Lilin terakhir saya nyalakan di hari kesembilan novena. Sebatang lilin di altar-Nya, seperti sebuah lilin yang saya mohonkan untuk selalu dinyalakan-Nya di hati saya.Menerangi hidup yang saya jalani, agar saya tak tersesat lagi.
Saya hanya mohon dua hal. Keikhlasan untuk bisa menerima apapun yang direncanakan-Nya atas hidup saya, dan kekuatan untuk menjalaninya. Semakin beranjak dewasa, bukan hanya bertambah usia, tapi juga semakin beragam pelajaran hidup yang membentur, saya sadari bahwa hanya dua hal itulah yang diperlukan untuk menjalani hidup.Keikhlasan dan kekuatan.
Dulu, saya berdoa dengan segambreng daftar permintaan. Minta ini,minta itu.Saya mendikte Tuhan dengan berderet keinginan manusia saya. Kalau saya jadi Tuhan saat itu, pasti saya udah ketawa ngakak mendengar doa manusia bodoh itu. "Emangnya loe siape neng?" Paling saya jawab begitu..hehehe.
Ekspektasi saya akhirnya harus kandas satu demi satu. Mimpi-mimpi saya jatuh berguguran. Harapan-harapan saya hangus dengan perlahan.Saya benar-benar dinisbikan-Nya.Rupanya Dia ingin saya belajar sesuatu tentang hidup yang sedang saya jalani.Menyadari kemanusiaan saya, bahwa hanya keikhlasan dan kekuatan itulah yang saya perlukan untuk menjalani hidup.
Ketika saya lelah menghadapi hidup yang sulit dimengerti.Ketika saya patah untuk cita-cita yang hancur berantakan.Saya sadari bahwa saya tak akan pernah berhasil memahami hidup ini.Apa maksudnya. Kenapa harus begini, kenapa harus begitu. Sejuta tanya yang menggantung tak terjawab.Mungkin benar kata malaikat tak bersayap itu kepada saya, "hidup bukan untuk dianalisa, tapi untuk dijalani".Nasihat kunonya yang manjur adalah "Just keep going, jangan dianalisa, capek..!"
Sahabat saya sedang berusaha menganalisa relasinya dengan seseorang yang menurutnya dipenuhi dengan perbedaan."Pengalaman membuktikan, sulit disatukan, jauh tapi dekat, benci tapi rindu, sayang susah ada di satu titik temu," begitu smsnya pada saya tadi malam.
Saya menjawab ala orang bijak, " Ah,jangan dianalisa, just keep going with our life. Seperti kamu bilang, menjalani hidup day by day. Kita ga pernah tau ada apa di tikungan berikutnya," begitu sms jawaban saya. Itu kombinasi pelajaran dari sang malaikat, perkataan sang sahabat sendiri, dan wejangan ndorokakung mengenai tikungan kehidupan yang penuh kejutan itu.
Kadang kita mesti diingatkan akan kata-kata yang pernah kita ucapkan, dan pemikiran yang pernah kita tuangkan. Namanya juga manusia kan sering alpa. Pelupa itu biasa.Begitu juga dengan kesadaran yang sering kali on dan off. Itulah gunanya sahabat untuk saling mengingatkan.Untuk menjewer telinga bila sang sahabat keluar jalur. Membangunkannya ketika dia pingsan.Menjadi telinga untuk mendengar keluh kesahnya. Memberi ruang di hati untuk berbagi kasih, dan meminjamkan kaki untuk menyangganya ketika dia jatuh.
Sulit memang untuk tidak menganalisa. Tapi adakalanya kita memang harus membiarkan semuanya mengalir apa adanya. Entah akan bermuara dimana,hanya Dia yang tahu.Bahwa perbedaan itu bukan harus menjadi sesuatu yang menakutkan.Mungkin bila kita lihat dari sisi yang lain, perbedaan bisa dimaknai sebagai sesuatu yang memperkaya. Memperkaya wawasan, membuka cakrawala, dan membuat jiwa kita bertumbuh. Tapi proses pertumbuhan memang seringkali menyakitkan, karena itu banyak orang yang memilih menghindar. Tak salah memang. Setiap orang berhak memilih akan bertumbuh atau tidak. Tapi sekali lagi belajarlah untuk tidak menganalisa. Membiarkannya mengalir untuk menemukan jalannya sendiri mungkin akan membuat hidup menjadi lebih sederhana.