Archive for June, 2006

Batam Story

Thursday, June 29th, 2006

Kenapa sih kamu belum merit Nden ?

Saya bengong sejenak dan tak tahu harus menjawab apa, ketika pertanyaan itu tiba - tiba dilontarkan oleh seseorang yang tidak terlalu saya kenal. Dia mengenal saya dengan baik, katanya pernah satu kegiatan di Unit Fotografi UGM dengan saya. Tapi sumpah deh saya sama sekali gak inget siapa dia, namanya siapa, dulu kuliah di jurusan mana. Emang sih wajahnya samar - samar saya inget, meskipun gak pasti pernah ketemu dimana.

Ketemu di Batam, ketika saya tugas meliput pertemuan Presiden dengan Howard dan PM Lee. Dia rupanya bertugas jadi fotografer pribadi Gubernur Kepri. Pertama ketemu setelah basa basi yang basi, dia udah tanya, udah merit belom Nden. Dan saya jawab belom. Eh 5 menit kemudian dia menanyakan pertanyaan yang sama, dan masih saya jawab belom. Emangnya saya bisa berganti status hanya dengan 5 menit…hehehe gila kali ya.

Menghadapi pertanyaan seperti itu sudah biasa buat saya, apalagi sama orang yang lama gak ketemu. Tapi dua kali pertanyaan yang sama dalam 5 menit udah bikin saya mengernyitkan dahi. Ni orang budek apa kenapa sih ? Tapi saya diem aja, masih berusaha berpikir positif, bahwa mungkin aja ni orang ga denger jawaban pertama saya dengan jelas.

Tapi ketika beberapa jam kemudian, saat saya sedang sibuk menulis laporan, dan dia menanyakan kembali pertanyaan yang sama untuk yang ketiga kalinya, saya mulai gerah. Meskipun kesel tapi masih berusaha saya jawab dengan ramah. Belom. Kemudian dia melanjutkan ke pertanyaan berikutnya yang membuat saya serta merta murka setelah sempat speechless sejenak. Pertanyaanya "kenapa sih kamu belum merit Nden ? "

Saya bengong dan bingung mau jawab apa. Dan jujur aja ini pertama kalinya saya mesti menjawab pertanyaan yang menurut saya sangat tidak sopan diajukan kepada seseorang yang tidak kita kenal baik, apalagi baru ketemu. Kalo nanya pertanyaan ini sama bule, kalo gak digampar bolak balik juga udah bagus tuh.

Setelah pulih dari kebengongan, serta merta saya murka. Saya balik tanya kenapa emangnya kalo saya belom merit ? Masalahmu apa ? Kamu siapa ? Why should you bother ? Dengan santainya dia menjawab, kan yang laen pada udah. So…????? Kalo yang laen udah terus kenapa ? This is my life, why should I care about anybody else yang sudah menikah ?

Kalo gak inget saya dikejar dateline mesti kirim berita cepetan, udah saya seret orang itu untuk saya ajarin etika. Rupanya orang itu tidak pernah diajarin etika seumur hidupnya. Kesian banget !

Saya heran aja kalo ternyata hari gini masih banyak orang yang berpikiran sempit dan dangkal. Katanya makan sekolahan, katanya idup di jaman modern. Tapi cara berpikirnya masih jaman batu gitu. Emangnya kita menikah hanya karena orang lain menikah ? Trus kalo orang laen cere kita ikutan cere ? gitu ?? So pethatic life, hidup kok didirect orang laen..Emangnya yang njalanin hidup itu siapa ? Temennya, tetangganya, keluarganya ? Aih …aih…apa bedanya kita sama robot yang bergerak dikendalikan remote…dan remote itu dipegang orang lain yang berstatus keluarga, tetangga or society, teman - teman…ck..ck..ck..gedek..gedek mode saya on …gak habis pikir.

Pertanyaan orang ini menggantung di kepala saya sampe saya balik ke Jakarta, dan jadi bahan pemikiran saya bahwa fakta memang begitulah kenyataan society kita melihat sebuah status pernikahan sebagai sebuah label yang harus menempel di jidat kita untuk menjadi "manusia normal" di masyarakat.

