Archive for February, 2007

Ironic Stories From The Palace

Wednesday, February 28th, 2007

Bekerja di Istana Presiden bagi siapa saja tentu saja akan membanggakan. Semua orang tentu akan mengira bahwa para pegawai yang bekerja di Istana Presiden mendapat segala fasilitas yang wah dengan gaji yang menggiurkan. Saya ingat respon salah seorang teman ketika mengetahui saya saat ini bekerja di Istana Presiden. " Wah loe dapet jatah apartemen di mana ?" Saya cuma bengong sejenak. Apartemen ????

Tapi lama - lama saya semakin terbiasa dengan berbagai respon yang "wah" itu. Ya saya senyum - senyum saja, saya anggap itu adalah doa untuk saya. Doa bahwa saya akan memiliki kepemilikan materi seperti yang mereka bayangkan karena saya bekerja di Istana Presiden. Tinggal di apartemen, mobil bagus, gaji besar. Alhamdulillah..amiiinn, terimakasih doa nya :)

Berbagai cerita ironi sebetulnya menjadi keseharian kami disini. Bagaimana wartawan dengan pengalaman 25 tahun hanya digaji setara dengan gaji reporter baru di sebuah TV swasta. Staf yang menjadi tangan kanan dan tangan kiri dan harus stand by 24 jam 7 hari seminggu, hanya digaji separuhnya. Tidak ada tunjangan transportasi, dan biaya komunikasi untuk sekedar pulsa handphone.

Barusan staff yang cerdas dan andalan si bos itu bercerita, bagaimana dia harus berjuang menuju Istana Wapres untuk menghadiri suatu acara dengan menumpang ojek, karena tak mampu bayar taksi. Tanggal segini memang tanggal paling rawan bagi dompet - dompet kami. Belum dia kemudian harus pontang panting ke berbagai departemen untuk koordinasi dan mengumpulkan data. Semua biaya transportasi dikeluarkan dari dompet sendiri yang berasal dari gajinya yang hanya separuh itu. Handphone nya pun dalam posisi "bisu" karena kehabisan pulsa.

Redpel saya yang wartawan senior itu bercerita, bagaimana dua malam lalu dia terpaksa berhutang di warung dia makan, karena di dompetnya hanya tersisa 11.000 rupiah saja. Padahal makanan dan minuman yang harus dibayar 12.000. Alhasil, sang istri di Surabaya lah yang ketiban sampur, ditelpon untuk mengirimkan sejumlah uang. Kerja katanya di Istana Presiden, bukannya ngasih lebih sama istri, malah minta kiriman dari istri hehehe..

Kisah lebih menyedihkan dialami oleh para office boy kami yang merupakan tenaga outsourcing. Ternyata seringkali gaji mereka yang tidak seberapa itu , bahkan di bawah UMR DKI Jakarta, dihutang. Bisa 3 bulan mereka belum menerima gaji yang menjadi hak mereka. Bayangkan…? Tidak terbayang bukan di benak anda ? Alhasil kami yang bersimpati seringkali memberi mereka pekerjaan - pekerjaan kecil yang bisa ada sedikit tip untuk income mereka.

" Kerjo neng Istana ki kabotan jeneng "  kata teman saya yang baru dari Istana Wapres itu dalam bahasa Jawa yang artinya kerja di Istana itu cuma berat namanya saja. Kami pun tertawa dengan getir menertawakan nasib kami. Hahahahaha…ya betul. Buat para orang tua kami, tentulah sangat membanggakan bahwa anaknya bekerja untuk negara di tempat tertinggi di negeri ini. Tapi apa daya, teman saya itu pun terpaksa menelpon ibunya di Jogja untuk meminta bantuan tambahan dana. Mana cukup gajinya yang separuh untuk hidup cukup di Jakarta ?  Gengsi dan kebanggaan saja tidak cukup untuk hidup layak di Jakarta :)

Yah begitulah sedikit kisah ironis dari balik dinding Istana Presiden yang megah. Bahwa memang ada beberapa privilege ya, kami juga tidak menafikannya. Minimal ID yang kami miliki bisa untuk bebas dari tilang, itupun bagi mereka yang punya mobil :) Kami bisa ikut travelling dengan Presiden dengan budget negara, ya memang betul.

