Archive for February, 2009

Hua Hin Thailand

Saturday, February 28th, 2009

Hari ketiga di Hua Hin Thailand. Terdampar di Media Centre 14th ASEAN Summit, di Hotel Sheraton. Wartawan Indonesia yang ikut rombongan Presiden ini memang rajin banget. Sudah dua hari berturut-turut selama KTT ini kita selalu datang paling pagi saat media centre masih sepi.

Seperti biasa tim biro pers istana parno dan tergesa ingin segera memberangkatkan kami ke tempat acara, meski acara yang bisa diliput masih berjam-jam berikutnya. Menunggu adalah nama tengah para wartawan, dimanapun dan acara apapun. Terima nasib namanya juga diajak, dan lebih mending di media centre sini, karena ada koneksi internet gratis.

Di hotel tempat kami menginap, Hyatt Regency Hua Hin, koneksi internet super duper mahal. Di kamar akan kena charge 765 baht per 24 jam dan per komputer. Jadi bila saya berdua teman sekamar menggunakan komputer yang berbeda, ya sudah 765 kali dua. Rugi bandar..

Business centre pun tak kalah mahalnya. Untuk akses koneksi internet selama 23 menit, saya harus membayar 175 baht. Saya pun jadi panik melihat argo internet yang berlari kencang. Kirim berita pun terbirit-birit, sebagian kukirim mentahan, karena tak berani browsing sana sini untuk melengkapi data. Biarlah rekan-rekan yang piket di kantor dengan koneksi murah untuk mengolah data yang kukirim supaya jadi berita lengkap.

Hua Hin memang bukan tempat bisnis. Orang berkunjung ke Hua Hin, sekitar 3 jam jalan darat dari Bangkok, untuk berlibur. Menikmati laut biru, pasir putih, dan udara segar di pantainya yang bebas karang dan melengkung indah bertabur sinar matahari tropis yang memanggang.

Harga-harga pun cukup bersahabat untuk orang Indonesia, ragam makanan yang tersaji juga cocok di lidah. Pedas, asam dan berbagai hidangan penutup ala jajanan pasar di Indonesia pun mengundang selera. Saya memang penggemar jajanan pasar dan makanan penutup tradisional. Di Hua Hin ini lidah saya manjakan untuk bereksplorasi rasa menikmati jajanan manis-manis dan unik ini. Banyak miripnya dengan makanan Indonesia.

Sayang kunjungan tiga hari disini, harus dinikmati dalam balutan jas dan sepatu pantofel serta menenteng ransel berisi laptop serta segudang peralatan kerja. Sementara para turis yang menginap di Hyatt berseliweran dengan kaus tank top, sun glasses, dan celana pendek. Pakaian khas liburan yang santai.

Kami pun hanya memandang dengan iri, nasib namanya juga kerja dan nebeng rombongan presiden pula, terima saja. Bahkan saat pembukaan KTT dimulai, lucunya kami malah digiring kembali ke hotel karena Presiden akan konpers.  Dan kami pun kehilangan momen menyimak pidato pembukaan PM Thailand Abhisit Vejjajiva yang ganteng itu.

Rombongan wartawan ini pun cuma nyengir satu sama lain, tak ada yang menaikkan berita pembukaan KTT ASEAN. Kita kesini diundang Presiden ya sudah, kegiatan yang kami liput pun hanya aktivitas Presiden terkait KTT ASEAN.

Para bos di kantor yang komplen dan menuntut ini itu silahkan saja. Kalau mau protes karena berita tak lengkap, kurang banyak, tak sesuai kuota, dan segudang omelan yang siap menanti, tinggal dijawab balik saja, kenapa tak mengirim wartawan dengan biaya sendiri sehingga bisa meliput sesuai pesanan kantor. Namanya nebeng ya tahu diri, ikut saja agenda pengundang. Ok boss ?

Kunjungan singkat ini cukup memberi insight. Suatu saat rasanya ingin kembali ke sini dan benar-benar berlibur. Suasananya seperti Bali, meski jalanan lebih lebar dan nampak lebih bersih daripada di Indonesia.

Apakah hanya karena sedang ada KTT ya ? Tak tahu juga, situasi KTT memang jangan dipersepsikan kondisi normal, semua sudah dipoles dan dipersiapkan untuk menampilkan wajah terbaik dari negara penyelenggara. Jadi mendingan jangan percaya-percaya banget deh  hehehe.

