Archive for July, 2006

30 Menit di Ngurah Rai

Sunday, July 30th, 2006

Bandara Ngurah Rai Bali, 29 Juli 2006, 14.16 WITA

Sudah cukup lama saya gak kesini, berada di Ngurah Rai lagi pada siang hari dengan suasana hiruk pikuk, sungguh pemandangan yang tidak biasa buat saya. Karena dulu ketika saya rajin berkunjung ke Bali , minimal sebulan sekali, saya selalu tiba di Bali pada penerbangan terakhir, dan meninggalkan Bali pada penerbangan pertama. Sehingga saya selalu mendapati bandara yang sepi dan toko – toko souvenir dan kafe pun sebagian besar tutup. Jadi suasana ramai dan panas seperti di bandara seperti sekarang ini agak aneh buat saya.

Kali ini saya di Ngurah Rai hanya akan singgah sekitar setengah jam saja. Dalam perjalanan transit dari Jayapura menuju Jakarta, setelah sebelumnya transit di Timika.

Ternyata berada disini lagi membuat saya merasa agak “aneh”. Sebuah rasa yang sulit dijelaskan tiba – tiba hadir menyergap di hati. Ada rasa miris, sedih, rindu, campur aduk. Sekelumit kenangan yang belum terlalu lama berlalu, membuat saya sejenak terlempar ke masa lalu.

Ketika pilot menyatakan bahwa kita transit di Ngurah Rai selama kurang lebih 30 menit, dan para penumpang diberikan dua pilihan. Tetap tinggal di pesawat atau turun ke ruang tunggu. Ternyata saya memilih untuk turun ke ruang tunggu. Entahlah mengapa saya memilih untuk turun. Rupanya kerinduan saya untuk sejenak merasakan lagi suasana Bali yang pernah sangat saya akrabi, meskipun cuma di Ngurah Rai, mengalahkan kekhawatiran saya akan “resiko” munculnya lagi rasa sakit yang sedang berusaha saya obati.

Di ruang tunggu yang ramai, saya berkeliling dari satu toko ke toko lain. Tidak ada tujuan khusus, karena memang saya tidak berencana membeli sesuatu. Meskipun saya tampak melihat barang – barang yang dijajakan, pakaian, cokelat, ,buku, pikiran saya tidak benar – benar memperhatikan apa yang saya lihat. Saya sedang meresapi suasana dan keberadaan saya di Ngurah Rai.

Rasa sakit itu memang muncul kembali tanpa bisa saya halangi. Saya berandai – andai, bila semua masih seperti dulu, tentunya bukan hanya transit 30 menit saya di Bali. Mungkin 3 hari transitnya hehehe.. Tapi sudahlah, mengenang yang pernah terjadi, dan berandai – andai keadaan tidak seperti kenyataan, hanyalah membuat luka yang belum sembuh kembali menganga lebar. Semua sudah berlalu, dan menjadi masa lalu bagi saya untuk saya dapat mengambil pelajaran hidup yang berharga. It’s all history, I have to go on with my life.

Senyum kecut menghiasi wajah saya, saat saya berdialog dengan hati saya mengenai hal itu. Saya jadi ingat kata sahabat baru tapi lama saya, Dita, ketika kami chat di YM. Dita bilang saya harus mengingat bahwa setiap saya bangun tiap pagi, itu berarti saya akan merasakan diri saya yang lebih baik dan semakin baik. Dan setiap detik, pada setiap detak jarum jam yang bergerak, itu berarti saya akan semakin sembuh dan sembuh. Yang saya butuhkan hanyalah waktu.

Mengingat itu senyum saya menjadi tidak kecut lagi. Ah Dita memang super duper baik. Dia ada disana ketika saya terkapar berdarah – darah dan tidak berminat untuk melanjutkan hidup saya lagi..Thanks a lot Dita, you’re the angel that save my life. I want to continue my life again now..kita traveling yuk Dit, kapan kita punya waktu. Saya ingin suatu saat kembali ke Papua, negeri saya tercinta ternyata memang indah. Mungkin kamu juga mau ikut saya ke Papua ? 

Morning Coffee di Langit Papua

Sunday, July 30th, 2006

Penerbangan GA 652, pukul 8.33 WIT. Terbang di atas langit Papua dalam perjalanan dari Timika menuju Jayapura. Pilot mengatakan bahwa di samping kiri saat ini kita sedang melewati pegunungan Jayawijaya. Pramugari menghidangkan snack dan minuman. Saya minta kopi. Meskipun saya tau banget, kalo kopi di penerbangan Garuda itu sama sekali gak enak, tapi saya membutuhkan kopi setiap pagi untuk membuat kesadaran saya terkumpul dengan sempurna.

