Once again It’s About Ethics

Seru banget tanggapan buat posting saya tentang pak diplomat yang otaknya korslet itu. Ada yang buzz saya di YM, message, sms bahkan telpon. Siyalnya rata - rata mereka ngetawain saya yang bernasib sungguh ajaib bertemu sama orang aneh kayak begitu dalam salah satu scene kehidupan saya. Sama sekali tidak tersinggung. Malah ikutan menertawakan diri saya sendiri. Hahahaha emang lucu, karena ironis aja rasanya, dengan pekerjaan yang mengharuskannya berurusan dengan banyak orang ternyata dia buta untuk etika pergaulan yang paling basic sekalipun.

Ndorokakung bilang, pak diplomat itu emang aneh karena analisanya kebalik - balik. Teman saya yang juga diplomat mengaku malu dengan koleganya sesama diplomat yang berkelakuan begitu." " Aduh Nden malu gue, " katanya meski dia gak kenal dengan siapa yang saya maksud di cerita. Indra teman chatting saya menggoda saya dengan " Nden udah makan ? " ( diplomat mode on ).Bwhuahahahaha.. Sms Albert bilang, "hahaha posting loe bikin gue terhibur". Kolega kantor saya sms " Nenden sayang, mau gak kapan - kapan ke Starbuck ? Aku yang bayar. Dijamin. He..he.

Komentar - komentar yang rasanya menunjukkan keberpihakan mereka kepada saya. Bahwa apa yang ada di kepala saya mengenai "keanehan - keanehan " perilaku pak diplomat ini benar adanya. Bukan saya minta didukung, tapi karena hal ini adalah etika umum dan sangat dasar yang berlaku dimana - mana, dan rasanya harus sudah dipahami oleh setiap orang dewasa yang berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

Dan terima kasih untuk komentar-komentarnya di blog. Maaf kalo saya rasanya terlalu vulgar menjudge karakter ini stereotipe laki - laki Sunda. Kebetulan aja saya seringkali mengalami hal - hal kurang menyenangkan berkaitan dengan para lelaki Sunda yang berkaitan dengan fisik dan materi. Mungkin karena saya bukan termasuk kategori perempuan cantik berkulit putih dan kaya, sehingga tidak cukup layak untuk dihargai sebagai manusia dengan potensi non materi dan fisik. Maka tak heran bila kesan yang tertancap di kepala saya tentang mereka memang kurang baik. Matre, fisik oriented, narrow minded, shallow, pemalas, gak bertanggung jawab, manja, dan cuma pinter dandan. Padahal mungkin lebih banyak laki - laki Sunda yang humble,low profile, cerdas, open minded, deep, hard worker, dan responsible. Tapi mungkin mereka berada di zona waktu dan tempat yang berbeda dengan saya, sehingga kami belum pernah ditakdirkan berpapasan di salah satu tikungan kehidupan.

Kesan saya tentang pria Sunda yang baik, hanya sahabat lama saya di Bandung namanya Berry. Teman dari SMP sampai SMA, dan rumahnya berdekatan pula. Buat saya Berry adalah kekecualian dari laki - laki Sunda yang umumnya saya kenal. Berry sangat humble, low profile, gak matre dan sangat pede dengan apapun dirinya. Meskipun temen - temen kami yang kebetulan orang tuanya kaya, sering memandang remeh dan rendah dirinya ketika kami sekolah dulu. Berry baik hati, gak itungan, dia juga gentleman, helpful. Dan memang terbukti hanya dengan dialah persahabatan saya yang paling awet hingga sekarang. Hanya dia yang menjadi tujuan saya ke Bandung, selain ibu saya.

Dan perbincangan mengenai etika dan sikap gentleman menjadi topik hangat bagi saya dan sahabat saya Lona, ketika kami ngopi dua hari lalu. Ternyata pengalaman saya dengan diplomat korslet itu di Starbuck juga dialami oleh Lona, pada saat untuk pertama kalinya dia diajak kencan seorang laki - laki yang dikenalkan temannya, tentu saja dalam rangka perjodohan.

Dan itu adalah kencan pertama dan terakhir katanya. "Gue bilang ma temen gue yang ngenalin, gak mau ketemu lagi ma laki - laki itu, " kata Lona dengan wajah bete menahan kesal. Sekali lagi ini bukan soal jumlah uang yang digunakan untuk membayar makanan dan minuman yang dipesan. Lona seorang pengacara senior di sebuah perusahaan minyak asing, uangnya lebih dari cukup untuk beli restoran itu seisinya. Tapi ini soal attitude, etika seorang laki - laki yang mengajak seorang perempuan berkencan untuk pertama kalinya.

Saya pun pernah mengalami hal yang whuah…speechless sampe menjelaskannya. Jadi waktu itu saya "menemukan" jejak seorang mantan kecengan saya waktu kuliah di UNPAD dulu, di friendster. Wah excited dong, 10 tahun gak ketemu bo..Akhirnya janjianlah kita ketemu di Coffee Bean and Tea Leaf Plaza Indonesia. Sampe sana, ternyata dia udah duluan duduk. Saya menyusul pesan minuman saya, dan dia titip untuk dibelikan kue. Disini cerita yang bikin ilfil mulai.

Dia tidak beranjak dari kursinya, hanya menunjuk kue yang dia mau. Sampai saya beranjak ke kasir pun, dia tetap tidak mengangkat pantatnya dari kursi. Saya bayar, dan saya pula yang membawa nampan berisi minuman, kue saya dan kue pesenan dia, ke meja dan menyuguhkannya di meja. Shit..emang saya pembantunya. Tidak ada inisiatif untuk membawakan, tidak ada inisiatif untuk nyamperin ke kasir buat basa - basi eh kue gue berapa tuh ? Apalagi bayarin kue titipannya..boro - boro.

