Tentang Keyakinan dan Optimisme

Sejam lalu redaksi Femina menelpon. Katanya essay saya memenangkan lomba essay Femina - Citra. Bersama 29 pemenang lain, saya akan menikmati hadiah akhir pekan ke Jogja dan menikmati fasilitas spa di Rumah Cantik Citra sehari penuh. Akomodasi di hotel berbintang empat, plus tiket Garuda PP tentunya hadiah yang sangat saya butuhkan untuk meredakan penat.

Saya mengirimkan tulisan itu kemarin, hari terakhir penutupan. Kebetulan ada jadwal wawancara dengan GKR Hemas di Menteng, jadi bisa sekalian lewat di kantor Femina di Setiabudhi.

Saya mengikuti sayembara ini karena memang mengincar hadiahnya. Sudah lama tak ke Jogja, kota yang selalu bikin kangen ini terakhir saya kunjungi enam bulan lalu, ketika putri ketiga Raja Jogja menikah. Selain itu iming-iming bisa bersantai di spa seharian, menikmati hand and foot spa, totok wajah, body massage and scrub, plus berlatih yoga dan taichi tentulah sangat menggoda.

Saya sangat butuh semua kesegaran itu setelah berbulan-bulan terperangkap di kepenatan Jakarta. Karena anggaran yang terbatas untuk bersenang-senang semewah itu, jadilah semua itu tinggal impian untuk saya yang lebih fokus menata rumah mungil saya saat ini.Makanya ketika Femina menggelar sayembara ini saya pun sudah meniatkan diri untuk ikut dan menetapkan hati untuk menjadi pemenangnya.

Entah kenapa sejak menyelesaikan tulisan yang dikirim ke Femina itu, saya merasa sangat puas dengan hasilnya, dan super yakin bahwa saya akan berhasil menang. Keyakinan itu begitu kuat seperti telah mengirim sinyal ke alam semesta untuk mewujudkan keinginan saya.Jadi ingat konsep The Secret dan kisha di Alchemist nya Paulo Coelho.

Makanya ketika tadi ponsel saya menerima panggilan dari nomor 021520 sekian sekian, saya sudah tahu itu nomor kantor Femina, dan saya tahu berita apa yang akan disampaikan.

Soal optimisme dan keyakinan saya tentang sesuatu ini memang seringkali “menakutkan” bagi orang-orang di sekitar saya. Bahkan beberapa orang tak sungkan mentertawakan, ketika saya menceritakan keyakinan dan optimisme saya tentang berbagai mimpi dan cita-cita besar saya. Sahabat-sahabat lama saya termasuk diantaranya.

Ada yang bergumam, “andai gue bisa seoptimis elo Nden,”. Ada yang tertawa terbahak ketika menelpon saya mengucapkan selamat ultah, dan bertanya apa rencana saya selanjutnya. Saya jawab, ” dua tahun lagi gue pindah ke US,”, dan teman saya yang menelpon itu pun terbahak. Seakan saya sedang menceritakan hal yang lucu.

Ya, memang terdengar tak masuk akal cita-cita saya bila didengar pada konteks saat ini. Siapa saya kok nekat mimpi pengen pindah ke Amrik dan stay for good in good life disana ? Tapi saya tak goyah dengan tertawaan dan keheranan bahkan “ketakutan” orang-orang di sekitar saya. Setiap manusia berhak bermimpi, dan saya tak diam menunggu untuk mewujudkannya. Saya bergerak dan bertindak. Saya punya rencana untuk menjadikannya nyata.

Cita-cita besar saya berikutnya memang pindah ke Washington DC. Bekerja dan sekolah,  serta bersama lelaki tercinta itu membesarkan anak-anak kami. Mengajari mereka berbudaya dengan mengunjungi museum-museum yang memadati seantero Washington. Mendidik mereka dengan sistem pendidikan yang mengutamakan pendidikan karakter dan pengembangan potensi tiap anak yang unik.

Juga membiasakan mereka menjadi manusia yang terbuka dengan hidup diantara jutaan manusia yang beragam latar belakang dan ras. Menjauhkan mereka dari dogma-dogma yang hanya akan mengungkung pikiran mereka dan mempersempit ruang gerak untuk bertumbuh. Kehidupan yang lebih baik dimana sistem berjalan dan hukum ditegakkan.

Dan kali ini pun saya memiliki keyakinan yang kuat bahwa setiap hari langkah saya menuju ke sana. Keyakinan yang sama ketika saya bertekad kuat ingin kuliah di UGM dan berhasil menyisihkan ribuan peserta UMPTN lainnya untuk mendapatkan kursi di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM tahun 1995, padahal saya sudah kuliah di Sastra Perancis Unpad selama setahun.

Teman saya bahkan keluarga pun menatap heran seakan saya gila, ketika saya mengatakan bahwa saya akan pindah ke Jogja, berkuliah di Jurusan ilmu komunikasi UGM, dan kelak menjadi wartawan. Mereka lebih mengira saya gila lagi, ketika saya sudah meninggalkan ujian akhir semester kedua di Unpad. Kok nekat ? Padahal belum tentu diterima di UGM, kok udah berani-beraninya ninggalin kuliah di Unpad yang saat itu IP saya diatas rata-rata.

Saya hanya menjawab kalem, “gue pasti jebol kok ke UGM”. Semua orang mendengar itu geleng-geleng kepala. Tapi Nenden si keras hati memang bisa sekuat baja bila punya keinginan. Tak peduli dikira gila ataupun nekat. Saya terus bekerja siang malam untuk mewujudkan satu demi satu mimpi-mimpi ini. Karena saya yakin Tuhan bersama dalam setiap langkah saya. Sehingga tak ada ruang lagi untuk kegagalan, bila Tuhan telah menjadi “mitra” dalam perjalanan saya.

Apakah saya mulai terdengar gila lagi, sobat ? :)

7 Responses to “Tentang Keyakinan dan Optimisme”

  1. ridwan Says:

    Halo Nenden..apa kabar..punya Facebook gak?
    saya udah ketemu Reeya dan temen2x SMP 13 yang lain di FB…

  2. ndoro kakung Says:

    makan-makaaaaan….

  3. Yaya Says:

    kan law of attraction mbak :) what you think is what you do and what you do is what your are :)

  4. b1d@dari Says:

    kalo ga gila kan bukan elo nden… heuheuhe…
    tetep “segila” ini ya sist, doain gue juga bisa punya kesempatan yang sama, biar arisan antar negaranya bisa terwujud, amiiiinn…

  5. mypastpresentandfuture Says:

    @ridwan, iya saya ada di FB kok :)
    @ndoro, makannya di SGPC Bu wiryo ya ndor :)
    @Yaya, iya aku juga baca buku itu..keren sekali dan ketika mulai mempraktekannya, dahsyat..heran heran sendiri hehehe

    @b1d@dari, tetap semangat ya bu, seperti yang sering gw bilang, kesempatan itu sebenarnya ada di hadapan semua orang, cuma seringkali gak kelihatan, karena orang-orang ini terlalu sibuk mengeluh, sampe buta sama apa yang ada di depan hehehe..

  6. desy Says:

    nden, boleh minta artikelnya ga? *kiceup2* atau.. kl boleh, kl bisa, dimuat aja di sini. pgn baca euy… please…
    oya, add FB jg dong :D *banyak amat request-nya ya, heheheh*

  7. khun Says:

    halo Nenden, sayang kita tidak bertemu, baik di Pesta Blogger maupun di Djokja :(

Leave a Reply