Archive for December, 2006

New Year = New Paradigm

Sunday, December 31st, 2006

Jarum jam berdetik seperti biasanya. Tapi saya merasakannya begitu berbeda saat ini. Beberapa jam lagi tahun akan berganti. Tahun 2007 sudah di depan mata. Banyak orang yang berpesta di luar sana. Di hotel berbintang, cafe, di rumah, ataupun berkumpul bersama teman dan keluarga di tempat liburan.

Entah kenapa saya memilih untuk sendiri. Ya saya hanya ingin sendiri saat ini. Saya di kantor meskipun pekerjaan sudah selesai. Saya menikmati suasana sepi kantor ini. Bahkan menghindari kemeriahan di mana pun. Saya ingin sekedar duduk dan menikmati jalannya detik - detik jarum jam menuju angka 00.00.

Pantry Bina Graha masih menjadi tempat saya duduk hingga saat ini. No Me Ames menemani saya disini. Saya sedang ingin mengenang sejenak saja apa yang terjadi dalam hidup saya dalam tahun 2006 ini. Tahun yang penuh keajaiban. Saya tiba - tiba pindah ke Jakarta (lagi). Jadi wartawan ( lagi ). Bisa ngantor di Istana Presiden. Bisa travel ke banyak tempat di Indonesia maupun beberapa negara asing. Dari yang paling deket seperti Brunei, sampai yang jauh banget seperti Kuba. What a life !

Saya nggak pernah menyangka perjalanan hidup saya akan berbelok sejauh ini. Tapi itulah rencana Tuhan yang tidak pernah diketahui manusia. Hidup ini memang misteri. Berbagai godaan untuk tempat yang "terlihat" lebih baik, tapi untunglah saya memutuskan sampai hari ini untuk tinggal. Dan tanggal 2 januari 2007 besok untuk pertama kalinya saya merayakan tanggal yang sama di kantor yang sama. Anda mungkin berpikir saya gila. Tapi ya memang saya kutu loncat bener. Pernah dalam satu tahun saya pindah tempat kerja 3 kali. Saya benar- benar pembosan. Atau mungkin saya frustasi ketika saya tidak pernah berhasil menemukan suasana kerja seperti yang saya dapat ketika di detikcom, dan bos seperti Bdi dan DN.

Kehidupan personal saya juga sungguh ajaib. Pernah menetapkan tanggal pernikahan, kemudian batal, semua hal terjadi dengan cepat berputar 180 derajat. Saya benar - benar diuji. Dan rasanya saya berhasil melewatinya meskipun tidak 100% mulus. Saya masih berdiri tegak dengan sehat walafiat hingga saat ini saja rasanya hal yang patut disyukuri. Semua sahabat yang mengikuti perjalanan saya semua mengakui bahwa saya kuat. Alhamdulillah semua karena berkat-Nya, dan tentu saja dukungan para sahabat yang ada di sekeliling saya.

Hal lain yang menjadi blessing in disguise, saya menemukan "bakat" menulis saya karena kejadian ini juga. Ternyata menulis jadi medium katarsis dan cara saya untuk heal my self. Saya menemukan keasikan baru dengan menulis. Apalagi ternyata tulisan - tulisan saya diapresiasi dengan baik oleh teman - teman yang membaca. Sampai tadi malam ada sms yang masuk dari sebuah nomer yang tidak saya kenal, berkata "Happy New Year Writer". O geez I Love that word "writer". That’s my dream to be. A Writer. Real writer yang tulisan - tulisannya bisa menginspirasi banyak orang. menyentuh banyak hati, dan menggedor isi kepala banyak orang, untuk kemudian menggugah orang untuk berbuat sesuatu to make themselves become a better person, and do things for other people.

Perjalanan saya ke banyak daerah membuka mata saya mengenai banyak kehidupan. Begitu banyak daerah di Indonesia yg masih terbelakang. Begitu banyak orang yang masih kekurangan. Perjalanan saya ke berbagai negara membuka wawasan saya tentang budaya dan cara pandang mereka. Dan Kuba "merubah" hidup saya. Tak usah berpanjang - panjang saya bercerita, rasanya sudah banyak kisah tentang Havana di blog saya ini. That was another lesson for me yang sangat saya syukuri.

Tuhan memberkati hidup saya di Tahun 2006 dengan begitu banyak kejutan untuk membuat saya tidak lebih sering kagetan lagi. Untuk saya bisa hidup di dunia nyata dengan penuh. Seperti guru saya katakan mengenai ilmu kasunyatan. Ilmu tentang kenyataan. Ketika kita memahami dan mempraktekannya, kita tidak akan pernah menjadi manusia yang kagetan lagi. Bahwa hidup ini memang begini adanya. Kalau menghadapi kesedihan ya sedih biasa saja, ketika mengalami kegembiraan ya gembira biasa saja. Karena semua fana. Akan berlalu. Dan semua hanyalah soal rasa dan pemaknaan sebagai hasil dari permainan pikiran semata.

