Archive for November, 2008

Bicara Soal Niat..

Thursday, November 27th, 2008

Niat itu cuma empat huruf. Meski begitu, kata empat huruf ini sangatlah bermakna. Karena niat inilah yang melandasi setiap perbuatan manusia. Kemana kaki melangkah, tentu dilandasi niat akan sesuatu.

Misalnya saya melangkah ke dapur, karena niat ingin mengambil minuman untuk tenggorokan yang haus. Saya pergi ke mall, karena ada barang yang perlu membeli suatu barang. Setiap hari saya keluar rumah dan berdesakan di mikrolet dengan niat untuk menuju kantor dan bekerja.

Apapun yang kita lakukan sehari-hari, hal besar maupun sepele, dilandasi oleh niat yang terbit dalam hati. Disadari ataupun tidak. Karena manusia lebih banyak tak sadarnya daripada sadar bukan ? Hayo ngaku.. :)
Maka dari itu saya tak percaya bila ada orang beralasan terlalu sibuk untuk sekedar mengetik 100 karakter sms dan mengirimkannya. Bahkan saya pun tak percaya bila ada orang kantoran di Jakarta yang mengaku tak bisa sms atau menelpon karena kehabisan pulsa.

Saya pikir ini hanya soal niat. Pulsa habis bisa dibeli, waktu barang 5 menit pasti ada di sela kesibukan tergila apapun. Karena itu saya tak percaya bila ada orang yang mengaku tak sempat melakukan sesuatu. Bila merasa tak niat baru saya percaya. Bila mengaku tak ingat baru saya mahfum.

Karena dengan niat saya yakin apapun bisa dilakukan. Bahkan kekuatan niat bisa membuat seseorang berhasil mewujudkan mimpi, mengatasi kesulitan dan memenangkan pertempuran.

Tapi herannya manusia kota yang selalu sibuk, niat itu bisa bulat dan kuat bila berkaitan dengan pekerjaan saja. Bila berurusan dengan hal lain seringkali niat itu menguap seketika. Badan mendadak lemas dan malas. Seakan bila tak berkaitan dengan pekerjaan, pangkat dan kedudukan semua menjadi kurang penting lagi.

Bila bos yang menelpon maka kita akan tergopoh-gopoh memenuhi panggilan, mengerjakan titah dengan takzim. Sedangkan bila keluarga, sahabat atau orang-orang tercinta yang menelpon mengajak bertemu. Berjuta alasan langsung dikemukakan untuk menunda pertemuan.

Kita lebih takut untuk terlambat tiba di kantor, daripada takut telat tiba di rumah untuk memenuhi janji makan malam bersama keluarga. Deadline dari atasan lebih mendesak untuk dipenuhi dibanding deadline dari yang tercinta untuk segera meluangkan waktu berlibur ke luar kota.

Kolega dan atasan jauh lebih penting daripada keluarga, sahabat dan orang-orang tercinta. Menunaikan tugas bersama kolega dan bos diatas segalanya dibanding dengan hal lainnya dalam hidup. Keluarga yang menanti dengan penuh cinta di rumah seringkali terabaikan karena kesibukan bersama kolega dan urusan kantor. Menganggap bahwa alasan kesibukan selalu harus bisa dipahami oleh mereka yang mencintai kita dengan tulus.

Mungkin tak pernah terlintas di pikiran kita, bahwa bila kita sakit, keluarga, sahabat dan yang tercinta lah yang akan merawat siang malam penuh cinta dan kesabaran. Dimana bos, atasan, dan kolega ? Mereka sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya. Jangan harap mereka akan menunggui si sakit yang terkapar tak berdaya. Menyuapi makan, memandikan,memakaikan baju, pontang-panting menebus obat, menghibur dengan penuh kasih sayang.

Ketika kita sedih dan jatuh terpuruk, dimana kolega dan atasan ? Mereka tetap bekerja di kantor seperti biasa, dan membiarkan yang terluka berkubang dalam kesedihan. Tak ada kasih yang tulus seperti keluarga, sahabat dan orang-orang tercinta. Ironisnya yang terjadi adalah, kita seringkali mengabaikan mereka. Menganggap mereka kurang penting dibanding bos, atasan, dan kolega.

Pikiran langsung penuh dikuasai pekerjaan bila sudah bersama mereka. Tak ada ruang lagi untuk mengingat hal-hal lain, dan orang-orang lain yang terentang jarak tapi menyimpan cinta yang tulus di hati mereka untuk kita. Tak sempat lagi kita mengingat mereka. Terlalu sibuk kita hanya untuk sekedar berkirim kabar atau menanyakan keadaannya. Bahkan untuk semenit mendengar suaranya dari kejauhan pun kita tak rela mengeluarkan segenggam rupiah demi membayar biaya percakapan.

Sungguh kasihan manusia-manusia yang diperbudak oleh pekerjaan itu. Hidupnya hanya demi rupiah, dollar, dan euro. Niat untuk melakukan hal sepele bagi orang-orang tercinta terkalahkan oleh niat untuk mendapat gelar employee of the year.

Rupanya mahkota karyawan terbaik tahun ini lebih bergengsi daripada selempang gelar ” suami terbaik dan penuh cinta” dari sang istri, atau pin ” ayah paling hebat” dari anak-anak. Menjadi anak emas bos lebih utama rupanya daripada menjadi suami kesayangan dan ayah tercinta bagi keluarga.

