Ironic Stories From The Palace
Wednesday, February 28th, 2007Bekerja di Istana Presiden bagi siapa saja tentu saja akan membanggakan. Semua orang tentu akan mengira bahwa para pegawai yang bekerja di Istana Presiden mendapat segala fasilitas yang wah dengan gaji yang menggiurkan. Saya ingat respon salah seorang teman ketika mengetahui saya saat ini bekerja di Istana Presiden. " Wah loe dapet jatah apartemen di mana ?" Saya cuma bengong sejenak. Apartemen ????
Tapi lama - lama saya semakin terbiasa dengan berbagai respon yang "wah" itu. Ya saya senyum - senyum saja, saya anggap itu adalah doa untuk saya. Doa bahwa saya akan memiliki kepemilikan materi seperti yang mereka bayangkan karena saya bekerja di Istana Presiden. Tinggal di apartemen, mobil bagus, gaji besar. Alhamdulillah..amiiinn, terimakasih doa nya
Berbagai cerita ironi sebetulnya menjadi keseharian kami disini. Bagaimana wartawan dengan pengalaman 25 tahun hanya digaji setara dengan gaji reporter baru di sebuah TV swasta. Staf yang menjadi tangan kanan dan tangan kiri dan harus stand by 24 jam 7 hari seminggu, hanya digaji separuhnya. Tidak ada tunjangan transportasi, dan biaya komunikasi untuk sekedar pulsa handphone.
Barusan staff yang cerdas dan andalan si bos itu bercerita, bagaimana dia harus berjuang menuju Istana Wapres untuk menghadiri suatu acara dengan menumpang ojek, karena tak mampu bayar taksi. Tanggal segini memang tanggal paling rawan bagi dompet - dompet kami. Belum dia kemudian harus pontang panting ke berbagai departemen untuk koordinasi dan mengumpulkan data. Semua biaya transportasi dikeluarkan dari dompet sendiri yang berasal dari gajinya yang hanya separuh itu. Handphone nya pun dalam posisi "bisu" karena kehabisan pulsa.
Redpel saya yang wartawan senior itu bercerita, bagaimana dua malam lalu dia terpaksa berhutang di warung dia makan, karena di dompetnya hanya tersisa 11.000 rupiah saja. Padahal makanan dan minuman yang harus dibayar 12.000. Alhasil, sang istri di Surabaya lah yang ketiban sampur, ditelpon untuk mengirimkan sejumlah uang. Kerja katanya di Istana Presiden, bukannya ngasih lebih sama istri, malah minta kiriman dari istri hehehe..
Kisah lebih menyedihkan dialami oleh para office boy kami yang merupakan tenaga outsourcing. Ternyata seringkali gaji mereka yang tidak seberapa itu , bahkan di bawah UMR DKI Jakarta, dihutang. Bisa 3 bulan mereka belum menerima gaji yang menjadi hak mereka. Bayangkan…? Tidak terbayang bukan di benak anda ? Alhasil kami yang bersimpati seringkali memberi mereka pekerjaan - pekerjaan kecil yang bisa ada sedikit tip untuk income mereka.
" Kerjo neng Istana ki kabotan jeneng " kata teman saya yang baru dari Istana Wapres itu dalam bahasa Jawa yang artinya kerja di Istana itu cuma berat namanya saja. Kami pun tertawa dengan getir menertawakan nasib kami. Hahahahaha…ya betul. Buat para orang tua kami, tentulah sangat membanggakan bahwa anaknya bekerja untuk negara di tempat tertinggi di negeri ini. Tapi apa daya, teman saya itu pun terpaksa menelpon ibunya di Jogja untuk meminta bantuan tambahan dana. Mana cukup gajinya yang separuh untuk hidup cukup di Jakarta ? Gengsi dan kebanggaan saja tidak cukup untuk hidup layak di Jakarta
Yah begitulah sedikit kisah ironis dari balik dinding Istana Presiden yang megah. Bahwa memang ada beberapa privilege ya, kami juga tidak menafikannya. Minimal ID yang kami miliki bisa untuk bebas dari tilang, itupun bagi mereka yang punya mobil
Kami bisa ikut travelling dengan Presiden dengan budget negara, ya memang betul.
Untuk saya yang masih lajang dan beruntung punya cukup network dan skill menulis yang bisa membuat saya bermanuver mendapatkan side job, tidak terlalu masalah. Saya menikmati apa yang ada di depan mata saya sekarang. Mengalir mengikuti alurnya, meskipun tentu saja saya terus berusaha untuk mencapai penghidupan yang lebih baik. Apapun itu, kearah manapun saya dibimbing-Nya, kesitulah saya berjalan. Karena saya yakin itulah yang terbaik untuk hidup saya.