Archive for November, 2006

Rencana Manusia

Monday, November 27th, 2006

Bulan november hampir berakhir, dalam beberapa hari ke depan sudah akan masuk bulan desember. Bulan dalam urutan terakhir setiap tahunnya. Pada bulan ini biasanya kesibukan terasa lebih. Para petinggi perusahaan dimanapun sibuk dengan evaluasi akhir tahun, dan perencanaan tahun depan. Begitu juga dengan para karyawan yang deg - degan menunggu bonus akhir tahun, dan jatah cuti tahunan yang akan diambil untuk menghabiskan akhir tahun bersama orang - orang tercinta.

Saya bukan termasuk kedua kategori diatas. Tetapi saya memang selalu menggunakan momen akhir tahun untuk mengevaluasi diri saya sendiri. Apa saja yang sudah saya lalui tahun ini, mana yang perlu diperbaiki, dan mana yang perlu ditingkatkan. Tidak ada salah dan benar. Tidak ada baik dan buruk. Memang itulah adanya. Semua yang sudah terjadi memang menjadi suratan sebagai hal yang memang harus saya jalani tahun ini.

Setiap manusia rasanya menginginkan hal yang lebih baik. Sangat manusiawi. Ingin lebih baik, lebih banyak, lebih besar, lebih tinggi, lebih luas, lebih dan lebih..Begitu juga saya. Saya ingin menjalani hidup saya dengan lebih baik. Sarana penunjang hidup yang lebih nyaman. Lingkungan kerja maupun tinggal yang lebih baik, kehidupan personal yang lebih baik, begitu juga kehidupan profesional dan spiritual yang lebih meningkat juga kualitasnya.

Meskipun saya sangat paham bahwa rencana manusia sangatlah rapuh, tapi bukan berarti mengubah kebiasaan saya untuk merencanakan apa yang saya ingin lakukan dan raih di tahun yang baru. Berencana dan berupaya adalah hak manusia. Sedangkan hasil adalah otoritas Yang Maha Berkehendak. Setelah berencana, dan kemudian berupaya, selanjutnya yang harus kita miliki adalah keikhlasan menerima apapun hasil yang diberikan-Nya atas segala rencana dan upaya yang telah kita lakukan.

Beberapa sahabat berbagi cerita tentang rencana - rencana mereka di tahun yang baru. Begitu juga saya sudah merancang berbagai hal yang ingin saya lakukan di tahun yang baru. Harapan begitu membuncah dan menjadikan saya begitu bersemangat menjalani hari - hari saya belakangan ini. Hopes and dreams are boosting my spirit and creativity up to the sky. Begitu banyak asa dan cita yang ingin saya wujudkan tahun depan.

Merencanakan sesuatu, memiliki harapan, dan membangun mimpi adalah hal yang positif. Membuat manusia menjadi bersemangat karena memiliki tujuan dari apa yang dilakukannya. Setidaknya itulah yang saya rasakan. Saya adalah manusia pemimpi. Like I always said to my friends I’m a dreamer and those dreams keeps me alive. Ya mimpi - mimpi itulah yang membuat saya bertahan sampai sekarang. Mimpi - mimpi besar saya untuk menjadi orang besar suatu hari nanti, dengan kontribusi sebesar-besarnya untuk manusia dalam jumlah yang besar. Hidup besar deh pokoknya :)

Tapi seiring dengan berjalannya waktu, pengalaman jatuh bangun yang saya alami, saya semakin memahami bahwa harapan itu memang bisa menjadi pembantu atau penguasa manusia. Harapan bisa membantu kita untuk melakukan yang terbaik, berupaya keras, dan bersemangat, tetapi apabila kita salah mengelolanya, harapan akan menjadi penguasa dan kita akan menjadi budaknya. Harapan yang begitu tinggi, rencana yang rasanya telah sangat matang diolah, seringkali membuat manusia lupa diri. Lupa bahwa hasil adalah bukan otoritas kita. Ketika hasil yang terjadi kemudian tidak sesuai harapan dan perencanaan, kita kecewa, frustasi, ambruk dan terpuruk. Harapan telah berhasil memperbudak kita.

Akhir tahun ini pun sama seperti akhir tahun - akhir tahun yang saya lewati sebelumnya. Saya membuat laporan tahunan dan perencanaan tahun baru untuk diri saya sendiri. Tapi kali ini dengan tambahan, bahwa saya harus meningkatkan kehati - hatian dan kewaspadaan agar saya tidak dikuasai oleh harapan yang membumbung tinggi. Saya belajar untuk menjadi legowo dan ikhlas, bahwa rencana saya hanyalah rencana manusia yang rapuh. Bahwa ada kekuatan sangat besar diluar sana yang memiliki otoritas penuh untuk melakukan apapun yang dikehendaki-Nya. Sesuai atau tidak dengan perencanaan yang saya buat Dia mana peduli.

Saya ingin mengutip buku indah yang baru saja selesai saya baca, dari rumah perenungan ke-20 nya Gede Prama, Kebahagiaan Yang Membebaskan, kurang lebih begini, berusaha dan bekerja lah tetapi bebaskanlah diri kita dari keterikatan hasil. Bagian ini dikupas tuntas pada section pembahasan mengenai "Bebas dari Harapan". Karena banyak harapan yang bukannya menjadi drive yang positif, tapi malah bikin manusia jadi edan. Keblinger. Nggak mau melihat kenyataan bahwa harapan itu tidak membumi, tidak realistis.

Sedangkan disisi lain, banyak manusia yang dibenturkan pada kenyataan bahwa harapan mereka tidak terwujud seperti yang diinginkan, menjadi frustasi dan kecewa berkepanjangan. At the end mereka menjadi takut untuk memiliki harapan dan malas berusaha. Mutung istilah jawanya. Ngapain capek - capek kerja keras, berusaha, membangun mimpi dan harapan, hasilnya juga gak ada, selain kecewa. Akhirnya mereka memilih diam dan tidak melakukan apa - apa. Lagi - lagi harapan berhasil menguasai mereka, dengan "memadamkan" api semangat di diri mereka.

