Archive for September, 2006

When miracle happens

Monday, September 25th, 2006

We met, we work together, and we fell each other. All these days we’re in the same place,Jakarta. All these days, we’re working in the same field, media. All these days we’re meeting the same people. But we never know each other. Until we fly half of the globe.

In Havana - Cuba, 20.000 kms away from Jakarta, we met,  fall in love, and decide to be together for the rest of our life. All happened in days. Maybe this is what we call destiny.. I know this is the answer for my pray. Somebody that I’m asking God to choose for me, a wonderful man to share my life with.

Now I know, miracle happen if we asked for it..Thank you God, for this amazing moments, and the precious gift. 

Havana Cuba

Friday, September 15th, 2006

Sampai di Havana juga akhirnya, sudah 4 hari saya disini. Gak pernah kepikir sebelumnya bahwa saya akan bisa menginjakkan kaki saya di bumi Kuba. Negaranya Fidel Castro the living legend, at least sampe saya menulis blog ini. Dan Che Guevara yang menginspirasi dunia dan menjadi idola para anak muda yang beraliran kiri.

Fidel dan Che memang seperti menjadi "nafas" disini. Foto dan poster mereka dimana - mana. Quote tulisan - tulisan mereka bisa kita baca di banyak tempat. Rakyat Kuba sangat bangga dan memuja kedua tokoh ini. Dan rasanya bukan hanya rakyat Kuba. Angin revolusi dan pemikiran sosialis tersebut telah berhembus ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia yang berjarak separuh bumi.

Kuba memang berjarak separuh bumi dari Indonesia. Perjalanan menuju Havana saya jalani kurang lebih 32 jam. Dari Jakarta menggunakan Cathay Pacific menuju Hongkong, transit 3 jam. Kemudian menuju Paris, dengan menempuh waktu terbang sekitar 14 jam. Transit 6 jam di bandara Charles de Gaulle ( CDG ). Kebetulan sudah disiapkan visa Perancis, sehingga saya dan 4 rekan seperjalanan  bisa keluar dari bandara, dan menuju Paris untuk kemudian sekedar berfoto di Menara Eiffel, Arc de triomphe ada Museum Louvre yang menjadi lebih terkenal lagi gara - gara bukunya Dan Brown Da Vinci Code.

Sayang karena waktu yang memang terbatas, hanya sempat berfoto tanpa bisa masuk ke Museum Louvre maupun naik ke Menara Eiffel. Kembali ke CDG, dan kemudian ganti pesawat dengan Air France menuju Havana. Waktu tempuh kurang lebih 12 jam. Dan tibalah kami di Havana. Bienvenidos.

Gila ini perjalanan terpanjang dalam hidup saya. Sampe mati gaya di pesawat. Mau tidur susah, karena sempitnya kursi. Maklum kami naek kelas ekonomi. Makanan di pesawat gak ada yang cocok di lidah. Baca buku lama - lama juga mata pedes, paling nonton video sama denger musik yang bolak balik itu melulu.

Tapi perjalanan panjang itu sangat layak untuk apa yang kemudian bisa saya lihat, dengar, rasakan, dan alami di negerinya Che ini. Gak semua orang bisa punya kesempatan berkunjung ke Kuba. Selain dari Jakarta biayanya sangat mahal, urusan ijin masuk juga bukan urusan mudah. Kuba bukan tempat yang kita bisa kunjungi kapan saja kita punya waktu dan uang.

Jadi perjalanan saya melintasi separuh bumi ini adalah kesempatan sangat langka yang bisa didapat. Mucho gracias sama boss saya yang mengirimkan saya kesini.

Udah ah gitu dulu ceritanya, ini lagi di media centre nya KTT GNB, nanti saya akan cerita lebih banyak mengenai Havana dan Kuba..

