Archive for July, 2009

Sahabat, Syukur dan Cinta

Thursday, July 30th, 2009

Spending some quality time with friends will help you to get over a break up much faster, begitu sebuah nasihat yang saya temukan dari sebuah situs self help. Beruntung sekali saya memang memiliki begitu banyak teman, lama maupun baru, yang dengan senang hati memberikan dukungan terbaik mereka menemani saya melalui masa-masa sulit ini. Berkat Tuhan yang sangat saya syukuri.

Beberapa diantaranya adalah orang-orang baru yang saya kenal dari lingkungan pekerjaan, tapi dengan segera menjadi sahabat terbaik saya. Tadi malam segelas mojito, sebotol corona dan bergelas-gelas wine menemani saat-saat berkualitas bersama sahabat-sahabat baru saya dari Amerika itu. Sahabat-sahabat yang sangat peduli dengan keadaan saya, dan menawarkan bantuan terbaik apapun yang mereka bisa lakukan. Sungguh mengharukan. Tak cukup terima kasih untuk mengungkapkannya.

Saya memang masih tertatih untuk berdiri, tapi saya tahu ini hanya soal waktu, pintu-pintu di hadapan saya terbuka dengan cara-Nya yang ajaib. Segudang peluang telah menanti saya. Sederet agenda menunggu untuk dijalani. Dan sekumpulan orang baru menanti untuk disambangi.

Tuhan sungguh adil. Ketika sebuah pintu ditutup dengan kasar di depan muka saya dan meninggalkan luka, yang saya harus lakukan hanya memutar tubuh ini ke arah yang berbeda, dan menyaksikan pintu-pintu lain terbuka dan memanggil saya datang. Tinggal pilih arah mana yang akan saya tuju, dan pintu mana yang akan saya masuki. Selama anda berbuat baik dan menghargai orang lain, jangan khawatir tak ada jalan keluar atas keadaan sesulit apapun.

Petuah itu kembali disampaikan malaikat tak bersayap itu tadi malam. Usai menyesap mojito bersama sahabat-sahabat itu, saya meluangkan waktu berkualitas lainnya dengan pembicaraan filosofis tentang esensi hidup bersama sang malaikat di pojokan yang lain. Sudut khusus dengan pemandangan air mancur bunderan HI itu. Sesi mensyukuri hidup dan betapa Sang Maha Kuasa begitu menyayangi kita yang menyadarinya.

Hari ini saya memandang langit dengan mata yang berbeda, dengan hati yang lebih terbuka. Bahwa yang harus saya lakukan adalah berbuat baik pada sesama, mencintai semua orang tanpa syarat, dan tunggulah apa yang akan terjadi.

Membaca Pertanda di Langit Maya

Friday, July 24th, 2009

Debur hati bertalu-talu

Tak jenak pikir gundah kurasa

Pertanda itu bertabur di langit maya

Berjuta tanya merebak dalam resah

Anganku berkelana liar

Menebak dan meraba

Benarkah?

Asa menerpa mengelus kalbu

Tapi takut membelit akut

Tak ingin jatuh kesekian kali

Hanya karna salah membaca pertanda..

Adakah jalan berputar itu ada

Berilah hamba petunjuk ya Tuhan

Agar tak salah melangkah lagi

Hamba lelah terpuruk dalam gelap

Ingin bangkit dan berjalan menyongsong pagi

Wajah rindu dengan senyum

Aura cinta membalut raga

Menanti pintu terkuak mengundang datang

Sudut Kenangan itu Terguncang Bom..

Tuesday, July 21st, 2009

Akhir pekan, saya kembali ke pojok menyenangkan  yang dua hari sebelumnya diguncang bom. Sudut favorit ini sekarang terlihat lengang. Jauh lebih sepi dari biasanya. Bom rupanya membuat banyak orang menghindari tempat yang menyenangkan ini. Lahan parkir pun sulit dicari, dengan pita police line yang melintang disana sini. Sebagian ruas jalan masih dilarang untuk dilalui.

