Archive for October, 2008

Hujan di Bulan Oktober

Tuesday, October 28th, 2008

Hujan selalu istimewa untukku. Kehadirannya memang tak selalu dinanti. Tapi iramanya selalu memanjakan hati. Memaksa meletakkan logika dan bergelut dengan untaian rasa di jiwa.

Tirai air dari surga itu selalu mengingatkanku akan kisah manusia. Tentang tragedi kehidupan dan kepiluan. Anak manusia menjerit memanggil Tuhan-Nya. Berharap tidur di pelukan-Nya, mencari sejumput harapan.

Hujan selalu identik dengan kisah sendu dan rasa rindu yang menggebu. Langit mendung, jeritan air yang menampar-nampar jendela. Udara dingin yang menyergap, membungkus hati dalam beku dan berkelindan sepi.

Ada kala, ketika aku mencintai hujan dengan sangat. Kusambut hujan dengan riang. Saatnya mengadu pada alam dan berbincang dengan semesta. Tetes hujan berbaur dengan derai air mata di wajahku yang basah. Kunikmati hujan dalam sebuah ruang hampa. Berharap diri akan luluh dalam hujan. Larut ke tanah dan kembali pada-Nya.

Tapi hujan tak sudi aku mengalah. Ia membasuh pilu dan meredam rinduku dalam jernih tetesannya. Dia memandikanku. Membersihkan luka-luka batin itu. Menghapus segala lelah dan membuatku segar kembali. Meminumkan seteguk asa ke mulutku yang dahaga, dan aku pun kembali bangkit.

Si Ego vs Sang Dewa Ikhlas

Friday, October 24th, 2008

Berbagi itu berat. Menjadi ikhlas itu perlu perjuangan yang melelahkan. Pertarungan tak pernah henti melawan ego yang mengurung diri.

Tak ada yang kita bisa miliki sepenuhnya, 100 persen. Selalu ada rongga untuk orang lain, hal lain. Seperti kita juga tak pernah bisa memberikan diri kita seutuhnya jiwa dan raga untuk seseorang saja, atau sesuatu saja. Selalu ada celah di hati kita untuk seseorang yang lain, atau sesuatu yang jauh di luar sana.

Ketika kita tak bisa memberi dengan penuh, patutkah kita juga menuntut seseorang untuk menjadi utuh hanya untuk kita ? Berharap sesuatu hanya untuk kita miliki sendiri ? Bukan “transaksi” yang adil sepertinya.

Tapi katakan itu pada si ego. Dia pasti punya segudang argumen untuk membantahnya, dan mengajukan alasan-alasan pembenar atas tuntutan keutuhan itu. Ego dalam diri yang menyala membakar hati. Menyulut kecemburuan dan menuntut keutuhan.

Ego yang menghalangi kehadiran sang dewa ikhlas di dalam jiwa, penerang jiwa yang dahaga akan kasih. Tapi rupanya sang dewa ikhlas enggan hadir begitu saja dalam hati seseorang. Dia harus diperjuangkan, dikejar dalam perburuan tak kenal.

Pertarungan mengalahkan si ego dan membakarnya habis hingga ke akar-akarnya. Pertempuran besar yang kasat mata, melelahkan jiwa dan menguras energi. Tapi ketika tumpukan ego itu sudah hangus dan raib, maka barulah sang dewa ikhlas akan hadir mengisi ruangnya.

Tuhan mohon kekuatan untuk menghadirkan ikhlas di dalam hati ini. Seperti yang saya mohonkan dalam novenna itu, mohon diri ini diberkati dengan keikhlasan untuk menerima apapun dan siapapun pemberian-Mu.

Ketika Ketiak dan Penis Bau Menjadi Berita

Wednesday, October 22nd, 2008

Ketika bulu ketiak dan penis bau jadi berita hari ini di media-media online pendahulu di Indonesia, saya cuma bisa mengelus dada dan nyengir prihatin. Kasihan sekali pembaca Indonesia, disuguhi berita-berita seperti ini. Bagaimana bisa berharap bangsa Indonesia menjadi lebih cerdas bila berita seperti ini yang disajikan ?

Atau memang masih secemen inikah pembaca media di Indonesia ? Hanya bisa mengunyah berita kelas penis dan ketiak ? Tak sanggup mencerna berita yang lebih berbobot dan menawarkan sebuah perspektif ?