Maka dari itu lupakan segala alasan kesibukan dan tak sempat itu. Akui saja bila memang kita tak memiliki niat dalam hati untuk mengingat mereka.Kita tak rela bila pulsa kita terpotong hanya untuk mengabarkan pada yang tercinta yang menanti di rumah bahwa kita baik-baik saja dan merindukan mereka. Pulsa terlalu mahal untuk sekedar menelpon yang tercinta, tapi sangat murah bila untuk menelpon atasan, bos dan kolega.

Jangan bilang lagi terlalu sibuk, akui saja kita lupa. Jangan katakan lagi tak sempat, mengaku saja bila terlalu asik dengan kolega. Jangan lagi beralasan pulsa tipis, bilang saja memang tak niat. Minimal dosa kita tidak bertambah dengan membohongi mereka yang tercinta itu lagi.

Biar Curang, yang Penting Cepat..

Thursday, November 27th, 2008

Kecepatan sudah diperlakukan bak dewa oleh media online. Bersaing untuk menjadi yang tercepat sah-sah saja. Tapi sangat disayangkan bila persaingan memperebutkan predikat media tercepat, yang melaporkan berita terpanas itu dilakukan dengan upaya-upaya yang tercela. Melanggar etika dan norma. Lebih apes lagi ketika niat untuk menelikung dengan jalan curang itu ternyata ketahuan.

Bukan hanya malu yang didapat tentunya. Tapi kredibilitas si media juga patut dipertanyakan. Bila untuk membuktikan sebagai yang tercepat saja berani curang dan mengabaikan akurasi jam waktu yang sebenarnya, bagaimana dengan konten berita yang disajikan ? Masih bisakah pembaca percaya bahwa si wartawan dan penulis media itu tak berbuat curang ?

Saya sebetulnya memiliki barang bukti screen shoot, dari kecurangan media itu atas berita terpanas dalam negeri hari ini, Aulia Pohan akhirnya ditahan. Tapi sudahlah, mereka (harusnya) sudah cukup malu dengan kecurangannya yang ketahuan, tanpa perlu ditambah dalam rasa itu dengan memampangkan barbuk itu disini.

Saya hanya ingin menuliskan keprihatinan saya atas etika jurnalistik yang dilanggar dengan sengaja ini. Dan bukan hanya media yang malu ketahuan itu, warung online lainnya juga beberapa kali terpergok melakukan kecurangan yang sama. Memajukan setting waktu berita ditayangkan, dari jam dan menit sebenarnya. Tujuannya hanya satu, agar nampak lebih cepat.

Faktor yang mereka lupakan adalah logika. Media yang memuat berita ditahannya Aulia Pohan itu niatnya ingin memajukan menit sehingga nampak mereka berhasil menaikkan berita lebih cepat. Tapi apa lacur yang muncul di halaman depan adalah jam berita itu mundur dua jam.

Si penulis rupanya saking buru-burunya, malah mengotak atik jam menjadi dua jam mundur. Dari jam 17 menjadi jam 19. Padahal saat berita itu naik jelas-jelas masih ada lembayung senja, karena memang baru jam 17 sekian belas menit. Kecurangan yang sangat menohok mata, yang saya yakin bukan sekali ini saja mereka lakukan.

Kami satu kantor tertawa ngakak puas banget, menyaksikan kebodohan fatal mereka. Begitulah bila bekerja dilandasi niat hati yang buruk. Melakukan segala upaya untuk memenangkan persaingan. Tak segan cara-cara kotor pun dilakukan tanpa nurani.

Mereka hanya berpikir akan para pesaing yang harus dikalahkan dengan menaikkan berita lebih cepat. Mereka lupa esensi utama sebagai media. Tujuan kita bukan (semata-mata) memenangkan persaingan. Tujuan sebuah media didirikan adalah untuk memberi informasi pada publik. Media memiliki tanggung jawab pada publik sebagai pembaca. Kita bertanggung jawab untuk memberikan akurasi informasi, dan menjunjung tinggi etika.

Telat semenit kan tak apa daripada harus menanggung malu ketahuan curang. Meskipun biasanya juga (mungkin) curang, tapi kan selama ini gak ketahuan. Hari ini mungkin karena diliputi semangat yang terlalu tinggi saja, jadi apes.

Bos-bos kami yang alumni Tempo itu berkali menekankan dalam setiap rapat redaksi yang rutin kami lakukan tiap hari, bila harus memilih antara kecepatan dan akurasi, maka kami memilih akurasi. Terlambat tidak apa daripada mengorbankan akurasi. Karena soal akurasi adalah bentuk pertanggungjawaban kami pada publik. Itu baru urusan konten yang kami pegang teguh.

Apalagi soal waktu. Tak ada dalam kamus kami mengotak-ngatik jam dan menit di CMS agar berita kami nampak lebih cepat dari jam yang sebenarnya saat kami meng-upload. Tabu besar. Big no..no. Ini soal etika. Ini soal prinsip, dan akuntabilitas pada publik dan nurani.

Mungkin saya bisa sedikit berbagi tips dengan rekan-rekan di media online yang ingin cepat tanpa harus curang. Untuk berita-berita panas, siapkan saja template di CMS yang sudah lengkap dengan latar belakang kasus plus data-data 5 W + 1 H, dan foto. Ketika peristiwa yang dinanti itu sudah ada kabar terbaru, tinggal input data waktu peristiwa itu terjadi, dan klik tombol publish. Beres kan ? Berita naik cepat dan akurat, tanpa harus curang. Masalahnya cuma soal niat saja kok.

