Archive for April, 2009

Terserah..

Wednesday, April 29th, 2009

Terserah, saya ucapkan ketika harus menunggu berjam-jam tanpa ada kejelasan. Terserah mau jadi apa tidak saya tak peduli lagi. Saya hanya ingin berlalu dan melanjutkan agenda saya. Anda sudah membuat saya menunggu, dan itu sudah cukup untuk membuat saya tak ingin lagi menghargai anda.

Terserah, saya katakan pada orang yang terlalu sibuk untuk meluangkan waktunya untuk bersama saya. Silahkan bila memang saya tak lagi menjadi seseorang yang cukup penting bagi anda untuk menghabiskan waktu yang berkualitas. Saya tak peduli lagi anda akan ada waktu atau tidak untuk saya. Saya akan melanjutkan hidup saya hanya bersama dengan orang yang memang menilai saya penting dan berarti.

Terserah, saya bisikkan dalam doa saya, ketika saya mengadu pada-Nya. Saya serahkan hidup ini pada-Nya, hanya mohon keikhlasan untuk menerima dan kekuatan untuk menjalaninya.

Terserah, saya torehkan dalam hati yang terlanjur dingin. Ketika kata cinta dan rindu tak lagi hadir untuk menghangatkannya. Mungkin bagi anda perbuatan lebih penting daripada kata-kata.

Atau anda para lelaki mengira bahwa kami perempuan bisa membaca pikiran dan bisa mengintip relung hati kalian? Saya tak peduli lagi apakah kata cinta itu masih terucap di bibir itu atau tidak. Saya hanya ingin bersama dengan seseorang yang benar-benar mencintai saya, dengan perbuatan, hati, pikiran dan kata-katanya.

Terserah saya sisipkan dalam lembar kenangan, ketika sudah memutuskan ingin berlalu dari kehidupan seseorang. Ketika rasa cinta yang utuh dan tulus berbalas ala kadarnya. Cinta membara hanya berbalas kesepian dan keacuhan.

Terserah, saya tak peduli lagi kamu ada atau tidak dalam hidup saya. Saya hanya ingin belajar mencintai diri ini dengan lebih baik lagi, dengan menghargainya dengan layak.

Fenomena Buku Wajah dan BB

Tuesday, April 28th, 2009

Gara-gara buku wajah yang bikin banyak orang kecanduan itu, ajakan kopdar en reuni mendadak banyak. Temen-temen SD dan SMP pun jadi latah ingin menggelar acara reuni. Dari reuni kecil sampe reuni akbar. Seru.

Buku wajah ini memang berhasil mempertemukan yang terpisah, sekaligus “memisahkan” yang sedang bertemu. Renne Pattirajawane di Kompas juga menulis hal senada, katanya buku wajah ini mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

Saya jadi ingat seorang teman ketika sedang reuni temen-temen kuliah di Grand Indonesia, dia lebih sibuk memotret pertemuan ini dengan BB nya dan mengupload ke buku wajah itu lengkap dengan update statusnya, daripada ngobrol dengan kami yang bertahun-tahun tak berkumpul sebanyak itu.

Ketika ditegur dia bilang, kan untuk cerita ke temen-temen lain yang gak bisa hadir. Wadooh..Rupanya lebih penting mengabarkan pada mereka yang tak hadir, daripada bertukar cerita dengan kami ini yang secara fisik ada di hadapannya. Menyedihkan. Saya langsung ilfil dengan manusia seperti ini.

Bener sekali kata Renne, mendekatkan yang jauh, sekaligus menjauhkan yang dekat. Begitu juga mempertemukan yang terpisah, tapi sekaligus juga “memisahkan” yang sedang bertemu.

Lah gimana gak terpisah, kalo selama ketemuan masing-masing sibuk dengan BB nya untuk update status dan chatting pakai BBM dengan mereka yang di luar sana dan mengabaikan yang di depan mata. Dunia ini memang sudah sinting, lebih penting yang virtual daripada percakapan fisik dengan manusia yang hadir utuh di hadapan.

Manusia-manusia seperti ini enyah saja dari hadapan saya. Bila ngajak ketemuan tolong simpan BB anda lebih dulu. Bila masih sibuk dengan BB anda, mending kita ketemu secara virtual saja ya..

Cleaning and Moving

Sunday, April 26th, 2009

Ketika tiba saatnya berbenah, mengepak dan membersihkan tempat yang akan ditinggalkan, selalu hati ini mendadak resah. Melemparkan kertas-kertas usang ke tempat sampah. Menengok kembali data-data dan foto-foto yang tersimpan di laptop, menyisakan sesak di dada.

