Archive for January, 2007

Gloomy Jakarta

Wednesday, January 31st, 2007

Jakarta mulai hujan deres tiap hari. Kampung Melayu udah banjir, biasa itu mah daerah langganan banjir. Istana sih masih baek - baek aja, moga - moga jangan sampe kebanjiran kayak waktu jamannya Bu Mega :) Tadi pagi saya nonton Selamat Pagi di Trans7, en tamu nya penjaga pintu air nya Manggarai. Saya lihat bapak ini sangat professional untuk pekerjaannya yang sudah dijalaninya sejak 20 tahun lalu. Dengan imbalan yang kalo boleh saya nebak gak besar, bapak ini, sangat berdedikasi pada pekerjaannya yang sangat beresiko dan berkaitan dengan hajat hidup orang banyak.

Dia menuturkan bahwa saat tersulit yang dia alami selama bekerja adalah ketika dia harus dihadapkan pada pilihan bahwa, dia harus memilih menyelamatkan Istana dari banjir dan mengorbankan rakyat banyak, atau membiarkan Istana kebanjiran dan menyelamatkan orang yang lebih banyak. Karena pintu air yang dia kendalikan itu akan menentukan kemana air akan mengalir. Tapi sayang tadi Dik Doang sama Dessy Ratnasari cuma cengengesan ketika bapak itu bercerita mengenai pengalamannya itu. Tidak digali lebih dalam. Saya mengerti mereka "sungkan" karena itu berkaitan dengan sensitif story :)

Dan bapak itu cuma menutup ceritanya dengan mengatakan, pekerjaan apapun selalu ada resikonya bukan ? What a wise man said. Dia benar, pekerjaan apapun selalu ada resikonya. Pekerjaan saya, pekerjaan anda semua. Cuma seringkali kita mau bagian yang enaknya saja dari pekerjaan ini. Ketika giliran susah atau repot kita pasti mengeluh. Lembur sampai pulang malam karena pekerjaan sedang banyak. Ditugaskan ke tempat yang tidak enak. Kalau saya misalnya ke pelosok nusantara yang hotelnya abal - abal, susah cari koneksi internat. Itu paling nyebelin. Apes lagi kalo pas weekend, gak ada orang yang terima laporan di kantor. Trus saya mesti kirim berita pake telepati :))

Tapi ya begitulah resiko pekerjaan saya. Tidak selalu tempat yang saya kunjungi bersama Presiden itu selalu tempat yang menyenangkan dan tinggal di hotel bintang lima. Acara ngomel sih emang pasti tak terhindarkan. Apalagi kalo para redpel gak mau tau kondisi di lapangan dan mereka berharap saya bisa mengirim berita real time seperti yang diharapkan. Untunglah akhirnya para redpel itu juga turun ke lapangan sekali - kali, dan kemudian mereka sendiri mengalami bahwa kondisi lapangan itu tak selalu indah dengan koneksi internet yang tersedia. Jadi sekarang mereka udah gak pernah ngomel lagi :)

Today is sooo gloomy. Pagi mendung, gerimis mengundang untuk kembali menarik selimut. Huh..but life goes on. I have to get up and live my life today. Dunno what will happens next, but saya belajar untuk belajar menikmati each second of my time. Gak mau mikir kepanjangan lagi. Jalanin yang ada sekarang ini, saat ini. Saat saya mengetik tulisan ini, dan saat anda membaca blog saya ini. Capek mikirin orang laen, cuma bikin sakit hati. Dan jangan dikira, sakit hati itu makan energi banyak lho. Kan rugi banget. Mendingan energinya saya pake buat nulis blog.

Love Is Decision

Wednesday, January 24th, 2007

Cinta itu bukan perasaan tapi cinta itu adalah keputusan. Begitu kata sahabat saya yang kontemplatif. Jujur saya awalnya gak ngerti - ngerti amat dengan maksud dari kata - kata ini. Gimana bisa cinta bukan perasaan ?

