Archive for March, 2007

@#$%#@$^&*^

Saturday, March 31st, 2007

Kemarin saat menunggu acara selesai di press room kantor Presiden, seperti biasa saya bergabung bersama rekan - rekan wartawan lainnya untuk mengobrol membunuh waktu. Saya lupa awalnya gimana hingga pembicaraan tiba pada topik mengenai perjalanan Presiden. Dan tiba - tiba suasana menjadi agak panas, karena rekan saya seorang wartawan radio berkomentar dengan cukup keras, bahwa Presiden yang paling besar jumlah rombongannya untuk setiap perjalanan ke luar negeri itu diantara sekian Presiden yang telah memerintah, ya Presiden yang sekarang ini.

Jumlah rombongan yang besar = pemborosan uang negara, uang negara = pajak yang dibayar oleh rakyat. Rasanya rekan saya itu dan mungkin siapapun rakyat Indonesia yang membayar pajak berhak untuk sewot kalau tahu bahwa pajak yang mereka bayar itu sebagian digunakan untuk "mbayari" orang - orang gak jelas itu jalan - jalan ke luar negeri.

Tapi disitu saya dalam posisi yang tidak bisa "berkutik", dan membiarkan rekan saya itu merepet ngeluarin kekesalannya menyaksikan setiap perjalanan Presiden yang membawa rombongan dalam jumlah super besar. Di pesawat kepresidenan maupun di advance. Saya gak bisa ngomong, karena apa yang dia katakan itu memang benar adanya.

Mereka pun, terutama para senior yang sudah bertahun - tahun meliput di istana dan mengalami masa beberapa Presiden, bertukar cerita dan pengalaman yang dulu - dulu. Dan fakta pun semakin jelas, bahwa apa yang dikatakan rekan saya itu memang benar adanya.

Secara saya pun termasuk yang diberangkatkan dengan biaya negara, saya tidak bisa berbuat banyak untuk ngeles. Gimana ya emang bener sih. Jangankan mereka saya juga sering terheran - heran bin takjub. Karena memang benar bahwa banyak sekali orang gak jelas yang bisa ikut berangkat ke luar negeri dengan job desc yang bikin orang mengernyitkan dahi dengan ekspresi heran. "Orang ini ngapain ya kerjaannya kok bisa ikut ? " itu mungkin kalau bisa diterjemahkan.

Orang juga gak buta dan gak tuli kali. It doesnt take a genious to know those kind of things lah. Untunglah, bahwa saya bisa cukup punya penjelasan mengenai keberadaan saya disitu. Saya wartawan, meliput kegiatan Presiden. Pos saya juga jelas di setiap kegiatan, karena saya berada bersama rombongan wartawan dari media lain di bawah koordinasi biro pers. Tulisan "Journalist" jelas tertera di ID card yang menempel di di baju saya.

Yah begitulah memang banyak keanehan. Tapi sebagai seorang kutu kupret, meminjam istilahnya Tukul, saya memang tidak berhak untuk ngapa - ngapain. Saya hanya diperkenankan untuk bekerja sesuai arahan komandan. Saya prajurit yang untuk sementara ditumpulkan daya analisanya, diharamkan untuk berpikir dengan cara yang berbeda, dan cukup duduk manis. Ya saya hanyalah seorang profesional yang menjalankan tugas saya di mana saya bertugas saat ini. Thats it.

Saya hanya kagum saja pada "keberuntungan" orang - orang itu. Yang tanpa perlu menjadi cerdas, dan tanpa kontribusi yang jelas bisa jalan - jalan ke luar negeri dibayarin uang rakyat. Hanya perlu sedikit lobi dan senyum manis agar bos terkesima dan kemudian berkenan mengajak keluar negeri.

Memang saya akui profesional yang bekerja disini dibayar sangat underpaid dengan fasilitas yang minim, kecuali makan dua kali sehari ya. Tidak ada tunjangan kesehatan ( jadi anda tidak boleh sakit bila bekerja disini ), tidak ada tunjangan pulsa, tidak ada dana operasional ( transport dan lain - lain ), dan tidak ada lembur untuk kerja di hari libur.

