Archive for May, 2009

Berkaca pada Pak Boed..

Wednesday, May 27th, 2009

“Kenapa kamu jadi nasionalis begini ya sekarang?” Kata lelaki tercinta itu heran, saat kami ngobrol usai Obrolan Langsat “Boediono Menjawab” di Angkringan Wetiga, tadi malam. “Dari undecided jadi decided,” tambahnya.

Ya, dia cukup tau apa isi kepala saya soal apa yang terjadi di tingkat elit politik dan pemerintahan. Saya apatis, skeptis, dan pragmatis. Saya bahkan ingin menyingkir sejauh-jauhnya ke negeri Obama, untuk kehidupan yang lebih baik bagi masa depan anak-anak tercinta.

Bahkan ketika saya bekerja di istana pun, bukan berarti saya memang pendukung setianya dan anggota partainya. Tidak.Saya bekerja sebagai seorang profesional yang kebetulan saat itu bekerja di istana. I was just doing my job at that time.

Begitu pun saat saya memilih pindah dari kantor sebelum ini, sebuah portal berita baru, ke tempat saya sekarang, di tim kampanye presiden. Saat itu memang saya didesak muak, ingin segera pindah kantor. Dan saya punya kemampuan dan akses untuk semua yang saya kerjakan sekarang. Klop sudah, kembali saya bekerja di lingkaran politik sebagai seorang profesional. Again, I’m just doing my job.

Hingga dua pekan lalu, SBY memilih Boediono. Pidatonya yang memukau, kisah-kisah yang dipaparkan oleh mereka yang mengenalnya secara personal, dan sosoknya yang kemudian saya lihat sehari-hari disini berhasil membuat saya berubah pikiran.

Bahkan seorang Inu Nugroho, wartawan istana yang super jail dan skeptis itu pun, mengungkapkan kekagumannya pada seorang Boediono ketika kami bertemu di Sabuga Bandung, usai Deklarasi pasangan SBY-Boediono, 15 Mei lalu.” Semua kerja keras ini untuk Pak Boediono”, kata saya yang diamini Inu.

Akhirnya saya pun berubah posisi, dari seorang profesional, menjadi bekerja sepenuh hati. Saya menemukan alasan mengapa saya berada di tim ini. Saya mencintai apa yang saya kerjakan. Saya bekerja siang malam, hari biasa dan akhir pekan, demi kemenangan pasangan ini agar Indonesia menjadi lebih baik

Sosok sederhananya berhasil membius saya untuk melihat ke dalam diri, dan mereview apa yang telah saya lakukan di masa lalu. Saya jadi bertanya apa yang telah saya lakukan pada Republik, dan betapa saya telah banyak makan uang rakyat dengan tak sepatutnya.

Perjalanan-perjalanan dinas itu menggunakan uang rakyat, tiket dan hotel-hotel kelas mewah yang saya tinggali di semua perjalanan itu dibayar dengan pajak. Saya jadi malu membaca cerita dari staf Pak Boed saat jadi Menkeu, ketika di-bookingkan kamar seharga 6 juta sebagai tempat menginap selama ada acara di Bali, menolak dan akhirnya memilih hotel dengan kamar seharga 800 ribu saja. ” Itu uang rakyat, jangan boros,” katanya seperti saya baca di Majalah Tempo.

Padahal sebagai menteri beliau berhak tinggal di kamar seharga 6 juta. Sedangkan saya siapa? Kacung sok penting yang kebetulan ada di istana, tinggal di kamar  junior suite seharga jutaan rupiah bila di kurs-kan, dengan pekerjaan remeh temeh, dan sisanya jalan-jalan di negeri orang pake duit negara. Malu nya hati ini..

Bu Hera pun sama saja, pakaiannya sungguh bersahaja, tak ada merk yang menonjol, dan sama sekali tak akan masuk kriteria untuk masuk majalah wanita ala Cosmopolitan. Tapi keteduhan dan keramahannya tulus tanpa dibuat-buat seperti ibu-ibu pejabat dan socialite yang dengan bangga tampil di majalah-majalah itu.

