih to make my self better dan tidak diperbudak oleh ego dan pikiran. Loooong way to go :)

Paulo Coelho dan Ego Saya

Thursday, May 4th, 2006

Lagi - lagi seorang teman merespon bagus tulisan - tulisan saya di blogs ini. Katanya I should be a writer. Yea..actually that’s my dream :) Seperti penulis yang saya kagumi dan banyak menginspirasi saya, Paulo Coelho. I’m working on it dear. Hope I can launch my first book soon. Novel spiritual seperti buku - bukunya penulis Brazil favorit saya. Tapi tentu saja with my own style..

Karena saya pribadi, rasanya lebih merasa "kena" dengan suatu kritikan, masukan, dan nasehat, ketika itu disampaikan secara tidak langsung atau cerita fiksi. Misalnya dengan cara menampilkan seorang yang melakukan perjalanan dalam hidupnya, dimana dalam cerita hidup si tokoh itulah terkandung banyak "pelajaran" yang bisa kita maknai sesungguhnya sebagai nasehat bagi kita para pembacanya.

Nggak tau rasanya saya sering merasa "digurui" kalo membaca buku - buku how to yang berjajar di rak kategori psikologi populer di toko buku gramedia. Begitu praktis, simpel, tapi seringkali melupakan kedalaman dan esensinya. Maaf ini hanya pendapat saya pribadi, bukan maksud saya untuk menilai buku - buku tersebut sebagai buku yang kurang baik. Sama sekali tidak.

Maka dari itu saya sangat menikmati "digurui" oleh seorang Paulo Coelho dalam novel - novel nya. Karena saya tidak sadar bahwa sebetulnya saya sedang dinasehati. Rasanya saya begitu mengalir dan lebur dalam perjalanan hidup si tokoh dalam buku -  bukunya tersebut. Ikut berkelana ke padang pasir, ke kazakhstan, ke timur tengah, ke Paris, kemanapun si tokoh itu berjalan. Dan seakan saya ikut dalam gejolak emosi dan konflik para tokoh tersebut. Sehingga tanpa disadari saya mendapat banyak pelajaran mengenai filosofi hidup dari perjalanan tokoh - tokoh ini.

Seringkali saya tertegun dan harus mengulangi bagian tertentu ketika saya sedang membaca buku - buku nya. Karena saya merasa kalimat - kalimat yang terangkai disana itu mengingatkan saya pada hal - hal yang sedang saya alami. Kalo bahasa MTV nya " Gue Banget". Disitulah biasanya Coelho sedang "menendang" saya secara tepat di sasaran. It knocks me out ! Dan seringkali saya "terkapar" sejenak untuk kemudian melanjutkan membacanya sampai akhir.

Saya menemukan seorang Paulo Coelho dengan buku -  bukunya yang amazing itu dari milis pasarbuku sekitar tahun 1999. Ketika itu di milis sedang ramai dibicarakan tentang penulis brazil Paulo Coelho dengan bukunya yang fenomenal The Achemist. Saya pun penasaran, dan mencari buku itu. Ketemulah terjemahannya dengan judul Sang Alkemis.

Sejak itu saya kecanduan dengan karya - karya nya Coelho. Waktu itu masih belum banyak buku -  buku Coelho yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia seperti sekarang. Bahkan sekarang beberapa buku Coelho diterjemahkan dan diterbitkan oleh beberapa penerbit sekaligus.

Jadi waktu itu saya titip minta beliin teman - teman yang di luar negeri. Dari Ivan dapet dua buku, waktu Ivan pulang dari Texas, senengnya setengah mati. Thank you Ivan :) Dan kemudian tak lama di Jakarta ada QB dan Aksara yang jual buku - buku Coelho edisi Inggris nya.

Tapi sebetulnya kalo saya mau ngaku kenapa saya suka karya Coelho dan bukan buku - buku how to untuk topik yang sama dengan yang dibicarakan oleh Coelho,  adalah karena saya masih punya ego yang tinggi akan ke"aku"an saya. Hmm pasti kamu mikirnya, apa sih hubungannya karya Coelho sama ego saya ?

Begini, sebetulnya kalo saya mau jujur , "ketidaksukaan" saya digurui secara langsung dengan buku - buku how to itu berakar dari ego saya sebagai manusia. Ya manusia mana sih yang gak punya ego. Cuma kadarnya aja yang beda, ada yang setinggi langit sampe menuhin ubun - ubun, atau ada yang sekadarnya aja. Tapi yang jelas semua manusia punya ego.

