Archive for June, 2007

Ke Ambon Lagi

Saturday, June 30th, 2007

Ke Ambon lagi. Senang sekali rasanya ketika mendapat giliran tugas liputan luar kota, dan kota tujuan kali ini adalah Ambon. Ini adalah kunjungan saya yang kedua kalinya ke Ambon setelah kunjungan pertama bulan Mei tahun lalu. Tapi kali ini lain, rombongan wartawan yang akan diberangkatkan sehari sebelum Presiden tiba, tidak mendapatkan tiket di pesawat komersial apapun yang menuju Ambon. Belakangan saya baru tahu kenapa begitu sulitnya mendapat tiket ke Ambon. Untuk acara Harganas (Hari Keluarga Nasional) ke-14 di Ambon ini, dimana kami para wartawan akan meliput, dihadiri oleh gubernur, walikota dan bupati se-Indonesia. Tak heran kalau tiket pesawat dan kamar hotel menjadi hal yang sangat langka.

Akhirnya saya pun mendapat kabar bahwa kami akan diberangkatkan ke Ambon, ikut di pesawat Presiden. Damn ! Buyar sudah bayangan saya untuk cruising kota Ambon seperti tahun lalu. Berendam di hangatnya air laut di Pantai Natsepa malam - malam, segarnya rujak di Pantai Natsepa siang - siang, jalan - jalan keliling kota Ambon naik becak, menikmati malam dan kerlip cahaya kota Ambon dari patung Martina Martha Tiahahu, dan menikmati kopi Ambon yang belum sempat saya nikmati tahun lalu.

Istilah untuk tim yang berangkat di pesawat Presiden adalah main group. Berangkat menjadi bagian dari main group berarti skejul yang padat, siap lari setiap saat, dan gak ada cerita lelet, plus tentu saja lupakan agenda jalan - jalan menikmati kota tujuan.

Jadilah Kamis 28 Juni 2007 saya sudah berada di pos penjagaan Base Off Angkatan Udara di Halim Perdana Kusumah, jam 05.00 WIB. Gila bener - bener jam 5 pagi, saat biasanya saya masih nyenyak di balik selimut. Saking takutnya telat saya sampai gak bisa tidur. I wake up all night and reading book. Jam 6an kami sudah didata, dicek apakah nama kami sudah ada di buku putih perjalanan. Ada 15 wartawan termasuk saya yang ikut kali ini. Setiap perjalanan Presiden, main group selalu dibagi buku putih kecil, dimana disitu terdapat ittenary acara dengan lengkap, dan nama - nama peserta rombongan. Terdapat 69 nama, selain crew Garuda.

Menjelang jam 7 kami sudah digiring masuk ke pesawat Boeing 737 - 500 Garuda. Duduk boleh dimana saja, berbeda dengan perjalanan luar negeri dimana di setiap seat sudah tertempel nama dan jabatan si pemilik kursi yang diatur oleh protokol rumah tangga kepresidenan. Ini adalah perjalanan kedua kalinya saya ikut di main group.Perjalanan pertama saya tahun lalu waktu ikut Presiden kunjungan kenegaraan ke Brunesi Darussalam, Kamboja dan Myanmar. Bedanya juga untuk perjalanan dalam negeri kami boleh pake pakaian batik atau kemeja biasa asal rapi. Sedangkan bila perjalanan luar negeri kami wajib mengenakan Pakaian Sipil Lengkap (PSL), yaitu celana panjang dan jas berwarna gelap harus satu stel, dan dasi.

Jam 07.00 WIB kami lepas landas meninggalkan Jakarta yang diguyur hujan deras. Dan mulailah menikmati enaknya service penerbangan di pesawat Presiden. Servisnya gak bakal ditemuin di pesawat Garuda biasa. Lha iyalah hehehe…Pas mau baru duduk udah dapet hot towel dan welcome drink, jus apel dan jus orange di gelas cantik berlogo garuda. Kalo perjalanan luar negeri plus sari kacang hijau yang yummy enak banget. Setelah pesawat take off dan posisinya stabil di ketinggian 3000 kaki, sarapan pun dibagikan dengan pilihan dua menu. Nasi uduk dengan daging atau omelet dengan sosis. Saya memilih omelet dengan sosis. Menunya pun bukan hanya itu, tapi lengkap seperti naik pesawat penerbangan internasional. Ada roti dan butter, yoghurt, buah, plus kopi atau teh. Kopinya pun bukan kopi kecut ala Garuda yang biasanya saya sebelin. Ini capucino ala Starbuck. Kalau mau minuman lain, bisa minta coffe mix atau teh tarik. Makanan mengalir terus, ada dendeng yang ditawarkan terpisah, dan juga snack yang terdiri jajanan pasar. Saya sampai nolak - nolak karena kekenyangan. Pramugari dan pramugara nya pun super ramah. Kalo bosan duduk kita pun bebas aja kalo mau nongkrong di pantry sama mereka sambil ngemil apa yang ada.