Tapi belakangan saya memaknainya dengan versi saya sendiri. Cinta adalah sebuah keputusan. Keputusan untuk mencintai sesuatu atau seseorang. Keputusan yang timbul dari hati kita yang terdalam, yang biasanya gak pernah bohong. 

Saat ini rasanya saya sedang ingin memutuskan untuk berhenti mencintai seseorang. Karena saya harus mereformasi cinta saya. Cara saya mencintai dan cara pandang saya tentang cinta. Entah kenapa saya ternyata mengulangi kesalahan yang sama pada orang yang berbeda. Dan itu harus saya hentikan segera, sebelum saya semakin terjerumus kedalam jurang yang pernah nyaris mengubur langkah saya untuk selamanya.

Kali ini saya memilih untuk memutuskan bahwa saya harus mencintai diri saya sendiri dengan lebih baik dulu sebelum saya mencintai orang lain. Selama saya belum bisa mencintai diri sendiri dengan baik, maka jangan harap saya bisa mencintai orang lain dengan baik pula.

Ada quote bagus dari seorang Angryanto Rachdyatmaka di Injury Time yang mengatakan bahwa "cinta yang sempurna bukanlah mencintai seseorang yang sempurna, tetapi mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna ".

Dan cara yang sempurna itulah yang sedang ingin saya pahami, pelajari dan lakukan, agar kemudian saya bisa mencintai seseorang yang tidak sempurna dan mempersembahkan sebuah cinta yang sempurna.

Dont Fight Life

Sunday, January 21st, 2007

Term ini saya dapat dari my sister Aida Marshall. We met in Jogja desember kemarin, en we talked for hours before we sleep bout this. She knows me very well for last six years. She knows my personal and professional path yang lompat sana – sini gak keruan. And as a sister yang 12 years older than me, she told me things that now I know that she’s right.

I was a really planner person at that time. And I’m stick to it no matter what happened. Yes, once saya pernah menjadi seseorang yang sangat terencana. Saya ingat bahwa saya sudah merencanakan langkah karir saya sejak saya baru menginjakkan kaki menjadi mahasiswa di kampus Fisipol UGM. Saya sudah membuat plan sedemikian terstruktur sejak semester satu sampai tahun kelima saya direncanakan harus lulus. Dan alhamdulillah semua berjalan sesuai rencana. Saya sudah merancang sedemikian rupa sehingga pada saat saya lulus saya tidak kesulitan mendapatkan pekerjaan.

And it happened. Ketika teman – teman saya yang sudah mengantongi ijazah masih berkutat dengan setumpuk lamaran kerja, saya sejak masih skripsi sudah menjadi karyawan tetap dengan gaji lumayan untuk ukuran Jogja saat itu. Bahkan ketika teman – teman saya sibuk mencari pekerjaan, saya malah sibuk menolak berbagai tawaran pekerjaan yang datang. Itu semua hasil dari perencanaan yang sudah saya rancang sejak saya awal kuliah.

Tapi rupanya hanya itulah satu – satunya rencana hidup saya yang berjalan sesuai dengan master plan. Rencana – rencana lainnya dalam kehidupan saya berikutnya sama sekali keluar dari jalurnya. Dan herannya saya masih tetap menerapkan metode yang sama. Begitu bertahun – tahun. Rencana demi rencana gagal, dan saya tetap tidak kapok menjadi manusia perencana. Sampai akhirnya saya benar – benar mentok, dan barulah tersadar bahwa rencana saya sebaik apapun itu, hanyalah rencana manusia.

Saya sampai pada titik pasrah dan menyerahkan hidup saya seutuhnya pada Yang Maha Hidup. Saya menyerah dan menyadari keterbatasan saya sebagai manusia yang tidak berdaya. Sebuah pelajaran sangat pahit harus saya rasakan dan lalui untuk kemudian sampai pada pemahaman baru, bahwa berencana itu perlu tapi jangan terlalu ngoyo. Dan istilah don’t fight life itulah yang rasanya cocok untuk menjadi panduan hidup baru saya saat ini.

