Bekerja dengan otak ternyata lebih melelahkan dibanding bekerja hanya menggunakan otot. Di kantor saya yang baru, saya memang lebih menggunakan otak dan duduk di belakang meja. Ternyata jauh lebih memuaskan untuk saya, atau semata-mata karena usia saya tak 20an lagi mungkin.
Kadang kepala masih terus sibuk ketika tubuh sudah di atas kasur. Berusaha meredakannya dengan menenangkan diri, berdoa dan bersyukur pada Tuhan atas semua yang saya dapat hari itu. Lebih menyenangkan bila lelaki tercinta itu menghabiskan malam di rumah. Kami bisa ngobrol berbagai hal sambil meredakan ketegangan akibat pekerjaan seharian.
Kesabarannya mampu meredam omelan yang sudah siap meluncur dari mulut, dan meluluhkan hati yang kesal. Lelaki dewasa yang matang oleh pengalaman memang pilihan saya untuk menyandarkan tubuh yang penat. Pelukannya yang kukuh sanggup menguapkan segala resah dan menggantinya dengan kenyamanan serta rasa aman terlindungi.
Berbeda dengan sahabat perempuan saya, yang lebih suka dengan lelaki-lelaki muda. Katanya karena mereka ini bisa dikendalikan. Ah ini cuma masalah selera yang terkait dengan pengalaman masa lalu.
Setelah 14 tahun berelasi dengan laki-laki yang dominan, rupanya kali ini saatnya mengambil alih dominasi. Sepertinya dia menikmati peran baru dengan lelaki baru nya itu.
Saya lebih suka lelaki dewasa menjelang 40 tahun. Menurut saya, lelaki di usia 40 itu sudah “jadi” dan “siap pakai”. Proses pembentukan karakter sudah menemukan hasilnya. Baik atau buruk, tergantung tahun-tahun yang dijalani selama menuju angka 40, dan pengalaman yang dilalui. Bisakah mengambil pelajaran dari semua yang pernah terjadi, atau membiarkannya lewat begitu saja.
Lelaki di usia di usia 40, menurut saya, cenderung lebih stabil dalam hal emosi. Mereka karena tertempa pengalaman biasanya juga sudah sangat paham bagaimana memperlakukan perempuan. Apa yang diinginkan perempuan dan bagaimana memenuhinya. Tak perlu repot mengajari ini itu, tak harus berantem karena urusan sepele.
Di usia mapan ini, mereka juga lebih merasa aman dan nyaman dengan diri mereka sendiri. Sudah tahu apa yang diinginkan dalam hidup. Sehingga mereka tak cemburu pada hal-hal yang tak perlu dicemburui. Kepercayaan adalah hal yang diberikan tanpa syarat. Tapi sekali kepercayaan itu dinodai, mereka juga akan bersikap tegas dan sulit untuk mengembalikan ke posisinya lagi.
Saya sangat bersyukur atas pengertian laki-laki Dayak tercinta ini. Dia sangat paham akan mimpi-mimpi saya, mendukungnya dengan memberi ruang untuk saya tumbuh dan mengejar apa yang saya inginkan. Kami saling berpegangan tangan untuk membantu satu sama lain mewujudkan mimpi-mimpi besar masing-masing.
Energinya yang besar, isi kepalanya yang cerdas, ambisi dan cita-citanya yang tinggi membuat saya merasa tak sendirian, dan memantapkan hati bahwa saya bisa mewujudkan semua itu. He’s my biggest supporter ever.
Saya sudah berjanji akan mengikuti kemanapun dia pergi di belahan bumi mana pun. Bila pekerjaan mengharuskannya berada di negara yang berbeda, saya pasti akan turut serta. Saya manusia yang setia pada profesi, bukan institusi. Saya bisa bekerja di manapun tanpa tergantung sebuah institusi. Enak sekali pekerjaan saya ini. Tak memaksa saya harus memilih antara kekasih tercinta atau pekerjaan yang saya cintai juga.
Kami penyuka travelling, dan sudah menetapkan cita-cita kami untuk pensiun dini dan sama-sama keliling dunia. Pada saat itu tiba satu-satunya pekerjaan kami hanyalah menulis, memotret dan bercinta tentu saja. Ugh..What a lovely life.
Hmm..Jadi kangen kamu deh Beib, see you home this weekend ya darling. Love you, you’re the best 