Foto-foto berjuta cerita itu pun harus diseleksi, mana yang akan saya simpan mana yang akan saya buang ke keranjang sampah data. Beberapa memang hanya akan mengguratkan luka, tak ada guna disimpan. Beberapa lainnya mengingatkan saya akan banyak kisah manis, yang ingin saya kenang.

Ada folder yang saya labeli pandora box.  Masih ingin saya simpan, meski enggan untuk ditengok lagi karena terlalu menyakitkan. Tapi untuk dibuang juga masih tak tega.

Loker saya sudah bersih, tak banyak memang barang pribadi saya yang disimpan disana. Rekan di sebelah pun dengan senang hati menerima warisan loker kosong itu. Membersihkan data di laptop ini yang rasanya tak beres-beres.

Baru sadar ternyata begitu banyak yang saya simpan. Saya pun harus benar-benar meneliti mana yang sudah saya transfer ke external harddisk yang baru dibeli itu, dan mana yang belum. Kotak keranjang sampah pun belum berani saya bersihkan. Takut ada yang belum ditransfer sudah keburu terbuang.

Email-email pamitan pun saya layangkan ke kolega-kolega yang selama ini terkait kerjasama. Hiks..sedih juga. Meski hanya 8 bulan tapi begitu banyak yang terjadi.

Inbox email kantor pun saya bersihkan sambil saya teliti mana yang perlu saya tindaklanjuti, mana yang harus ditendang jauh-jauh. Pamitan pada kolega pun tak sempat saya lakukan satu per satu, email di milis komunitas jadi pilihan.Ucapan terima kasih dan maaf yang tulus pun saya sampaikan pada mereka, juga para bos yang telah memberikan saya kesempatan menjadi bagian dari tim ini.

Saya tak akan duduk sambil menatap langit dari ketinggian lantai 31 ini lagi. Tak akan menatap kerlip lampu kota saat malam merundung Jakarta. Saya hanya ingin menikmatinya sekali ini lagi saja.

Saya tahu Ini hanyalah bagian dari perjalanan. Saatnya melangkah terus dan tak menengok lagi ke belakang. Sesekali boleh saat ingin rehat. Saat ini perjalanan-perjalanan baru yang tak kalah menakjubkan sudah menunggu untuk dilakoni.

Keep going seperti selalu dikatakan malaikat tercinta itu. Bergerak, melangkah, bersyukur, dan terus berkarya. Keep shining and blooming Nenden, the world is yours.

Nothin’ Change

Thursday, April 23rd, 2009

I landed in new place for working. Temporary yes, everyone asked why. Then where else next after this. To be honest I dont know, like everybody else, I dont know what will happen next in the future.

But my dream and wish stil the same, nothing change. Soon or later in my life, hopefully like I always said 2010, I will move to DC to have a career and family there.

My lovely husband will work at one of the offices along the Pensylvania Avenue and the main districs, central of power of the world. Our children will play in the parks with our goldie, also learning science, history and culture from all those museums around DC.

My dream stil the same, nothing change. And I will make it with the bless from the Universe. It just about the time.

Selasa yang Tak Biasa

Wednesday, April 22nd, 2009

Kemarin, setelah libur tiga hari berturut-turut, saya pun berangkat ke kantor dengan hati yang campur aduk. Mengenakan rok motif cerah hasil buruan di FO di Bogor hari Minggu, saya pun berusaha meredakan gejolak hati yang mendadak tak karuan.

Bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, Selasa itu bukan hari biasa. Itulah hari terakhir saya berangkat ke kantor di gedung tinggi itu, bersama lelaki tercinta dengan si unyil.

Hari ini lelaki tercinta itu sudah mendarat di tanah kelahirannya di Borneo sana, untuk merajut hari baru menjala mimpi-mimpinya. Saya pun sudah mendarat di kantor baru mulai hari ini. Masing-masing dari kami menjalani hidup baru hari ini, di tempat baru, dengan sejuta tanya mengganduli kepala. Apakah yang menanti kami di tempat baru? Tak ada yang tahu. Excited and scared at the same time. But that’s the art of life.

Hidup memang ajaib. Penuh kejutan dibalik setiap tikungannya, seperti Ndorokakung bilang. Tanpa perencanaan muluk, tiba-tiba dalam hitungan hari saya telah mendapatkan tempat baru ini semudah membalik telapak tangan.

Padahal kesempatan yang sudah lebih dulu dijajal saat ini masih dalam posisi diam belum bergerak. Itulah misteri waktu, memang saya harus mampir disini dulu sebelum melaju ke tujuan berikutnya yang lebih besar. Saya percaya semua ada waktunya. Hanya Dia yang Maha Tahu kapan waktu yang paling tepat untuk setiap peristiwa.