Karena birokrasi yang melilit sangat bundet ini, akhirnya para bos kami tersebut memang tidak memiliki banyak cara untuk "menebus" ke- underpaid-an yang dialami para stafnya. Akhirnya dengan memberangkatkan mereka keluar negeri lah adalah salah satu cara untuk memberikan tambahan. Sistem yang dipilih pun setahu saya bukan berdasarkan kompetensi, tetapi berdasarkan giliran, hanya demi asas pemerataan.

Jadi memang seperti lingkaran setan, mau mutusnya darimana dulu. Mekanisme untuk memberikan penghasilan lebih memang tidak ada. Korupsi jelas dilarang. Hahaha iyalah.. dasar gila :)

Jadi begitulah another cerita ajaib dari sini..Yang gaib dan lebih ajaib pun tentu lebih banyak, tapi nantilah saya simpan untuk lain kali. Sabar ya :)

Yang Dihujat Yang Berjuang

Saturday, March 31st, 2007

Barusan saya habis liputan acara Presiden di Pelatnas PBSI Cipayung Jakarta Timur. Pertama kali saya berkunjung ke tempat itu, dan melihat para atlet itu berlatih. And doesnt mean to be racist, tapi rasanya mayoritas para atlet itu berwajah keturunan china dengan mata sipit dan kulit putihnya. Hanya sedikit yang saya lihat berwajah pribumi dan kulit sawo matang.

Tapi bukan soal itu yang saya ingin bicarakan. However mereka adalah orang Indonesia. Dan mereka yang sering dijadikan "sapi perahan" para birokrat di kependudukan dan jadi sasaran amuk masa ketika terjadi kerusuhan sosial, itulah yang faktanya berjuang untuk mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional.

Prestasi - prestasi mereka membuat lagu Indonesia berkumandang di event - event internasional. Sebut saja Rudi Hartono juara All England 8 kali berturut - turut, Lim Swi King, Ivanna Lie, Susi Susanti dan Allan Budikusuma si pasangan emas olimpiade, dan banyak lagi nama - nama yang terdiri dari 3 potong kata maupun yang sudah di"paksa" di-Indonesiakan. Mata mereka sipit, kulit mereka kuning, mereka yang dihujat dan dibakar rumah dan tempat usahanya itulah yang berjuang mati - matian untuk eksistensi Indonesia in positive way. Diantara berbagai " prestasi " Indonesia lainnya, sebagai sarang teroris dan negara terkorup.

Saya hanya berbisik pada salah satu staf istana yang berada di dekat saya, " Ironis ya pak, mereka yang berjuang untuk Indonesia dipersulit KTP nya, dipaksa untuk ganti nama dengan nama Indonesia, pernikahan dengan cara agama mereka dihambat, budaya mereka (dulu) haram untuk dipertontonkan, " bapak yang saya bisikin cuma tersenyum, dan menjawab. " Buat mbaknya ironis, buat para oknum birokrat itu, mereka adalah mesin uang."

Saya hanya tersenyum dengan kecut, tak tahu mesti berkomentar apa.

“Jadilah Nenden apa adanya “

Thursday, March 22nd, 2007

My angel voice in my handphone said that " Jadilah Nenden apa adanya". Simple but deep. Those words come to my heart through my right ear, in the crowd of Coffe Club Plaza Senayan that Friday Nite.

"Hidup tidak untuk membandingkan antara hidup kita dan hidup orang lain. Lahir, rejeki, jodoh dan mati sudah diatur sama yang Punya Hidup, life is a mysteri, jangan dikejar. Kalau mau membandingkan, bandingkanlah dengan yang sudah kita miliki dalam hidup, " my angel continue his wise words.

Saya cuma terdiam dan tersenyum. Kata - katanya terasa begitu sejuk, menyelusup ke relung kalbu saya. Ya, jadilah Nenden apa adanya. Tak perlu berubah hanya karena sekian orang melabeli saya dengan berbagai sebutan ini itu.