Hasta luego

Doaku Terjawab

Wednesday, September 6th, 2006

Aku minta kekayaan agar aku bahagia

Namun Ia memberi aku kekurangan agar aku bijaksana

Aku minta kuasa agar aku dipuja sesama

Namun Ia memberi aku kelemahan agar aku tergantung pada-Nya

Aku minta segala sesuatu agar aku menikmati kehidupan

Namun Ia memberi aku kehidupan agar aku menikmati segala sesuatu

Aku minta kesehatan agar aku mengerjakan yang lebih besar

Namun Ia memberi aku anugerah agar aku mengerjakan yang lebih baik

Aku minta teman hidup agar aku bahagia

Namun Ia memberi aku waktu agar dapat berkarya bagi sesama

Aku tak selalu memperoleh yang aku minta

Namun doaku selalu terjawab

From : Tante Magda with her love

Ha Pe

Sunday, September 3rd, 2006

Handphone alias telepon genggam atau biasa kita sebut hape sudah menjadi bagian tak terpisahkan bagi kehidupan kita sebagai manusia modern. Rasanya kita saat ini tidak bisa meninggalkan rumah tanpa hape. Kalo ketinggalan pun dibela – belain pulang lagi deh untuk ngambil. Kenapa ? Karena begitu banyak aspek kehidupan kita saat ini yang dilakukan dengan hape. Otak kita sudah malas mengingat nomer telepon dan data – data penting lainnya, karena semua sudah tersimpan di phone book hape kita, tanggal ulang tahun teman, kolega, semua sudah ada di hape yang akan mengingatkan kita dengan alarm ketika harinya tiba. Agenda harian kita, jadwal meeting, tugas – tugas kantor yang harus diselesaikan, semua sudah tersimpan di hape. Tak heran kalau hape kemudian menjadi sangat penting fungsinya dalam menunjang keseharian kita.

Tapi bagi sebagian orang hape ternyata tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi dan penyimpan data penting saja. Bagi mereka hape juga berfungsi sebagai identitas diri yang menunjukkan kelas ekonomi dan status sosial. Mereka inilah para pemburu trend yang selalu haus akan segala hal yang termasuk kategori paling baru, paling keren, dan paling canggih. Mereka menempatkan hape sebagai bagian dari gaya hidup kosmopolitan, citra diri dan gengsi.

Saya termasuk kategori orang di kelompok yang pertama. Bagi saya hape tak lebih dari alat komunikasi dan penyimpan data penting saja. Sehingga buat saya selama hape saya on, gak hang, bisa digunakan untuk menerima dan mengirim sms, menerima telpon dan menelepon, sudah cukup. Saya nggak peduli hape saya nggak bisa motret, menurut saya kalau mau motret sekalian aja pake kamera, udah jelas hasilnya lebih maksimal. Dering hape saya yang belum polyphonic pun buat saya gak masalah, toh itu hanya penanda bahwa ada seseorang yang menelepon saya. Dan ketika saya tidak pernah menganggap itu sebagai hal – hal yang krusial, maka saya merasa hape saya nokia 6150 keluaran  tahun 2002 itu baik – baik saja. Toh selama ini, hape saya masih bisa melakukan fungsinya sebagai alat komunikasi dengan baik, itu sudah cukup buat saya.

Tapi ternyata yang merasa hape saya itu sebagai masalah besar adalah seorang teman saya. Aneh sekali teman kantor saya itu. Berulangkali dia menunjukkan “keberatan” nya atas keberadaan hape saya itu. Saya heran dia sepertinya alergi sekali melihat hape saya yang sudah berusia 4 tahun itu. Kalimat – kalimat dengan ekspresi penuh keheranan dan penghinaan berulangkali dilontarkan kepada saya sebagai si pemilik benda yang “dibenci” nya itu, sejak awal – awal saya masuk di kantor ini 9 bulan lalu.

