Archive for May, 2007

Adakah kamu mengingatku disana ?

Saturday, May 26th, 2007

Denting  nada di hati ku demikian sendu..
Meratap dengan segudang tanya
Adakah kamu mengingatku disana ?

Kutatap wajahmu di koran itu sedang tersenyum misterius seperti biasanya
Kamu dengan atribut lengkap yang menandakan kamu  sedang bertugas
Adakah kamu mengingatku disana ?

Ada rintih sepi disini
Hati yang meranggas rindu
Berharap seulas senyummu hadir menyapa
Kecupan lembutmu di dahiku
Dan genggaman hangat jarimu di jariku
Adakah kamu mengingatku disana ?

Tatap mata yang sayu
Mencari sosok mu di dunia maya ini
Hanya sederet namamu dan kalimat - kalimat indahmu yang kutemukan
Kalimat - kalimat yang menginspirasi banyak orang
Akan keindahan makna kehidupan yang ada di sekitar kita
Dan kamu adalah salah satu sosok keindahan kehidupan itu sendiri
Adakah kamu mengingatku disana ?

My “escape” bilik

Saturday, May 26th, 2007

Jogjakarta, Sabtu 26 Mei 2007
17.23 di warnet Bayonet

Saya di warnet ini lagi setelah sekian lama. Dulu bilik - bilik di warnet ini menjadi tempat saya "escape" sejenak dari realita. Duduk dengan layar komputer di hadapan, dan jari - jari  tak hentinya menekan tuts - tuts kibor dan merangkaikan ribuan abjad menjadi kata - kata yang bermuntahan dari pikiran dan hari saya.

Berbincang dengan sahabat - sahabat virtual saya yang bertebaran di berbagai belahan bumi. Membalas email -email dan membaca berbagai macam informasi yang saya lahap dari berbagai website favorit. Sekali - kali saya tersenyum atau bahkan ketawa ngakak sendirian. Kadang cemberut atau bahkan menatap layar komputer dengan mata berkaca - kaca.

Bilik inilah ruang privat saya dimana saya merasa bebas lepas, dan sendirian tanpa menjadi sepi. Surga kecil yang sangat simpel  untuk saya. Thanks untuk penemu internet dan simbah dengan Aruna -nya yang pertama kali mengenalkan saya sebuah dunia baru yang sangat indah dengan segala kompleksitas dan keabsurdannya. Sekarang saya bisa sakaw kalau tidak berinternet dalam sehari. Meskipun mungkin hanya cek email dan membaca berita - berita terbaru melalui wap.detik.com  dengan GPRS hape saya.

Sekarang saya ada di bilik ini lagi setelah sekian lama, karena harus menulis berita untuk website tercinta setelah tadi liputan acara Presiden di Candi Prambanan. Ada disini lagi serasa dejavu. Sempat antri menunggu lima orang untuk bisa mendapat bilik yang kosong. Saya lihat sekeliling masih sama. Tempat kasir masih disitu, dengan jendela depan mejanya yang pernah tak sengaja pecah tersenggol kaki saya beberapa tahun lalu. Bilik - bilik akses masih terpisah menjadi dua blok, non smoking dan smoking.

Secangkir pepermint tea dan sepiring nasi goreng menemani saya sore ini di bilik X tempat saya berada saat ini. Perut saya memang sudah protes dari tadi minta diisi. Tapi saya tahan karena saya harus menyelesaikan laporan saya dulu. Setelah tuntas 4 berita..fyuh barulah saya bisa mengisi perut dengan tenang.

Pepermint tea hangat membasahi tenggorokkan saya yang kering sejak tadi. Perut saya pun anteng setelah sesuap demi sesuap isi piring saya berpindah tempat. Ada telor ceplok dan drum stik yang menemani nasi goreng itu di perut saya.Plus kerupuk udang..hmm yummy baby :)

Saya masih belum mau beranjak, dari bilik "escape" saya ini. Padahal tak terasa sudah 3 jam saya disini. Entahlah merasakan atmosfir ini lagi rasanya begitu menyenangkan buat saya.Meskipun seiring waktu lantai karpet disini sudah butek, cat dindingnya juga sudah agak kusam, dan kursi yang saya duduki sudah cowel busanya. No problem at all.

Hmm..I got to go, finish my nasi goreng and tea.
Warm regards from cloudy Jogja..

Software of The Mind ….Culture

Tuesday, May 22nd, 2007

Akhirnya tadi malam saya bisa sampai tanpa kesulitan yang berarti di Pantau. Fyuh..sekarang sudah lebih jelas gambaran peta itu di kepala saya. So tepat jam 7 malam saya sudah sampai di kelas.

Kali ini bersama mas buset untuk membahas rencana - rencana tulisan panjang yang akan dibuat oleh peserta kursus. Ternyata yang sudah siap presentasi mengenai rencana tulisannya hanya Mbak Mona. Topik yang diangkat sangat menarik menurut saya. Tema nya "Software of the Mind ..Culture ". Dan spesifik kasusnya adalah pernikahan campur antara orang Arab dan Sunda.

I like the words.."culture is software of the mind" . It is true. Bukan hanya dalam perkawinan Arab-Sunda unsur budaya menjadi pokok persoalan, juga dalam perkawinan campur lainnya. Bahkan sama warga negara tapi beda etnis saja udah potensial konflik karena perbedaan budaya.

Saya setuju dengan teori yang dibilang Mbak Mona kemaren bahwa pikiran manusia dipengaruhi lingkungan, budaya, sosiologi dan psikologi. Dan itulah yang sering menjadi hambatan dalam berelasi dengan orang sekitar di kehidupan kita yang berasal dari berbagai latar belakang budaya.

Saya beruntung ketika proses pembentukan karakter dan tumbuh dewasa, meninggalkan rumah di Bandung dan hidup serta kuliah di Jogja yang terkenal sebagai Indonesia kecil. Saya baru tahu setelah di Jogja bagaimana pandangan etnis lain terhadap orang Sunda, dan terutama perempuan Sunda. Hal yang saya tidak pernah ketahui ketika saya masih di Bandung.

