Archive for March, 2009

Apakah Ini Saatnya?

Tuesday, March 31st, 2009

Setiap selesai Novena memang seringkali terjadi hal-hal “ajaib”. Ibu Semesta itu memang menjawab dengan cara-Nya yang aneh buat ukuran manusia. Petunjuk itu kadang samar-samar, harus dicerna dengan cermat, kadang sangat jelas dan telak.

Kali ini saya mendapatkan yang pertama. Samar, perlu kejernihan pikiran dan ketenangan hati untuk  mengunyahnya. Inikah jawaban yang saya minta dalam doa tersebut ? Tapi saya mendengar kata hati untuk mengikutinya.

Ketika pesan ini tiba di telinga saya, saya jadi teringat akan posting lama saya akhir tahun lalu yang tertuang di sini. Impian dan keyakinan saya tentang sebuah hidup baru yang saya inginkan di negeri seberang itu, seakan menemukan saatnya.

Pintu itu terbuka dan menunggu saya memasukinya. Memang masih ada proses panjang untuk meraihnya, tapi pintu itu sudah di depan mata saya. Akankah saya memasukinya?  Pilihan itu ada di tangan saya saat ini.

Kali ini saya yang bergetar menahan nervous yang mendadak menyerang. Bayangan kota impian itu mengisi benak saya. Memulai hidup baru disana, dengan karir yang saya impikan. Menyusul terwujudnya impian saya berikutnya akan kehidupan berkeluarga yang saya dambakan bersama anak-anak, dan suami tercinta menjelajah taman-taman dan museum-museum di kota yang cantik itu. Inikah saatnya ?

Berpisah dengan tanah air, keluarga dan sahabat-sahabat untuk waktu yang lama. Meninggalkan sumpeknya Jakarta yang dengan senang hati saya lakukan, meskipun harus mengucap selamat tinggal dengan banyak cerita dan kenangan.

Tapi bukankah kita hidup untuk masa kini ? Masa depan dijemput, meski belum tentu hadir. Bukankah masa adalah misteri kehidupan terbesar? Akankah kita diberi-Nya waktu untuk mencicip masa depan ? Tak ada yang tahu.

Siapakah lelaki yang akan bersama saya membawa anak-anak kami dan golden retriever kami bermain di taman itu ? Laki-laki manakah yang cukup bernyali besar mengejar saya ke pusat kekuasaan dunia itu ?

Atau dia adalah seseorang yang akan saya temukan disana ? Seorang laki-laki matang yang memiliki cinta yang sepenuh hatilah tentunya yang akan sanggup membangun mimpi itu, dengan seorang perempuan tak biasa bernama Nenden ini. Bukan laki-laki biasa dengan impian yang biasa tentunya.

Saya hanya ingat “sabda” seorang Ketut Liyer. Medicine man yang diceritakan Elizabeth Gilbert dalam buku fenomenalnya, Eat, Pray, and Love. Ketut Liyer bilang saya akan memiliki segala yang saya inginkan dalam hidup saat usia saya 35 tahun. Saya seorang seniman berbakat dan orang-orang menyukai apa yang saya katakan. Wow..

Kalimat itu terngiang selalu di telinga saya, sejak saya menemuinya dua tahun lalu di Ubud sana. Jauh sebelum saya membaca buku nya Liz Gilbert.

Angka 35 itu tak lama lagi akan saya capai. Secepat itukah semesta memberikan semuanya pada saya?

Kenapa saya harus bertanya, bukankah Semesta punya skenarionya sendiri, dan caranya sendiri untuk mementaskannya? Saya hanya aktor yang disuruh berperan sepenuh hati, dengan keyakinan utuh bahwa inilah skenario terbaik untuk saya.

Serahkan semua pada Semesta untuk mengolahnya dan mengatur waktunya sendiri. Saya gamang menapakinya, meskipun saya merelakan diri ini hanyut bersama arus kehidupan yang telah digariskan Semesta untuk saya.

I’m yours..I’m going with your flow.

ABG

Tuesday, March 24th, 2009

Lama-lama ini kantor makin aneh aja rupanya. Peraturan makin mengada-ada. Senangnya menambah pekerjaan bagi kami yang semuanya sudah kelebihan beban. Seakan kami ini semua pengangguran. Pekerjaan cethek nan cemen pun dipaksakan bos untuk kami kerjakan. Sampai dahi pun terangkat ? Penting ya, harus ngerjain beginian ?

Seorang teman bagian IT yang tadi “terpaksa” mengotak-atik laptop saya atas perintah bosnya, hanya nyengir masam, dan teriak yongkruuuuu…

Kolega di kantor satu demi satu absen dengan alasan sakit. Padahal saya tahu mereka ada jadwal interview di tempat lain. Begitulah, semua resah dan gelisah. Undangan pun telah disebar, istilah untuk mengirim CV ke mana-mana. Harap-harap cemas menanti panggilan.