Terus terang saya juga capek mengalami kekecewaan dan merasa frustasi. Ketika menyaksikan dan mengalami sendiri berbagai harapan yang dirajut, mimpi yang dibangun dengan susah payah, rencana yang disusun dengan matang, runtuh berguguran tanpa kita bisa berbuat apa - apa untuk mencegahnya. Saya juga manusia biasa yang merasakan sedih yang mendalam, sejenak kehilangan arah, dan seringkali kehilangan kontrol diri dalam menghadapi situasi seperti itu. Tapi memang tidak ada resep jitu apapun untuk menjamin bahwa setiap harapan dan rencana yang kita susun akan terwujud seperti yang kita inginkan. Emangnya kita udah naik pangkat jadi Tuhan ?

Satu - satunya hal yang bisa kita lakukan adalah dengan menumbuhkan rasa ikhlas. Menjadi manusia ikhlas menerima apapun yang diberikan sebagai hasil dari keputusan Yang Maha Memutuskan. Rencana apapun yang kita susun, upaya apapun yang kita lakukan, kemudian lengkapi dengan sepotong keikhlasan akan menerima hasil yang didapat kemudian.

Alangkah enaknya hidup kalau sudah bisa mencapai titik ini. Kita tidak kehilangan semangat dalam berusaha, tidak ketakutan dalam memiliki harapan dan membangun mimpi. Tapi kita juga tidak dihantui oleh kekecewaan akan hasil yang tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Damai. Tentram. Bahagia. Jauh dari setan stres dan depresi. Lakoni wae urip ki sing penak..Begitu kata salah seorang guru saya. 

Abidah

Monday, November 27th, 2006

Abidah adalah seorang perempuan biasa berusia 22 tahun. Sosoknya sangat sederhana, dengan perawakan kurus, wajah polos tanpa riasan, serta kerudung yang menutup kepalanya, membuatnya terlihat sangat biasa. Tetapi dibalik sosoknya yang sederhana dan tampak biasa itu, Abidah yang menjadi single parent bagi seorang anak balita, adalah seseorang yang sangat luar biasa bagi saya.

Saya tidak mengenal Abidah. Saya hanya melihat dan menyimak kisah sepak terjangnya dari tayangan Good Morning di Transtv.

Abidah, dengan segala keterbatasan ekonomi yang dimilikinya, dia “hanyalah” seorang tukang memasang payet baju, dengan bayaran Rp.2000 rupiah per baju, dan total penghasilannya selama satu minggu sebanyak Rp.40.000, ternyata sanggup berkarya dengan sedemikian besar.

Sejak usia 19 tahun dia telah menyewa sebuah rumah untuk dijadikannya menjadi sekolah mengaji bagi anak – anak pemulung dan tidak berpunya lainnya, dengan dia sebagai pengajar satu – satunya. Rumah itu sangat sederhana. Bangunannya semi permanen, cukup lapang memang untuk menampung puluhan anak. Lengang tak nampak perabotan di dalamnya, hanya ada sebuah papan tulis yang tergantung di salah satu dinding rumah tersebut, sebagai sarana dia mengajar.

Setiap hari dia meluangkan waktunya untuk mengajar puluhan anak – anak pemulung dan tak mampu lainnya mengaji. Dan itu dilakukannya sejak tiga tahun lalu tanpa memungut bayaran sepeser pun dari murid – muridnya. Bahkan dengan tempat dan sarana mengajar yang disediakannya sendiri pula.

Terus terang saya takjub, kagum, bangga, sekaligus “iri” pada Abidah. Sebegitu tulusnya dia mengabdikan hidupnya untuk orang banyak. Di usia nya yang masih begitu muda, di tengah segala keterbatasan yang menjeratnya, dia sanggup berkarya sebesar itu bagi sesama. Siapa bilang harus jadi kaya dulu untuk bisa membantu sesama ? Siapa bilang harus berumur banyak dulu untuk kemudian mau memikirkan nasib sesama ? Siapa bilang harus memiliki gelar sarjana atau master dulu untuk bisa berbagi ilmu ?

Abidah tidak kaya, bayangkan penghasilannya 40.000 seminggu !! Abidah juga masih muda, dia baru 22 tahun, dan sudah memulai karya nya sejak dia berusia 19 tahun ! Abidah juga tidak mengenyam pendidikan tinggi ! Dia bisa kenapa saya tidak ???? Saya yang sarjana dari universitas besar di negeri ini, bahkan masuk 50 besar di dunia. Saya dengan penghasilan yang berpuluh kali lipat dari Abidah. Saya yang berusia 11 tahun lebih tua dari Abidah. Malu saya semalu – malunya sama Abidah. Rasanya Abidah yang saya saksikan di tv tadi pagi itu menggetok kepala saya habis – habisan. Mengingatkan saya yang belum berbuat apa – apa untuk sesama..

Semua cita – cita untuk berkarya bagi sesama yang masih dalam tingkat wacana buat saya itu, sudah menjadi karya nyata seorang Abidah sejak 3 tahun lalu. Saya yang lahir dan dibesarkan oleh keluarga pendidik, memang menaruh kepedulian lebih pada aspek pendidikan. Untuk merubah nasib seseorang dan suatu bangsa adalah dengan pendidikan. Karena pendidikan membentuk pola pikir seseorang. Pola pikir yang baik dan terdidik akan menghasilkan manusia – manusia yang berpikiran terbuka, kritis, dan berwawasan luas, dan terdorong untuk maju dan berkembang. Itulah kunci untuk memperbaiki nasib bangsa ini. Berantas kebodohan dengan pendidikan.

Tapi untuk saya pemahaman itu masih dalam tataran wacana. Padahal saya punya kemampuan lebih dari Abidah. Ya saya punya cita – cita besar untuk memiliki sekolah gratis untuk anak –anak tak mampu. Saya ingin menjadi seorang pendidik suatu hari nanti agar anak - anak Indonesia bebas dari kebodohan dan kedangkalan. Cita – cita yang sangat besar sehingga memerlukan capital besar dan upaya besar pula, yang mungkin baru bisa diwujudkan nanti ketika saya memiliki peran dan posisi penting di negeri ini. Tidak sekarang.

Bandingkan dengan Abidah. Mungkin dia tidak berpikir mempunyai cita – cita setinggi yang saya impikan. Mungkin dia tidak memiliki pemahaman tentang pendidikan seperti yang saya pahami. Tapi lihat apa yang sudah dia lakukan ? Tanpa semua itu dia sudah berbuat dengan segala apa yang dia mampu dan punya saat ini. Betapa mulianya.

