Archive for October, 2006

Lebaran

Friday, October 20th, 2006

Ritual tahunan yang namanya Lebaran memang sudah menjadi hajat besar rutin masyarakat Indonesia, dimana mayoritas pemeluk agama Islam. Tradisi mudik dan sungkeman, merupakan salah satu momen yang dinantikan setiap tahun. Untuk bisa mudik, orang - orang sudah berjuang mencari tiket sejak jauh - jauh hari. Kesempatan inipun digunakan oleh para pengusaha angkutan swasta maupun BUMN untuk menangguk untung dengan menaikkan harga diatas harga normal.

Atas nama Lebaran orang Indonesia melakukan banyak hal yang tidak biasa. Berjejalan di stasiun, terminal, dan bandara menjadi pemandangan biasa. Pasar dan mal penuh dengan yang berbelanja berbagai keperluan Lebaran. Baju baru, kue, perabotan rumah baru, dan banyak lagi.Ada banyak kewajiban sosial yang tiba - tiba menjadi beban baru di pundak kita. Salam tempel untuk para keponakan, baju baru untuk diri sendiri dan anak - anak ( bagi yang sudah berkeluarga ), menu makanan yang "wajib" dihidangkan di meja makan untuk menjamu para tamu yang bersilaturahmi.

Ujung - ujungnya pengeluaran membengkak. Banyak hal yang tidak perlu tiba - tiba menjadi satu kebutuhan mendesak. Sayangnya tidak semua orang diberi keberuntungan dengan rejeki yang berlimpah untuk bisa memenuhi segala hasrat duniawi itu.Alhasil apa yang terjadi ? Berhutang pun jadi, itupun kalau ada yang mau memberi hutangan. Kalau tidak ???

Saya menyaksikan berita - berita kriminal di televisi seminggu terakhir ini berisi tayangan mengenai berbagai tindakan kejahatan yang dilakukan karena si pelaku didorong untuk memenuhi kebutuhan berlebaran yang mendesak. Pencurian hape, perampokan dilakukan hanya untuk berusaha memenuhi kebutuhan Lebaran. Bahkan di Jawa Timur saya menyaksikan tayangan seorang ayah yang membakar dirinya, karena tidak sanggup memenuhi kebutuhan Lebaran keluarganya. Ironis sekali. Lebaran sebagai puncak dari ibadah puasa sebulan lamanya, malah menjadi akar dari terjadinya kejahatan dan tindakan - tindakan yang sama sekali berlawanan dengan makna dari puasa dan Lebaran itu sendiri.

Mungkin sudah banyak yang lupa bahwa makna dari Lebaran adalah output dari upaya membersihkan diri dan hati selama sebulan melalui ibadah puasa. Puasa bukan hanya menahan dahaga dan lapar. Tapi puasa lahir dan batin untuk memperbaiki diri, sehingga diharapkan output yang dihasilkan pada hari Lebaran adalah manusia - manusia baru yang lebih sabar, rendah hati, menghormati sesama, menghargai sesama yang kekurangan, bahkan meningkatnya jiwa sosial untuk menolong sesama. Kemudian Lebaran menyempurnakannya dengan membersihkan hati kita dari dosa terhadap sesama dengan saling memaafkan dengan tulus, dan membersihkan diri dari dosa kepada Tuhan dengan meminta ampunannya dengan tulus juga.

Tapi apa lacur ? Puasa sebulan itu malah menghasilkan manusia - manusia baru yang lebih rakus, dan lebih sombong. Rakus untuk mengejar harta yang lebih banyak untuk memuaskan nafsu duniawinya. Baju baru untuk Lebaran harus yang mahal bikinan desainer terkenal, agar dilihat orang banyak dengan pandangan penuh kagum dan iri. Mobil yang akan dipakai untuk mudik dan bersilaturahmi harus mobil baru, karena akan menjadi sarana pamer yang paling afdal. Rumah harus direnovasi lengkap dengan perabotan baru sehingga bisa dipamerkan kepada para tamu yang datang untuk bersilaturahmi. Untuk memenuhi semuanya itu, apapun dilakukan, kalau perlu korupsi dan mengambil hak orang lain.

Akan menjadi manusia yang manakah kita seusai Lebaran ini ? Ketika baju baru yang dibeli mahal - mahal telah kembali tergantung di lemari. Ketika makanan - manakan enak yang disantap para hari Lebaran telah terbuang di toilet. Ketika kerumunan orang yang bersalam - salaman telah bubar. Dimanakah manusia baru yang lebih sabar dan rendah hati serta menghargai sesama itu ? Saya kah ? Anda kah ? Ataukah sudah habis stok manusia - manusia baru kategori itu ? Habis digerus budaya konsumtif yang mengatasnamakan ritual ibadah bernama puasa dan Lebaran ?

Selamat berlebaran kawan - kawan..selamat memilih akan menjadi manusia baru yang manakah anda dan saya.

El Comandante

Monday, October 16th, 2006

El comandante alias sang komandan adalah sebutan hormat sekaligus tanda cinta rakyat Kuba pada pemimpin mereka Fidel Castro Ruz. Kecintaan mereka pada Fidel sangatlah beralasan, karena sebagai pemimpin Fidel berhasil memberikan rakyatnya minimal dua hal yang paling mendasar dari kehidupan manusia, yaitu kesehatan yang baik dan pendidikan yang baik dengan gratis. Standar kesehatan Kuba sangatlah baik, hasil – hasil riset di bidang kesehatan, dan keilmuan mereka di bidang kedokteran telah jauh lebih maju dibanding Indonesia. Dan semua diberikan untuk rakyatnya dengan gratis. Untuk seorang ibu yang melahirkan bukan saja diberikan fasilitas rumah sakit gratis, tapi sang ibu diberikan cuti selama satu tahun dengan gaji yang tetap dibayar penuh. Bukan hanya melahirkan yang digratiskan pembiayaannya, untuk operasi bedah jantung pun, rakyat Kuba dibebaskan dari biaya, semua ditanggung pemerintah.

Jangan bandingkan dengan kita di Indonesia, hanya bikin sakit hati. Maka jangan heran kalau ada istilah plesetan dalam bahasa Inggris yang menurut saya sangat relevan dengan kondisi di Indonesia, “ A doctor is somebody who kills your ill with his pills, and also he will kills you with his bills”.

