Dua hari berturut - turut saya beruntung sekali berkesempatan untuk mendapat "pelajaran" eksklusif dari dua orang guru saya dalam sekolah kehidupan yang sedang saya jalani sekarang. Tema yang dibahas dalam dua perkuliahan itu pun sama tapi dibahas dari sisi yang berbeda.
Pelajaran pertama saya senin malam dua hari lalu, di starbuck Plaza Indonesia. Hanya setengah jam, karena pak guru nya harus segera pergi ke tempat lain. Guru saya ini tak lain adalah sahabat dari Jogja yang sedang ada keperluan di Jakarta. Meskipun saya sebut sahabat, tapi jangan bayangkan teman saya itu seumuran saya. Sahabat saya itu lebih tua dari Ibu saya yang berusia 55 tahun sekarang ini. Saya memang berteman dengan orang dari berbagai usia, dari keponakan saya yang 5 tahun sampai dengan opa - opa yang berusia 72 tahun.Dan para teman dan sahabat ini adalah guru - guru saya dalam sekolah kehidupan yang sedang saya jalani sekarang ini.
Pak guru saya ini bercerita tentang pelajaran pernikahan, dan katanya saya beruntung sekali bisa belajar tentang pernikahan sebelum memasukinya. Karena memang tidak ada sekolah manapun yang mengajarkan mata kuliah pernikahan, karena pelajaran tentang itu baru akan didapat ketika kita mulai memasuki gerbang pernikahan itu.
Pelajaran yang saya dapat hari itu adalah bahwa menikahlah dengan dasar kasih, bukan cinta. Karena menurut pak guru saya itu yang sudah menikah hampir 30 tahun, cinta itu masih ada unsur transaksinya. Apa yang akan saya dapat ? Masih berharap something in return. Sedangkan kasih itu tulus, tentang kamu bukan tentang aku. Cinta masih ada unsur cemburu atau dalam bahasa lain "rasa kepemilikan".
Dia mencontohkan lagu jaman saya kecil berjudul Kasih Ibu. " Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia". Lirik lagu yang sangat indah, dan baru saya sadari begitu dalam makna nya. Kasih seperti itulah yang harusnya mendasari setiap pernikahan untuk menjadi langgeng dan mampu bertahan dari berbagai badai kehidupan yang datang menghantam.
Ketika kita mengasihi pasangan kita, tidak akan ada unsur cemburu atau pemasungan aspirasi dan kreativitas, tidak akan ada pemaksaan kehendak. Karena kasih yang dibalut ketulusan menjadi dasar dari perjalanan yang diarungi bersama. Kasih itu akan mewujud dalam kesadaran yang utuh dalam setiap pemikiran, perkataan, dan tindakan. Sehingga tidak perlu ada larangan, karena masing - masing sudah mempunyai kesadaran yang berakar pada kasih yang tulus tersebut, untuk berkata dan berperilaku yang seharusnya.
Ketika salah satu melakukan kesalahan, adalah kewajiban pihak satunya untuk mengingatkan. Begitu juga sebaliknya. Kesadaran untuk saling mengingatkan dan keikhlasan menerima masukan itu juga akan muncul dengan sendirinya, karena dasar dari semua itu adalah kasih.
Hmm..pelajaran yang untuk saya rasanya sangat berharga. Saya jadi melihat ulang semua perjalanan berelasi saya dengan pria - pria itu di masa lalu. Dan dengan jujur harus saya akui, bahwa saya tidak mengasihi mereka, saya hanya mencintai mereka. Karena unsur " rasa kepemilikan " masih begitu kuat mewarnai hubungan kami. Saya cemburu, saya egois, saya berhitung, dan saya marah ketika mereka pergi dari kehidupan saya.
Pelajaran kedua saya dapat di hari berikutnya dari guru saya yang lain. Pelajaran berlangsung di starbuck juga, tapi kali ini di blok M. Guru saya yang ini juga adalah salah satu sahabat terbaik saya. Dan dia sudah lebih dulu 20 tahun dalam menjalani sekolah kehidupan ini dibanding saya yang datang belakangan.
Dan pelajaran yang saya dapat dari sang guru dan sahabat saya ini adalah, ternyata saya mengasihinya. Saya tidak mencintainya, tapi saya mengasihinya seperti pelajaran tentang cinta dan kasih yang saya dapatkan sehari sebelumnya. Saya hanya ingin sang guru dan sahabat saya ini bahagia dan mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya. Saya tidak ingin memilikinya hanya untuk saya, untuk kebahagiaan saya. Karena yang membuat saya bahagia adalah ketika dia bahagia. Dan saya dapat merasakan sebuah kesejukan di lubuk hati saya, mungkin itulah indahnya rasa tulus.
Terima kasih Tuhan yang telah memberkati perjalanan saya dengan para guru dan sahabat - sahabat saya terkasih ini. Mereka adalah perpanjangan tangan Nya dalam membimbing saya untuk menjadi murid yang lebih baik dalam sekolah kehidupan ini. Seperti Morrie dalam buku Tuesday With Morrie yang membuat saya menangis dan teringat para guru dalam hidup saya, seperti Morrie dalam kehidupan Mitch Albom.