Beberapa menyesal meninggalkan tempat lama yang ternyata jauh lebih mapan. Duh kasihan, apalagi mereka yang sudah memiliki anak untuk dibiayai. Tapi inilah resiko sebuah pilihan.

Saya jadi ingat lagi peringatan sang maha guru dari Tibet itu saat bertemu bulan beberapa bulan lalu. Saya memang tak akan lama disini, tapi tempat ini bagus untuk belajar katanya. Absolutely kalo soal itu, tak ada keraguan. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari sini yang tentunya akan berguna  sebagai bekal saya kelak, saat membangun kerajaan sendiri.

Kadang terpikir, saya hanya tak enak pada pihak-pihak luar yang telah dan akan saya ajak berkolaborasi mengerjakan beberapa hal. Saya kadang merasa benar-benar terjepit antara dua kepentingan, dan dua pemikiran. Membingungkan dan memuakkan.

Bila mereka adalah teman, maka saya akan berbicara dengan dua mode. Sebagai mitra atau calon mitra, dan sebagai seorang teman. Rasanya saya sungkan dan malu hati bila harus “membohongi” seorang teman. Jadi sebagai teman, saya sampaikan situasi sebenarnya.

Bila masih ingin terus silahkan, dengan risiko, bila tidak silahkan juga, pilihan ada pada mereka. Saya sudah tak mampu lagi harus terus menerus “membedaki” wajah institusi ini. Sekrup kecil seperti saya ini apalah artinya. Meskipun multi fungsi dengan bayaran satu saja ini.

Berbagai peluang terpaksa dilewatkan, hanya karena kebijakan-kebijakan yang membuat saya melongo tak paham. Saya yang terlalu bodoh atau mereka yang merasa paling tahu bagaimana menjalankan bisnis media online ?

Seringkali saya hanya bisa mengangkat tangan pasrah dan geleng-geleng kepala. Sudahlah, lakukan apa yang mereka mau, dapat gaji, selesai. ABG kalau kata seorang rekan di pulau seberang, Asal Bos Girang.

Ini Soal Hati

Sunday, March 22nd, 2009

Hati yang luas dibatasi oleh pikiran yang sempit, menjadikannya sempit. Begitu kata Mario Teguh. Jangan kecilkan potensi hati yang besar dengan sempitnya pikiran. Biarkan cahaya pengertian masuk menyentuh hati anda. Topik Golden Ways malam ini memang soal hati. Hati adalah lautan terluas. Kemampuan hati adalah menerima, maka hati akan semakin luas.

Sangat menarik membicarakan soal hati yang merupakan bagian tak terpisahkan dari setiap manusia yang hidup di muka bumi. Hati sumber kedamaian, tapi menjadi sumber keresahan bila sudah tercemar oleh pikiran yang buruk dari kepala itu.

Seperti yang saya alami sebulan terakhir ini. Ketika saya “dipaksa” bergelut untuk menaklukan pikiran liar dan negatif yang menyebabkan hati ini kehilangan kedamaiannya. Beruntung para guru saya selalu ada di sana, dekat maupun jauh, dan mengulurkan bantuan dan bimbingannya.

Sebulan saya hidup bagai seorang pesakitan. Diabaikan, keberadaan saya dinafikan. SMS saya seringkali hilang tak berbalas. Telepon-telepon dari saya dibiarkan tak terjawab.  Pesan dan email pun berbalas seadanya. Ya, saya sedang menjalani sebuah hukuman yang sungguh menyakitkan.

Ego saya terluka, hati saya berontak karena pikiran saya dikuasai amarah. Saya berjuang mengatasi emosi yang naik turun.  Puji Tuhan, malaikat saya ada disana menjadi tempat bergantung. Menyelamatkan saya dari keretakan. Menyangga saya dari keambrukan. Membantu saya berpikir dengan pikiran positif dan mengarahkan saya untuk merenung dan berkontemplasi.

Berminggu-minggu kepala saya dipenuhi oleh adegan percakapan imajiner. Sampai akhirnya saya memutuskan berlutut dan kembali pada novena. Menyerahkan hidup saya pada Sang Pemilik Kehidupan, memohon ampun atas segala kesalahan, dan minta diberikan yang terbaik menurut-Nya, apapun itu. Saya hanya mengharap berkat keikhlasan untuk menerima apapun yang akan diberikan-Nya kelak sebagai jawaban.

Novena masih separuh jalan, berbagai petunjuk sudah bermunculan dalam berbagai bentuk. Saat yang dinanti berminggu itu akhirnya tiba, tapi entah kenapa semuanya telah berubah. Berkat Tuhan rupanya sudah turun menyentuh hati saya. Keikhlasan yang dinanti itu pun hinggap perlahan menyelimuti hati ini.