Menurut data KPK kekayaannya menjadi 22 milyar rupiah. Banyak memang, korupsi ? Duh pakai hotel yang jadi haknya aja gak mau, makan lebih dari plafon bujet resmi aja enggan. “Tak satu sen pun uang rakyat yang saya pakai,” kata Pak Boed tadi malam di Wetiga. Bila memang begitu cara hidupnya, tentu saya percaya.

Gaji beliau sebagai Gubernur BI saja kan 150 juta sebulan, sebelumnya jadi menteri, dan pejabat BI, mengajar dan jadi pembicara disana-sini. Ditambah dengan gaya hidupnya yang sangat bersahaja, wajar saja bila tabungannya menumpuk. Jangankan jam mewah sekelas Breitling atau Rolex, jam biasa saja tak terlihat melingkar di pergelangan tangannya. “Jam kan sudah ada di handphone,” ujarnya. Duh pak..speechless deh saya.

Kecintaannya mengajar juga menjadi teladan saya. Mengajar itu pekerjaan yang membutuhkan dedikasi dan kesukaan untuk berbagi. Bentuk pengabdian pada bangsa untuk menyiapkan generasi yang lebih baik. Satu hal yang membuatnya sedih dengan jabatan baru ini adalah meninggalkan dunia akademis yang amat dicintainya.

Ketenangannya menghadapi kritik dan serangan yang bikin hati mendidih juga membuat saya menjura. Saya yang emosional seperti ini jadi berkaca dan terinspirasi untuk berusaha lebih meredam ledakan amarah dan mengontrol diri.

Kejujurannya ketika ditanya pertanyaan yang beliau tak paham, juga saya acungi jempol. Tak berpretensi, dan sok tau. “Saya harus jujur, saya tak tahu soal itu, saya harus mencari tahu dulu baru bisa menjawab pertanyaan anda,” katanya pada penanya di acara Boediono Menjawab.

Jarang ada pejabat yang jujur mengaku kekurangannya. Biasanya mereka berusaha untuk tampil sempurna dan sok tahu. Saya aja seringkali bersikap defensif ketika merasa terpojokkan ke teritori yang tak saya pahami, dan berusaha menutupi ketidaktahuan saya.

Ugh..masih banyak yang saya ingin ceritakan tentang Pak Boed, saya sambung di posting berikutnya..

Pernikahan dan Kemandirian Perempuan

Saturday, May 23rd, 2009

“Nikah itu ternyata cuma makan, tidur, ML, makan, tidur, ML lagi..”, kata seorang teman yang baru saja jadi pengantin seminggu lalu dengan wajah sumringah. Saya tersenyum maklum. Baru seminggu gitu, mau bilang apa ? Namanya juga masih masa-masa bulan madu, yang ada juga semua serba indah dan enak.

Kisah mereka memang cepat kilat. Setelah kenalan selama seminggu, si laki-laki sudah melamar temen saya yang cantik campuran Arab dan Belanda itu. Alasannya simpel, ketika diajak pacaran, si teman ini menolak dengan alasan, tak mau pacaran tapi menikah. Maklum dia pernah gagal menikah, setelah memesan kebaya, untuk alasan apa saya tak tahu dan tak mau tahu.

Rupanya kali ini benar-benar bertekad tak ingin gagal menikah lagi dan mengultimatum si calon pacar ini. Akhirnya jadilah setelah dua bulan kenalan mereka pun menikah. Pesta besar pun digelar dua kali secara mewah, maklum selebritis. Bahkan ada konferensi pers yang mengundang wartawan infotainment dua pekan sebelum pernikahan.

Heboh, pasangan ganteng dan cantik yang serasi, meski si pengantin pria terkenal playboy dan kisahnya dengan sederet perempuan di masa lalu pun ditayang ulang. Tayangan yang sempat membuat teman saya gundah menjelang hari pernikahannya. Tapi tekad sudah bulat kali ini akad nikah itu harus jadi.