Jangan melawan kehidupan. Terlalu banyak energi yang harus dikeluarkan, dan itu sangat melelahkan. Saya ambruk karena kelelahan. Saya bertarung dan bertarung melawan kehendak alam. Ketika saya sudah merencanakan sesuatu, maka itu harus terjadi dan alam harus mengikuti kehendak saya. Dan saya bertarung untuk membuatnya menjadi nyata. Sekali, dua kali, tiga kali..gagal lagi, tetap membuat saya bangkit berdiri dan bertarung lagi. Tidak ini belum habis, saya masih bisa untuk memperjuangkannya. Selalu seperti itu yang ada di benak saya ketika saya menghadapi kegagalan.

Sampai pada akhirnya saya berada di titik ambang batas kewarasan saya sendiri. Kalau saya teruskan metode perjuangan seperti itu, dengan melawan kehendak alam, karena satu – satunya panduan hidup saya adalah rencana yang sudah saya buat, maka saya akan segera menjadi gila. Untunglah saya dikelilingi oleh para guru kehidupan dan para sahabat yang sangat mendukung saya, meskipun dalam banyak hal mereka seringkali tidak setuju dengan langkah – langkah saya.

Saya pun akhirnya berdamai dengan diri saya sendiri. Menunduk dan menyadari bahwa tidak semua rencana saya harus terwujud. Bahwa ada kekuatan besar di luar sana yang Maha Penentu. Bahwa rencana saya seringkali tidak sejalan dengan rencana-Nya atas hidup saya. Saya menyerah pasrah tapi bukan berarti kalah. Tapi saya harus merubah cara saya berjuang dan bertarung. Tidak dengan kengototan dan pemborosan energi seperti yang kemarin – kemarin saya lakukan.

Saya harus berjuang dengan cerdas dan elegan. Dan tentu saja ditambah dengan kebijaksanaan yang menjadi titik balik saya dalam melihat semua pertarungan hidup saya 6 tahun terakhir ini. Jangan melawan alam, melawan kehidupan, tapi mengalirlah. Percayalah pada kehendak Sang Maha Hidup. Saya tetap berencana, meskipun bentuknya tidak seperti perencanaan hidup saya sebelum – sebelumnya.

Kali ini saya hanya menetapkan garis besar yang ingin saya raih, tujuan yang ingin saya capai. Dan ketika harus berbelok di tengah jalan saya bisa berimprovisasi dengan mudah. Karena hidup itu penuh dengan tikungan dengan berbagai kejutan yang menunggu dibaliknya bukan ? Saya lebih relaks dalam menjalani hidup saya. Pasrah. Mengalir. Menjalani hari – hari saya dengan segala kewajiban yang menjadi tanggung jawab saya dengan sebaik-baiknya.

Rencana tetap disusun untuk menjadi panduan setiap langkah saya, tapi saya ketika realita tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan saya lebih legawa menerimanya. Ya wis berarti memang belum saatnya saya mendapatkan itu. Now I do believe in time that define to each thing that happens in this world. Segala sesuatu ada waktunya. Begitu kata orang bijak.

When the world is falling apart

Friday, January 19th, 2007

Sahabat baru saya menelpon tadi malam. Saya pikir dia akan membahas mengenai pernyataannya yang baru saja dimuat di tabloid Kontan. Ternyata bukan, dia ingin bercerita hal pribadi. Seseorang yang baru saja dicintainya akan segera menikah. Aah..sahabat saya patah hati. Saya tahu rasanya, betapa ambruk dunia dan gelap sekeliling. Sakit, kecewa, sedih, berjuta rasa berkecamuk di dada.