Saya melepaskan semuanya dalam hati dan pikiran saya. Saya membebaskanmu pergi, sayang. Jadilah apapun yang kamu impikan, dan terbanglah sebebas burung menjemput mimpi-mimpimu. Tak ada lagi tali komitmen yang membelenggumu dan memaksamu untuk tinggal dalam sangkar ini.

Bila saatnya kamu kembali hinggap di bahu ini, maka saya tahu kamu tiba karena memang kamu menginginkannya, bukan karena ada yang memaksamu untuk tetap tinggal. Melepaskannya pergi dalam hati dan pikiran ini rasanya sungguh melegakan.

Tak ada yang berubah dalam hati saya. Cinta ini masih sedalam dan sebesar dulu. Tapi rupanya sudah berubah format. Kasih tulus ini berganti dari rasa ingin memilikinya untuk diri sendiri, menjadi harapan dan keinginan segala yang terbaik bagi yang tercinta. Saya hanya ingin dia bahagia dan meraih mimpi-mimpinya.

Saya terus mendukungnya dalam langkah barunya, menjajaki ranah baru yang penuh tantangan. Saya sangat bangga atas keberaniannya, dan mendukungnya sepenuh hati. Membantunya semampu saya. Sekedar sumbang ide atau berbagi cerita dari orang-orang hebat yang saya kenal. Membantunya menggambar peta kehidupan baru itu. Senang sekali bisa melakukan itu untuknya.

Saya ingin “menebus dosa” saya selama ini padanya. Ketika belenggu ego di kepala saya memaksa dia untuk menjadi seseorang yang bukan dirinya, melakukan sesuatu yang bukan keinginannya.

Ego saya selalu memaksa untuk didengar dan dimanjakan, sehingga saya memaksanya untuk mengikuti kemauan saya, sampai dia tersudut di penjara kelelahan. Maafkan sayang untuk pernah menyiksamu hingga capek dan enggan menghadapinya lagi.

Saya paham mungkin ada yang telah berubah juga di dalam sana akibat semua itu. Tak ada lagi kata I Love You di ujung telepon. Ciuman sayang dan pelukan hangat pun sudah tak seperti dulu lagi. Hati ini tak bisa dibohongi. Ada rasa yang berkurang atau bahkan mungkin sudah hilang. Mungkin hati yang telah terbelah atau kepala yang tak lagi utuh. Tak mengapa, tak mengurangi kedalaman cinta saya untuknya.

Bukankah rasa memang tak bisa dipaksakan ? Seperti kehadirannya yang alamiah, rasa pun bisa datang dan pergi sesuai panggilan semesta. Tak ada yang bisa menahannya, atau memaksanya untuk hadir bila memang semesta telah memiliki rahasianya sendiri.

To love is to let go. To love is to support, to love is to share. To love is to give and not asking for return or any reward.

Hari ini saya bersyukur pada Tuhan, telah diberkati satu bulan penuh kesakitan yang baru lalu. Saat penuh tangis dan pergulatan batin itu rupanya cara Dia untuk mengajak saya beranjak ke tingkat yang lebih baik dalam mencintai.

Seperti doa saya di awal tahun, Tuhan ajari saya untuk bisa mencintainya lebih baik lagi. Rupanya inilah jawaban-Nya atas doa saya itu. Proses yang tak mudah, tapi Dia telah melengkapinya dengan para guru yang setia mendampingi saya berproses.

Rasanya hari ini saya ingin mengapresiasi diri saya sendiri atas pencapaian yang saya lalui. Sungguh melegakan bisa melepaskan yang tercinta dari belenggu ego ingin memiliki, ingin mengontrol dan menguasai.

Sayang, saya mencintai kamu untuk apapun yang kamu lakukan, siapapun dirimu adanya, dan kemanapun kamu pergi. Sebuah kehormatan bagi saya untuk bisa merasakan ini, mencapai titik ini dalam hidup. Mencintai dengan membebaskan.

Jatuh Tempo

Thursday, March 19th, 2009

Dua kata ini dilontarkan oleh malaikat saya beberapa pekan lalu. Bukan kata yang aneh sebetulnya. Seringkali kita mendengar kata ini diucapkan, terutama dalam konteks perbankan,  atau terkait hutang-hutang yang harus dibayar.

Tapi sang malaikat mengatakan dua kata itu bukan untuk konteks hutang atau produk perbankan. Dia bilang, “Segala sesuatu kalau memang belum jatuh tempo memang tak bisa diambil, seperti deposito,” katanya.

Pembicaraan kami sedang berkisar soal jodoh, pekerjaan, dan target ini itu dalam hidup. Semua berproses secara alami seperti memang sudah digariskan oleh Sang Pemilik Kehidupan. Kadang arahnya berbelok tak terduga, berubah liar dan kita sebagai manusia merasa kehilangan kendali. Bingung dan putus asa seringkali menjadi akibatnya.

