Learning another lesson..
Sunday, May 25th, 2008"Jangan dikendalikan situasi, tapi kita yang mengendalikan situasi," begitu kata lelaki tercintaku beberapa hari lalu. Dia tahu sekali batas kesabaranku sudah benar-benar di titik nadir, kemarahanku benar-benar sudah diubun-ubun, dengan rasa frustrasi yang sudah memuncak.
Beruntung saya memiliki lelaki yang meski sama keras kepalanya, tapi mau mengalah ketika dia tahu bahwa saya hanya ingin didengar. Meski dia bilang dia punya segudang data untuk dikeluarkan dan siap diperdebatkan, tapi dia cukup bijaksana untuk tidak melakukan itu. Dia hanya diam dan mendengarkan ocehan saya yang panjang pendek dengan nada tinggi itu.
Dia tahu saya muak. Pada titik tertentu saya tahu bahwa dia juga mengalami kemuakan yang sama. Tapi karena kami mengerjakan hal yang berbeda, kami muak untuk hal yang berbeda pula. Kami hanya perlu bertahan untuk beberapa saat lagi. Bahwa ini hanyalah masalah waktu, kesempatan pertama yang lewat di depan mata, tentu akan kami sambar dengan segera.
Kami hanya ingin hidup baru, yang lebih berkualitas dan bermakna. Kami mendambakan ketenangan untuk biduk yang baru saja kami kayuh. Kami memimpikan sebuah rumah yang nyaman berselimut cinta, bukan hiruk pikuk yang bernama prestise.
Kami tak perlu ketenaran untuk berkarya bagi sesama. Kami tak perlu liputan media untuk menunjukkan kecintaan kami pada tanah air. Kami tak perlu nama besar ini hanya untuk menunjukkan bahwa kami manusia terpilih.
Hanya satu yang pada awalnya menggiring kami kesini. Idealisme dan semangat untuk bisa berkontribusi pada perubahan di negeri ini. Untuk semua yang lebih baik. Karena kami cinta negeri ini. Kami ingin angin perubahan bertiup di bumi pertiwi yang (dulunya) permai dan elok ini.
Tapi rupanya idealisme itu sudah tak laku lagi. Tak ada lagi tempat untuk sebuah idealisme. Ruang-ruang itu terlalu sesak untuk sebuah kursi lagi yang berstempelkan tulisan "idealisme". Kata itu sudah mulai usang dan jarang terdengar lagi di telinga. Pernah sekali-dua kali diucapkan, sayup-sayup kemudian lamat-lamat hanya tertinggal bisikan lirih dan mati.
Hanya satu yang sekarang kami sadari, kenapa kami ada disini.Karena disinilah tempat kami untuk menemukan satu sama lain. Untuk memadukan masing-masing kepingan yang hilang itu menjadi utuh dan lengkap. Saling menyempurnakan dan bahu membahu membarakan kembali idealisme kami, untuk Indonesia lebih baik. Bumi yang kami cintai, tempat kami lahir dan dibesarkan. Tempat nenek moyang kami berakar dengan kearifannya yang berangsur lenyap.
Tidak ada hal yang kebetulan, memang. Dan menemukannya adalah "kebetulan" terindah dalam hidup seorang Nenden. To keep that idealism alive, to nurture that briliant ideas in my head, and to know that I’m not the only dreamer, to realize that I’m not an insane lady who have those wild thought, to feel that I’m being loved, and to have a reason why I want to live longer.