Everything happened for a reason. Semua hal terjadi karena sebuah alasan. Sebuah note di Facebook teman mengingatkan saya hari ini tentang pelajaran hidup yang satu ini.
Ya, alasan. Hanya saja seringkali alasan itu tak kita mengerti, pada saat sebuah peristiwa terjadi. Mengapa dan sejuta tanya lainnya pun meruap di kepala ? Menggugat Tuhan dan meratap, bila peristiwa itu berbuah tangis dan duka lara.
Kadang perlu waktu panjang untuk memahaminya. Minggu, bulan, tahun berlalu, barulah kita menyadari bahwa sebenarnya Sang Maha Kuasa telah menyelamatkan kita dengan peristiwa yang telah lalu itu.
Saya jadi ingat obrolan dengan papa di Jogja beberapa hari lalu. Papa bukanlah ayah kandung saya, beliau adalah ayah mantan pacar yang sudah menganggap saya anaknya sendiri. Saya tinggal bersama beliau dan keluarga selama bertahun-tahun di Jogja, dan mereka telah mendidik saya menjadi manusia baru yang berpikiran terbuka dan tumbuh dewasa. Meski akhirnya tak menikah dengan anaknya, tapi papa dan keluarga selalu menjadi tempat saya pulang dan berpaling.
Saya lapor pada papa, bahwa lelaki tercinta yang turut hadir di perayaan ulang tahunnya ke-75 bulan Maret lalu di Jogja, sudah tak lagi bersama saya. Lelaki Dayak tercinta itu telah memilih perempuan lain untuk bersamanya saat ini. Meski masih berjuang untuk ikhlas, tapi saya yakin dia punya alasan yang sangat kuat sehingga memutuskan untuk memilih perempuan yang usianya jauh lebih tua dan berbeda agama dengannya. Mungkin materi, kemapanan, kenyamanan, atau apa entahlah, hanya dia dan Tuhan yang tahu.
Hanya saja sekarang saya tahu rupanya urusan agama sekarang tak lagi menjadi faktor penting baginya dalam memilih pendamping. Bertolak belakang dengan yang pernah disampaikannya pada saya beberapa waktu lalu. Bahkan saya pernah disuruhnya membaca surat tulisan tangan dari seorang tante nya di Kalimantan sana, yang menurutnya membantu proses kelahirannya 40 tahun lalu. Saya ingat isi surat itu, sang tante mewanti-wanti keponakannya ini agar memilih pendamping berikutnya yang satu agama, demi anak-anak.
Kegundahan yang sama dirasakan oleh si Mbak, sahabat baru saya, ibunya anak-anak, ketika tahu bahwa kekasih baru papanya anak-anak penganut agama yang berbeda. Urusan perbedaan kelas sosial dan gaya hidup saja belum-belum sudah membuat si mbak kesal, apalagi urusan agama. “Masak anakku mau dibelikan hape baru hanya gara-gara mau minum madu. Gak bisa, itu terlalu mudah. Anak harus berprestasi untuk mendapat hadiah,” ujarnya dengan nada marah.
Duh maaf ngelantur, kembali ke obrolan dengan papa di rumah Pakuningratan itu, saya dan papa flash back ke peristiwa yang terjadi tiga tahun lalu itu. “Untung kamu gak jadi nikah sama anakku, Nden,” begitu kata papa. Saya hanya tersenyum, ya sekarang saya sangat bersyukur atas peristiwa itu.
Seandainya saat itu saya jadi menikah dengan anaknya, tentu ceritanya akan berbeda. Sayalah yang akan menjadi perempuan itu yang sekarang terjerat dalam pernikahan yang tak berbahagia dengan kehidupan ekonomi morat-marit. Buntu dan beku. Pernikahan yang bisu tanpa ruh, hanya mencecap manisnya madu cinta beberapa bulan saja dan berlanjut dengan mimpi buruk tak ada akhir.