Padahal saya punya begitu banyak kemampuan lebih dari yang dimiliki seorang Abidah. Saya bisa mengajar bukan hanya mengaji, tetapi bahasa Inggris, sejarah, ilmu sosial, budaya dan banyak lagi, sebagai hasil dari hobi saya membaca buku, majalah dan browsing di internet. Segala fasilitas yang tentu saja tidak dimiliki Abidah.Tapi Abidah memiliki dua hal yang saya tidak punya. Niat yang tulus dan tekad yang kuat.Dan itu mengalahkan segala keterbatasannya.

Memang semua itu berawal dari niat yang tulus dan tekad yang kuat. Bermodalkan kedua hal itu itu rintangan dan hambatan apapun akan dengan mudah untuk dilalui. Saya hanya pintar ngomong dan menulis, sedangkan Abidah sudah melakukannya dalam diam dan kesederhanaan. Terima kasih Tuhan telah membukakan mata saya dengan sesosok Abidah sebagai pelajaran saya hari ini. Saatnya berkarya nyata untuk sesama, sekarang juga !

Havana In My Mind

Monday, November 27th, 2006

Kalau teman saya seorang penulis buku berkebangsaan Amerika baru saja meluncurkan buku berjudul Jogja in My Mind, maka saya ingin menjuduli posting saya kali ini Havana in My Mind.

Sudah dua bulan berlalu sejak kunjungan saya ke kota itu. Tapi pikiran dan hati saya sebagian masih tertinggal disana. Kota yang meninggalkan kesan yang demikian mendalam di hati dan pikiran saya. Sampai saat ini pun rasanya saya masih merasa bahwa kunjungan saya ke Havana itu hanyalah mimpi, seandainya saya tidak memiliki foto – foto, tulisan, dan email – email korespondensi saya dengan sahabat – sahabat baru saya yang bertugas di KBRI Havana dan tentunya Pak Widodo, yang membuktikan bahwa saya benar – benar mengalami itu semua dalam kehidupan nyata saya.

Catatan perjalanan saya mengenai Havana dimuat di majalah Femina edisi minggu lalu, dengan cover Dian Sastro dalam balutan busana Louis Vuitton. Tulisan itu sudah saya kirimkan awal bulan Oktober lalu, tepatnya dua minggu setelah saya pulang kembali ke Jakarta.

Gara – gara tulisan ini pula, saya bertemu kembali dengan kawan lama saya ketika kuliah di Sastra Unpad. Ternyata editor yang mengedit tulisan saya di Femina itu adalah Veronica, teman seperjuangan saya ketika Opspek di Unpad 12 tahun lalu. What a small world ! Ketika saya ke kantor Femina untuk menyerahkan foto – foto ilustrasi untuk pelengkap tulisan, kami sama – sama surprise saat bertemu. Jadilah semua pertemuan yang seru karena sejak di Unpad 12 tahun itu kami sama sekali tidak pernah bertemu lagi. Kebetulan kami pun berbeda jurusan, Vero di Sastra Inggris sedangkan saya di Sastra Perancis. Kemudian setahun kemudian saya memutuskan pindah ke UGM.

Cerita tentang Havana terus bergulir. Bukan hanya berlangsung di benak saya yang telah demikian melekat, dan meretas rindu di hati yang membuncah untuk bisa kembali mengunjungi dan tinggal lebih lama di kota yang indah itu. Saya jatuh cinta pada dan di Havana. Komunikasi dengan Pak Widodo dan sahabat – sahabat baru saya, Kang Dedi, Kang Iman dan Bu Dina yang bertugas di KBRI Havana tetap berlangsung. Kabar dari Havana selalu update masuk ke inbox alamat email saya, begitupun saya mengupdate berita tentang apa yang terjadi di Jakarta, khususnya kegiatan dari istana, kepada mereka – mereka disana.

Kabar yang membahagiakan datang dari Pak Widodo, yang mengabarkan kalau paspor RI untuk dirinya dan rekan – rekan senasib ex-Mahid sedang dalam proses. Jalur komunikasi yang terbangun antara beliau dan keluarga Bu Widari pun membuahkan sebuah undangan untuk berkunjung ke Indonesia dengan dukungan penuh dari adik Bu Widari yang berada di Jepang, segera setelah Pak Widodo berhasil memperoleh paspor RI. Untuk dapat memenuhi hasrat Pak Widodo bertemu dengan Bu Widari setelah 40 tahun lebih tidak bertemu. Sebuah ending yang manis dan mengharukan.

Kabar lain pun disampaikan Pak Wid berkaitan dengan kisahnya yang dimuat di sebuah media online tersebut, yang mengatakan bahwa dirinya ditawari oleh seorang sutradara kenamaan untuk membuat film tentang kisah dirinya. Juga tawaran dari beberapa teman penulis muda yang katanya tertarik untuk membuat buku tentang kisah hidupnya. Serta tawaran interview eksklusif dari sebuah majalah berita mingguan ternama di negeri ini. Semua tawaran tersebut belum diiyakan oleh Pak Wid. Katanya butuh sebuah komitmen yang kuat untuk bisa mewujudkan itu semua, dan dirinya merasa belum sanggup untuk itu. Saya sangat memahami hal itu. Untuk orang – orang seperti Pak Widodo, komitmen atau janji harus dipegang dan dilaksanakan sepenuh hati. Sekali bilang ya, berarti sebuah janji sudah terucap dan komitmen untuk melaksanakannya dengan baik adalah sebuah keharusan. Seperti yang beliau lakukan atas janji dan komitmen yang telah diucapkannya untuk seorang Widari di Paris 40 tahun lalu. Dan itu pula yang terus dipegangnya sampai sekarang.

Sungguh saya rindu akan Havana dan para sahabat baru saya disana. Havana in my mind. Every breath I take. Every time I turn on my laptop. Every time I go to bed, I have wish to go back to Havana even only in my dream. Sebuah pinta untuk Yang Maha Kuasa, ijinkanlah saya untuk bisa kembali ke Havana suatu hari nanti dalam hidup saya yang sekarang ini. Hasta luego Habana !