Itu hanya salah satu contoh kecil yang membuat rakyat Kuba sangat memuja Sang Komandan, Fidel Castro Ruz yang ternyata disisi lain menolak untuk dikultuskan. Maka tak heran bila di Kuba, setidaknya di Havana yang saya lihat sendiri, Che Guevara dalam bentuk mural, poster, foto, dan simbol – simbol pemujaan lainnya lebih mendominasi daripada pemujaan mereka terhadap Sang Komandan. Kecuali sisa – sisa ucapan ulang tahun yang ke – 80 untuk sang komandan yang masih terlihat di sana – sini.

Bila rakyat Kuba punya Fidel yang dihormati sekaligus dicintai sebagai Sang Komandan. Saya pun punya seorang komandan yang sangat saya hormati sekaligus saya cintai. El comandante saya itu adalah mantan bos saya di detikcom, tidak usah saya sebutkan nama lengkapnya, anda semua pasti sudah tahu, karena beliau sangat – sangat terkenal di dunia maya maupun nyata. Meskipun secara faktual beliau bukan bos saya lagi, karena kami berada di dua institusi yang berbeda, tapi buat saya beliau adalah sang komandan sejati. Beliau selalu menjadi “komandan” saya dimanapun saya bekerja.

Perkenalan saya dengan beliau yang akrab dipanggil Bdi ini cukup unik. Enam tahun lalu beliau menjadi pembicara di sebuah seminar di kampus saya Gadjah Mada. Saya hadir sebagai salah satu peserta. Saya tidak terlalu ingat detil mengenai seminar itu sendiri. Tetapi yang saya ingat adalah kemudian saya dicari oleh senior saya Narto yang telah bergabung di detikcom, bahwa saya dicari oleh sang komandan. Beliau ingin bertemu dengan saya.

Satu pagi di hotel Santika Jogja, datanglah saya menemui undangan beliau untuk sarapan pagi. Sudah ada mas Bagus, reporter detikcom Jogja yang turut hadir bersamanya. Ngobrol santai ngalor ngidul mengenai aktivitas saya saat itu, yang masih menyusun skripsi dan menjadi koresponden majalah remaja pria Hai. Kemudian sebuah tawaran meluncur dari mulut beliau yang mengajak saya bergabung dengan detikcom, karena saat itu detikcom membutuhkan reporter perempuan di biro Jogja untuk menjadi mitra kerja mas Bagus.

Setengah tak percaya, tentu saja saya mengiyakan tawaran itu. Bayangkan, ketika semua teman – teman saya berjuang untuk mendapatkan pekerjaan, saya dengan mudahnya ditawari pekerjaan oleh media yang sedang naik daun itu, betapa bangganya saya. Semua berjalan sangat mudah. Tidak seperti proses melamar kerja di institusi lain. Saya pun kemudian bergabung dengan detikcom biro Jogja. Pengalaman pertama saya di lapangan digembleng mas Bagus, yang menjadi mentor saya. Tiga bulan masa probation yang cukup membuat saya ngos – ngosan ternyata membuahkan hasil yang manis. Meskipun enam bulan kemudian saya harus mengundurkan diri karena harus kembali ke kampus, menyelesaikan skripsi saya yang terbengkalai.Saya menyerah, konsep bekerja sambil kuliah ternyata hanya teori buat saya. Saya betul – betul keteteran dibuatnya.

Usai lulus saya kembali bergabung tapi tidak di lapangan sebagai reporter, tapi di induk perusahaan yang akan menangani sebuah proyek di Jogja. Sayang waktu itu kemudian proyek tersebut tidak berjalan seperti yang diharapkan. Mungkin anda ingat peristiwa “meletusnya” bubble dotcom pada tahun – tahun 2001 – 2002 yang membuat masa krisis bagi bisnis dotcom yang sempat menjadi booming besar di bursa – bursa saham dunia.

Karena saya tidak ingin dipindahkan ke kantor pusat di Jakarta, maka kontrak saya pun tidak diperpanjang. Keputusan saya saat itu yang tidak ingin meninggalkan Jogja dan berkarir di Jakarta sempat membuat saya didiamkan oleh beliau lebih dari satu tahun. Saya yakin itu wujud kekecewaan beliau atas keputusan saya. Ya waktu itu saya sangat menikmati comfort zone saya di Jogja. Dimana saya masih melihat Jakarta sebagai kota yang sangat tidak menyenangkan, penuh preman yang jahat, macet, biaya hidup mahal, jauh dengan segala kenyamanan dan kemudahan yang saya dapatkan di Jogja.

Bertahun – tahun kemudian saya meninggalkan dunia media. Saya berkarir di bidang marketing, humas, IT, desain graphic, sampai kerajinan. Tapi rupanya kerinduan saya kepada dunia wartawan dan kehidupan para pelaku media itu tidak pernah benar – benar sirna. Bila ada kejadian besar yang terjadi saya memandang dengan iri rekan – rekan wartawan yang turun ke lapangan untuk melakukan peliputan. Saya sangat merindukan keasikan mengejar narasumber, melaporkan kejadian di lapangan, dan menganalisa fakta. Dunia yang sangat dinamis dengan segala tantangannya.

Di sela – sela pekerjaan utama, saya sempat bergabung sebagai part timer dengan radio Trijaya Jogja menjadi host talkshow, penyiar, dan sekali – kali menjadi reporter. Hanya untuk merasakan kembali nafas dunia media dalam keseharian saya. Begitu besar kerinduan itu saya rasakan. 

Saya tidak pernah bermimpi akan kembali ke dunia yang terlanjur saya cintai itu, sampai sebuah telepon di akhir tahun 2005 lalu memberikan sebuah tawaran untuk saya kembali menerjuninya. Dan itu tak lain dari peran Sang Komandan. Akhirnya singkat cerita saya pun bergabung dengan website presiden SBY sebagai salah satu reporternya, dimana Sang Komandan ini menjadi salah satu konsultannya.

Dua kali Sang Komandan telah berperan menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk mengarahkan jalan hidup saya ke arah yang “benar”. Sebuah kebetulan yang tentu saja bukan kebetulan. Karena saya sangat meyakini bahwa tidak ada hal yang kebetulan di dunia ini. Semua terjadi atas kehendak-Nya melalui sebuah rangkaian peristiwa yang seakan – akan kebetulan.

