Archive for March, 2008

It Just About The Time

Sunday, March 30th, 2008

Setelah berjalan dua bulan setengah, akhirnya kami memutuskan untuk memberitahu seseorang tentang apa yang tengah kami jalani dan rencanakan. Salah seorang kolega yang cukup penting dikantor, untuk menjadi jembatan bagi kami dengan para boss, harus diberitahu. Lagipula we take her as our younger sister. She’s an open mind person that knows about us more than anybody else in the office.

She knows how I was struggling in my love life, up and down, and searching for someone that could understand such a complicated person like me is not an easy thing. And on our Friday lunch, I told her bout anything. How we started. What was going on in his marriage since a year ago and what happened to us recently.

"I’m happy for both of you," she said. Dia sangat mendukung apa yang sedang kami hadapi dan apa yang kami rencanakan untuk masa depan kami dalam waktu dekat ini. Dia cukup paham akan konstelasi yang terjadi, dan kemungkinan-kemungkinan yang akan kami hadapi berkaitan dengan pendapat yang mungkin akan muncul dari orang-orang sekitar kami yang tak paham dengan apa yang terjadi. Informasi yang sepotong atau disebarkan oleh orang-orang yang memang tak suka dengan kebersamaan kami, bukan tak mungkin akan sengaja menciptakan suasana tak nyaman bagi kami.

Tapi dia menguatkanku untuk tak terlalu menggubris apa yang nanti dikatakan orang. " Udah gak usah dipikirin, mereka gak tau apa-apa," begitu katanya. Ya memang mereka tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Dan mungkin tak perlu tahu, karena ini berkaitan dengan aib seseorang, yang tak layak untuk diumbar. Bagaimanapun kami harus menghargainya sebagai ibu dari anak-anak.

Aku sangat lega usai menceritakan ini semua. Pada saatnya memang kami harus maju ke hadapan para bos kami, untuk menceritakan apa yang terjadi dan apa yang kami rencanakan untuk hidup kami. Pasti akan mengejutkan, meski salah satu dari bos kami sudah mengetahui mengenai kisah gelap itu setahun lalu. Tapi siapa yang akan mengira bahwa kemudian kami saling menemukan kepingan hati, dan seseorang untuk melanjutkan hidup bersama ini hanya di ruangan sebelah ? Kami tak pernah merencanakan ini.. Ini semua rencana-Nya yang terjadi dengan indah pada waktunya.

Ini terjadi ketika aku sudah memutuskan untuk berhenti mencari, berhenti mengejar dan berhenti berharap. "Maybe marriage is not my thing," pikirku pada saat malam tahun baru aku mendepak seseorang yang tak tahu apa yang dia inginkan dari kebersamaan kami. Ternyata sepuluh hari kemudian Tuhan memberikanku seseorang yang selama ini ada di hadapanku, dan tanpa pernah kuperhatikan.

Begitu juga dia. " Aku hanya berencana untuk menjadi duda, Nden. Gak kepikir bahwa aku akan bersama lagi dengan seseorang, memiliki kehidupan baru. Bisa mencintai seseorang lagi. Bahkan aku sudah berpikir akan menjadi biksu, masuk gua dan membesarkan anak-anak sendirian, menepi dari hingar bingar dunia," katanya.

Ya, kami tak pernah merencanakan ini. Semua mengalir begitu mudah, indah, dan bersahaja. Ketika manusia-manusia tercampakkan ini menyerahkan hidup pada Sang Maha Pemilik. Dan Dia menjawab doa dan kepasrahan kami dengan cara-Nya yang misterius.

Dan aku pun menangis, terima kasih Tuhan..