Tempat ini selalu membuat saya serasa tidak berada di Jakarta. Bukan hanya karena disini saya menemukan begitu banyak orang asing hilir mudik, tapi karena di lingkungan ini satu-satunya saya merasa nyaman berjalan kaki. I love walking, but in Jakarta, seems like my hobby would be a tough thing to do. So hard to get a comfort place to walk without  unnecessary disturbances.

Bila sedang berada di Jakarta saat akhir pekan, maka seringkali saya meluangkan waktu ke sana. Jalan kaki, menikmati sore, menyeruput kopi sambil membaca buku, berbincang dengan orang-orang terdekat, berbagi cerita dan inspirasi. Bonus pemandangan mentari terbenam dan lembayung memayungi bila sedang beruntung cuaca bersahabat di langit Jakarta. Kenikmatan sederhana yang bisa dicecap di sudut Jakarta oleh urban pemimpi seperti saya.

Bom meluluhlantakkan dua hotel di dekat sudut kenangan itu. Marah, dan sedih campur aduk, menyaksikan tubuh-tubuh berlumur darah itu bergelimpangan. Mereka yang hanya melakukan pekerjaan mereka seperti biasanya, hari itu sebagian harus menemui ajalnya, sebagian lainnya menderita luka yang mungkin tak sembuh hingga akhir hayat. Luka fisik dan luka batin yang tak terhindarkan.

Ingin saya teriak pada para pembom itu, bajingan pengecut! Mengapa kalian sakiti lagi ibu pertiwi ini? Tak cukupkah darah yang sudah tertumpah disini? Kami sedang bergerak maju, negeri ini semakin baik, tamu-tamu dan investor berdatangan, ekonomi tumbuh, politik stabil. Tentu tak ada yang sempurna mulus tanpa cela, tapi Indonesia dalam kondisi terbaiknya dalam sepuluh tahun terakhir ini. Saya sungguh berduka untuk Indonesia tercinta ini. Tertoreh lagi noda di wajahnya, perjuangan pun menjadi lebih berat untuk kembali berdiri tegak dan berlari menyusul ketertinggalan. Saya menangis, tapi cinta pada tanah air ini semakin mengakar.

Tapi jangan menyerah, mereka tak boleh mengalahkan kita. Saya suka apa yang disampaikan Anis Baswedan saat aksi Masyarakat Indonesia Anti Kekerasan di lokasi pengeboman kemarin. “They can blew up our building, but they can’t blew our spirit, we’re survive and we will win.” Membangkitkan semangat dan menggugah hati untuk bertindak. Indonesia tak boleh kalah dengan para pengecut yang hanya berani mati tapi tak berani hidup itu. Hapus air mata, salurkan energi marah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Bergeraklah maju.

Mereka tak akan membuat saya berhenti mengunjungi pojok kenangan itu selagi saya ada di Jakarta. Sendiri, berdua, berbanyak, saya selalu menyukai sore di akhir pekan di sudut itu. Semoga tak ada lagi darah yang tertumpah di negeri ini oleh para pengecut itu. Cukup. Tuhan lindungilah bangsa dan negeri tercinta ini. Berkatilah kami dengan kekuatan untuk menjaga dan merawatnya. God Bless Indonesia, I love you!

Everything Happened for A Reason, and I Still Believe in It :)

Tuesday, July 14th, 2009

Everything happened for a reason. Semua hal terjadi karena sebuah alasan. Sebuah note di Facebook teman mengingatkan saya hari ini tentang pelajaran hidup yang satu ini.

Ya, alasan. Hanya saja seringkali alasan itu tak kita mengerti, pada saat sebuah peristiwa terjadi. Mengapa dan sejuta tanya lainnya pun meruap di kepala ? Menggugat Tuhan dan meratap, bila peristiwa itu berbuah tangis dan duka lara.

Kadang perlu waktu panjang untuk memahaminya. Minggu, bulan, tahun berlalu, barulah kita menyadari bahwa sebenarnya Sang Maha Kuasa telah menyelamatkan kita dengan peristiwa yang telah lalu itu.

