El comandante alias sang komandan adalah sebutan hormat sekaligus tanda cinta rakyat Kuba pada pemimpin mereka Fidel Castro Ruz. Kecintaan mereka pada Fidel sangatlah beralasan, karena sebagai pemimpin Fidel berhasil memberikan rakyatnya minimal dua hal yang paling mendasar dari kehidupan manusia, yaitu kesehatan yang baik dan pendidikan yang baik dengan gratis. Standar kesehatan Kuba sangatlah baik, hasil – hasil riset di bidang kesehatan, dan keilmuan mereka di bidang kedokteran telah jauh lebih maju dibanding Indonesia. Dan semua diberikan untuk rakyatnya dengan gratis. Untuk seorang ibu yang melahirkan bukan saja diberikan fasilitas rumah sakit gratis, tapi sang ibu diberikan cuti selama satu tahun dengan gaji yang tetap dibayar penuh. Bukan hanya melahirkan yang digratiskan pembiayaannya, untuk operasi bedah jantung pun, rakyat Kuba dibebaskan dari biaya, semua ditanggung pemerintah.
Jangan bandingkan dengan kita di Indonesia, hanya bikin sakit hati. Maka jangan heran kalau ada istilah plesetan dalam bahasa Inggris yang menurut saya sangat relevan dengan kondisi di Indonesia, “ A doctor is somebody who kills your ill with his pills, and also he will kills you with his bills”.
Itu hanya salah satu contoh kecil yang membuat rakyat Kuba sangat memuja Sang Komandan, Fidel Castro Ruz yang ternyata disisi lain menolak untuk dikultuskan. Maka tak heran bila di Kuba, setidaknya di Havana yang saya lihat sendiri, Che Guevara dalam bentuk mural, poster, foto, dan simbol – simbol pemujaan lainnya lebih mendominasi daripada pemujaan mereka terhadap Sang Komandan. Kecuali sisa – sisa ucapan ulang tahun yang ke – 80 untuk sang komandan yang masih terlihat di sana – sini.
Bila rakyat Kuba punya Fidel yang dihormati sekaligus dicintai sebagai Sang Komandan. Saya pun punya seorang komandan yang sangat saya hormati sekaligus saya cintai. El comandante saya itu adalah mantan bos saya di detikcom, tidak usah saya sebutkan nama lengkapnya, anda semua pasti sudah tahu, karena beliau sangat – sangat terkenal di dunia maya maupun nyata. Meskipun secara faktual beliau bukan bos saya lagi, karena kami berada di dua institusi yang berbeda, tapi buat saya beliau adalah sang komandan sejati. Beliau selalu menjadi “komandan” saya dimanapun saya bekerja.
Perkenalan saya dengan beliau yang akrab dipanggil Bdi ini cukup unik. Enam tahun lalu beliau menjadi pembicara di sebuah seminar di kampus saya Gadjah Mada. Saya hadir sebagai salah satu peserta. Saya tidak terlalu ingat detil mengenai seminar itu sendiri. Tetapi yang saya ingat adalah kemudian saya dicari oleh senior saya Narto yang telah bergabung di detikcom, bahwa saya dicari oleh sang komandan. Beliau ingin bertemu dengan saya.
Satu pagi di hotel Santika Jogja, datanglah saya menemui undangan beliau untuk sarapan pagi. Sudah ada mas Bagus, reporter detikcom Jogja yang turut hadir bersamanya. Ngobrol santai ngalor ngidul mengenai aktivitas saya saat itu, yang masih menyusun skripsi dan menjadi koresponden majalah remaja pria Hai. Kemudian sebuah tawaran meluncur dari mulut beliau yang mengajak saya bergabung dengan detikcom, karena saat itu detikcom membutuhkan reporter perempuan di biro Jogja untuk menjadi mitra kerja mas Bagus.