Tahun 2007 dikatakan banyak orang sebagai tahun yang baik. Tahun China nya babi api. Katanya bagus untuk masalah ekonomi dan keuangan. Untuk scorpio sendiri dikatakan to live like a king is not a dream anymore, hahaha geez really ? Saya hanya ingin menerbitkan buku saya dan pergi ke Havana lagi..Kepengen boleh dong :)

Karena berbagai prediksi itu mengatakan hal - hal yang baik tentu saja saya percaya hehehe..Semoga memang tahun 2007 ini menjadi tahun yang lebih baik untuk semua orang. Saatnya menata hidup baru yang lebih baik, dan akan lebih tepat bila kita memulainya dengan menggunakan paradigma baru dalam menjalani tahun baru ini.

New year means new paradigm. Ya itulah setidaknya harapan saya sendiri. Karena paradigma baru bukan hanya perubahan perilaku dan sikap, tapi lebih mendasar lagi, yaitu cara kita melihat sesuatu. Dan dari situlah akar perilaku dan sikap kita berasal. Kita bersikap, berkata - kata dan berbuat berdasarkan bagaimana cara pandang kita terhadap sesuatu. Sangat fundamental. Saya baru saja membaca buku Steven Covey yang berjudul 7 habits of highly effective people itu soalnya. Entahlah kenapa saya baru tergerak untuk membacanya sekarang, bukan dari dulu - dulu. Padahal umur buku itu sudah lama sekali. Mungkin memang baru waktunya sekarang saya membaca buku ini. Mungkin kalau dulu saya baca saya tidak akan mendapatkan apa - apa dari buku itu, karena wawasan saya belum terbuka, hati saya belum tergerak untuk memahami. Entahlah, yang jelas saya percaya segala sesuatu terjadi pada waktunya.

Dan sekarang waktunya saya untuk pamit. Ini tulisan saya terakhir di tahun 2006. Sampai bertemu di tahun 2007. Terima kasih untuk segala atensi dan apresiasi dalam berbagai bentuk atas semua posting diblog saya ini. Ada comment langsung di tiap posting, ada sms, ada telpon, ada email, ada testimonial, ada message, bahkan komentar - komentar "mengagetkan" ketika bertemu langsung. Ternyata yang baca blogs saya ini banyak juga, gak hanya yang rajin posting comment :)

Mohon doa restu semoga cita - cita saya menerbitkannya dalam sebuah buku kecil yang simpel, bisa terwujud. Saya ingin bisa "berbicara" dengan lebih banyak orang.  Bukan hanya dengan mereka yang memiliki kemampuan untuk mengakses internet.

Selamat Tahun Baru, semoga semangat baru dan visi baru menemani perjalanan anda sepanjang Tahun 2007. Good Luck, GBU !

No Me Ames

Sunday, December 31st, 2006

Lagu-nya J.Lo sama Marc Anthony ini sama sekali bukan lagu cinta yang indah. Lirik lagi ini bener - bener sedih, mengenai cinta dua anak manusia yang terhalang tembok perbedaan. Sama sekali bukan lagu dua anak manusia yang jatuh cinta di negeri yang jauh dari tanah airnya. Tapi entahlah lagu ini jadi theme song perjalanan kami menyusuri kota Havana.

Again this is about Havana. Tadi pagi waktu chat di YM saya "bertemu" dengan Mbak Dina, staf di KBRI Havana yang sangat membantu kami waktu disana. Beliau mengabarkan bahwa acara pameran pengusaha Indonesia bulan November lalu berlangsung sukses. Produk Indonesia laris manis. Maka beliau pun berencana untuk menggelar acara yang sama pada bulan november 2007 mendatang.

Akhirnya sebuah ajakan pun terucap. Nenden kapan ke Havana lagi ? Belom ke Varadero kan ? Aduuh pertanyaan yang mengiris hati..Kapan ya ? Pengen banget..gak cuma Varadero yang katanya indah itu, tapi juga ke Santa Clara tempat Che Guevara dimakamkan. Nonton meriam di Moro pun belum sempat dilakukan. Ke perkebunan tembakau juga belum. Ikut kursus salsa juga belom sempet.

Bukannya gak pengen, tapi 22 juta untuk tiket pulang pergi nya itu ya dari mana. Visa juga rasanya bukan urusan yang sulit, kata Mbak Dina Dubes Kuba untuk Indonesia,Jorge Leon sangat helpful. Dan sebuah ide pun muncul, agar kami bisa berkunjung ke Havana lagi. Ah senangnya seandainya ide itu bisa benar - benar terwujud, dan kami bisa menikmati lagi Havana dan Kuba dengan lebih lama. Bener - bener jadi cubanos.

Rasanya apapun tentang Havana, Kuba, Fidel, Che, selalu membuat saya tertarik. Tayangan film dokumenter tentang Che di Metro TV membuat saya terpaku dengan pikiran melayang ke Havana. Melihat museum revolusi Kuba, sosok Che, Fidel muda, Old Havana dari Moro. Buku - buku tentang Che, berita tentang Fidel, membuat saya ingin tahu lebih. Saya benar - benar terhipnotis dengan Havana, Kuba dan seisinya.

Tapi guru saya dari Padepokan Baciro mengatakan bahwa nostalgia bukanlah kenyataan. Yup that’s right. Saya setuju. Kenyataannya saya hari ini ada di Jakarta, bukan di Havana. Dan realitas yang saya hadapi adalah pekerjaan dan keseharian saya, bukan sedang jalan - jalan di Havana. Seringkali kita hidup berdasarkan kerangka nostalgia. Berpikir dan menganggap bahwa semua hal masih berlangsung seperti apa yang terjadi pada masa nostalgia itu berlangsung.

