Sudah lama tak punya banyak waktu untuk blogwalking. Pekerjaan baru saya ternyata menguras waktu saya tuntas tak bersisa. Bangun jam 4 subuh setiap hari dari Senin hingga Jumat untuk memantau perkembangan yang terjadi di dunia internasional, pada saat kita di Indonesia tidur nyenyak. Kadang tidur lagi kadang lanjut hingga saatnya berangkat ke kantor.
Malam hari sebelum pulang, masih ada rapat redaksi yang harus dihadiri untuk membahas isu-isu apa saja yang sedang hangat hari itu, dan manakah yang layak untuk ditindaklanjuti. Begitu berlangsung selama lima hari kerja. Tubuh ini seringkali pulang dengan energi yang sudah benar-benar di titik nadir. Padahal secara fisik saya tak banyak beraktivitas. Sebagian besar waktu saya dihabiskan di depan laptop, menterjemahkan, mengedit, menulis ulang dan memasukan berita ke sistem. Kadang break untuk meeting atau pelatihan ini itu.
Tapi yang mengherankan saya sangat menyukai aktivitas ini sepenuhnya. Beginilah kehidupan media betulan yang saya rindukan selama ini. Rapat redaksi yang serius tapi santai, berdebat, dan berdiskusi. Pelatihan ini itu yang mengingatkan saya kembali akan banyak hal yang terabaikan selama ini dari rutinitas kewartawanan saya. Mencerahkan dan menyenangkan. Apalagi bos saya sangat cerdas dan humble. Begitu juga kolega-kolega saya yang lucu-lucu dan tak pelit mengulurkan pertolongan dan berbagi pengalaman.
Efek kurang “baik” dari semua hal yang menyenangkan ini hanyalah saya kehabisan waktu untuk mengupdate dua blog saya. Meskipun kepala ini penuh dengan ide posting, tapi kembali ke rumah jam 9 malam rasanya benar-benar sudah tak sanggup untuk membuka laptop lagi. Akhir pekan pun lebih suka saya habiskan dengan lelaki tercinta itu dan mematikan laptop sama sekali selama dua hari.
Tapi hari ini saya sedikit memaksakan diri untuk menyalakan laptop dan menelusuri lorong-lorong blog yang semakin nampak rumit. Saya berkunjung ke blog pembaca setia blog saya dan menemukan posting yang menggelitik untuk ditindaklanjuti.
Tak berhenti sampai disitu, saya melanjutkan perjalanan dengan mengklik blog pesohor yang ada di blogrollnya. Saya pun mampir ke blognya Dee, dan menghabiskan waktu paling lama di salah satu postingnya yang bikin saya ngakak habis, sekaligus miris dengan wajah “jurnalisme” Indonesia. Posting itu lagi-lagi menyentil keberadaan sebuah forum yang ada di media online yang dibahas oleh Edo di blognya.
Untuk pertama kalinya saya membaca keseluruhan komentar dari sebuah posting di blog orang. Padahal saat saya berkunjung jumlah komentar yang tercantum di posting itu sudah 174 buah. Rajin apa kurang kerjaan ya saya ? hehehe..
Dari sana saya lanjut ke blognya Marcel mantan suami Dee dan juga blognya Rima Melati Adams, kekasih baru Marcell.
Di blognya Rima itulah saya menemukan posting dan foto yang menegaskan kisah tentang kebersamaannya dengan Marcell. Terus terang saya mengagumi kebersamaan dua keluarga baru yang berasal dari sepasang suami istri itu. Di foto itu nampak Dee dengan Reza Gunawan, Marcell dan Rima, yang nampak lekat dengan pasangan masing-masing. Di hadapan mereka nampak Keenan (anak Dee dan Marcell) dan Edga ( anak Rima dengan mantan suaminya), nampak akur dan harmonis.
Duh saya jadi berpikir tentang diri saya sendiri dan lelaki tercinta itu. Bisakah kami kemudian menjadi keluarga yang akur dan harmonis seperti mereka ? Dua pasang kekasih yang dulunya berasal dari sepasang suami istri, lengkap dengan anak-anak kami yang bersatu menjadi satu keluarga besar yang damai dan ceria. Aku dan lelaki tercinta itu, ibunya anak-anak dengan pasangan barunya, lengkap dengan anak-anak, plus our upcoming kids.
Rasanya masih panjang perjalanan menuju kesana, dan perlu waktu lebih banyak lagi. Saat ini rasa marah dan dendam itu masih membara di hatinya. Luka hatinya masih menganga lebar dan meneteskan darah. Sedangkan rasa cemburu dan curiga pun masih bersemayam di dada dan kepala ini. Meskipun seringkali berusaha dibalut dengan kesabaran yang didapat dengan susah payah.
Rupanya kami masih harus belajar untuk menjadi lebih dewasa dan bijak. Melangkah maju menapaki kehidupan kami yang baru dengan kelapangan dada dan keikhlasan yang sesungguhnya. Berdamai dengan masa lalu. Berani memaafkan, dan menerima pelajaran yang disodorkannya.