Dia baru saja mengetahui kabar itu beberapa jam saja sebelum dia menelpon saya. Perkenalan sahabat saya ini dengan si perempuan yang dicintainya itu memang belum lama atas prakarsa seorang teman mereka yang memperkenalkan. Sempat berelasi dan mereka merasa menemukan kecocokan. Namun relasi itu berlangsung sangat singkat karena memang ada kondisi - kondisi yang belum memungkinkan dari sahabat saya itu. Meskipun begitu, mereka menemukan chemistry satu sama lain. Akhirnya mereka memutuskan untuk berteman saja dengan sama - sama memendam rasa.

Tapi sebelum ini terjadi sahabat saya pernah bilang kepada saya, katanya " Gue tau gue gak bakal jadi sama dia, gue cuma akan nganterin dia untuk ketemu dengan seseorang." Sahabat saya itu sangat intuitif dan kadang suka rada - rada kayak cenayang gitu. Dan meskipun dia sudah tahu apa yang akan terjadi, tapi dia tidak bisa menghindarinya, karena memang sudah begitu suratan takdirnya.

Dan akhirnya terjadi juga seperti yang sudah diperkirakan. Hanya dalam hitungan hari semuanya terbukti. Ternyata meskipun sahabat saya sudah mendapatkan vision mengenai hal ini, pada saat mengalaminya dia cukup limbung juga. Berkali dalam perbincangan di telepon tadi malam dia mengatakan gak apa Nden, gak apa..

Saya bilang jangan bohong, kamu itu apa - apa, dont say you’re ok, coz you’re not ok at all…gak usah ditolak perasaan itu. Sedih, kecewa, sakit itu sangat manusiawi. "Nikmati" perasaan itu dengan wajar, beri waktu dan ruang untuk perasaan itu. Kalau butuh teman untuk sharing dan menangis, I’ll be there. Saya tahu sekali rasanya itu seperti apa.

Hanya waktu yang bisa mengobati luka. Time is the best medicine to any pain. Saat rasa sakit itu mendera, rasakanlah..perih itu begitu nyata terasa di dada, air mata mengalir tanpa bisa dicegah, pikiran resah, hati gundah, otak tidak bisa diajak kompromi untuk fokus. Berilah ruang dan waktu untuk semua itu. Karena ketika kita menolak dan menguburnya dalam - dalam itu hanya akan menjadi bom waktu yang bisa meledak di waktu yang salah.

Memang tidak mudah..rasa sakit itu, luka itu, impian yang hancur, menyaksikan yang tercinta merajut masa depannya bersama orang lain, aaaah semuanya begitu nyata. Been there done that.

Saya sangat bersimpati untuk sahabat saya itu. Tapi saya pun yakin sahabat saya bisa melaluinya dengan baik, seperti yang sudah pernah saya lewati, bahkan dia bisa lebih baik lagi. Saya tahu dia pernah melewati hal yang jauh lebih buruk dari ini. Dan saya yakin dia akan mendapatkan yang terbaik untuk dirinya, seperti yang telah disiapkan Tuhan untuknya. GBU Less..

Risk of Being A Journalist

Thursday, January 18th, 2007

Tadi malam saya ditelpon oleh teman baru saya wartawan Jakarta Post. Dia rupanya cukup resah akibat dari tulisannya yang dimuat di koran tempat dia bekerja. Tulisan yang dimuat sehari sebelumnya itu membuat handphone nya berbunyi setiap lima menit. Belum sms yang bertubi - tubi masuk. Semuanya berkaitan dengan isi berita yang ditulisnya, mengenai insiden Cebu.