Saya punya seorang sahabat yang selama 9 tahun dirinya "terperangkap" dalam nostalgia bersama mantan pacarnya yang waktu itu meninggalkan dirinya di Amerika. Dia berpikir, bertindak, berpendapat, bahkan memperlakukan pacar barunya dengan dasar pikirannya yang terperangkap oleh nostalgia itu. Dia hidup di masa lalu. Lupa bahwa dirinya sudah tidak tinggal di Amerika lagi, dan tidak bersama si mantan yang mencampakkannya.

Dia baru menyadari bahwa dia stuck selama 9 tahun, ketika akhirnya dia bertemu dengan si mantan itu. Euphoria tak terkira ketika impiannya selama 9 tahun akhirnya kesampaian. Sampai akhirnya dia membuat keputusan yang kemudian disadarinya itu adalah keputusan yang impulsif. Belakangan baru dia menyadari bahwa dirinya selama ini hidup dalam nostalgia bukan di dalam kenyataan. Dan ternyata itu sangat berbahaya. Bukan hanya membuat diri kita terperangkap di masa lalu dan tidak bergerak maju, tapi juga bisa membuat kita kehilangan akal sehat.

Semoga saya tidak mengalami kejadian perangkap nostalgia itu. Meskipun saya akui buat seorang scorpio tulen yang imajinatif itu bukan hal yang mudah. Tapi ya saya berusaha untuk tetap berjalan seimbang, mengalir dengan kehidupan saya dan menjaga akal sehat. Sekali -kali bernostalgia boleh dong. Berkeinginan untuk napak tilas perjalanan nostalgia itu tentu juga bukan dosa.

Momen akhir tahun seperti ini tentunya memunculkan banyak nostalgia di benak kita. Mereview perjalanan 365 hari dalam tahun 2006 ini,pasti banyak hal yang terjadi. Saatnya menikmati kembali berbagai nostalgia itu sejenak. Menangislah bila memang ingin menangis. Tertawalah bila ingin tertawa. Kemudian rasakan apa yang tergetar di dalam hati. Dengarkan suara nurani. Renungkan. Suara itu tidak  pernah salah. Tapi seringkali kita tidak mau mendengarnya, karena bertentangan dengan keinginan kita.

Resolusi tahun baru saya, menjadikan suara hati saya sebagai guide penuntun jalan saya. Karena saya percaya suara hati adalah suara Tuhan. Saatnya tutup tahun dengan niat tulus untuk sebuah hidup yang lebih baik. Jadikan nostalgia sebagai monumen yang indah, bukan sebagai penjara yang memperangkap kita untuk bergerak maju. Semoga saya masih diberi waktu oleh Nya untuk bisa menengok monumen nostalgia saya di Havana suatu hari nanti.

You don’t know what you got til it’s gone

Monday, December 18th, 2006

Manusia memang tak pernah puas. Seringkali lupa diri dan lupa bersyukur atas segala anugerah yang diberikan-Nya. Rumput tetangga selalu lebih hijau, istri teman selalu lebih cantik, suami orang lain selalu lebih mapan, dan seterusnya. Selalu melihat keluar, sampai lupa melihat yang di dalam. Dalam diri sendiri yang telah diberkati-Nya dengan berbagai hal yang baru kita sadari sangat berguna dan kita cintai, ketika Dia berkenan untuk mengambilnya kembali. Barang – barang kesayangan,, orang – orang terkasih, situasi dan keadaan, apapun itu.

Itulah manusia. Saya dan anda pun pasti pernah mengalaminya. Dan apa imbalan bagi manusia yang selalu tak pernah puas dan kurang bersyukur ? Penyesalan. Sesal kemudian tiada berguna itu kata pepatah. Dan memang begitulah adanya. Kesadaran betapa berartinya sesuatu atau seseorang dalam hidup kita baru kita sadar ketika barang tersebut sudah hilang, atau orang yang dimaksud sudah tidak ada dalam kehidupan kita. Entah meninggal atau karena memang harus pergi dari kehidupan kita karena berbagai sebab.

Kita baru menyadari bahwa kita punya gigi, dan betapa berartinya gigi ketika kita mengalami sakit gigi. Pada saat gigi itu sehat, kita seringkali “lupa” bahwa kita punya gigi. Bahkan anugerah nafas yang bebas tanpa sesak atau hidung yang tersumbat pun, seringkali kita lupa. Padahal kita bukan manusia yang hidup bila kita tidak bernafas. Pada saat terserang flu, dan hidung tersumbat lah baru kita merasakan betapa berharganya nafas yang kita miliki ini. Coba tutup hidung kita sejenak. Hitunglah berapa lama kita tahan hidup tanpa bernafas. Hanya dalam hitungan menit paling lama kita sudah gelagapan. Padahal nafas adalah ciri utama yang menandai kita masih berstatus manusia hidup, belum menjadi mayat. Itupun kita seringkali lupa. Apalagi mensyukurinya.

