Victor kemaren di YM bilang kalo tulisan - tulisan saya masih seputar past, masa lalu, kenangan - kenangan, dan dia menagih mana tulisan - tulisan saya mengenai harapan - harapan saya. Saya bilang nggak tau nih saatnya belum muncul aja, rasanya saat ini saya masih penuh dengan ide tulisan tentang my past.
Seperti nama blogs ini my past present and future, saya bilang sama Victor kalo saya memulai perjalanan menulis saya di blogs ini juga dengan my past dulu sebelum beranjak ke present dan future. Cuma justifikasi yang kebetulan pas aja sih hehehe. Sebetulnya saya juga gak maksud begitu, kebetulan aja yang keluar ide - ide tulisan yang berbau nostalgia.
Tadi saya menelpon sahabat jaman kuliah di Jogja. Sahabat yang saya ceritakan mengirimkan saya sms kalo dia nggak lulus probation itu. Dia sekarang di Jogja lagi, udah hampir seminggu katanya kerjaannya cuma makan, tidur en maen PS. Saya ngabarin dia kalo ada info lowongan kerjaan di milis angkatan kami. Mungkin aja dia belum sempet buka email. Padahal closing date untuk masukin lamaran tinggal seminggu.
En bener aja ternyata dia udah lama gak buka email. Namanya ngobrol sama sohib lama, pastilah nostalgila ( again Vic, this is about my past
) Dan obrolan pun mengalir ke berbagai topik lainnya. Saya cek en ricek kabar orang - orang yang saya kenal di Jogja dari dia. Seperti biasa ada banyak cerita dari kisah - kisah perjalanan mereka. Ada yang sudah berjalan jauh, ada yang masih disitu - situ saja, di comfort zone yang sudah mereka dapatkan.
Akhirnya pembicaraan pun bergeser ke soal comfort zone. Atau Indonesia nya zona nyaman. Dimana kita sudah merasa nyaman dengan apa yang sudah ada. Semua sudah menjadi rutinitas yang setiap hari bisa diprediksi alurnya. Begitu dan begitu saja.
Memang menyenangkan untuk berada di comfort zone. Saya pun dalam beberapa fase dalam hidup saya sangat menikmati berada di comfort zone itu. Dan itu membuat saya stuck, karena saya tidak berani mengambil langkah untuk keluar dari situ. Saya menikmatinya dan terlena. Padahal apakah zona nyaman itu memang benar - benar nyaman dan aman ? Sebetulnya kalo saya mau jujur, jawabannya tidak kok. Tidak benar - benar nyaman, dan tidak benar - benar aman.
Nyaman dalam artian membuat saya berada dalam kondisi puncak dari performa saya, dan aman dalam artian bahwa kondisi itu akan terus berlangsung selama saya menginginkannya. Jawaban untuk kedua - duanya dengan jujur saya katakan , tidak sama sekali !
Tidak ada garansi atas rasa nyaman dan rasa aman itu akan berlangsung selama yang kita mau. Saya memang menipu diri sendiri saat itu dengan tetap "memaksa" diri saya untuk tetap berada di situ. Sebetulnya adalah saya merasa takut untuk meninggalkan tempat dan suasana, serta orang - orang yang sudah saya kenal itu untuk kemudian merambah dunia baru, suasana baru, orang - orang baru. Saya terlanjur merasa nyaman bersama apa yang sudah ada bersama saya saat itu. Dan saya berusaha meyakinkan diri saya, bahwa everythings here is ok, so why should I leave ? So I stayed there, long enough 5 years. Geez..
