Archive for August, 2006

Midnite Date

Thursday, August 31st, 2006

City light atau kerlip lampu di malam hari selalu menarik buat saya. Menikmati Bandung city light dari ketinggian Bukit Dago , atau memandang city light Jogja dari Kaliurang adalah salah satu kenangan terindah saya dari kedua kota dimana saya pernah tinggal tersebut. Ketika sekarang saya tinggal di Jakarta pun, city light masih jadi favorit saya untuk refreshing.

Karena Jakarta jauh dari bukit ataupun ketinggian seperti Bandung dan Jogja, bukan berarti saya tidak bisa menikmati city light. Menyusuri jalanan protokol Jakarta, terutama kawasan Thamrin, Sudirman dan Kuningan di malam hari, ketika jalanan mulai lengang, adalah acara jalan - jalan favorit saya. Plus lagu - lagu jadul dari 95,1 Kis FM, dan seseorang yang menyenangkan untuk ngobrol, sudah cukup untuk menjadi sebuah kencan yang sempurna buat saya.

It soundz weird, but for me city light, quiet street, and good music are perfect combination. So peaceful. And become so romantic if I share the perfect moment with somebody I wanna be with.

Dua hari lalu tanpa rencana, akhirnya jadilah midnite date saya dengan pak e. Seseorang yang hard to be with, saking sibuknya. Yah begitulah namanya sebagai pekerja media. Pembatalan janji di menit - menit terakhir adalah hal yang biasa, sampai saya males bikin rencana ketemuan lagi. Udah parno duluan, ah paling batal lagi.

Tapi kencan yang tidak direncanakan, malah akhirnya jadi. Dan baru janjian ketemu jam 23.00. It’s midnite date. I love it. Ngobrol di olala sarinah yang penuh asap rokok, lanjut dengan jalan - jalan di seputaran thamrin sudirman. Pak e yang kalo di YM bisa ngocol ancur, cela - celaan, dan seringkali bikin saya ketawa ngakak atau gondok stengah mati, ternyata jadi santun dan tertib kalo udah ketemu offline, hehehe.. Mana kegilaanmu pak ? Nggak grogi kan wkakakaka… piss ah :)

But pak e emang temen yang menyenangkan untuk ngobrol apa saja, sayang the perfect midnite date has to be ended. Sudah jam 1.30 dini hari, saatnya pulang, melanjutkan kehidupan masing - masing dan berharap untuk bisa kembali berbagi suasana city light Jakarta bersama lagi. Kapan ya pak e ? I miss you already.

Buaya Darat

Tuesday, August 29th, 2006

Istilah buaya darat emang bukan istilah baru. Tapi jadi terdengar seakan baru, gara - gara Ratu berhasil bikin istilah itu jadi populer lagi dengan hits barunya "Lelaki Buaya Darat"

Ada cerita menggelikan yang baru saja terjadi pada saya berkaitan dengan buaya darat ini. Dua hari lalu saya ngobrol dengan seorang teman mengenai urusan dunia perkencanan. Gak tau gimana ceritanya obrolan kita nyambung pada topik nama seorang laki - laki. Dan cerita punya cerita ternyata kita pernah kencan dengan lelaki itu. Satu cerita rahasia bagi masing - masing dari kami yang gak pernah terungkap sebelumnya. Mengapa ? Kami menyimpan rapat - rapat cerita itu untuk sendiri karena cerita itu cukup memalukan. Kita sama - sama pernah tertipu oleh laki - laki itu. Dan kita sama - sama malu untuk  mengakui "bodoh"nya kita. Hahahaha..Ternyata kita pernah tertipu oleh orang yang sama.

Orang yang bila kita lihat penampilannya, akan sulit untuk memberinya label buaya darat. Tapi memang benar kata pepatah bule "dont judge a book by its cover".  Dia pintar, manis, santun..ah pokoknya siapa sangka deh kalo dibalik tutur kata sopan, kecerdasan plus wajah tanpa dosanya itu, tersimpan nafsu libido yang membara dan liar tak terkendali.Hii syerem deh.