Seperti yang diungkapkan Mbak Mona di kelas tadi malam, setelah sebelumnya minta maaf. Bahwa salah satu stereotip orang Sunda adalah lemah karya alias pemalas. Sehingga jarang orang Sunda yang bisa muncul sebagai orang - orang hebat di berbagai bidang, bila dibandingkan dengan etnis - etnis lain. Dan sebagai orang Sunda asli, mendengar hal itu bukannya tersinggung atau merasa terhina. Saya malah mengamininya. Saya hidup 20 tahun di Bandung sejak lahir, kemudian 9 tahun di Jogja dan 2 tahun terakhir di Jakarta, saya melihat dan merasakan kebenaran stereotip itu.

Saya tidak menguasai teori sejarah dan budaya Sunda, bacaan saya tentang itu pun sangat minim. Saya hanya merasakan dan menyaksikan dalam perjalanan hidup saya yang belum seberapa ini. Jadi tentu saja ini pendapat pribadi yang sangat subjektif. Maaf kalau anda yang juga orang Sunda tidak sependapat dengan saya.

Menurut saya, apakah mungkin karena alam parahyangan tatar Sunda itu demikian indah dan subur, sehingga masyarakatnya menjadi terlena selama ratusan tahun, dan kemudian terbentuklah budaya malas ? Saya sendiri masih mempertanyakan kesimpulan saya ini.

Tapi memang rasanya daya juang masyarakat Sunda ini tidak segigih orang - orang dari etnis lain. Budaya merantau juga rasanya tidak terlalu banyak dilakukan oleh orang Sunda. Di desa - desa para lelaki duduk dengan sarung di bale - bale sambil mendengar alunan seruling. Perempuan - perempuan Sunda yang memang sudah cantik dari sana nya juga rasanya meluangkan waktu lebih banyak untuk berdandan dan merias diri daripada berpanas - panas dan berpeluh mengerjakan karya yang lain. Para lelaki Sunda kebanyakan yang juga ganteng dari sananya dan sudah hidup di kota pun rasanya lebih memperhatikan penampilan dan simbol - simbol duniawi, daripada isi kepala atau pun pemahaman esensi kehidupan.

Bahkan almarhum Bapak sendiri yang asli orang Banten mengatakan pada saya untuk menikah dengan pria Jawa saja. " Orang Jawa itu ulet, pekerja keras, gigih dan tangguh, serta tanggung jawab, " kata - kata beliau masih terngiang di telinga saya sampai sekarang.

Entah apa yang melandasi beliau berpesan demikian pada anak - anak perempuannya, tapi saya yakin rasa tanggung jawab seorang ayah terhadap anak perempuannya tentulah dasar dari hal itu. Bahwa beliau akan merasa "aman" ketika harus "menyerahkan" anak - anak perempuannya untuk hidup bersama pria yang tangguh, pekerja keras dan mampu bertanggung jawab. Dan adik saya sudah mendapatkan pria Jawa yang diharapkan ayah saya sebagai pendamping hidupnya. Ipar saya meskipun seperti pria Jawa lainnya yang kalah ganteng sama pria Sunda, tapi mewarisi karakter pria Jawa tulen yang bebel dan ndablek, ulet, pekerja keras dan tanggung jawab terhadap keluarga inti maupun keluarga besarnya.

Saya beruntung tidak terlena dininabobokan oleh lingkungan budaya yang seperti itu. Entah lah dari kecil saya memang "pemberontak". Saya memang beda, punya keinginan keras, dan tidak suka semua yang biasa - biasa saja. Saya selalu ingin lebih. Lebih maju, lebih baik, lebih tinggi, lebih besar, lebih pintar. Satu - satunya diantara kami bertiga sekeluarga yang bercita - cita ingin melihat dunia. Saya tidak suka kemapanan, selalu butuh tantangan untuk menjadi lebih.

Saya memang bukan perempuan Sunda kebanyakan yang malas bersusah payah, suka kemapanan, cari jalan pintas dengan menikahi suami kaya dan hidup enak. Sedangkan saya ingin eksis bukan hanya sebagai  Ny.Anu, saya ingin eksis sebagai diri saya sendiri, berkarya untuk bangsa dan negara saya, bahkan sesama manusia di dunia.  Dan sebagai konsekuensinya, jalan yang saya tempuh memang lebih panjang, terjal dan berliku.

Usai SMA saya sudah sempat kuliah di Bandung dengan karir yang telah disiapkan oleh Bapak. Keluarga besar kami keluarga pendidik dan birokrat. Kultur orde baru akan sangat membantu saya untuk bisa menjadi PNS di departemen tempat Bapak bertugas atau di instansi kolega Bapak. Tapi saya tidak mau menggunakan fasilitas Bapak. Saya ingin jadi diri saya sendiri. Meniti karir yang saya bangun sendiri karena kapasitas saya, bukan karena saya anaknya Bapak yang pejabat.

Proses saya meninggalkan rumah juga cukup dramatis. Saya sempat mogok gak mau kuliah kalo tidak di UGM. Orang tua saya sempat keberatan saya anak perempuan tertuanya kuliah jauh dari rumah, sedangkan abang saya saja sampe sekarang gak pernah keluar dari Bandung. Sebuah surat panggilan bahwa saya diterima di jurusan Ilmu Komunikasi UGM, menjadi "senjata" saya. Saya harus pergi memenuhi panggilan ini, atau saya tidak mau kuliah. "Ancaman" saya cukup manjur rupanya. Dengan berat hati beliau berdua pun mengijinkan.

Di Jogja, saya bertemu dengan teman - teman yang berasal dari ujung Sumatera hingga pelosok Papua. Belum lagi turis maupun pelajar asing yang banyak di Jogja. Kepala saya seperti dibuka paksa untuk melihat dunia yang demikian luas lengkap dengan keberagaman manusianya. Proses interaksi sebagai sesama anak rantau secara tidak langsung mengajarkan proses tenggang rasa dan toleransi yang luas untuk bisa membentuk suatu pemahaman dalam hidup bersama.