Reuni Kecil

Sunday, March 30th, 2008

Pertemuan di resepsi pernikahan Krishna dan Ade, menjadi momen bagi kami yang lama tak bertemu unuk kangen-kangenan. Usai mengucapkan selamat pada pengantin dan foto-foto, kami melanjutkan acara dengan ngeteh di Tea Addict Gunawarman. Sofa besar di pojokan itu menjadi tempat kami berenam, tanpa Derry dan Linda, melepas rindu dan berbagi cerita. Bahak tawa memenuhi ruangan kafe yang tak begitu ramai itu, ketika cerita kami mengingatkan pada banyak kisah culun dan memalukan di masa lalu. Ah tak terasa masa remaja itu telah berlalu 14 tahun lamanya. Feels like yesterday.

Secara fisik memang tak banyak yang berubah pada diri kami masing-masing. Akbar yang pebasket, first base softball 8, dan penari kontemp jaman SMA yang dulu skinny dan sporty ini, sekarang nampak chubby dan berisi. Bapak dua anak ini memang sudah mengganti olahraganya menjadi golf. Deni Boss, sang ketua kelas masih mungil seperti dulu, Ervan masih dengan perawakannya dulu lengkap dengan wajah jahilnya, Berry juga tak berubah banyak, Lina masih kurus tinggi dan berkulit gelap seperti dulu. Hanya saja bila dicermati lebih dekat, yang berubah karena pertambahan usia dan beban hidup yang semakin berat adalah kerut-kerut di sudut mata. Kuamati kerut-kerut itu nampak jelas di sudut mata Lina, Berry, dan Krishna.

Aku sendiri belum memiliki kerutan itu, tapi mata bagian bawahku sudah nampak cembung dan berkantung karena kurang tidur dan istirahat yang baik. Usia memang tak bisa dipungkiri telah menorehkan jejaknya pada tubuh kami. Tapi jiwa kami rasanya tetap muda, atau mungkin upaya denial bahwa usia kami semua sekarang sudah melampaui angka 30.

Bila bertemu dengan mereka waktu rasanya sejenak kembali ke masa 90an itu. Teringat kenakalan-kenakalan yang kami lakukan, nama-nama yang pernah menjadi perbincangan hangat diantara kami saat itu. Barang-barang dan merk yang kami kenakan, dan tempat-tempat yang jadi tempat hang out kami waktu itu memaksa otak untuk kembali mengingatnya. Senyum geli dan derai tawa menghangatkan reuni kami. Membuat kami rindu untuk kembali muda, ceria, tanpa beban hidup yang menghimpit seiring usia yang semakin beranjak tua dan tanggung jawab yang semakin bertambah.

Empat belas tahun telah kami arungi usai kebersamaan kami, dan masing-masing telah mereka jalan hidup masing-masing. Ada yang telah merajut kehidupan di benua lain, ada yang jadi pelaut, pilot, dosen, PNS, marketer, perias pengantin, tapi juga ada yang telah meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Sebagian besar meniti karir di Jakarta seperti aku, dan sebagian besar lainnya masih tinggal di Bandung. Banyak yang sudah memiliki anak, entah dua ataupun satu, tapi ada juga yang masih berjibaku untuk mencari pasangan hidup. Banyak dari kami para perempuan yang kemudian end up jadi ibu rumah tangga, sedangkan beberapa lainnya sudah menduduki posisi yang tinggi dalam karirnya. Bahkan ada yang sudah menjadi pimpinan perusahaan miliknya sendiri dengan ribuan karyawan. Life is just a matter of choice, rite ?

Masa remaja memang penuh ranjau. Bila tak pandai meniti langkah, masa depan lah taruhannya. Saat ini ketika kami menengok ke belakang, maka kami mengucap syukur atas apa yang kami raih saat ini. Bagaimana kerja keras dan perjuangan menahan diri untuk mengabaikan godaan kiri kanan telah menampakkan hasil. Namun tentu saja perjuangan belum berhenti. Jalan panjang masih menanti untuk dijejaki dan dimaknai, agar kami semakin arif menjalani hidup.