Untuk saya yang masih lajang dan beruntung punya cukup network dan skill menulis yang bisa membuat saya bermanuver mendapatkan side job, tidak terlalu masalah. Saya menikmati apa yang ada di depan mata saya sekarang. Mengalir mengikuti alurnya, meskipun tentu saja saya terus berusaha untuk mencapai penghidupan yang lebih baik. Apapun itu, kearah manapun saya dibimbing-Nya, kesitulah saya berjalan. Karena saya yakin itulah yang terbaik untuk hidup saya.

Untuk Herman dan Guntur

Tuesday, February 27th, 2007

Nonton TV belakangan ini isinya berita bencana gak berenti - berenti. Tapi yang catch my attention tentu saja berita tentang meninggalnya dua orang kameramen TV waktu meliput olah TKP Kapal Levina I, hari minggu 25 februari lalu. Saya yang sedang berada di Jogja saat itu hanya bisa menyaksikan dari layar televisi.

Kepanikan rekan - rekan wartawan yang menyelamatkan diri dan peralatan liputan, sampai kemudian didapat konfirmasi Suherman kameramen Lativi meninggal di rumah sakit. Saya tidak kenal secara pribadi dengan Herman. Sering ketemu iya, karena kebetulan Herman bertugas meliput di Istana Presiden. Tapi saya tetap merasa kehilangan. Ah..umur manusia memang tidak ada yang tahu.

Berhari - hari kemudian mengikuti perkembangan pencarian dua orang petugas labfor dan kameramen SCTV Mohammad Guntur. Sampai akhirnya jenazah ketiga orang tersebut ditemukan kemarin. Tadi pagi saya menonton siaran SCTV yang khusus didedikasikan untuk Guntur yang sudah bergabung dengan SCTV selama 11 tahun.

Perasaan saya campur aduk menyaksikannya. Sedih, terharu, bangga, kesel. Sedih karena meskipun saya tidak kenal dengan Guntur, tapi dia adalah rekan satu profesi. Resiko pekerjaan yang sama pula saya hadapi. Terharu melihat solidaritas para wartawan semua media. Bila selama ini "bertarung" di lapangan demi mendapatkan berita yang terbaik, kali ini yang nampak hanyalah solidaritas dan kebersamaan. Tidak ada arogansi atas nama institusi. Semua bahu membahu saling membantu. Saya menonton perbincangan Bayu Setiyono dengan kru Global TV yang menemukan jenazah Guntur setelah diinformasikan oleh nelayan. Bagaimana penemuan dan pengevakuasian tersebut tidak mudah karena medan yang cukup sulit. Saya hanya bisa menonton dengan mata berkaca - kaca. I wish I were there.

Bangga, karena rekan - rekan saya gugur dalam menjalankan tugas jurnalistik. Saya "iri" pada mereka yang telah berdedikasi sedemikian tinggi pada profesi ini. Profesi yang sangat saya cintai. Tapi saya juga kesal, karena bagaimanapun ini tetaplah sebuah kecelakaan yang dikarenakan oleh keteledoran. Tidak dikenakannya pelampung pada saat peliputan, dan para jurnalis yang dikirim untuk bertugas adalah jurnalis yang tidak bisa berenang, tetap saja merupakan kesalahan.

Tadi saya saksikan pemberangkatan jenazah Guntur dari kantor SCTV dengan diantar rekan kerja, sahabat, orang - orang tercinta dan para simpatisan. Ah..selamat jalan sahabat - sahabat. Kepergian kalian pelajaran sangat berharga bagi kami dalam menjalankan tugas dan berkarya untuk masyarakat.

Valentine aja kok repot :)

Wednesday, February 14th, 2007

Kalo Oyok menulis judul posting di blognya Fucking Valentine, saya rasanya gak ingin sesadis itu. Valentine kali ini buat saya means nothing, kecuali bahwa pada hari ini bertepatan dengan ulang tahun pertama website Presiden tempat saya bekerja. Website ini dilaunch persis tanggal 14 Februari 2006 setahun lalu. Entah kenapa my celebrity boss ingin meluncurkannya bertepatan dengan hari dimana banyak orang yang merayakannya sebagai Hari Kasih Sayang. Biar pada inget kali ya :)

Aniwei seinget saya mengenal kata Valentine, rasanya setiap tahunnya selalu diikuti dengan pro dan kontra. Sikap pro berasal dari para pebisnis, media, dan para pihak yang diuntungkan dengan adanya momen ini. Misal gift shop, cafe dan resto, toko kembang, toko kartu, toko musik, dan bisnis lainnya. Sikap kontra bisa ditebak berasal dari para agamis yang konservatif. Indonesia dengan mayoritas penduduk muslim mengaitkannya dengan isu agama. Bahwa Valentine itu berasal dari perayaan St.Valentine yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Berbagai data sejarah dikuak untuk memperkuat sikap kontra itu. Repot amat yak ;))

Mereka yang anti barat juga menganggap bahwa Valentine ini adalah budaya barat yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Valentine adalah hura - hura semata. Ya namanya juga globalisasi, penetrasi media sudah menyusup ke hampir setiap rumah di pelosok dunia manapun melalui televisi, radio, media cetak dan internet.