Rasa kopi Garuda yang nggak keruan memang nggak berubah. Kecut, pait gak jelas deh. Tapi acara ngopi saya pagi ini memang tidak biasa. Kopi boleh gak seenak Nescafe, tapi pemandangan yang tersaji di depan mata sungguh hal yang langka. Matahari pagi bersinar lembut dengan langit biru yang cerah sebagai latarnya. Serta awan putih yang bergumpal – gumpal menghiasi indahnya lukisan alam pagi itu.Di bawah sana terlihat hamparan karpet hijau dari pegunungan Jayawijaya, dihiasi kelokan sungai yang membingkainya. Indah sekali. Acara morning coffee saya yang sangat mahal dan langka.

Sayang, pilot mengatakan bahwa kita akan segera mendarat di Jayapura. Perjalanan 50 menit dari Timika akan segera berakhir. Setelah sebelumnya menempuh perjalanan Jakarta – Denpasar, kemudian Denpasar – Timika. Akhirnya tibalah saya di tanah Papua.  Segala keindahan alam pagi ini seakan menyambut kedatangan saya untuk pertama kalinya disini. Welcome to Papua, Nden !

I lost myself on the way to Medan..

Sunday, July 16th, 2006

Garuda Indonesia penerbangan GA 190 tanggal 12 Juli 2006 , seat 12 F dari Jakarta menuju Medan. Ini adalah perjalanan saya ke Medan untuk yang kedua kalinya dalam minggu yang sama. What a trip ! Baru 3 hari yang lalu saya pulang dari Medan untuk acara liputan yang super duper garing, plus pake acara diomelin lagi sama redpel tercinta Pas masuk kantor besoknya, saya baru tahu kalo jatah liputan saya berikutnya ke Aceh, ternyata sudah diganti menjadi ke Medan lagi. Rupanya pimred saya meragukan ketangguhan saya untuk bertugas di Aceh, sehingga jatah liputan saya ke Aceh digantikan oleh redpel saya.

Uh..sebelnya ! Padahal saya sangat mengharapkan untuk bisa berangkat ke Aceh, karena saya belom pernah ke Aceh seumur hidup. Penasaran aja sih pengen tahu paska tsunami gimana kondisinya. Lagian buat wartawan kan makin menantang medan liputan makin menarik buat didatengin. Sebel juga saya sama pak pimred yang telah “ menyepelekan” saya. I wish I could say to him “ I’m born to be a journalist “ please send me to war zone or another exciting place to do the reporting. Gile sombong banget ya J

But since the pimred become a king yang dawuhnya harus ditaati. Saya pun pasrah ketika harus berangkat lagi Medan untuk kedua kalinya di minggu yang sama. Gak tau sih mungkin karena dari awal saya udah gak terlalu semangat dengan tugas liputan ini, selama perjalanan bawaanya jadi males aja. Bete, dan mungkin karena lagi dapet juga, si hormon estrogen saya lagi bekerja dengan sangat baik, Walhasil saya jadi sensi en mellow abis.

On the way to Medan , I sat near the window. Watched the clouds and blue sky, feels my heart so empty. And I don’t know why.. I try to find my father’s face among the clouds.

Bulan ini bulan Juli. Dan saya selalu merasa “beda” setiap bulan Juli. Sejak 5 tahun lalu. Dimana sejak saat itu hidup saya tidak lagi sama. Sejak 21 Juli 2001 saya menyandang status sebagai anak yatim. Dan setiap menginjak bulan Juli, hati saya selalu dirundung sedih.  Detik – detik ketika saya berdoa di depan jenazah Bapak, dan memanggul jenazah Bapak menuju mobil ambulan, serta mengantar Bapak ke Sirnaraga kembali terbayang dengan jelas di benak. Dan saya selalu kembali menangis. I miss you Dad..

Sejak saat itu saya menghindari untuk pulang ke rumah kami di Bandung. Hati saya selalu teriris setiap saya masuk ke rumah dan mengingat jejak Bapak di setiap sudut rumah itu. Kursi tempat Bapak duduk, gelas tempat kopi Bapak, semuanya. Kadang saya lupa kalo Bapak udah gak ada. Feels like he’s stil around. Atau mungkin saya saja yang berhalusinasi. Entahlah..

Sudah lima tahun berlalu, rasanya baru kemarin, dan saya masih menangisi kepergiannya. Rasa sesal di dalam dada karena belum sempat membahagiakannya. Tuhan kenapa gak beri dia waktu lebih lama untuk bisa menyaksikan anak – anaknya menjadi seperti yang diharapkannya.. Bapak pasti seneng kalo tau saya sekarang kerja disini. I’m working for the President Dad ! I wish you stil here, I’m sure you must be so proud of me. Oh I wish.. I really wish..