Dan ego saya rasanya gak terima aja kalo saya dikuliahin bulet - bulet sama penulis - penulis buku how to itu. Emangnya mereka siapa berani - beraninya ngasih tau saya mesti begini mesti begitu. Nah yang kata - kata itu muncul dari suara  ego yang tersenggol. "Gile loe berani - beraninya loe nasehatin gue, yang berarti dengan kata laen loe  mau bilang kalo gue nih jelek en perlu dinasehatin ." Yah itulah saya teman - teman.

Meskipun telah banyak buku yang saya baca, terutama tentang budhism dan zen, yang mostly buku - buku itu mengatakan burn out your ego and we will be happy and peace. Tetep aja butuh big effort untuk mengaplikasikannya bagi diri saya. Fyuuuh..ternyata nggak gampang sodara - sodara sekalian ! Tapi nggak gampang bukan berarti gak bisa dong. Keep on trying, never give up..that’s the key to grow :)

Pengen sekali saya bisa hidup dengan menanggalkan ego. Karena disadari ato nggak ego seringkali membelenggu saya, mendikte perilaku saya, keluar dalam kata - kata saya, dan memenuhi pikiran saya.  Capek lho hidup dibelenggu ego. Nggak bebas. Apalagi ketika saatnya ego saya terluka. Rasa sakit hati yang saya alami kemudian sebetulnya berakar dari ego saya yang tidak terpenuhi kebutuhannya. Ego membuat saya mempunyai kebutuhan untuk diakui, dihargai, disanjung, dijadikan prioritas. Dan ketika saya diacuhkan, merasa disingkirkan,tidak menjadi prioritas lagi, bahkan tidak diinginkan, maka ego saya terluka, dan saya sakit hati dan menderita karenanya.

Kalo saya tidak punya ego itu tentulah saya tidak akan merasa sakit hati dan menderita. Jadi yang harus dibenahi adalah si ego dalam diri saya itu sehingga saya hidup bebas tidak dikendalikan oleh ego. Sehingga saya tidak perlu merasa sakit hati dan mengalami penderitaan lagi. Lha wong sebetulnya sakit hati dan penderitaan itu sebetulnya cuma permainan pikiran dan peran si ego mengontrol kita aja kok.

Kejadian yang sama kalo kita nya tidak sedang dikendalikan pikiran dan ego, tidak akan mengakibatkan kita mengalami sakit hati dan penderitaan. Kejadian itu akan berlalu begitu saja tanpa meninggalkan apapun. Iya kan ?

Yah begitulah ternyata teman - teman, begitu powerful nya si ego itu dalam hidup kita tanpa kita sadarin. Dan sampai kapan hal ini akan kita biarkan berlangsung mengendalikan hidup kita ?? Burn out your ego and live in abiding peace and happines, itu kata para Lama.

Comfort Zone

Tuesday, May 2nd, 2006

Victor kemaren di YM bilang kalo tulisan - tulisan saya masih seputar past, masa lalu, kenangan - kenangan, dan dia menagih mana tulisan - tulisan saya mengenai harapan - harapan saya. Saya bilang nggak tau nih saatnya belum muncul aja, rasanya saat ini saya masih penuh dengan ide tulisan tentang my past.

Seperti nama blogs ini my past present and future, saya bilang sama Victor kalo saya memulai perjalanan menulis saya di blogs ini juga dengan my past dulu sebelum beranjak ke present dan future. Cuma justifikasi yang kebetulan pas aja sih hehehe. Sebetulnya saya juga gak maksud begitu, kebetulan aja yang keluar ide - ide tulisan yang berbau nostalgia.

Tadi saya menelpon sahabat jaman kuliah di Jogja. Sahabat yang saya ceritakan mengirimkan saya sms kalo dia nggak lulus probation itu. Dia sekarang di Jogja lagi, udah hampir seminggu katanya kerjaannya cuma  makan, tidur en maen PS. Saya ngabarin dia kalo ada info lowongan kerjaan di milis angkatan kami. Mungkin aja dia belum sempet buka email. Padahal closing date untuk masukin lamaran tinggal seminggu.

En bener aja ternyata dia udah lama gak buka email. Namanya ngobrol sama sohib lama, pastilah nostalgila ( again Vic, this is about my past :) ) Dan obrolan pun mengalir ke berbagai topik lainnya. Saya cek en ricek kabar orang - orang yang saya kenal di Jogja dari dia. Seperti biasa ada banyak cerita dari kisah - kisah perjalanan mereka. Ada yang sudah berjalan jauh, ada yang masih disitu - situ saja, di comfort  zone yang sudah mereka dapatkan.