Saya tergelitik sekali dengan kata "kenapa" yang dia gunakan dalam pertanyaannya. Seakan - akan keadaan saya yang belum menikah menjadi sebuah pertanyaan besar, dan sebuah keheranan yang harus tuntas terjawab. Mungkin bisa dianalisis menjadi sebuah skripsi ya hehehe.. Kalo saya balik tanya, emang kenapa kalo saya belum menikah ? apakah itu hal yang aneh ? Kenapa aneh ? Hanya karena teman - teman saya yang lain sudah menikah dan saya belum ? Yang aneh saya apa teman - teman saya yang lain yang sudah menikah ? Tergantung parameter yang dipakai kan, dimana parameter itu menjadi sangat relatif dan subjektif..

Teman saya yang sudah menikah dan menjadi ibu rumah tangga "iri" dengan saya yang masih lajang, bekerja sebagai wartawan yang traveling kemana - mana, banyak pengalaman, dan beban tanggung jawab saya hanya menghidupi diri saya sendiri dan bekerja dengan sebaik - baiknya. Meski kadang saya juga "iri" dengan teman - teman yang sudah menjadi mama, tapi rasanya saya lebih menyukai keadaan saya saat ini. Saya bisa total berkarya dan menjadi apa yang saya mau.

Perdebatan soal ini gak bakal selesai hanya dalam satu malam. Karena menyangkut banyak aspek, tergantung dari sisi mana kita akan menggalinya. Tapi yang jelas saya prihatin sama orang itu yang masih terheran - heran dan mempertanyakan itu kepada saya, dan sempat membuat saya berpikir seakan - akan saya ini mahluk planet lain di bumi ini. Am I a weird creature just becoz of I’m not married yet ? Saya yang sakit apa dia yang sakit ya ? hehehe…entahlah, kok saya jadi rusuh begini sih cuma gara - gara orang gak behave ya..

Samsons

Friday, June 23rd, 2006

Aku yang lemah tanpamu
Aku yang rentan karena
Cinta yang t’lah hilang
Darimu yang mampu menyanjungku

Selama mata terbuka
Sampai jantung tak berdetak
Selama itu pun aku mampu
Untuk mengenangmu

Darimu kutemukan hidupku
Bagiku kaulah cinta sejati

Chorus :
Bila yang tertulis untukku
Adalah yang terbaik untukmu
Kan kujadikan kau
Kenangan terindah dalam hidupku

Namun takkan mudah bagiku
Meninggalkan jejak hidupku
Yang t’lah terukir
Sebagai kenangan yang terindah

Gak tau tiba - tiba saya pengen ngutip lirik lagu Kenangan Terindah nya Samsons di blog ini. Sejak dari Palembang lagu ini udah ngitik - ngitik kuping. Gara - gara pak bos kumis itu bolak balik nyanyi lagu ini, pas kita lagi ikut di kapal pesiarnya "big boss" nyusurin sungai Musi. Sayang saya gak hafal lengkap liriknya, makanya penasaran. Dapet lah lirik lagunya di tembang.com.

Sampe Jogja lagu ini makin bikin saya penasaran. Gara - garanya pengamen di alun - alun utara nyanyiin lagu ini bagus banget. Plus at that time I was with somebody that i miss so much. He made me want to do anything just to be with him. He made me crazy and I love it tough :)

And now you will listen to the song if you call me to my mobile phone..hehehe..

Jogja, 18 Juni 2006

Thursday, June 22nd, 2006

Jogjakarta, 18 Juni 2006

Akhirnya bisa ketemu kamu lagi, kali ini di Jogja. Rumah keduaku setelah Bandung. Seneng banget bisa ngajak kamu jalan - jalan di kota yang sederhana ini.Jadilah aku guide amatiran. Aku ajak kamu menikmati bakmi jawa Pak Pele yang khas dengan telur bebeknya, dan cabe rawit sebagai pengganti sambal. Duduk lesehan dengan pemandangan alun - alun utara, dimana nampak beberapa motor yang terparkir dengan pasangan - pasangan muda yang menikmati malam juga. Tak lama kemudian sekelompok pengamen muda menghampiri dan mulai menyanyikan beberapa lagu dengan apik. Gak asal genjreng, beda banget ya sama pengamen - pengamen di lampu merah di Jakarta. Pengamen di Jogja, makan sekolahan. Sehingga ketika selesai 4 lagu dimainkan, tak segan - segan kita mengeluarkan dua lembar dua puluh ribuan untuk hiburan tersebut.

