Ke Ambon Lagi
Saturday, June 30th, 2007
Ke Ambon lagi. Senang sekali rasanya ketika mendapat giliran tugas liputan luar kota, dan kota tujuan kali ini adalah Ambon. Ini adalah kunjungan saya yang kedua kalinya ke Ambon setelah kunjungan pertama bulan Mei tahun lalu. Tapi kali ini lain, rombongan wartawan yang akan diberangkatkan sehari sebelum Presiden tiba, tidak mendapatkan tiket di pesawat komersial apapun yang menuju Ambon. Belakangan saya baru tahu kenapa begitu sulitnya mendapat tiket ke Ambon. Untuk acara Harganas (Hari Keluarga Nasional) ke-14 di Ambon ini, dimana kami para wartawan akan meliput, dihadiri oleh gubernur, walikota dan bupati se-Indonesia. Tak heran kalau tiket pesawat dan kamar hotel menjadi hal yang sangat langka. Akhirnya saya pun mendapat kabar bahwa kami akan diberangkatkan ke Ambon, ikut di pesawat Presiden. Damn ! Buyar sudah bayangan saya untuk cruising kota Ambon seperti tahun lalu. Berendam di hangatnya air laut di Pantai Natsepa malam - malam, segarnya rujak di Pantai Natsepa siang - siang, jalan - jalan keliling kota Ambon naik becak, menikmati malam dan kerlip cahaya kota Ambon dari patung Martina Martha Tiahahu, dan menikmati kopi Ambon yang belum sempat saya nikmati tahun lalu. Istilah untuk tim yang berangkat di pesawat Presiden adalah main group. Berangkat menjadi bagian dari main group berarti skejul yang padat, siap lari setiap saat, dan gak ada cerita lelet, plus tentu saja lupakan agenda jalan - jalan menikmati kota tujuan. Jadilah Kamis 28 Juni 2007 saya sudah berada di pos penjagaan Base Off Angkatan Udara di Halim Perdana Kusumah, jam 05.00 WIB. Gila bener - bener jam 5 pagi, saat biasanya saya masih nyenyak di balik selimut. Saking takutnya telat saya sampai gak bisa tidur. I wake up all night and reading book. Jam 6an kami sudah didata, dicek apakah nama kami sudah ada di buku putih perjalanan. Ada 15 wartawan termasuk saya yang ikut kali ini. Setiap perjalanan Presiden, main group selalu dibagi buku putih kecil, dimana disitu terdapat ittenary acara dengan lengkap, dan nama - nama peserta rombongan. Terdapat 69 nama, selain crew Garuda. Menjelang jam 7 kami sudah digiring masuk ke pesawat Boeing 737 - 500 Garuda. Duduk boleh dimana saja, berbeda dengan perjalanan luar negeri dimana di setiap seat sudah tertempel nama dan jabatan si pemilik kursi yang diatur oleh protokol rumah tangga kepresidenan. Ini adalah perjalanan kedua kalinya saya ikut di main group.Perjalanan pertama saya tahun lalu waktu ikut Presiden kunjungan kenegaraan ke Brunesi Darussalam, Kamboja dan Myanmar. Bedanya juga untuk perjalanan dalam negeri kami boleh pake pakaian batik atau kemeja biasa asal rapi. Sedangkan bila perjalanan luar negeri kami wajib mengenakan Pakaian Sipil Lengkap (PSL), yaitu celana panjang dan jas berwarna gelap harus satu stel, dan dasi. Jam 07.00 WIB kami lepas landas meninggalkan Jakarta yang diguyur hujan deras. Dan mulailah menikmati enaknya service penerbangan di pesawat Presiden. Servisnya gak bakal ditemuin di pesawat Garuda biasa. Lha iyalah hehehe…Pas mau baru duduk udah dapet hot towel dan welcome drink, jus apel dan jus orange di gelas cantik berlogo garuda. Kalo perjalanan luar negeri plus sari kacang hijau yang yummy enak banget. Setelah pesawat take off dan posisinya stabil di ketinggian 3000 kaki, sarapan pun dibagikan dengan pilihan dua menu. Nasi uduk dengan daging atau omelet dengan sosis. Saya memilih omelet dengan sosis. Menunya pun bukan hanya itu, tapi lengkap seperti naik pesawat penerbangan internasional. Ada roti dan butter, yoghurt, buah, plus kopi atau teh. Kopinya pun bukan kopi kecut ala Garuda yang biasanya saya sebelin. Ini capucino ala Starbuck. Kalau mau minuman lain, bisa minta coffe mix atau teh tarik. Makanan mengalir terus, ada dendeng yang ditawarkan terpisah, dan juga snack yang terdiri jajanan pasar. Saya sampai nolak - nolak karena kekenyangan. Pramugari dan pramugara nya pun super ramah. Kalo bosan duduk kita pun bebas aja kalo mau nongkrong di pantry sama mereka sambil ngemil apa yang ada. Penerbangan langsung Jakarta - Ambon harusnya ditempuh selama 3 jam 25 menit, tetapi cuaca buruk memaksa kami untuk tetap di udara sampai cuaca memungkinkan untuk mendarat. Terasa pesawat yang sudah menurun tiba - tiba menaik lagi. Berkali - kali badan pesawat bergetar