Saya sekarang tidak kesel lagi kalau denger teman saya yang asli Batak ngomong seperti orang marah - marah. Karena saya sudah paham bahwa mereka tidak sedang marah, tapi memang begitulah cara mereka berbicara, keras dan lantang. Saya sudah tidak sebel lagi sama teman saya perempuan Jawa, terutama dari daerah Solo dan sekitarnya, yang menurut saya lelet dan kemayu. Saya yang salah kalo berharap mereka bisa gesit dan lari - lari seperti saya. Budaya dimana mereka lahir dan tumbuh menganut nilai bahwa perempuan itu mesti alon, santun, manut, dan bukan grabak grubuk kayak saya.

Itu baru urusan pertemanan, saya gak kebayang kalo urusan pernikahan. Lebih kompleks mestinya. Bayangkan hidup bersama dengan latar belakang yang berbeda, tentu akan banyak masalah yang mungkin sebetulnya cethek, tapi karena itu adalah kebiasaan yang dianut dari bayi tentu seringkali menjadi masalah yang dianggap esensial. Perlu toleransi yang lebih besar dan kelapangan hati tentunya untuk bisa terus survive.

Saya tak sabar menunggu hasil tulisan Mbak Mona yang katanya juga untuk disertasi S3 nya itu jadi, untuk bisa mengetahui lebih lanjut soal budaya dalam perkawinan ini. Pastinya menarik untuk diketahui sebagai referensi dan menambah wawasan.

One Fine Day in Orlando

Tuesday, May 22nd, 2007

Bangku_1Derai-derai cemara. Jatuh, merapuh. Camar beterbangan, mencicit. Pagi itu embun tak lekas pergi. Langit setengah mendung.

Jazz dan tarian salsa terdengar lirih.

Hm … those fine days. Something that I never regret.

See you next year.

Kesempatan vs Pilihan

Tuesday, May 22nd, 2007

Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk dicintai, Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat, itulah kesempatan.

Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik.Itu bukan pilihan, itu kesempatan.

Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan, itupun adalah kesempatan. Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, Bahkan dengan segala kekurangannya, Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan.

Ketika kita memilih bersama dengan seseorang, walaupun apapun yang terjadi, itu adalah pilihan. Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada pasanganmu, dan tetap memilih untuk mencintainya, itulah pilihan.

Perasaan cinta, simpatik, tertarik, datang bagai kesempatan pada kita. Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan. Pilihan yang kita lakukan.

Berbicara tentang pasangan jiwa, ada suatu kutipan dari film yang mungkin sangat tepat : "Nasib membawa kita bersama, tetapi tetap bergantung pada kita bagaimana membuat semuanya berhasil"

Pasangan jiwa bisa benar-benar ada. Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang yang diciptakan hanya untukmu. Tetapi tetap berpulang padamu untuk melakukan pilihan apakah engkau ingin melakukan sesuatu untuk mendapatkannya, atau tidak…

Kita mungkin kebetulan bertemu pasangan jiwa kita, tetapi mencintai dan tetap bersama pasangan jiwa kita, adalah pilihan yang harus kita lakukan.

Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna.

Thanks to ceuceu who sent me this lovely words :)

Satu Dekade Tentang My Angry

Monday, May 21st, 2007

Saat ini mungkin dia sudah masuk ke perut pesawat Lufthansa yang akan membawanya terbang ke Athena melalui Singapura dan Frankfurt.

Siang tadi saya menelponnya, hanya untuk mendengar suaranya sebelum dia berangkat. Setelah sekian lama, tadi siang id YM nya aktif lagi, dan kita sempat chatting sebentar. Dia malas memperbaiki pc nya yang rusak dan gak bisa online. Dan sebetulnya kalo dia mau, gak perlu waktu lama untuk memperbaikinya. Tinggal panggil teknisi untuk melakukannya, selesai sudah. Tapi ya mungkin memang dia sedang malas untuk berinteraksi online dengan siapapun, termasuk dengan saya.

Liburan akhir pekan kemarin memang membawa perubahan yang cukup signifikan untuk saya, mungkin dia juga. Setelah sekian lama, akhirnya kami bisa menghabiskan waktu yang cukup intens bersama tanpa emosi yang meledak - ledak seperti sebelumnya. Dan saya sangat menikmati kebersamaan saya dengannya. Satu hal yang langka untuk usia pertemanan kami yang sudah berlangsung satu dekade.

Ya tahun ini usia pertemanan kami tepat berusia sepuluh tahun. Dalam perbincangan empat jam di Roti Bakar Edi belakang AL-Azhar kamis malam lalu, kami mengkilas balik pertemanan kami yang penuh dengan dinamika. Cinta, benci, marah, airmata, rindu, mewarnai perjalanan pertambahan usia kami berdua selama sepuluh tahun terakhir ini.

Dia protes waktu membaca posting saya yang berjudul My Family dan tidak menemukan namanya disebut disitu. Saya hanya tertawa kecil mendengar protesnya. Karena selain saya sudah menduganya, saya memang sudah menyiapkan sebuah posting khusus untuknya. Sekaligus saya dedikasikan untuk usia pertemanan kami yang menginjak tahun kesepuluh ini.

Malam itu saya amati kepalanya semakin banyak ditaburi rambut putih. Sudut matanya sudah mulai dihiasi garis - garis halus. Hanya itu yang berubah dari fisiknya sejak saya kenal sepuluh tahun lalu. Matanya masih tetap teduh menghanyutkan. Dagunya yang belah masih seksi menurut saya. Senyumnya masih misterius khas scorpio tulen. Tapi wangi parfumnya bukan Ferari yang biasanya saya kenal.

" Aku ganti Issey Miyake, say, "katanya ketika saya bilang kok wanginya bukan Ferari lagi. Saya sangat hafal wangi itu. Hmm..

Dua kali menjalin kasih, dua kali kandas. Jarak antara Jakarta -Jogja ( waktu itu saya masih kuliah di Jogja dan dia sudah bekerja di Jakarta ), serta  skala prioritas memang menjadi penghambat lancarnya jalinan kisah kami.

Selain itu hubungan kami memang aneh. Saling menolak, tapi saling merindukan. Kekesalan dan kemarahan bukan sekali dua kali terjadi. Tapi setelah sekian lama, ada saja caranya untuk saling bertemu lagi.

