Archive for September, 2007

Only U know Ur limit

Friday, September 28th, 2007

"Only u know ur limit, dont give up easily, but knowing when 2 quit is also a crucial thing"

Babe dodol, my old time boyfriend and my best friend ever, sent me that sms last nite. It was so encouraging and supportif. Knocked me right in my head. He doesnt judge me, blame me, or "punished" me for what I feel and think.

That sms was the answer for my previous sms that was sent to him before. I told him about what I feel about things that I’m doing currently. I feel that it was so hard for me to adjust, learn, and to ful fill what those people expected from me. I feel underpressure, and I was thinking to hands up. This is it, I’m not going further and spend more effort to this thing. I stil have many other interested thing to do besides this. This is not everything that I should fight for. That’s what I have in mind.

His answer in his sms really opened my eyes and feel so be inspired and encouraged. What I have in mind while I read it was, it’s ok to give up, because only me who know my limit, but dont give up easily, and knowing when to quit is also a crucial thing. Wow..it’s absolutely true ! It’s ok to give up Nenden, but dont give up easily. I got the support to go on or to quit it’s all up to me, coz the one who know my limit is only me, myself. No one can push my limit, beside me. I dont know where he got this quote, doesnt matter, it’s more important the message rather than the maker and thinker. How ever I really thankful for this.

While in other hand, I got a different response regarding the same thing. The message was Inget kan.. di dunia orang dewasa gak ada yang MUDAH, kecuali memang tidak pernah dewasa. And as different response, I feel differently too for the same thing. I feel be blamed, "punished", judged, and pushed. I hate it. That’s not the thing that I need at this time. I need support not some judgement like this. I feel like, wow..he judged me for never grown up. Damn !

I must be already gone if I’m not mature enough. I hate to be judged that I’m immature, or never grown up. Who the hell is he for judging me that ? While I knew that he was there all these years, witnessing what I’ve been through. And I’m stil here, survive and alive. I just need a little appreciation and support, not judgement. Maybe he was just too busy with himself and his business at that time I talked, so he’s doing thing that he never done before to me. He never judge me anything. He always support me in his own unique way. Or maybe this is just another his unique way to support me at this moment. Have no idea, i just want to take it positive. Ya, maybe I just need a little time to understand this message and his unique way to "teach" me. Thanks coach !

Virus Malas

Thursday, September 13th, 2007

Sebuah pesan pendek masuk ke handphone saya kemarin sore."Nggak nulis di blog lagi ?"  Begitu saja isi sms dari seorang teman yang memang pembaca setia blog saya ini. Saya bingung mau jawab apa. Rasanya memang iya sih belakangan saya begitu malas mengupdate blog saya. Blog ini maupun blog baru saya di tamansari.wordpress. Sebetulnya banyak ide berjejalan di kepala, tapi entahlah virus malas rasanya sedang begitu kuat menguasai saya, sehingga untuk membuka laptop dan menulis ide-ide yang memenuhi kepala ini enggan sekali.

Inginnya sih nggak sekedar nulis kayak begini, yang hanya menumpahkan perasaan. Saya ingin menuliskan hal-hal yang berguna dan ada isinya, seperti posting-posting saya sebelumnya, yang memang biasanya berhasil saya tulis setelah saya mikir, melihat,merasakan, berdialog, membaca, mendengar, dan merenung. Untuk sebuah posting curhat seperti ini sih, tinggal log in buka cms nya klik new post, mulai deh ketak ketik dengan mudahnya. Tapi nulis posting yang rada "bener" dan ada isinya itu yang entah kenapa saya sedang memanjakan kemalasan saya.

Pikiran saya lagi senang melayang kesana-sini, berpikir keras tentang banyak hal, melamun dan berkhayal. Memimpikan hal-hal besar, tapi untuk menuliskannya uh…males banget rasanya. Banyak buku-buku yang baru saja saya baca. Buku-buku yang tentu saja menarik dan mencerahkan. Ingin sekali membaginya. Tapi sabar ya, saya sedang menyiapkan ramuan pembunuh racun malas ini dulu. Mudah-mudahan, akhir pekan ini segala kemalasan yang saya idap sudah bisa sembuh, dan bisa berbagi dengan anda semua lagi..