Meninggalkan kantor lama selalu membuat saya gelisah. Senang, sedih selalu beradu rasa. Bagaimanapun saya pernah sementara waktu berada disitu bersama dengan sekelompok kolega. Lama atau sebentar tentu saja relatif. Meski hanya terhitung bulan, tapi kantor ini pun menyimpan banyak cerita dan pelajaran untuk bekal saya ke depan. Terima kasih dan maaf untuk semua peristiwa yang pernah terukir disana.

Lelaki tercinta itu pun menawarkan untuk mengantar hingga lobi. Biasanya saya tolak tawaran itu karena hanya merepotkan, tak apa saya turun di pinggir jalan dan berjalan kaki sedikit. Tapi kali ini tak bisa ditolak, dan saya pun mengiyakan.

Tak apalah bukankah ini kali terakhir kami berdua bersama si unyil memasuki area gedung berlantai 35 ini? Saya ingin menikmati setiap detiknya, dan turun meninggalkan lelaki tercinta itu dengan ciuman sayang jatah sebulan kedepan, meski sekian pasang mata menatap. Ugh.. I’m gonna miss this moment and him.

Awalnya saya kira ini hanyalah waktu saya bersama dia menuju gedung ini saja yang terakhir kali. Ternyata lewat tengah hari saya baru tahu bahwa Selasa Kartini itu juga merupakan hari terakhir saya di kantor itu. Gara-gara berpapasan dengan bos di pantry yang kaget mengapa saya masih di kantor, dan bukan di tempat baru.”Ngapain kamu masih disini ?” tanya si bos. Lah bukannya surat resign saya baru per tanggal 29 April ?

Akhirnya perintah “pengusiran” segera pun disabdakan sang boss. Tak peduli urusan administrasi. Bahwa kehadiran saya sudah tak dibutuhkan di kantor itu, melainkan harus segera di kantor baru. Karena itu adalah sabda maha bos yang juga pemilik kantor baru saya.

Waduh..saya tak siap untuk mengusung semua barang pribadi saya hari itu juga. Menyelesaikan semua pekerjaan sih sudah, tapi mentransfer data dari laptop kantor dan membersihkan loker pribadi saya, duh kan juga butuh waktu.

Boro-boro untuk farewell party dan say goodbye dengan semua kolega, beresin barang pun saya minta waktu akhir pekan nanti dan beberapa hari untuk membersihkan data saya dari laptop ini. Masa transisi paling amburadul yang pernah saya rasakan dalam proses pindah kantor.

Tapi sudahlah, nikmati saja. Just keep going, bukanlah ini seninya kehidupan. Melakoni setiap perubahan dengan senyuman dan lapang dada. Enjoy the ride, Nden..

Ketika Dunia Berputar Cepat

Thursday, April 16th, 2009

Tak ada yang abadi dalam kehidupan, kecuali Yang Maha Kuasa. Tak ada yang tetap dalam kehidupan, kecuali perubahan. Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Tak terelakkan. Karena hanya perubahan itulah yang tetap dalam berputarnya roda kehidupan. Suka atau tidak, selama kita masih hidup beradaptasilah selalu dengan sang perubahan. Mengalirlah dengan arusnya, menarilah sesuai iramanya.

Angin perubahan itu bertiup sangat kencang belakangan. Semua berkelebat cepat. Bergerak. Berputar. Berganti. Posisi berubah, kejutan datang dan pergi. Seru. Menegangkan. Kadang terpaksa menahan nafas tak sabar menanti ujung cerita akan berakhir seperti apa. Sedihkah, bahagiakah ?

Ah, tak ada sedih dan bahagia, semua sama saja. Hanya permainan pikiran. Bukankah rasa itu hanya milik-Nya, dan bisa berganti kapan saja Dia berkehendak. Sekali lagi tak ada rasa yang abadi.

Kali ini pintu melangkah ke dunia baru terbuka lebar. Saatnya kaki menjejak. Kembali ke hiruk pikuk dunia politik. Menerjunkan diri kembali pada kebisingan. Kecepatan. Semua bergegas. Terlambat berarti kalah.

Pilihan ini dibuat dengan sadar. Tentu atas bimbingan-Nya. Entah mengapa semua mengarahkan saya untuk melakukan ini itu. Dalam hitungan hari semua berproses. Dan hari ini pun saya sudah tahu jawabnya.

Saya akan kembali ke kancah pertempuran bersama Bapak Besar itu, mendukungnya dalam kampanye pilpres mendatang. Mungkin ini hanya kelangenan. Rindu sesaat pada suasana dan perjalanan-perjalanannya. Atau mungkin saya hanya melarikan diri dari kebuntuan yang melanda di sini.

