Archive for December, 2008

Teror Akhir Tahun

Saturday, December 20th, 2008

Belakangan saya rada parno ketemu temen lama. Pertanyaan mereka selalu bikin dada mendadak sesak. Mana undangannya ? Duh..undangan apa seeh ? Kapan ? Kapan ? Kapan ? Udah siap-siap mau jahit kebaya nih..

Rentetan pertanyaan yang membuat saya merasa semakin terteror. Ketika masih single tanpa pacar dipertanyakan, kenapa sih terlalu pilih-pilih. Masak sih Nenden susah dapet pacar, bukannya antri yang mau ? Lah..bukan soal antri dan pilih-pilih.

It takes two to tango. Mau sejuta laki-laki yang antri mendekati kalau hati tak berkenan, pikiran tak bersahut, kimia dalam tubuh dan batin tak bereaksi, mau apa ? Hanya untuk mengejar tanggalnya status lajang ? Perempuan lain mungkin akan melakukannya, tapi tidak untuk saya.

Setelah berpacar teror mental bersalin rupa. Pertanyaan kapan dan tagihan akan undangan pun menjadikan saya serasa buronan yang kabur dari utang. SMS, YM, email, komentar di fesbuk ataupun friendster, semua menagih hal yang sama. Ingin rasanya berteriak marah saking frustasinya.

Saya seperti perempuan normal lainnya tentu ingin menikah, dan berkeluarga. Tapi bukankah itu urusan saya pribadi ? Kenapa mereka yang mengaku teman-teman saya, lama maupun baru itu, harus mendesak-desak saya sedemikian rupa sih ?

Saya dan lelaki tercinta itu punya banyak hal yang hanya perlu diketahui kami berdua saja. Rencana-rencana hidup kami biarlah hanya kami yang tahu, karena hanya kami pula yang akan menjalaninya. So please shut your mouth up guys.

Sampai tadi malam masih ada sms yang bertanya, kapan undangannya bu ?Hari sebelumnya ada PM di YM yang bertanya, jadi kapan loe nikah Nden ?. Semakin mendekati tahun berganti, pertanyaan itu semakin gencar meneror saya.  Semua selalu saya jawab normatif.

Padahal dalam hati kesal setengah mati. Memangnya kalo saya menikah pun orang-orang yang bertanya itu akan saya undang ? Orang yang masuk dalam daftar undangan saya tentunya tak perlu bertanya soal hal itu, karena mereka berada dekat dalam kehidupan saya sekarang, sehingga tahu apa yang sedang terjadi.

Truly best friends always support for eveything the best for their love ones. Dan saya hanya ingin berbagi dengan mereka yang terbaik dan terdekat saja. Mereka tahu tanpa harus bertanya. Mereka memberi tanpa harap kembali. Mereka mendengar tanpa diminta. Mereka mencintai tanpa meminta balasan.

“Mbak Nenden itu sudah menikah belum sih ?”

Friday, December 19th, 2008

Kapan menikah ? Pertanyaan itu rasanya pertanyaan rutin sejak saya berusia di penghujung angka 20. Semakin gencar ketika menginjak angka 30 hingga sekarang berbonus tiga.

Untuk saya pertanyaan itu masih terasa mengganggu hingga sekarang. Seandainya saya tahu jawabannya, dan seandainya pertanyaan itu tak harus diajukan. Mengapa pertanyaan itu seperti wajib diucapkan bila seorang teman, terutama yang lama tak bertemu, bertegur sapa dengan saya. Apakah hanya karena kehabisan bahan pertanyaan untuk berbasa basi ?

Ketika sedang tak punya pacar pertanyaan itu terasa menghakimi. Saat telah berpacar, pertanyaan itu terdengar mendesak saya ke pojok bumi yang bertembok tebal. Dari senyum manis, menjadi senyum hambar, hingga berakhir dengan senyum kecut sudah pernah menghiasi bibir ini. Kapan dong ? I wish I knew the answer.

Meskipun mungkin sudah ditanyakan beribu kali pada saya, tapi tetap saja berhasil membuat saya terpaku tak tahu hendak berkata apa. Beberapa hari lalu seorang teman baru bertemu saya di kantor sahabat saya di Langsat. Dalam diskusi yang sedang membahas masa depan perusahaan itu, tiba-tiba sang teman baru celetuk bertanya pada saya. “Mbak Nenden itu sudah menikah belum sih ?”. Saya yang tak siap ditodong pertanyaan segenting itu terpana sejenak, dan reflek menjawab, “nyaris!”.