Atau ini sengaja upaya pembodohan oleh media terhadap pembacanya ? Atau semata-mata mengejar lonjakan kunjungan pembaca ?

Saya cenderung pada pendapat yang kedua, bahwa ini hanya berujung pada duit. Meraup pendapatan dari iklan berdasarkan angka klik yang dahsyat. Sama seperti televisi yang menjadikan rating sebagai dewa, yang menentukan pendapatan iklan.

Maka TV pun ramai-ramai menggenjot tayangan sinetron-sinetron kelas sampah yang membodohkan itu karena termasuk kategori mesin uang peraup iklan. Sama dengan media online yang mendewakan jumlah klik dari pembaca.

Menurut data si mbak yang dulu jualan di warung sebelah itu, berita-berita seputar penis dan wilayah dada itulah yang memang memegang rekor klik tertinggi dari pembaca.

Jadi demi klik yang dahsyat yang berarti pendapatan iklan yang hebat, apapun dilakukan. Pembaca makin bodoh biarin, emang gue pikirin ? Yang penting si pemilik media bisa beli rumah baru dan tanah yang lebih luas. Itu saja.

Piket Itu Repot Ternyata..

Sunday, October 19th, 2008

Jam 3.40 subuh, Senin pagi 20 Oktober 2008. Saya terdampar di lantai 31 gedung ini bersama ketiga mahluk lainnya. Saya paling cantik tentu saja, karena ketiga kolega saya laki-laki. Kami bertugas untuk piket malam hari ini, yang akan berakhir jam 9 pagi nanti ketika rekan-rekan kami yang reguler sudah masuk.

Ini pertama kalinya saya menjalani piket malam. Sumpah gerah, soalnya AC kantor mati. Selain itu karena tak ada Office Boy kantor berantakan sekali, sisa makanan dan minuman sejak Sabtu kemarin tak ada yang membersihkan. Saya juga sempat dilanda panik, karena kirain saya akan piket sendirian. Faktanya sih iya untuk berita-berita non bola memang saya harus menanganinya sendirian. Menelpon reporter, menerima laporan, mengetik dan mengeditnya, lalu mencemplungkannya ke dalam CMS.

Bukan hanya isu-isu internasional yang menjadi tanggung jawab saya, tapi semua kanal. Saya hanya berdoa agar jangan sampai ada kejadian besar malam ini yang membuat saya harus pontang-panting lebih jauh. Maklum karena tak menguasai isu-isu di kanal lain, saya tergagap-gagap bila harus menulis laporan tentang kriminal atau lalu lintas.

Sumpah serapah sempat keluar dari mulut saya awal-awal malam tadi. Keteteran menerima laporan kiri kanan dan permintaan untuk memasukan berita ke CMS untuk siap tayang pada jam yang telah ditentukan. Panik gila, takut salah. Saya sudah tak peduli pada kecepatan, biarkan warung sebelah bercepat-cepat ria, fokus saya adalah jangan sampai bikin salah, titik.

Tengah malam begini siapa juga sih yang butuh berita super cepat ? Untuk saya lebih baik saya lambat tapi akurat dan kaya informasi, toh para pembaca baru akan membacanya nanti pagi ketika mereka sudah di kantor.

“Hang in there ya darling,” begitu lelaki tercinta itu menyemangati saya. Dia sempat tertawa ketika mendengar saya terpanik-panik di awal tugas. ” Ya sudah nanti kutelpon lagi kalo kamu sudah lebih tenang ya, ” katanya. Ah dia memang laki-laki paling perhatian dan pengertian yang pernah ada dalam hidup saya.

Menjelang dini hari suasana hiruk pikuk lalu lintas berita sudah mereda, saya pun bisa santai mengedit koleksi foto-foto saya dan mencemplungkannya ke photo album Friendster yang sudah lama alpa diupdate. Foto-foto saya di Portland belum di-upload sejak saya kembali dari Amrik hampir 3 bulan lalu.

Saya juga sekarang sudah siap go public dengan lelaki tercinta itu, dan meng-upload sebagian foto-foto dari perjalanan kami ke Dubai dan Jogja. Saatnya sudah tiba karena urusan legal yang mengganjal itu sudah usai. Tinggal sepucuk kertas itu saja yang ditunggu untuk kami segera bisa melanjutkan rencana-rencana hidup kami bersama.