Berproses itu tak selalu mudah. Kadang waktu menjadi batu ujian yang memaksa manusia belajar tentang kesabaran. Tapi manusia seperti saya seringkali ingin potong kompas. Instan. Kalau bisa langsung dapat saja, semua yang diinginkan ada di genggaman.

Kerjaan baru yang didamba akan saya dapat besok, jodoh yang saya incar bisa saya jemput lusa, impian keliling dunia bisa saya lakukan minggu depan, buku best seller saya akan terbit bulan depan. Inginnya begitu. Saya bisa punya hak menentukan jadwal kapan impian-impian itu terlaksana. Ketika saat yang dinanti itu belum juga tiba, saya pun merana. Gelisah dan gundah. Protes dan merengek pada Tuhan. Persis anak balita.

Saya suka lupa diri, kalau saya bukan Tuhan. Saya hanya manusia yang ditakdirkan berbuat yang terbaik dan kemudian bersabar sambil menyerahkan hasilnya pada Sang Penentu. Dan apapun hasilnya, saya sebagai manusia harus bisa ikhlas. Ini skenario bukan punya saya, tapi milik-Nya. Saya hanya aktor yang menerima peran. Maka berperanlah sebaik-baiknya.

Dalam konteks itulah dua kata itu menjadi terdengar ajaib dan mujarab di telinga saya. Untuk selalu mengingatkan bahwa segala sesuatu itu ada waktunya. Kalau belum jatuh tempo ndak bisa diambil, kalau dipaksakan maka akan kena penalti yang merugikan. Bersabarlah, maka pada saatnya apa yang menjadi milik kita itu akan tiba di hadapan. Jangan lupa untuk terus berproses.

Giving Your Heart Unconditionally

Thursday, March 19th, 2009

Loving someone, nenden, is no guarantee that one day that person won’t leave. There is no choice in the matter. You must give your love freely, and without strings attached.

If you go toward people always asking for guarantees or protection, you will make them feel that you don’t trust them. In turn, they won’t trust you. It’s a vicious cycle, and the only way out is through giving your heart unconditionally.

Begitulah pesan dari virtual advisor saya hari ini. Padahal saya tak pernah menceritakan apapun padanya. Tiba-tiba dia muncul hari ini di email saya dengan pesan seperti ini.

Dia seperti sedang membaca persimpangan dimana saya sedang berdiri saat ini. Dan berusaha memberikan petunjuk agar saya tidak salah melangkah. Memang itulah yang sedang berusaha saya lakukan, membebaskan mereka yang tercinta untuk menjadi diri sendiri yang mereka mau, apapun itu, dan tetap mencintai mereka apa adanya. Love the love ones unconditionally.

Just Stop Bugging Me, Okay?

Monday, March 9th, 2009

Ada sms aneh tadi malam, dan berlanjut hingga tadi pagi. Sms dari nomor tak saya kenal, karena tak ada di phonebook ponsel. Isinya juga membingungkan. Saya tanya baik-baik, nomor siapakah itu, dan apa maksudnya. Jawaban pun kemudian menyusul, dan saya pun bisa menebak siapa si pemilik nomor.

Sms selanjutnya saya biarkan tak berbalas. Malas. Untuk apa menanggapi sesuatu yang tak perlu ditanggapi. Rupanya penasaran tak berbalas hingga hari berganti, tadi dia kembali mengirim sms yang isinya seperti permohonan yang sungguh memelas.

Saya masih membiarkannya tak terjawab. Saya pikir lebih baik menuliskannya dengan gamblang disini apa yang saya pikirkan, karena saya tahu si pengirim sms yang penasaran itu membaca blog ini.

Mungkin anda ingat posting saya beberapa bulan lalu, soal oknum pendukung salah satu parpol yang membuat gerah orang sekantor, dengan kegemarannya memaksakan kehendak dan pandangan politiknya. Orang inilah si pengirim sms.

Entah apa yang merasuki pikirannya, hingga dia nekat meminta nomer ponsel saya ke supervisor saya, dan mulai meng-sms saya dengan permohonan rekonsiliasi. Saya yakin dia berkesimpulan prematur dari membaca posting-posting terakhir saya disini.

Keinginannya untuk berekonsiliasi sudah terdengar menyedihkan di telinga saya. Sungguh mengherankan, kenapa dia begitu terobsesi untuk berdamai dengan saya. Begitu pentingnyakah saya dalam hidupnya ?

Saya tak pernah menganggapnya musuh, saya hanya merasa dia manusia paling tak penting dalam hidup saya. Hidup saya baik-baik saja tanpa dia, tenang, damai, rileks. Jadi kenapa saya harus menyertakan dia dalam hidup saya, dalam relasi apapun? Explain to me why?