Si penanya yang saya duga masih berusia 20an dan nampak lugu ini, sepertinya bingung dengan jawaban saya. Tak dinyana  Sang Paman Bijak yang turut serta dalam diskusi itu segera turun menengahi perbincangan yang awkward ini.

Paman Bijak menasihati si penanya bahwa pertanyaannya pada saya itu bukan pertanyaan yang sopan. I agree, it was a rude question. Saya seperti mendapat angin. Saya bilang, ” kalau kamu di luar negeri, dan menanyakan pertanyaan itu kepada teman yang orang asing, terutama dari barat, kamu mungkin sudah digampar. Dalam etika barat, ada tiga pertanyaan yang tabu untuk ditanyakan kepada orang lain. Soal agama, status pernikahan, dan usia.”

Paman Bijak menambahkan, juga soal anak. Karena menurut Paman, soal anak berkaitan erat dengan masalah kesehatan reproduksi perempuan yang juga sangat tabu untuk ditanyakan.

Agama, status pernikahan, usia dan anak ( kesehatan reproduksi) adalah soal-soal di wilayah privat. Agama adalah urusan pribadi manusia dengan Tuhannya. Status pernikahan juga sangat erat dengan pilihan seseorang tentang hidupnya. Ada masalah-masalah personal yang tak semua orang berhak untuk tahu. Begitu juga soal usia yang sensitif dan anak(kesehatan reproduksi).

Pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya memang terdengar kasar, tak beretika dan membuat yang ditanya menjadi tak nyaman. Saya sendiri selalu merasa disudutkan, dan insecure ketika ditanya soal-soal itu. Saya secara reflek bereaksi defensif menanggapinya. Mungkin karena akumulasi kemuakan saya atas keingintahuan orang-orang disini atas hal-hal pribadi saya.

Memang apa pengaruhnya status saya sudah menikah atau belum ? Apa urusannya orang lain dengan agama apa yang saya anut ? Usia saya berapa, memang berkaitan dengan hidup anda ? Heran saya dengan orang-orang yang secara pendidikan cukup intelek tapi secara etika sangatlah dibawah standar.

Mungkin itulah yang saya sukai ketika sedang berada di luar negeri, atau berurusan dengan orang-orang asing di negeri ini. Mereka rasanya jauh lebih sopan dan menghargai privasi orang lain, tanpa menghilangkan sense of helpful dan kepedulian.

Rekan-rekan warga asing bila pun ingin mengetahui status pernikahan saya, cara bertanyanya sangat elegan. Do you have a personal life ? Saya mahfum dengan pertanyaan itu. Setelah seru berdiskusi soal pekerjaan dan kesibukan kantor, dia bertanya soal kehidupan pribadi saya, yang saya jawab dengan senang hati. I have a boyfriend, and spend my weekend and personal time with him. Stated clearly, message delivered.

Sikap yang sama ketika mereka ingin menyampaikan status pernikahan mereka. Seorang teman baru bercerita ngalor ngidul, dan di sela-sela perbincangan menyelipkan informasi, “I’m living alone,”. Pesan pun diterima dengan baik. Dia ingin memberitahukan saya bahwa dia belum menikah, dan tak punya pacar.

Begitulah, etika ketimuran yang kita bangga-banggakan itu bagi saya hanya berupa justifikasi untuk mencampuri urusan orang lain. Tak ada wilayah privat yang dihargai dengan selayaknya. Karena kita berteman atau minimal sekarang jadi kenalan, maka ruang privatmu berhak dimasuki sesukanya. Saya boleh mengorek kisah hidupmu sedetil-detilnya, dan kamu harus mau membaginya. Duh..menyedihkan !

Semua campur jadi satu dalam ruang publik. Bahkan urusan paling pribadi sekalipun, seperti agama dan status pernikahan menjadi urusan publik. Seakan kamu harus mengumumkannya pada dunia. Dan semua orang berkepentingan bila kamu pindah agama atau berganti status pernikahan.Capek deh !

