Hua Hin Thailand
Saturday, February 28th, 2009Hari ketiga di Hua Hin Thailand. Terdampar di Media Centre 14th ASEAN Summit, di Hotel Sheraton. Wartawan Indonesia yang ikut rombongan Presiden ini memang rajin banget. Sudah dua hari berturut-turut selama KTT ini kita selalu datang paling pagi saat media centre masih sepi.
Seperti biasa tim biro pers istana parno dan tergesa ingin segera memberangkatkan kami ke tempat acara, meski acara yang bisa diliput masih berjam-jam berikutnya. Menunggu adalah nama tengah para wartawan, dimanapun dan acara apapun. Terima nasib namanya juga diajak, dan lebih mending di media centre sini, karena ada koneksi internet gratis.
Di hotel tempat kami menginap, Hyatt Regency Hua Hin, koneksi internet super duper mahal. Di kamar akan kena charge 765 baht per 24 jam dan per komputer. Jadi bila saya berdua teman sekamar menggunakan komputer yang berbeda, ya sudah 765 kali dua. Rugi bandar..
Business centre pun tak kalah mahalnya. Untuk akses koneksi internet selama 23 menit, saya harus membayar 175 baht. Saya pun jadi panik melihat argo internet yang berlari kencang. Kirim berita pun terbirit-birit, sebagian kukirim mentahan, karena tak berani browsing sana sini untuk melengkapi data. Biarlah rekan-rekan yang piket di kantor dengan koneksi murah untuk mengolah data yang kukirim supaya jadi berita lengkap.
Hua Hin memang bukan tempat bisnis. Orang berkunjung ke Hua Hin, sekitar 3 jam jalan darat dari Bangkok, untuk berlibur. Menikmati laut biru, pasir putih, dan udara segar di pantainya yang bebas karang dan melengkung indah bertabur sinar matahari tropis yang memanggang.
Harga-harga pun cukup bersahabat untuk orang Indonesia, ragam makanan yang tersaji juga cocok di lidah. Pedas, asam dan berbagai hidangan penutup ala jajanan pasar di Indonesia pun mengundang selera. Saya memang penggemar jajanan pasar dan makanan penutup tradisional. Di Hua Hin ini lidah saya manjakan untuk bereksplorasi rasa menikmati jajanan manis-manis dan unik ini. Banyak miripnya dengan makanan Indonesia.
Sayang kunjungan tiga hari disini, harus dinikmati dalam balutan jas dan sepatu pantofel serta menenteng ransel berisi laptop serta segudang peralatan kerja. Sementara para turis yang menginap di Hyatt berseliweran dengan kaus tank top, sun glasses, dan celana pendek. Pakaian khas liburan yang santai.
Kami pun hanya memandang dengan iri, nasib namanya juga kerja dan nebeng rombongan presiden pula, terima saja. Bahkan saat pembukaan KTT dimulai, lucunya kami malah digiring kembali ke hotel karena Presiden akan konpers. Dan kami pun kehilangan momen menyimak pidato pembukaan PM Thailand Abhisit Vejjajiva yang ganteng itu.
Rombongan wartawan ini pun cuma nyengir satu sama lain, tak ada yang menaikkan berita pembukaan KTT ASEAN. Kita kesini diundang Presiden ya sudah, kegiatan yang kami liput pun hanya aktivitas Presiden terkait KTT ASEAN.
Para bos di kantor yang komplen dan menuntut ini itu silahkan saja. Kalau mau protes karena berita tak lengkap, kurang banyak, tak sesuai kuota, dan segudang omelan yang siap menanti, tinggal dijawab balik saja, kenapa tak mengirim wartawan dengan biaya sendiri sehingga bisa meliput sesuai pesanan kantor. Namanya nebeng ya tahu diri, ikut saja agenda pengundang. Ok boss ?
Kunjungan singkat ini cukup memberi insight. Suatu saat rasanya ingin kembali ke sini dan benar-benar berlibur. Suasananya seperti Bali, meski jalanan lebih lebar dan nampak lebih bersih daripada di Indonesia.
Apakah hanya karena sedang ada KTT ya ? Tak tahu juga, situasi KTT memang jangan dipersepsikan kondisi normal, semua sudah dipoles dan dipersiapkan untuk menampilkan wajah terbaik dari negara penyelenggara. Jadi mendingan jangan percaya-percaya banget deh hehehe.