Penerbangan langsung Jakarta - Ambon harusnya ditempuh selama 3 jam 25 menit, tetapi cuaca buruk memaksa kami untuk tetap di udara sampai cuaca memungkinkan untuk mendarat. Terasa pesawat yang sudah menurun tiba - tiba menaik lagi. Berkali - kali badan pesawat bergetar cukup keras, di luar awan cukup tebal dan berwarna gelap. Saya pikir bila saya menggunakan pesawat komersil biasa non Garuda, saya pasti sudah sport jantung dalam keadaan cuaca kayak begitu. Tapi kali ini saya merasa sangat tenang, meski cuaca seburuk itu. Saya berada di pesawat Presiden yang tentunya dengan keamanan yang maksimal. Saya mendengar ajudan dan perwira pengamanan penerbangan kasak kusuk untuk penerbangan darurat. Paspampres sudah membuka peta. Bos saya Andi Mallarangeng sudah mengatakan bahwa kita mungkin akan makan nasi kuning di Menado atau coto di Makasar. Yah memang sempat ada wacana untuk mendarat di kedua kota itu.

Tapi setelah berputar - putar di udara sekitar 30 menit, akhirnya pesawat pun mendarat dengan mulus di tengah hujan deras di Bandara Udara Internasional Pattimura Ambon. Tepukan tangan pun pecah memenuhi kabin ketika pesawat berhasil touch down. Horeee…alhamdulilah,syukur pada Tuhan, kami mendarat dengan selamat. Tidak ada penyambutan dengan karpet merah di landasan seperti biasanya. Hujan deras memaksa kami segera lari ke bis yang sudah menjemput.

Perjalanan dari bandara menuju kota Ambom memakan waktu kira - kira 30 menit. Di sebelah kanan kami laut. Sayang hujan deras, dan laut pun menjadi berwarna cokelat dan bergolak, tidak berwarna hijau dan tenang seperti tahun lalu ketika saya berkunjung.

Tiba di kota Ambon, kami langsung menuju ke tempat acara, sebuah pasar ikan higienis di Tantui, yang akan diresmikan Presiden. Sore hari ketika acara usai, barulah kami menuju tempat kami menginap, di sebuah hotel terapung, yaitu KM.Bukit Siguntang. Seluruh hotel di Ambon sudah penuh. Padahal saya berharap bisa menginap lagi di hotel Amboina, coffe shop nya mempunyai live band yang bagus dan ada dance floor kecil di tengahnya. Jadi ingat tahun lalu saya bersama beberapa teman ikut menari diajari oleh orang - orang Ambon yang pintar menari ini dengan iringan live band dengan penyanyi lokal yang bersuara indah. Itu yang saya suka dari orang Ambon, mereka bukan hanya cantik dan ganteng, bersuara indah dan pintar menari, tapi juga ramah, mengajak kami yang tak dikenalnya untuk ikut menari bersama dan diajari pula. It was fun.

Tapi sayang, kali ini lupakan Amboina dan agenda yang sudah saya rancang di kepala ketika tahu akan ke Ambon lagi. Sekarang jatah menikmati naik kapal laut lagi. Setelah pertama kali 12 tahun lalu ketika akan ke Banjarmasin. KM.Bukit Siguntang milik Pelni ini memang disediakan untuk para tamu dari seluruh Indonesia ini yang tidak kebagian kamar di hotel manapun di Ambon. Merapat di Pelabuhan Yos Sudarso, KM Bukit Siguntang berdiri dengan gagah dengan lampu - lampu nya. Sayang cuaca hujan deras. Sehingga kami pun harus bergegas tak sempat mengagumi tempat menginap yang tak biasa ini.

Saya mendapat kamar 5031 bersama Debby reporter Sonora, Nurma reporter Sindo, dan Mbak Esty reporter TVRI. Kabin kami ini kelas dua, dengan 6 kasur yang menempel di dinding masing - masing 2 susun, atas dan bawah. Toilet dan kamar mandi berada di luar. Karena saya dianggap mungil, jadilah saya menempati kasur di atas kasur tempatnya Nurma di sebelah kanan. Kasur ini cukup sempit, begitu juga jarak antara kasur atas dan bawah. Kamarnya cukup bersih, begitu juga kasur, selimut dan bantalnya. Cukup representatif, dengan jendela dan loker yang memadai. Padahal harga yang harus dibayar sangat murah, saya melihat angka yang tertera di tiket hanya Rp.7500 per orang untuk menginap satu malam di kabin kelas dua ini. Ada fasilitas makan malam juga, tapi kami memilih untuk turun dari kapal dan makan di resto ikan di kota New Ratu Gurih di Jl.Diponegoro Ambon. Ada bioskop, yang malam itu memutar film Suster Ngesot. Sayang saya tak sempat berkeliling melihat - lihat kapal berkapasitas 2000 penumpang ini. Padatnya jadwal membuat saya tidak bisa menikmati hotel terapung ini.Check in, mengirim berita, sudah dipanggil turun untuk segera makan malam, dan setelah makan malam sudah teler kelelahan, ditambah cuaca yang terus menerus hujan membuat ingin segera masuk kebawah selimut.

Begitulah kisah saya seharian pada tanggal 28 juni 2007, berawal di Halim, dan berakhir di KM Bukit Siguntang yang sehari - harinya melayani rute Ambon - BauBau - Makasar - Surabaya. Hujan tak henti - hentinya mengguyur kota Ambon, tidur saya pun semakin nyenyak.

Another Lovely Tuesday Night

Tuesday, June 26th, 2007

Selasa kemarin nyaris saja saya melewatkan sesi yang menarik di kelas menulis. Untung saja saya bisa mengalahkan flu yang menyerang tubuh saya sehingga lemas dan pusing ini, sehingga akhirnya bisa berangkat ke Pantau bareng Melly.