Tangan Sang Komandan berperan untuk membuat seorang Nenden menemukan jalan hidupnya. Hidup yang kemudian disadarinya, sangat  dicintainya. Saya sangat mencintai profesi ini. Saya baru menyadari nya setelah saya kembali ke dunia media ini.

Lima tahun saya melanglang buana mencoba berbagai bidang di luar kewartawanan, dan ternyata saya end up menjadi wartawan kembali. Dan saya tahu inilah muara yang saya cari. Pencarian saya telah menemukan titik akhirnya, bahwa hidup seorang Nenden ke depan adalah dengan menjadi seorang wartawan yang berdedikasi pada profesi dan institusinya.

Tak pernah cukup rasa terima kasih saya untuk Sang Komandan. Saya sangat menghormati dan mencintai beliau sepenuh hati saya. Beliau dan institusi detikcom yang saya anggap almamater saya, tempat saya dididik dan dibesarkan dalam profesi seorang wartawan. 

Tadi sore saya berbuka puasa bersama Sang Komandan, dan redpel saya yang juga merupakan kawan lama beliau. Saya amati beliau semakin banyak rambut putihnya, tubuhnya jauh lebih kurus dibandingkan dengan ketika saya masih menjadi prajurit kecilnya. Ya beliau pernah mengalami sakit cukup berat beberapa tahun lalu, yang membuatnya seperti mengalami titik balik dalam hidupnya. Setelah menunaikan ibadah haji, beliau menganut pola hidup yang sangat sehat. Tidak ada lagi rokok dan alkohol menemani hari – harinya. Makanan yang dikonsumsi pun sangat dijaga. Sepertinya terjadi perubahan juga dalam pola pikirnya, meskipun kespontanan, gaya langsung tembak nya masih terasa sangat khas seorang Bdi. Celana jeans dan kaos polo serta sepatu sandal pun masih setia menempel di tubuhnya. Liat Bdi pake batik itu cuma kalau beliau datang ke istana, entah mau meeting atau ada undangan lainnya. Dan pake jas cuma kalau ikut pesawat presiden, atau jadi narasumber di TV.

Yang jelas kritikan beliau masih terasa pedas seperti dulu, tapi saya tidak pernah sakit hati olehnya, karena saya tahu beliau melakukannya karena beliau peduli. Beliau sangat ingin saya menjadi lebih baik, maju dan berkembang. Dan saya pun tidak pernah membencinya untuk kata – katanya yang kadang terdengar kasar itu. Saya tidak pernah punya hati untuk bisa membenci Sang Komandan. Karena saya terlalu menghormati dan mencintainya. Beliau bukan hanya komandan, tapi sahabat sekaligus guru buat saya.

Sepertinya beliau melihat sesuatu dari diri saya yang mungkin diyakininya sebuah potensi besar yang bila diasah dengan baik akan bisa menjadi sesuatu yang besar pula. Tapi entah benar atau salah, itu analisa saya saja yang saya simpulkan dari kekecewaan beliau ketika saya tidak menerima tawarannya 5 tahun lalu untuk berkarir dan mengembangkan diri di Jakarta. Beliau menyayangkan pilihan saya untuk tetap di Jogja yang dianggapnya tidak akan membuat saya maju. Ya akhirnya saya harus mengakui bahwa beliau benar. Bila saya ingin maju dan berkembang maka saya harus berani berkecimpung di kolam yang sangat besar bernama Jakarta ini.

Sebagai murid dan mantan prajurit kecilnya, saya tentu saja tak ingin mengecewakan Sang Komandan. Ingin sekali suatu saat saya bisa membuat sang Komandan tersenyum bangga pada anak didiknya, atas apa yang saya capai dan wujudkan di kemudian hari.

Tulisan ini saya dedikasikan sebagai kado kecil ulang tahun ke Sang Komandan 1 Oktober yang lalu. Maaf saya lupa kelewatan beberapa hari. Saya tidak menyangka bahwa  beliau juga salah satu pembaca blog saya ini. You’re keep watching me growing Boss. Mengamati tulisan – tulisan saya, tanpa saya sadari. Seperti seorang guru yang mengamati muridnya dalam proses belajar dan mematangkan diri. I love you from the bottom of my heart.

Semoga selalu diberkahi kesehatan lahir batin, kebijaksanaan, dan panjang umur untuk hidup yang berbahagia dan sejahtera. You’re always be my boss wherever I work and live, and detikcom always be my home that I always miss when I’m away.

Guilt

Sunday, October 15th, 2006

Guilt atau rasa bersalah ternyata bisa membuat seseorang hampir gila karena didera rasa bersalah. Begitu kuatnya si rasa bersalah menggerogoti hati dan pikiran si penderita sehingga bisa melakukan hal – hal di luar nalar. Beberapa hari yang lalu saya menerima teror sms dari seseorang yang sedang menderita rasa bersalah hingga menurut saya dia sudah sinting.

Siangnya saya menerima telepon dari seseorang yang saya kenal tapi tidak terlalu dekat, ya hanya ketemu beberapa kali. Dia menelepon basa – basi tanya kabar, seakan ada keperluan yang awalnya saya pikir beneran dia butuh dibantu mengenai informasi tersebut, ternyata akhirnya saya tahu bahwa pertanyaan dia itu hanya pembuka saja. Inti dari tujuannya menelpon saya siang itu adalah untuk menyampaikan pesan seorang teman di masa lalu mengenai permintaan maafnya kepada saya. Oh..begitu. saya respon seperlunya saja, karena buat saya betapa sangat tidak gentle nya orang itu menitipkan permintaan maaf pada orang lain.

Malam harinya mulailah berondongan sms menghujani hape saya. Intinya orang itu memohon dengan segala apapun yang saya kehendaki agar membolehkannya untuk menemui saya. Eit….ada apa ini, gak hujan gak angin, tiba – tiba dia sadar kalau selama ini telah menyakiti saya dan membuat saya menderita. Apa yang terjadi dalam dirinya ? Kemana saja dia selama ini ? Mungkin masa – masa indah sudah berlalu, kehidupan nyata sudah menghampar di hadapan, dan itu ternyata sama sekali tidak seperti yang dibayangkan. Entahlah itu analisa saya saja. Bukankah orang baru menjadi sadar bahwa dirinya telah melakukan kesalahan ketika menemui benturan yang membuatnya terbangun ?? Biasanya sih begitu, based on experience J

Saya pun bersikukuh untuk menolak pertemuan dengan dia. Saya sudah menutup rapat – rapat pintu kehidupan saya untuk dia. Dia adalah masa lalu, episode yang sudah berakhir dan saya sudah membuka lembaran baru kehidupan saya. Pertemuan bahkan interaksi apapun dengan dia sebetulnya sudah sangat saya hindari. Karena saya sudah meninggalkannya jauh di belakang. Saya sudah bergerak maju dengan semangat baru dan visi yang baru akan hidup yang saya inginkan.