Hari itu di bagian lain di kota ini, terjadi sesuatu peristiwa bersejarah dalam hidup dua orang manusia. Dimana "seharusnya" salah satunya itu adalah aku. Tapi memang kata seharusnya itu sangat subjektif, seharusnya menurut siapa ? Menurutku tentunya. Tapi ternyata tidak menurut Yang Berkehendak. Manusia memang hanyalah perencana, bukan penentu keputusan.

Ternyata pada hari itu, aku duduk lesehan dengan kamu dan menikmati Jogja dengan suasana lain. I do really enjoy it, thanks for a wonderful night hon. We talked and enjoyed the live music from all those street musician. I wish the night will last forever :)

Aku datang memang untuk ketemu kamu, melewatkan waktu bersama kamu. Satu hal yang rasanya sangat sulit kita wujudkan dalam keseharian kita. Dan kedatanganku rasanya tidak sia - sia. Aku sedikit lebih tau tentang kamu. Hidupmu dan apa yang telah kamu lewati. Memang gak banyak. Sedikit saja, karena waktu yang tersedia untuk kita memang demikian terbatasnya. Aneh, rasanya waktu sulit sekali berpihak pada kita. Begitu banyak hal yang menghalangi kita untuk bersama melewatkan waktu. Sehingga setiap detik yang aku lewatkan sama kamu terasa semakin berharga. Aku ingin menikmatinya seakan itu adalah yang terakhir kalinya. Kita nggak pernah tau apa yang akan terjadi berikutnya bukan ? Bukankah hidup adalah ketidakpastian ? 

Aku melihat ada sesuatu yang berbeda sama kamu malam itu, entah apa. Aku hanya bisa merasakannya melalui tatapan matamu. Saat itu aku berangan - angan seandainya aku bisa membaca pikiranmu dan meneropong apa yang sedang bergejolak di hatimu. Adakah sepotong tentangku disana ? Demikian harapku..

Entah kenapa begitu mudahnya untuk jatuh sayang sama kamu. Dan aku tau ada banyak perempuan di luar sana yang merasakan hal yang sama tentang kamu. Aku hanyalah satu dari sekian pengagummu. Aku pun gak berharap banyak tentang kamu. Menjadi teman dan bisa melewatkan sedikit waktu bersama kamu aja udah cukup. Semoga kamu mendapatkan yang terbaik dalam hidupmu.

Thanks untuk dua jam bersamamu di Jogja..

Palembang, 16 Juni 2006

Thursday, June 22nd, 2006

Kunjungan saya ke Palembang untuk yang pertama kali nya ini ternyata sudah direncanakan Tuhan untuk menjadi sangat istimewa. Karena di kota inilah, hari ini 16 Juni 2006, saya mendapat dua kabar yang sangat mengejutkan. Meskipun sebetulnya dua – duanya sudah dapat diduga. Tapi ketika saya mendapat konfirmasi mengenai kebenaran dugaan saya selama ini tetap saja saya merasa terpukul. Damn..it’s true !

Tapi sungguh heran, meskipun terpukul ternyata reaksi saya cukup datar. Bukan gue banget gitu lho..These are big things for me..One thing about somebody in my past, and the other thing about somebody in my present time, and I wish gonna be in my future too. Itu bukan reaksi seorang Nenden yang saya kenal selama ini..Ataukah Nenden yang ini sudah berubah ?

Entahlah..Mungkin hanya karena pukulan – pukulan sebelumnya yang cukup telak telah terlanjur membuat saya K.O..sehingga saya terlalu lelah untuk menanggapinya. Maka reaksi yang saya berikan untuk kabar sebesar itu ternyata biasa – biasa aja. Sampai menangis aja saya sudah tidak mampu. Atau mungkin stok airmata saya sudah kering kerontang ? Mungkin juga..