Akhirnya pembicaraan pun bergeser ke soal comfort zone. Atau Indonesia nya zona nyaman. Dimana kita sudah merasa nyaman dengan apa yang sudah ada. Semua sudah menjadi rutinitas yang setiap hari bisa diprediksi alurnya. Begitu dan begitu saja.

Memang menyenangkan untuk berada di comfort zone. Saya pun dalam beberapa fase dalam hidup saya sangat menikmati berada di comfort zone itu. Dan itu membuat saya stuck, karena saya tidak berani mengambil langkah untuk keluar dari situ. Saya menikmatinya dan terlena. Padahal apakah zona nyaman itu memang benar - benar nyaman dan aman ? Sebetulnya kalo saya mau jujur, jawabannya tidak kok. Tidak benar - benar nyaman, dan tidak benar - benar aman.

Nyaman dalam artian membuat saya berada dalam kondisi puncak dari performa saya, dan aman dalam artian bahwa kondisi itu akan terus berlangsung selama saya menginginkannya. Jawaban untuk kedua - duanya dengan jujur saya katakan , tidak sama sekali !

Tidak ada garansi atas rasa nyaman dan rasa aman itu akan berlangsung selama yang kita mau. Saya memang menipu diri sendiri saat itu dengan tetap "memaksa" diri saya untuk tetap berada di situ. Sebetulnya adalah saya merasa takut untuk meninggalkan tempat dan suasana, serta orang - orang yang sudah saya kenal itu untuk kemudian merambah dunia baru, suasana baru, orang - orang baru. Saya terlanjur merasa nyaman bersama apa yang sudah ada bersama saya saat itu. Dan saya berusaha meyakinkan diri saya, bahwa everythings here is ok, so why should I leave ? So I stayed there, long enough 5 years. Geez..

Saya hang on untuk sesuatu yang sebetulnya sudah harus saya tinggalkan bertahun - tahun sebelumnya. Saya selalu bilang sama orang - orang, ngapain harus ke Jakarta kalo di Jogja aja banyak yang bisa dikerjakan. Di saat semua orang bilang saya akan berkembang jauh lebih baik bila saya mau meninggalkan Jogja dan berkarir di Jakarta. Satu sisi rasanya saat itu saya mengajukan argumen yang memang betul, bahwa memang banyak hal yang masih bisa dikerjakan dan dikembangkan di Jogja. Toh gak semua orang ke Jakarta juga sukses dalam karir dan financial. Sedangkan salah satu alumni kebanggan jurusan kami yang tidak pernah ke Jakarta dan merintis usaha nya di Jogja saat ini punya pabrik besar dan mobil Jaguar.

Tapi sebetulnya sisi lainnya dalam diri saya yang tentu saja tidak pernah saya ungkapkan kepada orang lain saat itu adalah. Saya takut meninggalkan comfort zone saya. Jogja yang nyaman, saya ada rumah, ada keluarga, ada pacar, teman dan sahabat, saya juga sudah punya cukup network di Jogja yang membuat ruang gerak saya menjadi lebih leluasa.

Tapi rupanya pada saatnya, mau nggak mau saya memang harus meninggalkan zona nyaman saya. Keadaan saya "memaksa" saya untuk akhirnya pergi, ketika kemudian ada tawaran yang cukup menggiurkan dan bisa menjadi solusi bagi masalah yang saya hadapi di zona nyaman saya. Meskipun sebetulnya saat itu juga bukan harga mati. Pilihan bagi saya untuk tetap tinggal juga sebetulnya masih bisa dan terbuka. Tapi ketika dihadapkan pada 2 pilihan itu, akhirnya setelah menimbang - nimbang, saya memutuskan untuk memberanikan diri saya keluar dari zona nyaman yang sudah meninabobokan saya selama 5 tahun itu.

Sulit tentu. Saya memulai semuanya dari nol lagi. Tapi sebetulnya tidak sesulit yang dibayangkan sebelumnya yang membuat saya jadi takut berlebihan. Lama - lama saya mulai menikmatinya, dan yah memang begitulah hidup harus mengalir mengikuti alur Nya.

Tapi memang tidak mudah dan tidak setiap orang berani untuk memilih keluar dari zona nyaman yang sudah terlanjut bikin kita enak. Ya sudahlah, saya tidak berniat menghakimi, menilai, ataupun ngerasani teman - teman atau siapapun yang sekarang sudah dan masih berada di zona nyaman masing - masing. Itu adalah pilihan masing - masing individu. Mau tetap disitu silahkan nggak ada yang larang, mau memberanikan diri menjelajah dunia baru dan meninggalkan zona nyaman yang sekarang ya silahkan juga. Yang jelas setiap pilihan selalu satu paket dengan konsekuensi nya masing - masing yang harus kita tanggung.