Saya meyakinkan dia bahwa pertemuan dengan saya tidak akan berarti apa – apa. Tidak akan merubah apapun yang telah terjadi. Tidak akan membetulkan apa yang telah salah, tidak akan mengganti keputusan yang sudah diambil. It’s all too late. Saya bahkan sudah tidak ingin mengingatnya lagi, kehidupan baru saya sudah menanti dengan cahaya terang yang selama ini saya cari di ujung terowongan panjang dan gelap. Dan tiba – tiba dia datang hanya ingin menarik saya ke belakang lagi ? No way, enough is enough.

Tapi rupanya deraan rasa bersalah yang hebat membuat seseorang kehilangan akal. Dia ingin saya membunuhnya saja, karena dia tak kuat menahan beban rasa bersalah ini. Dia memohon saya untuk melakukannya. Dia merendahkan harga dirinya serendah – rendahnya untuk melakukan apapun yang saya minta agar bisa meluluskan keinginannya untuk bisa bertatap muka dengan saya.

Dan saya pun tak bergeming. Sekali tidak tetaplah tidak. “Waktu anda sudah habis, dan anda menyia – nyiakannya Tuan!” Sekarang rasakanlah perasaan bersalah itu menggerogoti pelan – pelan dari dalam hati dan pikiran. Itu adalah bagian dari hukuman Tuhan atas manusia egois yang berbuat sekehendak hatinya.

Dalam duka dan airmata yang mengalir saya pernah memohon kepada Tuhan untuk membalaskan penderitaan yang saya rasakan atas perbuatannya itu. Saat itu saya betul – betul memintanya dengan sepenuh hati, jiwa dan raga. I really mean it. Saya sangat percaya bahwa Tuhan mendengar dan mengabulkan doa umat Nya yang teraniaya.  Meskipun sekarang saya sudah baik – baik saja, dan hampir melupakan itu semua, tapi sebuah doa sudah terlanjur dipanjatkan. Kata – kata yang sudah terucap, tak bisa ditarik kembali. Alam semesta telah mengolahnya. Meskipun hati yang luka sudah terbalut, air mata sudah mengering, senyum kembali mengembang dan semangat sudah kembali terpompa, sumpah yang telah tercatat tidak bisa dihapus kembali.

Maafkan saya yang sudah mengucapkan doa tersebut. Semua sudah termaktub. Enjoy the karma, semua yang kita lakukan akan selalu menuai hasil yang setimpal. Itulah pengertian karma menurut saya. Anda berbuat baik, akan menuai kebaikan. Anda berbuat jahat maka hukuman Tuhan hanya masalah waktu saja, gak usah nunggu di akhirat, here, now, di kehidupan yang sedang kita jalani.. Jadi hati – hatilah dengan perbuatan kita, jangan sampai saya dan anda  mengalami penderitaan akibat rasa bersalah seperti orang di masa lalu saya itu. Karena kita tidak bisa mengontrol perasaan orang lain sebagai reaksi atas perbuatan kita, satu – satunya yang bisa kendalikan adalah perbuatan, dan kata – kata kita sendiri. Begitu bukan ?

BuBar yang beneran bubar ( refleksi 12 tahun meninggalkan SMA )

Thursday, October 12th, 2006

Rabu,11 Oktober lalu sudah saya book jadwal saya jauh - jauh hari untuk datang ke acara ngumpul buka puasa bareng dengan teman - teman SMA saya yang emang udah lama gak ketemu. Buat saya yang bekerja sebagai wartawan jadwal yang sudah diatur pun bisa tiba - tiba berantakan in last minutes. Apalagi yang gak direncanakan, meskipun kadang yang dadakan itu malah jadi, tapi hal seperti itu tidak setiap saat terjadi, jarang banget, butuh keberuntungan ekstra untuk membuatnya terjadi.

Acara tanggal 11 ini sebetulnya udah diundur dari jadwal sebelumnya, dan saya pikir oke lah kalo diundur, saya masih bisa menyesuaikannya. Perubahan ke tanggal 11 ini pun sudah di"umum"kan kira - kira seminggu sebelumnya..

Sampe the D day nya, saya udah plotting agenda saya hari itu agar bisa sore saya free dari tugas liputan. Tapi apa yang saya dapat siang - siang ? Sebuah sms dari "panitia" acara, yang mengabarkan bahwa acara diundur menjadi tanggal 18 Oktober, karena salah seorang teman kami gak bisa hari itu yang sudah dijadwalkan lebih dari seminggu sebelumnya itu.

Terus terang saya kesal, saya sms balik dengan mengatakan edan hanya gara - gara satu orang itu saja tidak bisa hadir, acara harus dibatalkan ? Ampuh sekali si teman itu bisa membatalkan keseluruhan acara hanya karena her highness gak berkenan hadir. Emang dia yang bayarin chatterbox untuk buka puasa kita. Kayaknya kita bayar sendiri - sendiri deh. Kok bisa dia sampe punya otoritas untuk membatalkan acara sehingga "panitia" mengabaikan peserta lainnya, dan tak peduli apakah dengan pergeseran tanggal itu yang lain bisa hadir atau tidak, yang jelas her highness bersabda tidak bisa ya sudah batal, yang lain mang gue pikirin, dateng gak dateng juga gak penting kali. Tanggal 18 oktober saya akan tugas ke Bengkulu, dan kalaupun saya di jakarta saya udah kehilangan appetite untuk datang ke acara itu, meskipun 2 tahunan saya gak ketemu mereka. Rasa kangen untuk kumpul - kumpul dan berbagi cerita menguap lenyap seketika.

Ternyata setting berpikir dan suasana nya gak pernah berubah. Saya memang terlalu muluk - muluk dengan berharap akan menemukan atmosphere yang berbeda ketika bertemu lagi dengan mereka setelah 12 tahun lebih kami meninggalkan SMA. Saya berharap akan menemukan manusia - manusia yang lebih matang, dewasa, "deep" , bijak dan down to earth seiring dengan pertambahan usia dan pengalaman hidup yang dilalui.

