Rumah Lama Yang Nyaman
Wednesday, January 30th, 2008Setelah ikut terbujuk untuk boyongan ke rumah baru dengan iming-iming berbagai fasilitas yang lebih wah, ternyata aku lebih menyukai rumah lama ini dengan segala keterbatasan dan kesederhanaannya. Rumah lama ini menyajikan kenyamanan dan keamanan yang tak bisa ditukar dengan berbagai fitur canggih yang ditawarkan rumah baru itu. Rasa nyaman dan aman yang lebih mahal dan mewah dari apapun.
Boleh orang mencela, mencibir dan sebagainya, tapi rasanya aku lebih suka berada disini. Bercerita tanpa takut kejujuranku harus ternoda. Bebas menulis tanpa takut diriku terancam secara virtual maupun fisik. Saya bisa berkisah dengan mengalir apa adanya.
Rumah baru itu memang menjanjikan popularitas, nama tenar dan traffic yang tinggi sebagai bukti pengakuan bahwa saya adalah blogger beken. Tapi ternyata bukan itu yang saya cari. Bukan hits yang tinggi, dan posting yang banjir komentar yang saya inginkan. Hal yang saya inginkan dari kegiatan nge-blog ini adalah bisa menulis apa yang ada di pikiran dan kepala saya tanpa harus merasa terancam dan terintimidasi. Itu lebih mahal dari apapun.
Saya gak terobsesi untuk menjadi tenar tapi hati lara karena ketenaran itu kemudian merampas kebebasan dan kemerdekaan untuk menuliskan apapun yang saya mau. Saya tak suka bila harus berpikir beribu kali sebelum mengetik rangkaian kata demi kata, bolak balik menghapus dan mengeditnya, menekan button publish dengan penuh keraguan. Benarkah ini ? Salahkah ini ? Diterusin atau dibatalin aja ?
Ternyata di luar sana begitu banyak stalker yang memata-matai gerak gerik saya dengan berbagai alasan. Bila tindakan itu dilandasi oleh niat baik tentulah tak menjadi masalah. Komentar-komentar yang masuk pun tak sedikit yang dilandasi rasa benci dan kecemburuan semata. Tentu saya bisa membedakan mana kritikan yang membangun dengan dilandasi kepedulian, dan mana kritikan yang dilontarkan untuk menjatuhkan karena alasan kedua.
Sang malaikat mengatakan bahwa saya harus bisa melihat sisi baik dari hal ini. Bahwa ternyata saya begitu specialnya sehingga harus menyita perhatian mereka. Mereka meluangkan waktu, energi, bandwith, untuk menyimak tulisan-tulisan saya, menganalisanya, mencaci maki grammar yang kurang tepat, menertawakan isinya, dan kemudian menjadikannya bahan gosipan paling gress mengenai diri saya. "Kalo kamu biasa-biasa aja untuk apa mereka memperhatikan kamu sebegitu rupa ? " kata malaikatku dengan bijak seperti biasa. "Berpikirlah positif, "katanya lagi.
Ya, itu memang cara yang terbaik untuk memandang setiap persoalan. Half full, not half empty. Terus terang aja saya masih kaget dan gagap menghadapi ini semua. Tak siap untuk menangkis serangan-serangan dari dunia virtual ini. Orang-orang yang merasa terusik dengan tulisan-tulisan di blog saya. Bahkan ada sebuah email yang dengan bahasa yang samar, mewanti-wanti saya untuk menurunkan posting tertentu. Atau seseorang yang telah mengamati saya selama ini, akan berbuat lebih pada saya daripada sekedar tahu jadwal keseharian saya, tahu detail tentang saya seperti no hape dan dimana saya tinggal. Sebuah ancaman bukan..? Sampai kepingan hati saya menawarkan apakah saya perlu pengawal khusus, dan saya bilang tak usah, tak perlu..saya menitipkan diri saya pada "pengawalan" Yang Maha Kuasa, Sang Maha Pelindung dan Penjaga.
Saya masih resah dan lelah, tapi satu hal yang saya harus tetap pertahankan. Semangat saya untuk menulis yang tak boleh padam. Atau saya kalah. Intimidasi dan teror yang saya alami belum apa-apa dibanding apa yang dialami seorang Pram tentunya. Semoga ini jalan yang akan mengantarkan saya untuk menjadi seorang penulis besar di kelak kemudian hari.