Belajar Sabar
Pertarungan baru saja dimulai. Suasana sudah panas. Tentunya ini belum seberapa, seiring waktu berjalan laga menjadi sepasang pengemudi negeri ini akan semakin membara.
Kantor saya pun semakin sesak. Satu meja kerja harus dibagi untuk tiga laptop dengan tiga orang yang bekerja. Di sekeliling kami bertebaran box-box yang berisi merchandise kampanye. Orang hilir mudik, banyak wajah-wajah asing, yang sayangnya seringkali tak jelas urusannya apa.
Orang partai ini itu, para relawan yang berdatangan ingin bergabung, hingga orang yang mengaku datang dari seberang pulau yang berkunjung dan ujung-ujungnya minta uang transport.
Duuuh..beginilah rupanya dunia kampanye yang sebenarnya. Saya pun ketiban sampur harus menghadapi orang-orang ini. Dari senyum manis hingga nyengir kesal saya melayani mereka. Tetap harus sabar dan berusaha menjelaskan dengan telaten. Karena mereka seringkali salah alamat.
Bila sudah begini saya tak lagi bisa membedakan, mana yang relawan pendukung yang tulus, hingga mereka yang memanfaatkan situasi dengan mencari peluang mencari keuntungan. Dari pejabat hingga caleg gagal, mahasiswa sok aktivis sampai organisasi ini itu yang ingin bergabung.
Kami memang kekurangan tenaga untuk mengerjakan semua pekerjaan ini, tapi bukan berarti kami bisa menerima semua orang yang ingin bergabung. Motivasi jadi pertanyaan besar kami bagi siapapun yang datang? Kami disini jelas bekerja untuk dengan gaji dari kantor yang mempekerjakan kami. Lah mereka nanti siapa yang bayar? Emang mau kerja gak dibayar?
Maaf mungkin hanya pikiran skeptis saya saja, tapi menghadapi mereka saya hanya berusaha tetap ramah dan tak mengecewakan saja. “Terima kasih atas dukungannya, tapi maaf kami disini hanya kantor untuk melayani pendukung secara online di situs sbypresidenku.com. Bapak/mas sudah mendaftar di situsnya? Punya alamat email? dan bla bla bla…” Senyum semanis mungkin pun terpasang secara otomatis di wajah saya yang super ramah.
“Jendralnya mana? Pimpinan disini siapa ?” dengan wajah tak terima karena yang menemui mereka hanya perempuan muda. “Saya salah satu manajer disini pak, ada yang bisa dibantu?” Saya masih berusaha tetap ramah meski diremehkan. Saya gunakan segala energi baik untuk berusaha tetap manis melayani sekelompok bapak-bapak yang mengaku datang dari jauh ini.
“Bisa minta no hape Mbak?”. ” Setiap hari saya pulang jam 11 malam pak, silahkan ke nomor kantor saja, saya tak mau diganggu saat sudah pulang,” jawab saya dengan senyum yang mulai kaku.
Begitulah bagian keseharian saya sekarang. Pengalaman baru yang benar-benar uji nyali kesabaran. Tak semua orang paham yang ketika sudah dijelaskan dengan ramah dan manis pun tetap bergerombol di kantor kami, seakan ini warung kopi tempat nongkrong. Memang ada teh dan kopi gratis yang tersedia, kadang ada kudapan dan makanan berat yang berlimpah.
Berkali, kepala saya sudah mendidih hingga ke derajat terpanas. Berlari dari meeting ini itu, menghadapi manusia beragam karakter. Mengelola tim yang terkadang sulit dikendalikan, karena beberapa memang berusia lebih tua dan merasa lebih lama di kantor ini. Keras kepala dan menyebalkan tentunya.
Lagi-lagi harus menarik nafas dan meredam kesal. Nenden sabar…ini tantangan. Jangan sampai lempar sepatu ke muka si bapak pengeluh tak berguna yang siyalnya ada di tim saya ini.
Beginilah rekaman keseharian saya disini, yang saya akan rekam semampu saya. Menyajikan cerita di balik layar bagaimana sejarah negeri ini diukir. Doakan agar kami tetap sehat lahir batin, agar bisa bekerja semaksimal mungkin untuk mengantarkan kandidat terbaik ini kembali memimpin negara. Untuk Indonesia yang lebih baik.
Oya, ngomong-ngomong sudah cek apakah nama anda tercantum di DPS ?
May 20th, 2009 at 6:42 am
Sabar mbak …
May 20th, 2009 at 8:57 am
iya,mbak,yg sabar…jgn lupa jaga kesehatan ya…tambah sibuk aja ya skrg…*geleng2…*
May 20th, 2009 at 9:01 pm
hehehhe….
kl di ya inget2 nden..
beberapa preiode terakir kau seperti nya ada di lingkaran peristiwa2 sejarah, yang tidak akan banyak orang yang bisa merasakannya