Perbincangan selama dua jam itu memunculkan ide untuk mengadakan reuni khusus angkatan kami, ‘94. Sejak lepas SMA belum pernah satu kali pun ada reuni besar yang melibatkan anak-anak satu angkatan ‘94. Memang masing-masing dari kami masih saling bertemu satu sama lain secara individual, atau secara berkelompok hanya terjadi di acara-acara pernikahan.Untuk itu kami saling mencari jejak kawan-kawan lama yang terpisahkan oleh waktu dan jarak.

Adakah diantara anda semua yang mengenal teman, sodara, atau keluarga yang merupakan lulusan SMA 8 Bandung angkatan ‘94 ? Bila iya tolong sampaikan bahwa kami ingin mengajak berkumpul sejenak untuk melepas rindu dan menjalin silaturahim yang terputus. Thanks atas bantuannya ya..Ditunggu kontaknya, bisa ninggal komen di posting ini atau send message to my friendster.. Hatur nuhun :)

Krishna’s Wedding

Sunday, March 30th, 2008

Img_89221Kemarin, Minggu 30 maret 2008, salah seorang sahabat baikku semasa SMA (akhirnya) menikah. Krishna Budiawan yang telah dibaptis menjadi orang Batak dengan tambahan marga Siregar ini, menikah dengan (mantan) artis sinetron Ade Moura yang bernama lengkap Deasy Domora Nasution.

Auditorium PTIK Blok M tadi siang itu menjadi tempat berkumpulnya kepingan-kepingan yang tercecer sejak kami lulus dari SMA 8 Bandung tahun 1994 silam. Tak terasa memang 14 tahun telah berlalu sejak kami meninggalkan masa remaja yang penuh warna itu. Tawa canda dan celetukan-celetukan jail mengorek kisah masa lalu menjadi menu utama pertemuan tadi siang itu.

Tak banyak yang bisa hadir memang. Tapi itupun sudah cukuplah untuk sedikit mengobati kangen setelah sekian lama tak ketemu. Ada Akbar yang hadir sendirian tanpa istri dan dua baby-nya yang berada di Bandung, Derry yang hingga lima tahun masih betah hanya berdua saja dengan Linda istrinya, Deni Boss -KM kelas kami 3 Fis 3 - yang masih tetap mungil, meskipun sudah menjadi ayah dari (hampir) dua anak, Ervan yang jadi juragan kancing di Roxy, dan kami bertiga yang datang barengan, aku, Lina dan sahabat ku satunya, Berry yang khusus datang dari Bandung.

Krishna yang sekarang bermukim di Singapura itu my long time buddy. We’ve been through a lot in our youth life. Friend in crime, temen curhat yang paling dicari, dan kami saling memanggil dengan panggilan "sayang", Pendhul.

Lulus SMA dia terdampar di Malaysia, melanjutkan sekolah diploma di bidang quantity surveying di sebuah kampus yang berada di daerah yang terpencil, jauh dari Kualalumpur yang modern. Keluh kesah akan sepi dan fasilitas kota tempatnya tinggal, membuatku sering menghiburnya dengan mengirimi surat dari Bandung bercerita kabar terbaru dari Bandung, dan merekam berbagai lagu Indonesia terbaru di kaset untuk kemudian kukirim ke Malaysia dengan pos. Tahun itu masih jaman jahiliyah yang belum kenal email, dan download lagu dari internet. Jadilah surat berlembar-lembar folio yang ditulis tangan, dan kaset yang kukirimkan menemani hari-hari Krishna di perantauan.

Keluarganya sangat menyenangkan. Mereka bisa menerima bahwa perempuan dan laki-laki bisa bersahabat baik tanpa harus ada bumbu asmara. Mama nya Krishna jadi tempatku curhat ketika aku berpacaran dengan lelaki yang tak mungkin bisa diterima keluargaku. Rumahku juga jadi tempat "penitipan" pacarnya Krishna, ketika si pacar itu juga tak disetujui keluarganya.Akulah yang dicari bila Krishna sedang patah hati, dan begitu juga bila lama tak bertemu, aku pun wajib untuk "lapor" padanya mengenai lelaki yang sedang dekat denganku saat itu.