Semoga kecurangan seperti ini tak harus terjadi lagi, atau kepercayaan pembaca pada media online akan semakin tergerus akibat ulah para pekerjanya yang tak bermartabat.

“What has been given is given to give”

Wednesday, November 26th, 2008

“What has been given is given to give”. Itulah mutiara kata yang baru saya dapat dari perbincangan dengan seorang wartawan senior asal Jerman bulan lalu.

Kalimat yang kemudian melekat erat di benak saya, dan membekas dalam hati. Berkali dia menekankan bahwa semua yang telah diberikan pada kita saat ini bukanlah milik kita. Karena itu kita harus berbagi apa yang “dititipkan” pada kita itu kepada orang lain.

Sebagai wartawan kemampuan saya adalah menulis. Menulis pulalah yang menjadi alat saya berbagi. Saya rutin menuliskan pengalaman, perasaan, dan pikiran-pikiran saya dalam dua blog pribadi yang saya kelola.

Awalnya sungguh tak sengaja. Dua tahun lalu saya patah hati berat dan nyaris putus asa. Saya memberanikan menulis di blog untuk pertama kalinya sebagai upaya penyembuhan. Tak disangka tulisan-tulisan saya ternyata diapresiasi sangat baik oleh teman-teman yang membaca blog saya.

Malah saya mendapat banyak teman baru yang bermula dari ketertarikan mereka pada tulisan di blog saya. Para pembaca blog saya mengaku mendapatkan sesuatu dari tulisan-tulisan saya dan merasa terinspirasi.

Apresiasi yang sama sekali tak terduga. Saya tak bermimpi muluk-muluk ketika mulai menulis. Saya hanya berusaha menuliskan dengan jujur perenungan-perenungan saya tentang berbagai masalah. Rupanya banyak yang ikut hanyut dan mengikuti tulisan-tulisan saya dengan intens.

Saya pun semakin bersemangat menulis. Kalau dengan modal kemampuan menulis saya bisa menyalakan api harapan, dan memicu inspirasi untuk para pembaca blog saya kenapa tidak dilanjutkan ?

Senang sekali rasanya bisa melakukan itu. Tak pernah terkira rangkaian kata dari saya yang bukan siapa-siapa ini berhasil menyentuh banyak hati dan menggelitik banyak pikiran. Sebuah kebahagiaan yang tak terkira dan sungguh menyejukkan hati. Saya merasa hidup saya berarti sebagai manusia.

Menyadari kekuatan kata-kata yang bisa menembus ruang dan waktu, bahkan sekat-sekat masyarakat, saya pun bertekad untuk  mengajak lebih banyak orang menulis.

Saya sudah memulainya dengan masuk kampus demi kampus untuk mengajar para mahasiswa menulis. Saya mendorong para mahasiswa untuk mulai menuliskan ide, pikiran, pendapat, perasaan, dan pengalaman mereka di blog pribadi.

noted : ini tulisan yang saya kirim ke Femina, dan akan membawa saya berlibur gratis ke Jogja akhir pekan ini. Menurut salah satu dewan juri yang kebetulan istri rekan kantor saya, tulisan ini terpilih sebagai salah satu yang terbaik.

Thanks to my new, but “long time” friend Christel Pilz, yang telah  membisikkan kalimat pembuka diatas ke dalam batin saya.  Seorang teman dari kehidupan sebelumnya yang telah dipertemukan kembali untuk menjalani hidup yang lebih bermakna.

Saya Galak ? Memang..

Wednesday, November 26th, 2008

“Galak amat sih, cepet tua nanti,” sergah seseorang di YM hari ini pada saya. Entah kenapa untuk beberapa gelintir orang saya memang bisa sangat galak, judes, jutek dan sejenisnya. Sometimes I feel like I couldnt help myself to be mean to those certain people.

Mungkin reaksi kimia yang begitu kuat untuk menolak interaksi dengan orang-orang ini atau apa saya juga kadang bingung, kok saya jahat banget sih sama mereka. Meski kalau diingat-ingat lagi sebetulnya ini terkait dengan serentetan peristiwa yang masih membekas di kepala saya tentang mereka, dan belum berubah oleh waktu, karena saya memang telah menutup pintu interaksi dengan mereka.

Saya punya wilayah toleransi yang cukup luas sebetulnya. Stok sabar saya juga cukup banyak. Pada intinya saya orang yang gak suka ribut. Memilih untuk mengalah daripada harus konfrontatif. Misalnya bila ada senggolan di jalan, rebutan parkir, atau hal-hal sejenis, saya memilih memaksa teman atau siapapun yang bersama saya untuk segera berlalu dan menganggap permasalahan selesai. Saya males konflik.

Tapi ketika saya dipaksa hingga terpojok di ujung batas toleransi, dan stok sabar saya dikuras habis hingga tetes terakhir, maka saya berubah menjadi manusia paling saklek dan tak ada ampun. Saya memberi kesempatan pada seseorang itu tak pernah sekali, bisa berkali-kali. Ketika kemudian orang itu tak paham juga, maka saya hanya cukup berkata pada diri saya sendiri. I’m done with this person. Pintu interaksi saya kunci, jendela dan atap pun saya tutup erat-erat. Tak ada lagi celah untuk masuk bahkan untuk sekedar mengintip.

