Dua hari lalu saya mendapat sms dari nomor mentari Jogja yang tidak ada di phone book handphone saya. Isi dari sms tersebut mengabarkan bahwa dirinya baru saja tabrakan dan mengalami luka - luka yang cukup parah. Meskipun saya tidak mengetahui ini siapa, tapi mengingat kondisi si pengirim sms ini sedang kena musibah, saya tidak tega membalasnya dengan pertanyaan, "maaf ini nomer siapa ya ?" Kasian aja sih udah musibah trus "dilupain" pasti rasanya tambah sebel. Jadi saya balas dengan kalimat - kalimat penghiburan yang standar dan normatif, sambil saya berusaha menggali memori mengenai si pengirim sms. Sms terakhirnya yang kemudian tidak saya jawab adalah mengabarkan posisi dirinya yang berada di rumah kakaknya di berlokasi di sebuah daerah di Jogja.
Saya sudah melupakan sms itu dan siapa pengirimnya, sampai kemarin malam, sms dari nomer yang sama mengirim saya pesan yang berisi "Hanya kasihan ?? Teganya !!"
Terus terang saya bingung, ini orang maunya apa sih ? Kok kirim sms dengan tanda pentung seperti ini, yang saya persepsikan dia marah dengan saya. Tanda pentung yang gak hanya satu itu sebuah tanda dia marah plus - plus dengan saya.
"Saya harus melakukan apa ? " saya jawab smsnya.
"Kamu senangnya apa ?" jawabnya yang membuat saya makin bingung.
Saya gak habis pikir dengan apa yang ada di kepala orang yang saya masih gak tahu identitasnya ini, tiba - tiba "meneror" saya dengan sms - sms yang intinya memojokkan saya untuk sesuatu yang saya tidak mengerti.
Saya sampai pada pikiran jangan - jangan ini orang salah kirim sms, dia kira yang dia kirimin sms adalah temannya padahal bukan. Tapi di sms berikutnya dia menyebut nama saya. Lha dugaan saya itu langsung gugur. Dia berarti tahu bahwa dia mengirim sms ke nomer saya, dan benar memang saya yang dimaksudnya atas semua pesan - pesan pendek itu.
Saya yang bingung, saya kira ini orang mungkin butuh uang, dan saya katakan kalau dia berharap saya akan bisa membantunya biaya pengobatan, dia berharap pada orang yang salah. Boro - boro buat bantuin biaya berobat orang lain yang saya bahkan tidak ingat, untuk biaya kursus narasi saja saya harus membayarnya dengan mencicil
Dia makin marah, kata - kata dalam sms nya semakin pedas bahkan cenderung memaki. Saya makin bingung, tapi meskipun sangat tergoda untuk marah balik, apalagi saya sedang PMS, saya berhasil menenangkan diri. Saya berusaha menempatkan diri saya pada posisinya.
Dia pasti sedang marah, kecewa, sedih, dan frustasi dengan musibah yang sedang menimpa dirinya. Seperti dia katakan di sms nya bahwa dirinya sempat pingsan selama 10 hari, dan kepalanya dan mata kirinya terganggu. Dan mungkin dia sedang butuh seseorang untuk dimaki dan "dipersalahkan" atas semua musibah yang menimpanya. Secara mungkin dia gak berani memaki dan menyalahkan Tuhan. Dan apesnya saya lah yang dia pilih untuk jadi sasaran kemarahan dan kefrustasiannya. Entahlah, itu hanya analisa saya sebagai hasil proses " put myself on her/his shoes".
Saya capek berargumentasi dengan orang yang saya tidak tahu. Rasanya kayak berantem sama setan, dia tau saya sedangkan saya tidak tahu siapa dia. Saya telpon nomer handphone itu dua kali dari nomer kantor dan dia reject panggilan itu.
"Sialan ni orang bener - bener pengecut ya, beraninya marah - marah lewat sms, " begitu pikir saya.
Saya sms balik untuk terakhir kalinya tadi malam, untuk menegaskan bahwa saya tidak suka dengan sikapnya yang marah - marah tanpa sebab yang jelas kepada saya. Serta saya tanya dengan jelas, maunya apa dari saya ? Apa kesalahan yang saya lakukan pada dirinya, sehingga saya mendapat "kehormatan" mendapatkan sms - sms kemarahannya.