"Kamu emang nyebelin, tapi ngangenin, "

"Sama kamu juga, "

Komunikasi sempat terputus untuk waktu yang cukup lama karena masing - masing dari kami berelasi dengan orang lain dan bahkan masing - masing sudah merencanakan pernikahan. Tapi manusia hanya bisa berencana, saat ini kami mentertawakan perjalanan hidup ini yang rasanya sangat aneh. Kami bertemu lagi dalam status sama - sama masih single :)

Saya menyaksikan dari kejauhan perubahan fase - fase hidupnya. Saya kenal dia waktu masih mengendarai starlet kotak putih, sampe starlet kotak item, kemudian great corolla item dan vios silver yang sekarang dia gunakan. Dia memang pencinta Toyota rupanya. Semua mobil itu rasanya ada sedikit "cerita" tentang saya bersamanya. Perjalanan ke Bandung -Jakarta dengan starlet putih, dan perjalanan Jakarta - Jogja dengan Vios Silver nya hanya sebagian cerita. He loves to drive, and I love to be seated beside him. I feel so secure and comfort coz I trust him as good driver.

Pola komunikasi kami pun mengalami transformasi seiring dengan perkembangan teknologi. Pertama kali kenal dan pacaran tahun 1997, saya masih menelponnya ke kantor, atau meninggalkan pesan di pagernya. Pacaran yang kedua tahun 1999, sudah mulai menggunakan handphone dan email. Meskipun saat itu hanya handphone pasca bayar saja yang sudah bisa bersms, dan punya kami berdua sama - masa masih prabayar. Dan sekarang kita bisa bersms kapan saja kita mau dan online di YM kapan saja dengan GPRS. Pertemanan kami selama satu dekade ini pun menjadi saksi dari transformasi sarana teknologi komunikasi.

Saya kenal dia ketika masih kontrak rumah di Matraman sampe sekarang punya rumah sendiri di Pasar Minggu. Dulu saya mengenalnya sebagai reporter majalah remaja dimana saya menjadi korespondennya. Sampai sekarang di usia semuda itu dia menjadi pemred sebuah media bola di grup nya KKG.

Saya mengagumi pencapaian - pencapaiannya. Bukan hanya dari sisi material seperti ciri - ciri kebendaan yang saya sebutkan diatas. Tapi dari sisi kematangan pribadinya dan kemapanan emosinya. Transformasi nya mengagumkan.

Dia seorang yang cerdas, pemikir dan pria romantis yang pintar merangkai kata. Wawasannya luas dan pemikiran - pemikirannya seringkali berbeda dan jauh melompat ke masa depan. Saya hanyalah salah satu dari sekian banyak fans berat tulisan - tulisan di kolomnya Injury Time.

Dan tentu saja apa yang dimilikinya saat ini adalah buah dari kerja keras dan perjuangannya selama bertahun - tahun. Termasuk "mengorbankan" dua kali relasi kami dalam daftar prioritasnya pada masa - masa perjuangan itu. Hmm..suara hati gue banget :)

Dia seorang yang tangguh. Kasus besar menghadang perjalanan karir nya belum lama ini. Kisah personalnya menjadi santapan publik. Fitnah menjadi kesehariannya. Saya hanya bisa menjadi seorang pendengar dan teman yang baik baginya. Saya kagumi ketabahannya. Kesabarannya. Dan tentu saja kepribadiannya yang semakin matang usai melalui terjangan badai kehidupan ini.

Saat ini saya sedang merindukannya. Hanya berharap dia bisa menyelesaikan perjalanan dinas nya dengan baik, dan kembali dengan selamat. Ah seandainya saya bisa bersamanya ke Athena, lanjut ke Milan pula. Aduuuuh mau bangeeet. Have a save flight ya, and hope to see around soon.

dedicated to : Angryanto Rachdyatmaka that always have his special space in my life. Miss you already :)

Patience vs Stupidity

Monday, May 21st, 2007

"Please understand my position and circumstances. Please wait, I’ll catch you back, after I finished my business. "

"How long the time you need to finish it ?"

Silent. No answer. Coz he doesnt want to finish it. He wish the time will finish it without his effort.

I tried to understand. But how long should I wait ? The answer never comes up. All he can say just, you can do what you have to do.

" I have to fix my self first before I get back to you dear "

" I dont want to make another emotional decision, please wait, I’ll catch you back "

He just asked me to understand. Yes, another understanding after those years. He stil asked for more understanding and patience.

" Maybe this time you should learn about patience, dear ". That what he said to justify his unacceptable excuse.

He tried to teach me about patience, geez. He must be insane. I was there those years waiting in vain and pain, and it wasnt a patience ? He must be need a huge mirror to see him self in there and look inside his heart. He even didnt notice that I was there. That’s why he asked for another patience.

The worst thing of me is, I let my self doing those such stupid things ever. And I almost did it again. Geez, Nenden..what am I doing here ?

There is no respect, there is no love..only a selfish person who only think about himself. This is bout him who need more time to fix himself. This is about him who need to finish his business before he could see me. This is about him and his family. This is about him and his life. There’s no about me and us at all.

And this is about me who is so damn stupid, by listen and take all those rubbish reason into my head. I just realize that the line between patience and stupidity is so thin and fragile.

Selasa Malam Yang Menggairahkan

Wednesday, May 16th, 2007

Pagi ini Jakarta hujan. Gak deres sih, cuma udah bikin jalanan macet gak karuan. Berangkat ke kantor yang biasanya cuma 10 menit terpaksa jadi 30 menit dengan jalan memutar untuk menghindari kemacetan.

Kemarin sore lebih menyebalkan lagi. Perjalanan menuju Kebayoran Lama memakan waktu 1,5 jam dari kantor. Lalu lintas benar - benar padat dan semrawut. Bikin frustasi. Ditambah kebingungan saya dengan arah jalan yang benar menuju Kebayoran Lama no.18CD tempat kelas menulis narasi saya berlangsung.