Senangnya menyaksikan senyum kami disana, pangeran Dayak dan putri Sunda yang dipertemukan Tuhan di Istana Presiden dalam limpahan berkat-Nya. Jawaban atas doa novenna yang saya panjatkan akhir tahun lalu, ketika saya sadar sebagai manusia sungguh tak berdaya.

Ketika saya serahkan hidup saya sepenuhnya dalam genggaman Tuhan di hening Katedral, dan nyala lilin itu. Jawab-Nya hadir hanya dalam hitungan hari, bahwa ternyata dia yang selama ini ada di keseharian saya yang telah dipersiapkan-Nya untuk saya.

Tuhan memang bekerja dengan cara-Nya yang aneh dan kadang sulit dimengerti manusia. Tapi saya percaya inilah yang terbaik, karena itulah yang saya minta dengan sungguh dalam doa novenna itu. Terima kasih Tuhan.

Man at 40..

Friday, October 17th, 2008

Bekerja dengan otak ternyata lebih melelahkan dibanding bekerja hanya menggunakan otot. Di kantor saya yang baru, saya memang lebih menggunakan otak dan duduk di belakang meja. Ternyata jauh lebih memuaskan untuk saya, atau semata-mata karena usia saya tak 20an lagi mungkin.

Kadang kepala masih terus sibuk ketika tubuh sudah di atas kasur. Berusaha meredakannya dengan menenangkan diri, berdoa dan bersyukur pada Tuhan atas semua yang saya dapat hari itu. Lebih menyenangkan bila lelaki tercinta itu menghabiskan malam di rumah. Kami bisa ngobrol berbagai hal sambil meredakan ketegangan akibat pekerjaan seharian.

Kesabarannya mampu meredam omelan yang sudah siap meluncur dari mulut, dan meluluhkan hati yang kesal. Lelaki dewasa yang matang oleh pengalaman memang pilihan saya untuk menyandarkan tubuh yang penat. Pelukannya yang kukuh sanggup menguapkan segala resah dan menggantinya dengan kenyamanan serta rasa aman terlindungi.

Berbeda dengan sahabat perempuan saya, yang lebih suka dengan lelaki-lelaki muda. Katanya karena mereka ini bisa dikendalikan. Ah ini cuma masalah selera yang terkait dengan pengalaman masa lalu.

Setelah 14 tahun berelasi dengan laki-laki yang dominan, rupanya kali ini saatnya mengambil alih dominasi. Sepertinya dia menikmati peran baru dengan lelaki baru nya itu.

Saya lebih suka lelaki dewasa menjelang 40 tahun. Menurut saya, lelaki di usia 40 itu sudah “jadi” dan “siap pakai”. Proses pembentukan karakter sudah menemukan hasilnya. Baik atau buruk, tergantung tahun-tahun yang dijalani selama menuju angka 40, dan pengalaman yang dilalui. Bisakah mengambil pelajaran dari semua yang pernah terjadi, atau membiarkannya lewat begitu saja.

Lelaki di usia di usia 40, menurut saya, cenderung lebih stabil dalam hal emosi. Mereka karena tertempa pengalaman biasanya juga sudah sangat paham bagaimana memperlakukan perempuan. Apa yang diinginkan perempuan dan bagaimana memenuhinya. Tak perlu repot mengajari ini itu, tak harus berantem karena urusan sepele.

Di usia mapan ini, mereka juga lebih merasa aman dan nyaman dengan diri mereka sendiri. Sudah tahu apa yang diinginkan dalam hidup. Sehingga mereka tak cemburu pada hal-hal yang tak perlu dicemburui. Kepercayaan adalah hal yang diberikan tanpa syarat. Tapi sekali kepercayaan itu dinodai, mereka juga akan bersikap tegas dan sulit untuk mengembalikan ke posisinya lagi.

Saya sangat bersyukur atas pengertian laki-laki Dayak tercinta ini. Dia sangat paham akan mimpi-mimpi saya, mendukungnya dengan memberi ruang untuk saya tumbuh dan mengejar apa yang saya inginkan. Kami saling berpegangan tangan untuk membantu satu sama lain mewujudkan mimpi-mimpi besar masing-masing.

Energinya yang besar, isi kepalanya yang cerdas, ambisi dan cita-citanya yang tinggi membuat saya merasa tak sendirian, dan memantapkan hati bahwa saya bisa mewujudkan semua itu. He’s my biggest supporter ever.