Perempuan cerdas, mandiri, ambisius, adalah label yang mereka tempelkan pada saya. Itu adalah penghargaan sekaligus "kutukan" buat buat saya. Karena ternyata menyandang label - label itu tidak mudah. Terutama ketika harus berhadapan dengan mahluk bernama laki - laki. Since the world ruled by man, and we live in patriarchy world..Laki - laki takut dengan perempuan cerdas dan mandiri. Mereka hanya ingin berdampingan dengan perempuan yang biasa - biasa saja gak perlu cerdas yang penting cantik, dan tergantung pada mereka. Karena hanya dengan itulah para lelaki itu bisa mengendalikan hidup para perempuan dan mengatur dunia seperti kehendak mereka.

Sekali lagi my angel menegaskan kepada saya bahwa apapun predikat yang menempel dan ditempelkan itu hanyalah label. Cerdas, mandiri, ambisius, dan sederet apapun itu hanyalah label yang ditempelkan orang, dan bersifat sangat relatif. Buat si A cerdas, bukan berarti buat semua orang lainnya juga cerdas. Begitulah label itu berasal. Dari subjektifitas seseorang. Penilaian personal. Dan label - label itu bukanlah diri saya yang sebenarnya. Saya tidak boleh mengidentikkan diri saya dengan berbagai label yang tertempel itu. Karena label - label itu sangatlah relatif.

Kata - kata yang paling sering saya dengar dari sang malaikat itu adalah "Keep Going"..dan "jalani saja, bukan untuk dianalisa". Kata - kata maut yang selalu berhasil membuat saya KO ketika saya berkeluh kesah tentang apapun. Ya begitulah sang malaikat menempa saya untuk menjadi manusia tangguh menjalani hidup di belantara Jakarta yang ganas ini.

Bukan biasanya sang malaikat itu menelpon saya malam - malam. Tapi rupanya malam itu tidak biasa, karena dia harus menyampaikan suatu pesan sangat penting untuk saya. Message from heaven. Ya, kadang kala dia memang seperti itu. Malaikat yang ditugaskan menyampaikan sesuatu kepada manusia. Dan manusia yang harus mendapat pesan-Nya sore itu adalah saya.

Sore harinya saya baru saja ngopi di Starbuck Melawai dan untuk kesekian kalinya menangis di hadapannya. Sang malaikat itu hanya diam dengan mata berkaca - kaca. Tak banyak kata yang terucap dari bibirnya. Dia membebaskan saya mengeluarkan segala gundah yang mengganjal di hati. But I can feel that he loves me very much, I know that..as I do too.

Tanpa banyak nasihat dan kata - kata pun sudah lebih dari cukup buat saya. He’s my angel, coz he’s always there for me, even if he’s away..he’s always there when I need him. That’s why I called him my guardian angel.

Begitulah sekilas cerita jumat sore minggu lalu..How lucky I am for having my guardian angel with me.  God Bless You always..

De Ja Vu

Thursday, March 15th, 2007

Saya mungkin kurang tepat menjudulinya De Ja Vu..Karena setau saya de ja vu adalah suatu kejadian yang terjadi untuk pertama kalinya tapi kita merasakanya seakan sudah pernah mengalami sebelumnya. That’s what we call de ja vu, dan banyak orang mengaitkannya dengan something happened in our previous life.

Tapi yang terjadi pada saya kemarin sebetulnya, not exactly de ja vu. Karena memang pernah terjadi dalam hidup saya sebelumnya hanya pelakunya saja yang berbeda. Saya cuma tercenung ketika mengalami kejadian yang sama lagi dengan orang yang berbeda. Kata - kata yang mirip, ekspresi wajah yang sama, gestur dan sikap yang sama. Hanya orangnya yang berbeda. Orang sebelumnya yang melakukan itu sudah tiada di dunia ini. Saya hanya berkata dalam hati dengan getir, Tuhan ini terjadi lagi dengan orang yang berbeda.

Dan meskipun saya pernah mengalaminya, tapi tetap saja membuat saya nervous dan shaking. Saya kehabisan kata - kata dan logika untuk menganalisanya. Ya memang bukan untuk dianalisa, tapi untuk diterima dan dijalani. Saya hanya diam dan diam. Meskipun di satu sisi saya merasa lega, karena finally saya mendapatkan jawaban atas segudang tanya yang menggantung di benak saya selama ini. Tapi bagaimanapun jawaban - jawaban itu rupanya perlu waktu untuk dicerna, dipahami dan diterima dengan ikhlas.

