Berkaca pada Pak Boed..
Wednesday, May 27th, 2009“Kenapa kamu jadi nasionalis begini ya sekarang?” Kata lelaki tercinta itu heran, saat kami ngobrol usai Obrolan Langsat “Boediono Menjawab” di Angkringan Wetiga, tadi malam. “Dari undecided jadi decided,” tambahnya.
Ya, dia cukup tau apa isi kepala saya soal apa yang terjadi di tingkat elit politik dan pemerintahan. Saya apatis, skeptis, dan pragmatis. Saya bahkan ingin menyingkir sejauh-jauhnya ke negeri Obama, untuk kehidupan yang lebih baik bagi masa depan anak-anak tercinta.
Bahkan ketika saya bekerja di istana pun, bukan berarti saya memang pendukung setianya dan anggota partainya. Tidak.Saya bekerja sebagai seorang profesional yang kebetulan saat itu bekerja di istana. I was just doing my job at that time.
Begitu pun saat saya memilih pindah dari kantor sebelum ini, sebuah portal berita baru, ke tempat saya sekarang, di tim kampanye presiden. Saat itu memang saya didesak muak, ingin segera pindah kantor. Dan saya punya kemampuan dan akses untuk semua yang saya kerjakan sekarang. Klop sudah, kembali saya bekerja di lingkaran politik sebagai seorang profesional. Again, I’m just doing my job.
Hingga dua pekan lalu, SBY memilih Boediono. Pidatonya yang memukau, kisah-kisah yang dipaparkan oleh mereka yang mengenalnya secara personal, dan sosoknya yang kemudian saya lihat sehari-hari disini berhasil membuat saya berubah pikiran.
Bahkan seorang Inu Nugroho, wartawan istana yang super jail dan skeptis itu pun, mengungkapkan kekagumannya pada seorang Boediono ketika kami bertemu di Sabuga Bandung, usai Deklarasi pasangan SBY-Boediono, 15 Mei lalu.” Semua kerja keras ini untuk Pak Boediono”, kata saya yang diamini Inu.
Akhirnya saya pun berubah posisi, dari seorang profesional, menjadi bekerja sepenuh hati. Saya menemukan alasan mengapa saya berada di tim ini. Saya mencintai apa yang saya kerjakan. Saya bekerja siang malam, hari biasa dan akhir pekan, demi kemenangan pasangan ini agar Indonesia menjadi lebih baik
Sosok sederhananya berhasil membius saya untuk melihat ke dalam diri, dan mereview apa yang telah saya lakukan di masa lalu. Saya jadi bertanya apa yang telah saya lakukan pada Republik, dan betapa saya telah banyak makan uang rakyat dengan tak sepatutnya.
Perjalanan-perjalanan dinas itu menggunakan uang rakyat, tiket dan hotel-hotel kelas mewah yang saya tinggali di semua perjalanan itu dibayar dengan pajak. Saya jadi malu membaca cerita dari staf Pak Boed saat jadi Menkeu, ketika di-bookingkan kamar seharga 6 juta sebagai tempat menginap selama ada acara di Bali, menolak dan akhirnya memilih hotel dengan kamar seharga 800 ribu saja. ” Itu uang rakyat, jangan boros,” katanya seperti saya baca di Majalah Tempo.
Padahal sebagai menteri beliau berhak tinggal di kamar seharga 6 juta. Sedangkan saya siapa? Kacung sok penting yang kebetulan ada di istana, tinggal di kamar junior suite seharga jutaan rupiah bila di kurs-kan, dengan pekerjaan remeh temeh, dan sisanya jalan-jalan di negeri orang pake duit negara. Malu nya hati ini..
Bu Hera pun sama saja, pakaiannya sungguh bersahaja, tak ada merk yang menonjol, dan sama sekali tak akan masuk kriteria untuk masuk majalah wanita ala Cosmopolitan. Tapi keteduhan dan keramahannya tulus tanpa dibuat-buat seperti ibu-ibu pejabat dan socialite yang dengan bangga tampil di majalah-majalah itu.
Menurut data KPK kekayaannya menjadi 22 milyar rupiah. Banyak memang, korupsi ? Duh pakai hotel yang jadi haknya aja gak mau, makan lebih dari plafon bujet resmi aja enggan. “Tak satu sen pun uang rakyat yang saya pakai,” kata Pak Boed tadi malam di Wetiga. Bila memang begitu cara hidupnya, tentu saya percaya.
Gaji beliau sebagai Gubernur BI saja kan 150 juta sebulan, sebelumnya jadi menteri, dan pejabat BI, mengajar dan jadi pembicara disana-sini. Ditambah dengan gaya hidupnya yang sangat bersahaja, wajar saja bila tabungannya menumpuk. Jangankan jam mewah sekelas Breitling atau Rolex, jam biasa saja tak terlihat melingkar di pergelangan tangannya. “Jam kan sudah ada di handphone,” ujarnya. Duh pak..speechless deh saya.
Kecintaannya mengajar juga menjadi teladan saya. Mengajar itu pekerjaan yang membutuhkan dedikasi dan kesukaan untuk berbagi. Bentuk pengabdian pada bangsa untuk menyiapkan generasi yang lebih baik. Satu hal yang membuatnya sedih dengan jabatan baru ini adalah meninggalkan dunia akademis yang amat dicintainya.
Ketenangannya menghadapi kritik dan serangan yang bikin hati mendidih juga membuat saya menjura. Saya yang emosional seperti ini jadi berkaca dan terinspirasi untuk berusaha lebih meredam ledakan amarah dan mengontrol diri.
Kejujurannya ketika ditanya pertanyaan yang beliau tak paham, juga saya acungi jempol. Tak berpretensi, dan sok tau. “Saya harus jujur, saya tak tahu soal itu, saya harus mencari tahu dulu baru bisa menjawab pertanyaan anda,” katanya pada penanya di acara Boediono Menjawab.
Jarang ada pejabat yang jujur mengaku kekurangannya. Biasanya mereka berusaha untuk tampil sempurna dan sok tahu. Saya aja seringkali bersikap defensif ketika merasa terpojokkan ke teritori yang tak saya pahami, dan berusaha menutupi ketidaktahuan saya.
Ugh..masih banyak yang saya ingin ceritakan tentang Pak Boed, saya sambung di posting berikutnya..