Seperti kata iklan sampoerna, bertambah tua itu pasti, bertambah dewasa itu pilihan.Kehidupan kota besar mengajarkan bahwa materi menjadi dewa yang diagungkan untuk menjadi sumber kebahagiaan, padahal ketika sudah didapat apakah betul - betul merasa bahagia ? Beberapa saat mungkin iya, karena kemudian rasa tak puas kemudian muncul untuk ingin mendapatkan yang lebih banyak lagi dengan harapan akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih lagi. Terus dan terus begitu, yang ada hanyalah kebahagiaan semu yang didapat, dan sisanya adalah kegelisahan - kegelisahan untuk mengejar nafsu duniawi yang tak akan pernah bisa terpenuhi.

Penilaian terhadap manusia didasarkan dari kebendaan yang melekat pada tubuhnya, dan apa yang dimilikinya secara kasat mata. Pemilik tubuh yang ditempeli dengan berbagai benda merk termahal akan mendapatkan penghargaan paling tinggi dan akan diberi "kekuasaan" lebih sebagai si penentu. Money is power, baby :)

Saya tau saya akan dipandang hina dan nyinyir oleh para penganut paham ini. Ah itu kan karena si Nenden gak mampu aja kayak kita, beli barang - barang bermerk yang kita pake, punya mobil terbaru seperti kita, dan komentar -komentar sejenis.. saya sakit hati ? Tidak. Saya hanya tertawa, tertawa prihatin atas ke shallow an mereka.

Saya beruntung diberi privillege sama Sang Maha Hidup untuk melewati perjalanan hidup yang sama sekali tidak mudah, dan itu sangat mendewasakan saya dan mematangkan proses berpikir dan cara saya memandang hidup. Saya beruntung sekali diberi sedikit pencerahan dan kesadaran ketika usia saya baru saja menginjak 30. Dan hidup saya dikelilingi oleh guru - guru kehidupan yang mengajarkan saya banyak hal tentang hakikat hidup. Menentramkan dan menyejukkan jiwa yang gelisah dalam proses mencari jati diri. Tidak banyak orang seberuntung saya. Ada yang baru mendapatkan di usia 50an, Bahkan ada yang sampai mati pun tidak pernah diberi kesempatan mendapatkan pencerahan.

Kenapa gara - gara buka puasa yang batal saya jadi ngelantur ngomongin soal kedewasaan, materi dan hakikat hidup ya. Buat anda kawan baru saya pasti bingung karena tidak melihat apa hubungannya. Tapi anda para kawan lama saya, tentulah bisa melihat benang merah nya. Karena hal ini lah yang membuat saya meninggalkan Bandung 11 tahun yang lalu, tempat kehidupan hedonisme yang mendewakan materi dan kebendaan. Penghargaan atas diri manusia dilihat dari sederet merk, bukan atas kualitas diri dan pencapaian non materi.

Saya beruntung dibesarkan oleh Jogja dan masyarakat Jawa yang masih mengagungkan nilai - nilai yang lebih hakiki dalam kehidupan daripada hal kebendaan. Saya belajar hidup dalam kesederhanaan, kekeluargaan, kebersamaan, tolong menolong tanpa melihat latar belakang seseorang, menghargai seseorang dari pencapaian - pencapaian akademis atau sesuatu hasil dari proses berpikir dan kreativitas.

Kami memandang dengan kagum seseorang, bukan karena dia memiliki mobil baru, atau mengenakan jam bermerk mahal, tapi karena dia baru saja memenangkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Atau dia baru saja memenangkan lomba karya tulis skala nasional.

Memang terlalu muluk saya berharap teman - teman lama saya yang dibesarkan dengan iklim hedonisme metropolitan untuk menjadi tidak hedon. Lingkungan sangat berpengaruh pada cara berpikir dan cara memandang seseorang akan hal - hal di luar dirinya, bukan begitu ?

Sudah terbayang percakapan yang akan terhidang di meja makan chatter box. Mobil loe apa sekarang ? Eh  gue udah beli rumah baru lho..murah deh..bla..bla..bla.. Eh Zara diskon kemaren loe udah beli apa, aja, kemaren gue ngeborong ini itu..bla..bla..bla..Hape loe apa sekarang ? Udah 3G belom ?Sepatu loe keren banget beli dimana ? Tas loe model baru nya LV nih kayaknya ? Beli di singapore ya ? hehehe perbincangan - perbincangan yang bikin saya mual pengen muntah..

Padahal pembicaraan yang saya rindukan dari kawan - kawan lama adalah gimana kabar mu ? Bapak Ibu gimana, dimana beliau sekarang ? sehat ? R u happy with your current job ? plan mu gimana ? Temen - temen baru mu gimana ? Anakmu udah bisa apa ? Nyonya apakabar ? Topik - topik hangat penuh empati seperti layaknya relasi sebuah persahabatan yang tulus.

Yah begitulah refleksi saya atas perjalanan 12 tahun selepas SMA yang penuh gejolak.. Ada yang masih berkutat di titik yang sama tapi berilusi bahwa dirinya sudah maju pesat, ada yang sudah beneran bergerak maju, ada yang mentok, ada yang pura - pura sudah dewasa, macem - macem lah. Sang waktu telah menjadi saksi perjalanan hidup para pelakon kehidupan ini. Akan menjadi apakah kita at the end, kita lah yang menentukan. Semoga tidak pernah ada penyesalan, karena menyesal di akhir tidak ada gunanya. So selagi masih diberi nafas kehidupan, pergunakanlah dengan sebaik - baiknya. Benda - benda bermerk yang diagungkan itu tidak akan dibawa mati kok. Tetapi kehalusan budi, kerendahan hati dan kebaikan pada sesama yang akan menjadikan pribadimu dikenang dengan harum meskipun saat jasad sudah bersatu dengan tanah.

Sakaw

Thursday, October 12th, 2006

Saya bukan pecandu  narkoba, tapi saya bisa merasakan sakaw yang menyiksa. Tubuh yang sakit dan kondisi pikiran yang terganggu kejernihannya karena belum mendapatkan "barang". Meskipun bagian tubuh yang sakit itu berbeda antara pecandu narkoba dan saya, karena setau saya kalau para pecandu narkoba itu sekujur badan rasanya ngilu – ngilu,demam bahkan kejang - kejang dengan mulut berbusa.Sedangkan saya cukup satu bagian tubuh saja yang terasa sakit, yaitu hati yang ngilu – ngilu menahan rasa.