Rupanya Tuhan begitu sayang pada saya, sehingga tak henti - hentinya memberi saya pelajaran untuk membuat saya benar - benar tertempa menjadi manusia yang ikhlas. Ikhlas menerima apapun yang diberikan-Nya kepada hidup saya. Dan menjadi berbahagia dengan apapun yang terjadi, as all those wise men said that, happines is not about what happened to our life, but about how we see it and response it.

My Life without Me

Sunday, March 11th, 2007

This is really good movie. Simple but deep. About Ann 23 year’s old mom with two cute girls, who told by her doctor that her life was only 2-3 months left. Then she started preparing anything to do before she died. She recorded birthday greeting and message for Penny and Patsy (her two little girls) till their 18th birthday anniversary. She even thinks of new wife for her husband and new mother for her children.  She met her husband at Nirvana last concert before Kurt Cobain died. Then she has her first child when she was 17. Four of them live in a trailer in Ann’s mother backyard.

The way she prepared her death, alone, only her doctor who knows that she’s dying was really touching me. It was like writing journal, counting the days and listed all the things what you want to do before you die. And at the end I watched that her mission was accomplished. She met her father in jail. She told her children that she loves them everyday; she loves somebody else beside her husband, and found a new wife for her husband and new mother for her children, who also named Ann.

And my question to myself is. What am I going to do before I die? What would my life be without me? What will they think and do without me in their life anymore? I believe anything will be like just the same life, coz life is goes on. I’m just an ordinary person who dreams a lot. If I were Soekarno, Fidel, or Pram, then the world will be a big different without me. Or I should be like them maybe to make the difference of my existence in this world :) See again I’m dreaming ;))

Life is a mystery. We don’t know for how long that we still allowed to be exist in this world. Basically all of us are dying. Ya..all of us. We’re just counting the days when will our time come. But most of us don’t realize it. We’re too busy in chasing things. Our target, our goals, pursuing our dream, and live in the future. Or sometime we left ourselves in the back at our past times. We’re thinking our great days in our past, until we’re forgetting our present at the moment in our present time, now. We’re forgetting many things to say thanks about. Thanks to life that is given. Thanks for new day each time we get up in the morning. Thanks for the sunshine that brighten the world, Thanks to for air that we breathe, thanks to the rain that drops water for our plant to grow. Thanks to all.

And I think start making list about what would we do before we die is not a bad idea, even we’re not told by our doctor that we’re going to die in certain time. Coz we’re all dying. And imagine what kind of life we want without us. So we can start living our best in life..

Susah ya jadi orang sopan ?

Sunday, March 4th, 2007

Pagi - pagi dah ada yang PM di YM saya. Tanya tentang sesuatu yang saya malah baru denger. Dan kemudian percakapan berkembang ke beberapa hal lainnya. Masih seputar media dan perkembangannya. At the end, teman chatting saya ini mengatakan bahwa saya payah karena tidak mengikuti perkembangan dunia media, khususnya pertelevisian di Indonesia. Ya daripada berdebat saya katakan saja memang beliau lebih tau dari saya. Saya bukan petinggi media yang mengetahui segala pergerakan dan dinamisasi politik permediaan Indonesia. Saya hanya reporter biasa yang tahunya liputan dan anything yang related berkaitan dengan pekerjaan saya sehari - hari.

Kalau media anu mau bikin ini, media lainnya akan ekspansi begini begitu, ya terserah saja. Namanya orang berbisnis tentu harus melakukan inovasi untuk bisa berkompetisi. Saya jadi pengamat saja sebatas menjadikan itu sebagai bahan obrolan dengan sesama rekan pekerja media. That’s it.