Itu baru beberapa hal yang berkenaan dengan tubuh kita, kita sudah seringkali melupakannya, apalagi yang di luar sana dan berkaitan dengan orang lain. Kita seringkali melupakan betapa besar jasanya para office boy di kantor kita yang menyediakan kita makanan dan minuman, yang membersihkan ruangan kerja kita. Kita lupa peran para pembantu di rumah, tukang kebun atau satpam yang menjaga lingkungan kita agar aman.

Para supir yang mengantarkan kita kemana – mana. Bahkan kita lupa betapa sabarnya sahabat – sahabat kita mendengarkan keluh kesah dan curahan hati kita pada saat kita gundah. Kita lupa betapa berartinya keberadaan keluarga dan kekasih yang selama ini mendampingi kita di saat susah dan senang. Kita berpikir mereka kurang ini, kurang itu, kita selalu mengeluh, dan membandingkan mereka dengan orang – orang lain yang dalam bayangan kita adalah orang – orang yang lebih baik.

Jangankan penghargaan yang layak, menyadari keberadaan mereka dalam kehidupan kita pun seringkali kita tidak bisa. Betapa menyedihkannya kita. Seringkali kita menyia – nyiakan mereka. Kita mengabaikan perhatian dan kasih yang mereka berikan, apalagi membalasnya dengan perhatian dan kasih yang serupa. Dan ketika saatnya mereka lelah dan pergi meninggalkan kita yang tak tahu diri ini, kita pun baru menyadari betapa berartinya keberadaan mereka selama ini dalam hidup kita.

Apa yang bisa kita lakukan ? Hanya meratap dan menyesali kebodohan yang telah dilakukan. Percuma. Saatnya sudah lewat dan kita telah menyia – nyiakan kesempatan berharga itu. Dan tidak semua manusia beruntung diberi kesempatan kedua. Yang bisa kita lakukan hanyalah tidak melakukan kesalahan yang sama terhadap orang – orang yang saat ini berada dalam kehidupan kita. Hargailah dan syukurilah keberadaan mereka. Rawatlah dan cintailah mereka dengan penuh kasih. Hanya itu yang bisa dilakukan. We can do nothing about the past. What we can do only things in our present time, now. Just take the lesson, and move on to have better life..

Mulai dari hal yang simpel yuk ! Sudahkah kita mengucapkan terima kasih kepada office boy yang menyediakan kita minum pagi ini ? Sudahkah kita mengatakan terima kasih atas tumpangan mobil papa tadi ke kantor ? Sudahkah mengucapkan terima kasih atas pinjaman CD dari adik kita ? Sudahkah menyampaikan kepada Bunda tersayang betapa enak masakannya ? Sudahkan tersenyum dan menyapa rekan – rekan kantor yang kita jumpai pagi ini ? Sudahkah menelpon teman yang berulang tahun hari ini ? Sudahkah menyempatkan diri membalas email dari para sahabat yang jauh di kota lain ? Sudahkah mengsms kekasih atau pasangan tercinta, untuk mengatakan betapa kita mencintai mereka dan sangat menghargai betapa berartinya mereka ?

Begitu banyak contoh yang tentunya bisa anda tambahkan sendiri. Selamat memulai hari baru dengan senyuman dan cinta untuk orang – orang terkasih dalam hidup kita. Kita tidak pernah tahu berapa lama lagi mereka akan bersama kita. Hanya sekaranglah waktu yang kita punya. Jadi tunggu apalagi J

Menulis itu ( tidak ) Mudah

Sunday, December 17th, 2006

Arswendo mengatakan bahwa menulis itu mudah. Ya memang menulis itu mudah (bagi sebagian kecil orang ). Tapi rasanya hal sebaliknyalah yang lebih banyak dirasakan orang ketika harus berurusan dengan aktivitas tulis menulis.  Tiba – tiba segudang ide yang berjejalan di kepala, menjadi mampet untuk dikeluarkan. Jari jemari seakan mendadak beku ketika berada di atas tuts keyboard. Kata – kata yang tertulis pun bolak balik dihapus dan diketik ulang. Resah. Rasanya belum menemukan kata – kata yang tepat untuk bisa menggambarkan berbagai ide yang ada di benak.

Saya sudah menulis ribuan tulisan dalam bentuk artikel maupun berita di berbagai media sejak saya mulai aktif menulis pada tahun 1997. Tapi ternyata itu tidak membuat saya menjadi lebih mudah dalam menulis hal lain selain berita dan artikel untuk media massa. Saat saya menerima pekerjaan sebagai freelance copywriter di sebuah perusahaan kreatif, ternyata saya merasakan susahnya menulis. Anda mungkin heran, bagaimana bisa, saya yang telah berpengalaman menulis sekian banyak artikel dan berita mengalami kesulitan dalam menulis. Anda boleh percaya atau tidak, tapi saya benar – benar kehilangan sense menulis saya beberapa hari ini.