Setiap pacarnya (dulu) selalu kukenal, dan begitu juga pacarku wajib kenal Krishna, setelah Berry tentunya. Kata cemburu tak perlu ada bagi pacar-pacar kami atas persahabatan ini. Bahkan aku pernah ikut liburan dengan keluarganya ke Anyer, dan tidur sekamar dengan neneknya, pada saat pacarnya saat itu tak bisa ikut karena sedang sakit cacar.

Keluarganya sangat fun, terbuka, dan menyenangkan. A family that I dream of. Hubungan anak dan orang tua yang begitu cair, hangat dan sangat dekat. Dan itu juga berlaku untuk kami para sahabat anak-anaknya. Begitu juga dengan kakaknya Angky dan adiknya Indri, ditambah lagi dengan sepupu-sepupu mereka Ison dan Della, serta nenek tercintanya yang juga mengenal kami dengan baik.

Hari ini aku dengan tulus turut berbahagia atas pernikahan mereka. Akhirnya sahabatku menemukan pelabuhan terakhirnya setelah sekian lama mencari cinta, dan bertahun-tahun terakhir ini jatuh bangun berjuang menaklukan keluarganya Ade. Maklum Ade ini anak tunggal dari keluarga Batak. Tapi rupanya upaya keras Krishna berhasil meluluhkan hati orang tua dan keluarga besar Ade, dan menganugerahkan marga Siregar bagi Krishna yang campuran Jawa - Sunda untuk resmi menjadi bagian dari keluarga besar mereka.

Selamat nya Dhul, sing awet rukun. Awas siah maneh mun teu baleg, dicepret ku urang..

I’m happy for you Na, truly from my heart. Hope to see you soon in Singapore..

Hari Pertama di Dubai

Monday, March 17th, 2008

Pesawat Boeing 777-300 ER bernomor penerbangan EK 349 itu akhirnya mendarat di Bandara Internasional Dubai, pukul 05.40 waktu setempat, atau pukul 8.50 WIB. Waktu Dubai memang GMT+4. Mata masih sepet banget, karena tidak tidur dengan cukup. Gimana mau tidur enak, selain karena duduk di kelas ekonomi, jadwal penerbangan pun nanggung. Dari Jakarta take off jam 9 malam menuju Singapura yang cuma sejam aja dong. Transit sejam di Changi, lanjut ke Colombo Srilanka 3,5 jam penerbangan. Baru mau merem, dikasih makan lagi. Udah kenyang, baru mau pules, udah landing lagi.

Transit lagi sejam, sukurlah kali ini gak perlu turun dari pesawat. Saya pun bisa melanjutkan upaya tidur dengan menutup kepala pake selimut warna cokelat muda dengan logo Emirat itu. Sayang gak bisa dibawa pulang nambah koleksi, soalnya pas mau landing, pramugarinya keliling minta itu selimut sama headset. Tau kali ya kalo penumpang kayak saya nih suka ngutil selimut pesawat buat koleksi, gak dipake sih hanya pamer aja kalo udah pernah naik airline ini itu, hehehe ketauan ya… :)

Akhirnya perjalanan menuju Dubai pun diakhiri setelah menempuh penerbangan hampir 4 jam dari Colombo. Langit masih gelap ketika kami tiba, seperti jam 4 pagi di Jakarta. Keluar dari pesawat kita dibawa muter-muter pake bis besar dengan bergelantungan. Penuh perjuangan untuk bergelantungan dengan mata yang masih super berat.

Sampai pintu kedatangan pun kami berlima celingukan, nyari orang KBRI yang jemput. Biasanya dalam perjalanan dinas seperti ini, setibanya di bandara tujuan, kami sudah dijemput oleh petugas dari KBRI. Tapi tadi pagi itu kekecualian. Kami bengong cukup lama di ruang kedatangan, karena masih bingung siapakah yang akan menjemput, dan harus kemanakah kami menuju dari bandara ini.