Dipandu oleh Andreas Harsono, kami membahas mengenai penulis Polandia Ryszard Kapuscinski dengan tulisannya The Soccer War dan Shah of Shahs. Pram-nya Polandia ini menurut Andreas adalah seorang penulis yang hebat dalam hal detail, dan dia jagonya travelog, atau penulisan tentang catatan perjalanan.

Dia memulai tulisannya bisa dengan berbagai cara, seperti pada Shah of Shahs dia memulainya dengan sebuah foto yang captionnya salah. Dari situ cerita mengenai revolusi Iran mengalir. Sebuah prolog yang rasanya jarang digunakan oleh penulis lain. Ide yang unik dan penuh dengan detail serta kaya dengan fakta.

Diskusi di kelas selalu lebih menarik ketika dipandu oleh Andreas, yang malam itu mengajar dengan mengenakan topi, untuk melindungi kepalanya dari hembusan AC yang bikin pusing. Ketika mengajar, Andreas seringkali menggunakan slide untuk memberi gambaran yang lebih jelas mengenai topik dan tokoh yang menjadi bahan diskusi. Selain itu buku - buku yang dibahas dan apa yang disampaikannya, seringkali membuat saya merasa seperti kebo bego yang gak ngerti apa - apa. Knock my head banget, bahwa ternyata begitu banyak yang saya nggak tahu, begitu banyak buku yang saya belum baca, belum banyak nama yang saya tidak kenal. Aaaahh..biasanya habis ikut sesi kelas Andreas, di kepala saya langsung terdaftar begitu banyak buku yang harus saya baca dan apa yang harus saya cari di internet.

Kelas cukup penuh tadi malam. Buyung yang datang terlambat duduk di sebelah kiri saya, dan Coy di sebelah kanan saya. Di sebelah kiri Buyung ada Herni. Dan di sebelah kanan Coy ada dua orang peserta tambahan dari kelas Jurnalisme Sastrawi yang juga sedang berlangsung di Pantau siang harinya. Di depan saya ada Selly dan Amir, kemudian  Algooth yang datang belakangan. Di deret sebelah kiri ada Melly, Mbak Kiki dan John. Dan di deret sebelah kanan ada Mbak Farah Amini. Sayang Hagi Playboy Idaman  dan Mbak Mai , dan Mbak Mona nggak hadir. Kalo semua hadir wah makin seru saja kelas ini. Suasana yang selalu membuat saya semangat setiap selasa.

Pulangnya saya ikut di mobil Melly lagi dengan Selly dan Herni.Di jalan kami ngobrol dengan seru, dan muncul ungkapan dari Selly yang mengatakan bahwa dirinya sangat menyukai setiap selasa ini.

"Meskipun gak bikin pe er tapi rasanya seneng aja, " kata Selly. " Dan gue tidak percaya kebetulan, " tambahnya.

Saya sama Melly tertawa ngakak. Ternyata bukan cuma saya, dan Melly saja yang merasa kelas ini sangat menyenangkan. Bahkan Melly sudah menghitung sesi - sesi yang tersisa yang tinggal menghitung hari. Karena kursus ini akan segera berakhir pada bulan Agustus.

"Trus habis ini kita ngapain ya ? " kata Melly dengan nada suara menyesal.

Ya saya juga pasti akan sangat kehilangan selasa malam yang seru ini setelah kursus ini berakhir. Hiks..Kumpulan orang - orang cerdas yang energik dan punya passion ini, rasanya seperti sebuah oase bagi saya di tengah rutinitas yang membosankan sebagai robot kantor. Saya bisa ikut ngecharge batere saya yang hampir padam karena kebosanan yang sudah mencapai puncaknya ini.   

Dan saya setuju dengan Selly, kami dipertemukan di kelas ini bukanlah suatu kebetulan. Since I believe that nothing coincident in this world. Bahwa kami dipertemukan untuk sebuah tujuan apa..entahlah, pada saatnya juga nanti ketahuan :) Yang jelas kami merasakan sebuah chemistry yang begitu ngeblend, seperti kami sudah kenal selama bertahun - tahun. Melly, Buyung, Selly dan Coy sih memang teman lama satu almamater di ITB, tapi yang lain termasuk saya, rasanya juga tidak menemukan kesulitan untuk segera membaur dan berteman akrab meskipun baru ketemu.

Selain menyenangkan untuk berdiskusi mereka juga orang - orang yang punya selera humor bagus. Apa saja bisa menjadi bahan tertawaan. Kata Mbak Fiqoh, salah seorang staf dari Pantau mengatakan bahwa kelas narasi angkatan kedua ini orang - orangnya sangat mudah tertawa. Memang..hebooooh banget kalo kelas dah meledak karena tawa orang - orang lucu ini. Hahahahaha…

I cant wait to have another tuesday night in Pantau :)

Logika versus Cinta

Tuesday, June 26th, 2007

Hanya ingin mengutip kata - kata bijaknya Jalaludin Rumi di okezone hari ini.

“Logika itu tak berdaya dalam mengekspresikan cinta. Hanya cinta sendiri yang mampu mengungkap kebenaran cinta dan kesejatian diri sang pecinta.”