Jakarta Globe

Monday, February 23rd, 2009

Aneh juga membaca tentang diri sendiri di media. Hari ini untuk pertama kalinya, saya muncul di koran dengan porsi yang cukup besar. Hampir separuh halaman belakang, harian berbahasa Inggris Jakarta Globe.

Dulu sekali di Jogja, pernah juga sih masuk koran, meskipun untuk hal remeh temeh dan hanya karena wartawannya seorang teman.

Zack Petersen , copy editor Jakarta Globe, mewawancarai saya Sabtu pagi pekan lalu Starbuck Oakwood. Menyenangkan bisa berbagi cerita mengenai pengalaman menarik itu, meski tentu saja beberapa orang akan memandang dengan cemburu dan mencemooh. Baru segitu aja udah jumawa, sombong, pamer..Ya biarin orang bebas berkomentar. Saya pun berhak menghargai diri saya sendiri atas kerja keras ini.

“Ini buah dari kerja keras dan kesabaranmu Nden, tapi bersiap-siaplah akan cacian dan lirik iri, just keep going.” demikian pesan sang malaikat yang saya camkan baik-baik.

Ya teruslah berjalan Nenden, benahi diri untuk selalu menjadi lebih baik, tetap tersenyum termasuk pada mereka yang memandang dengan bara iri.

Facing My Fear

Sunday, February 22nd, 2009

Saya pikir saya sudah sembuh. Saya kira saya sudah berhasil melaluinya dengan baik. Saya anggap diri saya sudah normal kembali. Utuh dan lengkap. Ternyata saya salah, luka bertahun lalu itu rupanya meninggalkan jejak demikian dalam.

Darahnya mungkin telah kering, kulitnya telah kembali rapat, tapi trauma yang membekas dalam jiwa rupanya belum tersembuhkan seluruhnya. Sisi gelap kerusakan emosi itu belum sepenuhnya sehat.

Hantu dalam diri ini bernama perasaan tidak aman. Terdengar sepele, tapi dampaknya demikian dahsyat. Saya yang dikendalikannya, menjadi terobsesi untuk membuat semuanya sempurna. Saya mudah tersinggung oleh sesuatu pada orang lain yang nampak lebih baik. Saya terancam oleh seseorang yang nampak lebih hebat, cantik, cerdas, dan menarik.

Saya berusaha menjadikan semuanya berjalan di garis yang ditetapkan dan mengawasinya dengan ketat. Paranoidkah saya ?

Saya begitu takut bila ada sesuatu yang luput dari pengamatan saya. Saya punya pengalaman buruk dengan kejutan. Kejutan yang meruntuhkan dunia yang telah saya bangun bertahun-tahun.

Saya benci kejutan. Karena itu saya berusaha mengamati semuanya dengan teliti dan dekat. Saking takutnya ada perkembangan yang saya lewatkan dan menjadi kejutan tak menyenangkan di kemudian hari. Saya hidup dalam penjara emosi masa lalu yang belum tuntas. Saya sakit dan saya menderita karenanya.

Saya tahu saya harus sembuh. Saya ingin mengenyahkan rasa takut itu jauh-jauh.  Saya ingin bisa menaklukan hantu itu. Saya ingin hidup damai.

Saya ingin hidup lebih baik. Mencintai lebih baik. Menjadi orang yang lebih menyenangkan bagi orang-orang di sekeliling. Berkarya dengan lebih tenang dan fokus. Biarkan hantu masa lalu itu berdiam di tempatnya, dalam kotak sejarah. Bukan dalam lembar masa kini dan mengikuti saya ke hari esok.

Are they nuts ?

Friday, February 20th, 2009

Pertanyaan bernada heran itu saya dengar dari salah seorang wartawan asing yang tergabung dalam travelling press kunjungan Menlu Hillary Clinton, saat kunjungan ke kantor Sekretariat ASEAN.

Kedatangan Menlu Clinton ke kantor ASEAN itu memang disambut bak selebriti. Maklum, kunjungan ini adalah sejarah. Pertama kalinya Menlu AS mengunjungi Kantor Sekretariat ASEAN.

Para staf kantor berjubel menyambut Menlu Clinto di lantai dua, tempat pertemuan dengan sekjen ASEAN Surin Pitsuwan berlangsung. Lagipula lantai 1 yang juga merupakan lobi, penuh dijejali wartawan cetak dan elektronik, lokal, nasional, dan internasional. Hiruk pikuk bak pasar malam.