Saya penasaran saja ingin mendengar komentar dia setelah sebulan atau setahun menikah, kayak apa ya, semoga jawabannya tetap sama. Saya jadi teringat kisah beberapa teman lain yang pernikahannya harus terputus atau masih berjalan tapi diatas landasan yang rapuh.  Tak bermaksud menghakimi atau sok tahu, officially saya memang belum pernah menikah. But it just a piece of paper anyway.

Hal terpenting menurut saya adalah komitmen untuk hidup bersama antara dua orang dewasa yang diputuskan dengan sadar bahwa ada resiko yang menyertainya. Resiko yang seringkali mereka yang kebelet menikah abai, karena semata-mata mengejar status menikah.

Status menikah memang dambaan setiap manusia normal. Tapi yang didambakan juga tentunya sebuah pernikahan yang normal dan bahagia, yang seringkali hanya ada dalam kisah-kisah film romantis buatan Hollywood demi memuaskan penonton.

Bukannya saya anti pernikahan. Tapi saya hanya merasa miris melihat beberapa teman saya yang membabi buta mengejar status menikah itu dan akhirnya harus mengorbankan banyak hal yang telah mereka dapatkan. Seperti teman saya yang pengantin baru ini pun sudah mengajukan surat resign sebagai konsekuensi status barunya sebagai istri.

They trade what they have just to get married, and sometime it was not a fair trade. Mereka korbankan karier, kebebasan bergaul dan berkarya demi mengejar status pernikahan yang akan mengkerangkeng mereka dalam rumah tangga.

Memang tak semua pria menuntut pengorbanan sebesar itu dari calon istrinya, tapi setahu saya masih banyak yang atas nama agama dan budaya memaksa si perempuan meninggalkan kehidupan personalnya dan menjadi full time mother and wife. Padahal mereka adalah perempuan-perempuan cerdas yang potensial berkarya bagi sesama dan bangsanya.

Sebagian besar dari mereka beruntung menemukan jalan untuk tetap eksis dan berkarya dari rumah dengan berbagai cara. Ibu-ibu muda yang kreatif dan tetap ingin mandiri secara finansial sambil mengurus rumah tangga dan anak. Saya salut untuk perempuan-perempuan hebat ini. Sebagian lainnya kurang beruntung karena memiliki pasangan yang tidak mendukung kemandirian mereka.

Maklum bagi banyak pria Indonesia, kemandirian perempuan seringkali menakutkan akan mengancam posisi mereka sebagai kepala keluarga. Para istri sengaja dikondisikan untuk tergantung pada suami secara finansial sehingga tak memiliki posisi tawar yang setara.

Seorang teman lainnya mengajarkan saya soal pentingnya kemandirian finansial perempuan. Dia adalah single parent, ibu dari seorang anak berusia 14 tahun, yang kisah perceraiannya pernah menghiasi tayangan infotainment dan koran-koran gosip. Mantan suaminya yang berselingkuh dengan seorang presenter televisi terkenal, mengkondisikannya dalam situasi yang sangat sulit dalam segala aspek. ” Pemiskinan perempuan akibat perceraian, ” katanya.

Karena itu perempuan tangguh yang saya kagumi ini sekarang aktif mengkampanyekan soal perlunya kemandirian perempuan secara finansial dalam rumah tangga. Jangan sampai apa yang terjadi pada dirinya dialami perempuan lain ketika perceraian menjadi gerbang yang harus dilalui.

Tulisan ini bukan saya tulis sebagai sinisme terhadap pria dan pernikahan. Saya hanya ingin sahabat-sahabat saya para perempuan yang akan menikah atau sudah menikah, tergerak untuk membangun kemandirian finansial dan mampu menjalani relasi yang sejajar dengan pasangannya.

Menikah bukan berarti harus membuat anda kehilangan diri sendiri, lebur dalam pengabdian yang melarutkan mimpi-mimpi anda. Pernikahan atau relasi apapun yang sehat adalah yang mendewasakan dan mendorong pertumbuhan personal masing-masing. Pasangan jiwa adalah seseorang yang bisa membuat kita bercermin, dan membantu kita menemukan siapa diri kita.