Kacamata

Friday, November 24th, 2006

Pertambahan usia ternyata menghadiahkan sebuah alat baru yang harus saya gunakan sebagai penunjang aktivitas saya sehari - hari, yaitu kacamata. Mata kanan saya minus 0,5 dan mata kiri saya 0,25. Officially baru hari ini kacamata baru itu saya kenakan, karena perlu satu minggu untuk membuat kaca yang yang sesuai dengan kebutuhan mata saya.

Buat saya secara lahir, mata saya memang sudah berkurang kemampuannya, sehingga perlu ditopang alat bantu untuk bisa membantunya tetap berfungsi dengan semestinya. Sehingga saya bisa melihat dengan baik dan jelas seperti ketika masih normal, setelah beberapa bulan terakhir ini saya sering mengalami penglihatan yang agak kabur apabila harus melihat jauh setelah saya bekerja dengan laptop atau setelah membaca buku.

Tapi saya merasa kacamata ini bukan hanya sebagai alat bantu yang harus dikenakan mata saya. Saya memaknainya sebagai alat dari Tuhan yang secara simbolis meminta saya untuk "memperbaiki" cara pandang saya tentang hidup yang saya jalani sehari - hari. Dengan kacamata ini sekarang saya bisa melihat dengan kembali jernih dan jelas seperti ketika mata saya masih berfungsi dengan sempurna. Begitu juga cara pandang saya tentang semua hal, saya harus melihatnya dengan pikiran yang jernih, dan hati yang bersih. Sehingga saya tidak terburu - buru menempelkan label sesuatu terhadap apapun dan siapapun. Saya tidak sembrono dalam menyikapi apa yang terjadi. Diendapkan sehingga kepala bisa berfungsi dengan jernih, sejernih pandangan saya dengan kacamata baru saya ini.

Apalagi Tuhan memberkati kacamata untuk digunakan di mata saya ini bertepatan dengan bertambahnya usia saya. Tentu bukan sebuah hal yang kebetulan. Setidaknya sejak saya mempercayai bahwa semua hal yang terjadi ini tidak ada yang kebetulan, tetapi semua sudah disiapkan sedemikian rupa oleh Yang Maha Hidup.

Pertambahan usia diharapkan saya bisa melihat permasalahan dan apapun dengan cara pandang baru, yang lebih jernih, lebih arif dan bijaksana. Ulang tahun bukan berarti pesta meriah, tetapi justru proses evaluasi dan introspeksi ke dalam yang membuat hari - hari selanjutnya lebih bermakna. Bukankah seperti tag dalam sebuah iklan rokok dikatakan, bertambah tua itu pasti sedangkan bertambah dewasa itu pilihan ? Dan saya tidak ingin hanya bertambah tua, tetapi juga bertambah dewasa dan arif. Kacamata baru untuk mata baru, juga pandangan baru untuk hidup baru yang lebih bermakna.

Being 31

Monday, November 20th, 2006

Menapaki usia 30 untuk sebagian besar perempuan ternyata cukup "menakutkan". Ya karena ada perubahan - perubahan fisik yang cukup signifikan. Kulit sudah tidak sekencang dulu, beberapa sudah dihiasi flek yang membuat wajah tidak sesegar dulu lagi. Rambut sudah mulai dihiasi uban beberapa helai. Sudut mata sudah bergaris, bila tersenyum terlihat garis senyum yang cukup tegas. Belum lagi dahi yang mulai menampakan garis - garisnya bila kita sedang berpikir cukup serius.

Itu baru dari penampakan fisik. Belum dari berbagai hal psikologis. Banyak perempuan, terutama yang masih menyandang status lajang, mendapatkan "tekanan" yang cukup berat dari keluarga maupun komunikas sosial untuk segera menanggalkan status tersebut. Masyarakat kita masih cukup usil untuk mempermasalahkan status orang lain. Belum seindividualis masyarakat di barat sana yang menganut prinsip "mind your own business".

Sebuah pertanyaan basi "Kapan nih ( menikah ) ? " menjadi momok yang membuat jengah. Karena selalu dipertanyakan pada setiap kesempatan. Halal bihalal keluarga, arisan teman - teman kuliah, atau menjadi gunjingan para tetangga. Ribetnya hidup di Indonesia.

In fact, banyak yang tidak cukup kuat menghadapi berbagai tekanan sosial tersebut. Sehingga akhirnya berbagai cara ditempuh untuk bisa segera menanggalkan status lajang yang sepertinya menjadi aib yang memalukan itu. Tidak banyak yang beruntung untuk kemudian dengan mulusnya melalui proses perubahan status dari lajang menjadi menikah itu sendiri. Lebih banyak lagi perempuan - perempuan yang menjadi gelap mata dan kurang perhitungan dalam menentukan pilihan. Siapa yang dateng duluan, cek sebentar..ok deh berangkat. Ternyata di tengah jalan banyak ketidakcocokan, akhirnya terjadilah pergantian status lagi dari menikah menjadi janda.

Itu baru untuk satu problem mengatasi tekanan sosial. Problem pertama yang saya tulis diatas, mengenai perubahan fisik, juga membuat banyak perempuan gelap mata. Salon - salon kecantikan menjadi tempat mereka berpacu dengan waktu. Dokter - dokter kulit kelas wahid dengan berbagai krim dan resepnya menjadi ramuan - ramuan ampuh yang diandalkan untuk melawan kehendak alam. Jutaan rupiah digelontorkan dengan mudah demi membeli semuanya itu. Yah itulah manusia. Terlihat muda, segar dan cantik adalah keinginan yang sangat manusiawi bukan ?

Saya sudah memasuki usia yang menakutkan itu tahun lalu. Tanggal 14 November 2006 seminggu lalu , angka 3 sudah ditambah embel - embel 1 dibelakangnya. Ada banyak sms, telpon, dan pesan di friendster yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya. Begitu banyak doa yang dipanjatkan mengikuti ucapan - ucapan selamat itu. Terima kasih dan rasa syukur tak terhingga kepada Tuhan, atas berkah usia hingga hari ini saya masih diberi waktu untuk bisa mengetik blog ini, dan berbagi cerita dengan anda semua.

