Archive for July, 2007

Gak bisa buka blog di China :((

Sunday, July 29th, 2007

Saya bingung, dari kemarin buka blogs saya kok gak bisa. Tapi masuk friendster dan mengupdatenya bisa. Saya pikir apanya yang salah. Ternyata tadi saya baru tahu kalau di China blog memang diblock, alias gak bisa diakses. Saya belum mencari tahu alasan pemblokiran ini, tapi geblegnya, mereka hanya memblog alamat yang ada kata blog nya saja.

Jadi saya tidak bisa mengakses blog teman - teman saya yang menggunakan blogspot, blogdrive, blogs.friendster, dan domain - domain yang menggunakan kata blog lainnya. Sedangkan blog teman - teman saya yang menggunakan wordpress bisa diakses. Padahal kan sama juga blog :)

Hari kedua saya di Beijing, hari ini saya dan empat orang rekan wartawan lainnya, mengunjungi Tianamen Square. Hari ini tidak ada jatah mobil nganggur untuk kita pakai. Jadilah dari hotel kami berjalan menuju halte bis terdekat, dan kemudian nyambung naik subway.

Jangan dikira perjalanan kami semulus itu. Kendala bahasa begitu menyiksa sekaligus menggelikan. Jadilah kami berbekal petunjuk dari receptionist hotel yang bisa berbahasa Inggris meskipun pas -pasan, mengenai arah halte bis terdekat. Dan ternyata gak deket - deket amat, lumayan juga jaraknya. Tapi tidak terasa melelahkan karena cuaca tidak panas, dan di sebelah kiri kami ada taman yang indah dengan banyak orang yang sedang bersantai, mayoritas manula.

Bukan hanya duduk - duduk, tapi kami lihat ada beberapa tukang cukur yang membuka lapak dagangannya di taman itu. Dan para tukang cukur itu adalah para perempuan setengah baya. Persis seperti di Indonesia, lokasinya berarda di bawah pohon rindang, duduk di sebuah bangku kayu dan diselimuti selembar kain berwarna putih yang sudah tidak putih lagi. Kami pun menyaksikan pemandangan unik ini dengan seksama, sampai akhirnya klien yang sudah dicukur rambutnya menyerahkan selembar uang 5 yuan dan 2 lembar uang 1 yuan. Ternyata harganya 7 yuan atau kurang lebih 8400 rupiah.

Di sudut lain ada tiga orang manula yang sedang memainkan alat musik tradisional China. Nyanyian musik pun mengalun dari alat musik gesek yang mereka mainkan, tidak terlalu merdu di telinga saya. Awalnya saya kira mereka adalah para pengamen. Tapi ternyata bukan, mereka hanya duduk bersama teman - teman menikmati suasana taman sambil bermain alat musik. Dan ketiga orang ini bukan satu - satunya kelompok manula yang memainkan alat musik. Saya melihat beberapa kelompok lainnya di sudut - sudut yang berbeda.

Di pojok lain, saya lihat sekelompok manula pria sedang duduk berkelompok dengan kartu di tangan. Dan saya melihat beberapa kelompok serupa yang bertebaran di seantero taman yang cukup luas ini. Di depean taman saya lihat parkiran sepeda yang cukup rapi tertata di trotoar. Ada pagar besi putih yang membatasi, yang saya amati ternyata bukan hanya sebagai pembatas tapi juga batang - batang besi pagar tersebut sebagai tiang pancang untuk mencantolkan gembok sepeda mereke roda ban depan.

Perjalanan kami lanjutkan menuju halte bus. Mencari seseorang yang bisa berbahasa Inggris untuk bisa memberikan petunjuk kepada kami, bis nomer berapa yang harus kami naiki dan turun dimana. Akhirnya kami bertemu dengan remaja laki - laki yang bisa berbahasa Inggris meskipun patah - patah. Dan kami pun naik bis no 68 . Sebelumnya kami sempat bengong di pintu masuk, melihat sistem yang berbeda dengan di Jakarta, mengenai sistem pembayaran bis ini. Karena kami lihat para penumpang lokal menempelkan semacam kartu magnetik ke alat yang ada di sebelah supir, yang baru saya ketahui ternyata berupa semacam prepaid voucher yang akan berkurang kreditnya setiap digunakan. Dan tentu saja kami berlima tidak memilikinya. Kami sempat bingung mau naik apa tidak. Tapi ternyata di sebelah alat tersebut ada sebuah kotak dimana kami lihat orang - orang yang tidak menempelkan kartu magnetik itu memasukan uang ke kotak tersebut. Setelah tahu itu, barulah kami berani naik. Harga tiketnya 1 yuan per orang.