Dari dulu Bapak ingin saya kerja di pemerintahan. Ya maklum karena Bapak juga PNS dan berharap anak – anaknya ingin jadi PNS juga, for security reason. Pola pikir orang tua jaman dulu yang sangat simpel dan konservatif. Dan saya menolak dengan tegas keinginan beliau.

Sejak awal saya kuliah, saya sudah menyatakan keinginan saya untuk menjadi wartawan. Dan saya ingat Bapak memberikan dukungannya dengan membelikan saya tape rekaman kecil yang biasa dipakai wartawan untuk wawancara. Dan di ulang tahun saya ke 20, Bapak membelikan saya kamera Nikon FM 2 untuk saya belajar memotret sebagai skil menjadi wartawan, profesi impian saya.

Dan sekarang saya menjadi wartawan yang bekerja untuk pemerintah ( presiden ) tanpa harus menjadi PNS. Dua hal yang saya gak pernah terpikir bisa terjadi, kecuali saya menjadi wartawan RRI atau TVRI.  Sayang sekali ini menjadi kenyataan ketika lima tahun sudah Bapak terbaring di Sirnaraga. How I miss you Dad..

Maaf belum bisa memenuhi harapan Bapak untuk tidak menjadi manusia yang cengeng, karena saya masih sering menangis. Menangis ketika merasa tak berdaya menghadapi ujian – ujian hidup yang terus menghadang tiada henti. Semakin hari semakin sulit, rasanya saya berjalan dalam terowongan gelap yang tiada berujung. Saya capek, kehabisan energi, seperti hari ini. Saya capek untuk bertahan, saya capek untuk berjuang, saya putus asa, saya tidak berani untuk berharap apapun lagi dalam hidup saya.. I lost my faith, I’m tired..and I lost myself. Wish I could be with you Dad… I’m tired..just wanna go home and sleep beside you, like when I was a little girl.

JazzCoffee

Friday, July 7th, 2006

Ini bukan hanya nama jenis musik dan minuman favorit. Jazz Coffee yang ini adalah nama sebuah tempat yang memang menyajikan dua hal tadi, musik jazz dan kopi. A cozy place to relax ini adanya di Jogja 2 taun lalu. Tepatnya tahun 2003 di gedung art dico kotabaru, dan kemudian pada tahun 2004 pindah tempat ke jl. Gejayan di belakang toko buku Quadrant.

Saat masih berlokasi di Gd.Art Dico, JazCo mengambil tempat di sisi utara. Hanya dengan empat meja dan sepuluh kursi di bagian dalam JazCo memang terhitung mungil. Kursi dan meja yang digunakan adalah model – model kuno yang mungkin hanya bisa kita temukan di rumah nenek dan kakek kita. Hal itu rupanya menjadi lebih menyatu dengan kondisi bangunan yang ditempati yang merupakan gedung kuno model peninggalan Belanda.

Sebagian tempat digunakan menjadi bar tempat para coffee maker meracik minuman pesanan. Tapi di Jazco meracik kopi tidak menjadi kewajiban para coffeemaker nya mbak Anik saja, “Dapur” JazCo terbuka buat para pengunjungnya membuat minuman sendiri, bahkan kalo mau modifikasi juga boleh kok. Hayo dimana lagi kita ngopi tapi bisa bikin kopi sendiri ?

Ada kopi papua, kopi toraja, kopi medan, kopi bali, dan kopi dari mana – mana. Buat yang gak doyan kopi, Mbak Anik juga punya menu cokelat yang gak kalah enaknya, ada susu jahe juga my favorit, ada juga minuman dingin kayak lime squash. Plus camilan ringan kayak brownies, croissant, dan es krim made in Mbak Anik itu enak banget lho. Saya juga saking penasarannya sampe pernah ikut ngintip proses bikinnya, en ternyata gampang aja kok. Ini sih pinter – pinternya Mbak Anik aja modifikasinya.

