Tantangan Tersulit di Kantor ini adalah….
Hari yang melelahkan sungguh. Bukan hanya energi fisik yang terkuras, tapi mental dan isi kepala juga diaduk-aduk habis. Saya senang dengan penugasan baru yang menurut saya cukup menantang adrenalin dan merangsang kreativitas. Bukankah ini yang saya cari ketika saya lompat dari kantor lama ? Yup, I got it here.
Konsekuensinya memang capek lahir batin. Waktu istirahat pun berkurang banyak, otak saya digenjot untuk bekerja lebih keras. Mungkin saya juga belum sepenuhnya beradaptasi. Otak yang selama 2,5 dibiarkan tak terpakai, sekarang tiba-tiba dipaksa berpikir keras dan cepat. Ide-ide segar dan kreatif pun diminta untuk keluar dari sumber yang sama.
Tantangan selalu hadir dalam berbagai bentuk. Ada tugas baru yang lebih sulit, bos yang rewel, jam kerja yang sangat panjang, kolega yang tidak kooperatif atau pekerjaan yang terlalu banyak. Untuk saya apapun bentuknya tantangan muncul untuk ditaklukan.
Saya bersyukur bos-bos saya termasuk akomodatif dan suportif. Maklum mereka juga sudah bertahun-tahun malang melintang di media dan menjadi wartawan. Soal pengalaman lapangan dan suka duka jurnalis sudah kenyang mereka lalui. Tak heran bila mereka sangat paham dan akomodatif terhadap berbagai kendala kami para jurnalis di lapangan.
Untuk saya mereka guru-guru yang layak digugu dan ditiru. Upaya untuk terus meningkatkan kapasitas anak buah pun selalu dilakukan. Berbagai pelatihan diberikan untuk kami agar kualitas VIVAnews semakin baik. Mulai kemarin, kami sekarang berlatih menulis dengan maha guru menulis dari Tempo setiap selasa malam. Media online bukan berarti boleh merusak bahasa dan mengabaikan kaidah. Berbahasa yang cerdas bukan kampungan. Kecepatan bukan berarti boleh mengabaikan kaidah berbahasa yang benar.
Bos-bos kami sangat prihatin dengan situasi media online di Indonesia yang seakan-akan membentuk citra, media online bebas berbahasa apapun. Bahasa percakapan yang cair menjadi identik dengan gaya bahasa media berita online.
Padahal itu sama sekali tak benar. Maka dari itu bos-bos kami mengundang Pak Amarzan Lubis dari Tempo untuk menjadi guru kami dan memperbaiki kualitas penulisan kami yang memang berasal dari berbagai media. Seminggu sekali tulisan-tulisan kami dievaluasi. Banyak yang mengejutkan. Karena kami baru tahu begitu banyak yang salah kaprah dan tidak pada tempatnya, bahkan salah makna. Duh..
*****
Hari ini, untuk pertama kalinya saya harus gemetar menahan marah yang menggelegak di dalam dada. Mata saya sampai panas menahan air mata yang mendesak ingin menetes. Perdebatan panas dengan seorang kolega di YM benar-benar membuat saya meradang hingga ke ubun-ubun. Ini soal penugasan baru saya, dimana saya didapuk menjadi penanggung jawab.
Kolega satu ini memang terkait karena dia memimpin tim yang mendukung proyek yang saya kerjakan. Tapi saking bersemangatnya, dia kemudian jadi merambah ke semua lini, termasuk wilayah yang menjadi tanggung jawab saya. Tak hanya itu dia bahkan mendesakkan agenda pribadinya untuk saya eksekusi dalam proyek ini. Saya tersentak. Rasanya dia sudah melampaui batas kewenangan yang seharusnya. Dia tak berhak memutuskan apapun terkait konten, urusan dia dan timnya hanyalah soal IT. Urusan konten adalah tanggung jawab saya sebagai editor kanal. Mau saya isi apa itu kanal adalah wewenang saya dan bos-bos konten, bukan dia.
Afiliasi politik dia terhadap salah satu partai yang terkenal solid rupanya membuatnya lupa diri. Dia memaksa kanal yang menjadi tanggung jawab saya untuk “turut” berafiliasi pada partai yang selalu mencetak lonjakan hits di media online manapun yang memuat berita mereka. Atas nama hits dia mendesak saya untuk menggandeng mereka dan berdekapan erat dalam mengelola kanal ini.
Tentu saja saya tak setuju. Saya tak ingin kanal ini menjadi tunggangan parpol tertentu, tak peduli seberapa tinggi lonjakan hits yang akan disebabkannya. Saya akan memperlakukan mereka sama seperti parpol lain, atau golongan masyarakat yang lain. Visi kami jelas, kami ingin menjadi media untuk semua orang. Bukan hanya segelintir kaum kanan atau kiri.