Bisa jadi saya pun hanya ingin pekerjaan yang bisa menyerap waktu lebih banyak. Membunuh sepi yang siap melanda saat lelaki tercinta itu sudah menjejakkan langkah barunya di bumi Kalimantan. Geographically I will be single again. Dan saya benci kesepian. Sepi bisa menciptakan imajinasi-imajinasi liar yang mencemari kepercayaan. Saya tak ingin menodai relasi baru kami ini dengan percikan tinta  cemburu yang tak berdasar.

Saya lelah merasa gelisah. Saya hanya ingin damai di hati dan pikiran. Berfokus merajut masa depan yang lebih baik. Melukis asa menggantang impian. Saya butuh ketenangan batin. Saya serahkan semuanya pada Sang Maha Pengatur. Ketika Dia berkehendak, tak ada yang kuasa menghentikan-Nya.

Biarkan dia disana membangun sarang barunya dengan kenyamanan dan kedamaian juga. Doa dan cinta ini selalu menyertai setiap langkahnya. Berharap berkat kekuatan dari-Nya untuk mendampingi jalannya.

Takut itu biasa sayang, manusiawi. Tapi takut bukan berarti ciut. Langkah sudah diayun, saatnya tegakkan kepala dan pandangan mata ke depan. Percayalah kamu bisa, semua tak ada yang kebetulan. Selalu ada berkat dibalik setiap kejadian. And you will make it beib!

Bukan hanya saya dan lelaki tercinta itu yang bergerak cepat dan bertransformasi. Kehidupan di sekeliling saya juga bergerak demikian cepat. Manusia-manusia lainnya pun tak kalah gesit mengayun langkah, memutar kunci dan membuka pintu-pintu baru. Menjenguk kesempatan yang tersembunyi di balik pintu-pintu itu. Berharap menjumput yang lebih baik.

Hak manusia untuk berikhtiar, teruslah berjuang.. Jangan lelah dan patah. Semua hanya akan diberikan pada mereka yang berhak mendapatkannya. Para pemberani dan pejuang kehidupan. Semoga kita adalah mereka.

I Want a Life..

Monday, April 6th, 2009

Ketika sabar dan ikhlas menjadi dua kata yang sulit digapai. Saat hati mendadak didera gundah dan jiwa kembali diguncang resah. Sejuta tanya pun kembali merebak di kepala.

Tak ada yang benar-benar menjadi milikmu di dunia ini, teori yang sungguh saya paham. Diajarkan oleh semua orang bijak yang menjadi guru-guru kehidupan.

Saya tahu saya bukan milik siapapun seperti juga tak ada orang lain yang bisa saya klaim menjadi milik saya. Semua manusia pada hakekatnya bebas, hanya alam semesta tempat kita berpulang dan hanya Dia lah Sang Maha Pemilik.

Manusia bebas menentukan akan menjadi apapun yang diinginkannya. Maka tak ada orang tua yang berhak memaksakan kehendaknya pada si anak, untuk jadi sesuatu yang tak diinginkannya. Karena anak adalah individu yang bebas, meskipun belum mandiri. Orang tua hanya menjadi alat-Nya untuk merawat titipannya dengan baik.

Manusia juga bebas menentukan arah kehidupan yang ingin ditempuh. Jalan lapang seperti jalan tol, ataukah terjal berliku dan menanjak. Kanan kiri boleh berkomentar, tapi setir tetaplah ditangan si pengemudi. Semua pilihan berbelok bergandeng dengan konsekuensinya. Siap-siap saja. Tak ada yang bebas risiko.

Berbicara soal kebebasan manusia lainnya adalah soal menentukan ingin berelasi dengan siapa. Setiap manusia berhak menentukan dengan siapa ingin bersama yang membuatnya nyaman. Menentukan seseorang untuk hidup bersama  meniti waktu hingga usia senja. Meskipun ditengah jalan pilihan itu bisa berganti, karena cinta yang lapuk dimakan usia, dan abai dirawat.

Soal komitmen dan kesetiaan itu adalah hal lain. Sepertinya kebebasan berelasi tak ada hubungannya dengan komitmen yang telah kamu berikan pada seseorang. Begitu juga kesetiaan. Keduanya dengan mudah bisa direvisi. Bahkan ketika selembar kertas telah ditandatangan oleh pihak-pihak yang sepakat berkomitmen sekalipun.

Saya jadi bertanya-tanya sendiri. Rasanya konsep tentang kebebasan dan manusia bebas kok begitu absurd ya? Ataukah hanya saya yang kurang paham ? Apakah saya yang masih kurang dewasa dan bijaksana? Apakah kebebasan sedemikian absolut dan menafikkan pihak-pihak lain lain ?