cukup keras, di luar awan cukup tebal dan berwarna gelap. Saya pikir bila saya menggunakan pesawat komersil biasa non Garuda, saya pasti sudah sport jantung dalam keadaan cuaca kayak begitu. Tapi kali ini saya merasa sangat tenang, meski cuaca seburuk itu. Saya berada di pesawat Presiden yang tentunya dengan keamanan yang maksimal. Saya mendengar ajudan dan perwira pengamanan penerbangan kasak kusuk untuk penerbangan darurat. Paspampres sudah membuka peta. Bos saya Andi Mallarangeng sudah mengatakan bahwa kita mungkin akan makan nasi kuning di Menado atau coto di Makasar. Yah memang sempat ada wacana untuk mendarat di kedua kota itu. Tapi setelah berputar - putar di udara sekitar 30 menit, akhirnya pesawat pun mendarat dengan mulus di tengah hujan deras di Bandara Udara Internasional Pattimura Ambon. Tepukan tangan pun pecah memenuhi kabin ketika pesawat berhasil touch down. Horeee…alhamdulilah,syukur pada Tuhan, kami mendarat dengan selamat. Tidak ada penyambutan dengan karpet merah di landasan seperti biasanya. Hujan deras memaksa kami segera lari ke bis yang sudah menjemput. Perjalanan dari bandara menuju kota Ambom memakan waktu kira - kira 30 menit. Di sebelah kanan kami laut. Sayang hujan deras, dan laut pun menjadi berwarna cokelat dan bergolak, tidak berwarna hijau dan tenang seperti tahun lalu ketika saya berkunjung. Tiba di kota Ambon, kami langsung menuju ke tempat acara, sebuah pasar ikan higienis di Tantui, yang akan diresmikan Presiden. Sore hari ketika acara usai, barulah kami menuju tempat kami menginap, di sebuah hotel terapung, yaitu KM.Bukit Siguntang. Seluruh hotel di Ambon sudah penuh. Padahal saya berharap bisa menginap lagi di hotel Amboina, coffe shop nya mempunyai live band yang bagus dan ada dance floor kecil di tengahnya. Jadi ingat tahun lalu saya bersama beberapa teman ikut menari diajari oleh orang - orang Ambon yang pintar menari ini dengan iringan live band dengan penyanyi lokal yang bersuara indah. Itu yang saya suka dari orang Ambon, mereka bukan hanya cantik dan ganteng, bersuara indah dan pintar menari, tapi juga ramah, mengajak kami yang tak dikenalnya untuk ikut menari bersama dan diajari pula. It was fun. Tapi sayang, kali ini lupakan Amboina dan agenda yang sudah saya rancang di kepala ketika tahu akan ke Ambon lagi. Sekarang jatah menikmati naik kapal laut lagi. Setelah pertama kali 12 tahun lalu ketika akan ke Banjarmasin. KM.Bukit Siguntang milik Pelni ini memang disediakan untuk para tamu dari seluruh Indonesia ini yang tidak kebagian kamar di hotel manapun di Ambon. Merapat di Pelabuhan Yos Sudarso, KM Bukit Siguntang berdiri dengan gagah dengan lampu - lampu nya. Sayang cuaca hujan deras. Sehingga kami pun harus bergegas tak sempat mengagumi tempat menginap yang tak biasa ini. Saya mendapat kamar 5031 bersama Debby reporter Sonora, Nurma reporter Sindo, dan Mbak Esty reporter TVRI. Kabin kami ini kelas dua, dengan 6 kasur yang menempel di dinding masing - masing 2 susun, atas dan bawah. Toilet dan kamar mandi berada di luar. Karena saya dianggap mungil, jadilah saya menempati kasur di atas kasur tempatnya Nurma di sebelah kanan. Kasur ini cukup sempit, begitu juga jarak antara kasur atas dan bawah. Kamarnya cukup bersih, begitu juga kasur, selimut dan bantalnya. Cukup representatif, dengan jendela dan loker yang memadai. Padahal harga yang harus dibayar sangat murah, saya melihat angka yang tertera di tiket hanya Rp.7500 per orang untuk menginap satu malam di kabin kelas dua ini. Ada fasilitas makan malam juga, tapi kami memilih untuk turun dari kapal dan makan di resto ikan di kota New Ratu Gurih di Jl.Diponegoro Ambon. Ada bioskop, yang malam itu memutar film Suster Ngesot. Sayang saya tak sempat berkeliling melihat - lihat kapal berkapasitas 2000 penumpang ini. Padatnya jadwal membuat saya tidak bisa menikmati hotel terapung ini.Check in, mengirim berita, sudah dipanggil turun untuk segera makan malam, dan setelah makan malam sudah teler kelelahan, ditambah cuaca yang terus menerus hujan membuat ingin segera masuk kebawah selimut. Begitulah kisah saya seharian pada tanggal 28 juni 2007, berawal di Halim, dan berakhir di KM Bukit Siguntang yang sehari - harinya melayani rute Ambon - BauBau - Makasar - Surabaya. Hujan tak henti - hentinya mengguyur kota Ambon, tidur saya pun semakin nyenyak.