Kami berlima belum ada yang pernah ke Dubai sebelumnya. Setelah telepon sana sini, akhirnya kami mendapatkan nama seorang petugas dari KBRI yang akan menjemput. Ternyata memang kami ini benar-benar anak tiri. Gak ada yang ingat menjemput. Petugas penjemput ini pun berangkat ke bandara karena dalam perjalanan menuju kantor ditelpon Pak Konjen untuk menjemput kami, setelah pak ketua rombongan kami mengontak Konjen. Nah lhooo..berarti emang gak ada orang yang "harusnya" jemput kita ya ? Nasib berangkat tanpa orang protokol ya begini ini, gak dianggep.

Tapi sudahlah, kami harus mandiri, jangan tergantung sama tim protokol yang seringkali pada bersikap jumawa abis itu. Mereka memang sepertinya merasa berada di kasta paling tinggi dalam struktur di Istana Presiden. Bagian paling penting sedunia, yang lain gak dianggap kerja. Lucu juga sih, sampai teman di bagian substansi berkomentar dengan nada kesal, " Buat mereka lebih penting ngurusin kursinya Presiden, daripada mikir nanti Presiden akan ngomong apa."

Ya emang susah juga bila masing-masing hanya melihat dari sisi kepentingannya saja. Sebetulnya sih gak perlu ada kesenjangan dan sirik-sirikkan. Kemudian menganggap pekerjaan yang satu lebih gampang dari yang lain, dan merasa pekerjaan bagiannya yang paling berat dan penting. Sama saja kok pekerjaan kita itu, tujuannya kan satu, mendukung Presiden untuk bisa tampil maksimal.

Bagian substansi maupun protokoler, pengamanan, dan bagian peliputan seperti saya dan tim di website Presiden serta semua perangkat lainnya, sama-sama punya kontribusi untuk mendukung Presiden. Bila acara berjalan mulus, substansi bagus tapi ndak ada yang meliput juga, ya ndak sampai dong "message" yang diharapkan itu sampai ke publik.

Semua bagian itu penting kok, cuma perlu saling menghargai dan koordinasi yang baik saja intinya. Gitu aja kok rasanya susah banget ya. Semua -termasuk saya sendiri- kadang lebih suka menunjuk pihak lain sebagai yang egois dan gak mau tahu pekerjaan orang lain, daripada introspeksi dan menjadi manusia yang lebih ramah dan kooperatif. Susah emang kalo kerja pake ego tinggi dan emosi, yang ada cuma berantem saling menyalahkan. Capek fisik dan capek hati.

Akhirnya malam ini saya menghabiskan malam pertama di Dubai, di Fairmont Hotel di Sheikh Zayed Road. Bagus banget kamarnya, lengkap dengan living room berisi sofa satu set, dan dua TV . Satu meja kerja yang lux, kamar mandi shower maupun bathtub, dengan peralatan toiletries merk ternama dari London. Petugas cleaning service pun rajin membersihkan kamar, dan menambah botol minuman, maupun perlengkapan lain 3 jam sekali. Dindingnya yang ditutup wallpaper warna krem dihiasi dengan lukisan-lukisan yang cantik. Pokoknya very nice room deh.

Kalo di Jakarta, at least di hotel minimalis langganan saya, kamar yang saya tempati sama Janah ini junior suite lah kelasnya. Pertama masuk setelah di"pendam" di badan pesawat 8 jam, Janah yang belum lama menikah ini langsung komentar, " Kamarnya bagus banget Mbak, sayang sama dirimu, bukan sama suamiku," katanya. Hahaha emang iya, ini kamar kayaknya lebih pas buat bulan madu deh daripada buat kerja :)

Beginilah kisah hari pertama saya di Dubai, more stories later ya guys..ngantuk nih.