Terima kasih atas berkah teman - teman yang penuh perhatian dan menyayangi saya. Para sahabat seperjalanan dalam hidup yang berproses bersama saling bertumbuh dan mendewasakan. Para guru tercinta yang selalu menjadi pengingat saya apabila jalan saya sudah mulai keluar jalur.

Tuhan sangat menyayangi saya dengan memberkati hidup saya dengan berbagai ujian untuk menguatkan saya. Berbagai masalah untuk mendewasakan saya. Berbagai kehilangan untuk membuat saya menjadi manusia yang ikhlas. Berbagai keterbatasan untuk membuat saya menunduk dan menyadari keagungan Nya.

Perubahan fisik yang saya alami, saya terima dengan rasa syukur. Saya masih kuat main basket dua game, meskipun nafas saya sudah tidak sekuat 12 tahun lalu ketika saya SMA. Punggung saya sudah mulai sering pegal bila terlalu lama duduk di depan komputer. Mata saya sudah mulai kehilangan kesempurnaannya, karena sudah minus. Meskipun begitu saya yakin saya tidak kehilangan kecantikan saya sebagai perempuan hanya karena fisik saya berubah. Ada kecantikan lain yang memancar dari dalam diri ketika saya berproses menjadi manusia yang ikhlas. Ada keteduhan dalam sorot mata minus saya seiring dengan proses kematangan yang saya alami. Rasa syukur atas semua hal pada hidup saya ini adalah anugerah yang terbesar untuk saya bisa menjalani hidup saya dengan damai.

Tidak perlu saya membandingkan hidup saya dengan para sahabat yang sudah memiliki rumah dan apartemen, mobil mewah, deposito, dan sejumlah pencapaian - pencapaian yang wah dalam ukuran masyarakat umum. Saya percaya setiap manusia memiliki jalannya sendiri - sendiri dalam menapaki hidupnya. Semua ukuran yang meresahkan itu ciptaan manusia sendiri yang kemudian disepakati  masyarakat banyak, sehingga menjadi perangkap yang membuat tidak bahagia.

Saya menikmati perjalanan waktu yang membuat saya menjadi 31 lebih 1 minggu ini. Age just number, nothing to worry about. Saya memilih untuk tidak diperbudak olehnya, tetapi sebaliknya, menikmati setiap detik waktu yang diberikan Tuhan pada saya. Each day has it’s own beauty, depend on how we see it. And last but not least,  Yes I’m 31 so what ?  :)

Selamat Jalan, Mama

Monday, November 20th, 2006

Sabtu sore, 11 November 2006, sebuah sms masuk ketika saya sedang berada di jembatan penyebrangan menuju halte busway Sarinah. Bunyi sms itu “ my mom has gone, I was holding her hand and she past away at.3.30 PM, please give her prayer, thku “. Sms yang menghentikan langkah saya dan kemudian berbalik arah, turun kembali ke Sarinah sambil menelpon kakak saya di Jogja menanyakan kondisi sebenarnya, “ ya mama meninggal barusan Nden, kita masih bingung belum tau kapan dimakamin dan lain – lainnya, begitu kabar dari kakak saya.

Saya langsung mengubah tujuan saya menuju stasiun Gambir untuk kemudian mencari tiket kereta menuju Jogja, malam itu juga. Puji Tuhan, Taksaka malam itu masih menyisakan kursinya untuk saya.

Mama bernama Yuli Puspa Arifien. Beliau memang bukan ibu yang melahirkan saya. Tapi beliau membuat saya seperti terlahir kembali. Saya bukan darah dagingnya. Tapi saya tahu beliau menyayangi saya seperti salah satu anaknya sendiri. Mama mengajari saya banyak hal. Hal – hal mengenai keperempuanan. She’s good in woman things. Mama pintar menjahit, menata rumah, berkebun, memasak, membatik dan hal – hal domestik lainnya.She has a good taste of art. Tak heran kalau anak – anak mama juga mewarisi bakat seni. Malah salah satu kakak saya menjadi seniman dengan karya – karyanya yang sangat indah dan bernilai tinggi.

Mama introvert person, beliau tidak banyak berkata – kata. Beliau lebih banyak menuangkan ide – ide nya dalam bentuk karya. Beliau menunjukkan kasih sayangnya pada orang – orang di sekitarnya dengan banyak cara selain kata – kata. Mama perempuan kuat dan tabah. Perjalanan hidup yang telah dilaluinya penuh badai. Tetapi hidup yang sulit tidak melemahkannya, tapi sebaliknya membuat dia bertahan, berjuang dan berhasil membangun semuanya kembali berdiri tegak. Mama memang perempuan hebat. Dari mama saya belajar untuk tidak pernah menyerah menghadapi sesulit apapun kondisi yang saya alami.

Pertemuan terakhir saya dengan mama berlangsung dua bulan lalu, sepulang saya dari Kuba. Saya langsung terbang ke jogja sehari setelah saya tiba kembali di Jakarta dari penerbangan panjang dari Havana. Tujuan saya adalah untuk bertemu mama dan papa.

Lama sekali saya tidak bertemu mereka setelah begitu banyak hal yang terjadi. Saya datang karena rasa rindu yang demikian membuncah. Sekaligus ingin membuat mama lega dan bahagia, bahwa beliau tidak perlu mengkhawatirkan saya lagi. Saya baik – baik saja dan melanjutkan hidup saya dengan baik. Dan saya tidak sendirian. Saya tahu beliau sangat menyayangi saya dan begitu mengkhawatirkan keadaan saya setelah semua hal yang terjadi. Saya memang pernah hancur berkeping – keping, ketika semua impian dan rencana yang terbangun berantakan dalam sekejap. Ya, rencana manusia sangat rapuh. Tapi belajar dari mama juga yang akhirnya membuat saya tidak berlama – lama dalam keterpurukan saya. Saya kembali bangkit melanjutkan hidup saya dan menata ulang semuanya dalam hitungan bulan.

Saat itu mama surprise sekali dengan kedatangan saya yang memang sengaja dirahasiakan darinya. Saya tiba – tiba muncul di kamarnya. Mama begitu terkejutnya sampai beliau menangis karena bahagia. Kami pun berpelukan dan menangis bersama. Mama berbisik di telinga saya “ I miss you so much “.