Salah satu penelpon dia hari itu adalah saya. Setelah saya diberitahu teman - teman kantor bahwa ada berita tentang Cebu di Jakarta Post yang cukup bikin gerah para petinggi disini. Setelah membacanya langsung saya telpon dia, dan berharap bahwa dia mau membantu seandainya saya ikut kena colek sebagai salah satu orang yang dicurigai memberi informasi kepadanya. Karena betul - betul saya tidak tahu menahu mengenai apa yang ditulisnya itu. Tapi secara selama di Cebu saya kemana - mana dengan grup wartawan yang meliput acara, tidak dengan tim advance kepresidenan. Sangat mungkin kecurigaan akan menunjuk ke muka saya sebagai si pembocor informasi.

Untunglah ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti sampai sekarang. Karena ternyata pihak yang kegerahan lebih sibuk untuk menangkis dan membuat berita bantahan dari berita yang ditulis teman baru saya itu, daripada mencari siapa si pembocor berita.

Teman saya bisa memastikan bahwa nara sumber nya adalah pihak luar, sama sekali bukan salah satu dari kami yang berangkat. Dan demi kode etik jurnalistik dia pun harus melindungi nara sumbernya. 

Kami berdiskusi mengenai betapa powerfulnya media. Bahwa tulisan para journalist seperti kami bisa "mengguncang dunia". Dan untuk case teman saya itu, bukan hanya pihak - pihak yang gerah yang terguncang, tapi dia pun ikut terguncang dengan berbagai hal akibat tulisannya itu. Sms dan telepon setiap lima menit hanya sebagian dari akibat yang harus dia terima. Surat fax dari Kejaksaan untuk menjadi saksi pun telah dilayangkan ke kantornya, meskipun kemudian surat tersebut dicabut kembali, dan sudah membuat para petinggi di kantornya mengadakan rapat dadakan.

Seorang wartawan penerima Adam Malik Award dari Deplu pun cukup gentar dibuatnya. Yah begitulah dunia wartawan. Ada seorang Udin dari Bantul, wartawan Bernas yang tulisannya sering membuat gerah Bupati Bantul saat itu, Sri Roso Sudarmo. Maut menjemputnya pada tanggal 16 Agustus 1996, dan kematiannya tidak terusut sampai sekarang.

Belum lama ada Anna Politkovskaya, jurnalis perempuan dari Rusia, yang terakhir kali bekerja untuk harian Novaya Gazeta yang rajin menulis tentang Checnya dan rezim Putin, dan harus mengakhiri hidupnya ditembus peluru di apartemennya, pada tanggal 7 Oktober 2006 lalu.

Dunia dengan resiko seperti inilah ternyata yang telah membuat saya jatuh cinta. Membuat saya hidup. Meskipun untuk saat ini belum saatnya untuk saya mengguncang dunia dengan tulisan - tulisan saya seperti Anna. Saya masih harus belajar banyak dan menyiapkan mental saya untuk siap menghadapi resiko seperti peluru yang mengakhiri hidup seorang Anna Stepanovna Politkovskaya.

Reuni di Cebu

Friday, January 12th, 2007

Akhirnya saya kembali ke Cebu juga. Ini malam kedua saya di Cebu. Tapi saya tergusur dari indahnya Shangri-La Mactan ke sebuah hotel abal - abal di pinggir pantai entah dimana itu. Kamar sederhana yang lemari baju pun nggak ada. Yah nasib..Begitu pun teman-teman dari tim advance semua bernasib sama.

Tapi malam ini setelah maingroup datang, saya bergabung sama temen - temen wartawan maingroup yang dapet jatah kamar disini. Jadilah malam ini saya kembali menikmati kenyamanan hotel sekelas untuk kepala negara..hehehe..

Menikmati hotspot yang gratis dan super cepat, saya langsung tergoda untuk mengupdate blogs saya tercinta ini. Tadi akhirnya saya ketemu juga sama Dita Alangkara, teman kuliah yang jadi fotografer AP itu sudah lebih dulu sehari disini daripada saya. Dan saya juga ketemu teman kuliah yang lain, Punjul yang sekarang jadi orang deplu.