Sesuai petunjuk remaja tadi,kami pun turun di halte Military Museum, dan kemudian berpindah dengan menggunakan subway…Cerita tentang subway, di posting berikutnya ya. Kelaperan nih saya, cari makan dulu…

My First Great Day in Beijing

Saturday, July 28th, 2007

Kemaren malam saya menginjakkan kaki saya untuk pertama kalinya di Beijing. Perjalanan hampir 10 jam dari Jakarta melalui Singapura. Sekarang saya sedang ada di kamar 2608, Diaoyutai Hotel Beijing. Berinternet ria dari kamar dengan gratis. Cukup pindahkan channel TV ke PC mode, dan berubah fungsilah layar LCD plasma 29 inch ini menjadi layar komputer. Mengetik di layar segede gini adalah pengalaman baru buat saya, dengan keyboard bluetooth sehingga saya bisa ngetik sambil tiduran dari kasur. Asik banget. Hotel mana ya di Indo yang udah pake beginian ?

Saya datang ke Beijing dalam rangka liputan acara Ibu Ani SBY yang diundang untuk menjadi salaah satu pembicara di konferensi UNESCO. Acara masih tanggal 30 Juli nanti. Jadi hari ini judulnya kami para wartawan bersenang - senang.

Ada lima wartawan termasuk saya. Setelah sarapan kami diberi satu minibis yang sangat lapang untuk kami yang hanya berlima, deengan seorang sopir yang sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Mampus. Walhasil sejak berangkat dari hotel kami sudah meminta receptionist untuk menuliskan tujuan kami hari ini yaitu Great Wall serta tempat belanja souvenir yang murah dalam tulisan China agar supir kami paham.

Jadilah tujuan kami hari ini ke Great Wall, mau mampus rasanya naik tangga kemiringan 45 derajat lebih begitu. Seru banget disini, akan saya ceritakan lebih lanjut petualangan dan kegilaan kami di Great Wall di posting tersendiri. Lalu makan siang yang kesorean di sebuah resto yang terkenal akan roast peking duck nya. Dsini juga seru banget, tar ya saya ceritain belakangan. En terakhir kami belanja gila - gilaan di sebuah pasar kayak ITC gitu deh. Banyak tips dan hal - hal menarik yang akan saya ceritakan juga nanti.

Sekarang saya harus ke kamar 2618 untuk bergabung makan malam dengan teman - teman wartawan lainnya. Be right back..

Yang jelas hari ini asik banget. Thank God, I’m so damn lucky. Dikirim ke Beijing untuk jalan - jalan dan bersenang - senang…Fyuh, thank you Bos Andi..I Love you deh hehehehe

Laki - Laki dan Kepahlawanan

Wednesday, July 25th, 2007

Apakah semua lelaki begitu ingin tampil menjadi pahlawan bagi seorang perempuan ? Pertanyaan itu langsung muncul di kepala saya, begitu mendengar kabar bahwa seorang teman mengatakan bahwa dia memutuskan untuk menikahi seorang perempuan yang bahkan dia belum pernah bertemu. Kebetulan perempuan itu memang tinggal di luar kota. Setau saya relasi mereka memang ajaib. Berawal dari kekaguman seorang fans pada idolanya, maklum teman saya itu selebritis. Kemudian berkirim email, sampai kemudian telepon dan sms. Si perempuan pun rajin mengirimi berbagai barang untuk teman saya itu. Dari pakaian, makanan, sampai berbagai barang lainnya. Tapi sampai sekian lama, mereka tetaplah belum pernah berjumpa, meskipun dari cerita teman saya itu komunikasi mereka melalui telepon dan sms sangatlah intens. Bahkan si perempuan sudah biasa berkomunikasi dengan ibu teman saya itu melalui telepon juga tentunya.