Saya bercerita pada mama perjalanan – perjalanan saya ke berbagai kota dan ke luar negeri. Saya membawakannya oleh – oleh sandal Vincci dari Malaysia, dan cerutu untuk papa dari Kuba. Beliau senang sekali mendengar saya bisa bepergian kemana – mana. She’s so happy to see me. Especially when she knows that I’m fine with my life. Saya menegaskan kepada beliau bahwa semua yang telah terjadi bukanlah kesalahan beliau, atau siapapun. Itu adalah kehendak Tuhan atas hidup yang harus saya jalani. Bagian dari perjalanan hidup saya yang memang tidak terelakan. Manusia hanya bisa berencana. Tapi Tuhanlah yang Maha Berkehendak.

Saya harus mengatakan ini karena saya tahu mama begitu merasa bersalah terhadap apa yang terjadi terhadap saya. Beliau sering menangis ketika keluarga menyebut nama saya pada masa – masa itu. Beliau memang sangat sensitif perasaannya. Berulangkali mama mengatakan bahwa beliau sangat mengerti apa yang saya rasakan dan beliau sangat bersimpati, tapi beliau memang tidak bisa melakukan apapun untuk mencegahnya. Memang tidak ada yang bisa mencegah hal itu untuk terjadi. Karena memang tidak perlu dicegah, skenario bikinan Tuhan memang yang terbaik. Tak ada yang bisa mencekalnya untuk bisa tayang. Dan itulah yang terjadi.

Saya merasa sangat lega, misi saya untuk membuat beliau bahagia dan terlepas dari beban rasa bersalah terlaksana sudah. Beliau tahu saya baik – baik saja, berbahagia dengan hidup baru saya, pekerjaan saya, apa yang saya jalani di Jakarta. Saya sudah mengira bahwa itu akan menjadi pertemuan saya terakhir dengan beliau. Ya keadaannya sudah memburuk memang belakangan ini. Penyakit myastiniagrafis yang menggerogotinya empat tahun terakhir memang semakin membuat tubuhnya lemah. Maka dari itu saya merasa harus segera menemuinya sepulang saya dari Kuba. Terima kasih, Tuhan masih memberikan saya kesempatan saya untuk bertemu beliau dan menyampaikan itu semua untuk membuatnya merasa lebih baik dan bahagia di hari – hari terakhirnya. Kalau tidak saya akan menyimpan rasa bersalah yang berkepanjangan atas hal – hal yang belum tersampaikan kepadanya.

Saya sedih, tapi sekaligus saya lega. Dalam doa yang saya panjatkan. Saya hanya mohon yang terbaik untuk mama. Tuhan berilah mama yang terbaik. Apabila mama memang masih diberi kesempatan untuk berkarya di dunia, maka berilah beliau kesehatan. Tapi apabila waktunya sudah habis, maka yang terbaiklah untuk mama. Ternyata Tuhan memutuskan untuk memanggil mama pulang pada hari ini. Dan saya yakin itulah yang terbaik. Mama terlepas dari penderitaan panjangnya yang membuat beliau tergantung akan begitu banyak obat yang semakin melemahkan tubuhnya, dan peralatan medis yang membantunya untuk tetap bertahan.

Mama, saya ikhlas mama pulang ke rumah Tuhan, meskipun saya akan gak akan mendengar lagi sapaan “Nenden mau makan apa ? “ Dan tidak akan ada lagi baju baru buatan mama untuk saya. Selamat jalan Mama, doa saya mengiringi Mama selalu. I miss you too Ma, terimakasih untuk semua cinta dan kasih sayang mama selama ini. I love you Mom. Semoga mama bahagia di rumah Tuhan sekarang ya Ma..

Hidup Yang Penuh Kejutan

Friday, November 10th, 2006

Teman saya dalam tag blog nya mengatakan blognya berisi tentang dunia yang semakin tua dan hidup yang penuh kejutan. Saya sangat setuju dengan bagian yang terakhir. Hidup yang penuh kejutan. Dia juga menggambarkan hidup itu seperti kita mengendarai mobil di jalan yang penuh tikungan. Hidup memang seperti kita menyetir mobil. Ketika sedang ngebut dengan enaknya, tiba - tiba ada lubang di jalan yang tidak kita lihat, dan kita tidak sempat mengarahkan setir mobil untuk menghindarinya. Terjadilah goncangan yang mengagetkan, seberapa besar dampak goncangan yang terjadi, tergantung dari kecepatan yang sedang dipacu sebelumnya. Makin dalam kaki menginjak pedal gas, makin kuat dampak goncangan yang kita rasakan. Masih untung kalo kemudian tidak mengakibatkan mobil menjadi oleng dan membanting ke kanan atau ke kiri. Hal itu bisa menyebabkan kecelakaan yang fatal, kalau saat itu jalanan sedang ramai dengan kendaraan - kendaraan yang juga melaju dengan kencang.

Itu baru cerita tentang lobang di jalan, belum jalanan yang tiba - tiba menikung tanpa kita mengetahuinya. Misalnya karena kita baru pertama kali melewati jalan tersebut sehingga tidak familiar dengan kondisinya. Atau ada kucing yang menyebrang dengan mendadak, dan kita yang kaget harus menghindarinya dengan tiba - tiba.

Teman saya si pemilik blog juga baru saja mengalami kejutan yang tidak mengenakan dalam hidupnya. Minggu lalu dia baru saja mengalami kecelakaan, tepatnya ditabrak motor yang menyebabkan si penunggang motor meninggal karena setelah mental menabrak mobil teman saya itu, tertabrak taksi.. Meskipun dalam posisi sebagai yang ditabrak, teman saya sempat menginap di kantor polisi, di tersangka kan, dan mobilnya ditahan di kantor polisi. Benar - benar kejutan yang tidak menyenangkan bukan ?

Yah begitulah hidup. Siapapun yang menjadi manusia yang sedang hidup saat ini tak lepas dari kejutan. Kejutan menyenangkan, menyedihkan, selalu membuat kita yang mengalaminya terkaget - kaget. Dan namanya juga orang kaget, seringkali kita kehilangan keseimbangan dan kontrol diri. Terjadilah berbagai akibat fatal sebagai dampak dari kedua hal terakhir itu.

