Pernikahan dan Kemandirian Perempuan
“Nikah itu ternyata cuma makan, tidur, ML, makan, tidur, ML lagi..”, kata seorang teman yang baru saja jadi pengantin seminggu lalu dengan wajah sumringah. Saya tersenyum maklum. Baru seminggu gitu, mau bilang apa ? Namanya juga masih masa-masa bulan madu, yang ada juga semua serba indah dan enak.
Kisah mereka memang cepat kilat. Setelah kenalan selama seminggu, si laki-laki sudah melamar temen saya yang cantik campuran Arab dan Belanda itu. Alasannya simpel, ketika diajak pacaran, si teman ini menolak dengan alasan, tak mau pacaran tapi menikah. Maklum dia pernah gagal menikah, setelah memesan kebaya, untuk alasan apa saya tak tahu dan tak mau tahu.
Rupanya kali ini benar-benar bertekad tak ingin gagal menikah lagi dan mengultimatum si calon pacar ini. Akhirnya jadilah setelah dua bulan kenalan mereka pun menikah. Pesta besar pun digelar dua kali secara mewah, maklum selebritis. Bahkan ada konferensi pers yang mengundang wartawan infotainment dua pekan sebelum pernikahan.
Heboh, pasangan ganteng dan cantik yang serasi, meski si pengantin pria terkenal playboy dan kisahnya dengan sederet perempuan di masa lalu pun ditayang ulang. Tayangan yang sempat membuat teman saya gundah menjelang hari pernikahannya. Tapi tekad sudah bulat kali ini akad nikah itu harus jadi.
Saya penasaran saja ingin mendengar komentar dia setelah sebulan atau setahun menikah, kayak apa ya, semoga jawabannya tetap sama. Saya jadi teringat kisah beberapa teman lain yang pernikahannya harus terputus atau masih berjalan tapi diatas landasan yang rapuh. Tak bermaksud menghakimi atau sok tahu, officially saya memang belum pernah menikah. But it just a piece of paper anyway.
Hal terpenting menurut saya adalah komitmen untuk hidup bersama antara dua orang dewasa yang diputuskan dengan sadar bahwa ada resiko yang menyertainya. Resiko yang seringkali mereka yang kebelet menikah abai, karena semata-mata mengejar status menikah.
Status menikah memang dambaan setiap manusia normal. Tapi yang didambakan juga tentunya sebuah pernikahan yang normal dan bahagia, yang seringkali hanya ada dalam kisah-kisah film romantis buatan Hollywood demi memuaskan penonton.
Bukannya saya anti pernikahan. Tapi saya hanya merasa miris melihat beberapa teman saya yang membabi buta mengejar status menikah itu dan akhirnya harus mengorbankan banyak hal yang telah mereka dapatkan. Seperti teman saya yang pengantin baru ini pun sudah mengajukan surat resign sebagai konsekuensi status barunya sebagai istri.
They trade what they have just to get married, and sometime it was not a fair trade. Mereka korbankan karier, kebebasan bergaul dan berkarya demi mengejar status pernikahan yang akan mengkerangkeng mereka dalam rumah tangga.
Memang tak semua pria menuntut pengorbanan sebesar itu dari calon istrinya, tapi setahu saya masih banyak yang atas nama agama dan budaya memaksa si perempuan meninggalkan kehidupan personalnya dan menjadi full time mother and wife. Padahal mereka adalah perempuan-perempuan cerdas yang potensial berkarya bagi sesama dan bangsanya.
Sebagian besar dari mereka beruntung menemukan jalan untuk tetap eksis dan berkarya dari rumah dengan berbagai cara. Ibu-ibu muda yang kreatif dan tetap ingin mandiri secara finansial sambil mengurus rumah tangga dan anak. Saya salut untuk perempuan-perempuan hebat ini. Sebagian lainnya kurang beruntung karena memiliki pasangan yang tidak mendukung kemandirian mereka.
Maklum bagi banyak pria Indonesia, kemandirian perempuan seringkali menakutkan akan mengancam posisi mereka sebagai kepala keluarga. Para istri sengaja dikondisikan untuk tergantung pada suami secara finansial sehingga tak memiliki posisi tawar yang setara.
Seorang teman lainnya mengajarkan saya soal pentingnya kemandirian finansial perempuan. Dia adalah single parent, ibu dari seorang anak berusia 14 tahun, yang kisah perceraiannya pernah menghiasi tayangan infotainment dan koran-koran gosip. Mantan suaminya yang berselingkuh dengan seorang presenter televisi terkenal, mengkondisikannya dalam situasi yang sangat sulit dalam segala aspek. ” Pemiskinan perempuan akibat perceraian, ” katanya.
Karena itu perempuan tangguh yang saya kagumi ini sekarang aktif mengkampanyekan soal perlunya kemandirian perempuan secara finansial dalam rumah tangga. Jangan sampai apa yang terjadi pada dirinya dialami perempuan lain ketika perceraian menjadi gerbang yang harus dilalui.
Tulisan ini bukan saya tulis sebagai sinisme terhadap pria dan pernikahan. Saya hanya ingin sahabat-sahabat saya para perempuan yang akan menikah atau sudah menikah, tergerak untuk membangun kemandirian finansial dan mampu menjalani relasi yang sejajar dengan pasangannya.
Menikah bukan berarti harus membuat anda kehilangan diri sendiri, lebur dalam pengabdian yang melarutkan mimpi-mimpi anda. Pernikahan atau relasi apapun yang sehat adalah yang mendewasakan dan mendorong pertumbuhan personal masing-masing. Pasangan jiwa adalah seseorang yang bisa membuat kita bercermin, dan membantu kita menemukan siapa diri kita.
May 29th, 2009 at 10:50 pm
hm..hm…bener juga tuh bos
July 1st, 2009 at 7:26 pm
setuju nden! jadi peremp harus punya duit (syukur2 banyak).
July 1st, 2009 at 7:27 pm
setuju nden, jadi peremp harus berduit. minimal cukup buat diri ndiri, syukur2 banyak
November 8th, 2009 at 7:34 pm
Klo mau nikah, jgn t’lalu banyak ngayal bkl hidup bahagia spt cerita puteri2 ala dongeng disneyland..nikah ya hidup, berkegiatan dan bermasalah spt hari2 manusia biasa pada umumnya