Saya sudah lama mendengar cerita ini. Tapi saya tetap tak habis pikir ketika dia memberitahu saya mengenai keputusannya untuk menikahi seorang perempuan yang bahkan belum pernah ditemuinya. Meskipun saya tahu bahwa perempuan misterius itu mengidap penyakit kanker otak. Sepertinya penyakitnya sudah cukup akut sehingga perempuan ini sering kali pingsan. Saya jadi bertanya - tanya, apakah karena inikah teman saya memutuskan menikahinya? Karena kasihan kah ? Karena ingin menjadi pahlawan sebagai life saviour seorang perempuan ? Teman saya mengatakan bahwa perempuan ini sudah kehilangan semangat hidup, dan sekarang sudah mulai bangkit kembali. Mungkin dia terpanggil untuk mendampingi sebagai pembangkit semangat hidup, dan pahlawan pujaan.Entahlah, nalar dan otak saya tak mampu mencernanya. Mungkin memutuskan menikah dengan seseorang hanya perlu emotional aspect tanpa perlu melibatkan logika dan nalar. Entahlah saya belum pernah mengalaminya.

Dan ini terjadi pada dua orang teman saya lainnya. Tahun lalu seorang teman saya menikahi seorang perempuan yang tiba - tiba muncul lagi dalam kehidupannya, karena dia tau ibunya sedang sakit keras, dan sepertinya bertahan hidup hanya karena ingin menyaksikan putra semata wayangnya menikah. Kemudian dia pun memutuskan menikahi perempuan itu dalam hitungan satu bulan mereka bertemu. Memang lima bulan setelah pernikahan itu, ibu teman saya meninggal. Jadilah teman saya ini menjadi pahlawan yang telah "membebaskan" sang ibu dari beban untuk kemudian meninggalkan dunia fana ini dengan tenang. Dan sekarang tinggalah teman saya yang kebingungan di tengah pernikahannya yang sulit.

"My marriage is difficult, it was an emotional decision, " aku teman saya kepada saya dalam sebuah window YM. Dan dia sedang berjuang setengah mati untuk menyelamatkan pernikahannya yang nyaris karam itu.

Teman saya yang lain juga menikahi perempuan sekantornya, karena dia tahu bahwa ibu si perempuan mengidap sakit kanker rahim stadium empat, dan tak ingin dioperasi sebelum si anak menikah. Maka datanglah teman saya itu dengan gagah berani mengajukan diri sebagai si pahlawan untuk menikahi si anak, agar kemudian si ibu mau dioperasi.

Menyaksikan tiga orang teman laki - laki saya melakukan pernikahan atas dasar alasan - alasan ini membuat saya berpikir dan menyimpulkan. Laki - laki ternyata begitu ingin menjadi pahlawan bagi perempuan. Menjadi penyelamat rupanya sangat penting untuk membuat diri mereka berarti.  Dan emotional decision sangat mewarnai keputusan mereka ini. Entah ditaruh dimana logika dan nalar yang biasanya menjadi acuan para lelaki.

Saya heran. Mungkin kesimpulan saya salah, hanya karena tiga orang lelaki yang saya kenal melakukan hal ini kemudian dengan sembrono saya berani menyimpulkan bahwa lelaki harus menjadi pahlawan penyelamat bagi perempuan untuk membuat hidup mereka berarti.Entahlah rasanya saya begitu sulit memahaminya, apalagi dengan keputusan teman saya yang akan segera menikahi perempuan itu. Saya hanya bisa mereka - reka di kepala, akan seperti apa pernikahan dua orang yang tak pernah bertemu di dunia nyata itu akan berlangsung. Pasti jadi sinetron yang bagus seandainya Raam Punjabi tau kisah teman saya ini. Tidak masuk akal seperti sinetron - sinetron di TV kita, jadi apa salahnya bila ditambah satu lagi sinetron yang gak masuk akal..hehehehe..

My Mom and My Status

Wednesday, July 25th, 2007

Seminggu terakhir ini benar - benar melelahkan untuk saya.Setelah hore - hore bareng wartawan istana lainnya nonton bola Indonesia lawan Korea Selatan, saya dapat kabar kalo mamih - begitu saya memanggil ibu kandung saya - masuk rumah sakit di Sumedang. Ini sangat jarang terjadi. Kalo cuma ngeluh pusing, flu, batuk, atau maag nya kumat sih udah biasa. Kalau sampe masuk rumah sakit pasti ada yang serius, meskipun beliau tidak meminta saya pulang.