Jalaluddin Rumi,
Sastrawan Sufi Persia Abad ke-13

Sejujurnya saya juga nggak ngerti - ngerti amat sama ini quote. Masih pake acara kening berkerut en mikir lama :) . Meskipun yang kalimat pertama rasanya saya setuju. Logika emang gak bisa dipake sebagai parameter untuk mengekspresikan cinta.

Dalam logika ada perhitungan untung rugi, sedangkan kalkulator tidak berguna dalam urusan cinta. Jika masih pake kalkulator berarti bukan cinta itu namanya. Hanya ada satu kata dalam cinta. Memberi. To give not to invest :) Seringkali orang mengatakan bahwa dia mencintai seseorang dengan memberinya banyak hal, seperti materi, waktu, tenaga, pikiran, dan lain - lain, tapi ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan, menjadi kecewa dan marah. Itu namanya bukan memberi yang berarti bukan cinta, tapi itu adalah bentuk lain dari investasi.

Ya namanya juga investasi, sebagai investor tentu saja berhak marah dan kecewa ketika investasinya tidak kembali seperti yang diharapkan. Jangankan bisa menghasilkan untung, kembali modal saja tidak. Tapi kalo mau investasi sebaiknya temui fund manager anda, atau ke bursa saham saja cari pialang handal, jangan investasi di urusan cinta, bisa ribet urusannya :)

Maka tak heran bila kebanyakan orang dalam mencari dan menentukan pasangan, mencari seseorang yang mapan secara segala hal, terutama materi. Yang perempuan cari laki - laki kaya, yang laki - laki juga cari perempuan mapan. Ini mau cari soulmate apa mau cari mitra bisnis ya ? Ya entahlah ini rasanya sebuah konsekuensi logis dari kehidupan di kota metropolitan. Ketika cinta telah berganti wujud menjadi sebentuk bangunan bernama rumah, atau sepetak ruang bernama apartmen. Cinta berubah bentuk menjadi sebuah mobil berlambang biru putih atau kuda jingkrak. Keindahan kata - kata cinta telah berganti format menjadi sederet angka di buku tabungan dan seuntai perhiasan mewah.

Mencari sebentuk cinta tanpa kalkulator di belantara metropolitan ini rasanya seperti sebuah mimpi saya, matahari yang terbit dari barat :)

Happy Birthday My Dear Friend

Saturday, June 23rd, 2007

Satu lilin lagi dinyalakan di atas altar - Mu

Mengiringi satu tahun lagi yang sudah berlalu

Satu doa lagi dipanjatkan kehadirat-Mu hari ini..

Doa yang tak pernah terputus..

Untuk seorang sahabat yang sedang berdiri di persimpangan..

Berjuang ditengah kegalauan

Bergelut dengan kekalutan

Meraba dalam gelap kemanakah gerangan kaki harus melangkah

Diam bukan berarti selalu patuh

Diam juga bisa berarti perlawanan

Tapi apakah yang sedang dilawannya ?

Tak seorang pun tahu..

Hanya kesunyian yang dicarinya..

Diam dalam keheningan bercengkrama dengan waktu

Berusaha mencari jawab atas tanya yang tak pernah dilontarkannya

Jejak langkah masa silam tergurat jelas di wajahnya

Ada jejak luka yang sangat dalam

Ada serpihan kebahagiaan yang tercecer..

Ada rintih kesakitan yang masih tersisa

Ada segumpal hati yang beku..

Ada secercah harap yang terlihat malu - malu..

Dimanakah kepingan jiwa yang hilang itu ?

Adakah sudah terkumpul kembali dengan utuh ?

Lagi - lagi tak ada seorang pun yang tahu..

Di hari ini, tak banyak kata yang hendak terucap

Selain seuntai doa untukmu sahabat jiwa

Semoga hatimu sudah diberikan-Nya kekuatan

Untuk menetapkan langkah ke masa depan

Dan mengucapkan selamat tinggal pada persimpangan itu..

Tak ada sesal tak ada duka

Semua berlalu seiring waktu

Tak ada pesan-Nya yang luput

Selama kita selalu mendengar-Nya

Dia yang selalu ada bersemayam di sudut hati

"Selamat Ulang Tahun Untuk Seorang Sahabat, Guru, dan (mantan) Kekasih..ku"

3 Hari Yang Gak Jelas

Wednesday, June 20th, 2007

Judul diatas itu versi saya untuk film 3 Hari Untuk Selamanya. Buat saya memang tidak jelas maksud dan esensi dari film itu. Apa sih yang mau diceritakan ? Nggak jelas. Saya tergerak untuk menonton, pertama karena itu filmnya Miles dan Riri Riza, kedua karena Nicholas Saputra, dan ketiga karena posting Ndorokakung tentang film ini. Meskipun belakangan ndoro sendiri "meralat" referensinya tentang film ini, yang katanya gak terlalu bagus, meskipun dirinya juga belum menonton film itu. Begitu juga resensi film ini di Kompas  tidak mengatakan film ini bagus.

Tapi rupanya rekomendasi yang biasa - biasa aja tentang film ini tidak menyurutkan saya untuk menonton film ini. Benar kata ndoro bahwa apapun yang berkaitan dengan Jogja akan selalu menarik untuk dilihat. "Coba rute perjalanan di film itu Jakarta - Surabaya misalnya, mungkin tidak akan begitu menarik,"katanya. Dan rasanya memang iya, bukan karena kami berdua dari Jogja, tapi saya setuju dengan analisa Ndoro bahwa begitu banyak orang yang mempunyai keterikatan emosional dan historis dengan kota gudeg tersebut. Sehingga apapun yang related to Jogja akan mengundang perhatian orang. Entah magnet apa yang dimiliki Jogja sehingga begitu banyak orang yang mencintainya.