Saya nggak ngerti motivasi beliau mem-PM saya tadi pagi itu apa. Mungkin berusaha menggali informasi, tapi ternyata saya lebih tidak tahu dari dirinya. Dan gara - gara gak dapet yang dimaksud beliau jadi bete atau kenapa entahlah. Tapi kalimat - kalimat yang tertulis di layar YM saya, rasanya kalimat - kalimat sengak yang saya rasakan mengintimidasi. Yang saya payah lah, yang saya ketuaan lah, yang saya bakal gak betah lah, saya miskin lah.

What the heck is he doing ? Mungkin dia bermaksud untuk mengkritik, tapi kenapa nada - nadanya sangat meremehkan, merendahkan dan bahkan itu menghina. Entahlah mungkin perasaan saya saja yang sensitif. Tapi rasanya banyak cara yang lebih baik untuk menyampaikan kritik dan masukan. Tidak harus dengan kata - kata kasar yang menyakitkan. Susah ya untuk jadi orang sopan ? Atau mungkin saya sebagai yang lebih muda usianya, dan posisi dari segala sisi juga dibawah beliau, memang tidak layak mendapat perlakuan yang lebih baik darinya ? Entahlah saya tidak bisa membaca pikiran dan isi hatinya. Yang saya tahu hanyalah beliau manusia penuh dengan gengsi. Gengsi untuk ngaku salah, gengsi untuk ngaku kalo butuh sesuatu meskipun hanya informasi, gengsi untuk minta tolong dan gengsi untuk mengakui kelebihan orang lain.

Gak tau saya rasanya marah sekali pagi itu setelah menelan berbagai statemen beliau yang intinya merendahkan saya. Jiwa scorpio saya langsung tersentil. Tak ada seorang pun yang bisa merendahkan seorang scorpio. Dia mungkin tidak melawan. Hanya diam. Mungkin hanya akan tersenyum getir, tapi dadanya bergolak. Energinya bergejolak, menyusun sebuah kekuatan untuk kemudian siap dimuntahkan pada saat yang tepat. Tunggu saja saat itu tiba.

Recharging Myself in Jogja

Thursday, March 1st, 2007

Weekend yang lalu saya habiskan di Jogja. Usai bertugas di jawa tengah, saya minta ijin pada bos untuk mudik beberapa hari di Jogja. Saat ini rasanya bila menyebut kata mudik, yang ada di kepala saya adalah Jogja, bukan Bandung. Entahlah saya lebih merasa hommy di Jogja daripada di Bandung. So when I said I mudik..means i"m going to Jogja.

Menyusuri kembali jalanan Jogja dengan motor tua saya pemberian almarhum Bapak 11 tahun yang lalu, mau tak mau memaksa saya untuk kembali ke masa lalu. Ribuan hari saya menghirup udara kota ini lengkap dengan polusi dan kesegarannya. Ratusan kilometer jalanan di provinsi ini saya lalui, yang sudah beraspal maupun yang masih tanah dan batuan. Tak terasa betapa waktu begitu cepat berlalu.

Jalanan yang begitu akrab di mata saya kembali saya sapa dengan kepala sarat memori. Banyak yang berubah. Bangunan - bangunan baru, wajah - wajah baru. Para mahasiswa yang datang dan pergi setiap tahunnya. Meskipun kemudian banyak juga yang tertinggal dan menambah penduduk kota Jogja.

Selain berkesempatan menjemput keponakan saya di TK, saya pun mengunjungi kembali warung langganan tempat saya makan di gang Sendowo. Warung Bu Donning. Disitulah dulu hampir tiap hari saya makan. Bertemu dengan Bu Donning, menyapa dan saling menanyakan kabar. Eyang yang sudah begitu tua sehingga tidak sanggup lagi berjualan melayani kami para pembeli yang lapar. Terharu rasanya bisa kembali disini. Makan dengan lauk yang masih sama variasinya. Dengan es teh nya yang khas, dan tempat duduk lesehan di pinggir jendela favorit saya. Ibu Donning pun masih ingat lauk favorit saya, rendang hati sapi yang biasa terhidang setiap dua minggu sekali. " Rendang hati nya masih minggu depan Mbak Nenden, " begitu komentar akrabnya ketika saya muncul disana. Aduuuh…Ibu masih ingat aja kesukaan saya.  Harganya pun masih murah, makan super kenyang bertiga, saya hanya membayar 13.000 rupiah saja. Ah..Jogja memang tiada duanya kalo urusan makan murah.