Tiga kali kursus, tiga kali pula saya selalu nyasar. Saya memang sangat awam dengan daerah Kebayoran Lama. Ketiga kali datang ke kelas, saya selalu datang dari arah yang berbeda. Jadinya saya selalu bingung. Pertama lewat Kebayoran Baru, kedua lewat Cipulir, ketiga kemaren lewat Palmerah dan nyasar ke arteri Pondok Indah. Ampun deh..benar - benar perjuangan untuk saya bisa mencapai tempat kursus. Meskipun so far saya tidak pernah terlambat masuk kelas.  Dan perjuangan belum selesai dengan tiba di gedung tempat kursus, karena saya dan peserta kursus lainnya masih harus "berolahraga" untuk naik tangga menuju lantai 4 tempat ruang kelas berada.

Jadilah setiap peserta kursus tiba dengan nafas ngos - ngosan. Untunglah setibanya di lantai 4, mata langsung tertumbuk pada meja dengan piring - piring berisi snack serta cangkir - cangkir untuk menyeduh kopi atau teh. Setelah menaruh tas di kelas, cangkir dan piring itulah yang langsung dituju, dan menyeruput kopi hangat plus mengudap camilan sambil duduk di kursi yang nyaman, rasanya menghapus segala kepenatan dan rasa frustasi akibat jalanan yang kusut tadi.

Diskusi - diskusi ringan dan sapaan - sapaan untuk yang baru datang biasanya menjadi awal dari sesi pertemuan, sebelum kemudian mas andreas harsono mengundang kami untuk segera masuk ke kelas.

Selasa tadi malam merupakan sesi ketiga yang saya ikuti dalam kelas penulisan narasi di Pantau angkatan kedua ini. Dan rasanya pertemuan setiap selasa malam ini selalu saya nantikan. Meski hanya dua jam dalam seminggu, tapi rasanya begitu energizing buat saya. Disini saya bertemu dengan orang - orang yang "berbeda" dari yang saya temui dalam keseharian saya.  Disini saya menemukan orang - orang yang bukan hanya cerdas, tapi juga kritis, istilah saya punya energi hidup dan ide. I need that energy and spark to feel that I’m alive, not just a robotic person who do what I have to do.

Teman - teman sekelas saya berasal dari berbagai profesi dan latar belakang. Ada Melly yang bekerja di salah satu proyek UNDP, mas hagi yang kemarin bagi - bagi majalah Playboy Indonesia tempatnya bekerja. Ada Mbak Kiki yang heboh, fotografernya 3 Diva yang kemaren di kelas sibuk motretin anak - anak dan pak dosennya yang asik berdiskusi. Dan masih ada 15 orang lagi di kelas saya, yang nanti belakangan saya ceritakan.

Ruang kelas yang nyaman, dosen yang inspiring, topik diskusi yang menarik dan teman - teman sekelas yang terbuka dan punya banyak ide, sangat menyenangkan buat saya. Tak sia - sia rasanya pengorbanan saya mengurangi uang jatah nge-mall bulanan saya, dan perjuangan saya setiap selasa menembus kusutnya lalu lintas Jakarta untuk bisa sampai ke Pantau. Sepulangnya dari sana saya selalu mendapat segudang ide dan semangat baru untuk menulis. Seperti baterai yang habis dicharge.

Memang tempat yang seperti inilah yang saya butuhkan untuk "tumbuh". Mengasah ketrampilan menulis saya, menuangkan gagasan untuk disajikan dengan lebih cantik dan enak dibaca. Melihat dari sudut pandang yang berbeda, berbagi ide dan pemikiran dengan para dosen dan teman - teman yang juga punya minat yang sama. Komunitas ini seperti tanah yang subur untuk setiap bibit untuk tumbuh. Saya mengibaratkan diri saya bibit itu, yang sedang mencari lahan yang tepat untuk bisa membantu saya tumbuh menjadi pohon yang rindang untuk meneduhi banyak mahluk, dan juga indah untuk dilihat sebagai penentram jiwa yang gundah.

Mimpi besar saya bisa menjadi seperti Paulo Coelho dan Oprah Winfrey yang bisa menginspirasikan banyak orang untuk mengenal dirinya sendiri dan tujuan hidupnya, serta berbuat lebih bagi sesama manusia dan semua mahluk di bumi.

Sebuah iklan kecil di harian Jurnal Nasional terbitan bulan April lah yang mengantarkan saya pada kelas ini. Bisa dilihat sebagai sebuah kebetulan, karena memang sudah lama saya mencari kelas menulis seperti ini. Meskipun dalam pemahaman spiritual yang saya amini, tidak ada yang namanya kebetulan. All just define to be that way.

Pencarian saya berakar dari kebutuhan akan ruang untuk menuangkan berbagai pemikiran dan perasaan serta ide - ide saya yang kadang "gila" ini, yang tentu saja tidak untuk media tempat saya bekerja sekarang ini. Setidaknya untuk saat ini saya bisa menuangkannya di blog tercinta ini, sebagai ruang onani saya dalam menulis.

Namanya juga onani, tentu saja untuk memuaskan diri saya sebagai si pemilik blog tentunya. Anda suka silahkan baca, tidak suka ya nggak apa. Setuju dengan pemikiran - pemikiran dan perasaan saya terimakasih, ndak setuju juga ndak dilarang. Namanya juga blog personal, ya ini adalah ruang pribadi saya. Silahkan datang kalau anda suka dan mau bergabung dengan saya berbagi ruang. Tapi kalau anda merasa tidak sepakat dengan pemikiran dan perasaan saya silahkan tuliskan segala pemikiran dan perasaan anda dalam blog anda sendiri.

Karena saya bukan Unilever yang menyediakan ruang hotline bebas pulsa untuk customer service yang merasa tidak puas dengan produk yang dihasilkan.

Sebagai penutup posting ini , saya ingin mengutip dari kata-katanya Pram yang saya ambil dari blognya Mas Andreas Harsono.

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian"
– Pramoedya Ananta Toer

My Family

Tuesday, May 15th, 2007

Saya baru tahu kalo hari ini adalah hari keluarga internasional setelah membaca blog ndorokakung. Ternyata ada tho satu hari dalam setahun yang diperingati sebagai hari keluarga internasional. Wah berarti keluarga dianggap sebagai hal yang penting, sehingga perlu diperingati sedunia. Ya tentu saja semua akan setuju bahwa keluarga memang penting dalam kehidupan manusia.