Saya jadi ingat obrolan dengan papa di Jogja beberapa hari lalu. Papa bukanlah ayah kandung saya, beliau adalah ayah mantan pacar yang sudah menganggap saya anaknya sendiri. Saya tinggal bersama beliau dan keluarga selama bertahun-tahun di Jogja, dan mereka telah mendidik saya menjadi manusia baru yang berpikiran terbuka dan tumbuh dewasa. Meski akhirnya tak menikah dengan anaknya, tapi papa dan keluarga selalu menjadi tempat saya pulang dan berpaling.

Saya lapor pada papa, bahwa lelaki tercinta yang turut hadir di perayaan ulang tahunnya ke-75 bulan Maret lalu di Jogja, sudah tak lagi bersama saya. Lelaki Dayak tercinta itu telah memilih perempuan lain untuk bersamanya saat ini. Meski masih berjuang untuk ikhlas, tapi saya yakin dia punya alasan yang sangat kuat sehingga memutuskan untuk memilih perempuan yang usianya jauh lebih tua dan berbeda agama dengannya. Mungkin materi, kemapanan, kenyamanan, atau apa entahlah, hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Hanya saja sekarang saya tahu rupanya urusan agama sekarang tak lagi menjadi faktor penting baginya dalam memilih pendamping. Bertolak belakang dengan yang pernah disampaikannya pada saya beberapa waktu lalu. Bahkan saya pernah disuruhnya membaca surat tulisan tangan dari seorang tante nya di Kalimantan sana, yang menurutnya membantu proses kelahirannya 40 tahun lalu. Saya ingat isi surat itu, sang tante mewanti-wanti keponakannya ini agar memilih pendamping berikutnya yang satu agama, demi anak-anak.

Kegundahan yang sama dirasakan oleh si Mbak, sahabat baru saya, ibunya anak-anak, ketika tahu bahwa kekasih baru papanya anak-anak penganut agama yang berbeda. Urusan perbedaan kelas sosial dan gaya hidup saja belum-belum sudah membuat si mbak kesal, apalagi urusan agama. “Masak anakku mau dibelikan hape baru hanya gara-gara mau minum madu. Gak bisa, itu terlalu mudah. Anak harus berprestasi untuk mendapat hadiah,” ujarnya dengan nada marah.

Duh maaf ngelantur, kembali ke obrolan dengan papa di rumah Pakuningratan itu, saya dan papa flash back ke peristiwa yang terjadi tiga tahun lalu itu. “Untung kamu gak jadi nikah sama anakku, Nden,” begitu kata papa. Saya hanya tersenyum, ya sekarang saya sangat bersyukur atas peristiwa itu.

Seandainya saat itu saya jadi menikah dengan anaknya, tentu ceritanya akan berbeda. Sayalah yang akan menjadi perempuan itu yang sekarang terjerat dalam pernikahan yang tak berbahagia dengan kehidupan ekonomi morat-marit. Buntu dan beku. Pernikahan yang bisu tanpa ruh, hanya mencecap manisnya madu cinta beberapa bulan saja dan berlanjut dengan mimpi buruk tak ada akhir.

Saya membayangkan tiga tahun kehidupan seperti apakah yang saya arungi bila saat itu kami jadi menikah. Sedangkan saya mengalami kehidupan yang menakjubkan tiga tahun terakhir ini. Perjalanan-perjalanan ke berbagai tempat di Indonesia dan negeri seberang. Bertemu dengan sejumlah orang baru, mengalami peristiwa-peristiwa menarik, belajar banyak hal baru yang membukakan wawasan dan memperluas jaringan relasi, tak lupa dengan banyak guru dan begawan baru yang mengajari saya tentang pelajaran hidup. Sungguh tiga tahun yang wow..

Tiga tahun lalu, saat peristiwa itu terjadi, tentu saja saya menangis. Luka, patah, marah, luluk lantah. Dunia yang sudah saya bangun dan persiapkan selama enam tahun runtuh dalam sekejap, saat si mantan dari Amrik yang sudah menjanda, tiba-tiba hadir kembali dalam kehidupannya dan membuat anaknya papa berpaling dan memilih menikahinya daripada saya. Dunia serasa kiamat. Ambruk dan runtuh.