Selain wartawan yang menanti konferensi pers bersama Menlu Clinton dan Sekjen ASEAN, para staf kantor juga tak kalah sabar menunggu pertemuan usai. Sesaat pintu ruang pertemuan terbuka, mereka pun serempak memanggil nama Menlu Clinton. Hillary..Hillary..Hillary.

Hingga akhirnya Menlu Clinton pun mendekat dan menyalami mereka dengan ramah.. Saat teriakan nama Hillary itu menggema lah, pertanyaan bernada heran itu terlontar. Are they nuts ?

Buat si wartawan yang dari Deplu AS di Washington ini bertemu langsung dengan seorang Hillary Clinton adalah biasa. Tapi untuk orang biasa seperti staf kantor Sekretariat ASEAN itu, tentu saja ini kesempatan langka. Kapan lagi bertemu tatap muka, bahkan bersalaman dengan mantan Ibu Negara AS yang terkenal itu, di kantor mereka pula ? Gak tiap tahun juga kali pejabat sekelas Menlu Clinton datang ke kantor mereka.

Tak heran teriakan senang agak histeris sempat terdengar dari mereka yang berhasil menjabat tangan Menlu Clinton. Benar-benar seperti ajang jumpa fans seorang bintang film atau penyanyi top.

But she is more than a movie star I guess. She deserves that red carpet, flowers bouquet,  cheers from crowd who were so enthusiastic  to see her, listen to what she said and, and dream to touch her.

Surprise Email

Friday, February 20th, 2009

Sebuah email tiba-tiba nyelonong ke inbox yahoo saya pekan lalu. Isinya sungguh mengejutkan. Email dari seorang wartawan yang bekerja untuk media asing meminta wawancara dengan saya. Karena dia mengetahui bahwa saya akan jadi satu-satunya wartawan Indonesia dari VIVAnews yang akan mengikuti kegiatan Menlu Hillary Clinton selama di Indonesia.

Saya kaget sungguh. Mana mungkin saya yang mendapat kehormatan sebesar itu ? Untuk liputan sepenting ini pastinya bos-bos saya yang turun langsung. Saya cukup tahu diri untuk merasa belum layak. Tapi herannya, si wartawan disitu mengatakan bahwa dari VIVAnews itu adalah editor U Report.

Nah lho ? Editor U Report itu cuma satu, dan itu saya. Kok bisa saya yang mendapat kesempatan itu ? Bukan editor kanal Dunia atau Redpel saya. Saya pun sempat mengira ini adalah sebuah kekeliruan informasi.

Saya pun dengan heran luar biasa mengungkapkan email “aneh” ini pada redpel dan rekan – rekan satu divisi. Tapi anehnya mereka nampak biasa saja, dan komentarnya, kok bocor ? Loh..saya makin heran, dan merasa tak mendapat jawaban yang memuaskan.

Akhirnya email itu saya jawab saja apa adanya. Saya belum tahu, dan akan mengecek kebenaran informasi itu, meskipun saya memang menegaskan satu-satunya pengelola kanal U Report di VIVAnews adalah saya.

Tak lama setelah itu sebuah telepon dari kedubes AS di Jakarta menjelaskan semuanya. Sekaligus menjawab keheranan saya yang telah menumpuk berhari-hari sebelumnya. Mendadak telepon dari Kedubes AS menjadi cukup sering, bahkan hampir tiap hari dengan penelepon berbeda-beda.

Ada yang menelpon minta CV profesional saya dikirim segera melalui email “Jangan lupa cantumin liputan-liputan besar yang pernah diikuti ya,” begitu pesannya. Tak sulit. Sejumlah KTT di berbagai negara, dan kunjungan resmi  Presiden SBY ke luar negeri sering saya ikuti selama saya bergabung di website Presiden.

Telepon lain menanyakan peralatan kerja yang saya miliki. Apakah ada modem untuk koneksi internet mobile, apalah saya pernah melalukan updating mobile ? Saya makin heran.

Telepon jumat siang pekan lalu itu lah yang akhirnya menjelaskan semuanya untuk apa semua “keanehan” ini semua. Ternyata saya adalah blogger Indonesia yang bisa ikut meliput di rangkaian kegiatan kunjungan Menlu Clinton selama di Indonesia. Wow..saya masih takjub dengan anugerah ini.

