Pekan lalu saya naik pesawat kembali ke Jakarta dari Jogja. Sendirian, di sebelah saya duduk seorang laki-laki dan perempuan yang nampaknya adalah sepasang kekasih. Sepertinya begitu karena saya tak melihat cincin yang sama melingkar di jari manis mereka.
Saya pun duduk anteng di dekat jendela, kursi favorit saya bila sedang bepergian naik pesawat. Menyaksikan awan berkelebatan dan pemandangan dari ketinggian sungguh menyenangkan. Si perempuan duduk di sebelah saya dan si laki-laki duduk di kursi di sebelah lorong.
Mereka asik mengobrol tentang banyak hal, tentang pesawat, tentang politik, dan beberapa hal yang saya tak terlalu paham. Tak bermaksud menguping, tapi apa daya obrolan mereka jelas terdengar di telinga saya.
Tapi yang saya cermati selama mereka mengobrol sebetulnya bukan topik pembicaraan mereka, tapi mata si laki-laki yang sering sekali mencuri pandang ke arah saya. Saya kira penampilan saya berhasil menarik perhatiannya, dengan kacamata, rambut saya yang mulai panjang digerai ke bahu, dan anting-anting besar menggantung di kedua telinga saya.
Jadi selama mengobrol dengan perempuan yang saya duga kekasihnya itu, matanya selalu melirik ke arah saya. Saya kira si perempuan pun merasa, karena sempat menawarkan pada laki-laki itu untuk bertukar duduk dengannya agar persis ada di samping saya.
Sebagai sesama perempuan saya rasa di perempuan merasakan ketertarikan kekasihnya pada saya. Tapi si laki-laki menolak, dia bilang tak usah, kecuali memang si perempuan ingin bertukar duduk di pinggir lorong. ” Nggak, kirain aja kamu pengen deket jendela,” katanya.. Saya tahu ucapannya menyindir di laki-laki itu yang entah merasa atau tidak.
Perjalanan selama 50 menit itu berlangsung seperti itu. Sungguh tak nyaman. Saya bisa merasakan kegelisahan si perempuan di sebelah saya yang mengetahui hasrat kekasihnya untuk ngelaba pada saya. Intuisi perempan memang tajam dan saya pun bisa mengetahuinya.
Akhirnya pesawat mendarat di Cengkareng. Mereka pun bergegas berdiri dan bersiap mengambil koper di atas. Upaya si laki-laki itu ngelaba masih terus berlanjut bahkan makin terang-terangan, padahal di perempuan berdiri di belakangnya.
Saya tepat berdiri di sampingnya menanti giliran mengambil koper saya. Si laki-laki pura-pura menoleh ke belakang melihat apakah pintu belakang pesawat sudah di buka, tapi dengan menengok ke arah saya bukan ke arah si perempuan, saya pun jadi ikut menoleh. Tapi saya tahu si laki-laki semata-mata ingin memandangi saya dengan lebih jelas.
Matanya pun sempat menatap saya sejenak meskipun tak berkata-kata, karena melihat saya sedang menatap ke atas mencari dimana koper saya. Dari pandangan matanya nampak dia siap mengulurkan tangan untuk membantu saya menurunkan koper.
Padahal sekilas saya sempat mendengar waktu mereka mengobrol tadi, bahwa pergelangan tangan kanan si lelaki itu retak atau sakit apa entah karena mengangkat benda terlalu berat. Wow tapi nampaknya dia tak keberatan untuk menambah sakit pergelangan tangannya demi saya. Saya tersanjung sekaligus kasihan pada si perempuan.
Saya berpikir apa yang ada di kepalanya menyaksikan perbuatan si laki-laki ini pada saya persis di depan matanya. Saya yakin si perempuan melihat semuanya, karena dia persis di belakang kami. Meskipun pada akhirnya mereka bergerak lebih dahulu dan saya takjadi dibantu oleh laki-laki “super baik” itu.
Saya jadi berpikir, bersama perempuan di sampingnya saja laki-laki itu bersikap seperti itu. Saya yakin si perempuan itu kekasihnya, karena ketika mendarat dan si perempuan kesakitan, spontan si laki-laki memegangi tangannya menenangkan, lalu sempat memijat kepala si perempuan yang masih meringis menahan sakit akibat tekanan udara yang tiba turun ketika pesawat bersiap mendarat.
Saya jadi membayangkan bila laki-laki itu terbang sendirian dan duduk persis di sebelah saya. Mungkin bukan hanya mencuri pandang selama perjalanan dan tawaran menurunkan koper, tentunya kami sudah bertukar kartu nama, berlanjut dengan tawaran tumpangan menuju Jakarta bersama. Kemudian saling berkirim sms, telepon, ngopi atau dugem bareng, facebook-an dan mungkin entah apa.
