Apakah Ini Saatnya?
Tuesday, March 31st, 2009Setiap selesai Novena memang seringkali terjadi hal-hal “ajaib”. Ibu Semesta itu memang menjawab dengan cara-Nya yang aneh buat ukuran manusia. Petunjuk itu kadang samar-samar, harus dicerna dengan cermat, kadang sangat jelas dan telak.
Kali ini saya mendapatkan yang pertama. Samar, perlu kejernihan pikiran dan ketenangan hati untuk mengunyahnya. Inikah jawaban yang saya minta dalam doa tersebut ? Tapi saya mendengar kata hati untuk mengikutinya.
Ketika pesan ini tiba di telinga saya, saya jadi teringat akan posting lama saya akhir tahun lalu yang tertuang di sini. Impian dan keyakinan saya tentang sebuah hidup baru yang saya inginkan di negeri seberang itu, seakan menemukan saatnya.
Pintu itu terbuka dan menunggu saya memasukinya. Memang masih ada proses panjang untuk meraihnya, tapi pintu itu sudah di depan mata saya. Akankah saya memasukinya? Pilihan itu ada di tangan saya saat ini.
Kali ini saya yang bergetar menahan nervous yang mendadak menyerang. Bayangan kota impian itu mengisi benak saya. Memulai hidup baru disana, dengan karir yang saya impikan. Menyusul terwujudnya impian saya berikutnya akan kehidupan berkeluarga yang saya dambakan bersama anak-anak, dan suami tercinta menjelajah taman-taman dan museum-museum di kota yang cantik itu. Inikah saatnya ?
Berpisah dengan tanah air, keluarga dan sahabat-sahabat untuk waktu yang lama. Meninggalkan sumpeknya Jakarta yang dengan senang hati saya lakukan, meskipun harus mengucap selamat tinggal dengan banyak cerita dan kenangan.
Tapi bukankah kita hidup untuk masa kini ? Masa depan dijemput, meski belum tentu hadir. Bukankah masa adalah misteri kehidupan terbesar? Akankah kita diberi-Nya waktu untuk mencicip masa depan ? Tak ada yang tahu.
Siapakah lelaki yang akan bersama saya membawa anak-anak kami dan golden retriever kami bermain di taman itu ? Laki-laki manakah yang cukup bernyali besar mengejar saya ke pusat kekuasaan dunia itu ?
Atau dia adalah seseorang yang akan saya temukan disana ? Seorang laki-laki matang yang memiliki cinta yang sepenuh hatilah tentunya yang akan sanggup membangun mimpi itu, dengan seorang perempuan tak biasa bernama Nenden ini. Bukan laki-laki biasa dengan impian yang biasa tentunya.
Saya hanya ingat “sabda” seorang Ketut Liyer. Medicine man yang diceritakan Elizabeth Gilbert dalam buku fenomenalnya, Eat, Pray, and Love. Ketut Liyer bilang saya akan memiliki segala yang saya inginkan dalam hidup saat usia saya 35 tahun. Saya seorang seniman berbakat dan orang-orang menyukai apa yang saya katakan. Wow..
Kalimat itu terngiang selalu di telinga saya, sejak saya menemuinya dua tahun lalu di Ubud sana. Jauh sebelum saya membaca buku nya Liz Gilbert.
Angka 35 itu tak lama lagi akan saya capai. Secepat itukah semesta memberikan semuanya pada saya?
Kenapa saya harus bertanya, bukankah Semesta punya skenarionya sendiri, dan caranya sendiri untuk mementaskannya? Saya hanya aktor yang disuruh berperan sepenuh hati, dengan keyakinan utuh bahwa inilah skenario terbaik untuk saya.
Serahkan semua pada Semesta untuk mengolahnya dan mengatur waktunya sendiri. Saya gamang menapakinya, meskipun saya merelakan diri ini hanyut bersama arus kehidupan yang telah digariskan Semesta untuk saya.
I’m yours..I’m going with your flow.