Tentang Perceraian

Wednesday, March 12th, 2008

Ritual pagiku adalah ngopi sambil nonton berita pagi, dilanjut dengan tayangan gosip. Begitu pula tadi pagi, dengan penampakan masih awut-awutan dan secangkir kopi mocca hangat di tangan, jari-jari pun bergerak memencet tombol di remote TV berganti-ganti channel yang intinya sama, mencari acara infotainment.

Tampak sidang perceraian Ariel Peterpan dan Sarah Amelia menjadi hot gossip pagi ini.Persidangan dua orang yang akan bercerai, dimana biasanya diliputi suasana hening dan sangat personal, kali ini hiruk pikuk dengan kamera foto, TV, maupun mike aneka logo yang terjulur kesana-kemari. Ratusan orang pun berbaur, penggiat infotainment, fans, dan juga sejumlah orang berpakaian seragam ormas tertentu yang (sok) sibuk mengamankan persidangan. Heboh judulnya.

Nasib jadi artis di jaman infotainment begini, perceraian pun jadi konsumsi publik. Kisah pedih yang harus dilalui kedua manusia ini harus menjadi tontonan untuk meningkatkan rating. Ironis memang. Bagaimanapun perceraian adalah sesuatu yang tidak untuk dibanggakan oleh siapapun yang pernah melaluinya.

Begitu juga yang sedang dilalui oleh kekasih tercintaku. Menyesakkan melihatnya berjibaku dengan masa transisi yang harus dijalaninya ini. Pertemuan dengan teman pengacara di sebuah kafe di Kuningan minggu lalu, membuatnya harus membuka lagi luka lama itu. Kronologis kisah pernikahan mereka, hingga akhirnya terkuak sebuah kisah gelap dari sang istri, yang membuat pernikahan ini tak bisa lagi diselamatkan. Kisah menyakitkan itu harus diungkap lagi. Bagaimana kekasihku berlaku bak detektif, menemukan fakta-fakta yang meruntuhkan dunia yang telah dibangunnya selama 10 tahun bersama sang istri.Berupaya keras memperbaiki biduk yang beranjak karam, hingga sampai pada titik menyerah, dan memutuskan untuk berpisah dan melanjutkan hidup pada jalan yang berbeda.

Aku tau kisah itu, dan aku tak mau mendengarnya lagi. Cukup. Aku tak tahan melihatnya begitu menderita lagi ketika harus mengurai kembali ingatannya, demi sebuah kronologis yang harus dilampirkan dalam proses hukum untuk mengakhiri pernikahannya.Aku pun memilih beranjak ke toilet, dan membiarkannya dengan si pengacara mengurus detail persiapan ini itu. Aku tak tega melihat wajah perihnya itu, hati ini turut bisa merasakan kesakitan itu.

Kami manusia-manusia yang pernah kehilangan, dicampakkan, dibuang dan dilemparkan ke jurang yang dalam. Tubuh carut marut penuh luka ini tertatih-tatih kembali berusaha berdiri dan melangkah. Kami bertemu dalam salah satu tikungan yang direncanakan-Nya dengan indah. Saling membalut luka dan saling berpegang tangan mencari kekuatan.

Aku hanya ingin mendampinginya melalui semua ini.Meski mungkin aku tidak selalu bisa memberikannya yang terbaik. Rupanya kebersamaan kami mengajarkanku untuk harus bisa menjadi manusia yang lebih sabar, dan tabah. Dan aku belajar banyak melaluinya.

Lelaki tercintaku yang sedang berjuang melanjutkan hidupnya itu. Hanya bisa kutatap matanya dan kugenggam tangannya. Kubisikkan betapa aku mencintainya, dan ingin beranjak tua bersamanya. Bersama dengan kedua buah hatinya yang juga akan menjadi anak-anakku, tumbuh bersama dengan anak-anak kami kelak.