Sulit menerima kenyataan saat itu. Terlalu pahit dan sulit dinalar. Untunglah guru-guru saya dan para sahabat semua ada disana menemani saya kembali bangkit. Merangkak, berjalan, dan menatap dunia kembali dari balik puing-puing. Meredakan sisa-sisa marah dan kebencian bukanlah pekerjaan mudah.

Tapi kali ini, setelah semua itu berlalu, saya duduk bersama papa dan membicarakan hal ini dengan penuh rasa syukur. Betapa Tuhan sungguh menyayangi saya, dan menyelamatkan saya saat itu dari pernikahan yang akan membusukkan saya. Saya dilemparkan ke sebuah tempat bernama Jakarta, yang memaksa saya bertumbuh, mengepakkan sayap lebih luas, dan bertransformasi menjadi manusia dewasa. Dan kurang ajarnya, saat itu saya protes berat sama Tuhan. Marah dan menggugat.

Saat ini rasanya saya seperti mengalami deja vu. Peristiwa tiga tahun lalu itu seakan berulang dengan pola yang mirip sama, hanya saja tokoh perempuan ketiganya yang berbeda. Tokoh perempuan ketiga di lakon kali ini adalah sosok baru yang baru dikenal beberapa bulan lalu saja, bukan stok lama yang tiba-tiba muncul lagi. Tapi segala pesonanya memang begitu memikat, sulit ditolak. Harus saya akui, saya tak ada apa-apanya dibanding semua yang dimiliki si Mbak cantik berusia 46 tahun yang hobi golf itu. Saya hanya punya hati untuk mencintainya dengan utuh. Itu saja.

Jujur saja dada ini masih sering bergemuruh, emosi masih sering turun naik. Meski sang begawan mengatakan pada saya, bahwa saya tak layak menangisinya lagi. “Seseorang muncul sifat aslinya saat sedang krisis,” katanya di Salihara kemarin. “Bila sedang krisis dan dia meninggalkanmu demi orang lain berarti dia tak layak ditangisi,” petuahnya.

Sebetulnya yang sedang krisis adalah dia bukan saya. Krisis keuangan akut, krisis identitas, dengan segala ketidakpastian akan masa depannya. Mungkin dia diambang frustrasi dan melihat saya tak cukup bisa membantunya keluar dari belitan krisis ini, sedangkan si mbak super mapan yang menunggang mercedes e-class itu bisa. Entahlah.

Saya sependapat dengan sang begawan. Ya, seseorang akan muncul sifat aslinya saat krisis. Akankah dia tegar, akankah dia mudah menyerah ? Menjadi lebih bijakkah dia ataukah sebaliknya ? Tenggelam kah atau justru bangkit mengatasi krisis?

Sahabat saya Edo bilang saat bersama sang begawan di Salihara, “elu harusnya syukuran Nden,”katanya menasihati saya. Ya, ya, ya..saya yakin pada saatnya saya akan bersyukur, seperti saya mensyukuri “operasi penyelamatan” Tuhan  atas hidup saya tiga tahun lalu.

Pasti ada alasan maha penting dibalik peristiwa ini yang baru akan saya pahami pada waktunya. Misteri Sang Maha Pemilik Hidup memang hanya akan dibuka pada saat-Nya. Ah Tuhan, ndak sedang bercanda kan sama saya ? hehehe..

Pesta Demokrasi, Luka dan Cinta

Thursday, July 2nd, 2009

Pesta lima tahunan ini begitu hiruk pikuk. Katanya sih pesta demokrasi. Demokrasi apa? Jangan tanya saya, karena saya juga tak tahu harus menjawab apa. Tak apalah mungkin memang tidak untuk dianalisa hingga kening berkerut, biarlah proses yang katanya demokrasi ini berjalan apa adanya.

Maklumilah bahwa negeri ini masih berjalan sempoyongan membangun demokrasi. Proses tentang apapun seringkali terasa menyakitkan, melelahkan dan menguras kesabaran. Tapi harus tetap dilanjutkan, jangan henti hanya karena kehilangan daya. Terus berjuanglah bangsaku !

Saya hanya berharap segala kegilaan sesaat ini segera usai dan tuntas. Semoga bapak berdua bernomor urut dua ini tentu pemenangnya. Tak terbayangkan akan seperti apa negeri ini bila dipimpin pasangan kandidat sebelah kiri dan sebelah kanan.