Saya hanya duduk diam, termenung, memandangi pantulan diri di cermin toilet, dan kemudian membenamkan tubuh di bath tub..berusaha “merebus” diri saya dengan air hangat panas yang sudah disiapkan.Mungkin berharap bisa cukup bikin saya panas dan bereaksi lebih keras. Tapi ternyata tidak berhasil. Saya tetap diam. Saya berusaha memahami diri saya sendiri. Berusaha mencerna apa yang terjadi, dan mengapa saya seperti ini ?

Saya hanya inget satu kata dari Mas Bram..”kasunyatan” artinya “kenyataan”. Ini adalah kenyataan yang sekarang sedang saya alami. Sesuatu yang memang telah dipersiapkan untuk saya lewati. Jangan tanya siapa yang telah menyiapkannya.. Siapapun Dia yang jelas Dia selalu tau yang terbaik untuk saya.

Saya teringat mimpi – mimpi yang telah hadir di dalam tidur saya, mimpi yang bukan hanya mimpi. Mimpi di jam 3 dini hari. Mimpi – mimpi tentang sesuatu yang saya yakini itu adalah pertanda. Berpuluh kali kartu tarot yang telah saya buka untuk berusaha “membaca” arah jalan saya. Beribu nasihat dari para sahabat. Saya sejenak mereview apa yang sudah terjadi dalam 6 bulan terakhir ini dalam hidup saya. Sejenak semua berkelebatan dalam pikiran saya seperti sebuah film usang yang diputar ulang.

Dan kata “kasunyatan” berhasil memupus itu semua. Karena Mas Bram benar mengenai “kasunyatan” ini. Semua mimpi, kartu tarot, nasihat, dan semua yang telah terjadi itu tidak berarti apa – apalagi sekarang. Itu bukan kenyataan lagi, tapi sudah menjadi sejarah. Kenyataan adalah sekarang yang sedang terjadi dan harus saya hadapi. Meskipun saya ingat kata mas Bram yang lainnya, bahwa setiap kejadian itu tidak berdiri sendiri. Masa lalu selalu akan menjadi bagian dari masa kini dan masa depan. Sehingga berhati – hatilah dalam bertindak, karena apa yang kita lakukan sekarang akan menjadi bagian tak terpisahkan dari masa depan kita. Dan setiap perbuatan akan membawa karma nya sendiri – sendiri. If you believe in karma. But I do believe it.

Ada hubungan kausal yang terjadi di dunia ini yang mungkin gak kita sadari terhubung satu sama lain melalui sebuah jaring – jaring virtual. Sehingga semuanya terhubung satu sama lain. Lintas dimensi, lintas ruang dan waktu.

Paradox ya ?? Tapi itulah yang sedang berusaha saya pahami dan lakukan. Saya sedang berusaha memahami kenyataan yang terpampang di depan saya. Dan apapun itu saya mengucapkan syukur pada Tuhan. Terima kasih Tuhan, seberat apapun ini saya rasakan, tapi saya yakin dan percaya bahwa ada suatu rencana besar di depan sana untuk saya. Apa itu ? Entahlah gak mau mikirin juga.

Kado ulang tahun aja gak boleh dibuka sebelum tanggalnya ulang tahun pamali katanya..Alias sesuatu itu baru bisa dibuka pada saatnya, jadi ya ditunggu aja itu, entah kapan waktunya untuk saya tahu. Mungkin sebuah kado yang akan mengecewakan lagi, tapi entah lah, saya sudah tidak berani berharap akan apapun lagi dalam hidup saya. Too much hope means too much pain.. So I just wanna flow with my river wherever it takes me..My river of life

Love and Peace

Sunday, June 11th, 2006

“ There’s no love in peace “ Begitu kata Paulo Coelho di buku The Valkyries yang lagi saya baca. Mulanya saya bingung, how come there’s no love in peace ? Bukannya selama ini kita kalo kampanye anti kekerasan, selalu bilang love and peace. Seakan – akan love and peace jadi satu paket. Cinta dan kedamaian. Dan itu paket itulah yang saya anut dan percayai kebenarannya sampai saya menemukan kata – kata tersebut di The Valkyries.