Saya sudah berjanji akan mengikuti kemanapun dia pergi di belahan bumi mana pun. Bila pekerjaan mengharuskannya berada di negara yang berbeda, saya pasti akan turut serta. Saya manusia yang setia pada profesi, bukan institusi. Saya bisa bekerja di manapun tanpa tergantung sebuah institusi. Enak sekali pekerjaan saya ini. Tak memaksa saya harus memilih antara kekasih tercinta atau pekerjaan yang saya cintai juga.

Kami penyuka travelling, dan sudah menetapkan cita-cita kami untuk pensiun dini dan sama-sama keliling dunia. Pada saat itu tiba satu-satunya pekerjaan kami hanyalah menulis, memotret dan bercinta tentu saja. Ugh..What a lovely life.

Hmm..Jadi kangen kamu deh Beib, see you home this weekend ya darling. Love you, you’re the best :)

Terima kasih untuk sambutannya

Thursday, October 16th, 2008

Hari-hari setelah beta version bayi kami lahir, suasana di kantor semakin meriah. Teriakan disana sini,keluhan maupun tepuk tangan semangat. Jumlah orang yang bertahan di kantor hingga malam juga semakin banyak. Semua orang nampak semakin lekat dengan kursinya masing-masing dan memelototi laptop masing-masing dengan tekun. Kerja keras untuk membesarkan bayi kami agar segera bisa lari kencang mendahului kakak-kakak pendahulunya.

Bukan hanya laju larinya, semakin santun dan beradab, tapi juga bertindak cerdas.  Senang rasanya melihat situasi yang sangat dinamis ini. “Masuk barang itu !” adalah kalimat yang biasa diteriakan para petinggi konten ketika memilih mana yang akan masuk ke kotak headline.

Sambutan dari berbagai pihak atas kehadiran bayi kami juga beragam. Apresiasi atas tampilan yang berani beda dari para pendahulu, fitur - fitur yang kami sajikan, kanal korupsi dan liputan khusus yang mendapat acungan jempol. Bahkan ucapan selamat dan review bagus kami terima dari warung sebelah.

Tentu saja tak semua senang dengan kehadiran kami. Warung sebelah yang lain sepertinya panik. Bala kurawa yang tak terangkut kesini sepertinya memendang dendam yang membara. Serangan-serangan melalui perang status di YM pun gencar. Bikin panas kuping, dan kesal hati tentunya. Tapi itu cukup hari pertama kami terpancing emosi. Hari kedua dan selanjutnya kami lebih santai bahkan menanggapinya dengan ketawa geli campur kasihan.

“Pengennya dibajak tapi nggak laku, makanya semangat cari celah untuk nyela-nyela, biasa sirik,” kata seorang teman. Saya cuma tersenyum. Ketika kita disirikin orang, berbanggalah, berarti kita lebih baik dari mereka yang sirik pada kita. Dan sirik adalah tanda tak mampu, jadi bisanya cuma nyela. Sudahlah justru jadi pemicu kami untuk bergerak semakin cepat dan tumbuh semakin besar.

Tantangan hadir untuk ditaklukan. Cacian datang untuk menguji kesabaran. Pujian muncul mengingatkan untuk bersyukur.  Terima kasih untuk semuanya.

Perkenalkan Bayi Kami..

Monday, October 13th, 2008

Potong tumpeng dan acara makan baru aja selesai. Akte kelahiran bayi baru juga sudah ditandatangani. Besok, 14 Oktober 2008 pukul 06.00 WIB, bayi mungil kami masih versi beta, lahir ke bumi, meramaikan jagat media online Indonesia. Namanya www.vivanews.com.

Lahir di tengah krisis keuangan yang sedang melanda dunia, dan kontroversi dari beberapa pihak, tak menyurutkan langkah kami untuk memberikan yang terbaik bagi pembaca media online di Indonesia dan dimanapun.

Bos kami, Anindya Bakrie, mengatakan bahwa dalam 18 bulan kedepan, pembangunan infrastruktur internet akan bisa dinikmati oleh lebih banyak warga Indonesia, bukan hanya di wilayah barat, tapi juga di timur. ” Koneksi internet akan lebih cepat, dan lebih murah, ” kata pria yang akrab disapa Anin ini.