Pendapatnya yang berbeda, dan kekeraskepalaannya untuk memaksakan kehendak membuat saya memutuskan untuk selesai berelasi dengan dia dalam bentuk apapun. Agree to disagree selalu didengungkannya untuk menyindir saya, ya saya setuju dengan itu.

Sudah, kita memang tak sepakat dalam apapun, tak usah dipaksakan lagi. Biarkanlah seperti itu. Saya dengan pemikiran-pemikiran liberal saya, kemurtadan saya, ide-ide gila diluar kotak, pemahaman-pemahaman spiritual saya yang bebas dogma agama. Itulah saya dan dunia yang saya jejaki. Kenapa dia begitu peduli?

Ketika dia memiliki pandangan yang sama sekali berseberangan dengan saya silahkan. Saya juga rasanya orang yang cukup toleran dan menghargai perbedaan pendapat. Hal yang saya tak suka adalah ketika seseorang sudah memaksakan pendapatnya dan mendesak saya untuk melakukan sesuatu yang tak saya pahami dan yakini.

Siapapun anda, silahkan minggir dari kehidupan saya. Tak seorang pun rasanya suka dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tak disukainya. Saya manusia bebas yang berhak berpendapat dan memilih dengan siapa saya ingin terlibat. Kenapa dia harus memaksa saya berelasi dengannya?

Kalau saya boleh menganalisa, sosok saya memang berhasil menyihirnya. Bukannya geer, tapi perempuan atraktif dengan impian-impian setinggi langit, energi meledak-ledak, ekstrovert dan ekspresif ini sudah mengguncang dunia tentang perempuan yang selama ini dikenalnya.

Kaget mungkin, di tanah yang dipijaknya dia akhirnya menemukan perempuan edan yang percaya diri apa adanya dengan segala kekurangan yang dimilikinya, dan tetap nekat bermimpi jadi orang besar suatu saat nanti.

Pesona seorang perempuan Nenden rupanya berhasil menjeratnya yang telah menikah dan memiliki tiga anak. Terdengar jumawa, tapi saya yakin itulah adanya. Bila tidak, untuk apa dia sampai harus memohon berekonsiliasi, bahkan rela mengumumkan permohonan maaf secara terbuka asal saya mau berdamai dengan dia?

Benar atau tidak analisa saya, tak perlu dijawab dan saya tak peduli. Hal yang saya inginkan saat ini adalah, biarkanlah saya dengan kehidupan saya. Saya tak ingin lagi berelasi dengan dia dalam bentuk apapun. Gak ngaruh, kalau kata anak muda sekarang.

Lagi-lagi kekeraskepalaan dan kesukaannya memaksakan kehendak muncul dalam keinginannya berekonsiliasi dengan saya ini. Saya tak pernah bermusuhan, hanya menghapus namanya dari daftar orang dalam hidup saya, kenapa harus direkonsiliasi?

Lagipula kenapa harus dipaksa bila memang saya tak mau kenal lagi dengan seseorang. Siapapun itu. Berteman, berelasi pun butuh chemistry. Bila reaksi kimia yang muncul hanya perdebatan yang akan memicu kemarahan, untuk apa berelasi? Hanya membuang energi, waktu, dan menafikkan keindahan hidup yang menjadi hak setiap manusia sebagai berkat dari Sang Maha Hidup.

Jadi bila dia memohon untuk berekonsiliasi dengan saya, saya pun balik memohon, please stay away from my life. Stop bugging me, I have a good life that I want to enjoy it to the fullest. I dont want to waste it even a single minute with you, okay ? It will be very appreciated if you do so..

Jumat Ngalor Ngidul

Friday, March 6th, 2009

Jumat menjelang akhir pekan yang panjang. Sebagian warga Jakarta sudah bergegas meninggalkan kota menuju tempat-tempat berlibur. Apalagi masih tanggal muda begini, tempat peristirahatan pasti macet dan sesak.

Sebagian warga Jakarta lainnya bertahan di Jakarta untuk menyaksikan perhelatan musik jazz tahunan yang lama dinanti. Jalanan menuju tempat pentas sudah merayap sejak sore dan pasti hingga hari-hari besok.

Warga Jakarta memang selalu haus hiburan. Pekerjaan, target, kemacetan dan ritme hidup yang serba cepat memang butuh bersenang-senang dengan kadar lebih. Kalau ndak, orang Jakarta udah pada gila. Makanya tak heran kalau moto work hard play hard dianut oleh kebanyakan warga Jakarta.

Saya sih masih di kantor saja. Menyaksikan lembayung terselip segaris diantara langit Jakarta yang berawan gelap, dari ketinggian lantai 31. Berkutat dengan rangkaian kata, dicemplungkan satu demi satu ke mesin untuk tayang di muka situs. Tuntas sudah kewajiban entri yang jadi beban saya hari ini.

Tak banyak sebetulnya kalau memang tak ada hal lain yang menuntut diselesaikan.  Meeting ini itu, di kantor maupun diluar, kadang menyita waktu dan membuat saya harus terbirit-birit menyelesaikan target.