Dunia copywriting adalah dunia baru bagi saya. Ya saya bertahun – tahun menjadi wartawan, dan menulis berita adalah keseharian saya. Tapi menulis sebuah naskah yang menjual adalah hal baru buat saya. Saya harus benar – benar bisa meresapi konsep yang diinginkan dari si pemilik ide, dan tujuan apa yang ingin diraih. Sehingga saya bisa menuangkan konsep tersebut menjadi naskah yang menjual agar si pemilik ide dapat mencapai tujuannya. Saya harus memberikan nafas si pemilik ide ke dalam naskah yang saya tulis. Sebuah proses baru yang menarik buat saya. Bagaimana memadukan ide dan konsep tersebut dengan isi kepala saya, sehingga kemudian terangkai kata – kata yang diinginkan. Dan itu tidak mudah saya rasakan.

Tapi hal baru apapun buat saya selalu menarik untuk dieksplorasi. Saya selalu suka tantangan. Karena tantangan membuat saya tumbuh dan berkembang. Menaklukan tantangan memang tidak pernah mudah. Kalau mudah bukan tantangan dong namanya. Dan proses bertumbuh itu juga memang seringkali menyakitkan. Berbagai kesalahan harus dilalui, cercaan dan makian sering kali menjadi proses yang menjadi satu paket yang harus dijalani. Tapi memang tidak ada hal yang menjadi sempurna tanpa melewati semua proses pelatihan itu. Dan tidak semua orang mau mengambil resiko itu. Siapa sih yang sudi dimaki orang ? Plus berpusing – pusing belajar hal baru yang bikin stress ?

Kembali kepada yang menjalani, maukah kita melalui proses itu ? Maukah kita berjuang untuk menaklukan tantangan ? Kalau memilih untuk mundur dan menolak untuk menaklukan tantangan, ya sudah itupun adalah pilihan. Tidak ada yang bisa memaksa kita untuk tumbuh dan berkembang, kecuali kesadaran dari diri sendiri. Nikmatilah comfort zone anda. Dan anda pun tidak akan bergerak kemana – mana.Tinggal pilih anda mau menjadi manusia yang mana ? Apapun pilihan anda, akan selalu satu paket dengan konsekuensi yang mengiringinya. Selamat memilih J

For You

Wednesday, December 13th, 2006

Today, I just realize that I love you more and more

You are my inspirator, you’re waking up the sleepy tiger inside me

You boost up my spirit with your unique way

Thank You..Promise to see you on top

Another step just made

Wednesday, December 13th, 2006

Sebuah langkah baru saya ayunkan hari ini. Sebuah kebahagiaan baru pula saya temukan dengan duduk di kantor yang memiliki jendela lagi..Ah saya baru menyadari betapa berartinya sebuah jendela untuk saya.

Duduk di ketinggian lantai 8, menatap Jakarta yang sibuk. Saya merasa dikembalikan ke dunia saya, dunia internet dan tulis menulis.

Dan lebih dari itu, sebuah "mainan" baru dan sebuah ruang baru telah dipersembahkan kehadapan saya untuk tempat saya berkarya dan berkembang..Mengasah otak dan menyalurkan anugerah kreativitas yang diberikan-Nya.

Yang lebih berarti lagi, "mainan" baru saya ini akan berguna untuk membantu banyak orang menemukan penghidupan yang lebih baik.

Puji Tuhan, syukur alhamdulillah.. Berkat-Nya menyertai setiap langkah saya.

What A Trip !

Monday, December 11th, 2006

Ini kisah perjalanan paling singkat dan paling seru, dalam tugas luar negeri yang pernah saya jalani selama bertugas jadi wartawannya Presiden. Bayangkan, sarapan pagi saya lakukan di Sky Lounge Cengkareng, makan siang di Hongkong, makan malam di Shangri-La Mactan Island Resort Cebu Philipine, makan pagi di VIP Room nya bandara Menado, makan siang di Jakarta lagi. Huh what a trip.. :)

Gara - gara nya badai Utor diramalkan akan menerjang Cebu, demikian informasi BMG setempat, yang bikin panitia dan pemerintah Filipina membatalkan acara ASEAN Summit yang untuk tingkat kepala negara berlangsung tanggal 11-13 desember 2006 ini. Selain itu, meskipun pemerintah Filipina tidak mengakui secara resmi, ancaman teroris juga menjadi salah satu alasan dibatalkannya acara ini.

Jadi setelah mendarat di Bandara Mactan Cebu, para penjemput kami sudah mengabarkan bahwa ASEAN Summit dibatalkan. Pengumuman resmi disampaikan panitia 2 jam sebelum kami mendarat. Kami pun dibawa ke Shangri-La , makan malam, rapat koordinasi dengan Jakarta dan perangkat terkait. Akhirnya diputuskan bahwa dikirim pesawat TNI AU dari Jakarta untuk mengevakuasi kami. Boeing 737 - 200 dengan kapasitas 65 tempat duduk. Hanya 9 orang yang tinggal untuk mengurus berbagai hal yang perlu diurus.

Akhirnya kamar saya yang nyaman di 7056 masih tak tersentuh tempat tidurnya, karena saya tidak berkesempatan untuk bisa tidur sama sekali. Jam 3 kami sudah harus kembali berkumpul di lobby hotel untuk diangkut ke bandara. Kami harus berpacu dengan waktu, sebelum bandara ditutup, dan badai Utor datang yang diramalkan akan datang pada pukul 10 pagi.