Akhirnya weekend yang lalu saya pun menonton film itu di Citos. Saya menonton dengan Angry yang berasal dari Jogja juga. Dan secara kami berdua pernah menjalani rute perjalanan darat Jakarta - Jogja seperti yang dilakukan Yusuf dan Ambar itu, maka sepanjang film kami sering "protes".

" Itu di daerah mana sih ?,"

" Kok lewat situ ya jalannya ?

" Ih muternya jauh banget pantesan gak sampe - sampe ! "

Yah begitulah komplen penonton orang Jogja seperti kami hehehe. Komplen lain soal Yusuf sama Ambar yang sepanjang jalan gak henti - hentinya giting (ngisep ganja). " Gila ya nyupir sambil giting mulu, " protes kami. Kami heran aja, orang giting kan bawaannya ngantuk dan pengen cekikikan kalo lagi hepi atau nangis meraung - raung kalo lagi sedih, dan semua sensor syaraf menjadi melambat. Kok bisa-bisanya giting gak berenti - berenti sambil nyupir jarak jauh begitu yang membutuhkan stamina dan konsentrasi. Saya setuju dengan Kompas porsinya terasa over dosis bangeeet. Pesan apa sih sebetulnya yang ingin disampaikan dengan adegan itu sepanjang film ? Rasanya tidak berkontribusi banyak bagi penguatan karakter Yusuf dan Ambar ini.

Lagi - lagi menurut Ndoro, adegan giting begitu mendominasi keseluruhan film, karena penulis skenario film ini, Sinar Ayu Massie, adalah seorang penggele sejati yang sekarang mukim di Inggris. Tapi buat saya tetep aja ini bukan sebuah alasan. Memangnya bila si penulis skenario seorang penggemar bakso, berarti setiap adegan makan di film garapannya harus makan bakso melulu ?

Saya tidak dalam rangka meresensi film ini. Jalan cerita mengenai film ini bisa anda baca di media - media yang sudah mengulasnya dengan berbagai versi. Saya hanya menyayangkan bahwa ide film perjalanan atau road movie yang bagus ini tidak didukung oleh skenario yang kuat, padahal ditangani sutradara sehandal Riri Riza dan produser sekelas Miles. Adegan - adegan yang bagus tidak didukung oleh dialog - dialog yang bernas. Datar dan tidak menggali apapun dari pergolakan batin kedua anak muda yang katanya sedang dalam proses pencarian jatidiri ini. Semua berlalu begitu saja tanpa eksplorasi yang mendalam. Hampa.

Selain dialog yang hampa, juga rasanya ada beberapa adegan yang gak jelas maksud tujuannya dengan benang merah cerita. Adegan yang saya maksud ketika Yusuf dan Ambar beristirahat di pantai daerah Tegal dimana ada rombongan ronggeng yang sedang pentas. Adegan Yusuf yang terpesona pada liukan pinggul si penari dan lirikan nakalnya tidak menceritakan apapun. Mangsude opo tho yo ?

Adegan Ambar yang manja dan mereka berdua berantem itu juga datar banget. Padahal sebetulnya konflik ini sangat potensial untuk digarap menjadi scene yang bisa menggali karakter dengan menampilkan dialog - dialog yang bagus dan bermakna dan emosi yang memuncak. Sayang kurang tergarap dengan baik.

Tidak ada yang salah dengan Nicolas Saputra dan Adinia Wirasti, mereka berakting cukup baik memerankan tokoh Yusuf dan Ambar. Nicholas masih tetap dengan tampilan cowok cool, dengan rambut kriwil dan mata elangnya, yang bikin penasaran cewek - cewek. Adinia tampil cantik dengan eksotisitas khas perempuan tropis. Sexy abis menurut saya. Gaya berpakaiannya yang sembarangan sehingga memperlihatkan paha dan sebagian dadanya, kulitnya yang kecokelatan, rambut panjangnya yang terurai acak, bibirnya ketika mengisap rokok, plus kecuekan gayanya..asik banget.

Hanya memang skenario yang melandasi cerita ini memang kurang kuat. Sehingga ketika keluar dari gedung bioskop saya dan mungkin penonton lainnya, gak dapet apa - apa di kepala. Gemes banget saya, seandainya saya yang nulis skenarionya, hehehe narcist saya kumat sambil berkhayal :)

Buat saya film yang bagus akan meninggalkan kesan yang mendalam di hati dan kepala para penontonnya. Seperti saya selalu ingat " life is like a box of chocolate " yang diucapkan Forrest Gump ketika dia sedang duduk di tepi jalan sambil membuka kotak cokelatnya.

"Run Forrest…ruuuuuuuun !" dialog lainnya dari film itu yang juga saya ingat dengan baik. Atau "you complete me, dan "you had me at hello" dialog favorit saya dari film Jerry Maguire. "Show me the money…!" teriakan Cuba Godding Jr,masih di film yang sama. Kalimat - kalimat itu, dan suasana adegan itu masih melekat erat di ingatan saya meski telah bertahun - tahun lalu saya menonton film tersebut.