Menanti Mimpi

Thursday, May 21st, 2009

Berdebar menatap jam yang terus berdetak

Resah menanti yang belum kunjung tiba

Waktu kian sempit

Jawab yang diharap belum juga datang

Takut semua harapan terbuang sia-sia

Hanya karena kebodohan kecil yang fatal ini

Semua mimpi yang akan terkubur percuma

Sampai kapan harus ditunggu

Saat mendekati babak akhir penentuan

Ini soal masa depan yang ingin kuukir

Mimpi yang selalu menemani tiap malam

Senyum yang menghiasi bibir tiap mengingatnya

Aku tak akan membiarkannya buyar

Sampai ke ujung dunia akan kutaklukan

Mimpi itu akan jadi kenyataan..

Berlari dan kukejar..

Aku bukan si lemah yang mudah menyerah..

Totot, Pesta dan Godaan..

Thursday, May 21st, 2009

Totot ini bukan nama orang. Totot ini julukan untuk mobil lapangan berwarna biru berangka 31 di kaca jendela depannya, dengan tulisan besar “Road Captain”. Mobil lapangan ini dinamai totot karena ada sirine polisi yang berbunyi Tot..Tot..Tot..Tot..bila dipencet untuk membuka jalanan yang padat.

Saya menumpang si Totot ini bersama empat orang rekan lainnya saat menuju Bandung dalam rangka Deklarasi SBY - Boediono, pekan lalu. Tak telalu nyaman untuk di jalanan kota yang rata dan datar. Totot yang bak terbuka ini memang di desain untuk mengangkut barang dan menempuh rute sulit di jalanan berlumpur.

Bukan hanya Totot yang jadi kosakata baru saya, udin, udinan, cap cus, juga jadi kata-kata baru yang masuk ke memori saya. Maklum kolega-kolega saya di tiga kantor ini masih muda-muda dan gaul banget. Dandanan yang modis dan gaya bahasa ala salon jadi bahasa sehari-hari mereka, kecuali saat meeting dengan bos.

Awalnya bingung sih, tapi belakangan sudah mulai terbiasa, meski masih belum tega untuk turut ber cap cus ria. Karaoke, bilyar, bar, alkohol dan kesenangan duniawi memang jadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kantor disini. Maklum darah muda yang menggelegak dan gaji besar memang memungkinkan mereka untuk bisa bergaya hidup hedon. Work hard play hard.

Saya yang karyawan kontrakan dengan gaji pas-pasan disini, meskipun berjabatan manajer, tak tergoda untuk ikut berhedon-hedon ria usai bubar kantor yang yang sudah cukup larut. Kami biasa pulang kantor setelah jam 9 malam. Saya lebih baik pulang dan beristirahat daripada lanjut bersenang-senang hingga tengah malam, padahal besok pagi harus bekerja lagi.

Saat berpesta seperti itu sudah usai untuk saya. Tulang belulang tubuh ini sudah meminta istirahat setelah 12 jam bekerja. Bar, dentam musik hingar bingar dan tawa riang efek alkohol sudah menjadi masa lalu. Puas dan tuntas.

Sekarang saatnya bekerja dengan tujuan untuk lebih fokus belajar, menangguk ilmu sebanyak-banyaknya, menyadap pengalaman dan melebarkan jejaring. Uang banyak tak akan pernah cukup untuk memenuhi gaya hidup hedon. Sedangkan uang sedikit akan cukup bila dimanfaatkan dengan bijak.

Beragam karakter memang saya kenal disini. Candaan terbuka soal selangkangan dan syahwat yang untuk saya terlalu vulgar jadi pembicaraan biasa disini. Seringkali risih mendengarnya, tapi minimal saya tak ikutan menimpali. Menonton tanpa harus terlibat secara emosi.

Saya merasa beruntung memasuki lingkungan seperti ini saat emosi dan pemikiran saya sudah lebih stabil, dan tahu apa yang saya mau dalam hidup. Tak ada lagi rasa minder dan sungkan saat memutuskan untuk tidak turut menjadi mereka.