Apakah bersama dengan seseorang berarti kamu kehilangan kebebasanmu? Bisa iya dan tidak.. Tergantung komitmen kebersamaan yang disepakati bersama. Jangan meniru orang lain, bentuklah relasi yang ala kalian sendiri. Begitu kata tips-tips di majalah wanita.

Jangan samakan pasanganmu yang sekarang dengan pasangan-pasanganmu sebelumnya. Karena tentu saja tiap individu berbeda dan unik, hargailah perbedaan yang dimilikinya dibanding yang terdahulu.

Bicarakan setiap yang mengganjal, selesaikan hingga tuntas. Jangan simpan menjadi bom waktu yang bisa meledak dan tak bisa dibenahi lagi. Rajut kembali setiap benang cinta yang koyak, perbaiki dan eratkan. Jangan biarkan terurai hingga masai dan tak ada lagi ujung yang bisa disatukan.

Jangan abaikan bila pasanganmu mengeluh tak nyaman. Dengarkan dengan sepenuh hati, bukan hanya mendengar basa basi, dan kemudian segera melupakannya. Keluhan yang menumpuk bisa menuai petaka. Ketika pasangan merasa diabaikan, perlahan tapi pasti rasa cinta pun berpotensi memudar.

Sampaikan pandanganmu tentang apa yang dikeluhkannya, bicarakan hingga tuntas. Upayakan raih pemahaman berdua atas masalah yang mencuat. Berkompromilah, dan berusaha menempatkan diri pada posisinya. Relationship is about negotiation and compromise. Setidaknya menurut saya.

Berdirilah di posisinya, perlakukanlah pasangan anda seperti anda pun ingin diperlakukan. Tak ada yang sulit, yang diperlukan hanyalah keinginan untuk memahami dan mendengar. Bukankah kita diberi telinga dua dibanding mulut yang hanya satu? Itu bukan sekedar tempelan, tapi Tuhan memberikannya dengan sebuah tujuan.

Maaf bila melantur, saya menulis melompat-lompat seperti kodok bingung. Tapi saya memang sedang  berpikir keras merumuskan kebebasan seperti apa yang ingin dibangun bersama pasangan saya kelak.

Kebebasan yang bukan saja memberi ruang bagi masing-masing untuk bersosialisasi, tapi juga tak mengabaikan kenyamanan si pasangan. Sehingga kebersamaan diatas kertas itu bisa langgeng hingga sama-sama keriput dan bungkuk.

Saya tahu setiap pasangan butuh ruang untuk bersosialisasi sendiri. Have their own crowd. Saya juga membutuhkannya. Tapi saya tak ingin diabaikan dan diisolasi dari crowd pasangan saya. Saya ingin memasuki dunianya, seperti saya juga mengundang pasangan saya untuk mengenal dunia saya dan orang-orang di dalamnya, serta menjadi bagian penting dari dunia saya.

Saya mau sebuah relasi yang dilandasi keterbukaan dan kejujuran. Karena rasa percaya juga harus dirawat seperti juga sebuah tanaman cinta. Pupuknya adalah keinginan untuk berbagi dan airnya adalah komunikasi yang lancar.

Hari ini saya menemukan quote anonympus dari seorang teman, ini katanya “Love someone is natural, loved by somone is lucky, living with someone we love is an achievement, but Living with someone that love us is a life”.

And I want a life..

Sebuah pelajaran dari pakis dan bambu

Friday, April 3rd, 2009

Jangan menyerah,jangan putus asa.  Sebuah pelajaran dari pakis dan bambu.

Alkisah,tersebutlah seorang pria yang putus asa dan ingin meninggalkan segalanya. Meninggalkan pekerjaan, hubungan, dan berhenti hidup.

Ia lalu pergi ke hutan untuk bicara yang terakhir kalinya dengan Tuhan Sang Maha Pencipta. “Tuhan,” katanya. “Apakah Tuhan bisa memberi saya satu alasan yang baik untuk jangan berhenti hidup dan menyerah?”

Jawaban Tuhan sangat mengejutkan. “Coba lihat ke sekitarmu. Apakah kamu melihat pakis dan bambu ?”. “Ya,”jawab pria itu.

“Ketika menanam benih pakis dan benih bambu, Aku merawat keduanya secara sangat baik.

Aku memberi keduanya cahaya. Memberikan air. Pakis tumbuh cepat di bumi.Daunnya yang hijau dan segar menutupi permukaan tanah hutan.
Sementara itu, benih bambu tidak menghasilkan apapun.Tapi aku tidak menyerah.

