Diplomat Korslet
Seandainya hidup saya ini film, rasanya plot ceritanya belakangan makin ajaib dengan muncul nya tokoh - tokoh ajaib dalam kisah saya ini. Peran yang mereka mainkan dalam hidup saya memang ajaib, setidaknya menurut saya sebagai pemain utama. Saya heran saja dengan maksud penulis skenario dan sutradara film kehidupan saya ini. Apa maksudnya saya dipertemukan dengan orang - orang ini.
Salah satu tokoh ajaib yang menjadi peran pembantu dalam film saya 2 minggu yang lalu adalah seorang diplomat. Laki - laki yang cukup ganteng khas diplomat yang rapi klimis. Mestinya cukup cerdas kalau benar dia memang terlibat dalam tim substansi beberapa isu penting yang ditangani Deplu. Dan usianya masih muda, ya setidaknya di friendsternya dia mengaku berusia 38 tahun.
Perkenalan kami awalnya melalui telepon, saya mendapatkan nomor kontaknya dari kolega dia di KBRI Havana. Pak diplomat ini kebetulan sedang berada di Jakarta untuk mengurus keberangkatan kontainer untuk barang - barang keperluan KBRI Havana. Kebetulan ada jatah space untuk barang - barang kami yang akan ikut serta di pameran handicraft di Havana bulan Desember nanti.
Karena ada sedikit miskomunikasi yang harus diluruskan mengenai barang - barang titipan kami ini, jadilah saya memintanya untuk bertemu dengan saya. Pertemuan pun ditetapkan di Starbuck Skybuilding Thamrin.
Pertemuan itu meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi saya. Bayangkan, dia sudah sampai duluan di TKP tapi dia lebih memilih untuk menunggu saya di parkiran di dalam mobilnya, daripada menunggu saya di salah satu meja di dalam Starbuck. Dia baru turun di dari mobilnya ketika saya sudah tiba, dan kemudian yang lebih membuat saya ilfil ketika kami masing - masing sudah memesan minuman, dan pada saatnya membayar, dia langsung pamit pada saya untuk ke toilet. "Saya ke toilet dulu ya, " katanya tanpa merasa bersalah. Saya cuma bengong, dan membayar 57.000 rupiah sesuai yang tertera di mesin kasir untuk dua minuman yang kami pesan.Dan pak diplomat itu segera kembali ketika minuman kami sudah jadi dan tinggal diambil.
Sumpah saya kaget aja dengan caranya yang seperti itu. Sangat tidak gentleman. It’s not about the money. Meskipun wartawan miskin begini tapi saya rasanya masih sanggup kalau bayarin minum di Starbuck. Ini soal etika saja rasanya. Memang saya yang meminta bertemu, tapi dia laki - laki, lebih tua dari saya dan posisi jabatan juga lebih tinggi dari saya. Gak malu ya dibayarin perempuan, lebih muda, dan posisi juga jauh dibawah dia. Rasanya setiap orang yang saya ceritakan soal kejadian ini semua mengernyitkan dahi.
"Diplomat Nden, kelakuannya begitu ? " tanya mereka dengan heran. Dan mereka semua sepakat bahwa ini bukan soal uang 57.000, ini soal etika pergaulan. Bayangkan seorang diplomat yang pernah bertugas di beberapa negara, tidak mengerti etika pergaulan ??? Semua merasa heran, dan tersenyum geli plus prihatin.
Kalau memang dia gentle dan paham etika pergaulan, dia tidak akan pamit ke toilet pada saat harus membayar. Kan bisa menunggu 5 menit, proses membayar kan nggak makan waktu lama. Atau kalau memang kebelet banget, kan bisa ninggalin duitnya sama saya titip untuk bayarin minuman dia, gak usah deh bayarin minuman saya. Atau secara dia sudah datang duluan kenapa dia gak masuk duluan pesan minum dan menunggu saya di salah satu kursi disana, bukannya malah menunggu saya di mobil ?
Kesan pertemuan pertama itu begitu mendalam karena bikin ilfil seilfil - ilfilnya. Urusan barang beres, cerita ngalor ngidul soal rencana saya bikin tulisan panjang tentang Kuba, dan dia menyatakan ketertarikannya untuk ikut terlibat. Buat saya kenapa tidak, silahkan.