Tapi namanya juga anak, masa tega - teganya ibu masuk rumah sakit kita cuek aja. So kamis pagi, atas seijin bos, saya pun meluncur lah ke sumedang. Perjalanan dari Jakarta was really tiring. It took 7 hour to get there. Ada 1 ojek, 1 mobil travel, 2 becak, dan 4 angkot yang akhirnya berhasil mengantarkan saya sampai di Sumedang dari Jakarta. Fyuuuuh…

Alhamdulillah, mamih sudah membaik. Dokter bilang ada penyumbatan pembuluh darah ke otak. Jadi harus terapi untuk ngilangin yang tersumbatnya itu. Tapi kemudian dokternya bilang, mamih stress. Yea, she said to me once that she only worry about me not my brother and my sister, just becoz I’m stil single. Huh..what the heck ! Yes, I’m stil single but I’m fine, nothing to worry about. I have good life. I love what I’m doing, I have boyfriends (noted : with S ), I do travel, I have dreams, and above them all I’m happy.

Tapi orang tua tetaplah orang tua. Apalagi mamih comes from the conservative family. Being 31 and stil single is a big issue in the family. But I dont really care with it. I have my own life that maybe not to be understanable. Mimpi saya masih jauh menjangkau belahan bumi di balik tempatku berpijak saat ini, menyebrang samudera, merambah benua lain, selama masih ada matahari bersinar di atasnya. Hanya orang - orang yang berani bermimpi dan berjuang mewujudkannya yang akan membuat dunia menjadi lebih baik. Tak akan ada listrik, pesawat terbang. mobil, pc, kamera dan semua penemuan - penemuan yang kita gunakan sekarang ini tanpa ada orang - orang yang berani bermimpi dan berjuang mewujudkan mimpi mereka seperti para penemu itu. 

Saya mencoba membuat mamih mengerti, meskipun dengan susah payah, dan beliau sepertinya juga tetap sulit mengerti isi kepala anak tengahnya ini. Bahwa saya bukannya tidak mau menikah, tapi belum menemukan seseorang yang bisa mengerti mimpi - mimpi saya dan mau mendampingi saya dalam perjuangan mewujudkannya. Dan saya tidak mau mengubur  mimpi - mimpi saya hanya karena ingin menyenangkan seseorang agar orang itu mau bersama saya. Tidak sama sekali.

Memang perlu seorang lelaki berani, berkemauan keras  dan memberi ruang untuk saya tumbuh lah yang akan bisa berjalan beriringan dengan saya. Saya yang pemimpi, saya yang selalu gelisah ingin melakukan banyak hal, saya yang pembosan pada keadaan yang rutin, saya yang ekspresif dan antusias. Kebanyakan laki - laki Indonesia dan yang saya temui, langsung ciut nyalinya ketika tahu bahwa saya bukan perempuan sederhana dengan cita - cita yang sederhana. Saya bukanlah perempuan yang bisa mereka kontrol dan kendalikan seperti boneka. Dan since the world ruled by men and we live in patriarchy world, keadaan ini sangatlah mengancam eksistensi mereka dan ego lelaki yang sangat besar itu. Mereka memandang perempuan tidak sebagai mitra sejajar yang bisa bergandengan tangan. Mereka, terutama yang merujuk agama sebagai acuan yang menguntungkan posisi laki - laki, memandang bahwa perempuan adalah subordinat.

Dan saya memilih untuk stay single dengan happy life seperti ini daripada harus membuang idealisme saya, hanya demi status menjadi seorang istri. Entah ada dimana lelaki seperti itu adanya. Itupun kalo ada, maybe this kind of species doesnt exist in this real world :)

Old Journalists in The Palace

Tuesday, July 17th, 2007

Manusia memang macem - macem yah sifat en karakternya. Tadi saya datang siang dan langsung ke kantor Presiden untuk liputan kunjungan Menlu Laos. Sepi. Gak biasanya wartawan sesedikit ini. Ya emang sih agenda nya juga garing, mau ngapain sih Menlu Laos, isunya juga gak ada yang menarik kayaknya. Laos gitu loooh, gak ada apa - apa kayaknya yang menarik between us selain sebagai sama - sama negara ASEAN. En bener aja, gak ada apa - apa yang bisa diberitain dari sini.