“Pada tahun kedua, pakis tumbuh makin subur dan banyak, tapi belum ada juga yang muncul dari benih bambu. Tapi aku tidak menyerah.

“Di tahun ketiga, benih bambu belum juga memunculkan sesuatu. Tapi aku tidak menyerah,” kataNya. “Di tahun kelima, muncul sebuah tunas kecil.

Dibanding dengan pohon pakis, tunas itu tampak kecil dan tidak bermakna. Tapi 6 bulan kemudian, bambu itu menjulang sampai 100 kaki.

Untuk menumbuhkan akar itu perlu waktu 5 tahun. Akar ini membuat bambu kuat dan memberi apa yang diperlukan bambu untuk bertahan hidup.

Aku tak akan memberi ujian yang tak sanggup diatasi ciptaan-Ku,”kata Tuhan kepada pria itu. “Tahukah kamu,anak-Ku, di saat menghadapi semua kesulitan dan perjuangan berat ini, kamu sebenarnya menumbuhkan akar-akar?”

“Aku tidak meninggalkan bambu itu. Aku juga tak akan meninggalkanmu.”
“Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain,” kata Tuhan.
“Bambu mempunyai tujuan yang beda dengan pakis. Tapi keduanya membuat hutan menjadi indah. “Waktumu akan datang. Kamu akan menanjak dan menjulang tinggi.”

“Saya akan menjulang setinggi apa ? “tanya pria itu. “Setinggi apa pohon bambu bisa menjulang? “tanya Tuhan.  “Setinggi yang bisa dicapainya,” jawab pria itu.

“Ya,benar! Agungkan dan muliakan nama-Ku dengan menjadi yang terbaik,meraih yang tertinggi sesuai kemampuanmu,” kata Tuhan.

Pria itu lalu meninggalkan hutan dan mengisahkan pengalaman hidup yang berharga ini.

Moral cerita:
Tuhan mempunyai rencana yang beda untuk masing-masing ciptaan-Nya.  Bicara kepada Tuhan dan biarkan Tuhan membantu kita menyadari tujuan itu.

Jangan pernah menyesali satu hari pun dari hidup Anda.
Hari baik memberikan kebahagiaan, hari buruk memberikan pengalaman. Keduanya sangat penting untuk hidup.

Semua orang pernah mengalami saat-saat ingin menyerah. Jika menghadapi kesulitan atau hambatan dalam hidup, selalu ingat kita perlu menumbuhkan akar.

Tuhan tidak menjanjikan hidup tanpa kesulitan, tawa tanpa kesedihan, matahari tanpa hujan. Tapi Dia menjanjikan kekuatan, hiburan untuk kesedihan, dan cahaya untuk menerangi jalan.

sumber : milis

Pohon Cinta yang Malang

Wednesday, April 1st, 2009

Ketika sabar itu menjejak batasnya, dan bunga cinta yang merekah indah pun perlahan layu.

Pohon pencinta itu diambang putus asa. Batangnya sudah miring terlalu berat menyangga beban. Tak heran bila dia lelah, karena dia menyangganya sendirian. Pohon kokoh yang dulu berdiri di sebelahnya sekarang tak lagi ajeg disitu seperti dulu, turut menyangga angin dan badai bersama-sama.

Pohon itu sekarang lebih suka mencari kesenangan di luar sana, mencumbu bunga-bunga di sekeliling, dan membiarkan pohon pencinta berdiri sendirian di tempatnya menahan terpaan hujan dan badai.

Tak heran bila akar si pohon pencinta sudah menjulur di bibir jurang. Hanya soal waktu kapan dia akan segera tumbang ke tanah. Masih ada harapan di menit-menit terakhir bahwa si pohon kokoh itu akan kembali dan turut menyangga beban itu bersama lagi.

Tapi entahlah, rupanya harapan itu semakin jauh dari kenyataan. Jarak yang dibentangnya semakin jauh, dan langkahnya semakin liar menyakitkan hati.

Pohon cinta itu pun meranggas kerontang, karena tak ada lagi air yang menyirami dan pupuk yang menyuburkannya. Bertahan di tanah gersang yang tak lagi dipedulikan, hanyalah sebuah pilihan bodoh. Bahkan sebatang pohon pun perlu dihargai dan dicintai dengan layak, bukan sekadarnya saja.

Genit atau Terlalu Baik ?

Wednesday, April 1st, 2009

Pekan lalu saya naik pesawat kembali ke Jakarta dari Jogja. Sendirian, di sebelah saya duduk seorang laki-laki dan perempuan yang nampaknya adalah sepasang kekasih. Sepertinya begitu karena saya tak melihat cincin yang sama melingkar di jari manis mereka.

