Akhir pekan kemarin sungguh tak biasa. Saya ke Jogja lagi setelah enam bulan absen menyambangi kota penuh kenangan ini. Tapi saya tak sendirian. Saya berangkat bersama 29 perempuan cantik lainnya yang terpilih mengikuti Liburan Cantik Jiwa Raga Bersama Femina dan Citra.
Dua hari yang sangat padat dan melelahkan sebetulnya. Tapi sungguh penuh makna. Bukan hanya menambah teman dari berbagai profesi dan daerah, mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi meski pernah 9 tahun tinggal di Jogja, dan belajar mempercantik jiwa yang paling penting.
Berangkat dengan penerbangan pertama menuju Jogja di Sabtu pagi, memaksa saya bangun jam 4 pagi dan sudah nongkrong di Cengkareng jam 6 pagi. Puluhan perempuan cantik berpakaian merah ini tiba di Jogja pukul 9 pagi, dan langsung coffee break di Novotel tempat kami menginap semalam.
Agenda pertama langsung menuju Rumah Cantik Citra di Baciro. Sebelum menjalani perawatan tubuh yang tentu saja dinanti-nanti, kami mengikuti sesi recharge kepala dan hati lebih dahulu oleh Mbak Ratih Ibrahim. Psikolog cantik yang membawa serta kedua jagoan ciliknya ini, berbagi cerita tentang satu kisah kliennya, dan berbagai permasalahan yang seringkali menghinggapi kita. Permasalahan yang menghalangi kita untuk merasa bahagia.
Kalimat pembukanya cukup menohok, “kita seringkali menginginkan sesuatu yang bukan milik kita,” kata Mbak Ratih. Karena selalu merasa milik orang lain lebih baik, maka kita lupa bersyukur dengan apa yang kita miliki. Lupa menghargai dan merawatnya. Pikiran kita sibuk dengan apa-apa yang kita tak punya, dan lupa untuk menerima diri dengan ikhlas apa adanya. Ingat menerima apa adanya bukan seadanya. Begitu kata si Mbak.
Bicara soal bersyukur dan menerima diri apa adanya, bukan seadanya, berkaitan dengan agenda berikutnya. Usai menikmati perawatan di Rumah Cantik Citra yang enak banget itu, kami mengunjungi Yakkum, Panti Yayasan Rehabilitasi Penyandang Cacat di Jl.Kaliurang Km.13.
Selama tinggal di Jogja saya sering melalui tempat ini. Tapi seumur-umur baru kali itu saya masuk ke dalam bangunan Yakkum. Ternyata para penghuni Yakkum menyimpan banyak pelajaran bagi kita yang mau menengoknya.
Kedatangan kami disambut oleh mereka semua penghuni yayasan dari berbagai usia di sebuah pendopo. Mereka dengan berbagai kondisi tubuh yang tidak utuh itu bernyanyi dengan riang. Lagu-lagu daerah yang ceria dinyanyikan sambung-menyambung dengan suara merdu dan iringan musik yang dimainkan sekitar 10 orang.
Melihat kondisi fisik mereka pun saya sudah merasa trenyuh. Di sebelah saya Gde, orang Bali berusia 16 tahun yang duduk diatas kursi roda. Wajahnya nampak masih anak-anak, mendengar usianya yang sudah 16 tahun saya agak terkejut. Di depan saya Wawan, usia 20 tahun asal Bandung yang juga duduk di kursi roda. Mereka tampak asik menonton penampilan teman-temannya. Sedangkan saya menatap dengan mata berkaca-kaca.
Ibu Maria Widagdo, Direktur Yakkum dalam kata sambutannya mengatakan bahwa bukan rasa kasihan yang dibutuhkan para penghuni yayasan. Tapi pemberdayaan agar mereka percaya diri dan merasa sama kedudukannya di masyarakat. Keberadaan Yakkum sejam 1982 memang ditujukan untuk merehabilitasi fisik dan mental para penyandang cacat fisik ini agar bisa berdaya di masyarakat.
Tak semua menderita cacat fisik sejak lahir. Banyak yang menjadi penghuni Yakkum akibat mengalami kecelakaan, dan harus kehilangan salah satu anggota tubuhnya, atau mengalami malfungsi.
