Archive for December, 2007

Bedak untuk “Bapak”

Tuesday, December 18th, 2007

Hotel Grand Candi, Minggu sore, sms mengabarkan bahwa jam 18.30 kami semua ditunggu untuk makan malam, dan bersiap untuk nonton Asian Idol bersama "Bapak". Sampai bawah, ternyata kami dikabari bahwa acara nonton Asian Idol jadinya tertutup. Wartawan gak dibolehkan meliput. Horee..akhirnya. Kami juga males banget mesti nonton Asian Idol pake batik lengan panjang yang formal hehehe..

Akhirnya kami pun balik kanan, kembali ke kamar. Sampai depan lift, aku sama Mbak Diana reporter RRI, memilih untuk nunggu lift berikutnya daripada harus bareng satu lift dengan para pejabat yang juga mau naik. Maklum kami nih heboh cekikikan, males banget kalo mesti jaim depan bapak-bapak itu.

Eh lagi nunggu lift, tiba-tiba Mbak Narti juru rias Ib, dengan panik menghampiri. "Mbak ada bedak warna gelap nggak ?, tanyanya. Aku pun meski bingung tapi mengaduk-ngaduk tas ku, sampe akhirnya menemukan bedak compact two way cake Revlon yang kupunya. "Ini Mbak, " kataku sambil kubuka dan memperlihatkan warna bedaknya yang beige. Dengan girang, Mbak Narti dan Mbak Ratna protokol itu langsung menyambar bedakku dan bilang, " pinjem ya Mbak !", sambil langsung lari menuju lantai 1.

Aku sama Mbak Diana bengong-bengong aja liat mereka. Bedak buat apaan sih, pikirku..Tapi sudahlah gak kupikir lagi, sampe jam 9 kulihat di layar RCTI, "Bapak" ngasih sedikit komen tentang event Asian Idol itu. Kupikir itu udah taping dari kapan-kapan. Nonton Asian Idol pun aku gak sampe kelar, karena ketiduran. Basicly bukan penggemar acara kontes nyanyi begini sih aku, biasa aja.

Besok pagi, mau siap liputan aku pun terpaksa minjem bedak nya Mbak Diana.Liputan lah di Akpol sampe kelar. Sampai di pesawat on the way ke Jakarta, aku tanya Mbak Narti, mana bedakku, dan untuk apa sih itu bedak. Ternyata you know itu bedak buat mbedakkin wajahnya Bapak sebelum tapping buat Asian Idol itu, hehehehe..

"Wajah Bapak berminyak Mbak, mau ambil bedakku ke lantai 10 nggak sempet karena udah siap tapping, maaf ya ngerepotin, " kata Mbak Narti

Ya ampyuuuun, bedak ku itu dipake Bapak ???? Hihihihihi..Moga-moga aja Bapak ndak jerawatan karena ndak cocok pake bedakku.

I got it..

Friday, December 7th, 2007

Sebuah kabar
menyenangkan kuterima hari ini. Sebuah panggilan dari Kedutaan Amerika
yang mengabarkan bahwa aku berhasil mendapatkan nominasi
untuk International Visitor  tahun depan. Ah senangnya..Penantian itu
akhirnya terjawab juga. Lamaran yang kuajukan awal tahun ini akhirnya
berbuah juga.

Berawal dari Asean Summit di Cebu Philipine Januari 2007, dimana
seorang wartawan senior Antara, Mas Rahmat, sekarang udah jadi kepala
Biro di Canberra, merekomendasikan aku untuk mengontak atase pers nya
Kedutaan Amerika sat itu Max Kwak. Katanya aku punya potensi untuk
mendapatkan award yang pernah didapatkannya juga beberapa tahun lalu. Tak kusangka ternyata
selama empat hari liputan KTT, ada yang memperhatikan kinerja ku dan
mengapresiasinya. Aku dinilai sebagai wartawan yang ulet dan tangguh.
Sebagai satu-satunya jurnalis perempuan aku emang gak mau kalah gesit
dengan mereka para lelaki dan senior itu untuk berlari mengejar berita
dari satu bilateral ke bilateral lain. Belum lagi mengejar
narasumber-narasumber yang beragam. Aku bekerja dari pagi sampai dini
hari, demi dedikasiku pada profesi. Dan aku menjalaninya dengan senang
hati. Mungkin ini reward untuk sebuah pekerjaan yang dilakukan dengan
passion ya…

Amerika tanah impian, meskipun cuma untuk berkunjung beberapa minggu
saja, tapi rasanya cukup untuk menambah wawasan dan stok
pengalaman..Sekalian cari peluang untuk melanjutkan kuliah atau
kesempatan kerja. Uh I cant wait any longer..