Saya pernah dibuat jatuh cinta berat dan sampai rela terbang ke Jogja hanya untuk ketemu dia. Sedangkan temen saya harus merelakan pengalaman pertama french kiss nya dengan seorang buaya darat tulen. Laki - laki itu tau banget rupanya kalo teman saya itu saat itu masih sangat lugu dan polos. "Dieksekusi" di kegelapan bioskop membuat teman saya shock.  Membicarakan hal itu kita tertawa sampai terpingkal - pingkal sambil mengingat betapa bodohnya kita, para perempuan yang mengaku cerdas ini, hehehe jadi malu. Katanya cerdas kok ditipu buaya darat gampang banget.

Untunglah semua udah menjadi cerita lalu bagi kami.. Dan semoga kami para perempuan yang mengaku cerdas ini, bisa cerdas juga dalam menghadapi para buaya darat yang selalu siap memangsa para perempuan lengah. Cukup deh sekali pengalaman memalukan itu, teman saya rugi bibir, saya sih cukup rugi perasaan dan tiket jakarta - jogja PP aja …hahaha, edan diapusi cah lanang ki rek :))

Pelajaran Tentang Cinta

Wednesday, August 16th, 2006

Dua hari berturut - turut saya beruntung sekali berkesempatan untuk mendapat "pelajaran" eksklusif dari dua orang guru saya dalam sekolah kehidupan yang sedang saya jalani sekarang. Tema yang dibahas dalam dua perkuliahan itu pun sama tapi dibahas dari sisi yang berbeda.

Pelajaran pertama saya senin malam dua hari lalu, di starbuck Plaza Indonesia. Hanya setengah jam, karena pak guru nya harus segera pergi ke tempat lain. Guru saya ini tak lain adalah sahabat dari Jogja yang sedang ada keperluan di Jakarta. Meskipun saya sebut sahabat, tapi jangan bayangkan teman saya itu seumuran saya. Sahabat saya itu lebih tua dari Ibu saya yang berusia 55 tahun sekarang ini. Saya memang berteman dengan orang dari berbagai usia, dari keponakan saya yang 5 tahun sampai dengan opa - opa yang berusia 72 tahun.Dan para teman dan sahabat ini adalah guru - guru saya dalam sekolah kehidupan yang sedang saya jalani sekarang ini.

Pak guru saya ini bercerita tentang pelajaran pernikahan, dan katanya saya beruntung sekali bisa belajar tentang pernikahan sebelum memasukinya. Karena memang tidak ada sekolah manapun yang mengajarkan mata kuliah pernikahan, karena pelajaran tentang itu baru akan didapat ketika kita mulai memasuki gerbang pernikahan itu.

Pelajaran yang saya dapat hari itu adalah bahwa menikahlah dengan dasar kasih, bukan cinta. Karena menurut pak guru saya itu yang sudah menikah hampir 30 tahun, cinta itu masih ada unsur transaksinya. Apa yang akan saya dapat ? Masih berharap something in return. Sedangkan kasih itu tulus, tentang kamu bukan tentang aku. Cinta masih ada unsur cemburu atau dalam bahasa lain "rasa kepemilikan".

Dia mencontohkan lagu jaman saya kecil berjudul Kasih Ibu. " Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia". Lirik lagu yang sangat indah, dan baru saya sadari begitu dalam makna nya. Kasih seperti itulah yang harusnya mendasari setiap pernikahan untuk menjadi langgeng dan mampu bertahan dari berbagai badai kehidupan yang datang menghantam.

Ketika kita mengasihi pasangan kita, tidak akan ada unsur cemburu atau pemasungan aspirasi dan kreativitas, tidak akan ada pemaksaan kehendak. Karena kasih yang dibalut ketulusan menjadi dasar dari perjalanan yang diarungi bersama. Kasih itu akan mewujud dalam kesadaran yang utuh dalam setiap pemikiran, perkataan, dan tindakan. Sehingga tidak perlu ada larangan, karena masing - masing sudah mempunyai kesadaran yang berakar pada kasih yang tulus tersebut, untuk berkata dan berperilaku yang seharusnya.

Ketika salah satu melakukan kesalahan, adalah kewajiban pihak satunya untuk mengingatkan. Begitu juga sebaliknya. Kesadaran untuk saling mengingatkan dan keikhlasan menerima masukan itu juga akan muncul dengan sendirinya, karena dasar dari semua itu adalah kasih.

