Kesetiaan memang membutuhkan pengorbanan..
Tuesday, October 30th, 2007Seorang teman, redaktur di sebuah harian, bolak-bolak menceritakan bagaimana sistem dan manusia-manusia di kantornya nyaris membuatnya gila. Ini pengalaman dia yang pertama kalinya bekerja di luar negaranya, Amerika. Dan dia sangat "heran" dengan cara kerja orang Indonesia yang berjalan tanpa sistem. Padahal ada sekitar 200 orang yang terlibat di bekerja di harian itu.
Dia heran bagaimana sebuah keputusan atas rubrik yang dia pimpin bisa diambil tanpa sepengetahuan dia sebagai redaktur.Makin heran dia dengan mulut para staf di bagian SDM yang membocorkan gaji setiap orang, sehingga terjadi kecemburuan dan menimbulkan suasana kerja yang tidak nyaman. Tidak ada sistem yang mengatur job desc dengan jelas tanggung jawab dan hak masing-masing orang.
Dan dia selalu mengatakan bosnya si pemred sebagai orang yang mendengar tapi tidak "mendengar". He is listening, but he’s not hearing what I said. Katanya dengan nada frustasi.
Hal yang membuatnya lebih heran lagi, adalah proses rekruitmen yang sama sekali tidak berdasarkan kompetensi. Tapi hanya berdasarkan wajah yang cantik. Haha..sounds familiar to me. Ternyata gak hanya di kantor saya saja, seseorang direkrut karena wajah cantiknya dan body aduhai nya, tapi otaknya kosong dan kelakuannya minus. Memang beruntung perempuan-perempuan yang dianugerahi wajah cantik itu. Tak perlu kerja keras dan otak cerdas untuk memperoleh pekerjaan, cukup senyum manis, bokong gede, dan rayuan maut untuk sang bos yang tentunya laki-laki normal itu. Dan posisinya akan selalu aman selama bisa "memuaskan" si bos luar dalam haha… Meskipun banyak orang mengeluhkan kualitas pekerjaannya yang dibawah standar normal sekalipun, dan kelakuannya yang amit-amit. Si bos tutup mata, tutup telinga,karena matanya sudah terpuaskan oleh kecantikan ragawi si staf, dan telinganya sudah kenyang dibuai berbagai kata-kata manis penuh puji dan sanjung.
Teman saya terpaksa harus bertahan karena kontrak yang ditandatanganinya masih bersisa dua bulan lagi. Meskipun dia sendiri meragukan ketahanan mentalnya, untuk bisa bertahan dengan situasi yang amburadul seperti ini lebih lama lagi.
Saya masih beruntung, bahwa saya masih punya waktu untuk menyeimbangkan hidup saya dari pekerjaan yang membuat gila ini di tempat lain. Siaran Jakarta Night Live benar-benar membuat saya hidup kembali. Saya kembali menjadi manusia yang berguna, dihargai, dan bermartabat. Bukan hanya keset yang harus menghamba dan menghinakan diri saya pada sistem yang telah membusuk selama 40 tahun. Disini hanya yang tua dan memegang jabatan struktural yang dihargai. Junior dan kutukupret seperti saya jangan harap, berjalan harus menunduk-nunduk, berpakaian pun seperti layaknya babu, gak boleh gaya dan stylish, atau para petugas moral itu akan mendhelik melihat saya dan menyampaikan teguran melalui orang lain untuk disampaikan kepada saya.
Hanya sebuah "kesetiaan" dan "respect" terhadap guru-guru saya yang membuat saya bertahan disini hingga tuntas. Hal yang juga dilakukan teman saya si redaktur ini. Hutang budi ternyata memang berat, karena itu sebisa mungkin jadilah manusia independen. Berdiri diatas kaki sendiri dan menentukan hidup yang diinginkan adalah kemewahan yang sebenarnya.