Personal Statement On The Net

Thursday, December 11th, 2008

“Kamu punya Facebook?”. Itu adalah pertanyaan yang kerap ditanyakan dengan sesama teman saat ini. Bila menjawab tidak rasanya kita merasa jadi manusia paling udik yang terisolir.

Dulu pertanyaannya, punya Friendster ? Setelah kepopuleran Friendster meredup seiring dengan munculnya Facebook dengan fitur-fitur yang lebih atraktif dan interaktif, pertanyaan pun berganti.

Mobilitas  tinggi manusia-manusia modern di kota besar memang membuat waktu untuk bersosialisasi semakin sempit. Akhirnya bentuk pertemanan pun turut bertransformasi ke dunia maya, dimana hampir semua orang terhubung setiap saat. Minimal jam kantor bila belum punya blackberry atau ponsel canggih berfitur 3G.

Maklum karena jarang bertemu, bertelepon juga tak setiap hari, rasanya lebih mudah mengetahui kabar terakhir teman-teman melalui status di Facebook mereka. Kita pun bisa aktif saling melempar komen dengan menulis di wall mereka. Bentuk komunikasi baru yang tetap mengeratkan pertemanan meski tak bercakap secara fisik.

Bukan hanya itu, aktivitas mereka dimana dengan siapa pun bisa kita intip melalui foto-foto yang diupload. Baru travel dari mana sih mereka ? Sedang apa sih mereka ? Lagi dimana mereka saat ini ? Seperti apa ya wajahnya sekarang ? Kerja dimana sih ? Statusnya sudah menikah belum ya ? Banyak cerita dan kabar teman yang bisa diketahui hanya dengan mengaduk-ngaduk Facebook.

Saya melihat untuk banyak orang, termasuk saya, Friendster dan Facebook adalah medium untuk bersosialisasi yang ampuh  bagi manusia-manusia sibuk saat ini. Meskipun belakangan Friendster sudah mulai ditinggalkan  dan penggunanya banyak yang berpindah ke Facebook yang memang lebih “seru”.

Karena itu saya berpendapat, FS dan FB ini sudah menjadi tempat bagi seseorang menyatakan siapa dirinya. Apa yang ditulis pada kolom profil dan foto-foto yang diupload kesana merupakan pernyataan pribadi untuk menunjukkan kita ini siapa. Seorang ibu rumah tangga tentu akan dengan bangga mengupload foto-foto anaknya yang lucu-lucu, acara liburan keluarga, atau rumah yang baru saja direnovasi.

Wartawan seperti saya tentunya akan pamer tempat-tempat di penjuru bumi ini yang pernah saya injak, dan orang-orang penting yang pernah saya temui, dengan memenuhi album di FS dan FB dengan foto-foto perjalanan dan orang-orang penting itu.

Status apa yang dicantumkan dalam kolom profile di FS dan FB itu juga berupa pernyataan. Meskipun banyak juga yang mencantumkan bukan kondisi sebenarnya. Misalnya sudah menikah tapi mengaku in a relationship atau it’s complicated, entah dengan alasan apa. Mungkin pernikahannya memang sedang complicated atau memang sengaja menyembunyikan status pernikahan dengan harapan bisa cari gebetan baru.

Sahabat saya yang single di usia 35 akhirnya “memalsukan” statusnya menjadi menikah, hanya karena status single yang tercantum di profilnya ternyata mengundang banyak pria dan wanita iseng yang mencoba flirting atau bahkan terang-terangan menawarkan jasa layanan seks profesional. Menyeramkan. Ketika status telah berubah “menikah” segala upaya iseng pun lenyap dengan sendirinya.

Saya sendiri pun mengalaminya. Ketika masih berstatus single, pesan-pesan mengajak berkenalan dan bertukar nomor ponsel pun ada saja yang masuk. Setelah saya ganti menjadi in a relationship, bahkan ketika foto-foto saya bersama lelaki tercinta itu saya upload, pesan-pesan itupun sirna, berganti dengan ucapan-ucapan selamat turut berbahagia dari sahabat-sahabat yang lama tak jumpa.