Saat ini saya cukup percaya diri menjadi diri saya sendiri, yang meski tak taat beribadah tapi juga sudah mundur dari dunia yang penuh kerlip lampu itu. Prinsip saya sekarang, setan tugasnya memang menggoda, tapi adalah pilihan kita untuk tergoda atau tidak. Jadi gunakan hak pilih ini dengan bijak.

Konsep bersenang-senang untuk saya sudah berubah. Dibanding gelapnya ruangan yang pekat dengan asap rokok, saya lebih suka menikmati udara segar dan alam terbuka. Dentam musik pengiring goyangan tubuh sudah kalah menarik bagi saya dibanding suara gemericik air dan cericit burung. Kemeriahan pesta tak lagi mempesona saya, yang saat ini lebih ingin memiliki waktu luang untuk membaca buku, dan merasakan belaian kekasih hanya berdua saja.

Keheningan pagi di puncak bukit, sejuknya embun menyentuh kulit dan hembusan nafas yang beruap adalah oase kesenangan yang membasuh jiwa. Mengisi baterai kehidupan yang sudah kehabisan daya. Menoleh pada Sang Maha Kuasa dengan mengagumi alam ciptaan-Nya.

Mungkin memang saya sudah beranjak semakin tua, dan bergerak semakin dewasa seiring waktu dan pelajaran hidup yang saya jalani. Tak bermaksud menghakimi mereka yang masih menikmati kehidupan hedon, ini hanya soal pilihan berbeda.

Tak ingin menggurui, hanya sekedar berbagi pengalaman. Dunia malam dan bergelas-gelas alkohol yang ditenggak itu tak akan memberikan apa-apa selain penyesalan di kemudian hari. Ketika efek alkohol seringkali membuat penenggaknya kehilangan kendali diri dan melakukan hal-hal bodoh.

Saat lembar-lembar rupiah yang tak sedikit itu bila dikumpulkan kemudian cukup untuk membeli investasi yang berharga. Tapi sulit memang bila kesadaran tak muncul dari dalam diri.

Seringkali manusia harus dibenturkan pada kenyataan pahit dulu untuk kemudian bangun dan tersadar. Sakit parah, perpisahan dengan orang-orang tercinta, masalah keuangan atau maut yang demikian dekat, biasanya memaksa manusia untuk tobat. Semoga tak harus selalu begitu.

Belajar Sabar

Wednesday, May 20th, 2009

Pertarungan baru saja dimulai. Suasana sudah panas. Tentunya ini belum seberapa, seiring waktu berjalan laga menjadi sepasang pengemudi negeri ini akan semakin membara.

Kantor saya pun semakin sesak. Satu meja kerja harus dibagi untuk tiga laptop dengan tiga orang yang bekerja. Di sekeliling kami bertebaran box-box yang berisi merchandise kampanye. Orang hilir mudik, banyak wajah-wajah asing, yang sayangnya seringkali tak jelas urusannya apa.

Orang partai ini itu, para relawan yang berdatangan ingin bergabung, hingga orang yang mengaku datang dari seberang pulau yang berkunjung dan ujung-ujungnya minta uang transport.

Duuuh..beginilah rupanya dunia kampanye yang sebenarnya. Saya pun ketiban sampur harus menghadapi orang-orang ini. Dari senyum manis hingga nyengir kesal saya melayani mereka. Tetap harus sabar dan berusaha menjelaskan dengan telaten. Karena mereka seringkali salah alamat.

Bila sudah begini saya tak lagi bisa membedakan, mana yang relawan pendukung yang tulus, hingga mereka yang memanfaatkan situasi dengan mencari peluang mencari keuntungan. Dari pejabat hingga caleg gagal, mahasiswa sok aktivis sampai organisasi ini itu yang ingin bergabung.

Kami memang kekurangan tenaga untuk mengerjakan semua pekerjaan ini, tapi bukan berarti kami bisa menerima semua orang yang ingin bergabung. Motivasi jadi pertanyaan besar kami bagi siapapun yang datang? Kami disini jelas bekerja untuk dengan gaji dari kantor yang mempekerjakan kami. Lah mereka nanti siapa yang bayar? Emang mau kerja gak dibayar?

