Kota ketiga dalam perjalanan saya bersama dua orang rekan wartawan online lainnya di Amrik, adalah Orlando. Tapi sebetulnya kami tak tinggal di Orlando. Dan lokasi-lokasi pertemuan kami pun kebanyakan di luar kota. Maka tak heran bila penyelenggara menyediakan fasilitas mobil, yang disupiri oleh penerjemah sekaligus komandan perjalanan kami, selama kami di Orlando.
Hotel tempat kami tinggal, Embassy Suite Orlado North berlokasi di Altamonte Spring, Orlando coret. Tempat pertemuan pun hanya satu saja yang berlokasi di downtown Orlando, yaitu kantor koran lokal Orlando Sentinel.
Pertemuan dengan pembuat software kampanye berlangsung di kota kecil bernama Sanford, 30 menit dari Orlando. Kantor tim kampanye Obama untuk negara bagian Florida ada di Tampa, sekitar 1 jam dari Orlando. Poynter Institute,tempat pelatihan jurnalis di St.Petersburg, tepatnya di Tampa Bay, hampir dua jam dari Orlando.
Sanford kota kecil di Seminole County , dengan setting seperti di film-film Amerika yang sering saya lihat. Kota kuno dengan toko-toko kecil yang menjual barang-barang antik. Terlihat sepi. Di sudut jalan ada warung yang menjual es krim home made yang enak, dan taman kota yang asri. Lokasinya yang berada di bibir Danau Monroe, menjadikan udaranya segar meskipun banyak angin.
Poyinter Institute, tempat para jurnalis dari seluruh dunia mengikuti pelatihan, berada di kompleks University of South Florida St.Petersburg. Lokasinya benar-benar sempurna. Saya iri melihat kampus seindah ini. Ada banyak yacht yang terparkir di pelabuhan, dan persis di depannya berdiri Museum Dali.
Saya awam lukisan, hanya tahu nama Salvador Dali itu pelukis hebat. Tapi alirannya apa, lukisannya yang terkenal apa saja, saya benar-benar tak tahu.Karena kami datang 30 menit lebih awal dari waktu pertemuan, jadilah kami masuk ke Museum Dali itu untuk mengisi waktu. Setiap pengunjung membayar 10 USD untuk bisa masuk dan menikmati koleksi lukisan karya Salvador Dali. Kami juga membayar, tapi belakangan dikembalikan ketika tahu bahwa kami tamu dari Poynter Insitute.
Masuk ke museum itu membuat saya terpesona. Saya kehabisan kata-kata,..indah sekali. Apalagi sedang digelar pameran khusus tentang karya Dali yang bertema perempuan. Dahsyat, betah rasanya berjam-jam di museum yang terawat dengan baik dan ditata dengan cantik itu. Saya jadi menyesal hanya punya waktu 30 menit.
Toko souvenirnya pun lengkap. menggoda mata untuk membawanya pulang sebagai oleh-oleh. Harganya tak murah, tapi sangat layak untuk dibeli. Saya membeli dua helai dasi untuk dua orang bos di kantor. Dasi sutera dengan cetakan lukisan Dali. Mahal tentu tapi tak ada artinya dibanding untuk surat rekomendasi yang telah mereka tandatangani, dan telah menerbangkan saya ke Amerika menikmati perjalanan ini.
Di Tampa kami mengunjungi markas besar tim kampanye Obama, yang tak boleh kami ceritakan apa isinya, siapa saja yang kami temui dan apa yang kami bicarakan, seperti yang saya kisahkan disini.
Dalam perjalanan pulang, kami mampir ke Hard Rock Hotel and Casino Tampa. Untuk pertama kalinya saya masuk kasino, dan telongong-longong liat kasino yang super luas itu. Berbagai mesin terpajang, dan terlihat cukup dipenuhi pengunjung yang kebanyakan orang tua.
Kami jadi membandingkan dengan kebanyakan orang-orang tua di Indonesia yang menghabiskan hari tua dengan momong cucu, ikut pengajian, atau rajin ke gereja ikut kebaktian. Tapi di Amerika orang-orang tua pada berjudi ke kasino.
Tentu saja tak bisa diklaim bahwa orang tua di Amerika semua seperti itu, mungkin ini hanya sebagian kecil saja. Tapi pemandangan orang-orang tua dengan tongkat, kursi roda, bahkan ada yang dengan penyangga leher pada asik di depan mesin-mesin judi itu rasanya cukup ajaib buat kami bertiga, hehehe..Gile kaya-kaya bener ya orang Amerika.
Hari terakhir, Sabtu 26 Juli 2008, adalah hari yang paling ditunggu, karena seharian kami ke Walt Disney World. Dari sekian area permainan yang letaknya cukup berjauhan, kami harus memutuskan ke area mana kami akan pergi. Karena setiap tiket hanya bisa untuk satu area, dan kami perlu satu hari untuk di setiap tempat. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya kami memilih Magic Kingdom.
Tiket seharga 71 USD sudah disediakan oleh penyelenggara, kami tinggal datang dan bermain. Asiiiik. Seperti motto mereka "where dreams come true", ini rasanya seperti mimpi buat saya. Impian masa kecil saya yang sudah lama terlupakan akhirnya kesampaian. Saya tumbuh besar dengan komik Donal Bebek, dan film-film Disney yang waktu itu masih berbentuk video VHS dan betamax. Tokoh-tokoh seperti Minie and Mickey Mouse, Goofy, dan banyak lagi ada di keseharian saya. Dan di usia 33 ini akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di Disney World Orlando. Wooow…for free pula !
Dari Disney kami terus ke Universal Studios Side Walks.Sebetulnya tak sengaja. Tujuan awalnya hanya untuk ke HRC Orlando, membeli merchandise untuk my baby yang penggemar berat barang-barang bermerk HRC. Ternyata HRC Orlando lokasinya di spot yang super keren ini.
Malam mingguan di super blok yang meriah penuh warna dan hingar bingar musik live dari panggung terbuka, menikmati deretan resto dan toko yang dibangung mengelilingi sebuah danau, dan cuaca musim panas yang sudah lebih bersahabat, benar-benar malam yang tak terlupakan. Damn..what a perfect day
Sayang sekali tak bisa menikmati malam lebih lama, meskipun sangat ingin. Kami harus pulang ke hotel dan mengepak koper kami yang sudah mulai penuh sesak. Subuh keesokan harinya kami harus terbang ke kota berikutnya, Minot North Dakota. Perjalanan dari ujung ke ujung benua Amerika. Orlando di selatan dan Minot di Utara perbatasan dengan Kanada. Penerbangan kami dengan Northwest transit di Mineapolis selama empat jam.
Fyuh.. masih banyak yang belum kami lihat dan nikmati di Florida, empat hari jauh dari cukup. Kami pun harus meninggalkan Chrysler abu-abu metalik yang keren itu pula. Saya pun kembali bermimpi, suatu saat bisa kembali ke Disney, Orlando dan Florida, dengan my baby dan anak-anak kami tercinta. It would be a perfect escape with the kids that remains in their heart for the whole life. Mulai nabung ya beib