Untuk Ramadhan Yang Semoga Hadir Sepanjang Tahun

Wednesday, September 12th, 2007

Kangen juga nulis disini. Dengan segala keterbatasan toolsnya, dan segala keribetannya. Bagaimanapun ini adalah rumah lama yang telah untuk pertama kalinya menjadi tempat saya memutuskan urat malu dan gak pede saya untuk menulis.

Hari terakhir ngantor sebelum puasa. Mulai besok kantor selama sebulan akan bebas asap rokok. Ah senangnya, ruangan mungil bekas pantry Presiden RI terlama ini akan bersih tak membuat saya sesak nafas lagi. Minimal untuk sebulan. Nggak papa-lah daripada tidak sama sekali.

Hari ini, bahkan sejak kemaren, berpuluh sms dan email masuk untuk meminta maaf dan mengucapkan selamat berpuasa. Capek juga mbalesinnya. Beberapa saya balas, beberapa saya balas melalui email yang sekali kirim bisa sekaligus banyak orang. In the name of efficiency mungkin yah, atau hanya sebuah kemalasan ? Entahlah, gak mau mikirin.

Hanya sekedar basa-basi, ikut tren karena semua orang melakukannya, atau benar-benar sebuah sms yang tertulis dari rangkaian ungkapan hati yang tulus. Semoga memang yang terakhir. Saya menerima sebuah message yang panjang di FS inbox saya, sampai capek bacanya, karena panjang banget.Ya saya berusaha berpikir positif saja, bahwa di hari-hari ini memang semua orang sedang dalam tahap perenungan dan kontemplasi yang sebenarnya untuk membersihkan hati dan diri mereka menyambut bulan Ramadhan. Meskipun menurut saya membersihkan hati dan diri, bermaafan, dan menjaga ucap serta perilaku harus dilakukan sepanjang bulan dalam sepanjang tahun. Bukan hanya selama satu bulan dalam setahun saja. Tapi yah mending sebulan daripada nggak sama sekali.

Saya juga mulai melatih diri saya untuk lebih menyeimbangkan my body, mind and soul. Untuk tidak marah lagi membaca komentar-komentar yang rasanya menyakitkan hati. Untuk tidak peduli lagi dengan pendapat orang-orang yang menilai negatif. Untuk tidak mudah tersinggung lagi atas sikap-sikap yang tidak berkenan.

Saya sedang belajar untuk membentengi hati dan pikiran saya untuk tidak mudah "terprovokasi" dengan hal-hal remeh temeh seperti itu. Saya sedang belajar memfokuskan diri saya hanya pada apa yang sedang saya kerjakan, dalam rangka menuju ke titik yang saya inginkan. Rasanya memang tidak mudah untuk menjadi fokus dan tangguh. Godaan untuk marah dan membuang energi sejenak para hal-hal dan orang-orang yang membuat marah itu begitu kuat. Hasrat untuk menangis atas rasa sakit dan sedih yang ditimbulkan oleh suatu hal seringkali mendera. Ah..ternyata saya hanyalah manusia biasa yang sedang berusaha untuk menjadi lebih baik, itu saja.

Semoga Ramadhan kali ini tidak hanya membuat saya menjadi lebih baik selama satu bulan saja, tapi hari-hari berikutnya setelah Ramadhan, sepanjang tahun. Untuk Anda juga semuanya, selamat berpuasa, semoga lancar dan benar-benar mendapatkan manfaat. Bukan hanya menahan lapar dan haus :) Amiin.

Manusia Sinis

Tuesday, September 4th, 2007

Untuk orang yang sinis, apapun selalu negatif. Rasanya melelahkan harus berurusan dengan orang seperti ini. Niat baik, dan upaya untuk membantu pun ternyata ditanggapi dengan sangat negatif. Benar-benar melelahkan dan menyakitkan. Jawaban-jawaban yang melecehkan dan nggak nyambung pun jadi respon yang dilontarkannya.