Tapi yang jadi cerita buat saya adalah selama menunggu kurang lebih sejam tadi. Ada wartawan senior yang emang udah bercokol di istana puluhan tahun sejak Presiden Soeharto. Dan wartawan seangkatan dia ini masih ada beberapa yang tertinggal di istana. Saya heran aja, udah pada tua - tua gitu kok masih di lapangan. Apa meraka itu emang karirnya mentok, alias dah gak bisa naik jadi redaktur apa pemred, ato emang mereka memilih untuk tetap di lapangan. Entahlah, cuma mereka yang tau alasan sebenarnya.

Satu kesamaan dari mereka semua adalah mereka selalu bercerita kejayaan masa lalu. Hehehe tipikal orang tua banget ya.

"Wah dulu tuh ya jadi wartawan istana itu suatu kebanggaan, soalnya untuk bisa masuk itu susah banget. Harus seleksi BIN, asal usul keluarga ditelusuri, tes tertulis, wawancara, yang jelas semua tes itu untuk memastikan si wartawan bebas dari unsur - unsur PKI. Begitu salah satu cerita yang selalu mereka banggakan. Dengan kata lain mereka mau bilang, jadi wartawan istana sekarang gak ada apa - apanya. Gak prestis lagi, semua reporter dari media manapun bisa jadi wartawan istana, asal didaftarin kantornya ke biro pers, dapet ID beres deh.

In fact memang seperti itu. Jadi wartawan istana emang gampang. Gak ada syarat yang ribet, meskipun sebetulnya waktu form pendaftaran yang diedarkan akhir tahun untuk perbaruan ID - ID wartawan istana itu hanya berlaku satu tahun - tertulis bahwa harus minimal sudah berpengalaman liputan selama tiga tahun, dan pernah meliput di berbagai instansi pemerintah sebelumnya. Tapi nyatanya peraturan tinggal peraturan, tidak pernah ada verifikasi yang dilakukan untuk mengecek apakah setiap nama reporter dan fotografer atau kameramen yang didaftarkan oleh media tempat mereka bekerja itu benar - benar memenuhi syarat.

Cerita lainnya, dulu jaman Soeharto, setiap liputan ke daerah wartawan pasti dapet oleh - oleh buanyaaaaak..  " Anak - anak Pak Harto tuh baek - baek, sering ngasih duit sama wartawan, kesejahteraan terjamin, semua wartawan istana pada pake mobil, " kata mereka lagi.

Cerita mereka selalu sama, sampai bosan rasanya mendengar hal yang sama diulang - ulang terus. Makanya tadi saking muaknya, saya memilih untuk mojok di luar tempat anak - anak biasanya merokok. Pegel deh ngadepin si bapak botak satu itu yang bercerita dengan bangganya bagaimana perjalanan luar negeri di masa lalu.

"Paspor dinas saya sudah ganti 20 kali, "katanya.

"Siapa yang tanya ? " kata saya dalam hati.

Dulu tuh Pak Rusdi - sekarang menjabat sebagai Kepala Rumah Tangga Istana- yang ngurusin visa kita, jagoan dia, bisa bikin kita berangkat ke Amerika tanpa visa, bisa Visa on Arrival, " kata si botak itu lagi. Bete banget saya, ya iyalaaaah..jaman dolo belon ada teroris kali, WTC di NY juga masih berdiri tegak. Sekarang jangan ngarep bos.

Dan masih banyak segudang cerita stok kejayaan masa lalu yang akan mereka ceritakan tanpa diminta. Capek deeeeh…Saya memilih menghindar, dan bergabung dengan rekan - rekan wartawan lainnya yang hidup di masa kini.

Nyebelin deh kalo dah ngomong sama orang kayak gitu. Dia hidup di masa lalu. Semua ceritanya tentang masa lalu yang begini begitu. Seakan - akan yang ada sekarang ini bukan sebuah kehidupan, entah apa dia menamainya. Saya kasihan sebetulnya sama mereka - mereka itu. Old journalists yang post power syndrom mungkin ya. Ketika mereka kehilangan kebanggaan mereka satu - satunya sebagai wartawan istana yang saat itu pada masanya memiliki status sosial yang sangat baik dan mengangkat gengsi mereka tinggi - tinggi.