Terakhir kali minggu lalu dia mengatakan dengan ekspresi melecehkan “ itu hape bukan sih ? “, katanya sambil menunjuk hape saya yang berada diantara deretan beberapa hape teman – teman wartawan yang sedang berkumpul menunggu sidang kabinet. Memang diantara sekumpulan hape yang teronggok itu, hape saya menjadi item yang paling uzur usianya, dan paling kumel tampilannya, maklum beberapa goresan memang sudah menghiasi body sang hape tercinta tersebut.

Untuk kesekian kalinya saya speechless, gak tau mau merespon apa pada kata – kata hinaan yang kesekian kalinya itu. Saya heran bin bingung aja sih sebetulnya, ini hape saya, yang pake juga saya, kenapa dia yang ribut ya ? Memangnya saya minta uang sama dia untuk beli hape atau beli pulsanya ? Urusan dia sama hape saya itu apa sih ? Sebegitu kurang kerjaannya kah dia sehingga dia harus pusing memikirkan mengapa saya bertahan menggunakan hape saya yang sudah seumur anak teka ini ?

Gak tau ya, buat saya hape, gadget dan barang – barang gaul lainnya itu gak terlalu urgent keberadaannya dalam keseharian saya. Saya gak perlu barang – barang itu untuk menunjukkan status sosial saya, kualitas diri saya, atau sebagai pernyataan cukup gaulkah saya sebagai manusia modern yang hidup di metropolitan. Sejak saya mengenal barang yang namanya hape sekitar 8 taun lalu, saya selalu membelinya ketika memang yang lama sudah tidak bisa berfungsi dengan baik. Selama ini saya tidak pernah membeli hanya karena mengikuti tren. Lha saya gak butuh hape berkamera, ngapain saya beli ? Saya gak butuh hape yang bisa MMS, hape yang ring tone nya lagu ajep – ajep, ngapain saya beli ? Kalau orang lain merasa perlu dengan fitur – fitur itu, ya silahkan belilah. Saya gak mempermasalahkannya, selama gak beli pake duit saya aja. Hak masing – masing orang kok, ngapain ribut sih ? Makanya saya heran kalo ada orang yang sebegitu rese nya atas pilihan saya untuk tetap memelihara si nokia 6150 itu bersama saya.

Buat saya ukuran status seseorang adalah kualitas diri yang dilihat dari cara berpikir, berkata – kata dan bersikap. Kampungan tidak nya seseorang menurut saya terlihat dari  way of thinking, attitude and behaviour seseorang. Orang naik mercy dengan pakaian branded dari jempol kaki sampe kepala, nenteng hape dan gadget terbaru, tapi ternyata kata – katanya kasar, suka melecehkan orang, sombong, buang sampah di jalan, dan melanggar aturan lalu lintas, menurut saya lebih kampungan, norak, dan gak ada harganya sama sekali di mata saya. Semua barang yang menempel di tubuhnya, mobil yang dinaiki dan semua gadget yang dimilikinya semua nothing..big nothing..

Selama ini saya diam saja dihina – hina oleh teman saya itu karena hape saya. Meskipun hati panas, dan pikiran sudah merancang sederetan kata – kata yang siap saya muntahkan untuk membuatnya jera, tapi masih berhasil saya tahan sampai sekarang. Saya pikir – pikir lagi, kalo saya marah sama dia, berarti saya sama shallow nya dengan dia, sama norak dan kampungannya saya dengan dia. Buang – buang energi aja ngeladenin orang shallow.

Saya berpikir hal itu sambil tersenyum, senyum kasihan pada orang – orang seperti dia yang sebegitu diperbudaknya oleh kebendaan. Mencitrakan dirinya dengan barang – barang yang dimilikinya. Menempatkan harga dirinya selevel dengan harga barang – barang yang dipakainya. Meskipun mungkin itu hasil menghutang atau morotin orang lain. Begitulah hasil didikan metropolitan, banyak orang yang tanpa sadar terjerat dalam dunia hedonisme yang tiada habisnya. Sehingga menghalalkan segala cara untuk membuat dirinya diakui dan dihargai…Kesian deh loe !