Menurut Murdock, seorang anthropologist, a family is "a group characterized by common residence, economic cooperation and reproduction. It includes adults of both sexes, at least two of whom maintain a socially approved sexual relationship, and one or more of their children of their own or adopted by the sexually cohabiting adults." Maap saya gak Indonesiakan, karena takut gak pas terjemahannya :)

Buat orang kebanyakan orang Indonesia, keluarga terbagi dua. Keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak - anak. Dan keluarga besar, yang terdiri dari keluarga inti plus tante, om, pakde, bukde, sepupu, ponakan, dan nenek kakek. Buat keluarga Jawa lebih spesifik lagi, ada istilah trah segala. Keluarga ipar saya yang asli Jogja, bahkan ada istilah nya kumpul trah. Bisa 5 generasi yang berkumpul, banyak banget pokoknya.

Tapi saya punya definisi sendiri tentang keluarga. Keluarga bukan hanya sekumpulan orang yang memiliki darah yang sama dalam tubuhnya. Menurut saya keluarga adalah orang - orang yang memiliki kedekatan fisik maupun batin, kepedulian, dan kasih. Tidak harus memiliki hubungan darah.

Saya menemukan definisi ini berkaitan dengan perjalanan hidup saya sendiri yang sudah meninggalkan rumah sejak usia 20 tahun. Selain, mamih, alm bapak, dan my sister paypay and her family, saya punya keluarga dimana - mana. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota Jogja pada tanggal 18 Agustus 1995, saya tak kenal siapapun di kota itu. Saya tinggal di sebuah Asrama Dewi di daerah Blimbingsari. Asrama putri dengan 24 kamar itulah yang menjadi rumah saya selama satu tahun. Dan para penghuninya yang berasal dari berbagai daerah itulah yang menjadi keluarga saya. Juga teman - teman serumah di kos saya berikutnya, ada Ary yang sekarang di Global TV teman sekos di Sendowo C-70, ada Lona teman serumah di Pogung A3, and now being one of my best female friends who’s facing the similar complicated love story :).

Ada keluarga Bu Darsono, ibunya Wamin dan seisi rumah di Sekip N-22 yang juga jadi keluarga saya, dan Sekip N-12 keluarganya Icut. Feels like home among them. Then the boyo’s family at sunaryo 16 Kotabaru. My other family too..All men who running the house. Another experience living with Javanesse family yang kalo ngomong campur francais nya..Lumayan masih bisa praktice my francais at that time. But then time goes by. Life has to move on.

I have another family, Arifien family in pakuningratan 70 with all those relatives and friends. I live with them in my adulthood. I could say I raised with them. They coloured my life with their value of life. I learn about openmindness, open hearted, positive thinking, and self confidence. I owe them a lot.

One of their best friend is the Royal family of Jogja. Jeng Ita is one of my best female friend, and her mom The Queen Hemas was brought me to USA on 2003. It was my first time going abroad. They’re fun family, not as what I thought before how the royal family lives. Wish I had a chance to pay it back someday.

Di jogja ada keluarga saya yang lain, Jazz Coffee family, kepala suku nya Mbak Anik yang sekarang lagi Thailand. Dan sekarang menjadi rumah virtual dengan anggota keluarga yang tersebar di banyak tempat.

Kemudian perjalanan hidup saya membawa ke perantauan baru.Jakarta. Di Jakarta pun saya menemukan keluarga - keluarga baru. Ada Mas Untung sama Mbak Anna, yang bukan hanya menyediakan tempat di rumah mereka buat saya tinggal ketika awal - awal saya menginjakkan kaki di Jakarta, juga hati yang lapang, kepedulian dan kasih sayang seorang kakak dan keluarga. Bayangkan di belantara Jakarta yang ganas ini masih ada orang - orang seperti mereka ? Hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan mereka.

Ada ceuceu dokter tempat curhat segala kebusukan hidup dan derita, ada Arum kolega yang cerdas sekaligus housemate, ada teman - teman kantor, keluarga saya sehari - hari setidaknya saya bersama mereka 8 jam setiap hari, yang turut sibuk waktu saya sakit. Thanks a lot to Janah the kindest secretary in the whole palace, Renobusha yang helpful, dek Mita yang serbabisa, Mas Anis en Mas Hartono guru - guru menulis saya, abang Herwin reporter Kopassus bagian daerah - daerah susah, en tentu saja Osa yang helpful dan Mega yang cantik.

Dan ada abang - abang saya yang selalu saya repotin kalo adeknya ini lagi rewel en pengen didengerin. Di kejauhan ada Babe Dodol yang even distance, he’s the one for me to call while i need sumone to talk. Babe dodol orang yang terlalu tahu mengenai diri saya. I only say one word and he knows the rest of the sentence. Thanks a lot to you dear.

And off course I have my angel. He’s on my first fast dial list who will always rescue me in any storm of life. Blessing to have them all in my life. Merekalah keluarga saya, dan seiring dengan berjalannya hidup saya menuju ke tujuan - tujuan baru, akan bertambah pulalah keluarga saya. Family is not just because we have the same blood, but because we have love to share with. And I have you too all as my virtual friends and family :)

Apes

Thursday, May 10th, 2007

Dua hari lalu saya mendapat sms dari nomor mentari Jogja yang tidak ada di phone book handphone saya. Isi dari sms tersebut mengabarkan bahwa dirinya baru saja tabrakan dan mengalami luka - luka yang cukup parah. Meskipun saya tidak mengetahui ini siapa, tapi mengingat kondisi si pengirim sms ini sedang kena musibah, saya tidak tega membalasnya dengan pertanyaan, "maaf ini nomer siapa ya ?" Kasian aja sih udah musibah trus "dilupain" pasti rasanya tambah sebel. Jadi saya balas dengan kalimat - kalimat penghiburan yang standar dan normatif, sambil saya berusaha menggali memori mengenai si pengirim sms. Sms terakhirnya yang kemudian tidak saya jawab adalah mengabarkan posisi dirinya yang berada di rumah kakaknya di berlokasi di sebuah daerah di Jogja.