Malam hari saya melewatkan malam dengan sahabat saya Angry yang kebetulan sedang berada di Jogja juga. Hasrat hati ingin makan bakmi pele di alun - alun lor, tapi apa daya jalan menuju kesana ditutup karena adanya Sekaten. Akhirnya kami pun memilih lesehan di alun - alun kidul.

Alkid masih menjadi pusat keramaian masyarakat Jogja. Apalagi waktu itu sabtu malam. Motor dan mobil yang diparkir, pedagang lesehan maupun kaki lima, dan begitu banyak orang yang menikmati suasana malam Jogja di alkid. Terutama yang mencoba peruntungan dengan berjalan dengan mata tertutup menuju celah antara diantara kedua pohon beringin besar yang berada di tengah alkid. Namanya masangin.

Masangin menjadi tradisi yang "wajib" anda coba bila berkunjung ke Jogja dan terutama bila ke alkid. Dengan mata tertutup, anda bisa menyewa dengan membayar 3000 rupiah untuk sewa tutup maa tersebut, anda bisa mulai berjalan menuju ke celah yang dimaksud. Banyak orang menyepelekan ritual ini, termasuk saya. Karena terlihat dari titik dimana kita mulai berjalan, bahwa celah antara kedua beringin itu cukup lebar. Bahkan jalur menuju kesana pun sudah terbentuk dengan jelas, karena rumputnya botak akibat sering diinjak.

Tapi anda boleh buktikan, ternyata gak segampang yang disangka. Ya, minimal untuk saya. Saya pernah mencobanya berkali - kali, dan akhirnya pada percobaan kesekian, sampailah saya ke celah yang dituju. Itupun setelah berputar - putar demikian jauh dari jalurnya. Menggelikan, tapi begitulah kenyataannya. Sesuatu yang tampak mudah, tapi ternyata susah.

Ritual ini dipercaya katanya hanya orang yang berhati bersih saja lah yang bisa mencapai tujuan, yaitu celah diantara dua beringin tersebut. Celah diantara beringin itu melambangkan tujuan hidup atau cita - cita yang ingin kita capai. Dan perjalanan kita menuju celah itulah yang dilambangkan perjalanan hidup yang kita jalani.

Saya pun menyimpulkan bahwa jalan saya menuju cita - cita dan tujuan hidup saya demikian berliku, karena saya harus membersihkan hati, pikiran, dan jiwa saya lebih dulu sebelum akhirnya tercapai. Anyhow..Nyampe juga tapi kan ? hehehe :) Percaya atau tidak tapi begitulah adanya, budaya Jawa memang sarat dengan berbagai nilai kehidupan dan perlambangnya.

Tapi hari itu saya sedang tidak berminat untuk mencoba masangin lagi. Saya hanya ingin duduk - duduk menikmati indomie goreng dengan wedang ronde, sambil menikmati malam di alkid bersama sahabat lama saya itu.Bercerita banyak hal, masa lalu dan masa kini. Kami sama - sama dibesarkan di Jogja dalam periode waktu yang berbeda. Tapi kami sama - sama tahu dan merasakan hal yang sama, bahwa hanya dengan ke Jogja lah kami bisa merecharge batere diri kami, ketika sudah low bat, karena kelelahan mental dan fisik di Jakarta. Jogja lah sumber energi kami. Sumber inspirasi kami. Tempat charger kami tertancap. Ya..Jogja.

Ke Jogja lah saya selalu akan kembali. Menyusuri lorong - lorong waktu. Menembus dinding hati orang - orang tercinta yang menjadi bagian dari relung jiwa saya. Membasuh luka hati. Menyejukkan pikiran yang gundah. Menyegarkan sukma dengan menatap wajah - wajah penuh kasih yang tiada berpamrih itu. Dan memuaskan dahaga akan nafas kehidupan yang terbalut kesederhanaan dan keikhlasan. Jogja memang selalu ngangeni siapapun yang pernah melewatkan hari - harinya di kota itu.