Hmm..pelajaran yang untuk saya rasanya sangat berharga. Saya jadi melihat ulang semua perjalanan berelasi saya dengan pria - pria itu di masa lalu. Dan dengan jujur harus saya akui, bahwa saya tidak mengasihi mereka, saya hanya mencintai mereka. Karena unsur " rasa kepemilikan " masih begitu kuat mewarnai hubungan kami. Saya cemburu, saya egois, saya berhitung, dan saya marah ketika mereka pergi dari kehidupan saya.

Pelajaran kedua saya dapat di hari berikutnya dari guru saya yang lain. Pelajaran berlangsung di starbuck juga, tapi kali ini di blok M. Guru saya yang ini juga adalah salah satu sahabat terbaik saya. Dan dia sudah lebih dulu 20 tahun dalam menjalani sekolah kehidupan ini dibanding saya yang datang belakangan.

Dan pelajaran yang saya dapat dari sang guru dan sahabat saya ini adalah, ternyata saya mengasihinya. Saya tidak mencintainya, tapi saya mengasihinya seperti pelajaran tentang cinta dan kasih yang saya dapatkan sehari sebelumnya. Saya hanya ingin sang guru dan sahabat saya ini bahagia dan mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya. Saya tidak ingin memilikinya hanya untuk saya, untuk kebahagiaan saya. Karena yang membuat saya bahagia adalah ketika dia bahagia. Dan saya dapat merasakan sebuah kesejukan di lubuk hati saya, mungkin itulah indahnya rasa tulus.

Terima kasih Tuhan yang telah memberkati perjalanan saya dengan para guru dan sahabat - sahabat saya terkasih ini. Mereka adalah perpanjangan tangan Nya dalam membimbing saya untuk menjadi murid yang lebih baik dalam sekolah kehidupan ini.  Seperti Morrie dalam buku Tuesday With Morrie yang membuat saya menangis dan teringat  para guru dalam hidup saya, seperti Morrie dalam kehidupan Mitch Albom.

Cruising KL

Wednesday, August 9th, 2006

It was my first visit to KL, and in my opinion KL is a nice city that I wanna go back to stay longer someday. Beside Vincci shoes that made me buy new luggage to carry all those cute and affordable shoes, KL is clean and nice to stay.

I arrived at KLIA 21.30 local time, and been amazed of the modernity of the airport that claim as the biggest and the greatest airport in the world, with aerotrain inside to connect each section, suddenly made me think CGK is very out of date airport .. And I wonder when CGK will be like KLIA. Hmm :)

Stay in Marriot Hotel Bukit Bintang on my first night, then moved to Dorsett Hotel ( stil in the same area ) the next day til I leave KL on the 6th day since I arrived. Bukit Bintang is nice neighbourhood to stay. In heart of KL. It’s easy for me to go around, even walking by myself. Many shopping malls around, cafe, bookstore, plus nice weather, clean trotoar, it made me think about Jakarta that is very dirty with all those kaki lima and messy parking cars. Wish someday Jakarta will be a friendly to pedestrian, local people or tourists.

Second day we went to Putrajaya, new city for governmental office centre, about 40 km from KL. We were in Putrajaya Marriot Hotel almost a whole day to cover the OIC emergency summit. There was Ahmadinejad. That most wanted guy, and my journalist friends said that he’s so humble and down to earth. Too bad for the second time I missed the opportunity to make pic with him. First time I met him in Westin Bali on D-8 Summit last may.

In Putrajaya, once again I found nice city, clean, green, fresh air, and well planned landscape. My Indonesian journalist said that in Indonesia, Putrajaya is Jonggol that never happen to be a new city.. Ironic but it’s true.

Next day just stay in Marriot Hotel for Business Forum with KLBC. Enjoying free hotspot in bizz centre, with comfy sofa and free coffee. Ah lovely..Then on sunset we went to Twin Tower Petronas, visited Bloomberg Office at 61 floor on tower 2 invited by Wahyudi. As Eiffel Tower in Paris, we can’t leave KL without having picture in Twin Tower as background :) Then shopping time to KLCC, and having dinner at Lotus. And we served by all those Cianjur people who lived in KL for years. That night end up in Petaling Street to shop cheap souvenirs like Malioboro in Jogja.