Dan tak ada yang menempel di kepala dan hati saya ketika keluar dari bioskop usai menonton film 3 Hari yang ga jelas itu..padahal baru saja berlalu dari hadapan mata saya beberapa menit sebelumnya.

Teman saya Lona membandingkannya dengan road movie seperti film Before Sunrise dan sekuelnya Before Sunset , yang katanya dialog - dialognya keren abis. Dan sayangnya sampe saat ini saya belom nonton hiks..hiks :(( Ada yang mau minjemin DVD nya kah ? Or di toko DVD mana saya bisa cari ?

The Meaning of Success

Wednesday, June 20th, 2007

Sukses, satu kata yang diimpikan banyak orang. Berjuta orang melakukan segala hal untuk mendapatkan gelar ini. Si anu udah sukses euy sekarang mah. Pakaiannya bermerk terkenal, mobilnya mewah, rumah besar di daerah elit, istrinya cantik, jabatannya mentereng, anak - anaknya sehat dan cerdas, tabungannya banyak, liburannya ke luar negeri, dan tentu saja selain uang juga punya kekuasaan.

Begitulah definisi mengenai sukses yang melekat erat di benak banyak orang. Tapi berikut saya kutipkan poem dari seorang essayis Amerika Ralph Waldo Emerson, yang berjudul The Meaning of Success.

Makna tentang sebuah kesuksesan dari sisi lain yang selama ini mungkin terlupakan dari benak kita. Happy Reading :)

To laugh often and much;
To earn the respect of intelligent people

     and to win the affection of children ;

To earn the appreciation of honest critics

     and endure the betrayal of false friends

To appreciate the beauty in nature and all that surrounds us;
To seek out and nurture the best in others;

To give the gift of yourself to others

      without the slightest thought of return,
      for it is in giving that we receive

To have accomplished a task,

     whether it be saving a lost soul,
      healing a sick child,
      writing a book,
      or risking your life for a friend

To have celebrated and laughed with great joy

      and enthusiasm and sung with exaltation

To have hope even in times of despair,

      for as long as you have hope, you have life;

To love and be loved;
To be understood and to understand;

This is the meaning of success

You’re The Result of Yourself

Tuesday, June 19th, 2007

Saya hanya ingin mengutip puisinya Pablo Neruda , penulis Chili yang karya- karyanya sangat berpengaruh di abad 20.Sangat bagus dan inspiring untuk saya, semoga untuk anda juga. Sehingga kita tak akan berkeluh kesah dan menyalahkan orang lain atas apapun yang terjadi pada hidup kita…Bahwa kita punya "kuasa" dan kontrol atas perjalanan hidup kita, we’re not powerless. We do have the power to change, to choose, to be, to have.., so be optimistic and get up.

Baca kalimat terakhirnya..jangan pernah memikirkan takdir, takdir hanyalah alasan untuk kesalahan - kesalahan.

Happy reading :)

You’re The Result of Yourself

Don’t blame anyone, never complain of anyone or anything

Because basically you have made of your life what you wanted.

Accept the difficulties of edifying yourself

And the worth of starting to correct your character.

The triumph of the true man arises from the ashes of his mistakes.

Never complain of your loneliness or your luck.

Face it with courage and accept it.

Somehow, they are the result of your acts and

It shows that you’ll always win.

Don’t feel frustrated of your own failures, neither unload them to someone else.

Accept yourself now or you’ll go on justifying yourself like a child.

Remember that any time is good to start

And that no time is so good to give up.

Don’t forget that the cause of your present is your past,

As the cause of your future will be your present.

Learn from the brave, from the strong,

From who doesn’t accept situations

From who will live in spite of everything.

Think less of your problems and more of your work.

Learn to arise from your pain,

And to be greater than the greatest of your obstacles.

Look at the mirror of yourself and you’ll be free and strong

And you’ll stop being a puppet of circumstances.

For you yourself are your destiny.

Wake up and stare at the sun in the mornings and breath the sun of dawn.

You’re part of the strength of your life now,

Rise up, fight, walk, be sure and you’ll win in life.

Don’t ever think of ‘fate’

For fate is the excuse of failures.

Talking About Pain

Tuesday, June 19th, 2007

Pain atau rasa sakit ditimbulkan oleh sebuah luka. Bisa hanya menggores, bisa menikam dengan tajam sehingga menghasilkan sebuah luka yang menganga cukup dalam. Bisa karena benda tajam, atau benda tumpul yang menghasilkan lembam bukan sebuah luka yang menganga dengan darah mengucur.

Tapi entah itu berupa luka berdarah, atau lembam kebiruan, tetap saja rasa yang ditimbulkannya adalah satu, sakit.

Namanya juga rasa sakit, tentu saja tidak menyenangkan bagi siapapun yang sedang mengalaminya. Luka menganga perlu bantuan dokter untuk menjahitnya sehingga tertutup rapat lagi. Luka tergores hanya perlu sedikit betadine dan kapas atau kain kasa untuk membalutnya. Selanjutnya terserah pada kemampuan masing - masing sel dari si empunya tubuh untuk meregenerasi dan menyembuhkan luka tersebut. Untuk jenis luka yang sama, proses kesembuhan pada tiap orang bisa berlangsung secara berbeda - beda lamanya. Tergantung daya tahan dan kemampuan meregenerasi sel itu tadi.