Saya tergelitik untuk merenung setelah membacanya. Dan setelah saya pikir- pikir dengan jujur, hmm iya juga ya. Setidaknya saya mulai merasa setuju dengan pernyataan itu. Soalnya saya merasa resah dan gelisah ketika saya sedang jatuh cinta, atau patah hati. Lagu dangdut banget gak sih, tapi rupanya lirik lagu dangdut memang dibuat berdasarkan riset :) Karena rasanya menurut pengalaman saya sih yang namanya jatuh cinta dan patah hati itu sama susahnya. Sama – sama gak bisa tidur, gak enak makan, mau ngapa – ngapain gak konsen. Cuma bedanya kalo pas jatuh cinta senyum terus pengennya, sedangkan kalo lagi patah hati pengennya nangis terus. Jadi dimana ya damainya ?

Dan ketika mengalami kedua hal itu dalam waktu yang berdekatan. Kayak roda gila lagi pengen ngebut, jadinya muternya cepet banget. Dari posisi di bawah dan teraniaya, tiba – tiba jadi diatas dan berasa di awang – awang. Melihat langit yang masih biru, matahari yang masih terbit di timur dan tenggelam di barat. Semua masih sama, dunia masih berputar pada porosnya. Orang Israel sama orang Palestina masih berantem rebutan tanah. Jakarta juga masih macet, en banjir kalo hujan. Trus orang – orang maruk yang punya jabatan masih pada korupsi. He..kok ngelantur ya J

Tapi mau menaruh posisi kita dimanapun itu si roda kehidupan, selama masih berkaitan sama cinta yang eros itu emang jangan harap kita bakal ngerasain yang namanya peace alias damai. Pas jatuh cinta rasanya kangen melulu pengen ketemu. Gak bisa jauh dikit, tangan rasanya gatel pengen sms terus, pengen mencet nomer hapenya. Gak kenal waktu. Tengah malem aja kebangun karena berasa kangen en gak tahan pengen denger suaranya atau seenggaknya baca sms nya aja udah lumayan bikin bisa tidur lagi sambil senyum, dan bayangin guling yang dipeluk erat – erat itu si dia.

Kalo pas lagi patah hati, sama – sama stresnya. Mata udah kayak mata ikan koki, bengkak – bengkak karena nangis melulu. Kadang saking stresnya, sampe gak bisa bangun. Terkapar di kasur gak bisa ngapa – ngapain. Lemes gak ada tenaga tapi gak mau makan. Pikiran melayang mikirin dia lagi ngapain ya sekarang sama pacar barunya ? Lagi bercinta kali ya…Hiks..Cinta emang cuma bikin susah. Lha kalo bikin kita sakit jiwa raga begitu apa gak bikin susah namanya ? Tapi kenapa juga kita gak kapok ya..Tetep nekat jatuh cinta dan patah hati lagi. Apa kita udah jadi manusia masokis semua ya, yang merasakan kenikmatan justru ketika kita sakit dan menderita ????? Aduuuh…

Ya begitulah mungkin perjalanan sebuah proses untuk mengenal dan merasakan cinta yang sebenernya. Ada banyak nama untuk itu. Orang barat bilangnya true love, orang kita bilang cinta sejati. Sama aja sih maksudnya, yang jelas si true love atau cinta sejati ini katanya orang – orang yang udah berhasil merasakannya, adalah jenis cinta yang gak nyusahin kayak cinta eros yang bikin manusia yang terjangkiti jadi gila, hilang rasio dan akal sehatnya. Gimana gak gila, gara – gara cinta eros itu kita senyum – senyum sendiri padahal gak ada orang yang diajak senyum, atau kita nangis melulu gak berenti – berenti.

Cinta sejati itu tulus. Memberi tanpa harap kembali. Cinta sejati bukan tentang aku, tapi tentang kamu. Cinta sejati tidak pernah berkurang, bahkan semakin dibagi semakin bertambah. Ilmu berhitung tidak berlaku untuk cinta yang satu ini. Cinta sejati juga tidak memiliki, tetapi membebaskan. Cinta sejati tidak membuat resah, tapi mendatangkan rasa damai dan ketenangan.

Jadi kalo pengen damai dalam bercinta, cinta sejati itulah yang mesti bersemi di hati dan tumbuh berkembang di jiwa kita. Bukan cinta eros yang kayak virus itu. Kalo di Inggris ada virus yang disebut madcow alias sapi gila, cinta eros ini mungkin bisa dibilang virus madman ya. Dan sama - sama bahayanya.