Yup..rasa yang satu itu ternyata perlu dikelola dengan baik juga, karena kalau nggak bisa mengelola dengan baik, bisa bikin berantakan kerjaan dan aktivitas rutin, salah satunya bisa mengakibatkan sakaw seperti yang saya derita saat ini. Maklum, inginnya semua hal minggir untuk bisa memanjakan sang rasa yang menguasai hati dan pikiran.

Ini bukan kali pertama saya berurusan dengan sang rasa yang sangat perkasa ini. Tapi ternyata pengalaman dan jam terbang seringkali tidak ada relevansinya dengan kemampuan mengelola sang rasa dengan baik. Seringkali akal sehat terkalahkan demi untuk memenuhi hasrat sang rasa yang semakin meraja.

Demi sang rasa ini saya rela terbang melintasi laut, mengeluarkan rupiah demi rupiah untuk membayar pulsa, menembus kemacetan Jakarta yang gila, dan berjam – jam waktu untuk merasakan degup jantung yang tak teratur dibuatnya. Rasa ini bisa menjadi sangat berbahaya, karena meracuni pikiran dan menginfeksi hati, persis seperti virus.  Tapi rasa ini juga bisa menjadi sahabat yang terbaik, kalau kita bisa memahami dan mengelolanya dengan baik. Semua kendali ada di tangan kita, jangan sekali – kali menyalahkan pihak lain atas apapun yang terjadi sebagai akibatnya.

Rasa yang sangat perkasa ini juga  sangatlah indah. Berbahagialah bagi yang diberi kesempatan untuk merasakannya. Bukti pengakuan bahwa kita masih manusia biasa yang dikaruniai berkah cinta dan kasih oleh Sang Maha Pemilik Kehidupan. Rasa itu adalah rindu, kangen atau apapun kita menamakannya..

Ya hari ini saya kangen kamu..my Havana gift. Semoga Tuhan selalu melindungi mu dimana pun kamu berada. Terima kasih Tuhan untuk sebuah rasa yang sangat indah ini, dan saya tahu Kau berikan aku kesempatan lagi untuk merasakannya untuk bisa belajar mengelola nya agar menjadi sahabat terbaik bagi hidup saya dan bukan sebaliknya.

Fire !

Wednesday, October 4th, 2006

Saya sudah tidur dengan nyenyak, ketika kamar saya digedor dengan keras oleh penjaga kos dan tetangga kamar saya. Ups..apaan nih ? Saya kira sudah waktunya untuk sahur. Ternyata ketika saya terbangun jam baru saja menunjukkan pukul 21.30. Lho..

Tanpa saya sadari kamar saya telah penuh asap. Kamar saya terbakar !! Kabel – kabel listrik yang sambungannya ditanam di dinding itu mengeluarkan api sehingga menimbulkan asap yang cukup tebal. Tapi ternyata saya tidur nyenyak sekali, dan tidak terasa hawa panas, karena AC di kamar saya hidup.

Kami pun langsung panik, berusaha memadamkan api yang berasal dari korslet listrik itu. Api yang memercik – mercik, sudah menjilat dinding kamar hingga gosong. Saya yang baru saja terbangun dari tidur, shock setengah mati, karena posisi kabel – kabel itu persis di bagian kepala saya tidur tadi. Kalau saya susah dibangunin gimana coba ?

Untunglah penjaga kos sigap, langsung mengambil gagang pel yang sudah dibasahi dan berhasil memadamkan api. Asap yang ditimbulkan cukup membuat sesak nafas dan mengaburkan pandangan. Listrik dimatikan dan tukang listrik pun dipanggil.

Setelah itu barulah saya tahu bahwa kejadian di kamar saya ini bukan yang pertama kalinya. Penghuni kamar sebelumnya juga pernah mengalaminya. Dan pemilik kos yang pelit rupanya tidak cukup peduli. Karena untuk memperbaikinya membutuhkan dana sebesar ratusan ribu rupiah, apalagi bila ditambah protector seperti yang disarankan oleh tukang listrik yang pernah memperbaiki kerusakan itu 5 bulan yang lalu. Sehingga akhirnya terjadi lagi kebakaran itu pada saat saya menghuni kamar ini.

Saya gak kebayang kalo kejadian ini pas saya sedang tugas luar, sudah seperti apa jadinya. Seringkali saya harus pergi berhari – berhari bahkan lebih dari satu minggu, karena tugas liputan. Saya jadi ngeri sendiri mengingat itu. Kisah – kisah korban kebakaran yang kehilangan harta benda bahkan jiwa orang – orang terdekat membayang di benak saya. Selama ini hanya saya saksikan di tayangan TV atau saya baca di koran. Dan rasanya gak percaya kalau hal itu nyaris menimpa diri saya juga. Puji Tuhan alhamdulillah, saya masih dilindungi – Nya.

Saya tinggal di petojo, tanah abang yang padat penduduk. Rumah – rumah yang berimpitan dengan lingkungan yang sangat tidak bersih. Cerita ratusan rumah yang terbakar karena terimbas dari rumah tetangga, rasanya menjadi cerita yang biasa kita dengar di Jakarta ini. Dan saya sudah sedekat ujung jari untuk sebagai salah satu penderita seperti di dalam cerita - cerita itu. I was that close to death…api itu sudah berada di atas kepala saya, membakar dinding pada saat saya tidur dengan nyenyaknya. Geez.

Tapi rupanya Tuhan masih berkehendak saya untuk melanjutkan kehidupan saya saat ini. Meskipun tentu saja pengalaman tadi malam itu sangat membekas di hati saya. Mengingatkan saya bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini. Semua hal yang terjadi pada orang lain sangat mungkin terjadi pada diri kita juga. Saya harus mawas diri dan lebih berintrospeksi.

Maut, kematian, kehilangan, itu adalah hal yang sangat dekat dengan keseharian kita, dan bisa terjadi setiap saat dan dimana saja. Semua milik-Nya, yang akan diambilnya setiap saat Dia berkehendak. Manusia hanya “pemilik” sementara, bukan hanya harta benda, tetapi juga tubuh dan raga ini. Terima kasih untuk pelajaran Mu malam tadi ya Tuhan. Mohon selalu bimbingan dan perlindungan Mu agar saya selalu melakukan hal yang benar.