Seorang teman menangis kemarin sore. Satu jam kata rekan yang duduk disebelah. Pulang ke rumah dengan mata sembab. Hari ini dia tak masuk. Mungkin mengurung diri di rumah, meredakan marah dan bersiap untuk mengepak barang, dan pergi.

Suasana memang semakin tak menyenangkan. Korban pun berjatuhan. Para petinggi tak juga peduli. Terus saja menekan dan menginjak. Beberapa teman sudah melayangkan surat lamaran ke berbagai tempat. Berharap mendapatkan pintu lain yang terbuka untuk segera berlalu dari sini.

Semoga mereka beruntung dan mendapatkan yang terbaik. Jangan keluar dari mulut macan masuk mulut buaya, seperti beberapa teman yang menjadi korban ini. Saya pun berharap keberuntungan yang sama segera dalam genggaman.

Meskipun maha guru saya akhir tahun kemarin sudah memberikan sinyal pada saya mengenai hal ini. Tapi seperti biasa saya baru akan paham saat peristiwa itu sudah terjadi. Biasanya saat maha guru saya itu bersabda, semuanya dalam kondisi berbeda yang tak terbayangkan akan bisa seperti yang diucapkannya.

Bahkan beberapa pelajaran darinya baru saya pahami bertahun berikutnya. Itu pun sudah biasa. Dan beliau biasanya muncul di saat-saat genting ketika harus memberikan arahan bagi hidup saya. Tak terduga, dan belajar dari pengalaman, saya tak berani lagi mengabaikan peringatannya. Beliau seorang highlander, dan kami pernah berkumpul sebelumnya dalam inkarnasi ribuan tahun lalu.

Bila beliau memanggil berarti ada pesan penting yang harus saya dengar. Tak peduli jam berapa pun, saya harus datang bila panggilan itu tiba, karena kedatangannya bagai angin.

Tak pernah terencana dan direncanakan. Bertahun menghilang tanpa kabar, berkelana di berbagai belahan dunia dan beranda langit Tibet, lalu tiba-tiba muncul di Jakarta dan mengumpulkan semua muridnya untuk berbagi ilmu kehidupan. Dan saya ingat, peristiwa ini pernah disampaikannya pada saya beberapa bulan lalu itu. Saat semuanya masih baik-baik saja.

Satu hal lagi yang saya ingat, beliau memperingatkan sesuatu tentang bulan April. Akan ada peristiwa apakah ? Ya pemilu legislatif. Adakah sesuatu peristiwa besar yang menyertainya ? Entahlah, apapun itu yang akan terjadi beliau hanya berkata berdoalah untuk mohon kekuatan-Nya.

Saya sedang tak fokus ingin menulis tentang sesuatu, hanya ingin bercerita apa yang terlintas di hati dan kepala saya saja saat ini. Tidak nyambung, melompat-lompat, biarlah sesuka saya. Maaf bila tak berkenan.

Saya jadi ingat komplen seorang teman pembaca yang mengimel saya dan membedah salah satu posting saya di blog satunya, untuk menunjukkan ke muka saya betapa buruknya struktur tulisan saya. Apa sih yang mau loe ceritain dari posting ini ? Soal jalan yang macet, demo, anarki, atau apa ?

Saya biarkan email itu tak berbalas. Kok serius amat seperti sedang membedah tesis atau karya literatur saja. Hanya sebuah posting berisi tulisan curahan hati, kenapa harus ditanggapi demikian serius? Jadi sebuah polemik soal struktur bahasa, plot cerita, soal ketidaksiapan saya berinteraksi dengan pembaca blog. Rumit sekali.

Saya ingat hanya terkikik geli, membiarkan mereka sibuk mendiskusikan dan menganalisa posting saya, dan bagaimana kepribadian saya dalam penilaian mereka. Seakan harkat derajat diri saya sebagai manusia mendadak naik bila berhasil memenuhi keinginan mereka. Sungguh menggelikan.

Saya suka dengan apa yang Inu bilang dalam blognya, saya bukan PSK yang harus memuaskan semua orang. Maaf untuk PSK yang saya pakai sebagai analogi, kata Inu juga.

Sekarang musik jedang jedung sudah bergaung dari meja sebelah, saatnya berpesta melepaskan penat seminggu. Menyimpan sejenak kerak-kerak masalah di loker. Menguncinya hingga pekan depan. Selamat menikmati akhir pekan yang panjang temans..See you next week!

Papan Impian

Thursday, March 5th, 2009

Sebagai pemirsa setia Oprah Winfrey show, saya sudah lama menyaksikan beragam narasumbernya, seleb maupun orang biasa, yang mengungkapkan testimoni soal “keajaiban” vision board yang mereka buat.