Tapi memang si cinta sejati itu tidak sembarang muncul dan bersemi di hati dan bertumbuh di jiwa seseorang. Perjalanan panjang penuh perjuangan adalah proses wajib yang harus dilalui seseorang untuk mendapatkannya. Itulah yang membuatnya menjadi sangat berharga dan menjadi titik puncak kematangan seorang manusia dalam hidupnya. Kualitas dirinya ditentukan dari hal ini. Karena ketika cinta sejati telah bersemi di hati dan tumbuh di jiwanya, maka pikiran, ucapan dan tindakanya akan mencerminkan itu. Sehingga kedamaian di hati dan ketenangan jiwa akan menjadi sebuah akibat yang tidak terelakan. What a wonderful life.

Mimpi untuk Indonesia tercinta

Tuesday, June 6th, 2006

Tulisan Marina Mahathir, putri mantan PM Malaysia Mahatir Mohammad, yang saya upload sebelumnya itu saya dapatkan dari mailing list Anand Krishna yang saya ikuti. Menurut saya tulisan itu bagus sekali, mewakili apa yang ada di pikiran saya, sehingga tanpa pikir panjang saya pun mengupload nya di blog saya ini. Dengan harapan akan lebih banyak orang yang membaca, dan semoga saja bisa menjadi wacana, untuk kemudian bisa menjadi pemicu di kepala kita ( terutama kita yang muslim ) untuk introspeksi. Sebuah harapan yang mungkin terlalu muluk, tapi tak apalah. Sekali - kali berharap sebuah keajaiban terjadi di dunia nyata ini kan boleh juga :)

Tulisan Marina buat saya sangat menggelitik. Dan menjadi "tidak apa - apa " karena ditulis oleh seorang muslim yang lahir dan besar di sebuah negara muslim juga. Seandainya tulisan itu dibuat oleh orang yang non muslim. Saya yakin tanggapan yang didapat akan berbeda. Tulisan Marina menurut saya mencerminkan pemikiran seorang muslim yang telah dewasa dengan pemahaman agamanya. Sungguh sayang karena orang seperti Marina ini masih kalah banyak dengan manusia - manusia yang pemahaman agamanya masih dangkal, dengan masih mempermasalahkan hal - hal yang tidak esensial. Mereka saling memaki, turun ke jalan, bahkan saling menyakiti atas nama agama. Ironis. Membela agama yang mereka yakini membela Tuhan. Aduh Tuhan gak perlu dibela deh kayaknya.

Saya setuju dengan yang Marina katakan dalam tulisannya, seandainya Da Vinci Code itu dibuat berdasarkan apa yang menjadi bagian dari agama Islam, pasti ceritanya akan lain. Demonstrasi di mana - mana pasti akan terjadi, dan bukan tidak mungkin akan memicu terjadinya pertumpahan darah.

Maaf kalo jadinya saya membandingkan, seorang romo di sebuah gereja di Jakarta ( saya lupa nama romo dan dari gereja mana ) di sebuah media menyatakan bahwa Davinci Code hanya hiburan semata. Dia menanggapi dengan santai. Tidak ada himbauan untuk memboikot dan gerakan untuk memprotes apalagi sesuatu yang kemudian menjadi anarkis.

Sang romo yakin bahwa umatnya telah cukup dewasa untuk merespon hal - hal yang gak penting ini. Emang gak penting kan sebetulnya. Mengapa sebuah buku dan film harus mengguncang iman seseorang ? Sebegitu rapuhnya kah keimanan seseorang terhadap Tuhan dan agamanya ?

Saya hanya bisa berharap suatu hari nanti di negeri ini, yang penduduk muslimnya terbesar di dunia itu katanya, bisa lebih dewasa dalam beragama. Tidak menganggap diri sebagai yang paling benar. Agamanya yang paling benar. Orang lain yang tidak sejalan dianggap salah, dan harus dilawan. Seandainya kita semua bisa bercermin dahulu sebelum menyalahkan orang lain. Seandainya semua orang memahami artinya kasih dan damai. Damai di hati,damai di bumi. Alangkah indahnya.