Sesudah pertemuan pertama itu,mulailah sms - sms dan telepon dari pak diplomat itu bertubi - tubi di hape saya. Dia menolak dipanggil bapak, dan membahasakan dirinya gue. Sms - sms dan telponnya berusaha mengaitkannya dengan wacana buku yang akan dibuat. Minta pertemuan lagi sebelum dia kembali ke Havana. Saya sudah merasa aneh dengan kelakuan pak diplomat ini. Kok rasanya untuk orang yang baru ketemu sekali, udah sok akrab sok dekat begini. Siapa elo siapa gue sih ? kata saya dalam hati. Tapi saya biarkan dulu, dalam rangka I try to be nice aja, perlu buat jaga relasi.
Pertemuan kedua akhirnya saya setup untuk bertemu dengan pengajar kelas menulis saya, mas Andreas Harsono. Pertemuan berlangsung di Starbuck Skyline Building Thamrin lagi. Dia mengajak teman wanitanya yang jelas bukan istrinya. Saya gak mau kecolongan lagi, jadi saya udah di TKP 30 menit sebelumnya dan menunggu disana. Wajar dong kalo saya punya pikiran "wah gue bakal ditodong bayarin minuman dia sama temennya nih". Hehehe parno separno - parno nya saya.
Pertemuan kami dengan Mas Andreas memberikan saya insight - insight baru yang mencerahkan. Nanti akan saya bahas dalam posting tersendiri. Saya pamit setelah Mas Andreas, dan meninggalkan pak diplomat kembali berdua dengan teman wanita yang bukan istrinya itu.
Di jalan dia mulai sms - sms yang isinya gak penting sama sekali, bahkan bukan hanya gak penting, tapi insulted. Antara lain dia menghina saya yang menurutnya saya terlihat hitam sehingga tak terlihat di Starbuck. Saya biarkan sms itu tak berbalas. Untuk apa membalas sms yang berisi penghinaan. Buat saya penghinaan fisik ini sangat khas cowok Sunda yang sangat mengagungkan perempuan berkulit putih. Saya sering mengalami penghinaan itu ketika tumbuh dan besar di Bandung dengan kulit saya yang tidak putih ini.
Malam teleponnya pun masuk yang mengatakan cerai talak tiga untuk proyek buku Kuba ini, karena dia sadar bahwa tidak akan bisa menjadi manusia bebas dalam menulis buku ini karena pekerjaan dia sebagai diplomat. Saya pun tidak keberatan, saya malah happy karena memang dari awal ini adalah proyek pribadi saya, dan saya ingin menulisnya dengan cara saya. Saya bisa mendapatkan berbagai data mengenai Kuba dari mana saja tanpa harus dari dia.
Setelah proyek buku off, saya memang berkeinginan menitipkan buku sebagai gift untuk Pak Widodo di Havana. Karena waktu saya yang tergesa untuk berangkat tugas ke Jogja saya menitipkan buku tersebut ke stafnya di Deplu. Pada saat saya menunggu staf Deplu itu di halte depan pos masuk ke kantor saya. Lalu lintas bubar kantor sangat ramai dan berisik. Dia menelpon dan karena berisik sekali saya tidak bisa mendengarnya sehingga telepon pun terputus.
Setelah itu masuk sms yang berisikan " loe lagi naek ojek ya". Lagi - lagi saya membiarkannya tak berbalas. Untuk apa ? Saya tidak berhutang penjelasan apapun padanya. Dia siapa ? Dan terus terang lagi - lagi saya merasa insulted dengan sms nya itu. Saya menangkapnya lagi - lagi sebagai sebuah hinaan, karena saya pengguna ojek. Trus kenapa kalo saya memang pengguna ojek, meskipun saat dia telpon saya lagi gak naik ojek ? Saya bayar pake uang saya sendiri kok bukan pake uang dia. Memang saya belum mampu beli BMW X-5 impian saya terus kenapa ?Trus mMasalah dia apa dengan saya naik ojek apa bukan ?
Lagi - lagi saya teringat akan sikap para lelaki Sunda yang memang matre, menilai manusia dari materi yang dimiliki. Merk pakaian yang dipakai, merk jam yang melilit pergelangan, merk kendaraan yang digunakan, dan tanpa itu semua anda tidak berhak mendapatkan respect manusia - manusia matre ini. You’re nobody..dont deserve my respect.
Tapi meskipun insult me dengan sms yang menegaskan kekerean saya, dengan tanpa malu dia pernah menelpon saya pagi - pagi dan mengajak saya bertemu di hotel Sari Pan Pacific siang. Saya tanya "emang loe mau nraktir gue ?", pertanyaan itu tidak dijawabnya dengan ya atau tidak, tapi dengan mengalihkan waktu pertemuan. Ketauan sekali meskipun nyela saya yang naik ojek ini, tapi pak diplomat ini bertendensi minta saya yang nraktir dia makan siang di Sari Pan Pacific. Benar - benar tak tahu malu.