Dia tidak menjelaskan apa maunya dari saya, dia hanya minta maaf dan mengatakan bahwa dirinya tidak marah. Sudah, saya tidak balas lagi. Ketik C spasi D..capek deeeehhh.
Pagi hari tadi saya bangun, saya masih penasaran dengan identitas pengirim sms itu. Saya buka - buka memori hape lama saya, dan ternyata saya menemukan nomer itu adalah milik salah seorang teman mantan pacar saya waktu mereka masih muda, ABG Jogja taun 80an deh. Jadul abis, jamannya Krakatau dan Karimata lagi top - top nya.
Terus terang saya heran. Bukannya saya tidak bersimpati dengan musibah yang menimpanya. Tapi rasanya saya mengabari kondisi apapun yang menimpa saya, hanya kepada orang - orang terdekat. Mereka yang memang terkait sangat dekat dengan keseharian saya, keluarga, rekan kerja, pacar, dan sahabat. Seperti Presiden, saya menyebutnya ring satu. Juga ada beberapa yang masuk kategori ring dua atau tiga, tentu saja dengan tingkat kedekatan dan intensitas yang berbeda pula.
Dan rasanya saya sama sekali tidak dekat dengan dia. Bertemu pun rasanya tidak sering. Hanya karena kami dulu waktu di Jogja, suka hang out di Jazz Coffee nya Mbak Anik, dan hanya ketemu dan ngobrol disitu bersama dengan teman - teman Jazz Coffe people lainnya. Ya wajar kalo kemudian bertukar nomer handphone seperti layaknya berkenalan dengan orang baru, apalagi saat itu dia adalah teman lama dari mantan pacar saya, pemuda jadul ABG 80an itu.
Sehingga saya heran dengan kadar kedekatan yang sangat rendah itu, bisa - bisanya saya yang ada di pikiran dia untuk dikabari dan diharapkan akan memberinya perhatian. Siapa saya, siapa dia ?
Bahkan ketika saya berganti handset, nama dan no handphone nya pun tidak ikut saya pindahkan ke handset baru. Maklum handset yang saya beli bukan yang mahal dan canggih dengan kapasitas memory super besar. Sehingga saya membatasi hanya menyimpan nama - nama dan nomer - nomer yang memang penting dalan kehidupan saya sekarang. Rekan kerja, kolega wartawan dari berbagai media, para pejabat dimana saya sering berhubungan, dan tentu saja keluarga dan para sahabat ring satu saya.
Akhirnya saya kirimin dia sms untuk terakhir kalinya tadi pagi setelah saya tahu identitasnya. Saya katakan bahwa bila dia berharap saya akan menjenguknya kenapa tidak dia katakan langsung. Mungkin dia berharap bahwa setelah saya tahu dia mendapat musibah maka saya akan bergegas menjenguk dan menghiburnya dengan segala perhatian. Dan dia kecewa karena saya tidak melakukan hal yang diharapkannya. Sehingga dia menumpahkan kekecewaannya dengan sms kemarin sore yang menyentak emosi saya.
" Hanya kasihan ?? Teganya !!"
Saya jelaskan dalam sms tadi pagi bahwa mungkin dirinya tidak tahu bahwa sudah hampir dua tahun ini saya berada di Jakarta, jadi sangat salah harapan dia, bila berharap saya akan menjenguk dan menghujani dirinya perhatian selama dia dirawat di Jogja.
Dia menjawab bahwa dirinya juga di Jakarta dan berkantor di Thamrin. Dia bertanya saya berkantor dimana di Jakarta. Tapi maaf sms itu saya biarkan tak berbalas. Saya lelah mengurusi hal - hal yang gak penting itu. Energi dan waktu saya akan lebih berguna bila saya gunakan untuk mengurusi orang - orang yang lebih penting untuk diurusi.
Kekesalan saya sebagai yang terpilih menjadi sasaran frustasi si pengirim sms itu masih menggumpal di hati. Gondok setengah mati. Rupanya lagi - lagi terbukti bahwa usia seseorang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kematangan seseorang.
Orang berumur 40 tahunan si pengirim itu ternyata masih sedangkal dan secupet itu cara berpikirnya. Caranya berpikir dan memandang sesuatu masih di "level" itu. Menyikapi dan menjalani perjalanan hidupnya dengan cara seperti "itu". Hello..grow up man !