Tipe orang-orang yang berhasil membuat saya menjadi orang sangat galak dan super saklek itu biasanya mereka yang menurut saya kelewatan. Nekat melewati batas-batas etika, dan kesopanan. Tak sungkan memasuki ranah-ranah privasi yang tak seharusnya dia jejaki. Mereka yang suka memaksakan kehendak dengan kasar, seperti manusia congor bocor tak beretika di kantor saya itu. Saya sudah selesai dengan dia. Manusia yang IQnya (mestinya) tinggi, secara dia lulusan ITB, tapi EQ nya jongkok, etikanya nol, perilakunya kekanak-kanakkan padahal sudah punya anak tiga.

Dia pikir selalu menganggap orang bercanda, begitu juga ketika saya marah karena menurut saya dia sudah melampaui kewenangan. Sampai akhirnya dia sadar juga bahwa saya tidak main-main, dan saya sudah selesai dengan dia.

Manusia yang mengatai saya galak tadi itu lain lagi. Dia orang yang bukan teman sebetulnya, hanya pernah ketemu beberapa kali dulu sekali ketika saya bekerja di Jogja. Ketika “bertemu” lagi di sebuah milis tahun lalu dia pernah dengan sangat intens memaksa minta nomor ponsel saya. Bolak balik email, dan YM. Permintaan yang jelas-jelas saya tolak. Tapi laki-laki ini teguh kukuh terus maju tetap memaksa saya memberikan nomor ponsel, dengan mengajukan alasan-alasan bodoh.

“Kalau aku mau ke Jakarta gimana ? “, katanya. “Ya gak gimana-gimana, dateng aja ke Jakarta, Jakarta kan bukan punya gue, jawab saya. ” Loh kalau ke Jakarta aku mau ketemu kamu, kata dia keukeuh. ” Lah aku gak mau ketemu kamu kok,” jawab saya tak kalah keukeuh. Penolakan saya yang super tegas rupanya tak menyurutkan langkahnya. Karena bila muncul di YM dia selalu berusaha menyapa dan basa basi yang basi. Tentu saja lebih sering saya cuekkin.

Buat saya dia ini manusia kategori tak tahu diri. Sudah ditolak tetap memaksakan kehendaknya. It takes two to meet. It takes two to relate. And I refuse. I’m not interested, kenapa harus maksa ? Apakah saya harus berteman dengan semua orang ? Tentu tidak. Berteman pun butuh “chemistry”, kecocokan dalam banyak hal, dan tak bisa dipaksakan. It came naturally.

Manusia lain yang telah saya putuskan untuk selesai berelasi dengannya adalah satu teman kuliah. Seangkatan, bahkan wisuda pun bareng. Bukan sekali dua kali saya membantunya mencarikan pekerjaan, meskipun seringkali tak berhasil, karena employer tak berminat untuk mempekerjakannya, meskipun saya teman mereka yang merekomendasikan. Entahlah, dia memang sosok yang sulit untuk “dijual”. Gak marketable kayaknya.

Hingga pada suatu saat sekitar empat tahun lalu, ada seorang kakak kelas yang menjadi pimpinan salah satu media yang akhirnya berkenan mempekerjakan dia, setelah saya dengan segala bujuk rayu, dan promosi habis-habisan si teman pada sang senior. Dengan semangat esprit de corps sebagai satu almamater, akhirnya si teman pun diterima.

Dan anda tahu apa yang terjadi kemudian ? Bila anda pikir teman saya itu kemudian bekerja di media itu, anda salah besar. Teman yang sudah saya perjuangkan habis-habisan karena saya peduli padanya yang sudah empat tahun menganggur sejak lulus itu, ternyata memilih mengundurkan diri sebelum sempat masuk kantor. Alasannya, ibunya tak memberikan ijin untuk bekerja di Jakarta. Damn..Saya tertampar rasanya. Sungguh malu pada sang kakak kelas. Orang yang saya promosikan ternyata hanya segitu.

Sejak saat itu saya sudah berikrar dalam hati untuk tidak berurusan lagi dengan manusia satu itu. Satu lagi nama masuk kotak berjudul ” I’m done with this person “.

Orang-orang yang saya tak peduli lagi apa yang akan terjadi dengan mereka. Mau nungging silahkan, mau seneng syukur. Mau marah, kesal, tersinggung. Memaki saya dengan sejuta cacian. Melabeli saya dengan berbagai julukan yang buruk. Please do baby, I dont give it a damn to your life anymore. I’m done with you..

Tentang Keyakinan dan Optimisme

Monday, November 24th, 2008

Sejam lalu redaksi Femina menelpon. Katanya essay saya memenangkan lomba essay Femina - Citra. Bersama 29 pemenang lain, saya akan menikmati hadiah akhir pekan ke Jogja dan menikmati fasilitas spa di Rumah Cantik Citra sehari penuh. Akomodasi di hotel berbintang empat, plus tiket Garuda PP tentunya hadiah yang sangat saya butuhkan untuk meredakan penat.

Saya mengirimkan tulisan itu kemarin, hari terakhir penutupan. Kebetulan ada jadwal wawancara dengan GKR Hemas di Menteng, jadi bisa sekalian lewat di kantor Femina di Setiabudhi.

Saya mengikuti sayembara ini karena memang mengincar hadiahnya. Sudah lama tak ke Jogja, kota yang selalu bikin kangen ini terakhir saya kunjungi enam bulan lalu, ketika putri ketiga Raja Jogja menikah. Selain itu iming-iming bisa bersantai di spa seharian, menikmati hand and foot spa, totok wajah, body massage and scrub, plus berlatih yoga dan taichi tentulah sangat menggoda.