Nikmatilah selagi bisa, tetapi ingatlah bahwa yang benar - benar nyaman dan aman itu tidak ada. Sebaiknya tetap selalu siapkan untuk hal - hal yang mungkin tidak kita harapkan. Katanya hoping for the best and preparing for the worst. Dan biasanya worst situation itu yang seringkali akhirnya "terpaksa" membuat kita matang dan berkembang lebih dewasa. Kenyamanan seringkali malah melenakan kita dan membuat kita lalai serta malas. Sampe kadang lupa untuk mengembangkan diri, karena seringkali tidak merasa perlu untuk berkembang. "Saya dengan kondisi yang sekarang saja udah ok kok", seringkali pikiran seperti itu yang bercokol di kepala. Dan pikiran seperti itulah yang akhirnya membuat kita stuck, mandeg, udah merasa oke, then we stop growing. That the worst thing !

So berada dimanakah kita sekarang ? Sudah kah kita berada di zona nyaman kita ? Kalau iya, beranikah kita meninggalkannya ? Itupun kalo dirasa perlu, karena kenyamanan yang ada sudah "membelenggu" kita untuk berkembang misalnya. Kalo merasa tidak perlu kemana - mana lagi,  ya sudah berarti kamu beruntung. Enjoy it. You got all what you want. So be thankful. And congratulations for you :)

Thank You

Monday, May 1st, 2006

Belum lama umurnya blogs saya ini, tapi beberapa temen udah kasih koment bagus sama tulisan - tulisan saya. Katanya inspiring. Desi temen SMP saya nulis koment di blogs nya langsung, beberapa temen bilangnya sambil nge’buzz’ saya di YM. Victor bilang nice writing, sehat ! Meskipun saya sampe sekarang belum mendapat penjelasan yang detil, apa yang dimaksud Victor dengan komentar sehat itu. Karena kemudian dia menanyakan kesehatan saya. Hehehe..Yah yang jelas tulisan - tulisan itu memang katarsis saya untuk membuat jiwa saya menjadi lebih sehat..

Seorang sahabat yang pimred sebuah tabloid terkenal dan akan segera menerbitkan buku kumpulan kolom - kolomnya juga menyatakan respon yang positif. Hmm seneng juga kalo sampe orang sekapasitas sahabat saya itu berkomentar demikian.

Yang jelas semua respon dari teman - teman dan para sahabat itu membuat saya happy en makin bersemangat untuk menulis. Gak nyangka juga sebetulnya kalo ternyata tulisan saya bisa diapresiasi oleh temen - temen saya en dianggep inspiring.

Karena sebetulnya saya gak pede banget mempublish tulisan - tulisan saya. Sebetulnya ini juga bukan blogs pertama saya, saya punya 2 blogs sebelumnya di blogspot. Tapi saking gak pedenya, hanya 2-3 temen aja yang saya kasih tau URL nya blogs saya itu. Kebangetan deh mindernya.

Tapi entah kekuatan dari mana yang akhirnya membuat saya nekat memutuskan urat minder saya, dan berani mempublish tulisan - tulisan di blogs di FS ini. At least kan dibaca sama temen - temen yang ada di friendlists saya. Dan ternyata gak jelek - jelek amat kok hehehe..Dan saya masih punya banyak ide tulisan berjejalan di kepala yang minta untuk dikeluarkan, tentu saja pada waktunya nanti. Selamat membaca.

Livestrong

Monday, May 1st, 2006

Barusan saya nonton Oprah Show di Metro TV. Tamunya Lance Amstrong, pembalap sepeda yang menang Tour De France 6 kali berturut – turut. En gak cuma itu, Lance menang tur sepeda paling gila – karena berlangsung selama 23 hari en jarak yang ditempuh sekitar 2000 mil – setelah dia survive dari sakit kanker testikel yang dideritanya.

En sekarang dia campaign buat ngumpulin dana untuk penelitian kanker dengan jualan gelang karet warna kuning bertuliskan “Livestrong”. Harganya cuma USD 1. Itu udah nyebar ke seluruh dunia, en udah terjual 32 juta pcs, yang artinya udah terkumpul USD 32 juta..

Acaranya Oprah bukan cuma sekali ini bisa bikin saya terinspirasi. Tamu – tamu Oprah tuh extra ordinary people menurut saya. Gak semua yang tampil disana selebriti lho, pasti kamu yang sering nonton Oprah Show tau banget. Seringkali ibu rumah tangga biasa, pelajar ato orang – orang yang selama ini kita kategoriin orang biasa deh. People next door istilahnya. But they’re doing extra ordinary things that make them become extra ordinary people.