Buat saya sih sebetulnya gak usah jadi ribut dan pro kontra segala. Masih banyak urusan lain yang lebih penting. Simpel aja, kalo pengen ikutan ngerayain ya silahkan. Mungkin pengen menggunakan momen ini dengan pasangan untuk memaknai kembali dan mereview kualitas relasi yang terjalin selama ini. Ingin pergi berdua berlibur ke suatu tempat yang romantis, atau sekedar makan malam yang agak special. Gak ada yang salah bukan untuk menghabiskan waktu yang berkualitas dengan seseorang yang berarti buat kita ?

Atau mungkin ingin menggunakan momen Valentine ini untuk memberikan hadiah, ucapan, atau sekedar kartu  bagi orang - orang terkasih, gak ada yang salah juga bukan ? Bukannya berbagi dan menghargai perhatian dan segala kasih dari orang lain itu hal yang baik ? Meskipun memang sebaiknya bukan hanya pada hari Valentine saja kita berbagi. Tapi ya namanya juga manusia kota besar yang selalu sibuk.. Kalo tiap hari mana sempet kali..Dan kebetulan ada momen sehari dalam setahun ini dimana orang diingatkan untuk berkasih sayang, gak apa - apa juga kan ?

Kalo nggak setuju juga gak ada yang ngelarang kok. Tapi gak usah ribut - ributlah, biasa aja. Gak usah terus jadi sinis sama orang yang ingin merayakan. Berusaha kampanye boikot Valentine atau berusaha keras mempengaruhi orang - orang untuk ikut anti Valentine. Urusan satu hari kok kayak perang dunia ketiga. Valentine aja kok repot :)

Saya sih sekarang memaknai Valentine dengan biasa - biasa aja, ada Valentine date nya ya hayuu..gak ada juga gak apa - apa. Ada yang sms say happy Valentine ya saya balas, gak ada yang sms juga gak apa - apa. Secara saya juga sibuk dengan banyak kerjaan gitu. So hari ini pun berlalu begitu saja seperti hari - hari lainnya.

Mungkin perjalanan menuju proses pendewasaan aja kali ya. Saya mulai tidak meributkan lagi hal - hal gak penting. Saya juga dulu waktu SMP pernah "memaksakan" diri ikut ber-Valentine ria, seperti temen - temen lainnya. Ke sekolah dengan bando pink, yang meskipun kekecilan dan bikin sakit kepala tetap saya pakai. Saya juga pakai sweater pink kedodoran karena itu punya kakak saya, karena sweater saya sendiri gak ada yang warnanya pink. Sibuk kirim - kirim paket cokelat dan kartu untuk kecengan saya di kelas sebelah. Waduuuh pokoknya Valentine itu bikin ribet deh..Saya nyengir aja kalo inget kejadian itu.

Waktu SMA saya juga pernah "merayakan" Valentine dengan seseorang. Kita makan malem ke KFC di Jl.Riau ( Bandung ). Hmm dia inget gak ya, secara dia ada di friendlist saya aja gitu  ;)) Dandan secantik saya bisa sesuai dengan tren waktu itu, celana jins cutbrai en kalung chokker mencekek leher. Rambut diblow out.Waduh rasanya udah paling keren sedunia aja. Begitulah sekelimut kenangan - kenangan saya tentang Valentine di masa remaja. Kisah - kisah yang rasanya bikin saya geli kalo inget. Kok bisa - bisanya dulu saya begitu ya hahahaha…

Beranjak dewasa, Valentine rasanya semakin biasa - biasa saja buat saya. Meskipun pernah saya membelikan CD lagu KD buat seseorang pada hari Valentine, dan mendapatkan kiriman bunga mawar dari seseorang. Dan bodohnya saya "menertawakan " kiriman bunga itu yang kemudian bikin si pengirim ngambek. Saya sebetulnya tidak bermaksud benar - benar mentertawakannya, saya hanya super heran saja, dia yang sangat tidak romantis, datar dan sangat tidak ekspresif, tiba - tiba pada hari Valentine membawakan saya beberapa tangkai mawar merah. Saya yang biasanya dicuekin merasa ajaib saja dengan perubahannya yang hanya terjadi saat itu, it wasn’t him at all :)

Today another Valentine goes by..Just like any other day. Saya hanya ingin bersyukur atas usia website Presiden yang menginjak satu tahun. Semoga menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi lebih banyak orang dan tuntas menyelesaikan baktinya sampai ujung pengabdian. Kerja keras dan dukungan banyak pihak mengantar kami ke hari ini. Terima kasih terucap dengan tulus dari hati.