Saya sangat butuh semua kesegaran itu setelah berbulan-bulan terperangkap di kepenatan Jakarta. Karena anggaran yang terbatas untuk bersenang-senang semewah itu, jadilah semua itu tinggal impian untuk saya yang lebih fokus menata rumah mungil saya saat ini.Makanya ketika Femina menggelar sayembara ini saya pun sudah meniatkan diri untuk ikut dan menetapkan hati untuk menjadi pemenangnya.

Entah kenapa sejak menyelesaikan tulisan yang dikirim ke Femina itu, saya merasa sangat puas dengan hasilnya, dan super yakin bahwa saya akan berhasil menang. Keyakinan itu begitu kuat seperti telah mengirim sinyal ke alam semesta untuk mewujudkan keinginan saya.Jadi ingat konsep The Secret dan kisha di Alchemist nya Paulo Coelho.

Makanya ketika tadi ponsel saya menerima panggilan dari nomor 021520 sekian sekian, saya sudah tahu itu nomor kantor Femina, dan saya tahu berita apa yang akan disampaikan.

Soal optimisme dan keyakinan saya tentang sesuatu ini memang seringkali “menakutkan” bagi orang-orang di sekitar saya. Bahkan beberapa orang tak sungkan mentertawakan, ketika saya menceritakan keyakinan dan optimisme saya tentang berbagai mimpi dan cita-cita besar saya. Sahabat-sahabat lama saya termasuk diantaranya.

Ada yang bergumam, “andai gue bisa seoptimis elo Nden,”. Ada yang tertawa terbahak ketika menelpon saya mengucapkan selamat ultah, dan bertanya apa rencana saya selanjutnya. Saya jawab, ” dua tahun lagi gue pindah ke US,”, dan teman saya yang menelpon itu pun terbahak. Seakan saya sedang menceritakan hal yang lucu.

Ya, memang terdengar tak masuk akal cita-cita saya bila didengar pada konteks saat ini. Siapa saya kok nekat mimpi pengen pindah ke Amrik dan stay for good in good life disana ? Tapi saya tak goyah dengan tertawaan dan keheranan bahkan “ketakutan” orang-orang di sekitar saya. Setiap manusia berhak bermimpi, dan saya tak diam menunggu untuk mewujudkannya. Saya bergerak dan bertindak. Saya punya rencana untuk menjadikannya nyata.

Cita-cita besar saya berikutnya memang pindah ke Washington DC. Bekerja dan sekolah,  serta bersama lelaki tercinta itu membesarkan anak-anak kami. Mengajari mereka berbudaya dengan mengunjungi museum-museum yang memadati seantero Washington. Mendidik mereka dengan sistem pendidikan yang mengutamakan pendidikan karakter dan pengembangan potensi tiap anak yang unik.

Juga membiasakan mereka menjadi manusia yang terbuka dengan hidup diantara jutaan manusia yang beragam latar belakang dan ras. Menjauhkan mereka dari dogma-dogma yang hanya akan mengungkung pikiran mereka dan mempersempit ruang gerak untuk bertumbuh. Kehidupan yang lebih baik dimana sistem berjalan dan hukum ditegakkan.

Dan kali ini pun saya memiliki keyakinan yang kuat bahwa setiap hari langkah saya menuju ke sana. Keyakinan yang sama ketika saya bertekad kuat ingin kuliah di UGM dan berhasil menyisihkan ribuan peserta UMPTN lainnya untuk mendapatkan kursi di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM tahun 1995, padahal saya sudah kuliah di Sastra Perancis Unpad selama setahun.

Teman saya bahkan keluarga pun menatap heran seakan saya gila, ketika saya mengatakan bahwa saya akan pindah ke Jogja, berkuliah di Jurusan ilmu komunikasi UGM, dan kelak menjadi wartawan. Mereka lebih mengira saya gila lagi, ketika saya sudah meninggalkan ujian akhir semester kedua di Unpad. Kok nekat ? Padahal belum tentu diterima di UGM, kok udah berani-beraninya ninggalin kuliah di Unpad yang saat itu IP saya diatas rata-rata.

Saya hanya menjawab kalem, “gue pasti jebol kok ke UGM”. Semua orang mendengar itu geleng-geleng kepala. Tapi Nenden si keras hati memang bisa sekuat baja bila punya keinginan. Tak peduli dikira gila ataupun nekat. Saya terus bekerja siang malam untuk mewujudkan satu demi satu mimpi-mimpi ini. Karena saya yakin Tuhan bersama dalam setiap langkah saya. Sehingga tak ada ruang lagi untuk kegagalan, bila Tuhan telah menjadi “mitra” dalam perjalanan saya.

Apakah saya mulai terdengar gila lagi, sobat ? :)

Tantangan Tersulit di Kantor ini adalah….

Wednesday, November 12th, 2008

Hari yang melelahkan sungguh. Bukan hanya energi fisik yang terkuras, tapi mental dan isi kepala juga diaduk-aduk habis. Saya senang dengan penugasan baru yang menurut saya cukup menantang adrenalin dan merangsang kreativitas. Bukankah ini yang saya cari ketika saya lompat dari kantor lama ? Yup, I got it here.

Konsekuensinya memang capek lahir batin. Waktu istirahat pun berkurang banyak, otak saya digenjot untuk bekerja lebih keras. Mungkin saya juga belum sepenuhnya beradaptasi. Otak yang selama 2,5 dibiarkan tak terpakai, sekarang tiba-tiba dipaksa berpikir keras dan cepat. Ide-ide segar dan kreatif pun diminta untuk keluar dari sumber yang sama.