Saya tak habis pikir dengan software apa yang ada di kepala pak diplomat ini. Baru dua kali ketemu udah berasa super akrab begini. Bahkan berani mencela area - area yang sensitif. Saya juga biasa saling nyela dalam konteks bercanda. Tapi liat - liat dulu orangnya. Siapa dia. Sudah kenal berapa lama. Saya hanya berani mencela sahabat - sahabat saya di ring 1 saya yang tentu saja sudah kenal bertahun - tahun lamanya, yang saya sudah hafal sifat dan kebiasaannya. Ini baru dua kali ketemu udah berani nyela, dan dengan entengnya di kemudian hari ketika saya complain akan attitude nya yang minus itu dia bilang, bercanda kali. Hah bercanda ????? Candaan diplomat emang insulted kayak gitu kali yah ?
Sejak itu rasanya saya malas untuk berkomunikasi dengan dia. Toleransi saya untuk try to be nice dalam konteks menjaga relasi sudah sampai pada limitnya. Rasanya sia - sia saya bertoleransi dengan orang yang memang gak manner ini. Saya bingung aja, seorang diplomat tidak paham etika pergaulan yang sangat basic, gimana bisa ya ? Ketahuan banget KKN nya, iyalah secara bapaknya diplomat juga.
Sms - sms berikutnya juga serasa teror yang sangat mengganggu buat saya. Telepon - teleponnya yang tidak penting juga rasanya seperti hantu gentayangan buat saya. Ketika saya tegaskan bahwa better to keep the relationship in professional area. Dia bilang nothing personal kok. Saya lagi - lagi dibuatnya bingung. Rupanya begitu banyak perbedaan konsep antara saya yang rakyat jelata ini dengan seorang diplomat.
Bagaimana dengan sms - sms yang berisi " Nden, nuju naon, udah makan belum?" , trus sms lainnya "Udah bobok belum?". Pagi - pagi ada morning call yang membangunkan saya. Apakah itu dalam konteks profesional ?
Di tengah - tengah aktivitas tugas saya ke Jogja, dia marah karena saya tidak mengabarinya seharian. Hah ??? Dia siapa sih ? Sehingga saya berkewajiban untuk melaporkan agenda dan keberadaan saya padanya. Pacar bukan, suami apalagi. Even temen aja bukan. Ketemu aja baru dua kali dan berkesan sangat buruk buat saya. Who do he think he is ???? Dan apakah semua sms dan telpon itu professional ? Buat saya rasanya semua itu sangat personal, gak ada urusannya dengan dunia kerja dan profesional side. Atau mungkin konsep profesional buat seorang diplomat seperti dia memang menanyakan jadwal tidur dan makan rekan - rekan kerjanya ya? Dan saya pun sama sekali bukan rekan kerja atau koleganya.
Saya bingung dengan maksud dan tujuan dari semua sms dan teleponnya yang sangat annoying itu. Katanya nothing personal, kok begitu ya ? Kalo personal pun trus untuk apa ? Pdkt ? Jelas - jelas dia menggunakan cincin kawin emas berkilauan di jari manis tangan kanannya, dan mengatakan anaknya sudah SMP. So what is the purpose ? Dan dengan kelihaian diplomasinya dia selalu berusaha mengarahkan seakan - akan saya yang menginginkan pertemuan dengannya, bahwa ini untuk kepentingan saya. Gengsi sekali untuk mengakui bahwa dia yang ingin ketemu saya, dia mungkin suka dengan saya entah dalam konteks apa. Katanya asik diskusi sama saya. Fine! Saya juga suka berdiskusi dengan orang - orang cerdas dan berwawasan luas, tapi kan tidak dilakukan sehari 5 kali, tidak membangunkan pagi - pagi, dan tidak mengecek apakah saya sudah tidur atau sudah makan ?
Akhirnya karena saya sudah sangat muak dengan kelakuan pak diplomat yang ganteng tapi otaknya korslet itu, saya membiarkan berondongan sms nya tak berbalas. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak. Telpon - telponnya sengaja tidak saya angkat. Untuk apa buang - buang energi. Pagi - pagi telpon hanya untuk ngajak berantem. " Loe tu ye emang kagak niat ? " katanya pagi - pagi waktu saya bertugas di Jogja. Emang saya gak niat untuk ketemu dia lagi. Untuk apa ? Gak ada keperluannya, cuma buat nraktir dia lagi ?