Tapi ternyata kami harus menunggu cu\kup lama diatas pesawat, karena pesawat harus refuelling. Cuaca mulai hujan, angin pun berhembus cukup kencang, saya bisa mengintipnya dari jendela kaca pesawat. Saya pun sudah mengirimkan pesan - pesan pendek melalui simcard globe yang saya pegang. Tak lupa saya mengabarkan keadaan terakhir, dan even ucapan maaf untuk orang - orang yang saya cintai, seandainya terjadi sesuatu yang buruk pada pesawat kami. Ya..terus terang saat itu saya melihat "kematian". Dan saya memasrahkan diri saya seutuhnya kepada Yang Maha Penentu.

Akhirnya kami take off, menuju Menado. Dalam keadaan sadar dan tidak, akhirnya kami sampai di Menado dengan selamat. Sadar dan tidak karena saya sangat mengantuk. Sampai Menado kami disuguhi sarapan oleh TNI AU, kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Jakarta, dan mendarat di Pangkalan TNI AU Halim Perdana Kusumah.

Demikianlah perjalanan yang super singkat di Cebu. Sangat singkat sampai saya hanya sempat menyaksikan sebentar matahari terbit di Cebu. Katanya Cebu indah seperti Bali, dengan pantainya yang cantik. Hotel yang kami tempati pun katanya one of the best in Cebu. Sayang ternyata belom waktunya bagi kami untuk menikmati itu semua. Rencananya akan ditunda hingga januari 2007 mendatang. Kita lihat ya, apakah saya kembali ke Cebu atau entah apalagi yang akan terjadi..

Dan yang bikin sebel, tapi juga ya geli, tapi juga membuat saya merenung, ..ternyata sampai Jakarta, kami dapat kabar bahwa badainya gak lewat ke Cebu. Saya kontak Dita yang masih di Cebu, dia bilang hanya hujan seharian. Padahal semua delegasi dari negara - negara peserta Summit sudah dievakuasi negara masing - masing. Begitu heboh, dan panik…

Itulah sekali lagi kalau berurusan sama alam, betapa kecil manusia dan tidak berartinya kita. Alam punya kehendak, Summit yang telah dipersiapkan matang pun bisa dibatalkan pada saat - saat terakhir. Again..rencana manusia sangat rapuh, jadi apa alasan kita untuk bersikap sombong ? Hanya setitik debu yang tidak berarti dengan sekali tiup oleh oleh sang badai. Hanya seonggok daun yang tak berdaya disapu air bah. Masihkah ada alasan kita manusia yang tak berdaya ini untuk menjadi angkuh ? Selamat merenung.. :) 

Cebu Menanti Badai Utor

Friday, December 8th, 2006

Lobby hotel Shangri-la Mactan Island Resort and Spa. Jam sudah menunjukkan tengah malam. Saya duduk sendirian di lobby hotel menikmati fasilitas hotspot gratis.

Baru beberapa jam saja saya menginjakkan kaki di hotel yang super megah ini. Rencananya hotel ini akan menjadi tempat acara bagi pertemuan puncak KTT ASEAN ke-12 selain Cebu International Convention Centre. KTT ASEAN ke-12 sudah berlangsung untuk pertemuan tingkat menteri. Presiden SBY rencananya akan tiba besok.

Tapi baru saja kami tadi mendarat di Bandara Cebu, berita pun kami terima,bahwa KTT ASEAN ditunda. Kaget. Ternyata setelah badai durian menghantam Manila, Cebu ini akan kebagian ekor badai Utor. Menurut prakiraan BMG setempat, badai Utor ini akan menghajar Cebu besok dari jam 9 pagi sampai malam, dan puncaknya pada jam 6 sore. Sehingga bandara pun akan ditutup selama 24 jam.

Semua rencana buyar sudah. Ini kehendak Tuhan, manusia bisa apa. Filipina memang langganan badai. Dan kami pun yang sudah terlanjur tiba disini sedang menunggu nasib, akankah kami dievakuasi besok pagi ?

Bagi wartawan ini adalah peristiwa yang menarik untuk diliput. News is news. Badai gitu lhoo.. Gak setiap orang bisa in the right time and the right place kan ? Gak jadi liputan KTT gak papa deh dapet liputan badai, seru kaaan, gak cuma orang salaman sama tanda tangan ini itu. Tapi entahlah, karena saya perempuan meskipun saya wartawan, saya rasanya pesimis akan boleh tinggal untuk bisa meliput badai ini sampai usai. Pesawat TNI AU untuk mengevakuasi kami dari Jakarta sudah diterbangkan malam ini juga. Meskipun kapasitas tempat duduk terbatas hanya 65, sedangkan tim advance dan delegasi Indonesia ada 117 orang, saya curiga bahwa saya akan termasuk yang berada di daftar 65 orang itu.

Entahlah saya menyerahkan segalanya kepada Tuhan Yang Maha Tahu Yang Terbaik. Kalo memang terbaik buat saya pulang besok ya pulang, kalo memang saya diperkenankan untuk tinggal dan meliput badai, maka nama saya akan tidak ada di list yang dievakuasi besok. Let see..

Jembatan Pemahaman

Wednesday, December 6th, 2006

Semua orang ingin dimengerti. Semua orang ingin dipahami. Tapi seringkali lupa bahwa semua itu harus dimulai dengan berusaha memahami orang lain dulu sebelum orang lain bisa memahami kita. Bangunlah jembatan pemahaman itu dengan memulainya dari diri kita. Sehingga ketika jembatan pemahaman tersebut sudah mulai terbangun, keharmonisan bukan hanya impian lagi.