Setengah tak percaya, tentu saja saya mengiyakan tawaran itu. Bayangkan, ketika semua teman – teman saya berjuang untuk mendapatkan pekerjaan, saya dengan mudahnya ditawari pekerjaan oleh media yang sedang naik daun itu, betapa bangganya saya. Semua berjalan sangat mudah. Tidak seperti proses melamar kerja di institusi lain. Saya pun kemudian bergabung dengan detikcom biro Jogja. Pengalaman pertama saya di lapangan digembleng mas Bagus, yang menjadi mentor saya. Tiga bulan masa probation yang cukup membuat saya ngos – ngosan ternyata membuahkan hasil yang manis. Meskipun enam bulan kemudian saya harus mengundurkan diri karena harus kembali ke kampus, menyelesaikan skripsi saya yang terbengkalai.Saya menyerah, konsep bekerja sambil kuliah ternyata hanya teori buat saya. Saya betul – betul keteteran dibuatnya.
Usai lulus saya kembali bergabung tapi tidak di lapangan sebagai reporter, tapi di induk perusahaan yang akan menangani sebuah proyek di Jogja. Sayang waktu itu kemudian proyek tersebut tidak berjalan seperti yang diharapkan. Mungkin anda ingat peristiwa “meletusnya” bubble dotcom pada tahun – tahun 2001 – 2002 yang membuat masa krisis bagi bisnis dotcom yang sempat menjadi booming besar di bursa – bursa saham dunia.
Karena saya tidak ingin dipindahkan ke kantor pusat di Jakarta, maka kontrak saya pun tidak diperpanjang. Keputusan saya saat itu yang tidak ingin meninggalkan Jogja dan berkarir di Jakarta sempat membuat saya didiamkan oleh beliau lebih dari satu tahun. Saya yakin itu wujud kekecewaan beliau atas keputusan saya. Ya waktu itu saya sangat menikmati comfort zone saya di Jogja. Dimana saya masih melihat Jakarta sebagai kota yang sangat tidak menyenangkan, penuh preman yang jahat, macet, biaya hidup mahal, jauh dengan segala kenyamanan dan kemudahan yang saya dapatkan di Jogja.
Bertahun – tahun kemudian saya meninggalkan dunia media. Saya berkarir di bidang marketing, humas, IT, desain graphic, sampai kerajinan. Tapi rupanya kerinduan saya kepada dunia wartawan dan kehidupan para pelaku media itu tidak pernah benar – benar sirna. Bila ada kejadian besar yang terjadi saya memandang dengan iri rekan – rekan wartawan yang turun ke lapangan untuk melakukan peliputan. Saya sangat merindukan keasikan mengejar narasumber, melaporkan kejadian di lapangan, dan menganalisa fakta. Dunia yang sangat dinamis dengan segala tantangannya.
Di sela – sela pekerjaan utama, saya sempat bergabung sebagai part timer dengan radio Trijaya Jogja menjadi host talkshow, penyiar, dan sekali – kali menjadi reporter. Hanya untuk merasakan kembali nafas dunia media dalam keseharian saya. Begitu besar kerinduan itu saya rasakan.
Saya tidak pernah bermimpi akan kembali ke dunia yang terlanjur saya cintai itu, sampai sebuah telepon di akhir tahun 2005 lalu memberikan sebuah tawaran untuk saya kembali menerjuninya. Dan itu tak lain dari peran Sang Komandan. Akhirnya singkat cerita saya pun bergabung dengan website presiden SBY sebagai salah satu reporternya, dimana Sang Komandan ini menjadi salah satu konsultannya.
Dua kali Sang Komandan telah berperan menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk mengarahkan jalan hidup saya ke arah yang “benar”. Sebuah kebetulan yang tentu saja bukan kebetulan. Karena saya sangat meyakini bahwa tidak ada hal yang kebetulan di dunia ini. Semua terjadi atas kehendak-Nya melalui sebuah rangkaian peristiwa yang seakan – akan kebetulan.
Tangan Sang Komandan berperan untuk membuat seorang Nenden menemukan jalan hidupnya. Hidup yang kemudian disadarinya, sangat dicintainya. Saya sangat mencintai profesi ini. Saya baru menyadari nya setelah saya kembali ke dunia media ini.