Demikian juga yang ingin saya sampaikan kepada para pembaca setia blog saya. Yang mengingatkan saya ketika lama saya tidak mengupload posting baru, yang mengsms atau menellpon untuk menanyakan what’s goin on with me..? They asked because they read my latest posting. Terimakasih untuk segala perhatian, kepedulian, kasih dan cinta yang tercipta di blog ini. Memang hanya cinta lah yang menjadi energi bagi jari - jari saya menari dengan riang diatas tuts keyboard laptop saya menuliskan rangkaian kata - kata. Berbagi rasa dan asa dengan anda semua. Dan energi cinta pulalah yang menggerakkan anda mempost comment, mengsms saya, menelpon saya, menuliskan email, atau menulis message di FS dan YM saya.

Adalah sebuah kebahagiaan tak terhingga ketika rangkaian kata - kata yang tercipta bisa menjadi secuil inspirasi bagi beberapa orang. Terima kasih untuk berbagi dengan saya. Mungkin akan lebih indah kalo cinta juga bisa menjadi energi kita sehari - hari dalam melakukan segala aktivitas kita. Kita coba yuk..

Saya Takut Menulis

Monday, February 12th, 2007

Nenden takut untuk menulis ? Mungkin anda akan bertanya seperti itu ketika membaca judul posting saya kali ini. Tapi ya itulah yang saya rasakan. Entah kenapa belakangan saya seperti kehilangan gairah saya untuk menulis..Sebetulnya begitu banyak ide di kepala, tapi terlalu banyak barrier rasanya untuk saya menuntaskannya dalam bentuk sebuah tulisan untuk saya postingkan diblog saya tercinta ini. Barrier yang saya maksudkan adalah pertimbangan – pertimbangan di kepala saya mengenai reaksi orang yang membaca tulisan saya ini nantinya.

Rupanya pikiran saya sudah tidak bebas lagi, pikiran saya sudah terpenjara oleh berbagai ketakutan yang mungkin tidak perlu. Mungkin para pembaca tulisan saya tidak akan berpikir dan merespon tulisan saya seperti yang saya prediksikan. Jangan – jangan ketakutan saya yang terlalu berlebihan ? Mungkin saja bukan ?.

Kenapa saya menjadi mendadak penuh pertimbangan ? Karena ide – ide yang ingin saya tuntaskan dalam tulisan ini akan berkaitan dengan beberapa orang yang saya tahu juga membaca blog saya ini. Atau setidaknya mereka mengenal bahkan sangat akrab dengan orang – orang yang akan saya ceritakan. Dan saya berpikir ulang untuk menuliskan berbagai inspirasi dari interaksi atau pengamatan saya atas orang – orang itu, karena saya “takut” bahwa orang – orang yang membaca dan kemudian langsung ngeh dengan object dari tulisan saya itu akan take advantage dari apa yang mereka ketahui melalui tulisan saya itu. Apa yang mereka baca kemudian akan membentuk sebuah frame baru di kepala mereka yang bukan tidak mungkin akan mereka gunakan untuk “menembak” saya suatu saat nanti.

Apakah saya ini sudah menjadi paranoid ? Entahlah…jangan – jangan iya. Saya juga heran, kok saya menjadi manusia yang sangat berhitung dan menimbang – nimbang seperti ini sekarang ? Mungkin akibat dari berbagai pelajaran pahit yang saya alami karena “keteledoran” saya. Sehingga saya menjadi manusia yang sangat hati – hati saat ini. Tapi ternyata hati – hati saya menjadi kebablasan , yang pada akhirnya malah memenjarakan saya menjadi takut untuk ngapa – ngapain. Even hanya untuk menulis apa yang saya rasakan dan pikirkan untuk kemudian dipublish di blog ini.