Semoga mimpi buruk itu tak akan pernah terjadi, sehingga saya bisa meninggalkan negeri ini dengan hati tentram, dan turut berkontribusi membangunnya dari jarak ribuan mil dengan tujuan yang pasti.

Mungkin tak lama lagi saya berada di tim ini, dan saya harap begitu. Tapi dimanapun, dan sesingkat apapun selalu ada pelajaran yang bisa dipetik, dikunyah dan diendapkan. Butir-butir kebijaksanaan, kesabaran bentuk baru dan perenungan-perenungan yang kadang wujudnya mengejutkan.

Disini saya bertemu dengan orang-orang hebat yang selama ini saya hanya temui di media massa. Goenawan Mohamad, Ayu Utami dan Nong Darol yang disatukan oleh isu, akhirnya bergabung merapat di belakang Boediono. Dua perempuan tangguh yang inspiratif, satu begawan sastra yang sudah menganggukkan kepala untuk membimbing saya menulis buku pertama saya.

Berkat tak terhingga, ketika seorang begawan seperti GM berkenan membimbing saya yang pemimpi berat dan banyak maunya itu. Saya sudah meminta untuk dijewer bila tak disiplin. Saya sadar kelemahan saya adalah seringkali kurang fokus, dan endurance rendah karena kebanyakan mau.

Saya butuh seorang pembimbing yang keras untuk mengarahkan saya berjalan di jalur dengan fokus. Bila sedang berurusan dengan diri sendiri seringkali saya menjadi terlalu fleksible. Kebiasaan buruk yang harus dikikis bila ingin maju.

Pada saat yang bersamaan, saya pun ingin mengalihkan rasa sakit yang mendera belakangan ini, menjadi energi kreatif yang menghasilkan sebuah karya yang inspiratif. Kembali dikhianati seseorang yang dicintai tentu saja bukan pengalaman menyenangkan yang ingin terulang. Tapi rupanya Tuhan begitu baik pada saya, dan membukakan mata saya bahwa lelaki tercinta itu bukan yang terbaik untuk saya.

Meski saat ini dia sudah bersama orang lain yang dipilihnya dengan segala kelebihan yang tak saya punya, saya masih ingin memanggilnya lelaki tercinta. Karena mencintainya adalah pengalaman terbaik dalam hidup saya. Setidaknya sampai hari ini. Ketika saya untuk pertama kalinya dalam hidup yang merangkak menuju angka 34 tahun, saya bisa mencintai seseorang dengan dua anak dari pernikahannya terdahulu, dan bersahabat dengan sang mantan istri.

Pengalaman yang membuat saya takjub pada diri sendiri. Ternyata hati saya sudah menjadi jauh lebih lega untuk menampung lebih banyak orang dicintai secara bersamaan. Bahkan saya bisa bersahabat dengan perempuan yang pernah menghabiskan hidup belasan tahun bersama lelaki tercinta itu. Hal yang tak mungkin saya lakukan sebelumnya. Ingin rasanya menghargai diri sendiri untuk pencapaian yang tak pernah terbayangkan ini sebelumnya, karena saya berhak.

Meski saat ini masih bergulat dengan rasa perih yang semakin memudar seiring waktu, keyakinan saya tak surut. Saya tak takut untuk mencintai lagi. Mencintai seseorang itu anugerah terindah yang pernah dirasakan manusia. Mencintai membuat kita melakukan hal-hal yang tak pernah terpikir kita bisa melakukannya. Mencintai memaksa kita bertumbuh secara personal dan spiritual.

Takut mencintai berarti takut menjadi dewasa. Bahwa mencintai seperti perbuatan aktif manapun, selalu mengandung risiko adalah sebuah keniscayaan. Risiko terluka salah satunya. Tapi memang perbuatan mencintai hanya untuk orang-orang pemberani. Berani mengambil risiko terluka, menghadang badai demi yang tercinta, dan tetap mencintainya meski dia telah berpaling, tentu bukanlah perbuatan biasa. Dan memang saya memilih untuk terus melangkah dengan kepala tegak, karena saya telah memilih untuk menjadi perempuan yang tidak biasa.