Dari konsep the Secret dan implementasi dari Hukum Ketertarikan itu rupanya telah dibuktikan keberhasilannya oleh para tamu Oprah. Dari anak-anak hingga orang tua dengan bekal keyakinan dan pikiran positif.

Saat makan siang kemarin, akhirnya saya pun blusukan ke Gramedia berbelanja perlengkapan papan impian itu. Foto-foto pilihan saya cetak. Papan kayu lengkap dengan pin-pin untuk menempelkan gambarnya juga saya beli. Beres.

Tiba di rumah usai makan malam dengan seorang sahabat di Oakwood itu, saya pun sibuk membongkar bungkus plastik. Mengaduk-aduk koleksi majalah Femina dan Tempo saya, mencari gambar-gambar yang mirip dengan apa yang ingin saya wujudkan dalam hidup.

Menjelang tengah malam pun saya masih sibuk menggunting dan menata letak, hingga akhirnya 3/4 ruang papan itu sudah tertutup oleh gambar-gambar hasil prakarya malam saya. Foto-foto yang ingin saya pajang pun sudah tertempel disitu.

Ternyata efek positif dari papan itu sudah saya rasakan, meski belum lengkap-lengkap amat. Melihat gambar-gambar dan foto yang tertempel disana saja sudah menyenangkan hati. Bibir ini otomatis tersenyum menatapnya sebelum menutup mata dan beranjak ke alam mimpi.

Sengaja papan itu saya letakkan persis di depan tempat tidur saya, jadi hal terakhir yang saya lihat sebelum tidur, dan pertama saya tatap saat bangun di pagi hari.

Segurat senyum, memandang mimpi-mimpi yang terbentang disana, menyuntikkan semangat dan meredakan gundah.  Saya akan berada di tempat-tempat itu, menjadi orang-orang yang saya pajang gambarnya, dan memiliki semua yang saya tempelkan di papan itu.  Senyum, semangat, optimis, dan energi positif dari visualisasi itu modalnya.

Seperti meditasi visualisasi yang baru sepekan ini saya lakukan, sesuai ajaran sang malaikat. Sebagai pemula yang malas, konsistensi adalah kesulitan terbesar saya. Padahal berolah nafas dan meditasi sudah saya pelajari sejak bertahun lalu dengan beragam guru.

Tapi hingga saat ini saya masih mudah meledak, dan emosi yang naik turun kayak rollercoaster. Akibat dari kemalasan akut saya untuk konsisten latihan dengan rutin. Sekarang saya merasakan betapa sengsaranya hidup yang masih dikemudikan oleh dorongan emosi dan ego keakuan yang segunung itu.

Padahal Guru Anand sudah mengajarkan saya bagaimana membuang sampah emosi, dan mengikis ego hingga tandas. Sayang lagi-lagi saya malas. Jadilah saya hingga sekarang masih berjuang dengan permasalahan yang sama. Berkutat dengan rasa sakit, dendam, luka dan ketakutan yang tak berkesudahan. Hidup dalam paranoia. Berkali jatuh bangun untuk melanjutkan hidup dengan kepala tegak.

Kali ini tak ada ampun, saya harus menuntaskan pelajaran ini segera. Saya lelah hidup dalam ketakutan. Saya ingin damai. Berdamai dengan masa lalu, dan diri sendiri. Menyerahkan diri seutuhnya pada Sang Takdir. Menerima dengan ikhlas dan menjalani dengan kekuatan-Nya.

Belajar Mengupas Bawang

Tuesday, March 3rd, 2009

Saya suka masak, tapi malas meracik bumbu. Sejak kecil satu tugas dari ibu yang paling saya benci ketika membantu beliau memasak, mengupas bawang dan menguleknya hingga halus.

Mengupas bawang itu tak sulit, hanya selalu memedihkan mata dan memaksa saya menangis. Air mata itu meleleh di pipi, seiring lembar demi lembar kulit itu terkelupas.

Saya beranjak besar dan saat ini lebih suka menggunakan bumbu instan siap pakai ketika memasak. Tak perlu ada acara menangis lagi di dapur akibat mengupas bawang.

Tapi rupanya bawang yang lain menanti untuk dikupas. Bukan di dapur, bukan di rumah mungil saya, melainkan dalam rumah besar kehidupan yang sedang saya lakoni.

Bawang itu pelajaran kehidupan yang diajarkan oleh beberapa tokoh yang hadir dalam episode demi episode. Bisa hadir dalam wujud seseorang yang demikian dekat, pekerjaan, kolega, bos, bahkan sekedar orang lewat yang “tanpa sengaja” dimaksudkan memberi saya “sesuatu” untuk direnungkan.

Kali ini saya sedang ditugaskan-Nya untuk mengupas “bawang” kesabaran. Menunggu adalah nama tengah saya sebagai wartawan. Pekerjaan wartawan sehari-hari di lapangan adalah berjibaku dengan kata sabar. Menunggu nara sumber berkenan membuka mulut, menunggu acara selesai, bahkan menunggu terjadinya sebuah peristiwa.