Pekerjaan saya “mengharuskan” saya untuk pintar – pintar memplester mulut saya belakangan ini. Jangan sampai saya keceplosan mengatakan sesuatu yang tidak harusnya diketahui oleh orang lain ( baca : orang luar kantor ). Saya harus dalam keadaan “waspada” ketika berbicara dengan orang – orang, untuk tidak terpancing mengatakan sesuatu yang sifatnya rahasia. Itu membuat saya tidak nyaman, kalau tidak dibilang stress. Saya manusia bebas yang terbiasa berbicara apa saja dengan orang – orang yang saya percaya dan kenal dekat. Tapi kali ini saya harus mengkaji ulang “status” orang – orang terpercaya dan dekat itu. Benarkah mereka cukup dapat dipercaya dan cukup merasa dekat dengan saya sehingga tidak akan menjebloskan saya pada posisi yang sulit ?

Lingkungan kantor saya “mengajarkan” saya untuk menganut prinsip trust no one. Awal – awal masuk saya berpikir sangat positif tentang semua orang. Saya kira dia adalah teman, ternyata dia adalah ular yang berusaha mematuk saya dari dalam. Entah apa yang membuat dia tega melakukan itu pada saya, mungkin dia menyimpan sebuah motif yang tidak saya ketahui sampai sekarang. Mungkin iri, mungkin memang tidak suka, entahlah..rasanya saya tidak pernah berbuat jahat padanya. Tapi tidak suka pada seseorang mungkin memang tidak memerlukan sebuah alasan yang masuk akal.

Dan kejadian itu bukan hanya sekali. Sejak saat itu saya menjadi sangat waspada dan tidak peduli dengan sekitar. Apatis dan skeptis mungkin dua kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya terhadap apa yang terjadi di kantor saya saat ini. Saya hanya berpikir menjadi seorang professional saja, yang hanya melakukan apa yang menjadi pekerjaan saya dengan sebaik – baiknya. Other than that..what the heck ! Yang penting saya masih bisa gajian dan traveling gratis, end of case J 

Lingkungan kantor saya sedang didera berbagai isu panas yang benar – benar mengguncang dunia persilatan. Dan lagi – lagi saya harus menjadi sangat hati – hati dalam berkata – kata dan berinteraksi dengan orang. Atau ada orang – orang yang akan memanfaatkan keteledoran saya itu untuk keuntungan mereka dan membahayakan posisi saya saat ini. Mulutmu harimaumu adalah filosofi yang harus saya pahami dan laksanakan hari – hari ini dan mungkin seterusnya. Meskipun di sisi lain saya “takut” akan kehilangan sisi spontanitas saya yang menyenangkan banyak orang. Tapi mungkin sudah saatnya saya menjadi manusia yang sangat hati – hati dan nggak slebor lagi J

Banjir Jakarta

Sunday, February 4th, 2007

Akhirnya saya mengalami juga banjir bandangnya Jakarta. Tahun 2002 lalu saya belum bergabung menjadi urbanis di Jakarta. Jadi cuma denger ceritanya saja dari temen - temen. Lima tahun telah berlalu, dan saya telah menjadi bagian dari denyut kehidupan ibukota negara ini. Selain segala kemegahan, fasilitas yang wah, plus polusi dan macetnya, satu hal yang melengkapi pengalaman saya menjadi warga Jakarta adalah kebanjiran.

Meskipun begitu, saya sangat beruntung tinggal di daerah yang bebas banjir. My housemate said that, meskipun nama daerah tempat kami kos itu sama sekali ndeso bahkan buat yang pertama kali mendengar akan tertawa geli, "petojo enclek", nama daerah kami tinggal itu. Sama sekali ndeso kan kalo kata Tukul. Tapi daerah kami bebas banjir. Kelapa Gading, Pondok Indah, Kuningan, daerah - daerah elit dengan nama keren itu malah mengalami banjir yang cukup parah.

Hari jumat, 2 februari, saya bertugas ke Cikeas. Untung Mita insist untuk bawa mobil sendiri, it was right decision, karena kalau berangkat dengan mobil biro pers alamat kacow beliaw deh itu kerjaan hari itu. Pagi hujan udah turun gak berenti - berenti. Perjalanan berangkat ke Cikeas lancar.

Menunggu ratas sambil memantau perkembangan banjir di Jakarta melalui media. Siang berlalu, kami masih disana. Menjelang sore, tiba - tiba dadakan Presiden memutuskan untuk meninjau lokasi banjir secara langsung. Laporan dari media massa memang memperlihatkan bahwa banjir semakin meluas dan parah di beberapa tempat.