Tantangan selalu hadir dalam berbagai bentuk. Ada tugas baru yang lebih sulit, bos yang rewel, jam kerja yang sangat panjang, kolega yang tidak kooperatif atau pekerjaan yang terlalu banyak. Untuk saya apapun bentuknya tantangan muncul untuk ditaklukan.

Saya bersyukur bos-bos saya termasuk akomodatif dan suportif. Maklum mereka juga sudah bertahun-tahun malang melintang di media dan menjadi wartawan. Soal pengalaman lapangan dan suka duka jurnalis sudah kenyang mereka lalui. Tak heran bila mereka sangat paham dan akomodatif terhadap berbagai kendala kami para jurnalis di lapangan.

Untuk saya mereka guru-guru yang layak digugu dan ditiru. Upaya untuk terus meningkatkan kapasitas anak buah pun selalu dilakukan. Berbagai pelatihan diberikan untuk kami agar kualitas VIVAnews semakin baik. Mulai kemarin, kami sekarang berlatih menulis dengan maha guru menulis dari Tempo setiap selasa malam. Media online bukan berarti boleh merusak bahasa dan mengabaikan kaidah. Berbahasa yang cerdas bukan kampungan. Kecepatan bukan berarti boleh mengabaikan kaidah berbahasa yang benar.

Bos-bos kami sangat prihatin dengan situasi media online di Indonesia yang seakan-akan membentuk citra, media online bebas berbahasa apapun. Bahasa percakapan yang cair menjadi identik dengan gaya bahasa media berita online.

Padahal itu sama sekali tak benar. Maka dari itu bos-bos kami mengundang Pak Amarzan Lubis dari Tempo untuk menjadi guru kami dan memperbaiki kualitas penulisan kami yang memang berasal dari berbagai media. Seminggu sekali tulisan-tulisan kami dievaluasi. Banyak yang mengejutkan. Karena kami baru tahu begitu banyak yang salah kaprah dan tidak pada tempatnya, bahkan salah makna. Duh..

*****

Hari ini, untuk pertama kalinya saya harus gemetar menahan marah yang menggelegak di dalam dada. Mata saya sampai panas menahan air mata yang mendesak ingin menetes. Perdebatan panas dengan seorang kolega di YM benar-benar membuat saya meradang hingga ke ubun-ubun. Ini soal penugasan baru saya, dimana saya didapuk menjadi penanggung jawab.

Kolega satu ini memang terkait karena dia memimpin tim yang mendukung proyek yang saya kerjakan. Tapi saking bersemangatnya, dia kemudian jadi merambah ke semua lini, termasuk wilayah yang menjadi tanggung jawab saya. Tak hanya itu dia bahkan mendesakkan agenda pribadinya untuk saya eksekusi dalam proyek ini. Saya tersentak. Rasanya dia sudah melampaui batas kewenangan yang seharusnya. Dia tak berhak memutuskan apapun terkait konten, urusan dia dan timnya hanyalah soal IT. Urusan konten adalah tanggung jawab saya sebagai editor kanal. Mau saya isi apa itu kanal adalah wewenang saya dan bos-bos konten, bukan dia.

Afiliasi politik dia terhadap salah satu partai yang terkenal solid rupanya membuatnya lupa diri. Dia memaksa kanal yang menjadi tanggung jawab saya untuk “turut” berafiliasi pada partai yang selalu mencetak lonjakan hits di media online manapun yang memuat berita mereka. Atas nama hits dia mendesak saya untuk menggandeng mereka dan berdekapan erat dalam mengelola kanal ini.

Tentu saja saya tak setuju. Saya tak ingin kanal ini menjadi tunggangan parpol tertentu, tak peduli seberapa tinggi lonjakan hits yang akan disebabkannya. Saya akan memperlakukan mereka sama seperti parpol lain, atau golongan masyarakat yang lain. Visi kami jelas, kami ingin menjadi media untuk semua orang. Bukan hanya segelintir kaum kanan atau kiri.

Saya tak ingin kanal yang saya pimpin menjadi kendaraan politik. Ini adalah ruang untuk publik. Semua berhak mendapat kesempatan yang sama, tak peduli kontribusi dia memberikan jumlah hits berapa. Saya tak ingin ada keberpihakkan kepada salah satu golongan hanya atas nama hits. Keberpihakkan kami cukup satu pada pemilik modal.

Atas pendirian saya itu dia menuding saya sebagai close minded person. Ketika saya menegaskan soal pembagian tugas kerja tim, lagi-lagi dia menuding saya sebagai penganut sistem manajemen tertutup. Lalu untuk apa ada job description, kalau semua orang mengerjakan semua pekerjaan sekaligus ? Bukankah itu yang namanya team work ? Melakukan bagiannya masing-masing demi tercapainya misi tim bersama.

Saya pun tak sanggup meneruskan perdebatan, karena rasanya percuma berdebat dengan orang yang justru pikirannya lebih tertutup dan fanatik ini. Padahal saya sudah menyatakan padanya terima kasih atas kontribusi idenya, akan saya pertimbangkan.

Tapi rupanya dia tak puas, meski katanya dia katakan tak memaksa, tapi nada bicara dalam tulisan-tulisannya tegas sekali tertangkap unsur pemaksaan kehendak itu. Dia memaparkan fakta-fakta betapa powerfulnya parpol satu ini.Fakta-fakta yang sudah saya tahu sejak lama.

