Totot, Pesta dan Godaan..
Totot ini bukan nama orang. Totot ini julukan untuk mobil lapangan berwarna biru berangka 31 di kaca jendela depannya, dengan tulisan besar “Road Captain”. Mobil lapangan ini dinamai totot karena ada sirine polisi yang berbunyi Tot..Tot..Tot..Tot..bila dipencet untuk membuka jalanan yang padat.
Saya menumpang si Totot ini bersama empat orang rekan lainnya saat menuju Bandung dalam rangka Deklarasi SBY - Boediono, pekan lalu. Tak telalu nyaman untuk di jalanan kota yang rata dan datar. Totot yang bak terbuka ini memang di desain untuk mengangkut barang dan menempuh rute sulit di jalanan berlumpur.
Bukan hanya Totot yang jadi kosakata baru saya, udin, udinan, cap cus, juga jadi kata-kata baru yang masuk ke memori saya. Maklum kolega-kolega saya di tiga kantor ini masih muda-muda dan gaul banget. Dandanan yang modis dan gaya bahasa ala salon jadi bahasa sehari-hari mereka, kecuali saat meeting dengan bos.
Awalnya bingung sih, tapi belakangan sudah mulai terbiasa, meski masih belum tega untuk turut ber cap cus ria. Karaoke, bilyar, bar, alkohol dan kesenangan duniawi memang jadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kantor disini. Maklum darah muda yang menggelegak dan gaji besar memang memungkinkan mereka untuk bisa bergaya hidup hedon. Work hard play hard.
Saya yang karyawan kontrakan dengan gaji pas-pasan disini, meskipun berjabatan manajer, tak tergoda untuk ikut berhedon-hedon ria usai bubar kantor yang yang sudah cukup larut. Kami biasa pulang kantor setelah jam 9 malam. Saya lebih baik pulang dan beristirahat daripada lanjut bersenang-senang hingga tengah malam, padahal besok pagi harus bekerja lagi.
Saat berpesta seperti itu sudah usai untuk saya. Tulang belulang tubuh ini sudah meminta istirahat setelah 12 jam bekerja. Bar, dentam musik hingar bingar dan tawa riang efek alkohol sudah menjadi masa lalu. Puas dan tuntas.
Sekarang saatnya bekerja dengan tujuan untuk lebih fokus belajar, menangguk ilmu sebanyak-banyaknya, menyadap pengalaman dan melebarkan jejaring. Uang banyak tak akan pernah cukup untuk memenuhi gaya hidup hedon. Sedangkan uang sedikit akan cukup bila dimanfaatkan dengan bijak.
Beragam karakter memang saya kenal disini. Candaan terbuka soal selangkangan dan syahwat yang untuk saya terlalu vulgar jadi pembicaraan biasa disini. Seringkali risih mendengarnya, tapi minimal saya tak ikutan menimpali. Menonton tanpa harus terlibat secara emosi.
Saya merasa beruntung memasuki lingkungan seperti ini saat emosi dan pemikiran saya sudah lebih stabil, dan tahu apa yang saya mau dalam hidup. Tak ada lagi rasa minder dan sungkan saat memutuskan untuk tidak turut menjadi mereka.
Saat ini saya cukup percaya diri menjadi diri saya sendiri, yang meski tak taat beribadah tapi juga sudah mundur dari dunia yang penuh kerlip lampu itu. Prinsip saya sekarang, setan tugasnya memang menggoda, tapi adalah pilihan kita untuk tergoda atau tidak. Jadi gunakan hak pilih ini dengan bijak.
Konsep bersenang-senang untuk saya sudah berubah. Dibanding gelapnya ruangan yang pekat dengan asap rokok, saya lebih suka menikmati udara segar dan alam terbuka. Dentam musik pengiring goyangan tubuh sudah kalah menarik bagi saya dibanding suara gemericik air dan cericit burung. Kemeriahan pesta tak lagi mempesona saya, yang saat ini lebih ingin memiliki waktu luang untuk membaca buku, dan merasakan belaian kekasih hanya berdua saja.
Keheningan pagi di puncak bukit, sejuknya embun menyentuh kulit dan hembusan nafas yang beruap adalah oase kesenangan yang membasuh jiwa. Mengisi baterai kehidupan yang sudah kehabisan daya. Menoleh pada Sang Maha Kuasa dengan mengagumi alam ciptaan-Nya.
Mungkin memang saya sudah beranjak semakin tua, dan bergerak semakin dewasa seiring waktu dan pelajaran hidup yang saya jalani. Tak bermaksud menghakimi mereka yang masih menikmati kehidupan hedon, ini hanya soal pilihan berbeda.
Tak ingin menggurui, hanya sekedar berbagi pengalaman. Dunia malam dan bergelas-gelas alkohol yang ditenggak itu tak akan memberikan apa-apa selain penyesalan di kemudian hari. Ketika efek alkohol seringkali membuat penenggaknya kehilangan kendali diri dan melakukan hal-hal bodoh.
Saat lembar-lembar rupiah yang tak sedikit itu bila dikumpulkan kemudian cukup untuk membeli investasi yang berharga. Tapi sulit memang bila kesadaran tak muncul dari dalam diri.
Seringkali manusia harus dibenturkan pada kenyataan pahit dulu untuk kemudian bangun dan tersadar. Sakit parah, perpisahan dengan orang-orang tercinta, masalah keuangan atau maut yang demikian dekat, biasanya memaksa manusia untuk tobat. Semoga tak harus selalu begitu.