Mission Accomplished

Monday, October 2nd, 2006

Saya tak mengira bahwa kunjungan saya ke Havana pertengahan September 2006 lalu akan merubah hidup seseorang. Berawal dari cerita bos saya Andi Mallarangeng kepada wartawan pada acara konferensi pers Presiden SBY di Hotel Nacional de Cuba, usai sarapan pagi bersama warga Indonesia di Kuba.

Dengan penuh semangat Andi bercerita kepada para wartawan mengenai perbincangannya dengan seorang ex Mahid ( Mahasiswa Ikatan Dinas ) jaman pemerintahan Soekarno yang hingga saat ini tinggal di Kuba dan berstatus stateless, pak Widodo namanya. Pak Widodo ini mencari seseorang bernama Widari, yakni mantan kekasihnya pada tahun 1960an yang terpisah dan kehilangan kontak hingga puluhan tahun.

Kisah Pak Widodo ini buat siapapun yang mengetahuinya, adalah tragic love story. Cinta yang sudah terjalin selama 10 tahun, dan sudah berencana untuk naik pelaminan seusai kuliah, ternyata terganjal oleh perubahan situasi politik saat itu, akibat terjadinya pergantian kekuasaan di tanah air seusai peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Widodo muda yang dikirim kuliah ke Uni Sovyet, dicabut paspornya, sehingga tidak bisa pulang ke Indonesia, dan memenuhi janjinya untuk menikahi sang kekasih Widari yang telah menantinya. Hingga saat ini Pak Widodo masih hidup melajang di Kuba dan berharap mengklarifikasikan kepada Widari mengenai janji yang tidak bisa ditepatinya. Kisah cinta dua anak manusia yang tragis karena korban politik.

Ketika teman – teman wartawan lainnya yang ikut di pesawat Presiden bertolak kembali ke tanah air. Saya dan satu teman wartawan yang berangkat dan pulang dengan pesawat komersial, masih memiliki waktu dua hari di Havana sebelum kembali ke Jakarta. Akhirnya keesokan harinya, usai dijamu makan malam di Wisma Duta oleh Ibu Dubes yang kebetulan juga merayakan ulang tahunnya, dan melanjutkan acara dengan berpesta salsa di Turquino, saya dan teman tersebut memilih tidak ikut bergabung dan berangkat ke rumah Pak Widodo untuk melakukan wawancara.

Wawancara berlangsung di apartemennya yang sederhana selama kurang lebih 3 jam, that was midnite interview. Untunglah suasana berlangsung cair dan akrab, Pak Widodo pun memaklumi karena kami harus terbang kembali ke Jakarta besoknya. Beliau yang saat ini berusia 66 tahun, sangat senang menerima tamu jauh seperti kami.

Cerita pun mengalir dari bibirnya, dengan mata berkaca – kaca dan pandangan yang menerawang jauh ke masa lalu. Pengalaman hidup yang dilaluinya sungguh penuh liku dan tidak mudah. Saya pun ikut terharu,dan membayangkan bila semua itu harus saya alami. Pak Widodo yang tegar dengan kesendirian di usia senjanya, memegang teguh kesetiaan terhadap apa yang telah menjadi komitmennya, kesederhanaannya, kecerdasannya dan ketulusan hatinya, sangat menyentuh hati saya.

Malam sudah beranjak dini hari, saya sudah kehabisan energi setelah seharian berkeliling Havana, sambil menunggu taxi saya pun sempat tertidur di kursi ruang tamu yang sudah berumur itu. Taxi datang, kami pun bergegas pamitan. Sebetulnya sangat berat hati meninggalkan pak Widodo saat itu. Masih banyak cerita dan pengalaman hidup yang sebetulnya masih ingin saya gali dari beliau. Belum lagi keinginan Pak Widodo untuk mengajak kami memahami lebih jauh kehidupan masyarakat Kuba dengan mengenalkannya dengan beberapa rekan dan melihat dari dekat kehidupan rakyat Kuba, sebetulnya tawaran yang sangat menarik. Tapi apa daya, kami harus segera kembali ke Jakarta. Padahal waktu itu sudah terpikir untuk extend beberapa hari lagi, tapi rasanya terlalu berisiko, mengingat perjalanan yang sangat panjang dari Havana ke Jakarta, dengan berganti 3 kali pesawat.

Sampai di Jakarta, hasil wawancara dengan Pak Widodo saya kirimkan ke sebuah media online, lengkap dengan data riwayat hidup, dan keinginannya untuk mencari Widari. Dimuat dalam 3 seri, dan tidak menyangka bahwa kisah Pak Widodo yang terdampar di Kuba selama 40 tahun itu mengundang banyak simpati. Hingga terbentuk solidaritas untuk membantu Pak Widodo dalam mencari Widari. Pak Widodo bercerita kepada saya melalui email bahwa sejak alamat emailnya dipublish, beliau kebanjiran email yang berdatangan dari Indonesia dan berbagai negara. Semua menyampaikan doa, harapan, solidaritas dan dukungannya. Sangat menyentuh.

Berkat pemuatan itu pula akhirnya, keluarga Widari bisa ditemukan dan melakukan komunikasi dengan Pak Widodo. Solidaritas W&W yang digagas salah satu pembaca untuk membantu pak Widodo menemukan Widari juga dihentikan. Mission accomplished.

Saya terhenyak kaget, ketika seorang teman memberitahukan melalui YM apa yang telah terjadi pasca pemuatan kisah Pak Widodo itu.Terus terang saya tidak terlalu mengikutinya lagi setelah pemuatan 3 seri cerita itu. Ternyata saya telah menggelindingkan bola salju, yang berakhir pada tujuan yang diharapkan. Ah senangnya kalo upaya kecil yang saya lakukan ternyata bisa berakibat sedemikian besar pada diri dan hidup seseorang in positive way. Tak ada keraguan memang akan kekuatan media, terutama media internet yang bisa menggalang solidaritas melintasi batas – batas geografis. Dan tentu saja terimakasih kepada Bdi dan para redpel yang telah memuat hasil wawancara itu dan mengolah sedemikian rupa sehingga menjadi berita yang menyentuh pembaca.