Ini tentu saja peluang besar penetrasi internet di Indonesia akan semakin luas. Misi grup media VIVA bukan hanya untuk mengeruk keuntungan, kata Anin, meskipun tentu saja tidak boleh rugi. Tapi ada misi yang lebih besar dari sekedar mempergemuk pundi-pundi unit usaha Bakrie. Yaitu membentuk Indonesia di masa depan. ” Indonesia seperti apa yang akan kita sajikan di masa depan ?” tanya Anin.

Karena itu sejak awal kami tim yang berasal dari banyak tempat ini, telah dibentuk dengan paradigma baru. Media online bukan semata-mata soal kecepatan. Mengacu pada media-media online di barat sana yang sangat komprehensif dan kaya, kami ingin menjadi perintis media serupa untuk Indonesia. Kecepatan, akurasi dan kedalaman adalah sama pentingnya.

Bukan hanya berita cepat yang kami sajikan, tapi konteks dan perspektif tentang sebuah peristiwa adalah menjadi bagian tak terpisahkan. Jurnalisme penis yang berkisah seputar selangkangan dengan judul-judul yang bombastis, tak akan anda temukan di VIVAnews. Informasi yang hanya berupa pernyataan satu orang, atau kami menyebutnya berita cangkeman, tak akan muncul di media kami.

Tak heran memang, bila standar kami demikian tinggi dan ketat. Para pendiri VIVAnews adalah lulusan sekolah-sekolah ternama di Amerika dan Inggris dengan gelar minimal master, dan menimba ilmu bertahun-tahun di media cetak Indonesia yang terkenal akan integritas dan kredibilitasnya, Majalah Tempo. Acuan kami adalah media-media online sekelas The Washington Post, The New York Times, The Guardian dan Telegraph, serta BBC.

Banyak yang ragu, apakah pembaca media di Indonesia sudah siap disuguhi informasi sekelas media-media besar itu. Katanya pembaca media di Indonesia hanya butuh berita cepat, tak perlu dalam-dalam, tak usah panjang-panjang. Cukup taruh judul yang nyeleneh untuk menggoda pembaca mengklik. Pembaca Indonesia tak butuh konteks dan latar belakang masalah. Tak butuh penjelasan yang komprehensif dan informasi yang lengkap dan berimbang. Benarkah ?

Rasanya penilaian itu terlalu merendahkan intelektualitas konsumen media di Indonesia. Untuk jumlah yang mayoritas mungkin memang masih hanya sekedar informasi seperti itu yang dibutuhkan. Tapi seiring dengan meningkatnya kualitas pendidikan, saya tahu ada sekelompok masyarakat yang membutuhkan lebih dari hanya sekedar berita cepat saji.

Mereka suka membaca analisa dan informasi yang lengkap dan berkonteks. Bukan informasi sampah yang akurasinya patut dipertanyakan. Kami yakin masyarakat pembaca media Indonesia sudah semakin cerdas dan membutuhkan informasi yang lebih berkualitas. Semoga anda salah satunya, dan untuk anda lah VIVAnews lahir.

Tentang Sibuk..

Thursday, October 9th, 2008

Seandainya sibuk itu nama seorang manusia, mungkin dia akan menjadi manusia paling frustrasi di dunia. Maklum dia selalu menjadi biang kerok atas segala ketidakpedulian. Sibuk selalu jadi kambing hitam bagi manusia untuk mengabaikan keluarganya, sahabat-sahabatnya, orang-orang tercinta dan urusan-urusan yang seharusnya ditangani secepatnya.

Si sibuk ini sungguh sial karena selalu dijadikan dalih bagi manusia yang sebetulnya malas dan egois. Malas untuk sekedar menjawab 1 menit telepon, malas untuk mengetik sekedar 100 karakter sms, malas untuk sejenak menyapa melalui YM, atau menulis selarik email.

Egois, karena hanya ingin orang lain yang memahami dirinya. Egois atas keengganannya berintrospeksi. Egois untuk selalu ingin didahulukan. Egois menilai diri sebagai manusia paling penting yang harus diperhatikan.

Saya termasuk pengguna si sibuk ini cukup sering. Saya sibuk untuk sering-sering mengunjungi Ibu saya di Sumedang. Saya sibuk untuk nyekar ke pusara Bapak di Bandung, atau sekedar temu kangen dengan teman-teman lama di Bandung. Saya sibuk untuk menjenguk papa saya dan adik saya di Jogja.