Saya pun duduk anteng di dekat jendela, kursi favorit saya bila sedang bepergian naik pesawat. Menyaksikan awan berkelebatan dan pemandangan dari ketinggian sungguh menyenangkan. Si perempuan duduk di sebelah saya dan si laki-laki duduk di kursi di sebelah lorong.

Mereka asik mengobrol tentang banyak hal, tentang pesawat, tentang politik, dan beberapa hal yang saya tak terlalu paham. Tak bermaksud menguping, tapi apa daya obrolan mereka jelas terdengar di telinga saya.

Tapi yang saya cermati selama mereka mengobrol sebetulnya bukan topik pembicaraan mereka, tapi mata si laki-laki yang sering sekali mencuri pandang ke arah saya. Saya kira penampilan saya berhasil menarik perhatiannya, dengan kacamata, rambut saya yang mulai panjang digerai ke bahu, dan anting-anting besar menggantung di kedua telinga saya.

Jadi selama mengobrol dengan perempuan yang saya duga kekasihnya itu, matanya selalu melirik ke arah saya. Saya kira si perempuan pun merasa, karena sempat menawarkan pada laki-laki itu untuk bertukar duduk dengannya agar persis ada di samping saya.

Sebagai sesama perempuan saya rasa di perempuan merasakan ketertarikan kekasihnya pada saya. Tapi si laki-laki menolak, dia bilang tak usah, kecuali memang si perempuan ingin bertukar duduk di pinggir lorong. ” Nggak, kirain aja kamu pengen deket jendela,” katanya.. Saya tahu ucapannya menyindir di laki-laki itu yang entah merasa atau tidak.

Perjalanan selama 50 menit itu berlangsung seperti itu. Sungguh tak nyaman. Saya bisa merasakan kegelisahan si perempuan di sebelah saya yang mengetahui hasrat kekasihnya untuk ngelaba pada saya. Intuisi perempan memang tajam dan saya pun bisa mengetahuinya.

Akhirnya pesawat mendarat di Cengkareng. Mereka pun bergegas berdiri dan bersiap mengambil koper di atas. Upaya si laki-laki itu ngelaba masih terus berlanjut bahkan makin terang-terangan, padahal di perempuan berdiri di belakangnya.

Saya tepat berdiri di sampingnya menanti giliran mengambil koper saya. Si laki-laki pura-pura menoleh ke belakang melihat apakah pintu belakang pesawat sudah di buka, tapi dengan menengok ke arah saya bukan ke arah si perempuan, saya pun jadi ikut menoleh. Tapi saya tahu si laki-laki semata-mata ingin memandangi saya dengan lebih jelas.

Matanya pun sempat menatap saya sejenak meskipun tak berkata-kata, karena melihat saya sedang menatap ke atas mencari dimana koper saya. Dari pandangan matanya nampak dia siap mengulurkan tangan untuk membantu saya menurunkan koper.

Padahal sekilas saya sempat mendengar waktu mereka mengobrol tadi, bahwa pergelangan tangan kanan si lelaki itu retak atau sakit apa entah karena mengangkat benda terlalu berat. Wow tapi nampaknya dia tak keberatan untuk menambah sakit pergelangan tangannya demi saya. Saya tersanjung sekaligus kasihan pada si perempuan.

Saya berpikir apa yang ada di kepalanya menyaksikan perbuatan si laki-laki ini pada saya persis di depan matanya. Saya yakin si perempuan melihat semuanya, karena dia persis di belakang kami. Meskipun pada akhirnya mereka bergerak lebih dahulu dan saya takjadi dibantu oleh laki-laki “super baik” itu.

Saya jadi berpikir, bersama perempuan di sampingnya saja laki-laki itu bersikap seperti itu. Saya yakin si perempuan itu kekasihnya, karena ketika mendarat dan si perempuan kesakitan, spontan si laki-laki memegangi tangannya menenangkan, lalu sempat memijat kepala si perempuan yang masih meringis menahan sakit akibat tekanan udara yang tiba turun ketika pesawat bersiap mendarat.

Saya jadi membayangkan bila laki-laki itu terbang sendirian dan duduk persis di sebelah saya. Mungkin bukan hanya mencuri pandang selama perjalanan dan tawaran menurunkan koper, tentunya kami sudah bertukar kartu nama, berlanjut dengan tawaran tumpangan menuju Jakarta bersama. Kemudian saling berkirim sms, telepon, ngopi atau dugem bareng, facebook-an dan mungkin entah apa.