Saya juga pernah menulis status di Facebook saya, “missing my baby”. Taunya dikomentari ungkapan turut berduka cita oleh salah seorang kenalan yang memang bukan teman yang cukup dekat. Saya kaget sendiri. Kok ungkapan turut berduka cita. Akhirnya saya paham, saya sendiri memang yang “salah” menulis, sehingga orang yang membaca salah mengartikan. Maksud saya dengan status itu adalah, saya sedang kangen lelaki tercinta itu yang saya panggil beib, baby.. Tapi rupanya salah seorang kenalan itu mengartikannya saya kehilangan bayi saya, keguguran. Makanya komentar yang dituliskannya ungkapan turut berduka cita.

Saya  diingatkan untuk lebih hati-hati dengan apa yang saya tulis dan upload di ruang publik itu. Karena itu adalah ungkapan perasaan saya, posisi personal saya terhadap diri saya sendiri dan terhadap sesuatu yang dinyatakan pada publik.

Meskipun tak kecanduan, seperti teman-teman saya yang tak bisa lepas dari blackberry, saya menganggap Friendster dan Facebook adalah jendela untuk berkabar pada orang lain mengenai diri kita.

Inilah etalase diri, ruang untuk bercerita tentang kita dunia. Ruang narsis dalam konteks positif maupun negatif. Karena itu berhati-hatilah dengan apa yang ditulis, diupload, karena bisa menuai masalah yang mungkin tak diduga karena menganggap dua situs ini hanya untuk main-main.

Di jaman web 2.0 seperti ini, Friendster, Facebook dan blog bukan lagi medium main-main, so we better take it seriously to manage it good. Coz these tools represent who we are.  Bahkan banyak employer yang sudah meminta tambahan item baru di CV para pelamar, yaitu mencantumkan alamat blog dan juga profile Friendster dan Facebook mereka.

Ketiga tools ini akan menjadi medium bagi para employer untuk mengintip siapakah calon karyawannya. Bagaimana kepribadian ini orang dari komentar-komentar teman-teman di Friendster dan Facebook mereka. Banyak teman kah dia, periangkah orangnya, apa saja aktivitasnya ? Semua bisa diintip di foto-foto dan profile di kedua akun itu.

Untuk sedikit menguak apa pemikiran-pemikiran calon karyawan dengan membaca posting-posting di blog mereka. Karena itu jangan sepelekan  foto dan teks yang diupload di Friendster, dan Facebook, karena itu mewakili “diri kita” di dunia maya. Jangan heran bila orang salah persepsi. Coba introspeksi, apa yang kita tulis dan  foto  bagaimana yang kita upload. Tulisan kita dan foto kita adalah siapa kita, so be wise :)

Business Trip Affair

Tuesday, December 2nd, 2008

Tiba-tiba saya teringat seorang rekan wartawan perempuan cukup senior. Suatu makan siang dia pernah bercerita bahwa dia membekali suaminya kondom bila si suami akan dinas luar kota atau luar negeri.

Saat itu kami yang semeja dengannya tercengang mendengar kisahnya yang terdengar ajaib itu. Kok bisa-bisanya dia merelakan suaminya berselingkuh. Dia menjawab enteng. “Realistis aja sih kalo gue, jauh dari rumah, berhari-hari bahkan berminggu-minggu, peluang untuk selingkuh kan selalu ada. Gue sih gak mau pusing, yang penting dia “safe” aja,” katanya.

Rekan saya itu mungkin termasuk jenis istri yang langka. Pikirannya yang sangat logis dan praktis membuatnya bertindak seperti itu. Business trip affair memang cerita yang sangat biasa didengar, bahkan dialami.

Saya sangat mahfum dengan kisah cinta lokasi. Saya pun mengalaminya ketika perjalanan dinas ke Havana Kuba dua tahun lalu. Damn..I’m in love in Havana not just in love with Havana. perbedaan kata in dan with yang sekilas mirip padahal maknanya berbeda jauh. Saya jatuh cinta dengan seseorang di Havana, bukan hanya jatuh cinta pada kota Havana itu sendiri.

Saat itu saya masih single dan bahkan pacar pun sedang tak ada, begitu juga dengan wartawan TV dari Jakarta yang saya temui di Havana. Dia pun masih single dan tak punya pacar saat itu. Tak ada ikatan yang mengharuskan kami untuk setia dengan seseorang di tanah air tentunya. Havana love affair pun terjadi. Dan bubar tak lama setelah kembali ke Jakarta.