Saya baru benar-benar yakin bahwa semua ini nyata, saat Selasa pagi saya mengikuti briefing dengan para staf dari Deplu AS di hotel Four Season. Soal standar keamanan Menlu Clinton, apa yang boleh saya lakukan dan apa yang tak boleh.

Saya pun paham dengan mudah, karena sama saja dengan pengamanan standar untuk seorang Presiden. Saya mengerti larangan-larangan itu, dan menghargai semua orang yang bekerja mengamankan seorang VVIP.

Nervous sempat mendera. Deg-degan. Khawatir tak bisa menunaikan tugas dengan baik.  Berjuta rasa berkecamuk. Bangga, heran, bingung, was-was, senang. Untunglah ada akhir pekan yang cukup menenangkan dan membuat kaki saya kembali berpijak ke bumi.

Nenden bisa kok, begitu keyakinan saya..

Awal Perjalanan Itu..

Thursday, February 19th, 2009

“Nenden, seberapa sering kamu mengupdate blogmu ?” Pertanyaan melalui telepon tiba-tiba menyeruak di telinga saya, di sebuah siang yang terik di Jalan Sabang. Saya sedang menunggu foto digital saya dicetak, untuk keperluan mengurus ID KTT Asean di Thailand.

Pertanyaan yang aneh rasanya. Seorang diplomat dari Kedubes AS tiba-tiba menelpon dan bertanya soal jadwal update blog saya. Hmm..bingung sih, tapi saya jawab saja apa adanya. “Belakangan saya sangat sibuk, jadi tak terlalu rutin mengupdate seperti sebelumnya,” jawab saya.

“Oke mulai sekarang kamu sampai minggu depan kamu harus update blog kamu ya. Ini permintaan dari saya. Saya tak bisa mengatakan kenapa, tapi tolong lakukan,” kata pak diplomat itu lagi. Saya pun tentu saja mengiyakan. Meskipun masih merasa itu adalah permintaan yang aneh. Mengapa tiba-tiba ada yang sebegitu perhatiannya dengan blog saya. But I keep in mind and do the order.

Senang juga sih dipaksa mengupdate blog, karena seringkali bukan semata-mata kesibukan yang membuat blog tak terurus, tapi malas. Ternyata mengupdate blog gak butuh waktu lama kok, hanya sepenggal waktu dan segumpal ide yang berjejalan di kepala.

Itulah telepon yang mengawali semuanya ini. Bersambung ke posting berikutnya.

Saya Percaya Janjimu, Ibu..

Thursday, February 19th, 2009

Kembali ke kantor dan kehidupan normal seperti biasa. Usai sudah hiruk pikuk itu tadi hampir pukul 2 siang. Tamu istimewa itu telah bertolak dari Jakarta dan melanjutkan perjalanan menuju negara berikutnya, Korea Selatan.

Tamu istimewa yang membawa banyak harapan bagi wajah baru hubungan Indonesia dan Amerika Serikat yang selama ini diwarnai love and hate relationship.

Mantan Ibu Negara yang sekarang menjadi Menteri Luar Negeri itu mengatakan ingin menjadi teman baik Indonesia. Ingin bekerja bersama dengan pemerintah dan rakyat Indonesia. Meskipun sebagai teman, kadang kala juga tak selalu sependapat atas satu masalah. Tapi meski kadang saling mengkritik tapi semua itu dilandasi niatan baik untuk hal yang lebih baik. Teman yang saling mendukung dan mendorong bagi kemajuan satu sama lain. Demikian konsep berteman yang sesungguhnya.

Dari sekian liputan summit, dari sekian conference dan speech from those world leader yang saya dengar, rekam, dan tulis, akhirnya saya menemukan pidato yang menjanjikan tindakan konkrit.Bukan sekedar setumpuk arsip yang kemudian disimpan di rak dan berdebu.

Dari pidatonya di Deplu, ASEAN, dan di hadapan Indonesian civic society, pesannya sama. Amerika siap mendengarkan dan program-program konkrit yang akan digelar dalam rangka wajah baru diplomasi ini pun siap dikerjakan. Ibu Menlu ini pulang ke tanah airnya dengan sejumlah pekerjaan rumah dan memenuhi sejumlah janji yang telah terucap.