Kebetulan aja yang jadi tamu Oprah barusan ini selebriti, pembalap sepeda dengan record yang amazing, dan punya sejarah yang amazing juga, plus sekarang dia pacaran sama seleb yang pasti kita tau deh, Sheryl Crow aja gitu pacarnya J

Livestrong, encourage orang – orang yang sakit kanker untuk mau berjuang untuk kesembuhannya. Begitulah misinya Lance dengan jualan gelang kuningnya itu. Selain sebagai medium untuk ngumpulin dana research juga.

Tapi menurut saya berjuang untuk kesembuhan adalah perjuangan yang sebetulnya. Melawan diri sendiri, dan menumbuhkan plus memelihara keyakinan untuk sembuh agar tetap menyala, serta semangat hidup, adalah faktor yang signifikan dalam proses penyembuhan untuk orang yang sakit berat, gak cuma penderita kanker. Apalagi ketika dokter udah memvonis bahwa kemungkinan kita sembuh tinggal sekian persen. Hiks !

But aniwei, saya melihat campaign Lance dengan Livestrong nya ini gak cuma berlaku buat orang yang sakit kanker en sedang berjuang untuk sembuh. Livestrong kita butuhin dalam jalanin hidup kita sehari – hari. Hidup perlu kekuatan untuk menjalaninya. Gak kuat ngadepin kenyataan hidup, alias takut hidup, kelaut aja.

Udah banyak cerita di sekitar kita orang nenggak racun serangga, gantung diri, terjun dari jembatan layang, nelen obat tidur, en macem – macem lagi buat ngakhirin hidup, semua karena takut hidup.

Memang menghadapi kenyataan hidup itu emang gak gampang. Seringkali kita hidup di dunia mimpi, dunia khayal ciptaan kita sendiri. Gak heran kalo banyak orang yang akhirnya ketergantungan sama drugs karena mereka takut ngadepin hidup mereka yang nyata. So they need drugs to keep them happy and live in their dreamland.

They need drugs to be happy. Is that so hard to be happy ? Yes and No. Tergantung kitanya juga

kan

. Banyak hal yang terjadi pada kita itu diluar kontrol dan jangkauan kita. It’s far beyond our control, not our territory.  Yang bisa kita kontrol hanyalah diri kita. Respon kita akan kejadian itu. Selalu ada banyak pilihan untuk merespon setiap hal. Dan tergantung kepada kita mau ambil pilihan yang mana. Disitulah kita memegang kontrol.

Saya juga sampai pada pemahaman seperti ini nggak gampang sama sekali. Lebih sering gagalnya daripada bisanya. Lebih gampang ngucapin daripada ngelakuin. Lebih gampang nasehatin orang lain daripada ngejalaninnya sendiri. Tapi ya jangan menyerah dong, semua juga berawal dari gak pernah jadi pernah, dari gak bisa jadi bisa, dari gak mungkin jadi mungkin. Practice makes perfect katanya.

Saya juga pernah punya keinginan pengen mati, pengen cuci otak ( emang bisa cuci otak ??? ) . Keinginan itu muncul ketika dunia rasanya runtuh, hancur berantakan. Hal yang terjadi jauh dari harapan. Rasa putus asa, kalah, kecil, hancur..udah lah rasanya gak ada artinya lagi hidup di dunia ini. Apalagi plus ngerasa gak ada orang yang peduli lagi sama kita. End of the world banget

kan

?

Tapi saya inget kata – kata almarhum bapak saya ketika saya merasa hancur  berkeping keping tak berwujud saat itu . “ Anak Bapak nggak cengeng, hadepin, jangan lari !” Satu kalimat yang selalu terngiang di telinga ketika saya merasa dunia tidak berpihak pada saya. Dan untuk menghadapi kenyataan hidup, untuk tidak melarikan diri, memang butuh keberanian dan kekuatan. Memang tidak gampang, tapi bukan berarti tidak bisa

kan

?

Boleh dong kalo saya sekali ini pengen ngasih compliment sama diri saya sendiri. Saya masih berdiri tegak sampe hari ini - meskipun penuh darah, airmata, dan tubuh penuh luka - karena saya punya sedikit keberanian dan kekuatan itu. Saya senang bisa membuat bapak bangga melihat saya dari alam

sana

dan berkata “Anakku ternyata tidak cengeng “.

Sekelimut kenangan untuk bapak tercinta yang selalu menjadi pelita hati dan inspirasi, H. M Ishak Usna (

4/09/1936

– 21/07/2001)