So when you’re start talking about past, past, and past..means that you’re already old. Be aware…hihihihi :)

Capek Day

Monday, July 16th, 2007

Hari yang melelahkan. Liputan peresmian dua pabrik, satu pabrik obat di Padalarang - Bandung Barat, satunya pabrik motor di Karawang. Benar - benar memeras keringat dalam arti sebenarnya. Panas, gersang, lari terus takut ketinggalan rombongan. Maklum ikut main group. Artinya saya ikut di rombongan inti Presiden, yang kalo kami lewat anda semua mesti berhenti untuk memberi kami jalan dengan lapang dan melaju cepat ;)

Perjalanan memang sangat nyaman, secara saya tinggal duduk manis di salah satu mobil VW Caravelle yang melaju kencang di belakang mobil berplat nomor RI-1. Tapi karena kurang tidur, dan saya tidak bisa tidur, tetap saja saya gak bisa menikmati perjalanan. Biasa, kami ini para rombengan harus sudah siap di tempat dua jam sebelum keberangkatan. Jam 5 pagi saya sudah ada di istana, kemudian ikut rombongan protokol dan berbagai perangkat kepresidenan lainnya menuju Cikeas. Karena kami berangkat menuju Padalarang dari Puri Cikeas Indah. Padahal tadi malam saya baru saja tidur hampir jam dua dini hari. Jam 4 sudah bangun. Huah..kebayang dong ngantuknya.

Teman - teman wartawan berangkat duluan dengan mobil Preggio hitam dibawah koordinasi biro pers dan media istana. Saya sebetulnya kalo boleh memilih, lebih suka bersama dengan teman - teman wartawan itu. Bercanda gila, ketawa - ketawa..cerita ini itu, bertukar berbagai informasi dan gosip, seru abis. Di main grup itu para pejabat teras Rumah Tangga Kepresidenan, Ajudan, Protokol, Bagian Keuangan, Menteri, Paspampres, dokter Presiden, bagian pelayanan, sampai para pejabat melekat lainnya. Saya merasa paling kutu kupret sedunia. Apalah saya yang hina dina ini, rombengan semprul yang nyelip diantara para dewa. Harus duduk manis, ndak pecicilan, ndak ketawa cekakakan, sopan dan santun judulnya.

Tapi memang beginilah resiko liputan daerah di sekitar Jakarta dengan perjalanan darat. Kami harus melekat di main group, karena seringkali tiba - tiba ada acara dadakan di tengah jalan yang akan luput dari liputan kalo kami ikut di rombongan biro pers yang terpisah. Capek. Dan harus selalu awas jangan sampai tertinggal rombongan. Karena rombongan itu bergerak sangat cepat. Saya harus pastikan dengan siapa tadi saya semobil, dan di mana mobil itu diparkir. Karena setiap ada perpindahan titik, kita harus bergerak cepat mendahului Presiden dan Ibu. Jadilah saya bagian dari pasukan siap lari. Makanya bila tugas liputan di luar istana, pastikan tidak mengenakan sepatu high heel. Bisa gempor kalo nekat.

Yah begitulah cerita saya hari ini, mau pulang dulu, bayar hutang tidur..Zzzzz….

Message From Heaven

Friday, July 13th, 2007

Setiap orang berpikir mau mengubah dunia. Hampir tak seorang pun berpikir bagaimana mengubah pola pikirnya sendiri.”

Sufi Bayazid bercerita tentang dirinya seperti berikut ini: ‘Waktu masih muda, aku ini revolusioner dan aku selalu berdoa: Tuhan, berilah aku kekuatan untuk mengubah dunia!’

‘Ketika aku sudah separuh baya dan sadar bahwa setengah hidupku sudah lewat tanpa mengubah satu orang pun, aku mengubah doaku menjadi: “Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah semua orang yang berhubungan denganku: keluarga dan kawan-kawanku, dan aku akan merasa puas.’

‘Sekarang ketika aku sudah menjadi tua dan saat kematianku sudah dekat, aku mulai melihat betapa bodohnya aku. Doaku satu-satunya sekarang adalah: “Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri’ Seandainya sejak semula aku berdoa begitu, maka aku tidak menyia-nyiakan hidupku!”

this is message from heaven, thanks to you, my angel :)

A Little Girl Inside Me

Friday, July 13th, 2007

Mengapa ada sedikit resah, ketika orang - orang terkasih terasa menjauh karena mereka sibuk ?

Ada rasa sepi dan tertinggal. Padahal saya tahu mereka sedang merajut mimpi, didera beban pekerjaan, dan target yang menekan.