Saya tiba - tiba ingin membicarakan tentang luka dan rasa sakit ini karena tergugah oleh pembicaraan dengan seorang sahabat. Dia belum lama mengalami sebuah "tragedi" dalam hidupnya, ya katakanlah begitu. Namanya juga tragedi tentu saja menyakitkan, dan usai rentetan peristiwa itu, tentu bukan berarti semua selesai begitu saja.

Seandainya yang tragedi itu diibaratkan sebuah pertempuran, dan yang terluka itu adalah tubuh, tentu yang akan nampak usai pertempuran itu adalah sesosok tubuh yang telah compang - camping, terkoyak oleh bermacam luka dan lembam. Tubuh itu terkapar dengan genangan darah di sekelilingnya. Tapi dadanya masih naik turun menandakan masih ada denyut kehidupan disana. Dia berusaha untuk bangkit, darah segar masih meleleh dari luka - lukanya. Para sahabat membawanya ke rumah sakit, menungguinya sampai luka - lukanya terjahit dan terbalut dengan baik. Si empunya tubuh masih diam membisu. Tubuhnya tidak merasakan apapun. Numb. Terlalu banyak rasa sakit yang harus ditanggung membuatnya menjadi mati rasa.

Hari, minggu dan bulan sudah berlalu. Luka - luka itu semakin membaik. Jahitannya sudah bisa dilepas. Biru - biru lembam juga sudah semakin berkurang. Tapi tubuh itu belum juga bisa kembali merasakan sakit. Kebal. Mati rasa. Rasa sakit yang tak tertahankan membuatnya demikian.

Bukan hanya tubuh yang menjadi mati rasa, jiwa yang mengisinya pun demikian. Dia bernafas tapi dia tidak hidup. Dia berjalan tapi tidak melangkah kemana-mana. Matanya menatap tapi tidak melihat. Telinganya mendengar tapi tidak menyimak. Semua hampa. Kosong.

Saya, sahabat saya, mungkin anda juga, pernah merasakan keadaan seperti ini. Bila iya maka beruntunglah saya, sahabat saya, dan anda. Tidak semua orang diberi privilege untuk melewati ujian seberat ini. Kita "hidup kembali" dalam hidup yang kita jalani.

Trauma adalah kondisi luka di jiwa yang belum tersembuhkan. Ada banyak orang berusaha untuk menaklukan rasa sakit yang ditimbulkannya. Sebagian besar memilih cara termudah. Lari. Berusaha melupakan. Memang itu yang termudah untuk dilakukan, tapi bukan yang terbaik. Karena melarikan diri dan melupakan tidak akan pernah menyembuhkan luka itu. Luka itu tetap berada di dalam tubuh dan akan terbawa lari kemanapun si empunya tubuh itu membawanya.

Sementara akan terasa seakan - akan luka itu sudah kering dan rasa sakit itu sudah menghilang. Tapi tentu saja namanya sementara, kesakitan itu akan muncul pada saat - saat yang tak terduga. Baru pada saat itulah kita tahu bahwa "the pain stil there".

Satu tips dari sahabat saya yang lain, yang mengibaratkan hati dan kepala kita ini adalah sebuah kaset rekaman. Hati dan jiwa yang terluka itu telah merekam peristiwa, seperti rekaman wawancara yang direkam ke sebuah kaset kosong. Sehingga yang akan muncul setiap kaset itu diputar adalah episode peristiwa yang telah terekam tersebut. Again and again.Setiap rekaman itu diputar rasa sakit yang menekan jiwa pun akan kembali muncul secara otomatis.

Berangkat dari perumpamaan itu, sahabat saya mengatakan bahwa cara terbaik untuk mengatasi rasa sakit itu adalah dengan mendatangi sumbernya. Sesuatu atau seseorang yang membuat luka dan rasa sakit itu terjadi. Datangi, lihat, rasakan, dan hadapi. Menurutnya, hal itu ibaratnya merekam ulang peristiwa yang baru ke kaset yang sama untuk menutup rekaman yang sebelumnya.

Awalnya saya kira ide itu gila. Mana ada orang yang sakit dan terluka malah mendatangi sumber sakitnya itu, bukannya itu tindakan bunuh diri ? Meninggalkannya sejauh - jauhnya adalah hal paling masuk akal menurut saya. Tapi ketika saya pun mengalami bahwa itu sama sekali tidak menyembuhkan tapi hanya melupakan sementara, barulah saya memikirkan ulang saran sahabat saya itu.

Saya mengalami "trauma" dengan beberapa tempat yang bersejarah dalam perjalanan hidup saya. Di tempat - tempat itu tergores kenangan dan cerita hidup saya dengan beberapa orang, yang kemudian ternyata menyakiti saya dengan sangat baik. Saya pun kemudian memilih untuk menghindari dan membenci tempat - tempat itu. Bahkan setiap mendengar nama itu disebut saja sudah cukup membuat rasa sakit saya menyeruak ke permukaan lagi. Seakan saya masih bisa merasakan tetesan darah itu mengucur lagi.

Dan akhirnya saya pun memberanikan diri untuk mempraktekan saran sahabat saya itu. Saya harus kesana lagi, mengunjungi tempat - tempat itu lagi dan membuat kenangan dan cerita baru dengan di tempat itu untuk merekam ulang kaset yang sama di kepala dan hati saya. Tempat dan setting yang sama tapi peristiwa yang berbeda.