Kami semua sibuk dengan aktivitas masing - masing. Saya bikin berita, Dita motret, Punjul dengan substansi untuk summit ini. Sayang, keinginan saya untuk bikin foto kami bertiga di hotel yang indah ini gak kesampaian. Jarang - jarang lho kami nih bisa ketemu di event yang sama. Meskipun sama-sama wartawan istana saya sama Dita pun jarang liputan bareng kecuali acara - acara besar. Punjul juga yang lebih fokus nanganin masalah ASEAN.

Rasanya baru kemarin kami sama - sama hunting foto ke Dieng, dan nginep di rumah Punjul di Wonosobo. Belum lama berlalu waktu kami masih sama - sama suka nongkrong di ngisor pelem di kampus Fisipol UGM. Dan sekarang ngisor pelemnya udah in memoriam…:((

Masih hangat di ingatan kami bertiga berjibaku dengan skripsi masing - masing. Dan meskipun saya yang paling bontot angkatannya diantara Dita dan Punjul, tapi saya yang pertama berhasil lulus. Horeee… :)

Belum lama rasanya saya dan (mantan) pacar, dan Punjul serta ( mantan juga ) pacar..dulu kami barbeque an bareng di Nandan. Makan sosis grill yang rasanya ajaib. Ngerjain proyek nya Mbak Lily di Kraton Jogja. Punjul pernah satu team sama saya juga waktu ngerjain proyek Planet Detik. Punjul manusia penuh bakat. Super pendiem. Kayak gong. Gak bunyi kalo gak dipukul. Kreatif dan cerdas.I stil keep your present for my 20th birthday Njul.. :)

Saya kira Punjul akan menjadi seorang creative director sebuah biro iklan, direktur IT sebuah bank asing, wartawan handal atau fotografer hebat. Ternyata semua perkiraan saya salah. Garis nasib mengantarkan Punjul menjadi seorang diplomat di Deplu. Jadi kalau suatu hari nanti akan ada Dubes RI di suatu negara yang cerdas, jago IT, pinter bikin graphic, bisa motret dan nulis yang bagus, tanya aja.. Pak, nama Bapak Punjul Setya Nugraha bukan ya ? " Pasti dia akan tersenyum misterius seperti biasanya.

Punjul yang susah ditebak isi hati dan pikirannya. Super duper misterius. Tapi yang jelas dia super baik and he’s somebody that you can trust and count on. Setia pula. Congratulations untuk Nyonya Punjul :)

Talking about Dita..Hmm..Saya terakhir difoto seorang Dita Alangkara yang belum menjadi fotografer AP itu, seingat saya di Candi Gebang Jogja. Itupun sama Punjul. Mereka memulai karir fotografernya salah satunya dengan memotret model amatiran dari kampus komunikasi UGM bernama Nenden..:))

Sekarang siapa yang gak kenal seorang Dita Alangkara, yang foto - fotonya menghiasi halaman surat kabar - surat kabar dimanapun, DIta Alangkara / AP Photo. Uhhh…mantaaaab…

Siapapun yang mendengar namanya pasti menyangka akan berhadapan dengan seorang perempuan, bayangannya mungkin imut manis. Ternyata Dita yang ini laki - laki tinggi buesaaar dan keliatannya sangar. Padahal ya ampyuuuun…Dita itu emang manis bener meskipun gak imut. Very humble and helpful. A friend that you can count banget.

Temen yang ngajakin saya ikut basket di lapangan Kompas sabtu sore. Ternyata saya masih sanggup lari ngejar bola setelah maen basket terakhir 12 tahun lalu jaman SMA hehehe..Dita very nice guy, sayang untuk urusan percintaan kayaknya nasibnya kurang beruntung seperti saya :). Diantara kami bertiga baru Punjul yang baru saja lulus dari universitas jomblo. Saya dan Dita masih berjuang bagaimana meninggalkan status lajang kami berdua..hahaha, keep on searching ya Dit. Hope you’ll find someone that you love and loved you to share your life with.