Tapi rupanya status menikah pun tak menghalangi seseorang untuk terlibat cinta lokasi. Bukan hanya artis kok yang bisa terlibat cinta sesaat dengan lawan mainnya. Pekerja media, pejabat, diplomat, pekerja kreatif dan hiburan,sales dan marketing, bahkan orang kantoran biasa yang sering dinas luar kota dan luar negeri pun sangat rentan melakukan affair di perjalanan.

Saya ingat pengalaman saya sendiri dalam beberapa perjalanan dinas luar negeri. Ketika itu beberapa rekan seperjalanan yang sudah menikah, staf maupun pejabat berusaha menggoda saya melakukan cinta lokasi.

Bukan hanya dengan rekan satu tim, tapi para mitra kerja kita di lapangan di negara setempat pun banyak sekali celah untuk berbuat nakal seperti itu. Staf-staf KBRI tentu saja, karena dengan mereka lah kita bekerja sama, dan jalan-jalan tentunya. Belum lagi wartawan dari berbagai media yang sama-sama meliput kegiatan.

Kalau mau gila ngikutin mau mereka..waaaah gampang sekali. Menghilang barang 2-3 jam berdua kemana apapun bisa terjadi. dari cuma jalan-jalan makan sambil remes-remesan tangan, sampai peluk cium dan adegan ranjang bisa terjadi. Tergantung niat dan kadar kesetiaan pada pasangan masing-masing saja.

Seorang pejabat membisikkan nomor kamar hotelnya pada saya di saat liputan di satu negara. Di negara lain diplomat yang lain berusaha mengajak saya tidur dengan berbagai cara, bahkan sudah melakukan pelecehan seks secara fisik dengan memeluk saya dengan paksa sambil mengajak berdansa. Pejabat lainnya berdalih mengajak foto tapi tangannya meraba-raba pinggang dan meremas pinggul saya dengan gemas.

Maaf saja saya tak tertarik main api dengan pria beristri yang gatal seperti itu. Meski hati panas dikuasai amarah, tapi saya tolak dengan halus semua tawaran itu. Harus dengan cara halus karena mereka adalah orang-orang yang cukup punya jabatan dan harus sedikit dielus harga dirinya. Saya belum cukup nekat untuk mempermalukan mereka dengan menolak ajakannya dengan kasar.

Semua mereka sudah beristri, dan tak sungkan melakukan itu. Bahkan sang pejabat menurut cerita selalu mencopot cincin kawinnya bila sedang dinas luar negeri.Suatu kali sang pejabat pernah kebingungan pada saat pulang dinas, cincin kawinnya “hilang” lupa diumpetin dimana. Untungnya ketemu, kalau tidak bakal terjadi Perang Bubat dengan sang istri.

Jauh dari pasangan, didesak horny yang butuh dipuaskan, sekedar iseng coba-coba atau emang jenis manusia gatal perlu digaruk, entah juga ya semua bisa dijadikan alasan pembenar tentunya. Tergantung sejauh mana seseorang berkomitmen dengan pasangannya.

Suasana di luar negeri yang sama sekali baru itu selalu nampak indah. Apalagi bila berdinas ke negeri yang eksotis dan jarang-jarang bisa dikunjungi. Romantisme sesaat terbawa suasana memang sangat mudah menghanyutkan bagi seseorang yang jauh dari kekasih, suami ataupun istri.

Apalagi ketika tugas usai, selesai mengantar Presiden ke bandara take off. Aaaahhhh saat yang dinanti pun tiba. Lepas PSL dan sepatu high heel. Ganti jeans dan kaos, sunglasses, sepatu casual..jalan-jalan time. Bibit-bibit flirting yang telah tersemai selama berurusan ketika bekerja berhari-hari sebelumnya pun menemukan momennya untuk dipuaskan.

Soal cinlok itu mau sebatas apa, itu hanya soal kesepakatan. Akankah sebatas di negara setempat atau berlanjut dengan chatting, email dan sms setelah kembali ke tanah air, tergantung kesepakatan juga dan seberapa dalam affair itu terjadi.