Tentu butuh keberanian ekstra, untuk bangkit dan melangkahkan kaki kesana. Seperti tubuh yang mati rasa dan jiwa yang turut mati tadi. Sang empunya tubuh dan jiwa butuh sebuah sentuhan yang membuatnya tersadar untuk melanjutkan hidupnya yang sejenak terpaku di tempat yang sama, terbelenggu ketakutan. Ketakutan untuk mengalami rasa sakit lagi. Ketakutan akan jalan menikung yang akan menjerumuskannya ke jurang lagi. Sehingga jalan teraman memang tidak bergerak kemanapun. Diam mematung. Mematikan segala sensor rasa untuk melindungi diri dari kemungkinan rasa sakit. Satu hal yang sangat manusiawi. Tapi tentu saja bukan cara yang terbaik. Manusia hidup selalu bergerak. Setiap luka dan lembam adalah bagian dari perjalanan sejarah yang memahatkan diri kita menjadi sebuah maha karya-Nya yang sangat indah dan bermakna.

Bukankah setiap perhiasan indah yang bernilai sangat mahal itupun harus melalu proses peleburan yang menyakitkan ? Maka berbahagialah yang diberikan-Nya kesempatan untuk melalui proses peleburan itu, sehingga nilai diri kita sebagai manusia mengalami peningkatan dari hanya seonggok logam tidak berbentuk, menjadi sebuah perhiasan indah yang bernilai tinggi.

Tapi tentu saja setiap orang memilih caranya sendiri - sendiri. Seperti proses penyembuhan luka di tubuh yang memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, karena tergantung pada kemampuan regenerasi sel dan ketahanan tubunya.

Saya hanya berharap sahabat saya segera sembuh dari luka di jiwanya yang begitu dalam. Mau membuka diri dan bergerak melangkah. Memang tidak ada jaminan bahwa tidak akan pernah terjadi luka dan rasa sakit lagi, tapi haruskah ketakutan itu menghentikan langkah kita untuk melanjutkan hidup ? Jawaban yang mudah untuk dijawab tapi sulit untuk dilakukan. Butuh keberanian, ketegaran, dan kelapangan hati untuk menjalaninya.

Dan saya ada disisimu selalu, sahabatku. Menemani dan menunggumu sampai jiwa mu menyambut ajakanku untuk bangkit dan melangkah. I know you can make it..

Untuk sebuah kata “syukur”

Monday, June 18th, 2007

Sebuah kata yang sangat bermakna…"syukur"

Syukurku untuk jantung yang masih berdetak. Untuk paru - paru yang memompa udara tanpa jeda.Untuk mata yang sehat dan bisa menatap wajah orang - orang terkasih. Untuk telinga yang mendengar berbagai alunan nada indah dan suara - suara alam karunia-Nya.Untuk kaki yang kuat menopang tubuh dan tak lelah kuajak berjalan dan berlari. Dan untuk sentuhan kasih para malaikat kiriman-Nya, serta semua hal yang tak tersebut oleh semua nalar manusia.

Syukurku untuk sebuah tempat yang disebut kantor, dan untuk seseorang yang kupanggil bos.Untuk sepetak ruang yang kusebut kamar tempatku berteduh, dan untuk seseorang yang memasakkan makanan dan mencucikan pakaianku.Untuk sekumpulan orang yang kusebut mereka my family. Untuk para sahabat yang meluangkan waktu, telinga dan hati mereka. Untuk seseorang yang kusapa My Angel. Untuk dia yang kusebut dengan penuh rasa cinta, sang kekasih hati. Dan untuk anda semua yang telah rela berbagi ruang untuk segala sampah pikiranku.

Ketika banyak orang merasa miskin di tengah kekayaannya, aku merasa kaya ditengah segala keterbatasanku.Ketika banyak orang kekurangan ditengah keberlimpahannya,aku merasa berlebih dengan segala kekuranganku.Ketika banyak orang merasa sepi di keramaian, aku tersenyum bahagia ditengah kesunyian.

Ketika banyak orang merasa buruk rupa diantara keindahan tubuh dan paras rupawannya, aku merasa cantik dengan segala pemberian-Nya untukku. Kecantikan yang berasal dari senyum bahagia dan kedamaian hati, karena hati yang dipenuhi rasa syukur atas segala anugerah-Nya

Hidup memang tidak mudah..Tapi bukan berarti tidak bisa dinikmati. Menikmati proses yang sedang dijalani adalah keindahan hidup itu sendiri, dan hasil hanyalah sebuah keniscayaan dari setiap proses.

So many things to complain about..but also so many things to say thanks about..So how are you today ? I’m sure you have a lot to say thanks about too.. :) Sudahkah anda bersyukur hari ini ?

Mentari itu..

Wednesday, June 13th, 2007

Pagi menjelang, kantuk belum juga menyerang

Mencari sebentuk asa untuk sebuah cita yang terpatri di hati

Adakah itu akan terwujud ?

Gelisah melanda, mata belum juga hendak terkatup

Meraba bayangmu dalam gelap

Berharap kau ada disana menyambutku

Membimbingku keluar dari kegelapan

Bersama duduk menyambut mentari yang menyinari bumi pagi ini

Tapi ada yang tidak biasa..

Karena kali ini mentari itu terbit dari barat..