Saya heran, apa sebetulnya yang ada di kepala orang yang sinis seperti ini. Ibarat sebuah kabel di dalam radio transistor tua mungkin ya. Yang berkarat, carut marut, dan lengket satu sama lain karena terlalu panas dan lama gak dirawat. Entahlah, itu hanya imajinasi liar saya.

Saya mungkin sedang kesal saja dengan responnya. Mengetahui niat baik saya untuk membantu mengembangkan produk yang diasuhnya, hanya ditanggapi dengan haha hihi melecehkan, dan kalimat terakhir, siap Bos !. Kalimat yang berkali-kali saya katakan bahwa saya membencinya, karena saya bukanlah bos nya. Dan berkali-kali itu pula yang selalu dia ulangi lagi, seakan-akan untuk mengejek saya, bahwa dia memang tidak peduli dengan keberatan saya. Who the hell are you Nenden ? I dont care what you say..Pesan itu yang saya terima. Dan itu sangat menyakitkan.

Akhirnya saya tahu, bahwa kali ini saya harus benar-benar menyingkirkannya dari hidup saya untuk selamanya. Sudah tidak ada gunanya lagi saya berniat baik untuk tetap berteman baik dengannya. Menghargainya sebagai seseorang yang pernah begitu berarti bagi saya. Seseorang yang saya pernah belajar banyak darinya.Seseorang yang pernah saya hormati dan puja, karena kedalaman berpikirnya, keluasan wawasannya, toleransinya, pemikiran-pemikirannya yang out of the box. Seseorang yang inspiratif dengan segala kompleksitasnya.

Ternyata saya tahu, inilah saatnya untuk meninggalkan dia di belakang. Percuma berurusan dengan orang yang sedang berkutat dengan segala pikiran negatif di kepalanya. Jangankan untuk menghargai orang lain,menghargai dirinya sendiri saja dia tidak bisa. Memandang positif dirinya sendiri juga dia tidak mampu. Laku batin, segala ritual dan doa yang dilakukannya entah berdampak ke bagian mana. Hasilnya bukan menjadikan dirinya menjadi ikhlas dan sumeleh, cerah dan berpikir positif. Tapi malah menjadikannya seekor monster yang menebar aura negatif ke sekeliling dengan segala kesinisannya. Ah teman, apa yang sedang terjadi padamu ?

Rasanya sia-sia segala niat baik dan upaya untuk membantunya bangkit dan menyeretnya berjalan lagi. Ditepisnya tangan yang terulur ini. Dibalasnya dengan kata maki segala nasehat dan kalimat penghiburan. Senyum sinis tersungging untuk menjawab senyum tulus seorang sahabat yang peduli. Dibantingnya pintu hati itu rapat-rapat dari segala mahluk yang ingin masuk dan berbagi duka dengannya. Hatinya terkunci. Hidupnya terasing. Jiwanya sepi. Batinnya sunyi. Bergelut dengan segala luka yang telah meluluhlantakkan hidupnya. Berkubang dalam duka dan putus asa tanpa ujung.

Kawan, jatuh dan terluka itu biasa. Tapi jatuh, terluka dan bangkit lagi itu yang luar biasa. Saya tahu ini bukan jatuhmu yang pertama, dan bukan bangkitmu yang pertama pula. Mengapa kali ini kamu tak mau bangkit ? Dan mengusir sahabat-sahabat yang sayang dan mempedulikanmu dengan kasar ? Kamu telah berubah. Rapuh. Lemah.Pengecut.Pendendam.Pembenci. Ingatlah api kemarahan dan dendam hanya akan menghanguskan jiwamu. Luka hanya akan menggerogoti hatimu. Hati untuk mencinta dan berbagi kasih. Ah, akhirnya saya harus kehabisan kata-kata untukmu.

Hanya selamat tinggal yang bisa terucap. Semoga kamu mendapatkan yang kamu cari dengan segala kesinisan, kemarahan, luka dan dendam itu.