Saya sibuk untuk sering-sering menjenguk ponakan baru yang lagi lucu-lucunya Baby Kalani, dengan mama papa nya yang merupakan malaikat-malaikat saya di Jakarta ini. Saya sibuk untuk sekedar membalas sms, pesan dan komen di FS atau Facebook, dan sangat sibuk juga untuk balas berkunjung ke blog-blog yang sudah mengunjungi blog saya. Si sibuk benar-benar telah menjadikan saya autis secara sosial.

Saya memang egois dan malas, dan mengkambinghitamkan si sibuk sebagai alasan saya. Pekerjaan, kantor dan bos menjadi segalanya. Padahal saya ingat kalimat bijak yang saya lupa dicomot dari mana, begini katanya.

Kantor tempat anda bekerja akan mendapatkan pengganti anda dengan segera, bila anda meninggal. Sedangkan keluarga dan orang-orang tercinta tak akan bisa menggantikan anda di hati mereka ketika anda meninggal. Kantor hanya ingin anda di waktu sehat, sedangkan bila anda sakit, keluarga lah yang merawat anda dengan kasih sayang, bukan kantor anda.

Duh nampar nggak sih ???

Masih Seperti Yang Dulu Kan ?

Wednesday, October 8th, 2008

“Hallo apakabar nih ?Masih seperti yang dulu kan ?”. Pesan di FS saya hari ini, dari seseorang di masa lalu. Tak ada foto di profilnya, jadi saya hanya bisa mengira-ngira ini orang yang mana ya. Maklum saya punya sekian teman bernama sama, yang harus diverifikasi, ini teman bernama anu dari kelompok teman yang mana ya. Petunjuk yang bisa saya pegang hanya kolom zodiac dan kira-kira usianya saja.

Jadi saya pun menyimpulkan, oh si anu yang di Bandung. Bukan soal info di profilnya yang sangat terbatas itu yang ingin saya bahas. Tapi saya tergelitik dengan pertanyaan keduanya itu, masih seperti yang dulu kan ?

Ah tentu tidak kalau saya bisa menjawabnya secara langsung. Kalau ada orang yang sama seperti 13 tahun lalu tentunya hidupnya mandek dan bantat. Semua orang berubah, termasuk saya.

Entah apa yang dinilainya akan tetap sama dari diri saya. Wajah, penampilan, fisik ? Tentunya tidak ada siapapun yang bisa bertahan dengan kesegaran kulit dan tubuh yang sama dengan 13 tahun sebelumnya.

Cara berpikir, wawasan, kepribadian, nilai-nilai yang dianut mungkin ? Rasanya tidak juga. Setidaknya saya tak menganut nilai-nilai yang sama dengan saya 13 tahun lalu. Saya tak lagi fanatik dan konservatif. Saya tak lagi kurung batok dan menilai orang yang berbeda itu harus dijauhi. Wawasan saya juga jauh lebih terbuka dan ruang lingkup jelajah saya juga sudah melintas batas-batas geografis sebuah negara. Tentu saja saya tak sama lagi dengan 13 tahun lalu, dimana saya belum pernah kemana-mana selain Bandung dan Jogja.

Mungkin yang dia maksud saya masih seperti yang dulu adalah, Nenden yang pemimpi dan ambisius. Bila mengenai hal itu, ya. Saya masih tetap sama. Kaki saya sekarang berdiri di titik yang menjadi impian saya 13 tahun lalu itu. Impian yang membuat saya harus pergi dari Bandung dan tak lagi menjadi bagian dari kehidupannya.

Seseorang yang saya yakin akan menjadi suami yang setia dan ayah yang baik. Tapi sayang mimpinya terlalu sederhana. Cita-cita setinggi langit yang ada dalam daftar rencana saya membuatnya takut, dan berusaha mencegah saya untukmelangkah. Hanya untuk saya bertahan bersamanya mengejar sesuatu yang terlalu biasa untuk saya.

Saya merasa bersyukur telah mengambil keputusan yang benar dan tak tergoda untuk memilihnya. Karena bila tidak kaki saya akan tetap terikat erat di tanah Bandung, tak beranjak kemana-mana, menjadi ibu rumah tangga dan pekerja kantoran biasa. Makes no difference, and so ordinary. Bukan kehidupan yang menjadi dambaan seorang Nenden muda yang ingin menjelajah dunia dan menjadi seseorang yang berguna bagi bangsanya.