Tapi alangkah sulitnya untuk membangun jembatan pemahaman itu. It takes two to tango. Butuh effort dari dua sisi yang selama ini terpisahkan untuk sama - sama membangun jembatan dari kedua sisi untuk bisa bertemu di tengah, dan sempurnalah bentuk jembatan itu.

Ya saya berusaha untuk mengerti, saya berusaha untuk memahami, dan menempatkan diri pada posisi orang - orang yang saya berusaha pahami tersebut. Sehingga berharap saya bisa mengerti cara pandang dari sisi nya,sisi mereka, dan memahami mengapa dia /mereka melakukan ini, mengatakan ini, bersikap begini. Memang sangat menolong cara seperti itu, seperti western said put yourself on his/her/their shoes. Tempatkanlah diri kita pada posisi seseorang atau pihak yang kita ingin pahami.

Tapi saat ini saya sedang capek setelah berusaha terus - terusan memahami. Menempatkan diri saya pada posisi orang - orang yang saya ingin pahami itu. Berusaha mengerti cara pandang mereka. Ketika semua orang boleh bersikap egois, saya juga ingin sekali kali dipahami, dimengerti juga kenapa saya marah, kenapa saya sedih, kenapa saya bersikap begini dan begitu..Dan mereka yang menempatkan diri mereka dalam posisi saya. Berusaha meneropong cara pandang saya dari sisi saya.

Saya capek terus - terusan membangun jembatan pemahaman, yang ternyata menurut saya hanya berjalan dari sisi saya saja pembangunan itu berjalan. Sedangkan dari sisi sebrang tidak ada upaya yang konkrit untuk sama - sama membangun jembatan pemahaman itu. Gimana mau ketemu di tengah dan jembatan itu terwujud dengan sempurna ? Bisa aja sih tapi takes longer time to build, rather than dibangun oleh kedua pihak dari kedua sisi secara bersamaan.

Ah maafkan, bila posting saya kali ini tidak mencerahkan. Saya sedang tak sadarkan diri. Saya sedang lelah memahami orang, dan ingin menjadi egois. Tabik !

Working with Passion

Sunday, December 3rd, 2006

Semua orang harus bekerja untuk menafkahi dirinya dan orang – orang di sekelilingnya. Tapi tidak semua orang beruntung bisa bekerja dengan rasa yang tumbuh dari hati yang tulus. Lebih banyak orang yang bekerja secara mekanis saja seperti robot, karena memang lebih didorong oleh tujuan untuk mendapatkan uang. Sebuah dilema memang, di satu sisi kita bekerja dengan rasa “terpaksa”, dan mungkin tidak cocok dengan apa yang menjadi bidang pekerjaan tersebut, tapi disisi lain juga tidak berani meninggalkan begitu saja, karena berarti harus siap kehilangan sumber penghasilan. Memang perlu keberanian extra untuk bisa meninggalkan pekerjaan yang mapan yang telah dimiliki demi mengerjakan hal lain yang kita cintai.  Apalagi apabila ada keluarga dan orang – orang tercinta yang harus kita dukung kebutuhannya.

Saya termasuk orang yang percaya bahwa apapun yang dikerjakan dengan passion akan menghasilkan sebuah output atau karya yang maksimal. Karena saya merasakannya sendiri. Meskipun sejak remaja saya sudah memutuskan untuk menjadi seorang wartawan, tapi ketika saat itu tiba dan cita – cita saya tercapai bahkan sebelum saya menyelesaikan kuliah pun, saya tergoda untuk menjajal karir di bidang yang lain. Saat itu saya pikir, ternyata jadi wartawan begini aja ya, gak sehebat bayangan saya ketika saya masih remaja.

Dan sebuah pikiran lain muncul di benak saya waktu itu, menjadi wartawan itu gak bakal kaya, kecuali saya pemilik media seperti Jacob Oetama, Surya Paloh atau Budiono Darsono. Saya pun kemudian banting stir ke bidang marketing dan bisnis. Bertahun – tahun saya berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya, bahkan pernah juga menjajal menjadi seorang pebisnis dengan seorang rekan. Tapi harus diakui selama saya berkarir di bidang non media itu saya sungguh merindukan aktivitas saya di lapangan sebagai seorang wartawan dan menulis berita. Bahkan saya pun sempat menjadi penyiar part time di sebuah radio professional muda di Jogja, hanya untuk melepaskan hasrat saya berinteraksi dengan public, dan menyampaikan pikiran – pikiran saya.

At the end, sebuah telpon mengembalikan saya ke jalur kewartawanan, dan ternyata saya menikmatinya. Saya menyadari bahwa disinilah tempat saya berkarya. Petualangan saya bertahun – tahun di berbagai bidang itu pada akhirnya mengantar saya pada kesimpulan, being a journalist is my passion. Meskipun hingga saat ini kenyataan dan aturan main di jagat media belum berubah seperti 6 tahun lalu, bahwa jangan harap bisa menjadi kaya ( harta ) bila ingin menjadi wartawan.