Saya sungguh kasihan dengan perempuan malang itu. Keberadaannya sungguh tidak dihargai. Atau mungkin memang si perempuan itu benar-benar tak berharga buat si laki-laki ? Lalu kenapa si laki-laki masih bersamanya ? Terpaksakah ? Kasihan atau apa ? Hubungan seperti apa yang mereka jalani bila tak ada rasa saling menghargai diantara keduanya ? Dan mengapa si perempuan masih bertahan dengan lelaki yang memperlakukannya seperti barang loak ?

Duh kenapa saya jadi sibuk menganalisa hubungan orang lain ya ? Entahlah pikiran saya jadi mengembara kemana-mana. Karena ini bukan pertama kalinya saya dilabain oleh seorang lelaki di hadapan kekasihnya.

Saat di Jogja, kami berkumpul di rumah seorang teman. Reuni yang dihadiri oleh banyak teman dari berbagai kota yang datang khusus ke Jogja untuk acara ini. Seru, ramai gelak tawa, bahkan beberapa teman yang selama ini hanya saya kenal namanya turut hadir. Termasuk yang dari Guangzou, China, khusus terbang ke Jogja untuk acara ini.

Habis makan malam, minuman orang dewasa pun segera diedarkan. Saya bergabung di meja yang isinya orang-orang yang saya baru kenal, termasuk sepasang teman kakak dari Jakarta. Saya diundang oleh si lelaki untuk duduk di sebelahnya, dan kekasihnya duduk di sebelah dia, yang posisinya persis di depan saya.

Minuman black label ditenggak di laki-laki, sementara si perempuan saya lihat hanya menyesap kopi Bali yang nampak sedap. Mengobrol sana sini tentang berbagai topik hangat, soal pemilu, soal demokrasi di Singapura, soal pengurusan visa di China, dan banyak lagi.

Entah sudah agak mabuk atau bagaimana, di sela-sela mengobrol si lelaki sengaja menyentuh lutut saya yang terbuka, karena saya mengenakan rok dengan belahan agak tinggi. Padahal di hadapan saya si kekasih yang melihat perbuatan si laki-laki dengan jelas. Saya jadi tak enak hati.  Bertahan sejenak di obrolan itu, sampai akhirnya seorang teman menyelamatkan saya dari kondisi tak mengenakan itu dengan memanggil saya ke meja lain.

Saya pun berlalu dari sana, tapi selama saya berjalan, saya bisa merasakan bahwa pandangan mata si lelaki menatap saya lekat-lekat dengan penuh hasrat. Pakaian saya memang rada seksi malam itu, rok terusan berwarna cokelat dengan ban pinggang yang membentuk pinggul saya, dan belahan di kedua sisi yang menampakkan separuh paha saya yang putih. Meskipun dari samping saya bisa merasakan tatapan matanya seakan siaga melahap tubuh saya bulat-bulat.

Lagi-lagi saya memikirkan perasaan perempuan di sebelahnya. Saya tahu dia menyaksikan semua perbuatan si laki-laki yang dikasihinya. Terang-terangan dan terbuka. Saya pun kembali bertanya, apakah si perempuan bisa menerima perbuatan itu, tidakkah dia merasa malu dan tersinggung ? Keberadaannya sama sekali dinafikan, dianggap tak ada. Dan si laki-laki berbuat semau-maunya bahkan dihadapan matanya ?

Pikiran liar saya pun kembali mengembara, bayangkan bila si perempuan tak ada di sebelahnya, tentu tawaran minum bersama dan mojok dengan gelas berisi cairan black label di tangan sudah diajukan si laki-laki. Bukan hanya sentuhan di lutut mungkin yang akan saya dapatkan, sekedar pelukan hangat dan cium mesra tentu tak sulit dilakukan oleh laki-laki mata keranjang seperti itu. Tapi sayangnya saya bukan perempuan gatal seperti itu.

Sungguh saya risi diperlakukan demikian oleh seorang laki-laki yang sedang bersama pacarnya. Bahkan bila dia sedang sendiri pun rasanya sudah saya gampar laki-laki kurang ajar seperti itu. Hanya karena dia teman kakak saya saja saya masih menahan diri untuk tetap bersikap sopan.

Saya jadi bertanya-tanya, apakah yang ada di kepala laki-laki yang bersikap demikian pada perempuan lain, sedangkan kekasih atau istrinya berada di sampingnya ? Hanya bersikap ramah kah atau memang genit dan berusaha ngelaba? Laki-laki terlalu baik, atau memang mata keranjang dan gatal ?

Bagaimanakah menurut anda ? Dan apakah sikap yang harus dilakukan si perempuan bila kejadian itu menimpa anda ? Anda bertahan dengan laki-laki yang tak menghargai anda, berusaha memakluminya, atau pergi meninggalkannya untuk laki-laki yang lebih baik ?