Sekarang bagaimana caranya untuk bisa mengendarai mobil kehidupan kita dengan tetap in control menghadapi kondisi apapun ? Menurut saya untuk bisa seperti itu memerlukan sebuah proses yang cukup panjang dan pembelajaran dari berbagai pengalaman yang dilalui. Gak ada yang instan. Meskipun memahami konsep ngelumrahi dan ilmu kasunyatan yang diajarkan oleh begawan guru saya dari padepokan Baciro, tetap saja saya merasa kesulitan ketika harus mengimplementasikannya dalam kehidupan yang saya jalani.

Saya masih tetap sering terkaget - kaget menghadapi berbagai kejutan dalam hidup saya. Hari ini saya diberi kejutan menyenangkan, besok diberi kejutan menyedihkan, lusa kejutan yang membuat jengkel, hari berikutnya kejutan yang membuat saya frustasi, dan memahami konsep fundamental tersebut bukan berarti otomatis bisa praktek. Uh susahnya ! Saya masih sering kehilangan kontrol ketika menghadapi kejutan - kejutan itu. Menjadi terlalu senang atau terlalu sedih, sangat bersemangat atau sebaliknya frustasi berat. Biasa - biasa aja kenapa sih ?Saya sangat ingin bisa seperti itu. Menjadi datar dan menanggapi apapun yang terjadi dengan biasa - biasa saja seakan memang hal - hal itu ya memang sudah seharusnya terjadi sehari - hari, seperti matahari yang terbit di timur dan bukan di barat.

Seringkali proses pembelajaran itu terasa menyakitkan buat saya. Saya sebagai manusia yang terbiasa ekspresif, menjadi sangat kesakitan ketika harus menahan dan mengendalikan luapan ekspresi tersebut sebagai respon atas berbagai kejutan itu. Entahlah, kapan saya bisa menjadi si manusia biasa dan datar itu. Perjalanan waktu bertahun - tahun melalui berbagai hal yang mengejutkan ternyata hanya sedikit saja membantu saya menjadi lebih in control I have to try harder, and learn more and more.. Masih beginner banget ternyata.

Saya mau meminggirkan kendaraan kehidupan saya sejenak. Berhenti dan menghela nafas sejenak, minum untuk melepas dahaga dan makan sedikit untuk mengembalikan energi yang terkuras sepanjang perjalanan yang melelahkan. Setelah kondisi tubuh sudah pulih dan otak sudah bisa diajak mikir lagi, saya ingin membuka peta perjalanan dulu untuk mempelajari rute perjalanan menuju tempat yang saya tuju. Mungkin ada perubahan rute atau ada tambahan tempat yang akan saya kunjungi, setelah semua siap, saya akan kembali ke mengemudikan kendaraan saya dengan kondisi yang sehat lahir batin, dan siap menghadapi berbagai kejutan lagi di jalanan. Semoga kali ini saya gak kagetan lagi  menghadapi apapun yang akan muncul di perjalanan saya..

Mau ikutan jalan sama saya ? Yuk…kita ketemu di shelter berikutnya ya :)

Mabuk

Wednesday, November 8th, 2006

Anda pernah merasakan mabuk ? Mabuk naik kendaraan darat, mabuk laut, mabuk udara ? Gimana rasanya ? Gak enak kan ? Perut serasa diaduk - aduk, mual ingin mengeluarkan isinya, kepala pusing, badan lemas. Pokoknya badan dibuat serasa tidak berdaya. Gak heran kalo sebuah pabrik farmasi perlu mengeluarkan antimo sebagai obat anti mabuk, meskipun komposisi obatnya ( kalo gak salah ) cuma obat yang bikin kita tidur nyenyak sepanjang perjalanan. Nah karena kita dibuat tidur, jadi mana bisa kita mabuk ? hehehe pinter juga ini pabrik obat ya :)

Tapi selain mabuk karena perjalanan, mungkin anda juga pernah merasakan mabuk - mabuk yang lain ? Misalnya mabuk karena minuman alkohol, mabuk ganja, dan mabuk narkoba ? Hayo ngaku aja kalo pernah, nggak apa - apa kok. Namanya juga anak muda seringkali penasaran pengen nyoba hal - hal yang nyerempet bahaya buat uji nyali. Tapi kalo terus kebablasan ya bodoh namanya hehehe..piss ah no offense buat para pemabuk.. Kalo mabuk yang jenis ini namanya mabuk yang disengaja alias diniatin. Gimana gak diniatin, kalo untuk bisa merasakan keadaan mabuk itu mesti keluar uang sekian ratus ribu bahkan jutaan rupiah ? Mengapa ? Karena merasa perlu mabuk atau memang sekadar pengen, atau mungkin yang sudah tahap lanjut yang memang harus mabuk terus - terusan karena kalo nggak mereka akan sakaw.

Mengapa ? Karena dengan berada dalam kondisi mabuk, mereka bisa lari sejenak dari realitas yang dihadapi, dari beban pikiran. Dengan menjadi mabuk juga mereka akan "dimaklumi" apabila berbuat tidak sopan, di luar kelaziman. Pertama karena memang yang bersangkutan tidak sadar sepenuhnya dengan apa yang dia katakan atau lakukan, sehingga cuek bebek bebas lepas tanpa kontrol, dan orang lain yang berada disekitarnya juga akan bersikap lebih permisif, meskipun merasa terganggu. Itulah privilege jadi orang mabuk. Makanya gak heran kalo banyak orang yang senang mendapat privilege ini sehingga pengen mabuk terus hehehe.

Tapi berapa lama kita bisa "lari" dari kenyataan ? Sejam - dua jam ? Sehari, dua hari ? Dan setelah itu apa ? Kepala pusing, badan rasanya sakit semua, perut mual, lemas, tidak berdaya, tidak bisa berpikir, dompet bolong, perasaan makin tak karuan. Jadi ? Apa yang didapat dengan menginvestasikan ratusan ribu bahkan jutaan rupiah itu pada diri kita ? Apakah akan merubah kenyataan yang sedang dihadapi ? Tidak bukan ? Hidup kita bukan seperti kita memutar film yang bisa kita ganti kepingan DVD nya setiap kita tidak merasa cocok dengan alur cerita yang ditayangkan. Atau kita ulangi terus adegan yang kita sukai, percakapan yang menyenangkan, dan kita skip adegan yang menyedihkan atau membuat kita sebal.. Hidup kita sayangnya tidak bisa direwind dan di fast forward, bahkan diganti dengan tema cerita yang lebih menyenangkan. Semua harus dijalani suka atau tidak, mau atau tidak.