Fourth day we went to Carey Island to see palm plantation. Again it’s nice district and well planned. Which part is for the plantation, that part for housing, school, public service, ..Not like in Indonesia..berantakan dan again kotoooooorrr….Yacky..

The last day I visited Sungai Wang, alone..But it was fun to walking down the street alone. KL is safer compare to Jakarta. With a direction from Arum, it easy to find another Vincci store :) and having my foot being massage. Cant stand it longer..puegel buangeeet. Back to hotel with hands full of belanjaan…ah tetep aja perempuan dimana -mana sama aja :) Shopping is in our gen hahaha… I prepared to go to KLIA and fly home to Jakarta.

Back to Jakarta is back to reality, since the first step I arrive in CGK. No luggage checked. ! Even they didnt check our luggage number..they just set us free like that, can you imagine if somebody took your bags and no officer check the number in the passangers ticket ??? And in the taxi park, some stranger guys came to me and try to "help" me brought my bags to the taxi even I didnt ask, coz I can do it by myself, no need any help. I’m strong enough guys.. And at the end they pushed me to give them money.. Thank God at that time Pak Dar, my colleague who travelled with me from KL helped me. He just push me to the taxi and said he will take care of them. Ah thanks Pak Dar.. I cant imagine if I travel alone.

That happened just minutes I arrived in Jakarta. Jakarta oh Jakarta.. Then suddenly I already miss KL.

Turut Berduka Untuk UGM

Friday, August 4th, 2006

Sore di Marriot KL, menikmati asiknya bisa berinternet ria dengan gratis di hotspotnya Business Centre. Tapi sebuah berita di milis kampus, menyampaikan berita duka. Riswandha Imawan telah berpulang ke rahmatullah, tadi jam 13.45 WIB. Sungguh berita yang mengejutkan.

Pertama karena beliau masih muda, kedua karena beliau sehat - sehat saja. Ternyata beliau meninggal di bandara Adisucipto, ketika akan berangkat menuju Kupang. Sang istri yang mengantarkan pun telah meninggalkan bandara. Sehingga ketika Pak Ris jatuh, diantar ke RS Panti Rini Kalasan oleh petugas Angkasa Pura.

Ternyata Tuhan berkehendak lain. Pak Ris tidak tertolong, dan dinyatakan meninggal pukul 13.45 WIB. Kami hanya terhenyak kaget. Begitulah misteri kehidupan. Kita tidak pernah tahu kapan kita dipanggil pulang. Kepergian seseorang yang mendadak selalu mengingatkan kita yang masih diberi extra waktu di dunia ini untuk introspeksi.

Sudahkah kita melakukan yang terbaik dalam hidup kita ? Alangkah indahnya kepergian seperti seorang Riswandha Imawan. Kepergian yang dikenang almamater dan bangsanya, atas kontribusi dan pemikiran - pemikirannya yang telah mewarnai dunia politik Indonesia, dan menjadi rujukan bagi para mahasiswa dan kolega - koleganya. Apakah yang sudah kita lakukan untuk almamater dan bangsa kita ?

Saya turut berduka untuk UGM yang telah kehilangan salah satu almamater terbaiknya. Saya bukan muridnya langsung, kenal secara pribadi pun tidak. Beliau saya kenal di kampus ketika saya kuliah di Fisipol UGM. Saya sering mengejar - ngejarnya untuk menjadi narasumber, ketika saya jadi wartawan di detikcom. Beliau salah satu orang yang saya kagumi kecerdasannya. Kritik - kritiknya yang tajam atas pemerintahan kita menunjukkan kecintaan beliau pada bangsa dan negaranya. Analisis - analisisnya nya yang bernas menggugah para mahasiswa dan pembaca kolom -kolomnya di media untuk berpikir dari sisi yang berbeda.

Ah Pak Ris, kalau boleh protes sama Tuhan, kenapa sesingkat ini waktu mu bersama kami. Almamater dan bangsamu. Tapi saya yakin Tuhan punya rencana yang terbaik untuk Bapak.

Selamat jalan Pak Ris..turut berduka dari Kuala Lumpur, UGM dan Indonesia berterima kasih atas segala kontribusi yang telah Bapak berikan..Tuhan pasti memberikan tempat yang terbaik untuk Bapak.