Saya membayangkan tiga tahun kehidupan seperti apakah yang saya arungi bila saat itu kami jadi menikah. Sedangkan saya mengalami kehidupan yang menakjubkan tiga tahun terakhir ini. Perjalanan-perjalanan ke berbagai tempat di Indonesia dan negeri seberang. Bertemu dengan sejumlah orang baru, mengalami peristiwa-peristiwa menarik, belajar banyak hal baru yang membukakan wawasan dan memperluas jaringan relasi, tak lupa dengan banyak guru dan begawan baru yang mengajari saya tentang pelajaran hidup. Sungguh tiga tahun yang wow..
Tiga tahun lalu, saat peristiwa itu terjadi, tentu saja saya menangis. Luka, patah, marah, luluk lantah. Dunia yang sudah saya bangun dan persiapkan selama enam tahun runtuh dalam sekejap, saat si mantan dari Amrik yang sudah menjanda, tiba-tiba hadir kembali dalam kehidupannya dan membuat anaknya papa berpaling dan memilih menikahinya daripada saya. Dunia serasa kiamat. Ambruk dan runtuh.
Sulit menerima kenyataan saat itu. Terlalu pahit dan sulit dinalar. Untunglah guru-guru saya dan para sahabat semua ada disana menemani saya kembali bangkit. Merangkak, berjalan, dan menatap dunia kembali dari balik puing-puing. Meredakan sisa-sisa marah dan kebencian bukanlah pekerjaan mudah.
Tapi kali ini, setelah semua itu berlalu, saya duduk bersama papa dan membicarakan hal ini dengan penuh rasa syukur. Betapa Tuhan sungguh menyayangi saya, dan menyelamatkan saya saat itu dari pernikahan yang akan membusukkan saya. Saya dilemparkan ke sebuah tempat bernama Jakarta, yang memaksa saya bertumbuh, mengepakkan sayap lebih luas, dan bertransformasi menjadi manusia dewasa. Dan kurang ajarnya, saat itu saya protes berat sama Tuhan. Marah dan menggugat.
Saat ini rasanya saya seperti mengalami deja vu. Peristiwa tiga tahun lalu itu seakan berulang dengan pola yang mirip sama, hanya saja tokoh perempuan ketiganya yang berbeda. Tokoh perempuan ketiga di lakon kali ini adalah sosok baru yang baru dikenal beberapa bulan lalu saja, bukan stok lama yang tiba-tiba muncul lagi. Tapi segala pesonanya memang begitu memikat, sulit ditolak. Harus saya akui, saya tak ada apa-apanya dibanding semua yang dimiliki si Mbak cantik berusia 46 tahun yang hobi golf itu. Saya hanya punya hati untuk mencintainya dengan utuh. Itu saja.
Jujur saja dada ini masih sering bergemuruh, emosi masih sering turun naik. Meski sang begawan mengatakan pada saya, bahwa saya tak layak menangisinya lagi. “Seseorang muncul sifat aslinya saat sedang krisis,” katanya di Salihara kemarin. “Bila sedang krisis dan dia meninggalkanmu demi orang lain berarti dia tak layak ditangisi,” petuahnya.
Sebetulnya yang sedang krisis adalah dia bukan saya. Krisis keuangan akut, krisis identitas, dengan segala ketidakpastian akan masa depannya. Mungkin dia diambang frustrasi dan melihat saya tak cukup bisa membantunya keluar dari belitan krisis ini, sedangkan si mbak super mapan yang menunggang mercedes e-class itu bisa. Entahlah.
Saya sependapat dengan sang begawan. Ya, seseorang akan muncul sifat aslinya saat krisis. Akankah dia tegar, akankah dia mudah menyerah ? Menjadi lebih bijakkah dia ataukah sebaliknya ? Tenggelam kah atau justru bangkit mengatasi krisis?
Sahabat saya Edo bilang saat bersama sang begawan di Salihara, “elu harusnya syukuran Nden,”katanya menasihati saya. Ya, ya, ya..saya yakin pada saatnya saya akan bersyukur, seperti saya mensyukuri “operasi penyelamatan” Tuhan atas hidup saya tiga tahun lalu.
Pasti ada alasan maha penting dibalik peristiwa ini yang baru akan saya pahami pada waktunya. Misteri Sang Maha Pemilik Hidup memang hanya akan dibuka pada saat-Nya. Ah Tuhan, ndak sedang bercanda kan sama saya ? hehehe..