Bicara Soal Mimpi

Wednesday, July 1st, 2009

Pojokan kafe di sebuah mall yang menghadap ke bunderan HI, tempat saya menghabiskan waktu siang tadi. Dua jam tak terasa berlalu dengan cepat, saat saya bersama seorang teman itu mengenangkan kembali apa yang kita bicarakan di tempat yang sama, beberapa tahun lalu. Belum terlalu lama sebetulnya, seingat saya dua tahun lalu.

Dua tahun lalu itu kami duduk disana berbagi mimpi dan cita-cita, bahwa suatu saat entah kapan ingin melalui masa dengan berkarya di Amerika Serikat. Menatap air mancur di bunderan HI itu kami berangan-angan, bagaimana caranya kami bisa sampai di Amrik dan membangun kehidupan yang lebih baik. Berbagai pikiran bodoh pun sempat hinggap di kepala, untuk nekat tiba di Amrik. Tawaran dari seorang teman di New York untuk jadi pengasuh anak pun sempat terpikir dimanfaatkan, demi impian hidup di Amrik, hahaha gila bener. Untung kami hanya gila dalam omongan, gak sampai melakukannya.

Saat itu yang ada di kepala adalah masuk dan hidup di Amrik melalui pendidikan. Berarti kami harus lulus tes beasiswa demi bisa bersekolah dan beberapa tahun hidup di Amrik. Teman saya itu cukup beruntung rajin mengikuti seleksi fellowship, dan seringkali lolos. Sehingga dalam setahun dia bisa beberapa bulan di luar negeri mengikuti fellowship itu.

Tapi seingat saya dua tahun itu meski sudah ke beberapa negara, tapi dia belum pernah menginjak Amerika, sementara saya pernah tahun 2003 lalu. Saya ingat dia penasaran sekali dengan Amerika. Sampai akhirnya dia mendapat kesempatan fellowship untuk meliput di kantor PBB di New York selama beberapa bulan.

Rupanya kesempatan itu dia gunakan juga mengikuti seleksi broadcaster untuk VOA, dimana tes berlangsung di kantor VOA di New York. Saya tidak pernah tahu proses ini, hingga beberapa pekan lalu di mem-buzz saya di YM, dan mengabari kabar baik itu. ” Nden gue cuma mau ngasih tahu, gue mau pindah ke Amrik,” katanya singkat. Saya kaget sekaligus senang. “Sialan loe duluan ke Amrik, hehehe..” jawab saya. I’m happy for him since I know we share the same dream of moving to US for sometime in our life. And he made it now, congrats..soooo excited for him.

Tadi siang kami sengaja kembali ke tempat yang sama untuk mengenang kembali saat-saat kami berbagi mimpi. Kami memang pemimpi berat dan pengagum The Alchemist-nya Paulo Coelho, it’s like a bible to us.

Tiga pekan lagi dia sudah berangkat ke Washington DC dan memulai karir dan kehidupan barunya. Saya kagum dengan kegigihan dan keyakinannya dalam menggapai mimpi. Saya pun kembali bersemangat dan yakin akan proses yang sedang berlangsung di DC sana yang sedang menentukan perjalanan hidup saya selanjutnya.

Dia berbagi cerita soal proses panjang melelahkan yang dia laluin hingga tiba pada saat bersejarah ini. Pengorbanan yang layak dilewati demi kehidupan yang kami impikan di Amrik sana.

Kami pun berjanji untuk makan siang selanjutnya akan kami lakukan di DC. Soon I landed my feet there, and I will make it too, like him. Again, congrats Tony, promise to see you there and see the security lady at the Smithsonian Museum last year during my IVLP trip, who told me with smiling face when she checked my bag. “Young lady you will get back here soon,” I remember just looked at her eyes and think, wow she is a psychic who can read my mind. Surprised and happy, I said “Thank you Mam.”

She’s the person I want to meet at the first place soon I get back there for having my new life. “Mam, you’re right, here I am back to DC,” that’s gonna be the first thing I want to say when I see her, and bring her something lovely from Indonesia as a gift.