Archive for November, 2007

Pelajaran Terakhir dari Sang Guru

Thursday, November 29th, 2007

Sebuah petir menyambar di siang hari yang cerah. Menggelegar dan pedas di telinga. Kilatnya pun menyilaukan mata. Aku pun hanya tercengang. Tak pernah menyangka gelegarnya sanggup membisukan mulutku yang menganga, dan membekukan darah yang mengalir di nadi. Degup jantung pun berhenti sejenak.

Rasa hormat itu luluh lantak dihanguskan oleh sang petir. Rasa cinta itu menguap oleh kilatannya. Sakit, perih. Rasa terhinakan dan dikerdilkan itu begitu kuat meringkusku. Aku si chin mi kecil yang sedang bertarung menaklukan dunia. Tertatih-tatih membangun sarang. Berlatih untuk sebuah pertarungan besar. Pertarungan yang ternyata tak pernah ada. Karena sang pemenang sudah ditentukan. Dan tentu saja bukan si kecil chin mi ini. Kalah sebelum bertarung, vonis itu sudah dijatuhkan untuk kepalaku. Terima kasih guru yang pernah sangat kuhormati. Tak kusangka sebuah pengkhianatan kau hujamkan kedalam hati yang dengan tulus menghormati dan mencintaimu. Sebuah pelajaran sangat pahit telah kutelan hari ini.

Yes I’m 32, and I’m proud of it

Monday, November 19th, 2007

Lama sekali rasanya saya gak posting disini. Kesibukan kantor, jadwal ngopi yang padat merayap, dan siaran yang stripping tiap malam ternyata cukup menguras energi. Padahal segudang ide berjejalan di kepala minta dimuntahkan.

Akhirnya inilah saatnya, saya bisa leyeh-leyeh di kantor yang sepi, karena jadwal big boss yang sedang berada di luar negeri.Aman tentram dan adem. Fyuh. Saatnya bercerita.

Minggu lalu, selasa malam tepat rabu dinihari, handphone saya mulai berbunyi terus. SMS dari para sahabat lama yang ingat bahwa tanggal 14 November adalah saat seorang Nenden bertambah usia. Pontianak, Jogja, Jakarta, Bandung, telpon dari Bali, semuanya menyampaikan satu hal, selamat ulang tahun lengkap dengan doa-doa terbaik dari para sahabat terkasih. Terima kasih untuk segala perhatian dan telah mengingat saya di dalam hati mereka.

Seharian itu telpon dan sms masih terus masuk hingga malam harinya. Ah senangnya. Singapura, Melbourne, New York, email dari Havana, mengisi ruang di hati saya dengan keceriaan dan cinta. Tuhan telah memberkati hidup saya dengan orang-orang terkasih ini. Pesan-pesan di friendster pun tak luput dengan berbagai ungkapan perhatian dari para sahabat yang telah meninggalkan jejak di kehidupan saya, meskipun saat ini mereka berada jauh di mata, dan di belahan dunia lain. Once again much thanks for your birthday greeting and wishes.

Now, I’m 32. It’s just number maybe, or maybe it is not. Perempuan biasanya takut dengan pertambahan usia. Bahkan menyebutkan tahun kelahiran saja kadang enggan. Saya mungkin kekecualian. Yes, I’m 32 and I’m proud of it. Ya, saya bersyukur bisa mencapai usia 32. Saya baik-baik saja, I have good life, nothing to complain and nobody to blame. Life is good.

Yes, I’m stil single. So what ? I dont have my own car and my own house yet, yes so what ? I’m happy with my life. It has nothing to do with my status and financial statement. Saya menyadari sepenuhnya bahwa hidup hanyalah rangkaian dari pilihan-pilihan. Hidup yang saya jalani sekarang adalah hasil dari pilihan-pilihan yang saya ambil di masa lalu. Tidak ada yang perlu disesali, dan tidak ada orang lain yang harus dipersalahkan atas apapun yang terjadi dalam hidup saya sekarang. It’s all good, hanya masalah bagaimana frame berpikir yang kita gunakan dan memaknai perjalanan ini.

Bila saya dulu memilih untuk menerima lamaran pacar saya di Bandung untuk tidak kuliah ke Jogja, saya mungkin sudah menjadi seorang istri dan ibu dari 3 anak. Tapi mungkin saya tidak akan pernah kemana-mana. Menjadi ibu rumah tangga biasa dan pekerja kantoran biasa dengan jam kerja normal, seperti teman-teman saya yang lain yang sampai sekarang tidak pernah meninggalkan Bandung.That’s not the life that I want.

Jalan hidup saya sekarang adalah hasil pilihan-pilihan saya sendiri. Saya memilih untuk tidak menjadi manusia biasa-biasa saja, dengan hidup yang biasa-biasa saja. Dan inilah konsekuensinya, jalan yang saya tempuh lebih terjal dan berliku dari jalan yang ditempuh orang-orang biasanya.

Saya happy dengan apa adanya saya sekarang. Menyenangkan untuk menjadi seorang Nenden seperti sekarang ini. Mimpi-mimpi yang dulu tergantung di awang-awang sekarang satu demi satu berada dalam genggaman, jalan terjal itu semakin menanjak menuju puncak. Saya menempuhnya dengan gembira, menikmati setiap langkahnya. Berhenti ketika lelah. Berdiri di tanah yang mulai berada di ketinggian. Menghirup segarnya udara dan menikmati pemandangan indah yang tercipta sejauh mata memandang. Saya sadar setiap jejak langkah ini demikian berarti. Bukan semata-mata arti untuk mencapai puncak. Tapi arti sebagai seorang manusia yang sadar sedang belajar. Belajar menjadi manusia yang utuh. Berkarya bagi sesama, berbagi dan saling mengasihi. Ohm Shanti..shanti shanti..Oom.