Saya tak ingin kanal yang saya pimpin menjadi kendaraan politik. Ini adalah ruang untuk publik. Semua berhak mendapat kesempatan yang sama, tak peduli kontribusi dia memberikan jumlah hits berapa. Saya tak ingin ada keberpihakkan kepada salah satu golongan hanya atas nama hits. Keberpihakkan kami cukup satu pada pemilik modal.
Atas pendirian saya itu dia menuding saya sebagai close minded person. Ketika saya menegaskan soal pembagian tugas kerja tim, lagi-lagi dia menuding saya sebagai penganut sistem manajemen tertutup. Lalu untuk apa ada job description, kalau semua orang mengerjakan semua pekerjaan sekaligus ? Bukankah itu yang namanya team work ? Melakukan bagiannya masing-masing demi tercapainya misi tim bersama.
Saya pun tak sanggup meneruskan perdebatan, karena rasanya percuma berdebat dengan orang yang justru pikirannya lebih tertutup dan fanatik ini. Padahal saya sudah menyatakan padanya terima kasih atas kontribusi idenya, akan saya pertimbangkan.
Tapi rupanya dia tak puas, meski katanya dia katakan tak memaksa, tapi nada bicara dalam tulisan-tulisannya tegas sekali tertangkap unsur pemaksaan kehendak itu. Dia memaparkan fakta-fakta betapa powerfulnya parpol satu ini.Fakta-fakta yang sudah saya tahu sejak lama.
Saya sudah tegaskan bahwa saya akan memperlakukan semua kelompok dengan sama, selama mereka memenuhi syarat pemuatan tulisan. Tidak mengandung unsur SARA, pornografi, menganjurkan tindakan kekerasan, menyudutkan kelompok tertentu dan menyiarkan kebencian.
Ujung-ujungnya dia malah merendahkan kantor yang telah menjadi sumber nafkah untuk menghidupi ketiga anaknya. Parpol itu tak butuh VIVAnews katanya, karena parpol itu lebih digdaya dalam urusan hits daripada kami yang belum juga luncur sebulan dan masih versi beta. Loh kalau gitu kenapa dia gak kerja di parpol itu saja ? Ngakunya bukan sebagai salah satu pengurus partai itu, tapi entah kenapa dia sangat ngotot. Dan mengatakan visi yang ingin saya usung dengan kanal yang saya pimpin ini, sudah dilakukan lebih dulu oleh parpolnya itu. Aneh, kontradiktif dan tak konsisten.
Saya pun harus meredakan marah yang memuncak dengan menarik nafas dalam-dalam. Beberapa orang terdekat saya telpon untuk mencari setetes ketenangan dan sejumput kebijaksanaan untuk menghadapi kolega satu ini. Benar-benar tantangan yang menguji otot sabar saya. Ugh..
November 12th, 2008 at 8:07 pm
hehe.. sabar ya mbak, denger2 beberapa divisi lain jg sering di buat jengkel oleh si pks (ups) itu. tanya saja bagian riset (ups) dan bagian ttiiiittt dan bagian ttiiitttt. memang beberapa sikap beliau kurang etis sebagai seorang profesional dan cenderung memaksakan kehendak, untungnya dia bukan pemilik saham.
November 13th, 2008 at 6:23 am
kukira ini bukan masalah terberat tempat kerjamu saja, tapi juga di tempat lain. been there, done that … just hang in there, nduk.
November 14th, 2008 at 5:30 pm
Saya pun harus meredakan marah yang memuncak dengan menarik nafas dalam-dalam… wah saya kira menarik pelatuk senjata yang siap terkokang … hem .. antiklimaks deh..
November 22nd, 2008 at 6:43 am
Hi Nenden..hope you still remember me dari ratusan orang yg ngajak ngobrol di PB tadi, hehehe…
moga2 marahnya udah mereda yaaaa
Oiyaaa, Yaya link yaa.
November 23rd, 2008 at 4:01 am
hi, salam kenal ya…
tempat baru butuh energi survival yang jauh lebih besar pula.
salut untuk mbak untuk tetap menempatkan media sebagai saluran netral yang non partisan, mudah-mudahan tetep kekeh dan sabar menghadapi hantama-hantaman orang-orang yang berusaha memaksakan “idieologi”nya. Sabar mbak…sarehhh…
March 16th, 2009 at 7:26 am
Memang tidak mudah untuk menjadi jurnalis yang non partisan itu. Apalagi kalau pemilik modal ternyata seorang partisan parpol (biasanya ketahuan belakangan). Demi, profesionalisme saya setuju kamu, Nen.
Tanya aja ama Wicak, yang udah malang melintang di dunia media puluhan tahun itu. Dia pasti punya pengalaman yang hampir sama.