Seandainya semua pemeluk agama Islam memahami makna rahmatan lil alamin, bahwa Islam dilahirkan untuk menjadi rahmat bagi alam semesta, yang sayangnya masih sebatas slogan dan wacana. Dan prakteknya justru sebaliknya. Pemeluk agama Islam menjadi mimpi buruk bagi lingkungannya yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka yang kerdil. Meskipun itu hanya dilakukan oleh sebagian kecil umat Islam keseluruhan, tapi dampaknya sangat meresahkan.

Sebuah mimpi besar untuk Indonesia tercinta. Indonesia yang damai dengan segala perbedaannya. Manusia - manusia Indonesia bisa lebih dewasa. Bukan anak - anak lagi yang senang bermain perang - perangan. Entah kapan akan terwujud. Semoga tidak lama lagi.

MUSINGS By MARINA MAHATHIR

Tuesday, June 6th, 2006

A FRIEND was relating how after her daughter had read the Da Vinci
Code, she had wanted to read the Bible. Which is not in itself a bad thing except that she was concerned that an impressionable young mind would not be able to differentiate fact from fiction. Also it seemed that perhaps what was
needed is a Da Vinci Code-type book for Muslims to spark off the same level of interest in young people in their own religion.

Except that if anyone tried to write a similar thriller based around Islam, they’d be hounded and pilloried and threatened with death, thousands would riot in  protest and people who would never have been able to read the book either  because they are illiterate or can’t afford it would have died.

Such is the difference between our religions. While there are many
Christians who are upset about the book and movie, they are countering
it with seminars and other educational events to balance what is being
said in the book, even if the book is only fiction. There have not been Da
Vinci Code-related riots or deaths thus far. Which speaks volumes for the
adherents of the faith.

It would be nice if everyone could brush off similar challenges and say
"we are strong enough to withstand any attack". Even if a book or a movie
becomes a runaway hit, compared to the total number of any faith’s
followers, the numbers sold can never match it. Books are by nature, in
a world where illiteracy is still common, a luxury item. As are American
movies, no matter what arguments people make about cultural
imperialism.

I remember when there were riots over Salman Rushdie’s book The Satanic
Verses, President Benazir Bhutto commented wryly that the people who
were dying over the book were those who would never have read it, or
possibly even heard of it if someone hadn’t whipped them into a frenzy. A
similar situation arose with the cartoons. As insensitive as they were, they
were still not worth dying over.

The point is that people’s impressions of a religion are often related
to the behaviour of its adherents. Some religions are thought of as simply
kooky because its followers behave strangely. Some are viewed as benign
and peaceful because its followers resolutely will not harm a fly.

But when people, supposedly in the name of religion, riot, burn and
kill, it can’t help but give the impression of a religion that advocates this,
no matter how much we point out that nowhere in religious texts itself
does it say you should do this. And unfortunately we get the whole spectrum,
from men who publicly insult women on a daily basis without censure to the
real crazies.

Recently in New York I had to suffer the embarrassment of having to
listen to a Muslim man say to a non-Muslim woman at a forum, "Don’t mess with
Muslims, we have nuclear weapons!" There I was trying to dispel stereotypes
about violence-prone Muslims and in one fell swoop, this nutcase confirmed
every stereotype there was.

I think the only people who can dispel stereotypes about Muslims are
women. While there are certainly some conservative women, even when these
speak out they will naturally change perceptions because in a world where Muslim women are perceived to be perpetually hidden behind curtains, their sheer presence and articulateness will be noticed. What more if they are able to
arguerationally in a calm manner.

Thus far there have been very few Muslim men in the international media
who give a good impression. We might argue that the Western media selects
who they interview in order to perpetuate stereotypes, which is true and
that is a problem for all of us. A man or woman who looks like the archetypal
wild-eyed conservative is far more telegenic than someone who looks like
everyone else. Channel surfers are far more likely to stop at the sight of someone they think of as alien to their culture than if they see someone too
similar to them. To stop this means having to make a concerted effort to
come together as one community and decide on asophisticated media strategy.
But sadly coming together as one united community is a challenge in itself.

If we do manage as a global community to change other people’s perceptions
of us, the benefits would be many. Our own people might think more kindly of
each other so peace would reign within. And because within ourselves,we espect diversity, we can do the same with others. Then peace would truly
have a chance.

WHAT ABOUT TURKEY?????????