Ada jenis mabuk lagi yang tak kalah membahayakannya bagi si pelaku. Yaitu mabuk cinta, mabuk harta dan mabuk kekuasaan. Mengapa saya katakan lebih berbahaya ? Karena para pelakunya seringkali tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalaminya. Namanya orang mabuk, ya tetaplah dalam kondisi tidak sadar. Tidak sepenuhnya menyadari apa yang dirasakan, apa yang dilakukan, apa yang diputuskan, dan apa yang sedang terjadi di sekeliling. Semua merasa sedang diatas angin, dunia berada dalam genggaman, yang lain ngontrak alias gak perlu dipedulikan keberadaan, pikiran, dan perasaannya, yang penting saya happy.

Kondisi mabuk seperti membuat pelakunya kehilangan kewaspadaannya. Tindakan yang dilakukan reaktif karena memang berasal dari pikiran yang ngawur. Dikiranya keadaan akan terus - terusan seperti itu. Bahwa seluruh dunia akan selalu berpihak padanya. Dunia sangat indah dalam pandangannya yang ditutupi oleh kabut imajinasi. Biasanya baru sadar ketika keadaan sudah berubah, dan biasanya lagi itu sudah terlambat untuk diperbaiki. Bukankah hidup tidak bisa direwind dan tindakan maupun keputusan yang sudah diambil tidak bisa diralat dengan hanya memencet tombol ctrl dan Z pada kibor laptop ?

Namanya juga orang mabuk, mana inget kalo hidup itu seperti roda yang berputar. Kadang diatas, kadang disamping, kadang di bawah, dan ketika sedang berada di bawah roda tiba - tiba menjadi macet atau gembos, sehingga kesulitan untuk berputar ke atas lagi, jadi kita akan berada di bawah pada waktu yang lamaaaaa. Menguji sejauh mana daya tahan dan daya juang kita untuk melanjutkan kehidupan. Ya begitulah manusia, kalo nggak pelupa namanya juga manusia. Lupa kalo bentuk ujian itu bukan hanya berupa penderitaan dan kesulitan, bahwa kesenangan, kekuasaan, cinta, harta dan kebahagiaan itu juga adalah format lain dari ujian Nya. Adakah kita sadar ?  Semoga anda tidak sedang mabuk ketika membaca blog saya ini, meskipun saya agak sedikit mabuk ketika sedang mengetik tulisan ini. Mabuk cinta hahahaha…Tapi saya sadar kok, kalo saya sedang mabuk ( cinta ), makanya saya bisa menulis posting ini untuk anda baca :)

Bosan Tingkat Tinggi

Wednesday, November 8th, 2006

Sudah lama saya tidak posting tulisan baru di blog ini. Tadi saya "ditagih" oleh adek virtual saya di Jogja yang katanya menunggu tulisan baru saya, karena menurutnya tulisan saya di blog ini menjadi salah satu sumber inspirasinya.

You’re too much dek Vic..tulisan saya biasa aja, hanya rangkaian kata - kata dari seseorang yang ingin berbagi berbagai keresahan hati dan letupan - letupan pikiran, serta sekali - kali hasil permenungan dalam diam sunyi nya. Kalau itu kemudian dianggap bisa memberi inspirasi ah senangnya itu hanya Dia yang berkehendak menggunakan saya sebagai alat-Nya.

Saya sedang mengalami kebosanan tingkat tinggi. Bosan sebosan - bosannya. Mungkin bosan hidup juga. Entahlah. Saya merasa semua berjalan begitu - begitu saja, rutinitas biasa. Saya merasa energi saya masih tersisa banyak, tapi saya buntu akan saya buang kemana energi yang berlimpah ini. Saya merasa ide - ide saya tidak mendapatkan tempat yang tepat untuk dijadikan sebuah karya nyata yang bisa bermanfaat. Dan ujung - ujungnya saya merasa frustasi. Tidak berguna. Daya kritis saya menjadi bumerang. Kemampuan analisa saya dengan paksa harus ditumpulkan oleh keadaan. Saya bukan manusia yang terbiasa duduk diam dengan manis, ketika saya tahu di depan saya ada banyak hal yang harus diperbaiki, dan saya bisa melakukannya pada kapasitas saya saya ini.

Tapi apa daya ketika saya harus menghadapi kenyataan bahwa kapasitas saya hanya setitik air tak berguna di lautan luas. Saya tidak berdaya di lautan maha luas nan ganas ini. Saya hanya punya dua pilihan. Ikut mengalir bersama sang laut atau memilih menguap bersama matahari, menjadi awan untuk kemudian turun menjadi hujan. Dan semoga saya menjadi air  hujan yang diturunkan di daerah tandus, yang sudah lama kekeringan. Sehingga setetes air seperti saya akan sangat berguna bagi kelanjutan hidup mahluk hidup disana. Dan saya pun merasa bahagia karena telah berguna bagi semua mahluk. Waktu dan energi saya tidak sia - sia. Kehadiran saya di dunia tidak hanya untuk menambah angka statistik penduduk dunia, dan mengotori bumi dengan limbah. Saya hidup karena saya harus berkarya untuk sesama sebagai bagian dari misi saya sebagai manusia yang mencintai Tuhannya sang Maha Pemilik Kehidupan.

Saya sedang menanti jawaban Nya, kemana saya harus membaktikan hidup saya setelah ini. Karena saya mencintai kehidupan seperti saya mencintai kematian itu sendiri.

Quote of the day

Friday, November 3rd, 2006

Saya menemukan quotation bagus hari ini di harian Seputar Indonesia (03/11) dari Jalaludin Rumi seorang sastrawan sufi dari Persia yang hidup pada abad ke-13.

Begini katanya :

" Logika itu tak berdaya dalam mengeskpresikan cinta. Hanya cinta sendiri yang mampu mengungkap kebenaran dan kesejatian diri sang pencinta "

Hmm masih absurd buat saya..belom bisa memaknainya dengan utuh. Masih butuh waktu untuk bisa memahami dan merefleksikannya dalam hidup yang sedang saya jalani.