Saya sudah melupakan sms itu dan siapa pengirimnya, sampai kemarin malam, sms dari nomer yang sama mengirim saya pesan yang berisi "Hanya kasihan ?? Teganya !!"

Terus terang saya bingung, ini orang maunya apa sih ? Kok kirim sms dengan tanda pentung seperti ini, yang saya persepsikan dia marah dengan saya. Tanda pentung yang gak hanya satu itu sebuah tanda dia marah plus - plus dengan saya.

"Saya harus melakukan apa ? " saya jawab smsnya.

"Kamu senangnya apa ?" jawabnya yang membuat saya makin bingung.

Saya gak habis pikir dengan apa yang ada di kepala orang yang saya masih gak tahu identitasnya ini, tiba - tiba "meneror" saya dengan sms - sms yang intinya memojokkan saya untuk sesuatu yang saya tidak mengerti.

Saya sampai pada pikiran jangan - jangan ini orang salah kirim sms, dia kira yang dia kirimin sms adalah temannya padahal bukan. Tapi di sms berikutnya dia menyebut nama saya. Lha dugaan saya itu langsung gugur. Dia berarti tahu bahwa dia mengirim sms ke nomer saya, dan benar memang saya yang dimaksudnya atas semua pesan - pesan pendek itu.

Saya yang bingung, saya kira ini orang mungkin butuh uang, dan saya katakan kalau dia berharap saya akan bisa membantunya biaya pengobatan, dia berharap pada orang yang salah. Boro - boro buat bantuin biaya berobat orang lain yang saya bahkan tidak ingat, untuk biaya kursus narasi saja saya harus membayarnya dengan mencicil :)

Dia makin marah, kata - kata dalam sms nya semakin pedas bahkan cenderung memaki. Saya makin bingung, tapi meskipun sangat tergoda untuk marah balik, apalagi saya sedang PMS, saya berhasil menenangkan diri. Saya berusaha menempatkan diri saya pada posisinya.

Dia pasti sedang marah, kecewa, sedih, dan frustasi dengan musibah yang sedang menimpa dirinya. Seperti dia katakan di sms nya bahwa dirinya sempat pingsan selama 10 hari, dan kepalanya dan mata kirinya terganggu. Dan mungkin dia sedang butuh seseorang untuk dimaki dan "dipersalahkan" atas semua musibah yang menimpanya. Secara mungkin dia gak berani memaki dan menyalahkan Tuhan. Dan apesnya saya lah yang dia pilih untuk jadi sasaran kemarahan dan kefrustasiannya. Entahlah, itu hanya analisa saya sebagai hasil proses " put myself on her/his shoes".

Saya capek berargumentasi dengan orang yang saya tidak tahu. Rasanya kayak berantem sama setan, dia tau saya sedangkan saya tidak tahu siapa dia. Saya telpon nomer handphone itu dua kali dari nomer kantor dan dia reject panggilan itu.

"Sialan ni orang bener - bener pengecut ya, beraninya marah - marah lewat sms, " begitu pikir saya.

Saya sms balik untuk terakhir kalinya tadi malam, untuk menegaskan bahwa saya tidak suka dengan sikapnya yang marah - marah tanpa sebab yang jelas kepada saya. Serta saya tanya dengan jelas, maunya apa dari saya ? Apa kesalahan yang saya lakukan pada dirinya, sehingga saya mendapat "kehormatan" mendapatkan sms - sms kemarahannya.

Dia tidak menjelaskan apa maunya dari saya, dia hanya minta maaf dan mengatakan bahwa dirinya tidak marah. Sudah, saya tidak balas lagi. Ketik C spasi D..capek deeeehhh.

Pagi hari tadi saya bangun, saya masih penasaran dengan identitas pengirim sms itu. Saya buka - buka memori hape lama saya, dan ternyata saya menemukan nomer itu adalah milik salah seorang teman mantan pacar saya waktu mereka masih muda, ABG Jogja taun 80an deh. Jadul abis, jamannya Krakatau dan Karimata lagi top - top nya.

Terus terang saya heran. Bukannya saya tidak bersimpati dengan musibah yang menimpanya. Tapi rasanya saya mengabari kondisi apapun yang menimpa saya, hanya kepada orang - orang terdekat. Mereka yang memang terkait sangat dekat dengan keseharian saya, keluarga, rekan kerja, pacar, dan sahabat. Seperti Presiden, saya menyebutnya ring satu. Juga ada beberapa yang masuk kategori ring dua atau tiga, tentu saja dengan tingkat kedekatan dan intensitas yang berbeda pula.

Dan rasanya saya sama sekali tidak dekat dengan dia. Bertemu pun rasanya tidak sering. Hanya karena kami dulu waktu di Jogja, suka hang out di Jazz Coffee nya Mbak Anik, dan hanya ketemu dan ngobrol disitu bersama dengan teman - teman Jazz Coffe people lainnya. Ya wajar kalo kemudian bertukar nomer handphone seperti layaknya berkenalan dengan orang baru, apalagi saat itu dia adalah teman lama dari mantan pacar saya, pemuda jadul ABG 80an itu.

Sehingga saya heran dengan kadar kedekatan yang sangat rendah itu, bisa - bisanya saya yang ada di pikiran dia untuk dikabari dan diharapkan akan memberinya perhatian. Siapa saya, siapa dia ?

Bahkan ketika saya berganti handset, nama dan no handphone nya pun tidak ikut saya pindahkan ke handset baru. Maklum handset yang saya beli bukan yang mahal dan canggih dengan kapasitas memory super besar. Sehingga saya membatasi hanya menyimpan nama - nama dan nomer - nomer yang memang penting dalan kehidupan saya sekarang. Rekan kerja, kolega wartawan dari berbagai media, para pejabat dimana saya sering berhubungan, dan tentu saja keluarga dan para sahabat ring satu saya.

Akhirnya saya kirimin dia sms untuk terakhir kalinya tadi pagi setelah saya tahu identitasnya. Saya katakan bahwa bila dia berharap saya akan menjenguknya kenapa tidak dia katakan langsung. Mungkin dia berharap bahwa setelah saya tahu dia mendapat musibah maka saya akan bergegas menjenguk dan menghiburnya dengan segala perhatian. Dan dia kecewa karena saya tidak melakukan hal yang diharapkannya. Sehingga dia menumpahkan kekecewaannya dengan sms kemarin sore yang menyentak emosi saya.