Ah..rasanya betapa tidak pengertiannya saya. Saya malu, karena bersikap tak ubahnya seperti anak kecil yang selalu haus akan perhatian. Yang ngambek dan duduk di pojokan sambil cemberut, karena orang - orang tercinta tidak cukup memberinya perhatian. It was so me when I was a little girl.

I know I’m not supposed to act like this. I’m not that little girl who sit in the corner anymore,and feel alone and empty while everybody too busy to pay attention. Or there always a little girl inside a woman, like what they said always a boy inside a man ?

Ketika Ajal Menjemput

Thursday, July 12th, 2007

andai ku tau
kapan tiba ajal ku
ku akan memohon
tuhan tolong panjangkan umurku

andai ku tau
kapan tiba masaku
ku akan memohon
tuhan jangan kau ambil nyawaku

aku takut
akan semua dosa dosaku
aku takut
dosa yang terus membayangiku

andai ku tau
malaikatmu kan menjemputku
izinkan aku
mengucap kata taubat padamu

aku takut
akan semua dosa dosaku
aku takut
dosa yang terus membayangiku

ampuni aku
dari segala dosa dosaku
ampuni aku
menangis ku bertaubat padamu

aku manusia
yang takut neraka
namun aku juga
tak pantas disurga

andai ku tau
kapan tiba ajal ku
izinkan aku
mengucap kata taubat padamu

aku takut
akan semua dosa dosaku
aku takut
dosa yang terus membayangiku

ampuni aku
dari segala dosa dosaku
ampuni aku
menangis ku bertaubat padamu

Tiba - tiba lirik lagu Andai Ku Tau nya Ungu jadi soundtrack acara infotainment yang membangunkan saya pagi ini. Uh..ternyata sebuah berita duka menghentak. Taufik Savalas meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di daerah Bagelen Purworejo tadi malam. Mobil kijang yang dikendarai bersama empat orang rekannya, ringsek ditabrak truk tronton pengangkut semen. Tiga orang meninggal, termasuk Taufik dan dua orang rekannya, satu supir dan satunya produser acara yang sedang dikerjakannya bersama Taufik.

Mereka ada di Jawa Tengah dalam rangka syuting sebuah promo produk sabun mandi yang dibintangi Taufik. Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke Purbalingga.

Begitulah ketika umur manusia tidak pernah ada yang tahu. Ajal bisa menjemput kapan saja. Malaikat pencabut nyawa menghampiri sesuai waktu yang ditentukan-Nya. Manusia tak bisa menolak. Seperti lirik lagu Ungu diatas yang berharap bisa mengetahui in advance dan melakukan negosiasi. Ah seandainya..

Manusia selalu kaget ketika seseorang yang dikenal berpulang secara mendadak. Taufik Savalas yang bernama asli Muhammad Taufik, dikenal menganut hidup sehat. Tidak seperti para pekerja di dunia hiburan kebanyakan yang merokok dan mengkonsumsi alkohol, bahkan narkoba, Taufik tidak merokok, berolahraga dan menjaga asupan makanannya. Begitu yang diceritakan rekan - rekannya di berbagai tayangan televisi yang saya saksikan sedari pagi.

Rasanya kita lebih "siap" ketika yang berpulang adalah seorang Chrisye. Lebih "siap" dalam artian, kita semua sudah tahu bahwa Chrisye mengidap sakit kanker paru - paru stadium 4 selama bertahun - tahun, dan melakukan upaya pengobatan dengan berbagai cara. Sepertinya semua orang sudah menyiapkan hati bahwa ini hanya masalah waktu.

Taufik Savalas yang sehat, bugar, dan lucu dengan perut buncit dan wajah bundarnya yang selalu tersenyum, tidak ada yang merasa "siap" ketika dirinya tiba - tiba menjadi yang terpilih untuk segera dipanggil pulang di usia yang masih terhitung muda, 41 tahun..

Tak ada yang tahu kapan kita akan dipanggil. Setiap pemanggilan mendadak seperti ini selalu menyentakkan kita. Hati tergetar, batin menjerit tak siap. Tapi bukan kuasa kita untuk menolak atau menawar. Manusia hanya bisa menjalani kehidupan yang diberikan-Nya saat ini dengan segala hal yang terbaik. Karena kita tak tahu kapan waktu kita habis, dan jam pasir yang dipasang terbalik itu meneteskan butir pasirnya yang terakhir.