Saya sungguh kasihan dengan perempuan malang itu. Keberadaannya sungguh tidak dihargai. Atau mungkin memang si perempuan itu benar-benar tak berharga buat si laki-laki ? Lalu kenapa si laki-laki masih bersamanya ? Terpaksakah ? Kasihan atau apa ? Hubungan seperti apa yang mereka jalani bila tak ada rasa saling menghargai diantara keduanya ? Dan mengapa si perempuan masih bertahan dengan lelaki yang memperlakukannya seperti barang loak ?
Duh kenapa saya jadi sibuk menganalisa hubungan orang lain ya ? Entahlah pikiran saya jadi mengembara kemana-mana. Karena ini bukan pertama kalinya saya dilabain oleh seorang lelaki di hadapan kekasihnya.
Saat di Jogja, kami berkumpul di rumah seorang teman. Reuni yang dihadiri oleh banyak teman dari berbagai kota yang datang khusus ke Jogja untuk acara ini. Seru, ramai gelak tawa, bahkan beberapa teman yang selama ini hanya saya kenal namanya turut hadir. Termasuk yang dari Guangzou, China, khusus terbang ke Jogja untuk acara ini.
Habis makan malam, minuman orang dewasa pun segera diedarkan. Saya bergabung di meja yang isinya orang-orang yang saya baru kenal, termasuk sepasang teman kakak dari Jakarta. Saya diundang oleh si lelaki untuk duduk di sebelahnya, dan kekasihnya duduk di sebelah dia, yang posisinya persis di depan saya.
Minuman black label ditenggak di laki-laki, sementara si perempuan saya lihat hanya menyesap kopi Bali yang nampak sedap. Mengobrol sana sini tentang berbagai topik hangat, soal pemilu, soal demokrasi di Singapura, soal pengurusan visa di China, dan banyak lagi.
Entah sudah agak mabuk atau bagaimana, di sela-sela mengobrol si lelaki sengaja menyentuh lutut saya yang terbuka, karena saya mengenakan rok dengan belahan agak tinggi. Padahal di hadapan saya si kekasih yang melihat perbuatan si laki-laki dengan jelas. Saya jadi tak enak hati. Bertahan sejenak di obrolan itu, sampai akhirnya seorang teman menyelamatkan saya dari kondisi tak mengenakan itu dengan memanggil saya ke meja lain.
Saya pun berlalu dari sana, tapi selama saya berjalan, saya bisa merasakan bahwa pandangan mata si lelaki menatap saya lekat-lekat dengan penuh hasrat. Pakaian saya memang rada seksi malam itu, rok terusan berwarna cokelat dengan ban pinggang yang membentuk pinggul saya, dan belahan di kedua sisi yang menampakkan separuh paha saya yang putih. Meskipun dari samping saya bisa merasakan tatapan matanya seakan siaga melahap tubuh saya bulat-bulat.
Lagi-lagi saya memikirkan perasaan perempuan di sebelahnya. Saya tahu dia menyaksikan semua perbuatan si laki-laki yang dikasihinya. Terang-terangan dan terbuka. Saya pun kembali bertanya, apakah si perempuan bisa menerima perbuatan itu, tidakkah dia merasa malu dan tersinggung ? Keberadaannya sama sekali dinafikan, dianggap tak ada. Dan si laki-laki berbuat semau-maunya bahkan dihadapan matanya ?
Pikiran liar saya pun kembali mengembara, bayangkan bila si perempuan tak ada di sebelahnya, tentu tawaran minum bersama dan mojok dengan gelas berisi cairan black label di tangan sudah diajukan si laki-laki. Bukan hanya sentuhan di lutut mungkin yang akan saya dapatkan, sekedar pelukan hangat dan cium mesra tentu tak sulit dilakukan oleh laki-laki mata keranjang seperti itu. Tapi sayangnya saya bukan perempuan gatal seperti itu.
Sungguh saya risi diperlakukan demikian oleh seorang laki-laki yang sedang bersama pacarnya. Bahkan bila dia sedang sendiri pun rasanya sudah saya gampar laki-laki kurang ajar seperti itu. Hanya karena dia teman kakak saya saja saya masih menahan diri untuk tetap bersikap sopan.
Saya jadi bertanya-tanya, apakah yang ada di kepala laki-laki yang bersikap demikian pada perempuan lain, sedangkan kekasih atau istrinya berada di sampingnya ? Hanya bersikap ramah kah atau memang genit dan berusaha ngelaba? Laki-laki terlalu baik, atau memang mata keranjang dan gatal ?
Bagaimanakah menurut anda ? Dan apakah sikap yang harus dilakukan si perempuan bila kejadian itu menimpa anda ? Anda bertahan dengan laki-laki yang tak menghargai anda, berusaha memakluminya, atau pergi meninggalkannya untuk laki-laki yang lebih baik ?