Rencana Manusia
Monday, November 27th, 2006Bulan november hampir berakhir, dalam beberapa hari ke depan sudah akan masuk bulan desember. Bulan dalam urutan terakhir setiap tahunnya. Pada bulan ini biasanya kesibukan terasa lebih. Para petinggi perusahaan dimanapun sibuk dengan evaluasi akhir tahun, dan perencanaan tahun depan. Begitu juga dengan para karyawan yang deg - degan menunggu bonus akhir tahun, dan jatah cuti tahunan yang akan diambil untuk menghabiskan akhir tahun bersama orang - orang tercinta.
Saya bukan termasuk kedua kategori diatas. Tetapi saya memang selalu menggunakan momen akhir tahun untuk mengevaluasi diri saya sendiri. Apa saja yang sudah saya lalui tahun ini, mana yang perlu diperbaiki, dan mana yang perlu ditingkatkan. Tidak ada salah dan benar. Tidak ada baik dan buruk. Memang itulah adanya. Semua yang sudah terjadi memang menjadi suratan sebagai hal yang memang harus saya jalani tahun ini.
Setiap manusia rasanya menginginkan hal yang lebih baik. Sangat manusiawi. Ingin lebih baik, lebih banyak, lebih besar, lebih tinggi, lebih luas, lebih dan lebih..Begitu juga saya. Saya ingin menjalani hidup saya dengan lebih baik. Sarana penunjang hidup yang lebih nyaman. Lingkungan kerja maupun tinggal yang lebih baik, kehidupan personal yang lebih baik, begitu juga kehidupan profesional dan spiritual yang lebih meningkat juga kualitasnya.
Meskipun saya sangat paham bahwa rencana manusia sangatlah rapuh, tapi bukan berarti mengubah kebiasaan saya untuk merencanakan apa yang saya ingin lakukan dan raih di tahun yang baru. Berencana dan berupaya adalah hak manusia. Sedangkan hasil adalah otoritas Yang Maha Berkehendak. Setelah berencana, dan kemudian berupaya, selanjutnya yang harus kita miliki adalah keikhlasan menerima apapun hasil yang diberikan-Nya atas segala rencana dan upaya yang telah kita lakukan.
Beberapa sahabat berbagi cerita tentang rencana - rencana mereka di tahun yang baru. Begitu juga saya sudah merancang berbagai hal yang ingin saya lakukan di tahun yang baru. Harapan begitu membuncah dan menjadikan saya begitu bersemangat menjalani hari - hari saya belakangan ini. Hopes and dreams are boosting my spirit and creativity up to the sky. Begitu banyak asa dan cita yang ingin saya wujudkan tahun depan.
Merencanakan sesuatu, memiliki harapan, dan membangun mimpi adalah hal yang positif. Membuat manusia menjadi bersemangat karena memiliki tujuan dari apa yang dilakukannya. Setidaknya itulah yang saya rasakan. Saya adalah manusia pemimpi. Like I always said to my friends I’m a dreamer and those dreams keeps me alive. Ya mimpi - mimpi itulah yang membuat saya bertahan sampai sekarang. Mimpi - mimpi besar saya untuk menjadi orang besar suatu hari nanti, dengan kontribusi sebesar-besarnya untuk manusia dalam jumlah yang besar. Hidup besar deh pokoknya
Tapi seiring dengan berjalannya waktu, pengalaman jatuh bangun yang saya alami, saya semakin memahami bahwa harapan itu memang bisa menjadi pembantu atau penguasa manusia. Harapan bisa membantu kita untuk melakukan yang terbaik, berupaya keras, dan bersemangat, tetapi apabila kita salah mengelolanya, harapan akan menjadi penguasa dan kita akan menjadi budaknya. Harapan yang begitu tinggi, rencana yang rasanya telah sangat matang diolah, seringkali membuat manusia lupa diri. Lupa bahwa hasil adalah bukan otoritas kita. Ketika hasil yang terjadi kemudian tidak sesuai harapan dan perencanaan, kita kecewa, frustasi, ambruk dan terpuruk. Harapan telah berhasil memperbudak kita.
Akhir tahun ini pun sama seperti akhir tahun - akhir tahun yang saya lewati sebelumnya. Saya membuat laporan tahunan dan perencanaan tahun baru untuk diri saya sendiri. Tapi kali ini dengan tambahan, bahwa saya harus meningkatkan kehati - hatian dan kewaspadaan agar saya tidak dikuasai oleh harapan yang membumbung tinggi. Saya belajar untuk menjadi legowo dan ikhlas, bahwa rencana saya hanyalah rencana manusia yang rapuh. Bahwa ada kekuatan sangat besar diluar sana yang memiliki otoritas penuh untuk melakukan apapun yang dikehendaki-Nya. Sesuai atau tidak dengan perencanaan yang saya buat Dia mana peduli.
Saya ingin mengutip buku indah yang baru saja selesai saya baca, dari rumah perenungan ke-20 nya Gede Prama, Kebahagiaan Yang Membebaskan, kurang lebih begini, berusaha dan bekerja lah tetapi bebaskanlah diri kita dari keterikatan hasil. Bagian ini dikupas tuntas pada section pembahasan mengenai "Bebas dari Harapan". Karena banyak harapan yang bukannya menjadi drive yang positif, tapi malah bikin manusia jadi edan. Keblinger. Nggak mau melihat kenyataan bahwa harapan itu tidak membumi, tidak realistis.
Sedangkan disisi lain, banyak manusia yang dibenturkan pada kenyataan bahwa harapan mereka tidak terwujud seperti yang diinginkan, menjadi frustasi dan kecewa berkepanjangan. At the end mereka menjadi takut untuk memiliki harapan dan malas berusaha. Mutung istilah jawanya. Ngapain capek - capek kerja keras, berusaha, membangun mimpi dan harapan, hasilnya juga gak ada, selain kecewa. Akhirnya mereka memilih diam dan tidak melakukan apa - apa. Lagi - lagi harapan berhasil menguasai mereka, dengan "memadamkan" api semangat di diri mereka.
Terus terang saya juga capek mengalami kekecewaan dan merasa frustasi. Ketika menyaksikan dan mengalami sendiri berbagai harapan yang dirajut, mimpi yang dibangun dengan susah payah, rencana yang disusun dengan matang, runtuh berguguran tanpa kita bisa berbuat apa - apa untuk mencegahnya. Saya juga manusia biasa yang merasakan sedih yang mendalam, sejenak kehilangan arah, dan seringkali kehilangan kontrol diri dalam menghadapi situasi seperti itu. Tapi memang tidak ada resep jitu apapun untuk menjamin bahwa setiap harapan dan rencana yang kita susun akan terwujud seperti yang kita inginkan. Emangnya kita udah naik pangkat jadi Tuhan ?
Satu - satunya hal yang bisa kita lakukan adalah dengan menumbuhkan rasa ikhlas. Menjadi manusia ikhlas menerima apapun yang diberikan sebagai hasil dari keputusan Yang Maha Memutuskan. Rencana apapun yang kita susun, upaya apapun yang kita lakukan, kemudian lengkapi dengan sepotong keikhlasan akan menerima hasil yang didapat kemudian.
Alangkah enaknya hidup kalau sudah bisa mencapai titik ini. Kita tidak kehilangan semangat dalam berusaha, tidak ketakutan dalam memiliki harapan dan membangun mimpi. Tapi kita juga tidak dihantui oleh kekecewaan akan hasil yang tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Damai. Tentram. Bahagia. Jauh dari setan stres dan depresi. Lakoni wae urip ki sing penak..Begitu kata salah seorang guru saya.