Kembali ke Amerika setelah empat tahun, akhirnya..

PS : Posting ini saya copy paste dari blog saya sendiri yang satunya , bukan posting curian dari blog orang lain yang saya kutip semena-mena tanpa ijin :)

Kisah Seorang Pengecut

Thursday, December 6th, 2007

" Menolak dengan sopan lebih baik daripada berjanji tetapi tidak bisa menepati "

Quote by anonim ini saya temukan di harian Jurnal Nasional edisi hari ini. Simpel tapi mengena. Saya jadi teringat peristiwa petir minggu lalu. Semua berawal dari ini. Seseorang itu tidak "berani" menolak saya dengan sopan. Beliau mengiyakan, tapi kemudian ketika saya tagih mengenai konsekuensi dari kata silahkan yang dikatakannya, dia mengelak. Email saya tak berbalas, sms, dan YM pun bernasib sama. Handphonenya yang saya hubungi pun selalu berakhir dengan suara sang sekretaris mengangkatnya. Maaf Bapak sedang rapat di luar, hape nya di tinggal. Maaf Bapak sedang makan ke luar, dan sejuta alasan lainnya.

Sebagai sosok yang saya hormati selama ini, saya pun sama sekali tak berburuk sangka. Saya pikir beliau memang sedang benar-benar sibuk saja, karena ini akhir tahun sehingga banyak meeting. Tapi Tuhan memang Maha Penolong, di tengah kebingungan saya dengan respon yang aneh ini, sebuah jawab pun hadir. Fakta yang dibukakan oleh seorang teman yang menyampaikan informasi itu apa adanya. Saya percaya dia tidak memiliki pretensi dan kepentingan apapun terhadap urusan saya dengan sang juragan. Tapi informasi yang disampaikannya sangatlah berharga, dan membuat saya paham akan situasi yang terjadi belakangan. Sang juragan memang sengaja menghindari saya, karena beliau yang terhormat itu terlalu pengecut untuk menolak saya dengan sopan.

Mungkin maksudnya baik, agar saya tidak sakit hati. Seperti kebanyakan alasan orang-orang yang menghindari mengatakan yang sebenarnya dengan dalih tak ingin menyakiti. Tapi at the end mereka seringkali lupa, bahwa bagaimanapun kebenaran yang dibukakan di depan jauh lebih baik daripada kebohongan yang dibangun.

Percayalah kebenaran akan selalu terungkap ke permukaan dengan caranya. Selalu ada cara untuk itu, yang seringkali tak terduga. Dan niat baik yang tadinya untuk menjaga agar tidak menyakiti, malah sebaliknya, membuat orang lain semakin sakit hati, ketika mengetahui kebenaran itu dari pihak lain dan di belakang hari.

Sakit sekali dibohongi, dan perasaan dijebak dengan sengaja. Apalagi bila itu dilakukan oleh orang yang selama ini kita hormati. Segala hormat dan sayang itu runtuh dan menguap seketika. Menorehkan seiris luka dengan tercerabutnya harga diri yang terinjak-injak oleh sebuah penghinaan dari yang tersanjung.

Terima kasih komandan..Genderang perang sudah ditabuh, pantang langkah ditarik mundur, saatnya yang muda tampil memimpin…

Jogja, setelah enam bulan..

Thursday, December 6th, 2007

Menu makan malam yang tersaji di kotak langganan kami di kantor malam ini, tumben sekali, gudeg. Aih senangnya, udah lama gak makan gudeg. Padahal kemaren baru aja mendarat lagi di Jakarta setelah empat hari menghabiskan waktu di Jogja yang masih berhati nyaman, meskipun makin macet. Empat hari untuk menuntaskan dahaga selama enam bulan gak ke Jogja tentu saja gak cukup. Bahkan untuk menikmati gudeg jogja asli Yu Jum aja gak sempet. Ngunjungi warung makannya Bu Doning di Sendowo aja luput. Jadwal check up ke dokter gigi dan dokter herbal pun lewat dengan sukses. Dan sederet orang yang dengan tanpa mengurangi rasa hormat terpaksa tidak dikabari kalo saya lagi ada di Jogja. Karena kalo ngabari berarti punya konsekuensi kudu ngunjungin. Padahal agenda saya udah bener-bener padat merayap, kayak Semanggi kalo lagi abis hujan. Arrrrgggghhh…I wish I could have more time in Jogja.