Lima tahun saya melanglang buana mencoba berbagai bidang di luar kewartawanan, dan ternyata saya end up menjadi wartawan kembali. Dan saya tahu inilah muara yang saya cari. Pencarian saya telah menemukan titik akhirnya, bahwa hidup seorang Nenden ke depan adalah dengan menjadi seorang wartawan yang berdedikasi pada profesi dan institusinya.
Tak pernah cukup rasa terima kasih saya untuk Sang Komandan. Saya sangat menghormati dan mencintai beliau sepenuh hati saya. Beliau dan institusi detikcom yang saya anggap almamater saya, tempat saya dididik dan dibesarkan dalam profesi seorang wartawan.
Tadi sore saya berbuka puasa bersama Sang Komandan, dan redpel saya yang juga merupakan kawan lama beliau. Saya amati beliau semakin banyak rambut putihnya, tubuhnya jauh lebih kurus dibandingkan dengan ketika saya masih menjadi prajurit kecilnya. Ya beliau pernah mengalami sakit cukup berat beberapa tahun lalu, yang membuatnya seperti mengalami titik balik dalam hidupnya. Setelah menunaikan ibadah haji, beliau menganut pola hidup yang sangat sehat. Tidak ada lagi rokok dan alkohol menemani hari – harinya. Makanan yang dikonsumsi pun sangat dijaga. Sepertinya terjadi perubahan juga dalam pola pikirnya, meskipun kespontanan, gaya langsung tembak nya masih terasa sangat khas seorang Bdi. Celana jeans dan kaos polo serta sepatu sandal pun masih setia menempel di tubuhnya. Liat Bdi pake batik itu cuma kalau beliau datang ke istana, entah mau meeting atau ada undangan lainnya. Dan pake jas cuma kalau ikut pesawat presiden, atau jadi narasumber di TV.
Yang jelas kritikan beliau masih terasa pedas seperti dulu, tapi saya tidak pernah sakit hati olehnya, karena saya tahu beliau melakukannya karena beliau peduli. Beliau sangat ingin saya menjadi lebih baik, maju dan berkembang. Dan saya pun tidak pernah membencinya untuk kata – katanya yang kadang terdengar kasar itu. Saya tidak pernah punya hati untuk bisa membenci Sang Komandan. Karena saya terlalu menghormati dan mencintainya. Beliau bukan hanya komandan, tapi sahabat sekaligus guru buat saya.
Sepertinya beliau melihat sesuatu dari diri saya yang mungkin diyakininya sebuah potensi besar yang bila diasah dengan baik akan bisa menjadi sesuatu yang besar pula. Tapi entah benar atau salah, itu analisa saya saja yang saya simpulkan dari kekecewaan beliau ketika saya tidak menerima tawarannya 5 tahun lalu untuk berkarir dan mengembangkan diri di Jakarta. Beliau menyayangkan pilihan saya untuk tetap di Jogja yang dianggapnya tidak akan membuat saya maju. Ya akhirnya saya harus mengakui bahwa beliau benar. Bila saya ingin maju dan berkembang maka saya harus berani berkecimpung di kolam yang sangat besar bernama Jakarta ini.
Sebagai murid dan mantan prajurit kecilnya, saya tentu saja tak ingin mengecewakan Sang Komandan. Ingin sekali suatu saat saya bisa membuat sang Komandan tersenyum bangga pada anak didiknya, atas apa yang saya capai dan wujudkan di kemudian hari.
Tulisan ini saya dedikasikan sebagai kado kecil ulang tahun ke Sang Komandan 1 Oktober yang lalu. Maaf saya lupa kelewatan beberapa hari. Saya tidak menyangka bahwa beliau juga salah satu pembaca blog saya ini. You’re keep watching me growing Boss. Mengamati tulisan – tulisan saya, tanpa saya sadari. Seperti seorang guru yang mengamati muridnya dalam proses belajar dan mematangkan diri. I love you from the bottom of my heart.
Semoga selalu diberkahi kesehatan lahir batin, kebijaksanaan, dan panjang umur untuk hidup yang berbahagia dan sejahtera. You’re always be my boss wherever I work and live, and detikcom always be my home that I always miss when I’m away.