Tempat kedua juga gak kalah asiknya. Ngumpet di belakang toko buku Quadrant di , serasa memasuki sebuah bungker rahasia. Jadi kalau filosofi bisnis makanan bilang tempat yang strategis menjadi faktor utama untuk menjadi laris, maka hal itu tidak berlaku untuk JazCo jilid 2 ini. Karena meskipun tempatnya ngumpet ternyata malah makin rame. Malah ada tempat dengan format lesehan, lengkap dengan bantal. Tempat ini menjadi tempat favorit saya, karena saking nyamannya bisa ketiduran kita disitu. Dan itu bukan hal yang aneh di rumah JazCo.Banyak banget yang sering numpang tidur di JazCo termasuk saya hehehe…

Dan hari ini tiba – tiba aja saya kangen berat sama tempat ini, yang sekarang sudah tinggal berupa sebuah warung kopi virtual beralamat di www.jazzcoffee.com. Adalah sang pemilik, Mbak Anik Lestari yang memutuskan untuk melanjutkan “perjalanannya” dengan meninggalkan kota Jogja dan sekarang menetap di Thailand.

JazzCoffee dengan Mbak Anik memang satu paket tak terpisahkan. Karena JazzCoffee bukan hanya “sekedar” warung kopi. Jadi gak akan bisa difranchise kayak Starbuck atau warung – warung kopi import lainnya itu, yang bisa kita beli lisensi nya dan bisa dijual oleh siapa aja. JazzCoffee harus dengan Mbak Anik, itu harga mati.

Buat kamu yang belom pernah nyobain berkunjung ke JazzCoffee pada saat masih offline warung dulu, mungkin heran, kenapa sih sang pemilik menjadi sangat istimewa. Ya begitulah yang membedakan JazCo dengan warung kopi lainnya yang kemudian bermunculan di Jogja.

JazCo bukanya hanya warung kopi tempat kita pengen nongkrong en ngopi. Disini setiap orang bukan hanya tamu atau klien yang menjadi salah satu komoditas bisnis. Setiap orang yang datang menjadi bagian dari keluarga besar Jazco dan ruangan mungil itu menjadi rumah bagi semua anggota keluarga besar disana. Dan Mbak Anik jadi kepala keluarganya dengan anggota keluarga yang jumlahnya mungkin ratusan dari usia 14 tahun sampai 40an, dengan berbagai latar belakang suku, tingkat pendidikan, suku, dan profesi.

Dan layaknya sebuah keluarga, ada banyak cerita disana. Cerita sedih, cerita suka, duka..pertemuan, perpisahan, pertengkaran, persahabatan, dan juga kisah percintaan.

Ada diary bersama yang menjadi saksi kisah para anggota keluarga JazCo. Siapapun yang berkunjung ke JazCo boleh ikut ambil bagian mengisi buku itu atau hanya sekedar ikut membaca kisah – kisah yang tercoret disana.

Seperti di rumah sendiri juga, semua yang datang bisa makan, minum, dan mencuci piring dan gelas sendiri, tapi tetap membayar seperti kita ke warung dan hebatnya lagi gak ada yang ngemplang bayar. Mbak Anik pun bukan hanya sebagai pemilik warung kopi yang fasih menceritakan kopi – kopi andalannya atau pengetahuannya tentang musik jazz favoritnya, tapi juga sebagai kakak, ibu, psikolog, “dokter”, yang menjadi tempat bercerita dan mencurahkan isi hati para anggota keluarga yang datang berkunjung. Mbak Anik memang istimewa. Dia nggak hanya memiliki telinga yang sabar mendengarkan berbagai keluh kesah dan kisah para anggota keluarga JazCo, tapi  juga hati yang lapang, serta memiliki persediaan stok cinta dan kasih yang tak terbatas untuk dibagi – bagi kepada semua orang yang datang dan menjadi keluarga besar JazCo.

Saya pernah iseng bertanya pada Mbak Anik yang masih single on her age, at that time around 34. She’s very ok with her life, tidak khawatir dengan usia yang terus bertambah seperti kebanyakan perempuan, apa yang dikatakan orang sekeliling, tahu sendiri masyarakat kita bagaimana menilai perempuan yang sudah berumur dan belum menikah kan ?. Dan saya masih inget jawaban Mbak Anik saat itu, katanya “ Aku punya cinta untuk banyak orang, nggak terfokus hanya pada satu orang.” Dan mungkin memang benar yang Mbak Anik katakan. Mbak Anik punya banyak adik, kakak, sahabat, saudara yang mencintai dan dicintainya, yang membuat hidupnya menjadi begitu berwarna dan berharga. Bukan hanya memikirkan satu orang yang membuat hidup Mbak Anik ‘tergantung” padanya..

I was there when finally Mbak Anik decided to close JazCo  new year’s eve 2005. It was very sad moment. Feels like I lost a home and a big sister for at least 5 years. Ya seenggaknya begitulah “janji” Mbak Anik sebelum berangkat ke Thailand . Semoga JazCo bisa mewujud dalam bentuk offline lagi lima tahun lagi ya Mbak. Ditunggu kepulangannya..Miss you so sis.