Saya hang on untuk sesuatu yang sebetulnya sudah harus saya tinggalkan bertahun - tahun sebelumnya. Saya selalu bilang sama orang - orang, ngapain harus ke Jakarta kalo di Jogja aja banyak yang bisa dikerjakan. Di saat semua orang bilang saya akan berkembang jauh lebih baik bila saya mau meninggalkan Jogja dan berkarir di Jakarta. Satu sisi rasanya saat itu saya mengajukan argumen yang memang betul, bahwa memang banyak hal yang masih bisa dikerjakan dan dikembangkan di Jogja. Toh gak semua orang ke Jakarta juga sukses dalam karir dan financial. Sedangkan salah satu alumni kebanggan jurusan kami yang tidak pernah ke Jakarta dan merintis usaha nya di Jogja saat ini punya pabrik besar dan mobil Jaguar.
Tapi sebetulnya sisi lainnya dalam diri saya yang tentu saja tidak pernah saya ungkapkan kepada orang lain saat itu adalah. Saya takut meninggalkan comfort zone saya. Jogja yang nyaman, saya ada rumah, ada keluarga, ada pacar, teman dan sahabat, saya juga sudah punya cukup network di Jogja yang membuat ruang gerak saya menjadi lebih leluasa.
Tapi rupanya pada saatnya, mau nggak mau saya memang harus meninggalkan zona nyaman saya. Keadaan saya "memaksa" saya untuk akhirnya pergi, ketika kemudian ada tawaran yang cukup menggiurkan dan bisa menjadi solusi bagi masalah yang saya hadapi di zona nyaman saya. Meskipun sebetulnya saat itu juga bukan harga mati. Pilihan bagi saya untuk tetap tinggal juga sebetulnya masih bisa dan terbuka. Tapi ketika dihadapkan pada 2 pilihan itu, akhirnya setelah menimbang - nimbang, saya memutuskan untuk memberanikan diri saya keluar dari zona nyaman yang sudah meninabobokan saya selama 5 tahun itu.
Sulit tentu. Saya memulai semuanya dari nol lagi. Tapi sebetulnya tidak sesulit yang dibayangkan sebelumnya yang membuat saya jadi takut berlebihan. Lama - lama saya mulai menikmatinya, dan yah memang begitulah hidup harus mengalir mengikuti alur Nya.
Tapi memang tidak mudah dan tidak setiap orang berani untuk memilih keluar dari zona nyaman yang sudah terlanjut bikin kita enak. Ya sudahlah, saya tidak berniat menghakimi, menilai, ataupun ngerasani teman - teman atau siapapun yang sekarang sudah dan masih berada di zona nyaman masing - masing. Itu adalah pilihan masing - masing individu. Mau tetap disitu silahkan nggak ada yang larang, mau memberanikan diri menjelajah dunia baru dan meninggalkan zona nyaman yang sekarang ya silahkan juga. Yang jelas setiap pilihan selalu satu paket dengan konsekuensi nya masing - masing yang harus kita tanggung.
Nikmatilah selagi bisa, tetapi ingatlah bahwa yang benar - benar nyaman dan aman itu tidak ada. Sebaiknya tetap selalu siapkan untuk hal - hal yang mungkin tidak kita harapkan. Katanya hoping for the best and preparing for the worst. Dan biasanya worst situation itu yang seringkali akhirnya "terpaksa" membuat kita matang dan berkembang lebih dewasa. Kenyamanan seringkali malah melenakan kita dan membuat kita lalai serta malas. Sampe kadang lupa untuk mengembangkan diri, karena seringkali tidak merasa perlu untuk berkembang. "Saya dengan kondisi yang sekarang saja udah ok kok", seringkali pikiran seperti itu yang bercokol di kepala. Dan pikiran seperti itulah yang akhirnya membuat kita stuck, mandeg, udah merasa oke, then we stop growing. That the worst thing !
So berada dimanakah kita sekarang ? Sudah kah kita berada di zona nyaman kita ? Kalau iya, beranikah kita meninggalkannya ? Itupun kalo dirasa perlu, karena kenyamanan yang ada sudah "membelenggu" kita untuk berkembang misalnya. Kalo merasa tidak perlu kemana - mana lagi, ya sudah berarti kamu beruntung. Enjoy it. You got all what you want. So be thankful. And congratulations for you