Apakah saya sudah gak ingin kaya ( harta ) lagi ? Entahlah, rasanya apa yang sudah saya lalui 6 tahun terakhir ini mengajarkan saya banyak hal mengenai pencarian jati diri dan seni hidup bahagia. Sehingga saat ini saya hanya ingin bekerja dengan hati, dan mengerjakan pekerjaan yang membuat saya bahagia, meskipun saat ini belum bisa membuat saya bisa menikmati hidup seperti seorang eksekutif menengah di perusahaan minyak.

Saya sampai pada kesimpulan bahwa uang atau harta bukan tujuan, tetapi hanya akibat dari sebuah sebab ( kerja ) yang kita lakukan. Itu hanya sebuah konsekuensi logis seperti sebuah hukum alam yang bernama sebab – akibat. Karena kita bekerja maka kita akan mendapatkan hasil. Jadi bila selama ini saya bekerja dengan tujuan untuk mencari uang, itu satot alias salah total.

Seperti saya tulis diatas, apapun yang dikerjakan dengan passion, akan menghasilkan sebuah karya atau output yang maksimal. Just keep going. Nanti juga reward yang setimpal akan mengikuti dengan sendirinya. Apapun itu, harta, ketenaran, penghargaan, kehormatan, karena semua itu hanyalah sebuah konsekuensi logis dari berlakunya hukum alam tentang sebuah konsep sebab akibat, yang jelas rasa bahagia dan kepuasan sudah lebih dulu kita dapatkan. Hanya saja seringkali kita tidak sabar menanti untuk menikmati saat – saat itu tiba.

Sekarang passion saya bertambah dengan menulis. Yes, writing is my passion too. Jujur saja sebetulnya ini belum berlangsung lama. Sebelumnya saya sangat tidak pede bahwa tulisan saya layak dibaca orang lain selain saya. Sehingga dua alamat blog saya sebelumnya hanya diketahui oleh 2 – 3 orang saja, saking mindernya saya.

Ternyata ketika saya berhasil mengatasi ketakutan saya akan pendapat pembaca, dan menumbuhkan kepedean saya, toh semua mengalir saja. Ketakutan – ketakutan saya tidak terbukti. Bahkan respon positif mengalir melalui sms, telpon, email, message, maupun comment atas tulisan – tulisan saya. Jadi semua kekhawatiran gak jelas juntrungannya selama ini hanya ada di pikiran saya semata. Uuh kena saya dikerjain sama pikiran saya J

Dengan menulis blog, saya menemukan ruang lain dari aktivitas saya menulis berita. Setiap posting di blog ini saya tulis dengan passion yang kemudian menjadi ruh dari kalimat demi kalimat yang terangkai, dan saya sangat menikmatinya. Ketika kemudian ada banyak orang yang turut menikmatinya juga, itu adalah hasil dari ramuan passion yang saya campurkan ke setiap posting yang terhidang. Itu adalah sebuah reward yang buat saya sangat membahagiakan. Dan kebahagiaan itu tidak bisa diukur dengan nominal.

Saya lega bisa berbagi, pembaca senang bisa mendapatkan sedikit inspirasi. Dan itu rasanya menjadi sebuah mata rantai sebab akibat, yang semakin membuat jari jemari saya tak ingin berhenti menari diatas kibor laptop,  menuangkan berbagai buah pikiran dan pengalaman batin yang saya alami. Ketika ini akan menghasilkan sebuah reward dalam bentuk lain, saya pikir itu hanya masalah waktu yang tepat saja. Just do it, gak usah mikirin hasilnya nanti bagaimana. Yakinlah Tuhan Maha Adil, gak akan salah alamat dalam mengirim reward ;)

Jadi PR pertama adalah , apakah passion anda ? Apakah anda sudah bekerja dengan passion ? Ada pepatah yang mengatakan, cintailah pekerjaan anda atau kerjakanlah yang anda cintai. Tinggal pilih mau yang mana.

Sahabat saya tercinta yang bekerja di TV broadcast mengatakan bahwa working is my hobby. Ya, hobbynya adalah gadget, dan berbagai peralatan audio visual lainnya. Ketika waktu luang saya membaca novel atau majalah, maka yang dia baca adalah buku manual dari gadget – gadget terbaru. Buku manual gitu lho..ck..ck..

Tak heran bila dunia broadcast untuknya seperti sebuah taman bermain yang sangat menyenangkan. Sehingga dirinya tak keberatan bekerja 7 hari seminggu tanpa hari libur, dan lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor daripada di tempat lain. Karena dengan hobinya akan gadget itulah, membuatnya sangat excited dengan berbagai peralatan penunjang operasional di sebuah tv broadcast. Dia pun bekerja dengan segenap hati dan pikirannya. Hasilnya ? Dia menjadi head section termuda dengan masa kerja terpendek yang ada di tempatnya bekerja saat ini. Sebuah reward yang sangat layak atas pekerjaan yang dilakukan dengan hati, bukan ?

Terus terang sahabat tercinta itu menjadi inspirasi saya untuk menekuni pekerjaan saya saat ini. Writing is my passion. Kalau berkhayal suatu hari saya bisa seperti seorang Gede Prama, Pram, atau Paulo Coelho..hmm boleh dong J