Tapi perempuan tangguh itu berhasil meyakinkan saya, bahwa kali ini saya bisa percaya akan sebuah janji. Janji akan perubahan yang lebih baik. Harapan akan persahabatan yang lebih hangat, dan juga kemitraan yang lebih erat.

Selamat jalan Ibu, semoga diberkati kekuatan selalu untuk menjalankan tugas, dan memenuhi harapan dan janji-janji itu. Terima kasih atas suntikan inspirasi, motivasi, dan semangatnya.

How do you make money from blogging ?

Wednesday, February 18th, 2009

Ups, pertanyaan itu langsung menyambut saya ketika saya memasuki mobil Press Van 3 dalam rangkaian kendaraan Bu Clinton dari hotel menuju Deplu tadi siang.

Memasuki mobil yang sudah berisi lima orang wartawan travelling pers, saya mengenalkan diri. “Hi, I’m Nenden, a blogger from Indonesia”. “Wow blogger !” kata salah satu dari mereka yang sibuk dengan black berry-nya. Temen di depannya langsung menyambar dengan pertanyaan itu, persis saat saya mendaratkan bokong saya di kursi. ” How do you make money from blogging?”

Saya spontan ketawa kecil menutupi keterkejutan saya ditodong pertanyaan segawat itu in first place. “This is a serious question,” tegasnya lagi. Saya jawab saja apa adanya “for my personal blog, I don’t get money. But I’m working for online media and managing section about citizen journalism”.

Saya juga bingung mau bilang apa. Memangnya blogger dapat uang dari blognya ? Mungkin beberapa sibuk ber-SEO ria, adsense atau kalau sudah sekelas ndorokakung ya dipasangi banner iklan blognya. Jadi ngeblog pun menghasilkan reward dalam bentuk sederet angka di rekening bank.

Tapi buat blogger seperti saya, doooh..Saya ngeblog nggak cari uang kok. Penghargaan berupa pleasure of giving and sharing saja sudah cukup bikin hati senang. Apalagi dengan bertambahnya teman, dan bila mendapat feedback dari seorang pembaca, yang merasa mendapat insight dari posting-posting saya.

Mendapat cacian, stempel sombong, jumawa pun juga sebuah reward lain, yang buat saya sah-sah saja. Namanya juga penilaian orang, beda kepala beda pendapat. Toh saya tak bisa memaksa semua orang suka dengan apa yang saya tulis.

Untuk yang tak menonton Oprah, dan membaca Paulo Coelho mungkin tak akan paham soal konsep the secret, law of attraction, kekuatan afirmasi, dan sejenisnya.

Untuk saya menuliskan cita-cita saya di blog adalah bentuk implementasi dari semua itu. Sederet mimpi yang dibalut keyakinan bahwa saya akan mendapatkannya. Keyakinan yang utuh pada konspirasi alam semesta yang bersekongkol mewujudkannya bagi saya.

Bila kemudian optimisme dan keyakinan saya seperti yang diajarkan oleh konsep-konsep diatas itu dinilai sebagai kejumawaan, kesombongan ya silahkan saja.

Jadilah orang negatif dan anda akan menarik hal-hal negatif dalam hidup anda. Begitu juga sebaliknya. Bila orang optimis dan berafirmasi dinilai sombong dan jumawa ya berarti pikiran anda yang picik dan negatif. Tetaplah begitu dan hidup anda tak akan bergerak kemana-mana.

Hidup hanya untuk para pemberani. Termasuk berani bercita-cita setinggi langit, dan berjuang mewujudkannya. Are you with me or not, it’s your choice.

Leap Frog

Wednesday, February 18th, 2009

Saya baru tahu soal istilah kodok lompat ini tadi.  Posisi saya di Press Filing Centre, Four Season Hotel tempat semua wartawan yang tergabung dalam travelling press berkumpul untuk kirim berita. Saya lihat di papan pengumuman, untuk acara makan malam Bu Clinton dengan civic society Indonesia di Gedung Arsip, tersedia dua kloter keberangkatan.

Tentu saja saya berminat untuk ikut yang pertama. Saya pun menunggu sambil heran, jamnya sudah lewat kok ndak ada yang berangkat juga. Untung saya tanya petugas pendamping pers dari Kedubes AS, ternyata mereka sudah berangkat. Weleh, kok bisa saya ketinggalan. Padahal ada tulisan disitu, “Meet Here” alias kumpul disini, dimana saya menunggu. Halah, saya  pun tanya apakah masih mungkin saya ngejar.

