Tentang Perjalanan Itu..
Friday, August 22nd, 2008Tiga hari lalu untuk pertama kalinya sejak bubar jalan di Bandara Cengkareng setibanya di Jakarta, kami bertiga -saya, Wisnu-Mbak Nurul- peserta IVLP, bertemu lagi di Kedutaan AS.
Kali ini kami diundang, karena mereka ingin mendengar langsung dari kami pengalaman, review, saran, dan masukan mengenai perjalanan 3 minggu kami ke AS. Seru, karena kami jadi mengenang kembali perjalanan itu. Menceritakan pengalaman-pengalaman baru yang kami temui selama menjadi "american". Pertemuan-pertemuan dengan berbagai pihak yang telah menyediakan waktunya untuk berdiskusi dengan kami. Jalan-jalan kemana saja kami, kesan apa yang kami dapat, dan apa yang menjadi input kami bagi program serupa di masa datang.
Syukurlah dari laporan organizer dan host di DC yang menjadi host kami, pihak
Kedutaan AS di Jakarta mendapatkan kabar baik mengenai kami. Kami dinilai sebagai tim yang energik, dan dinamis. "Bila biasanya menjelang hari-hari terakhir para peserta sudah lelah, bosan, dan home sick, kami mendengar bahwa kalian bertiga ini tetap antusias dan malah minta lebih lama, " kata Mbak Reni, bagian Public Section Affair di Kedutaan AS yang mengurusi keberangkatan kami.
Kami bertiga juga dianggap sebagai peserta yang proaktif, karena tak sungkan mengungkapkan keinginan. Rasanya kami memang banyak maunya dan cenderung cerewet. Untunglah intrepreter dan pendamping perjalanan kami Shawn Callanan yang ganteng itu, sabar dan tabah mengikuti kemauan kami. Pada saat perpisahan di Bandara Portland dia memeluk kami satu-satu dan mengatakan kami bertiga adalah grup terbaik dan terasik yang pernah dia dampingi. Ah senangnya..
Kami memang sempat punya ide gila pengen extend di Portland, ketika hari terakhir kami harus berangkat ke bandara, disana diselenggarakan festival besar yang dinanti banyak orang. Flugtag namanya. Seru banget, karena kami sempat mengintip persiapannya sehari sebelum itu.
Duh menyesal sekali kami melewatkannya. Apa daya, urusan extend bukan hanya masalah hotel yang gampang dicari, tapi soal menggeser jadwal tiket connecting kami yang pasti akan sangat-sangat ribet. Karena kami harus menggeser 3 jadwal penerbangan. Portland - Tokyo, Tokyo - Bangkok, Bangkok-Jakarta.
Tristram Perry, acting press attache Kedutaan AS menanyakan apakah yang paling diingat perbedaan yang kami rasakan dalam pengalaman di AS selama 3 minggu itu, dan merubah persepsi kami tentang orang Amerika. Saya menjawab bahwa kami menemukan fakta bahwa ternyata orang Amerika lebih ramah dan penolong dibanding orang Indonesia.
"Orang Indonesia sangat membanggakan diri sebagai orang yang memiliki kultur ramah dan gotong royong. Tetapi disana kami menemukan bahwa orang Amerika jauh lebih ramah, dan semangat saling tolongnya demikian tinggi bahkan terhadap orang yang tak dikenal," kata saya yang langsung disambut senyum simpul Perry.
Contoh paling gampang yang kami temui dalam keseharian, urusan membuka pintu. Orang Amerika sangat peduli dengan orang yang berada di belakangnya, dan selalu menahan pintu tetap terbuka untuk orang di belakangnya lewat, sampai orang berikutnya yang menahan pintu tersebut. Kita disini rasanya gak peduli urusan pintu begitu. Orang lain mau kebentur pintu yang ditutup juga cuek aja, nengok aja nggak sama orang yang di belakang.
Hal lain yang mengesankan, orang selalu bertegur sapa dengan ramah dimanapun berpapasan, meski tak saling kenal. Di lift, di halte, kasir di supermarket, waitres di restoran, semua selalu menyambut dengan sapaan Morning, how are you doing ?. Ketika kita berlalu mereka selalu menutupnya dengan kalimat, Have a nice day !" Dimana pun, kami menemukan orang berbagai warna kulit itu saling menyapa dan tersenyum. Ketika menemukan orang yang kerepotan membawa sesuatu atau orang disabled, mereka tak segan menolong, meskipun kenal pun tidak.
Saya merindukan keramahan itu. Kembali ke Jakarta saya harus menikmati kenyataan bahwa orang Indonesia itu tak seramah yang diagung-agungkan teks buku PMP jaman saya SD. Saya hanya menemukan orang-orang yang cemberut, hanya sibuk dengan urusan mereka sendiri, dan cenderung parno ketika ada orang tak dikenal menyapa dengan ramah.
Bahkan ketika sedang mengalami kesulitan dan ada orang yang menolong pun kita masih harus repot menolak, karena khawatir orang ini hanya akan memanfaatkan kesulihtan kita untuk mengambil keuntungan. Entah menghipnotis, merampok, dan atau bahkan memperkosa. Duh memang Jakarta isinya orang jahat, begitu isi kepala kebanyakan orang disini, termasuk juga saya. Manusia super parno.
Saya juga mimpi untuk bisa berjalan-jalan di trotoar dengan nyaman dan bersih lagi seperti di DC. Tak ada kaki lima yang menyita tempat yang diperuntukan para pejalan kaki itu. Tak terlihat sampah berserakan dan tercium bau pesing menyengat. Tristram Perry hanya tersenyum sambil matanya menerawang mendengar kisah saya. " That’s what I miss from America," katanya.
Ah sederet kenangan yang tersimpan baik di kepala itu tertuang lagi dalam dua jam sesi evaluasi dengan tim di Kedutaan AS itu, bikin saya makin kangen untuk kembali ke Amerika.
Then I told to my self. "Pada saatnya Nden, kamu pasti akan kembali kesana. Pasti, the whole universe sudah mendengar pesan mu dan Dia sedang meresponnya. Percayalah, pada saatnya all your wish will come true..".