Belajar Bersyukur dari Yakkum

Monday, December 1st, 2008

Akhir pekan kemarin sungguh tak biasa. Saya ke Jogja lagi setelah enam bulan absen menyambangi kota penuh kenangan ini. Tapi saya tak sendirian. Saya berangkat bersama 29 perempuan cantik lainnya yang terpilih mengikuti Liburan Cantik Jiwa Raga Bersama Femina dan Citra.

Dua hari yang sangat padat dan melelahkan sebetulnya. Tapi sungguh penuh makna. Bukan hanya menambah teman dari berbagai profesi dan daerah, mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi meski pernah 9 tahun tinggal di Jogja, dan belajar mempercantik jiwa yang paling penting.

Berangkat dengan penerbangan pertama menuju Jogja di Sabtu pagi, memaksa saya bangun jam 4 pagi dan sudah nongkrong di Cengkareng jam 6 pagi. Puluhan perempuan cantik berpakaian merah ini tiba di Jogja pukul 9 pagi, dan langsung coffee break di Novotel tempat kami menginap semalam.

Agenda pertama langsung menuju Rumah Cantik Citra di Baciro. Sebelum menjalani perawatan tubuh yang tentu saja dinanti-nanti, kami mengikuti sesi  recharge kepala dan hati lebih dahulu oleh Mbak Ratih Ibrahim. Psikolog cantik yang membawa serta kedua jagoan ciliknya ini, berbagi cerita tentang satu kisah kliennya, dan berbagai permasalahan yang seringkali menghinggapi kita. Permasalahan yang menghalangi kita untuk merasa bahagia.

Kalimat pembukanya cukup menohok, “kita seringkali menginginkan sesuatu yang bukan milik kita,” kata Mbak Ratih. Karena selalu merasa milik orang lain lebih baik, maka kita lupa bersyukur dengan apa yang kita miliki. Lupa menghargai dan merawatnya. Pikiran kita sibuk dengan apa-apa yang kita tak punya, dan lupa untuk menerima diri dengan ikhlas apa adanya. Ingat menerima apa adanya bukan seadanya. Begitu kata si Mbak.

Bicara soal bersyukur dan menerima diri apa adanya, bukan seadanya, berkaitan dengan agenda berikutnya. Usai menikmati perawatan di Rumah Cantik Citra yang enak banget itu, kami mengunjungi Yakkum, Panti Yayasan Rehabilitasi Penyandang Cacat di Jl.Kaliurang Km.13.

Selama tinggal di Jogja saya sering melalui tempat ini. Tapi seumur-umur baru kali itu saya masuk ke dalam bangunan Yakkum. Ternyata para penghuni Yakkum menyimpan banyak pelajaran bagi kita yang mau menengoknya.

Kedatangan kami disambut oleh mereka semua penghuni yayasan dari berbagai usia di sebuah pendopo. Mereka dengan berbagai kondisi tubuh yang tidak utuh itu bernyanyi dengan riang. Lagu-lagu daerah yang ceria dinyanyikan sambung-menyambung dengan suara merdu dan iringan musik yang dimainkan sekitar 10 orang.

Melihat kondisi fisik mereka pun saya sudah merasa trenyuh. Di sebelah saya Gde, orang Bali berusia 16 tahun yang duduk diatas kursi roda. Wajahnya nampak masih anak-anak, mendengar usianya yang sudah 16 tahun saya agak terkejut. Di depan saya Wawan, usia 20 tahun asal Bandung yang juga duduk di kursi roda. Mereka tampak asik menonton penampilan teman-temannya. Sedangkan saya menatap dengan mata berkaca-kaca.

Ibu Maria Widagdo, Direktur Yakkum dalam kata sambutannya mengatakan bahwa bukan rasa kasihan yang dibutuhkan para penghuni yayasan. Tapi pemberdayaan agar mereka percaya diri dan merasa sama kedudukannya di masyarakat. Keberadaan Yakkum sejam 1982 memang ditujukan untuk merehabilitasi fisik dan mental para penyandang cacat fisik ini agar bisa berdaya di masyarakat.

Tak semua menderita cacat fisik sejak lahir. Banyak yang menjadi penghuni Yakkum akibat mengalami kecelakaan, dan harus kehilangan salah satu anggota tubuhnya, atau mengalami malfungsi.