Ternyata saya dipanggilin Leap Frog ini. Bukan naik mobil van yang bertuliskan Press Van 1,2,3 seperti siang tadi, tapi saya naik kijang kapsul biasa. Penumpangnya pun hanya saya sendiri. Di mobil saya ngobrol dengan pak supir yang bernama Pak Matsuri asli Cepu.  Ternyata Pak Matsuri ini bersandi Leap From 1, dan ada satu lagi rekannya yang disebut Leap Frog 2.

Tugas para “kodok” ini adalah menyapu bersih siapa saya yang tertinggal dalam setiap acara yang diorganize Kedubes AS. Mereka bisa paling duluan berangkat atau paling belakang. Selain hape, mereka pun berbekal HT untuk komunikasi real time.

Ketika mobil melaju di Jl.Thamrin aku mendengar Pak Matsuri berkomunikasi dengan HT nya yang memberitahu bila mobil harus segera dipacu, karena rangkaian Bu Clinton segera bergerak dari hotel.

Soal ngebut, zig zag dan menerobos lampu merah akibat tugas kodok lompat ini sudah 7 tahun dilakukan Pak Matsuri sejak bergabung di Kedubes AS. Biasanya memang dalam situasi darurat dan Pak Matsuri nampak memang sudah sangat terbiasa. Dia cuma berpesan, “pegangan ya mbak,” segera setelah mendapat perintah agar mobil segera dipacu meluncur ke Gedung Arsip Nasional di bilangan Gadjah Mada.

Sampai sana saya turun di depan, karena gerbang sudah steril untuk kedatangan rangkaian Bu Clinton. Untung ada beberapa pejabat kedutaan yang mengenali ID saya yang bertuliskan Official Press dengan latar warna hijau, sehingga saya pun bisa segera ngibrit masuk sambil terseok-seok berlari di jalanan berkerikil itu.

Akhirnya saya bergabung dengan teman-teman wartawan yang sudah sejak sore berjaga di Gedung Arsip. Sebelumnya, sesuai prosedur, saya harus merelakan diri saya diendus-endus anjing cantik pak polisi, golden retriever berusia tiga tahun bernama Patsy.

Thanks pak Matsuri..dan aksi kodok lompatnya yang hebat..

Merekam Sejarah

Monday, February 16th, 2009

Lakukan apa yang anda sukai. Atau sukai apa yang anda lakukan. Begitu pepatah lama yang rasanya selalu relevan di setiap masa. Saya suka menulis, dan aktivitas meliput, maka saya kuliah di jurusan komunikasi, dengan niat menjadi wartawan. Bagi saya menulis adalah merekam sejarah.

Fokus, passion, dan kerja keras akhirnya berhasil membawa saya pada pekerjaan yang saya sukai. Hari ini, besok dan seterusnya saya yakin ada yang berubah dalam perjalanan karir saya menjadi lebih baik. Jauh lebih baik tanpa pernah saya bayangkan semula. Bukan puncak, karena bila seseorang sudah menyatakan diri berada di puncak, maka selanjutnya jalan yang ada hanyalah menurun.

Maka saya tak akan pernah mengatakan saya berada di puncak karir saya sebagai wartawan. Karena puncak itu tak pernah ada, yang ada hanya lah jalan menanjak, untuk terus naik menjadi lebih baik dan belajar lebih banyak.

Wartawan adalah pencatat sejarah. Saksi dari peristiwa yang mewarnai sejarah manusia, sebuah bangsa dan peradaban. Besok saya akan memulai jejak baru dalam perjalanan hidup saya sebagai wartawan, dan sebagai blogger.

Status yang harusnya berani  saya sandang dengan bangga sejak 3 tahun lalu. Tapi seringkali masih saya simpan diam-diam, karena belum merasa layak seperti nama-nama besar dalam jagat blogger Indonesia.

Tapi rupanya sejarah ingin mencatat lain. Saatnya saya tampil sebagai seorang blogger Indonesia menambah deretan nama-nama itu. Tak tanggung-tanggung sekaligus menjadi duta yang mewakili wajah blogger Indonesia di depan mereka, orang-orang penting dan pencatat sejarah dari belahan bumi seberang.

Nantikan kisah saya berikutnya, di blog ini dan U Report VIVAnews.com