Maaf mungkin hanya pikiran skeptis saya saja, tapi menghadapi mereka saya hanya berusaha tetap ramah dan tak mengecewakan saja. “Terima kasih atas dukungannya, tapi maaf kami disini hanya kantor untuk melayani pendukung secara online di situs sbypresidenku.com. Bapak/mas sudah mendaftar di situsnya? Punya alamat email? dan bla bla bla…” Senyum semanis mungkin pun terpasang secara otomatis di wajah saya yang super ramah.

“Jendralnya mana? Pimpinan disini siapa ?” dengan wajah tak terima karena yang menemui mereka hanya perempuan muda. “Saya salah satu manajer disini pak, ada yang bisa dibantu?” Saya masih berusaha tetap ramah meski diremehkan. Saya gunakan segala energi baik untuk berusaha tetap manis melayani sekelompok bapak-bapak yang mengaku datang dari jauh ini.

“Bisa minta no hape Mbak?”. ” Setiap hari saya pulang jam 11 malam pak, silahkan ke nomor kantor saja, saya tak mau diganggu saat sudah pulang,” jawab saya dengan senyum yang mulai kaku.

Begitulah bagian keseharian saya sekarang. Pengalaman baru yang benar-benar uji nyali kesabaran. Tak semua orang paham yang ketika sudah dijelaskan dengan ramah dan manis pun tetap bergerombol di kantor kami, seakan ini warung kopi tempat nongkrong. Memang ada teh dan kopi gratis yang tersedia, kadang ada kudapan dan makanan berat yang berlimpah.

Berkali, kepala saya sudah mendidih hingga ke derajat terpanas. Berlari dari meeting ini itu, menghadapi manusia beragam karakter. Mengelola tim yang terkadang sulit dikendalikan, karena beberapa memang berusia lebih tua dan merasa lebih lama di kantor ini. Keras kepala dan menyebalkan tentunya.

Lagi-lagi harus menarik nafas dan meredam kesal. Nenden sabar…ini tantangan. Jangan sampai lempar sepatu ke muka si bapak pengeluh tak berguna yang siyalnya ada di tim saya ini.

Beginilah rekaman keseharian saya disini, yang saya akan rekam semampu saya. Menyajikan cerita di balik layar bagaimana sejarah negeri ini diukir. Doakan agar kami tetap sehat lahir batin, agar bisa bekerja semaksimal mungkin untuk mengantarkan kandidat terbaik ini kembali memimpin negara. Untuk Indonesia yang lebih baik.

Oya, ngomong-ngomong sudah cek apakah nama anda tercantum di DPS ?

Soal Meniru dan Kesan Pertama dari Pak Boed

Saturday, May 16th, 2009

Obama banget. Begitu rata-rata komentar soal situs kampanye SBY yang saya kelola beserta tim. Bukan hanya tampilan dan konsepnya, deklarasi dan jenis merchandisenya pun mirip Obama punya. Kebetulan saya memang memiliki pin-pin Obama, bendera, poster dan pernik-pernik lainnya, oleh-oleh saat kunjungan ke markas tim kampanye Obama di Tampa Florida tahun lalu dalam rangka IVLP.

Deklarasi SBY dan cawapresnya Pak Boediono pun mengingatkan orang akan konvensi Partai Demokrat di Amrik, saat Obama mengumumkan Joe Biden sebagai pendampingnya. Untuk saya, meniru tak selalu salah. Bila meniru hal yang baik kenapa tidak?

Meniru hal yang buruk itu yang jangan dilakukan. Tapi bila cara yang baik dan terbukti sukses, kenapa tidak dijadikan acuan. Adakah yang benar-benar original di dunia saat ini ? Semua hanya modifikasi, daur ulang, atau pengulangan.

Deklarasi SBY -Boediono di Sasana Budaya Ganesha ITB Bandung, Jumat 15 Mei 2009, menurut saya rasanya paling megang dan nendang diantara deklarasi dua pasang capres-cawapres lainnya. Terserah mahasiswa-mahasiswa sok idealis itu menilainya pemborosan atau apa. Ini sejarah yang harus dikenang dengan indah. Dan itu tak bisa dibuat asal-asalan seadanya.