Tapi rupanya pekerjaan sebagai wartawan yang sarat dengan menunggu dan memaksa menjadi sabar, tak menjadikan saya secara otomatis menjadi manusia penyabar. Saya selalu butuh jawaban cepat. Saya perlu kepastian segera. Saya ingin mendengar penjelasan tentang apapun. Saya tak suka dibiarkan dalam kebuntuan. Saya benci dibuat bingung.

Herannya saya sering melakukan itu pada orang lain. Ketika ego demikian besar, dan emosi memuncak, saya tak peduli orang lain akan merasakan apa, akan berpikir bagaimana tentang saya. Saya benar-benar tak mau tahu. Saya hanya berbuat apa yang saya mau. Saya tutup pintu itu rapat-rapat. Saya bangun benteng tinggi-tinggi. Saya bikin orang lain menerka-nerka dengan apa mau saya. Saya biarkan orang susah mencari saya. Saya senang orang lain bingung. Semua hanya tentang saya, saya dan saya.

Karma itu memang ada dan instan. Kali ini saya kena batunya. Ingin hati berteriak marah, tapi apa daya sang guru memaksa berkaca. Make up tipis yang menyaput wajah cantiknya tak mampu menutupi cemas, takut, resah, gelisah, dan kebingungan yang menderanya.

Jari ini hanya bisa menuding dan bercakap dengan pantulan gambar di cermin. Lihat wajah siapa itu? Perhatikan apa yang terpancar di wajahnya? Kegelisahan yang membuncah dan merenggut kedamaian hatinya. Jiwanya gundah, otaknya kehilangan kejernihan. Kasihan perempuan itu. Ada yang kerontang dan meranggas dalam dirinya. Batinnya tersiksa. Hatinya merana.

Alih-alih marah, wajah di cermin itu pun terkulai layu. Bulir-bulir bening mengalir di pipinya. Bahunya terguncang, matanya buram karena air mata, bibir di cermin itu berseru lirih. “Saya terima karma ini dengan ikhlas, saya akan bersabar menjalaninya, saya layak dihukum atas keegoisan saya” katanya.

Bawang kehidupan pun harus ditebus dengan air mata, untuk bisa membukakan helaian kearifan demi kearifan yang disajikan di balik kupasannya. Ketika saya memang harus menangis demi menjadi manusia yang lebih bijak, saya jalani dengan ikhlas. Karena saya ingin naik kelas, menjadi pencinta yang lebih baik.

Satu lagi, lagi, dan lagi..

Tuesday, March 3rd, 2009

Satu demi satu mereka pergi. Menuju ke tempat baru, atau hanya sekedar berlalu dari sini. Rumah ini sudah tak membuat mereka nyaman lagi rupanya. Rasa aman dan nyaman yang dicari itu rupanya hanya bertahan sesaat saja. Badai itu menerpa dan banyak hal berubah.

Banyak yang tak siap ketika harapan itu hancur berkeping-keping. Melihat semua rencana dan impian harus disimpan di laci yang terkunci. Entah kapan bisa ditengok dan dilaksanakan seperti angan.

Berusaha untuk sabar dan bertahan. Menanti secercah sinar dan pergantian angin musim. Para penguasa tak juga sadar akan gejolak yang terjadi. Semua masih jumawa bahwa semua baik-baik saja.

Kasihan. Ingin mengingatkan tapi kadang mereka terlalu arogan. Merasa sebagai yang paling tahu dan benar. Apakah memang begitu tabiat seseorang bila sudah duduk di kursi kekuasaan ? Seperti para penguasa di beberapa kerajaan tempat saya bernaung sebelumnya. Raja adalah pemegang hak mutlak akan kebenaran.

Perahu ini oleng ditinggalkan para awak yang kelelahan. Tak sanggup lagi menanggung beban berupa angka-angka yang tercetak manis di dahi setiap orang. Manusia dihargai atas kemampuan produksinya. Lebih banyak berarti lebih baik.Kurang banyak berarti anda tak produktif dan harus dievaluasi.

Penilaian yang menafikkan nilai-nilai kemanusiaan, menurut saya lho, ketika faktor-faktor lain kemudian diabaikan karena tak menghasilkan output berupa tambahan angka itu. Menyedihkan.

Upaya yang menghabiskan waktu lebih banyak dengan dampak yang lebih besar menjadi tak berharga ketika dihadapkan pada pertanyaan, berapa kah yang sudah kamu hasilkan hari ini? Mulut pun terkunci dan hati menjadi resah.

Nasib terinjak-injak, kata seorang teman. Tak menyenangkan lagi, katanya. Ya, tentu saja. Bila menyenangkan mengapa lebih banyak orang yang pergi ?