" Hanya kasihan ?? Teganya !!"

Saya jelaskan dalam sms tadi pagi bahwa mungkin dirinya tidak tahu bahwa sudah hampir dua tahun ini saya berada di Jakarta, jadi sangat salah harapan dia, bila berharap saya akan menjenguk dan menghujani dirinya perhatian selama dia dirawat di Jogja.

Dia menjawab bahwa dirinya juga di Jakarta dan berkantor di Thamrin. Dia bertanya saya berkantor dimana di Jakarta. Tapi maaf sms itu saya biarkan tak berbalas. Saya lelah mengurusi hal - hal yang gak penting itu. Energi dan waktu saya akan lebih berguna bila saya gunakan untuk mengurusi orang - orang yang lebih penting untuk diurusi.

Kekesalan saya sebagai yang terpilih menjadi sasaran frustasi si pengirim sms itu masih menggumpal di hati. Gondok setengah mati. Rupanya lagi - lagi terbukti bahwa usia seseorang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kematangan seseorang.

Orang berumur 40 tahunan si pengirim itu ternyata masih sedangkal dan secupet itu cara berpikirnya. Caranya berpikir dan memandang sesuatu masih di "level" itu. Menyikapi dan menjalani perjalanan hidupnya dengan cara seperti "itu". Hello..grow up man !

Marah - marah dan kecewa ketika tidak mendapatkan perhatian yang diinginkannya. Pada orang yang salah pula. Saya ingat pun tidak siapa dia, jadi jangan harap dia menjadi orang penting dalam hidup saya, yang harus mendapat perhatian eksklusif dari saya. Secara dia pun tidak pernah berkontribusi apapun dalam hidup saya selain hanya sambil lalu di sebuah komunitas yang cair.

Ya menyalahkan orang lain atas musibah yang menimpa kita memang hal termudah. Jauh lebih mudah daripada harus berintrospeksi mengapa ini terjadi, dan apa makna dibaliknya. Apalagi ketika emosi memuncak dan butuh penyaluran, maka tentu saja diperlukan seorang peran pembantu yang "ketiban sampur" jadi sasaran kekecewaan dan ke frustasi an.

Saya pun pernah melakukannya beberapa bulan yang lalu pada seseorang, ketika saya benar - benar frustasi dengan hidup saya. Saya menyalahkannya karena berhasil "mentrasnformasikan" saya , dimana ternyata hasil transformasi tersebut malah membuat saya menjadi manusia yang "abnormal" di lingkungan saya yang sangat "normal". Karena lingkungan baru dan orang - orang baru saya ini hidup dengan norma dan cara berpikir seperti orang kebanyakan di Indonesia. Standar, lurus, datar, konvensional, dan hanya melanjutkan apa yang sudah turun temurun dilakukan oleh nenek moyang dan leluhur mereka.

Sedangkan saya adalah orang yang berani menerobos pagar, menyebrangi sungai perbedaan, masuk hutan penggemblengan karakter, dan terjun ke rawa pembongkaran kerangka berpikir yang fundamental. Sebagai hasilnya saya menjadi manusia yang berpikir beda, bersikap dan bertindak beda dengan kebanyakan orang, terutama di lingkungan saya sekarang.

I’m a weird creature live on earth. I’m an alien in an human body.

Resiko ini ternyata pada satu titik membuat saya benar - benar frustasi juga. Saya harus hidup, bertindak, berpikir, dan bersikap melawan arus. Tatap mata mengasihani, pandangan aneh dan basa basi penghiburan adalah keseharian yang harus saya hadapi.

Pada titik itulah saya kemudian saya meluapkan segala kefrustasian saya pada orang yang memang punya andil besar dalam menciptakan hutan penggemblengan karakter, rawa pembongkaran cara berpikir itu.

"Gara - gara kamu, aku jadi manusia aneh begini"

"Kamu nyesel jadi diri kamu yang sekarang ?" Bukannya kamu jauh lebih baik sekarang. Matang, dewasa, mandiri. Jauh lebih baik dari kamu yang saya kenal sebelumnya. "

"Iya tapi hanya kamu yang menganggap saya lebih baik, hanya kamu yang menganggap kematangan, kedewasaan, dan kemandirian sebuah nilai tambah, untuk kebanyakan orang itu adalah nilai minus yang membuat saya menjadi manusia aneh diantara mereka."

"Terus maumu apa ? kamu mau balik jadi kamu yang dulu lagi, ya terserah. Toh kamu juga waktu itu mau untuk menjalani proses itu, dan kamu sendiri merasakan hasil positifnya. Kenapa sekarang ketika kamu merasa frustasi dengan sesuatu dan seseorang kamu menyalahkan semua proses yang telah menjadikanmu manusia yang lebih baik ini ?"

Ya, saya akuin saat itu saya hanya ingin marah. Saya hanya butuh pelampiasan atas kekecewaan saya. Saya frustasi. Ternyata menjadi manusia "berbeda" itu tidak mudah juga. Dan saya menyalahkan orang yang membimbing proses pendewasaan saya dulu. Padahal tanpa kesepakatan dari saya tentunya proses itupun tidak akan terjadi. Saya melakukannya dengan kesadaran. Dan saya malu mengakui itu. Bahwa sayalah yang memutuskan untuk "berubah" saat itu. Saya hanya ingin meluapkan marah dan kekecewaan atas hasil "perubahan" yang ternyata sedang pada posisi yang tidak seperti harapan saya.

Rupanya karma itu gak lama datangnya. Dua hari ini saya mendapatkan "balasan"nya . Menjadi orang yang "terpilih" untuk menjadi sasaran kemarahan dan kefrustasian seseorang. Lebih apesnya saya dipilih oleh seseorang yang saya gak inget dan gak tau apa - apa..hahahaha..saya ketawa geli menertawakan diri saya sendiri yang pernah pada posisi tersebut menyedihkan seperti itu.

What a life :)