Panggung yang megah, sajian musik dari Bimbo dan Elfa Secioria,  semarak can cantik. Suasana yang dibangun pun menggugah semangat dan membangkitkan harapan. Pidato yang menyentuh dan tulus dari seorang mantan Gubernur BI yang selama ini terkenal irit bicara, sungguh mengejutkan publik.

Ternyata beliau juga seorang orator yang berhasil membuat hadirin terpukau. Saya ada disana, tapi karena bertugas di luar mengurusi registrasi situs sbypresidenku.com dan penjualan merchandise, saya harus melewatkan menyaksikan langsung momen bersejarah itu.

Tapi rupanya pidato Pak Boed itu segera diunggah di You Tube hanya hitungan menit setelah tayang. Banyak orang yang menyaksikannya dan terperangah serta tergugah. Ah Pak Boed, rupanya banyak orang yang baru mengenal Bapak melalui momen ini, termasuk saya.

Meski tak semuda dan segagah Obama, yang memang selalu berhasil menyihir publik dengan pidatonya, tapi cukuplah gebrakan pertama Pak Boed dalam kapasitas barunya sebagai cawapres ini menciptakan kesan mendalam yang baik.

Deklarasi yang megah itu pun berakhir dengan manis, dan merchandise pun ludes. Capek, kaki pegal setengah mati. Tapi saya makin bersemangat dan saat ini bekerja dengan hati bukan hanya menjalankan pekerjaan saya sebagai profesional. Saya ingin sosok sederhana tak silau harta itu kemudian menjadi pemimpin negeri bersama Pak SBY ini, untuk Indonesia yang lebih baik.

Dari Mario Teguh

Monday, May 4th, 2009

Jika seorang wanita tidak mengupayakan penampilan terbaik bagi suaminya, dia sebetulnya sedang tidak memuliakan dirinya sendiri.

Dan jika seorang pria tidak membangun kepantasan untuk dimuliakan oleh istrinya, dia sedang tidak memuliakan kebersamaan mereka.

Lalu pertanyaannya,

Jika kebersamaan Anda tidak untuk kemuliaan Anda berdua, untuk apakah Anda menua bersama?

Pesannya bagi kita adalah,

Bersehati lah dalam pemuliaan masing-masing, lalu perhatikan apa yang terjadi.

Apakabar ?

Sunday, May 3rd, 2009

Hai apakabar cinta ?

Kuharap Senin pagi di Jakarta ini tak membuatmu penat.

Kembali ke keriuhan metropolitan, hiruk pikuk yang mungkin kamu rindukan.

Beginilah Jakarta, masih sama sejak kamu meninggalkannya.

Manusia masih berpacu dengan waktu

Semoga kamu masih bisa menikmatinya, setelah sejenak rehat.

Dan masih ada sepetak ruang bagi kita untuk mencecapnya bersama

Selamat bekerja, Tuhan memberkati!

Sekolah vs Kehidupan

Friday, May 1st, 2009

Bedanya sekolah dengan kehidupan. Sekolah, belajar dulu baru ujian, sedangkan kehidupan ujian dulu baru belajar. Saya lupa mendapatkan kalimat bagus ini di signature email siapa. Tapi langsung menempel di kepala, karena menurut saya bener banget.

Sejak kecil kita sekolah, masuk kelas dari pagi hingga siang. Diajari ini itu sama bu dan pak guru, beberapa bulan kemudian kita dihadapkan pada ujian. Ujian kecil disebut ulangan, minimal dulu jaman saya sekolah, ujian besar di akhir semester/cawu, yang akan menentukan kita naik kelas apa lulus.

Diajari dulu baru dikasih ujian, untuk mengukur sejauh manakah pemahaman kita tentang pelajaran yang diajarkan. Apakah materi-materi itu nyangkut di kepala atau hanya lewat bablas di telinga?