Saya benar - benar judeg dan tak habis pikir. Pendidikan seperti apa yang telah membesarkannya di rumah, dan pendidikan diplomat seperti apa yang dijalaninya ? Saya prihatin seandainya para diplomat Indonesia kelakuannya begini di negara tempat mereka posting. Apa gak malu - maluin Indonesia ? Etika pergaulan yang paling dasar aja gak ngerti, cara menghargai orang dengan tepat aja gak bisa ? Gimana bisa membangun hubungan bilateral yang harmonis antara Indonesia dan negara tempatnya posting ? Muluk banget gak sih ketika dia sendiri tidak bisa menghargai dirinya sendiri dengan berperilaku sopan dan beretika, bahkan memperlakukan sesama orang Indonesia demikian rendahnya, atau mungkin dia menilai dirinya begitu tinggi? Sehingga dengan kegantengan dan posisinya dia berharap semua orang akan mau diperlakukan apa saja olehnya. Maaf kegantengan dan posisinya tidak berarti apa - apa di mata saya, secara manner dan attitude nya minus berat begitu.
Entahlah. Seandainya ada brain scanner untuk memindai otak manusia - manusia seperti ini, saya sangat ingin tahu isinya apa ?
Untunglah scene tokoh diplomat korslet ini sudah selesai di film kehidupan saya episode ini. Dia sempat meminta maaf dan pamitan ketika sudah di bandara. Saya tidak menjawabnya. Saya pikir percuma dia minta maaf, dia tidak mengerti apa "kesalahan" dia, maaf cuma untuk basa basi untuk apa ? Saya bisa menangkap bahwa dia tidak mengerti keanehan attitude nya, dia menganggap itu hal yang normal dan wajar. Dia tidak mengerti mengapa saya tersinggung dan malas mengangkat telepon dan menjawab smsnya lagi. Dia tidak memberikan kesan pada saya bahwa dia paham sesuatu yang salah telah terjadi. Dia sama sekali soundz so innocent. He feel no guilt at all. Hanya dua alasan orang innocent itu menurut saya. Dia benar - benar tidak tahu, atau tahu tapi memang dia tidak peduli. Saya gak tahu dia kategori yang mana.
Saya jadi ingat sambutan SBY di Prambanan pada puncak peringatan hardiknas 2007 lalu. Katanya kecerdasan itu bukan hanya kecerdasan intelektual, tapi kecerdasan emosional, spiritual dan sosial. Tepat sekali dalam konteks pak diplomat ini. Dia pastinya cerdas secara intelektual, tapi tidak untuk tiga kecerdasan lainnya. Kecerdasan sosial dan emosionalnya sangat parah dibawah rata - rata untuk orang seusia dia. So immature, selfish, self centre, childish, emotional. Urusan behaviour dalam relasi sosialnya pun, minimal yang dia lakukan dengan saya, aduh parah banget. Anak pejabat kali ya yang biasa dimanjain dari kecil dan dapet apapun yang dia mau. Dia pikir semua orang seperti orang tuanya yang akan memenuhi apapun yang dia mau. Hello…Grow up man !
Dan dengan kembalinya dia ke Havana, lega sekali rasanya saya. No more sms teror dan hantu telepon. Paling - paling cuma offline message di YM saya. Ah delete saja, gampang kan
June 4th, 2007 at 4:08 am
Misuh misuh yang smart. Judeggg
dah lama bener ga denger kata ituh
June 4th, 2007 at 4:20 am
Emang diplomatnya orang Sunda yah?
Sori, soalnya yang jelek2 dari dia dikaitin sama stereotype cowok Sunda…
June 5th, 2007 at 1:00 am
gak semua cowok sunda kali neng
jangan suka stereotype gitu ah. nanti jadi rasis.
June 5th, 2007 at 6:05 pm
June 6th, 2007 at 2:13 am
harap tenang saudara saudara.
tidak semua pemain persib orang sunda. dant tidak semua orang sunda pemain persib.
jadi…
tidak semua diplomat pemain persib.
Jelasssssssss?
June 19th, 2007 at 11:51 pm
hwahahaha mbak nenden nek muring² mantappp … btw gimana kabarnya pak diplomat pemain persib itu ? loh …
semoga gak semua diplomat indo tingkahnya kaya gitu, btw itu ngajak janji temu nya pas tanggal tua gak mbak ? :))