Saya sudah tegaskan bahwa saya akan memperlakukan semua kelompok dengan sama, selama mereka memenuhi syarat pemuatan tulisan. Tidak mengandung unsur SARA, pornografi, menganjurkan tindakan kekerasan, menyudutkan kelompok tertentu dan menyiarkan kebencian.

Ujung-ujungnya dia malah merendahkan kantor yang telah menjadi sumber nafkah untuk menghidupi ketiga anaknya. Parpol itu tak butuh VIVAnews katanya, karena parpol itu lebih digdaya dalam urusan hits daripada kami yang belum juga luncur sebulan dan masih versi beta. Loh kalau gitu kenapa dia gak kerja di parpol itu saja ? Ngakunya bukan sebagai salah satu pengurus partai itu, tapi entah kenapa dia sangat ngotot. Dan mengatakan visi yang ingin saya usung dengan kanal yang saya pimpin ini, sudah dilakukan lebih dulu oleh parpolnya itu. Aneh, kontradiktif dan tak konsisten.

Saya pun harus meredakan marah yang memuncak dengan menarik nafas dalam-dalam. Beberapa orang terdekat saya telpon untuk mencari setetes ketenangan dan sejumput kebijaksanaan untuk menghadapi kolega satu ini. Benar-benar tantangan yang menguji otot sabar saya. Ugh..

Si Kenthir yang Jadi Caleg

Tuesday, November 11th, 2008

Pernah kesal menerima SMS ? Pastinya pernah. SMS seperti apa yang biasanya membuat anda kesal ? SMS orang nagih hutang, atau sms yang membatalkan janji yang telah ditunggu-tunggu, bisa jadi menjadi penyebab anda merasa kesal. Memang bukan hanya isinya yang membuat kesal, tapi tentunya orang si pengirim pesan.

Untuk saya selain hal-hal tersebut, ada jenis SMS lain yang tak hanya membuat saya kesal, tapi juga muak. Bukan semata-mata isinya, tapi pengirim sms ini memang sudah lama ingin saya mutilasi isi pikirannya. Si pengirim SMS itu namanya Roy Suryo.

Hampir tiap hari, bahkan kadang lebih dari sekali dalam setiap harinya, pengamat kenthir gak tau malu itu mengirimkan sms pada saya. Isinya tentu saja kenarsisan yanag sudah masuk kategori sangat akut, dan mungkin perlu diperiksa oleh psikiater kaliber dunia.

Semua sms dari pengidap penyakit PDOD - percaya diri over dosis - ini terkait dengan pekerjaan saya sebagai wartawan. Saya ingat si kenthir ini mulai rajin meng-sms ketika saya masih jadi wartawan di biro Jogja. Berhenti ketika saya tak lagi alih profesi ke bidang lain. Dan kumat lagi ketika saya kembali ke jalur jurnalistik.

Jadi untuk anda yang tak berprofesi sebagai juru warta, berbahagialah, minimal satu sms yang membuat anda muak berhasil dihindari.

Saya memang bukan 1-2 bulan kenal si kenthir ini, lebih dari satu dekade lamanya. Nasib apes saya dimulai, ketika saya ditakdirkan menjadi mahasiswa komunikasi UGM ,yang mengambil mata kuliah Fotografi Dasar yang kebetulan saat itu, diampu oleh si kenthir yang saat itu rasanya masih agak waras.

Nilai A berhasil saya gondol dari mata kuliah itu, dan sempat membuat saya kecanduan memotret, dengan senjata Nikon FM2 hadiah ultah saya ke-20 dari Bapak tercinta.

Saat masih menjadi mahasiswa tentu saja saya memandang kagum pada sosok si kenthir yang selalu pamer gadget-gadget terbarunya. Tak heran sebagai anak pemilik rumah sakit terkenal dan keluarga ningrat, si kenthir ini tak kesulitan untuk membeli barang apapun yang dimaui. Apapun bisa dia beli dengan uangnya yang berlimpah, kecuali satu, kewarasan.

Selama saya di Jogja hingga tahun 2004, saya masih menaruh respek padanya, hanya karena si kenthir ini pernah menjadi dosen saya. Tapi lama kelamaan menyimak sepak terjangnya yang semakin kehilangan kontrol diri rasanya membuat saya bukan hanya kehilangan respek, tapi juga jijik dan muak.

Urat malu yang dulu masih terputus malu-malu, saat ini rasanya sudah tercerabut hingga ke akarnya. Tak ada lagi rasa malu tertinggal dalam dirinya. Tinggi hati, arogansi, dan menganggap diri sebagai si serba tahu rupanya telah membutakan biji mata, dan mata hatinya.

Kupingnya pun tentu saja sudah lama hanya jadi pajangan, karena memang tak berfungsi sebagai alat mendengar. Mulutnya pun sudah lama berkarat tak pernah disikat karena terlalu banyak kawat yang melilit lidahnya. Lidah emang tak bertulang tapi miliknya juga tak bermartabat.

Darah biru memang mengalir di tubuhnya, tapi sepertinya luput mengaliri otak dan hatinya. Sehingga tak mampu lagi berpikir jernih dan hatinya telah beku. Nurani pun enggan lagi bersuara. Hanya kekuasaan, nama tenar yang dikejarnya. Apapun yang dilakukannya bermuara pada satu tujuan, aku, kekuasaanku, ketenaranku, kekayaanku, dan segala tentang aku.

Saya kasihan dengan warga DIY yang memiliki caleg No.1 dari partai bernomor urut 31 itu. Semoga warga DIY yang punya hak pilih masih punya hati nurani dan kewarasan untuk tidak mengantarkannya ke gedung rakyat di Senayan.

