Reader’s Theory
Thursday, June 26th, 2008"Jangan berusaha untuk menyenangkan pembaca," ini masih kata GM di sesi di TUK minggu lalu itu. GM menyebutnya Reader’s Theory. Seorang GM mungkin bisa dengan pede nya mengatakan itu. Bahwa dia tidak berusaha menyenangkan pembaca dengan tulisan-tulisanya. Dia menulis apapun yang membuatnya marah, senang, sedih, prihatin misalnya. Seperti belakangan dia menuliskan kegeramannya tentang ulah FPI dan para penentang Ahmadiyah itu.
Paling enak memang seperti itu. Menulis itu pada intinya untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. Tak heran bila kemudian sering disebut orgasme intelektual, karena menuangkan pikiran-pikiran yang memenuhi kepala dan setelah terwujud dalam sebuah tulisan si penulis pun kemudian merasa senang dan puas.
Apakah kemudian pembaca yang membaca tulisan hasil orgasme itu juga turut merasakan kepuasan dan kesenangan yang sama ? Tentu tak ada yang bisa menjamin. Dan sebaiknya tak usah dipikirkan. Karena kita tidak dalam kapasitas untuk menyenangkan dan memuaskan semua orang yang membaca tulisan kita.
Sebagai penulis wannabe seringkali saya merasa terganggu oleh orang-orang yang mengkritik tulisan-tulisan saya. Dulu dengan mudahnya saya kemudian menerima semua kritik itu tanpa filter. Saya menelan bulat-bulat pendapat para pembaca yang kritis itu, dan tanpa disadari pendapat mereka kemudian "menyandera" kreativitas saya. Karena kemudian saya jadi sangat hati-hati untuk tidak dikatakan takut.
Saya seperti kehilangan kebebasan dan identitas diri, karena saya merasa berada dalam pengawasan mikroskop. Saya tahu mereka ada di luar sana, memperhatikan saya, menunggu tulisan-tulisan saya muncul untuk kemudian mereka komentari. Saya jadi disetir oleh sebuah keinginan, berusaha membuat para kritikus saya puas dan senang. Kondisi yang tentu saja tidak sehat.
Dalam sesi itu saya tergelitik untuk bertanya pada GM tentang teori pembaca ini. Saya menanyakan bagaimana dia "berdamai" dengan pendapat orang-orang yang membaca karyanya, yang tentu tak semuanya suka dan setuju dengan isi tulisan-tulisannya itu.
Menjawab pertanyaan itu, sekali lagi GM menegaskan mengenai tidak ada perlunya untuk berusaha menyenangkan pembaca. Percuma, karena hanya akan melelahkan pikiran, bukankah kepala orang berbeda isi dan warna. Mau menyenangkan pembaca yang mana ?
"Bersikaplah demokratis terhadap pembaca," kata GM. Dalam arti kita juga menghargai pendapat mereka tentang tulisan kita. Itu adalah hak pembaca untuk berkomentar, untuk menilai tulisan kita. Begitu juga pembaca harus menghargai pendapat dan pendirian si penulis dalam tulisan-tulisannya. Intinya antara pembaca dan penulis harus saling menghargai.
Jadi saya tak perlu minta maaf pada anda pembaca blog saya yang merasa tak senang dan tak terpuaskan oleh posting-posting saya.Karena adalah hak saya untuk menulis apapun yang ingin saya tulis. menuangkan pendapat, kegundahan hati dan perasaan terdalam sekalipun.
Silahkan berkomentar apapun terhadap tulisan-tulisan saya. Saya menghargai apapun pendapat anda, dan tak akan pernah memaksa anda untuk suka dengan tulisan-tulisan saya, bila anda memang tak suka. Seperti anda juga tak bisa memaksa saya untuk menulis dengan cara yang seperti anda inginkan.
Kata GM " Takut boleh tapi tak menyerah. Takut tapi tidak berarti takluk".. Setuju sekali Mas Goen !