Inilah yang membuat saya mencintai profesi ini. I love writing and being a journalist. Pena yang kita goreskan, kalimat demi kalimat yang dirangkai, bisa menyentuh hati manusia di belahan bumi manapun yang membacanya. Solidaritas bisa dibangun dengan kata – kata, karena semua manusia punya hati nurani. Siapapun, dimanapun, bangsa apapun, agama dan etnis apapun.

This is a golden moment for me, sebuah pencapaian sebagai seorang wartawan ketika tulisan yang dibuatnya bisa berakibat sedemikian dahsyat, dan menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk merubah hidup seseorang. Terima kasih Tuhan yang telah mengarahkan langkah saya malam itu ke rumah Pak Widodo, dan memilih dengan sadar untuk melewatkan pesta salsa yang panas di Turquino, the best club in Havana. Semoga saya masih diberi kesempatan lebih banyak lagi untuk bisa melakukan kebaikan untuk sesama dengan profesi ini.

“ You’re so beautiful, your eyes full of heaven “

Sunday, October 1st, 2006

Itulah yang dikatakan bartender di Floridita Restaurant and Bar, di Havana kepada saya, ketika saya memasuki kafe yang terkenal karena Hemingway ini. Saya menghampirinya di bar dan memesan mojito ( baca mokhito ), minuman khas Kuba, favorit Ernest Hemingway, yang harus dicoba oleh siapapun yang berkunjung ke Kuba.

Sebelum meracik mojito pesanan saya, bartender berperawakan gemuk dan berbaju putih itu sempat bertanya dari mana saya berasal. Saya jawab dari Indonesia. Saya nggak tahu dia tahu Indonesia apa nggak, yang jelas kemudian dia melihat saya dengan penuh senyum keramahan, dan berkata dalam bahasa Inggris, “ you are so beautiful, your eyes full of heaven..”

Saya terpana sejenak, tersenyum ramah dan kemudian mengucapkan terimakasih. Saya tak tahu harus berkata apa selain terimakasih. Saya kemudian duduk di kursi bar yang kosong di hadapannya, dan menyaksikan dia menumbuk daun mint agar sedikit hancur di dasar gelas tinggi berlogo Havana Club, mencampur air gula,lemon juice, white rum, dan kemudian mengakhirinya dengan menambahkan beberapa butir ice cube, dan menyerahkan minuman itu kepada saya. 

Segarnya mojito membasahi kerongkongan saya yang kering setelah seharian jalan – jalan menyusuri indahnya kota Havana yang panas terik. Tapi bukan hanya mojito yang membuat saya terkenang – kenang pada Floridita, kata – kata sang bartender yang penuh keramahan itu terekam dengan baik di kepala saya. Bahkan ketika saya kembali padanya untuk meminta bill, dia menyambut saya dengan kata – kata, yes my highness…hahaha saya si proletar ini dikatakan highness, geli saya, tapi saya tetap menghargai kebaikan sang bartender ramah itu.

My eyes full of heaven katanya. Saya tersenyum mengingatnya, mungkin dia tahu apa yang sedang berlangsung dalam hati saya. Melalui mata saya dia melihat keindahan cinta dan keajaiban karya Tuhan dalam hidup saya. Kebahagiaan memang terpancar dalam diri seseorang melalui matanya. Dan ya saya memang berbahagia. Di Havana saya menemukan belahan jiwa saya yang selama ini saya rindukan kehadirannya untuk melengkapi hidup saya. Menjadi teman seperjalanan untuk menempuh perjalanan panjang ke masa depan, berbagi kasih dan berkarya untuk sesama. Membuat hidup yang singkat ini semakin bermakna dengan berperan sebagai perpanjangan tangan-Nya. I found him in Havana..

Heaven atau surga, hanyalah sebuah ungkapan tentang keindahan, kedamaian, dan kebahagiaan. Ketika manusia sulit menjelaskan tentangnya, kita cukup menyebutnya dengan kata surga, maka semua akan mengerti maknanya.Orang banyak menyebut surga sebagai sebuah tempat yang indah di akhirat nanti yang akan menjadi tempat terakhir bagi manusia yang berbuat baik ketika hidup di dunia. Begitulah memang yang diajarkan oleh agama melalui kitab suci dan para nabinya.

Tapi buat saya, surga tidak hanya ada di akhirat, dimana kita harus mati dulu untuk bisa sampai kesana. Surga ada disini, saat ini. Saat saya mengetik tulisan ini, saat anda membaca blog saya ini. Surga dan neraka adalah kehidupan kita sehari – hari. Dan kita sendirilah yang menciptakan surga dan neraka bagi kita. Mungkin terdengar aneh. Tapi menurut saya konsep surga dan neraka simpelnya adalah soal reward and punishment. Dan itu tidak harus menunggu untuk tiba di akhirat, sekaranglah inilah saatnya kita mengalami surga dan neraka kita.

Ketika kita berbuat baik terhadap sesama dan merasakan kedamaian, itulah surga kita. Ketika kita iri hati, dendam, dan berpikiran jahat terhadap orang lain, kemudian merasa marah dan hidup tak tentram, ya itulah neraka kita. Tidak repot, surga dan neraka itu yang bikin kita sendiri kok.

Dan menciptakan surga bagi diri sendiri tidaklah sulit, hiduplah dengan cinta dan kasih. Terdengar klise tapi memang itulah adanya. Kasih akan menyejukkan hati yang resah, cinta akan menentramkan pikiran yang gundah, pengampunan akan melepaskan rasa dendam dan menggantinya dengan kedamaian. Keikhlasan akan menenangkan jiwa bagi setiap keinginan yang belum terwujud. Semua itulah surga  menurut pengertian saya yang bukan siapa – siapa ini.

Bartender di Floridita itu telah mengingatkan saya untuk mensyukuri surga yang telah saya miliki dalam hati saya, dan membuat saya menjadi so beautiful katanya J. Padahal saya saat itu hanya mengenakan jins, kaos buntung basah oleh keringat, muka berminyak dan rambut berantakan, kayak bgitu dibilangnya beautiful , hahaha…c’mon.

Tapi mungkin Anda percaya kalau heaven inside akan membuat kita menjadi cantik dan ganteng ? Silahkan bercermin dan amatilah pantulan diri anda disana, dan tanyalah diri anda sendiri seperti apakah saya ? Hmm…hanya anda yang tahu jawabnya bukan ;)