Sabtu siang mendarat di Adisucipto, setelah terlantar dua jam di Cengkareng karena delay. Dah lama gak nginjekin kaki di Cengkareng pangling juga. Maklum sekarang kalo dinas luar kota selalu dimasukin main group sih. Jadi langganannya ya Base Off nya AU di Halim. Udah lama gak naek penerbangan komersil. Hahaha nggaya banget ya..Masuk pesawat pun cuma berkhayal bisa disambut hot towel dan juice apel seperti di pesawatnya "Bapak". Dan tentu saja lupakan satu set makanan enak lengkap dari pembuka sampe penutup plus sari kacang ijo andalan "pesawat Bapak" yang enak banget itu. Karena yang tersaji hanya segelas minuman mineral. Pasrah, namanya juga perjalanan pribadi ya ngirit maunya :).Tapi ada satu hal yang dipunyai, yaitu kebebasan. Huhuuuy…mau ngapain en pake baju apa aja gak ada yang melotot protes :)

Kayak anak kecil mau dapet mainan baru, rasanya excited banget. Damns, six months not visiting Jogja is the longest time for me. Sampe di Adisucpto saya celingukan mencari sosok yang pasti merentangkan tangannya untuk saya menghambur ke pelukannya. Yup, he’s there. Babe dodol yang semakin montoks aja rasanya, tapi makin empuk untuk mendaratkan diri di peyutnya, hahaha.. Masih dengan dandanan khasnya, gak berubah seperti 12 tahun lalu kami kuliah. Jins, kaos distro, dan sepatu kets putih.

Masuk ke mobil Genio estillo ijonya, dan saya pun merengek minta diajak makan ke tempat yang gak ada di Jakarta. Saya beneran pengen muasin lidah saya dengan makanan-makanan khas Jogja. Akhirnya kami makan di SS Babarsari. Pedes, enak, dan murah. Setiap kali ke Jogja emang saya selalu dikejutkan dengan murahnya harga-harga makanan. Ah, udah jadi orang Jakarta rupanya saya. Selembar duit 50 ribu rupiah bisa untuk ngopi orang 4. While di Jakarta hanya untuk secangkir kopi ukuran tall dan sepotong kue di warung kopi made in America itu.

Hari pertama di Jogja saya habiskan sisanya dengan nongkrong di tempat baru kebetulan deket rumah, MP Book Point. Di Jakarta juga ada sih, tapi Jeruk Purut holoooooh jauh bener yak dari tempat saya tinggal. Ngajak adek saya, Pay-Pay dan ponakan tercinta Kun-Kun yang kangen berat sama uwa nya. Ada Shaun yang lagi di Jogja juga join sama kita. Nice place, selain toko buku juga ada Rumah Kopi nya. Bener-bener paduan yang pas, buku dan kopi. Dan selama 4 hari di Jogja, 3 kali saya nongkrong disitu dengan mengajak ketemuan temen-temen yang berbeda. Semua tak ajak ngumpul disitu deh.

Hari kedua, minggu siang, saya sempat nyalon di salon langganan, trus ke MP Book Point lagi ketemu Kunto, yang ternyata sama sekali bukan orang baru hehehe. Senin saya ngisi kuliah Dasar-dasar Penulisan yang diampu Nunung Prajarto. Dosen gendheng yang bukan hanya seorang dosen, tapi abang, sobat en my best supporter dengan caranya yang ajaib itu. Sesi saya di kelas ini mesti saya ceritain sendiri, seru soalnya. Habis ngajar dijemput Babe Dodol yang dihiasi celaan dosen-dosen yang masih ada di jurusan sore yang hujan itu. Hahahaha biarin, paling enak emang bikin sirik orang ;)

Niatnya pengen nonton Quicky Express, tapi ternyata kehabisan tiket, lupa kalo itu senen, which is nomat. En di Amplaz itu kalo nomat 15.000, murah benerrrr…Jadilah nonton The Kingdom. Pulang tengah malem, gak bisa tidur, kepala ini penuh banget dengan ide-ide yang berlompatan. Sayang gak bawa laptop, jadinya cuma bisa mengendap di kepala, dan berusaha mengenyahkannya sejenak, coz i need some sleep..

Selasa niat hati mau ke dokter gigi apa daya batal, dokter langgananku udah pindah tempat praktek. Trus ke Galang di Baciro, and I ended up my day di MP Book Point lagi bareng Victor, Dian, Kunto, talking about past days,80’s life yang bikin kita ngakak gak berenti-berenti, ditambahin Iwan yang join belakangan, bikin makin ngakak. Ah..indahnya masa lalu. Tak terasa enam jam saya nongkrong di MP Book Point.

Hari Rabu, pagi saya bergegas ke Adisucipto, dan melewatkan kesempatan untuk makan pagi di Bu Doning karena takut telat sampai bandara. Dan ternyata waktu sampe bandara baru tau kalo delay 3 jam.Sialan..Tau gitu kaaaaannnnnn…..