Pertemuan dengan Dita dan Punjul di Cebu, membuat saya jadi ingin sedikit napak tilas perjalanan kami sejak dari kampus hingga sama - sama bisa sampai di Cebu ini. Menengok beberapa jejak yang pernah kami torehkan di perjalanan masa muda kami. Kuliah, belajar motret, aktivitas kampus, mencari cinta..ah serunya. Jadi kangen kampus. Masa - masa itu. Nongkrong di kampus sampe malem, ikut panitia ini itu..sok sibuk lah pokoknya.

I do really appreciate what we have been through. Thanks for our friendship ya Dita, Punjul. You guys are lovely. Hope you both get what you want in life, and found your happiness along the way to the top.

Jakarta City Life

Tuesday, January 9th, 2007

Sebuah sms masuk dari sahabat saya yang merupakan pembaca setia blog saya. Katanya " hai, blogmu kok ndak sebergairah kemaren2 say ?".. Hmm..begitu ya persepsi pembaca..

Saya jawab, "iya nih low bat". Dia jawab lagi "tahun baru kok low bat..ayo dicharge lg..mana nenden yg tak pernah lelah memaknai ?;-)" saya cuma bisa jawab balik " thanks supportnya".

Iya ya ini tahun baru harusnya semangat baru..tapi rasanya lagi merasa capek, fisik dan mental. Low bat kalo laptop sih. Entahlah belakangan memang ada banyak kerjaan dan tidur saya gak berkualitas, jadinya fisik saya lagi lelah, lemes, ngantuk melulu.

Rasanya pengen escape sejenak ke Ubud, just sleep, meditate, read books, spa and writting. I think I need fresh air to refresh my body, mind and soul. Jakarta make me sick juga rupanya..

Sayangnya waktu menjadi sesuatu yang mahal rasanya buat saya sekarang ini. Dan saya yakin saya bukan satu - satunya yang mengalami ini, sebagian besar orang Jakarta harus merelakan waktunya habis untuk banyak hal lain, selain dirinya.

Waktu untuk menempuh perjalanan dari rumah ke kantor dan pulang pergi setiap hari, plus macet atau terjebak banjir. Pekerjaan kantor yang gak ada habisnya. Sehingga pulang ke rumah hanya untuk mandi dan tidur saja. Bahkan kadang pulang gak sempet mandi saking capeknya, dan tidurpun juga gelisah karena teringat deadline tugas - tugas yang harus segera diselesaikan. Kalau sudah begitu, stress dan depresi hanya masalah waktu saja.

Hmm what kind of life is that ? Tapi rasanya tidak banyak pilihan untuk para pekerja yang bertarung di belantara Jakarta demi segepok rupiah. Hidup begitu nyata dengan segala kebutuhannya yang harus dipenuhi.Hanya sedikit sekali orang - orang yang "beruntung" terlahir di keluarga yang mapan, sehingga tinggal meneruskan usaha keluarga tanpa harus berjuang dari nol.

Dan saya adalah salah satu dari sekian juta orang yang kurang "beruntung" itu. Yang harus berjuang sendirian dari nol untuk membangun mimpi akan sebuah kehidupan yang saya inginkan. Hidup yang saya inginkan 5 tahun lagi adalah, saya bekerja di rumah atau apartemen yang nyaman, dengan laptop dan internet, dan merawat anak - anak saya dengan tangan saya sendiri, bukan suster atau pembantu.

Sahabat saya pengirim sms ini mengatakan saya sebagai orang yang tak lelah memaknai. Rasanya kali ini saya tidak sedang ingin memaknai apa - apa.. Saya hanya sedang lelah dengan kehidupan Jakarta. Tapi rasanya waktu bukan sesuatu yang bisa dinikmati di Jakarta, setidaknya untuk saya saat ini, karena terlalu mahal untuk saya yang masih berjuang. Jakarta oh Jakarta, I hate you but I love you.