Meskipun metode pendidikan di Indonesia, setidaknya generasi saya, masih mengedepankan menghafal daripada memahami, maka yang muncul juga saat ujian juga menghafal sistem kebut semalam. Mudah diingat, ujian, dan dengan segera pula, mudah lupa. Hasilnya hanya sebuah angka atau huruf yang melambangkan kita lulus atau tidak.

Apakah itu merefleksikan isi kepala kita atau tidak ? Hmm gak janji. Secara kita rasanya gak ada yang gak pernah nyontek pas ujian. Sedikit maupun banyak, sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan. Aman ataupun kena tegur. Hayo ngaku aja deh :) 

Sebaliknya dalam kehidupan, kita dihadapkan pada ujian dulu baru kemudian menjalani proses belajarnya. Dihajar dulu, gedubrak terkapar, kadang pake acara berkalang tanah dan berdarah-darah. Selanjutnya setelah babak belur, baru deh tertatih-tatih merangkak, berdiri..perlahan tengok kiri kanan, melihat situasi yang telah berubah baru.

Merenung, membiarkan otak mencerna. Mencari cermin untuk berkaca. Dahaga mencari setetes kebijaksanaan. Berburu sang maha guru untuk berbagi pencerahan. Duduk diam, berkontemplasi mencari inspirasi. Saat-saat paling menyakitkan setelah dunia yang kita kenal diguncang prahara. Ujian maha berat itu sesungguhnya adalah berkah bagi siapapun yang dikaruniainya. Kadang kita saja yang tak sadar dan menolaknya dengan keras.

Murid yang baik akan mengambil pelajaran berharga dari ujian-ujian kehidupan itu untuk menjadikannya manusia yang lebih baik. Murid yang bodoh akan membiarkannya berlalu ditelan waktu dan kemudian terjatuh di ujian yang sama. Maklum belum lulus boss, jadi harus tinggal kelas dan menjalani ujian yang itu-itu juga.

Pekerjaan baru ini juga menjadikan saya pembelajar banyak hal baru. Bos yang sok taunya selangit, rekan-rekan yang awam dengan dunia internet, dan mengelola sesuatu dari nol. Tiga pekerjaan terakhir saya memang terkait dengan membangun sesuatu dari tak ada menjadi ada, melahirkannya dan mengelolanya. Tantangan sepertinya harus selalu dihadirkan di depan saya untuk membuat saya melangkah dan belajar terus.

Saat semua sudah mapan dan stabil, saya pun biasanya mulai gelisah dan bosan. Berhenti belajar sesuatu yang tak saya sukai. Maka meski kening berkerut, dada menahan geram, mulut mencucu tak bisa senyum, tapi saya memaknainya dengan gembira. Akhirnya saya belajar lagi.

Belajar menahan sabar menatap kebodohan si bos tentang dunia online. Memahami dan beradaptasi dengan beragam karakter yang baru saya kenal. Rekan-rekan kerja baru dengan kebiasaannya masing-masing, dan nature  kerja di dunia politik akar rumput yang sesungguhnya. Seru mengharu biru, halah apaan sih hehehe..

Begitulah, ketika saya memaknai segala dinamika pekerjaan baru ini sebagai proses belajar di kelas baru, saya pun bisa kembali tersenyum. Tepatnya nyengir dan lebih santai melakoni hari ini, dan hari-hari selanjutnya.

Teriakan boss yang menggelegar, sikapnya yang meremehkan orang lain, tak lagi menjadi hambatan untuk tersenyum. Alih-alih marah saya malah kasihan, kok ada ya orang seperti itu ? Dipikirnya seisi dunia ini bisa dibeli dengan uang. Mobil Lexus, rumah di Menteng dan semua kemewahan ini dipikirnya akan ada dalam genggaman selamanya. Orang mendekat hanya karena butuh uang kok. Tak ada uang mana ada orang mau rela diinjak-injak. Karena kami butuh makan dan ruang belajar saja makanya kami ada disini.

Begitulah kisah “ruang kelas” saya yang baru. Masih banyak pelajaran menanti, dengan ujian yang disodorkan ke hadapan saya untuk diselesaikan setiap hari. Tersenyum, dan teruslah melangkah. Washington DC sedang menunggu kok. Keep going Nenden!