Lagi - lagi isunya bukan soal harga kue yang mesti saya bayar buat dia. Berapa sih kue di Coffee Bean, gak sejuta kan ? Tapi etika laki nya itu lho yang jadi main issue..Dan, cerita belom berakhir di soal kue. Ketika pulang, dia yang gak bawa mobil, ngajak share taksi sekalian menuju ke rumahnya di Cipinang. Ketika mendekati tempat kos saya di Karet, dia menunjuk argo taksi yang angkanya sekitar 10 ribu rupiah. " Duit taksi loe titipin gue aja," katanya sambil menunjuk angka di argo.

Sesaat saya speechless, gak nyangka akan dapat perlakuan begitu. Tapi kemudian saya pun membuka dompet dan memberikan uang yang diminta. Sambil turun saya gak habis pikir, ada ya laki kayak begitu. So irresponsible. Udah ngajak cewek ketemuan suruh bayarin kuenya, pulang malem yang mestinya dia nganterin sebagai rasa tanggung jawab sebagai lelaki pun dia hargakan dengan nilai cuma 10 ribu rupiah saja. Fine, dia gak punya mobil, dan cuma bisa nganterin pake taksi. Saya gak keberatan, tapi suruh bayar argo taksi sendiri yang cuma 10 ribu ???? Ampun deh perempuan mana yang gak ilfil sama laki - laki kayak gitu.

Cerita - cerita tentang pengalaman dengan laki - laki gak tau etika emang sering diceritakan teman - teman perempuan saya. Ya ternyata memang begitu banyak laki - laki yang tak paham etika menjadi seorang laki - laki yang sopan dan bertanggung jawab. Ini bukan soal isu feminisme dan kesetaraan gender. Ini soal etika.

Perempuan mandiri bukan berarti tidak perlu diantar kalo pulang malam habis kencan. Perempuan mapan bukan berarti suruh bayarin acara dinner yang baru pertama kalinya. Perempuan kuat bukan berarti tidak perlu digandeng ketika menyebrang jalan.

Memang tidak harus seekstrim seperti di film - film drama romantis, yang dibukakan pintu mobilnya, dibawakan bunga segar, atau dicium tangannya sambil berlutut. Sewajarnya lah memperlakukan seorang perempuan dengan sopan dan bermartabat. Tunjukan jati diri seorang laki - laki yang bertanggung jawab, sopan, melindungi, dan menghormati. Itu akan membuat perempuan bersimpati dan menaruh hormat juga.

Beruntung saya memiki para sabahat laki - laki yang seperti itu. Mereka selalu mengantar saya pulang, bahkan menunggu sampai saya masuk dulu sebelum mereka beranjak pergi. Bahkan dengan kondisi mereka menggunakan taksi pun, dan arah rumah mereka tidak searah dengan tempat saya tinggal, mereka insist mengantar saya pulang, dan menolak saya turut membayar ongkos taksi. Dan saya sangat menghargai perlakuan mereka itu. Sehingga tanpa diminta pun saya berusaha untuk membalas perlakukan mereka dengan hormat pula. Misalnya pertemuan berikutnya saya yang membayar makanan, atau membelikan mereka barang - barang kecil as a gift. Just to show my appreciation for their careness, politeness to me.

Dan kembali ke cerita diplomat korslet itu, rupanya dia membaca posting saya tentang dirinya. Lalu dia mengirimi saya message yang mengatakan bahwa seharusnya saya mengatakan sejak awal kepada dia kalau saya ingin dia membayar minuman kami di Starbuck. Geez, he got the wrong message from the story. Dia pikir cuma soal uang yang saya bayarkan ke kasir Starbuck. It is not. It is about ethics, attitude, and gentleman way of thinking. Dan rasanya itu adalah hal yang sangat basic.

Masak sih saya harus katakan ketika baru bertemu, " Pak, nanti Bapak ya yang bayar minuman di kasir."  Aneh banget sih.

Dan di message nya itu dia mengatakan bahwa dia bermaksud minta maaf dan berharap saya masih mau berteman dengannya. Minta maaf dan memberi maaf itu bukan hal yang sulit buat saya. But rasanya dalam konteks dia, ada hal yang lebih mendasar. Kenapa sih orang minta maaf ? Karena dia merasa bersalah bukan ? Nah kalo dia sendiri tidak merasa bersalah, dia tidak tahu esensi permasalahan yang membuat orang marah padanya, lalu untuk apa minta maaf ? Orang gak ngerasa salah kok minta maaf ? Dan untuk apa maaf diberikan kepada seseorang yang tidak merasa bersalah ? Tidak ada gunanya bukan. Karena tidak akan membuat seseorang itu menjadi lebih paham dan tidak melakukan kesalahan yang sama. Wong inti masalahnya apa aja dia gak ngerti kok.

Memang untuk mencapai kecerdasan emosional dan sosialnya ke level itu gak ada sekolahnya, dan gak ada gelarnya yang bisa dipamerin di sebelah nama kita. Atau mungkin sudah saatnya kita bikin "sekolah etika" dengan gelar SSBS alias Saya Sudah Bisa Sopan :)

2 Responses to “Once again It’s About Ethics”

  1. GYPSIE Says:

    berry?
    berry?
    mana berry…ku?
    berry ……berry lagi menagogkan diri di lapangan softball lodaya.
    inget kan nden?

  2. ndaru Says:

    bikin kursus etika dan kepribadian buat laki² laku gak mbak ? :))

Leave a Reply