Marah - marah dan kecewa ketika tidak mendapatkan perhatian yang diinginkannya. Pada orang yang salah pula. Saya ingat pun tidak siapa dia, jadi jangan harap dia menjadi orang penting dalam hidup saya, yang harus mendapat perhatian eksklusif dari saya. Secara dia pun tidak pernah berkontribusi apapun dalam hidup saya selain hanya sambil lalu di sebuah komunitas yang cair.
Ya menyalahkan orang lain atas musibah yang menimpa kita memang hal termudah. Jauh lebih mudah daripada harus berintrospeksi mengapa ini terjadi, dan apa makna dibaliknya. Apalagi ketika emosi memuncak dan butuh penyaluran, maka tentu saja diperlukan seorang peran pembantu yang "ketiban sampur" jadi sasaran kekecewaan dan ke frustasi an.
Saya pun pernah melakukannya beberapa bulan yang lalu pada seseorang, ketika saya benar - benar frustasi dengan hidup saya. Saya menyalahkannya karena berhasil "mentrasnformasikan" saya , dimana ternyata hasil transformasi tersebut malah membuat saya menjadi manusia yang "abnormal" di lingkungan saya yang sangat "normal". Karena lingkungan baru dan orang - orang baru saya ini hidup dengan norma dan cara berpikir seperti orang kebanyakan di Indonesia. Standar, lurus, datar, konvensional, dan hanya melanjutkan apa yang sudah turun temurun dilakukan oleh nenek moyang dan leluhur mereka.
Sedangkan saya adalah orang yang berani menerobos pagar, menyebrangi sungai perbedaan, masuk hutan penggemblengan karakter, dan terjun ke rawa pembongkaran kerangka berpikir yang fundamental. Sebagai hasilnya saya menjadi manusia yang berpikir beda, bersikap dan bertindak beda dengan kebanyakan orang, terutama di lingkungan saya sekarang.
I’m a weird creature live on earth. I’m an alien in an human body.
Resiko ini ternyata pada satu titik membuat saya benar - benar frustasi juga. Saya harus hidup, bertindak, berpikir, dan bersikap melawan arus. Tatap mata mengasihani, pandangan aneh dan basa basi penghiburan adalah keseharian yang harus saya hadapi.
Pada titik itulah saya kemudian saya meluapkan segala kefrustasian saya pada orang yang memang punya andil besar dalam menciptakan hutan penggemblengan karakter, rawa pembongkaran cara berpikir itu.
"Gara - gara kamu, aku jadi manusia aneh begini"
"Kamu nyesel jadi diri kamu yang sekarang ?" Bukannya kamu jauh lebih baik sekarang. Matang, dewasa, mandiri. Jauh lebih baik dari kamu yang saya kenal sebelumnya. "
"Iya tapi hanya kamu yang menganggap saya lebih baik, hanya kamu yang menganggap kematangan, kedewasaan, dan kemandirian sebuah nilai tambah, untuk kebanyakan orang itu adalah nilai minus yang membuat saya menjadi manusia aneh diantara mereka."
"Terus maumu apa ? kamu mau balik jadi kamu yang dulu lagi, ya terserah. Toh kamu juga waktu itu mau untuk menjalani proses itu, dan kamu sendiri merasakan hasil positifnya. Kenapa sekarang ketika kamu merasa frustasi dengan sesuatu dan seseorang kamu menyalahkan semua proses yang telah menjadikanmu manusia yang lebih baik ini ?"
Ya, saya akuin saat itu saya hanya ingin marah. Saya hanya butuh pelampiasan atas kekecewaan saya. Saya frustasi. Ternyata menjadi manusia "berbeda" itu tidak mudah juga. Dan saya menyalahkan orang yang membimbing proses pendewasaan saya dulu. Padahal tanpa kesepakatan dari saya tentunya proses itupun tidak akan terjadi. Saya melakukannya dengan kesadaran. Dan saya malu mengakui itu. Bahwa sayalah yang memutuskan untuk "berubah" saat itu. Saya hanya ingin meluapkan marah dan kekecewaan atas hasil "perubahan" yang ternyata sedang pada posisi yang tidak seperti harapan saya.
Rupanya karma itu gak lama datangnya. Dua hari ini saya mendapatkan "balasan"nya . Menjadi orang yang "terpilih" untuk menjadi sasaran kemarahan dan kefrustasian seseorang. Lebih apesnya saya dipilih oleh seseorang yang saya gak inget dan gak tau apa - apa..hahahaha..saya ketawa geli menertawakan diri saya sendiri yang pernah pada posisi tersebut menyedihkan seperti itu.
What a life