Salah satunya Daru, 17 tahun, perempuan asal Bantul. Dia bercerita di depan forum dengan duduk di kursi rodanya. “Saya dulu bisa berlari dan berjalan seperti mbak-mbak semua. Tapi peristiwa dua tahun lalu, membuat saya patah tulang belakang. Saya adalah korban gempa Jogja,” kata Daru dengan wajah datar. Daru mengaku butuh setahun untuk berjuang menerima kondisi baru fisiknya yang harus duduk di atas kursi roda sepanjang sisa hidupnya.
Ketika Daru bercerita. Saya tak kuasa menahan airmata yang menetes. Leher rasanya tercekat menahan isak yang mendesak. “Tuhan, tabah sekali anak itu,” kata saya dalam hati. Daru masih bercerita ini itu, apa yang dia pelajari di Yakkum untuk membuat hidupnya tetap berdaya. Ingin rasanya saya berlari mencari ruang kosong nan sepi, dan menangis meraung-raung. Apa daya saya hanya bisa terpaku di bangku kayu yang saya duduki menahan diri untuk tidak mengisak.
Kemudian Eko maju dan mengisahkan perjalanan hidupnya hingga tiba di Yakkum. Eko asal Pekalongan yang memegang mic dengan secuil pangkal lengan yang masih tersisa bercerita soal peristiwa tahun 2002 itu. Dia tersengat listrik 20.000 watt yang menyebabkan kedua lengannya harus diamputasi. Padahal saat itu Eko sedang asik-asiknya menikmati masa muda sebagai pelajar SMA.
Saya semakin terpuruk dalam diam dan banjir airmata. Tamparan sekeras beton rasanya baru saja menghantam batin saya. Tuhan mohon ampun, jerit hati saya. Betapa tak tahu dirinya saya selama ini. Saya yang memiliki tubuh sempurna ini masih suka berkeluh kesah dan lupa bersyukur semua yang saya miliki.
Bukan hanya fisik saya yang utuh, otak saya bisa berpikir dengan baik, saya memiliki pekerjaan yang saya sukai, kantor yang menyenangkan, rumah mungil yang nyaman,keluarga yang selalu ada untuk saya, sahabat-sahabat yang baik dan hebat, kekasih tercinta yang mencintai saya dengan indah, saya memiliki semua hal. Tapi saya masih suka mengeluh ini dan itu. Gaji kurang banyak, mengeluh karena lama tak jalan-jalan, ngomel-ngomel karena terjebak macet, dan sejuta keluhan lainnya.
Saya lupa mensyukuri tubuh lengkap saya yang berfungsi dengan baik. Saya lupa bersyukur atas pekerjaan yang saya miliki saat ini. Saya selalu berharap lelaki tercinta itu mencintai saya dengan cara yang lebih ini dan itu. Padahal dia sudah dipilihkan Tuhan untuk saya seperti yang saya minta dalam Novenna. Dia yang terbaik, dan memang dia laki-laki penuh cinta yang hangat dan dewasa.
Maafkan sayang bila your beib ini kurang menghargaimu dan membalas cintamu dengan seharusnya. Maaf bila sering mengeluh ini itu. Maaf bila lupa mensyukuri keberadaanmu, dan kebersamaan kita. Maaf bila sering ngomel karena urusan sepele.
My dear Nanu, I love you so much. Thanks for being here in my life and be my wonderful partner. I do learn my lesson, here again in Jogja. To appreciate more what I have in life, and you’re the greatest part of it.
Di Jogja ini saya diingatkan betapa hidup saya lengkap, dan seharusnya saya benar-benar bahagia tanpa harus mengeluhkan ini itu lagi. Saya punya semua yang dibutuhkan untuk menjadi bahagia seutuhnya. Menjalani hidup dengan penuh rasa syukur dan ikhlas. Apa adanya bukan seadanya. Karena kata Mbak Ratih kalo seadanya, kita berarti pasrah tak berupaya, sedangkan apa adanya ya kita yang utuh tanpa kehilangan semangat berupaya, bekerja keras dan menjadi lebih baik.
Sekali lagi Jogja mengajarkan saya ilmu kehidupan. Kearifan alam dan kesederhanaan. Keikhlasan dalam menjalani hidup. Thanks to Yakkum dan Jogja. Thanks to Femina dan Citra yang membawa saya kesana.