Yes Nenden Can..

Wednesday, November 5th, 2008

Dream come true. Hari ini mimpi saya melihat Barack Obama menjadi penghuni Gedung Putih menjadi nyata. Memang Obama dan pendampingnya Joe Biden baru akan dilantik 20 Januari 2009 mendatang, tapi kepastian bahwa tahta Ruang Oval akan diduduki Obama sudah dalam genggaman.

Warga AS sudah memilih, dan mereka menorehkan sejarah. Isu rasial berhasil mereka tumbangkan. Ternyata keraguan banyak orang yang mempertanyakan apakah Amerika siap dengan Presiden kulit hitam, terjawab sudah. Ras bukan masalah lagi untuk orang Amerika. Presiden kulit berwarna pertama dalam sejarah AS itu bernama Barack Husein Obama.

Berita di AP yang saya kutip untuk laporan di VIVAnews Maknyuss itu menyebutkan Obama adalah presiden global. Tumbuh di Asia, berayah orang Afrika, bernama tengah dari Timur Tengah.

Saya menyaksikan antusiasme perhitungan yang suara elektor bersama ratusan orang lainnya di ballroom Hotel Intercontinental Jakarta. Warga AS di Jakarta, sahabat-sahabat Amerika dan para wartawan berbaur menantikan momen bersejarah itu. Meski hanya dari kejauhan saya merinding merasakan kemeriahan warga Amerika yang berhasil memilih presiden baru, dan mereka tak salah pilih seperti kekhawatiran Bradley Effect.

Kami terdiam menyaksikan pidato kemenangan Obama dari Grand Park Chicago secara langsung. He’s my hero after my father. Who inspire me that Yes We Can, yes Nenden can. Kalau Obama bisa mewujudkan cita-cita masa kecilnya, ketika ditanya guru SD nya di menteng, bahwa dia ingin menjadi presiden, maka Nenden juga bisa.

Obama bukan anak orang kaya, dan minoritas, tapi dia bisa menjadi orang besar yang mempengaruhi dunia. Menginspirasi banyak orang untuk berani mewujudkan mimpi dan melakukan perubahan yang lebih baik. Dia tak muluk-muluk dengan menjanjikan bisa menyelesaikan semua persoalan sendirian dengan posisinya menjadi presiden negara adidaya itu. Tapi dia mengajak semua orang untuk bersama-sama melakukan perubahan, berbuat sesuatu untuk menyelesaikan persoalan. Obama berhasil membangkitkan semangat bahwa setiap orang itu berdaya untuk memperbaiki hidupnya. Maju menyongsong masa depan yang lebih cerah.

Kata-kata dari mulutnya yang disampaikan dengan suara mantap berhasil menembus dinding hati dan melumasi sel-sel otak di kepala banyak orang untuk bergerak dan berbuat. Saya selalu terpukau mendengar pidatonya yang menggelora, meski saya bukan orang Amerika tapi saya tergerak untuk melakukan perubahan untuk diri saya sendiri. Yes Nenden can.

Mata saya berkaca-kaca melihat Obama di podium dan mengucapkan terima kasih untuk semua yang telah mendukungnya, dan nenek Madelyn Dunham yang wafat sehari sebelumnya. I wish I were there with those million people in Chicago.

I’m sooo happy for American people, for having Obama as their new president. Wishing them a better life and brighter future. America will be my next homeland. God Bless America.

My Birthday Gift

Monday, November 3rd, 2008

“Ulang tahun mau apa beib ?” Kata lelaki tercintaku kemarin. Ini pertanyaan yang pasti saya tunggu akan ditanyakan oleh orang-orang di sekeliling saya setiap bulan November pada tahun-tahun kemarin.

Tapi ketika ditanya pertanyaan yang sama tahun ini, saya malah bingung. Apalagi yang bertanya lelaki tercinta itu. Untuk saya kehadirannya dalam hidup ini saja sudah merupakan hadiah terbesar di usia ke-33 ini.

Saya tak butuh barang-barang mewah yang biasa diberikan para lelaki kepada kekasih tercintanya di hari ulang tahun. Mungkin saya perempuan aneh yang tak suka tas-tas mewah atau sepatu mahal seperti sahabat-sahabat saya. Saya tak tergila-gila pada aksesoris dan pakaian-pakaian bermerk yang menguras isi dompet. Biasa saja. Tak membuat saya ngidam dan harus menabung setengah mati demi barang-barang impian kaum hawa itu.

Buat saya menjadi cantik dan menarik tak berkaitan dengan barang-barang mahal yang ditempel di tubuh itu. Senyum manis yang keluar dari hati yang tulus penuh cinta adalah aksesoris terindah dari seorang perempuan. Kebaikan hati dan empati yang tinggi adalah pakaian tercantik yang dikenakan seorang perempuan. Bener kan saya perempuan yang aneh ? hehehe..

“Menemukan” lelaki dayak tercinta itu dalam hidup saya sudah lebih dari cukup. Tahun lalu masing-masing dari kami masih menjalani hidup yang berbeda, dengan kisah dan tragedinya sendiri-sendiri. Tahun ini adalah pertama kalinya saya akan merayakan pertambahan usia itu dengannya. Anugerah terindah yang pernah kumiliki, mengutip judul lagu lawas Sheila On 7.

Jawaban yang bisa saya katakan pada kekasih tercinta itu adalah, “You are my greatest birthday gift now and for the rest of my life. Being with you is more than anything to me. As I grow older, all I want just to love you better and.. better.”