Saya tak pernah mengenal sosok seorang Taufik Savalas secara pribadi. Tapi saya mengetahui perjuangan, semangat dan kerja kerasnya untuk maju dan meraih posisinya terakhir ini di dunia hiburan. Sebuah teladan untuk semangat pantang menyerah dalam berusaha, tak ada hal yang mustahil selama kita berupaya dan berdoa. Dan ketika sudah berada pada posisi yang lebih baik, tak lupa untuk berbagi pada sesama dan membantu orang - orang yang sedang berjuang lainnya. Tak lupa darimana dia berasal, dan tak ada hal yang patut untuk disombongkan. Semua hanyalah bagian dari rencana-Nya, yang harus disyukuri.

Selamat Jalan Bang Taufik..Semoga mendapat tempat yang terbaik disisi -Nya.

Chatting Dengan Tuhan

Wednesday, July 11th, 2007

Tuhan : Kamu memanggilku ?

Aku : Memanggilmu ? Tidak. Ini siapa ya ?

Tuhan : Ini Tuhan. Aku mendengar doamu. Jadi Aku ingin berbincang - bincang denganmu.

AKU: Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik.Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.
TUHAN: Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.
 
AKU: Nggak tau ya. Yang pasti saya nggak punya waktu luang sedikitpun. Hidup jadi seperti diburu-buru. Setiap waktu telah jadi waktu sibuk.
TUHAN: Benar sekali. Aktivitas memberimu kesibukan, tapi produktivitas memberimu hasil. Aktivitas memakan waktu, produktivitas membebaskan waktu.
 
AKU: Saya ngerti itu. Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya.
Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.
TUHAN: Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu,dengan memberimu beberapa petunjuk. Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi, misalnya.
 
AKU: OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?
TUHAN: Berhentilah menganalisis hidup. Jalani saja.Analisis-lah yang
membuatnya jadi rumit.
 
AKU: Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?
TUHAN: Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin.
Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisis. Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu. Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.
 
AKU: Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu banyak ketidakpastian.
TUHAN: Ketidakpastian itu tak bisa dihindari. Tapi kekhawatiran
adalah sebuah pilihan.
 
AKU: Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.
TUHAN : Rasa Sakit tidak bisa dihindari, tetapi Penderitaan adalah
sebuah pilihan.
 
AKU: Jika Penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?
TUHAN: Intan tidak dapat diasah tanpa gosokan. Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api. Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita. Dengan pengalaman itu, hidup mereka jadi lebih baik bukan sebaliknya.
 
AKU: Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?
TUHAN : Ya. Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras. Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.
 
AKU: Tapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu? Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?
TUHAN: Masalah adalah rintangan yang dimaksudkan buat meningkatkan kekuatan mental. Kekuatan dari dalam diri bisa keluar dari perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.
 
AKU: Sejujurnya di tengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah…
TUHAN: Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu ke mana kamu melangkah. Lihatlah ke dalam. Melihat keluar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.
 
AKU: Kadang ketidakberhasilan membuatku menderita. Apa yang
dapat saya lakukan?
TUHAN: Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain. Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri. Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan. Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain berkejaran dengan waktu.
 
AKU: Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?

TUHAN: Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan, daripada masih berapa jauh saya harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.
 
AKU: Apa yang menarik dari manusia?
TUHAN: Jika menderita, mereka bertanya "Mengapa harus aku?". Jika mereka  bahagia, tidak ada yang pernah bertanya "Mengapa harus aku?".
 
AKU: Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya di sini?
TUHAN: Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu. Berhentilah mencari mengapa saya di sini. Ciptakan tujuan itu. Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.
 
AKU: Bagaimana saya bisa mendapat yang terbaik dalam hidup ini?
TUHAN: Hadapilah masa lalu-mu tanpa penyesalan. Peganglah saat ini dengan keyakinan. Siapkan masa depan tanpa rasa takut.
 
AKU: Pertanyaan terakhir. Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.
TUHAN: Tidak ada doa yang tidak dijawab. Seringkali jawabannya adalah  TIDAK.
 
   AKU: Terima Kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.
  TUHAN: Oke. Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut. Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan. Percayalah padaKu.
Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.
 
   TUHAN… signed out.

nnf : thanks to my angel for sending me this beautiful article.