Salah satunya Daru, 17 tahun, perempuan asal Bantul. Dia bercerita di depan forum dengan duduk di kursi rodanya. “Saya dulu bisa berlari dan berjalan seperti mbak-mbak semua. Tapi peristiwa dua tahun lalu, membuat saya patah tulang belakang. Saya adalah korban gempa Jogja,” kata Daru dengan wajah datar.  Daru mengaku butuh setahun untuk berjuang menerima kondisi baru fisiknya yang harus duduk di atas kursi roda sepanjang sisa hidupnya.

Ketika Daru bercerita. Saya tak kuasa menahan airmata yang menetes. Leher rasanya tercekat menahan isak yang mendesak.  “Tuhan, tabah sekali anak itu,” kata saya dalam hati. Daru masih bercerita ini itu, apa yang dia pelajari di Yakkum untuk membuat hidupnya tetap berdaya. Ingin rasanya saya berlari mencari ruang kosong nan sepi, dan menangis meraung-raung. Apa daya saya hanya bisa terpaku di bangku kayu yang saya duduki menahan diri untuk tidak mengisak.

Kemudian Eko maju dan mengisahkan perjalanan hidupnya hingga tiba di Yakkum. Eko asal Pekalongan yang memegang mic dengan secuil pangkal lengan yang masih tersisa bercerita soal peristiwa tahun 2002 itu. Dia tersengat listrik 20.000 watt yang menyebabkan kedua lengannya harus diamputasi. Padahal saat itu Eko sedang asik-asiknya menikmati masa muda sebagai pelajar SMA.

Saya semakin terpuruk dalam diam dan banjir airmata. Tamparan sekeras beton rasanya baru saja menghantam batin saya. Tuhan mohon ampun, jerit hati saya. Betapa tak tahu dirinya saya selama ini. Saya yang memiliki tubuh sempurna ini masih suka berkeluh kesah dan lupa bersyukur semua yang saya miliki.

Bukan hanya fisik saya yang utuh, otak saya bisa berpikir dengan baik, saya memiliki pekerjaan yang saya sukai, kantor yang menyenangkan, rumah mungil yang nyaman,keluarga yang selalu ada untuk saya, sahabat-sahabat yang baik dan hebat, kekasih tercinta yang mencintai saya dengan indah, saya memiliki semua hal. Tapi saya masih suka mengeluh ini dan itu. Gaji kurang banyak, mengeluh karena lama tak jalan-jalan, ngomel-ngomel karena terjebak macet, dan sejuta keluhan lainnya.

Saya lupa mensyukuri tubuh lengkap saya yang berfungsi dengan baik. Saya lupa bersyukur atas pekerjaan yang saya miliki saat ini. Saya selalu berharap lelaki tercinta itu mencintai saya dengan cara yang lebih ini dan itu. Padahal dia sudah dipilihkan Tuhan untuk saya seperti yang saya minta dalam Novenna. Dia yang terbaik, dan memang dia laki-laki penuh cinta yang hangat dan dewasa.

Maafkan sayang bila your beib ini kurang menghargaimu dan membalas cintamu dengan seharusnya. Maaf bila sering mengeluh ini itu. Maaf bila lupa mensyukuri keberadaanmu, dan kebersamaan kita. Maaf bila sering ngomel karena urusan sepele.

My dear Nanu, I love you so much. Thanks for being here in my life and be my wonderful partner. I do learn my lesson, here again in Jogja. To appreciate more what I have in life, and you’re the greatest part of it.

Di Jogja ini saya diingatkan betapa hidup saya lengkap, dan seharusnya saya benar-benar bahagia tanpa harus mengeluhkan ini itu lagi. Saya punya semua yang dibutuhkan untuk menjadi bahagia seutuhnya. Menjalani hidup dengan penuh rasa syukur dan ikhlas. Apa adanya bukan seadanya. Karena kata Mbak Ratih kalo seadanya, kita berarti pasrah tak berupaya, sedangkan apa adanya ya kita yang utuh tanpa kehilangan semangat berupaya, bekerja keras dan menjadi lebih baik.

Sekali lagi Jogja mengajarkan saya ilmu kehidupan. Kearifan alam dan kesederhanaan. Keikhlasan dalam menjalani hidup. Thanks to Yakkum dan Jogja. Thanks to Femina dan Citra yang membawa saya kesana.