Sekali lagi saya beruntung karena sejak berangkat saya sudah mempersiapkan diri dengan bersepatu boot, bukan sepatu cantik. Walhasil ketika akhirnya saya harus liputan banjir bersama Presiden pun gak masalah. Saya pun bergabung di jip  mercy nya paspampres. Nyelip di tengah, diantara tumpukan senjata dan peralatan keamanan. Sekali lagi beruntung memiliki badan mungil yang bisa diselipkan dimana-mana hehehe..

Sepanjang perjalanan, karena semua serba dadakan saya pun ditraining dadakan untuk mengoperasikan handycam milik paspampres untuk dokumentasi. Sepanjang jalan ketika rangkaian kendaraan Presiden terjebak macet di jalan tol dan berjalan sangat pelan, bahkan sampai paspampres berjalan kaki, saya merekam semuanya dengan tangan kiri bergelayutan di jendela mobil, badan setengahnya keluar dan tangan kanan memegang gandycam dalam posisi merekam. Bener - bener pengalaman yang baru buat saya.

Sampai di tempat pertama, Kampung Melayu, saya melihat massa yang sangat padat. Presiden pun berjalan melihat situasi, berdialog dengan pejabat - pejabat terkait, dan tak dinyana ikut meninjau ke bantaran Kali Ciliwung dan itu berarti nyemplung ke banjir yang tingginya selutut. Halaah..kebiasaan tentaranya kumat deh kalo dah begini :)

Saya pun harus membagi konsentrasi saya pada 3 titik. Handycam di tangan kanan, tangan kiri memastikan handphone dan tas saya yang berisi segala macam barang penting tetap aman di tempatnya, dan kaki untuk memastikan bahwa saya melangkah ke tempat yang benar. Beberapa kali saya sempat kecebur lebih dalam. Untunglah para paspampres dan mas wawan biro pers megangin tangan saya. Gila itu bener - bener gila. Bergerak saja sangat susah karena begitu menyemutnya massa yang mendekati Presiden.

Tapi gak tau for me it was so fun..Begini ini wartawan beneran. Gak cuma liputan seremonial, pukul gong, ndengerin pidato, sama nyambut tamu.. Nyemplung di daerah banjir, liat kondisi grass root, melaporkan situasi di lapangan, keringetan, basah, wis pokoknya ancur lebur. Sampe paspamres yang saya tebengin bilang walah mbak..mbak udah gak keliatan cantiknya, hahaha…Iyalah, liputan banjir kok masih mikir pengen keliatan cantik hihihihi..Kalo mau liat saya cantik, pas liputan KTT dong, dandan rapi dengan jas :)

But above it all, I learn bout something more important. I feel much better about myself, and feel so stupid that I’ve been complaining a lot about my life. Abis liputan banjir itu, something knocked my head. Something itu meneriaki hati saya dengan kata - kata "See Nenden, your life is ok..very ok. See them. Mereka belum makan dari kemarin, rumahnya terendam air, hanya baju yang melekat di badan. Sedangkan kamu masih bisa tidur nyenyak di kamar ber-AC dengan selimut tebal. Makan enak. Bajumu kering satu lemari penuh. Masih bisa ketawa - ketawa nonton Tukul, masih bisa belanja sale nya Zara, Mango,Sogo, makan di Sushi Tei, ngopi di Dome, nonton di EX, travelling dengan gratis, nginep di hotel bagus, dan kamu masih mengeluh tentang hidupmu ? "

Geez.. saya merasa sangat malu dengan diri saya. Hanya karena saya merasa kurang beruntung dalam urusan relationship, seperti orang - orang lain yang saya "lihat" memiliki kehidupan yang sempurna dengan seseorang untuk berbagi hidup sampai maut memisahkan, lalu saya merasa saya sebagai manusia tersial di dunia, dengan status single di usia 31 ini. Saya lupa mensyukuri begitu banyak anugerah yang telah Tuhan berikan kepada saya hingga saat ini. Mata saya hanya melihat pada hal - hal yang saya belum miliki saat ini, dan mata saya tertutup untuk hal yang lebih banyak yang telah Tuhan berikan kepada saya. Bahkan mereka yang terlihat "sempurna" di mata saya pun, ternyata memiliki banyak masalah yang lebih berat.

Saya pun tertunduk malu dan merasa sangat bersalah. Saya mohon ampun pada-Nya. Saya ucapkan puji syukur atas segala kelimpahan yang telah diberikan-Nya. Tuhan terima kasih.