Bicara Soal Niat..
Thursday, November 27th, 2008Niat itu cuma empat huruf. Meski begitu, kata empat huruf ini sangatlah bermakna. Karena niat inilah yang melandasi setiap perbuatan manusia. Kemana kaki melangkah, tentu dilandasi niat akan sesuatu.
Misalnya saya melangkah ke dapur, karena niat ingin mengambil minuman untuk tenggorokan yang haus. Saya pergi ke mall, karena ada barang yang perlu membeli suatu barang. Setiap hari saya keluar rumah dan berdesakan di mikrolet dengan niat untuk menuju kantor dan bekerja.
Apapun yang kita lakukan sehari-hari, hal besar maupun sepele, dilandasi oleh niat yang terbit dalam hati. Disadari ataupun tidak. Karena manusia lebih banyak tak sadarnya daripada sadar bukan ? Hayo ngaku.. ![]()
Maka dari itu saya tak percaya bila ada orang beralasan terlalu sibuk untuk sekedar mengetik 100 karakter sms dan mengirimkannya. Bahkan saya pun tak percaya bila ada orang kantoran di Jakarta yang mengaku tak bisa sms atau menelpon karena kehabisan pulsa.
Saya pikir ini hanya soal niat. Pulsa habis bisa dibeli, waktu barang 5 menit pasti ada di sela kesibukan tergila apapun. Karena itu saya tak percaya bila ada orang yang mengaku tak sempat melakukan sesuatu. Bila merasa tak niat baru saya percaya. Bila mengaku tak ingat baru saya mahfum.
Karena dengan niat saya yakin apapun bisa dilakukan. Bahkan kekuatan niat bisa membuat seseorang berhasil mewujudkan mimpi, mengatasi kesulitan dan memenangkan pertempuran.
Tapi herannya manusia kota yang selalu sibuk, niat itu bisa bulat dan kuat bila berkaitan dengan pekerjaan saja. Bila berurusan dengan hal lain seringkali niat itu menguap seketika. Badan mendadak lemas dan malas. Seakan bila tak berkaitan dengan pekerjaan, pangkat dan kedudukan semua menjadi kurang penting lagi.
Bila bos yang menelpon maka kita akan tergopoh-gopoh memenuhi panggilan, mengerjakan titah dengan takzim. Sedangkan bila keluarga, sahabat atau orang-orang tercinta yang menelpon mengajak bertemu. Berjuta alasan langsung dikemukakan untuk menunda pertemuan.
Kita lebih takut untuk terlambat tiba di kantor, daripada takut telat tiba di rumah untuk memenuhi janji makan malam bersama keluarga. Deadline dari atasan lebih mendesak untuk dipenuhi dibanding deadline dari yang tercinta untuk segera meluangkan waktu berlibur ke luar kota.
Kolega dan atasan jauh lebih penting daripada keluarga, sahabat dan orang-orang tercinta. Menunaikan tugas bersama kolega dan bos diatas segalanya dibanding dengan hal lainnya dalam hidup. Keluarga yang menanti dengan penuh cinta di rumah seringkali terabaikan karena kesibukan bersama kolega dan urusan kantor. Menganggap bahwa alasan kesibukan selalu harus bisa dipahami oleh mereka yang mencintai kita dengan tulus.
Mungkin tak pernah terlintas di pikiran kita, bahwa bila kita sakit, keluarga, sahabat dan yang tercinta lah yang akan merawat siang malam penuh cinta dan kesabaran. Dimana bos, atasan, dan kolega ? Mereka sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya. Jangan harap mereka akan menunggui si sakit yang terkapar tak berdaya. Menyuapi makan, memandikan,memakaikan baju, pontang-panting menebus obat, menghibur dengan penuh kasih sayang.
Ketika kita sedih dan jatuh terpuruk, dimana kolega dan atasan ? Mereka tetap bekerja di kantor seperti biasa, dan membiarkan yang terluka berkubang dalam kesedihan. Tak ada kasih yang tulus seperti keluarga, sahabat dan orang-orang tercinta. Ironisnya yang terjadi adalah, kita seringkali mengabaikan mereka. Menganggap mereka kurang penting dibanding bos, atasan, dan kolega.
Pikiran langsung penuh dikuasai pekerjaan bila sudah bersama mereka. Tak ada ruang lagi untuk mengingat hal-hal lain, dan orang-orang lain yang terentang jarak tapi menyimpan cinta yang tulus di hati mereka untuk kita. Tak sempat lagi kita mengingat mereka. Terlalu sibuk kita hanya untuk sekedar berkirim kabar atau menanyakan keadaannya. Bahkan untuk semenit mendengar suaranya dari kejauhan pun kita tak rela mengeluarkan segenggam rupiah demi membayar biaya percakapan.
Sungguh kasihan manusia-manusia yang diperbudak oleh pekerjaan itu. Hidupnya hanya demi rupiah, dollar, dan euro. Niat untuk melakukan hal sepele bagi orang-orang tercinta terkalahkan oleh niat untuk mendapat gelar employee of the year.
Rupanya mahkota karyawan terbaik tahun ini lebih bergengsi daripada selempang gelar ” suami terbaik dan penuh cinta” dari sang istri, atau pin ” ayah paling hebat” dari anak-anak. Menjadi anak emas bos lebih utama rupanya daripada menjadi suami kesayangan dan ayah tercinta bagi keluarga.
Maka dari itu lupakan segala alasan kesibukan dan tak sempat itu. Akui saja bila memang kita tak memiliki niat dalam hati untuk mengingat mereka.Kita tak rela bila pulsa kita terpotong hanya untuk mengabarkan pada yang tercinta yang menanti di rumah bahwa kita baik-baik saja dan merindukan mereka. Pulsa terlalu mahal untuk sekedar menelpon yang tercinta, tapi sangat murah bila untuk menelpon atasan, bos dan kolega.
Jangan bilang lagi terlalu sibuk, akui saja kita lupa. Jangan katakan lagi tak sempat, mengaku saja bila terlalu asik dengan kolega. Jangan lagi beralasan pulsa tipis, bilang saja memang tak niat. Minimal dosa kita tidak bertambah dengan membohongi mereka yang tercinta itu lagi.