Bicara Soal Mimpi

Pojokan kafe di sebuah mall yang menghadap ke bunderan HI, tempat saya menghabiskan waktu siang tadi. Dua jam tak terasa berlalu dengan cepat, saat saya bersama seorang teman itu mengenangkan kembali apa yang kita bicarakan di tempat yang sama, beberapa tahun lalu. Belum terlalu lama sebetulnya, seingat saya dua tahun lalu.

Dua tahun lalu itu kami duduk disana berbagi mimpi dan cita-cita, bahwa suatu saat entah kapan ingin melalui masa dengan berkarya di Amerika Serikat. Menatap air mancur di bunderan HI itu kami berangan-angan, bagaimana caranya kami bisa sampai di Amrik dan membangun kehidupan yang lebih baik. Berbagai pikiran bodoh pun sempat hinggap di kepala, untuk nekat tiba di Amrik. Tawaran dari seorang teman di New York untuk jadi pengasuh anak pun sempat terpikir dimanfaatkan, demi impian hidup di Amrik, hahaha gila bener. Untung kami hanya gila dalam omongan, gak sampai melakukannya.

Saat itu yang ada di kepala adalah masuk dan hidup di Amrik melalui pendidikan. Berarti kami harus lulus tes beasiswa demi bisa bersekolah dan beberapa tahun hidup di Amrik. Teman saya itu cukup beruntung rajin mengikuti seleksi fellowship, dan seringkali lolos. Sehingga dalam setahun dia bisa beberapa bulan di luar negeri mengikuti fellowship itu.

Tapi seingat saya dua tahun itu meski sudah ke beberapa negara, tapi dia belum pernah menginjak Amerika, sementara saya pernah tahun 2003 lalu. Saya ingat dia penasaran sekali dengan Amerika. Sampai akhirnya dia mendapat kesempatan fellowship untuk meliput di kantor PBB di New York selama beberapa bulan.

Rupanya kesempatan itu dia gunakan juga mengikuti seleksi broadcaster untuk VOA, dimana tes berlangsung di kantor VOA di New York. Saya tidak pernah tahu proses ini, hingga beberapa pekan lalu di mem-buzz saya di YM, dan mengabari kabar baik itu. ” Nden gue cuma mau ngasih tahu, gue mau pindah ke Amrik,” katanya singkat. Saya kaget sekaligus senang. “Sialan loe duluan ke Amrik, hehehe..” jawab saya. I’m happy for him since I know we share the same dream of moving to US for sometime in our life. And he made it now, congrats..soooo excited for him.

Tadi siang kami sengaja kembali ke tempat yang sama untuk mengenang kembali saat-saat kami berbagi mimpi. Kami memang pemimpi berat dan pengagum The Alchemist-nya Paulo Coelho, it’s like a bible to us.

Tiga pekan lagi dia sudah berangkat ke Washington DC dan memulai karir dan kehidupan barunya. Saya kagum dengan kegigihan dan keyakinannya dalam menggapai mimpi. Saya pun kembali bersemangat dan yakin akan proses yang sedang berlangsung di DC sana yang sedang menentukan perjalanan hidup saya selanjutnya.

Dia berbagi cerita soal proses panjang melelahkan yang dia laluin hingga tiba pada saat bersejarah ini. Pengorbanan yang layak dilewati demi kehidupan yang kami impikan di Amrik sana.

Kami pun berjanji untuk makan siang selanjutnya akan kami lakukan di DC. Soon I landed my feet there, and I will make it too, like him. Again, congrats Tony, promise to see you there and see the security lady at the Smithsonian Museum last year during my IVLP trip, who told me with smiling face when she checked my bag. “Young lady you will get back here soon,” I remember just looked at her eyes and think, wow she is a psychic who can read my mind. Surprised and happy, I said “Thank you Mam.”

She’s the person I want to meet at the first place soon I get back there for having my new life. “Mam, you’re right, here I am back to DC,” that’s gonna be the first thing I want to say when I see her, and bring her something lovely from Indonesia as a gift.

One Response to “Bicara Soal Mimpi”

  1. nurul Says:

    wow, aku doakan cita2mu tercapai nden…seneng kalo kamu menetap di sana, bisa mampir kalo sewatu2 aku ke sana lagi hahahaha…

Leave a Reply