Untuk itu saya bisa menjawab pertanyaan kedua itu dengan pasti. Ya, saya masih Nenden yang dulu. Di titik ini pun saya tak berhenti bermimpi. Sesuai daya jangkau dan pertumbuhan, mimpi-mimpi saya pun semakin besar dan tinggi. Hanya langit yang menjadi batasnya. Seperti Coelho bilang, alam semesta berkonspirasi untuk mewujudkan mimpi seseorang, dan saya percaya itu. Alam semesta adalah sekutu terbesar saya dalam mewujudkan  mimpi-mimpi besar yang menunggu saatnya untuk hadir.

Bermimpilah selagi masih bisa, karena mimpi-mimpi itulah yang menopang saya tetap kuat, menyuntikkan infus kesabaran pada nadi saya, dan bertahan untuk tetap melanjutkan hidup.

Usai Libur Lebaran

Monday, October 6th, 2008

Seminggu offline, sengaja tak menyentuh laptop dan mencolokkan modem koneksi internet sama sekali. Saya betul-betul ingin menikmati libur Lebaran satu minggu penuh yang baru bisa kunikmati setelah dua tahun harus melewatkannya. Tahun ini tak ada agenda pontang panting meliput acara open house di Istana ataupun di Cikeas.

Tuhan Maha Baik telah mengabulkan harapan saya tahun ini. Saya ingat tahun lalu saya pernah bersumpah pada diri saya sendiri, bahwa itu adalah open house terakhir saya di Istana. Meskipun belum terbayang akan kemana tahun berikutnya, tapi pesan telah saya sampaikan sepenuh hati kepada semesta, dan voila here I am. Semesta telah menjawab doa saya, sekali lagi saya merasakan dahsyatnya the Law of Attraction.

Saya bisa melewatkan Lebaran bersama keluarga yang bertahun-tahun gak bisa bertemu. My sister and family from Jogja, my brother and family from Bandung, belum lagi sepupu-sepupu dari mana-mana dan keponakan-keponakan yang bikin pangling karena udah pada gede.

Saya juga bisa menikmati lengangnya lalulintas Jakarta. Menenggelamkan diri dengan segudang perangkat rumah di Ace Hardware dengan lelaki tercinta, dan pulang dengan tentengan segambreng. Maklum baru punya rumah, lagi seneng-senengnya mengisi dan menatanya. Senang sekali rasanya bisa bangun siang, memasak sarapan bersama dia di dapur mungil kami, dan berjam-jam hanya menonton DVD koleksi si pangeran Dayak itu yang bujubune buanyak banget. Liburan yang menyenangkan.

Hari ini pertama kembali ke kantor setelah libur berakhir. Kembali ke rutinitas mantengin apa yang terjadi di dunia. Ada beberapa wajah baru di kantor yang baru bergabung. Saya lihat orang baru di belakang saya bingung ketika hampir jam 6 petang tak ada tanda-tanda penghuni kantor akan bubar. Semua masih duduk tekun di depan laptop masing-masing dengan jari jemari sibuk mengetik. Sekelompok orang sibuk di ruang rapat.

Dia tingak tinguk, kemudian menghampiri bos saya. Tanya, jam berapa pulang kantor ?” saya menguping pertanyaan orang baru itu. Bos saya menjawab normatif ya biasa jam 5-6. Meskipun kenyataannya jauh dari itu.

Si orang baru nampak bingung,saya tak tahu apa yang disampaikan kepada si bos, tapi saya lihat dia kemudian mengemasi tasnya dan kemudian cling menghilang.

Untuk orang baru dan terbiasa tenggo tentu akan bingung melihat ritme kerja kami disini, dan mulai berhitung argo. Sampai hampir jam 8 malam pun, sebagian besar masih berada di mejanya dan nampak sibuk. Meskipun harus saya akui melelahkan, tapi saya menyukainya.

Saya rasa memang hanya orang-orang media tulen yang bekerja dengan passion yang bisa bekerja di kantor saya dengan ritme kerja yang seperti ini. Bila tidak tentu saja akan merasa tak nyaman. Kepala sibuk mengkalkulasi jam kerja dan jumlah angka yang ditandatangani di surat kesepakatan, ketika merasa tak sepadan, tentulah akan segera berlalu.