Sudut Kenangan itu Terguncang Bom..

Akhir pekan, saya kembali ke pojok menyenangkan  yang dua hari sebelumnya diguncang bom. Sudut favorit ini sekarang terlihat lengang. Jauh lebih sepi dari biasanya. Bom rupanya membuat banyak orang menghindari tempat yang menyenangkan ini. Lahan parkir pun sulit dicari, dengan pita police line yang melintang disana sini. Sebagian ruas jalan masih dilarang untuk dilalui.

Tempat ini selalu membuat saya serasa tidak berada di Jakarta. Bukan hanya karena disini saya menemukan begitu banyak orang asing hilir mudik, tapi karena di lingkungan ini satu-satunya saya merasa nyaman berjalan kaki. I love walking, but in Jakarta, seems like my hobby would be a tough thing to do. So hard to get a comfort place to walk without  unnecessary disturbances.

Bila sedang berada di Jakarta saat akhir pekan, maka seringkali saya meluangkan waktu ke sana. Jalan kaki, menikmati sore, menyeruput kopi sambil membaca buku, berbincang dengan orang-orang terdekat, berbagi cerita dan inspirasi. Bonus pemandangan mentari terbenam dan lembayung memayungi bila sedang beruntung cuaca bersahabat di langit Jakarta. Kenikmatan sederhana yang bisa dicecap di sudut Jakarta oleh urban pemimpi seperti saya.

Bom meluluhlantakkan dua hotel di dekat sudut kenangan itu. Marah, dan sedih campur aduk, menyaksikan tubuh-tubuh berlumur darah itu bergelimpangan. Mereka yang hanya melakukan pekerjaan mereka seperti biasanya, hari itu sebagian harus menemui ajalnya, sebagian lainnya menderita luka yang mungkin tak sembuh hingga akhir hayat. Luka fisik dan luka batin yang tak terhindarkan.

Ingin saya teriak pada para pembom itu, bajingan pengecut! Mengapa kalian sakiti lagi ibu pertiwi ini? Tak cukupkah darah yang sudah tertumpah disini? Kami sedang bergerak maju, negeri ini semakin baik, tamu-tamu dan investor berdatangan, ekonomi tumbuh, politik stabil. Tentu tak ada yang sempurna mulus tanpa cela, tapi Indonesia dalam kondisi terbaiknya dalam sepuluh tahun terakhir ini. Saya sungguh berduka untuk Indonesia tercinta ini. Tertoreh lagi noda di wajahnya, perjuangan pun menjadi lebih berat untuk kembali berdiri tegak dan berlari menyusul ketertinggalan. Saya menangis, tapi cinta pada tanah air ini semakin mengakar.

Tapi jangan menyerah, mereka tak boleh mengalahkan kita. Saya suka apa yang disampaikan Anis Baswedan saat aksi Masyarakat Indonesia Anti Kekerasan di lokasi pengeboman kemarin. “They can blew up our building, but they can’t blew our spirit, we’re survive and we will win.” Membangkitkan semangat dan menggugah hati untuk bertindak. Indonesia tak boleh kalah dengan para pengecut yang hanya berani mati tapi tak berani hidup itu. Hapus air mata, salurkan energi marah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Bergeraklah maju.

Mereka tak akan membuat saya berhenti mengunjungi pojok kenangan itu selagi saya ada di Jakarta. Sendiri, berdua, berbanyak, saya selalu menyukai sore di akhir pekan di sudut itu. Semoga tak ada lagi darah yang tertumpah di negeri ini oleh para pengecut itu. Cukup. Tuhan lindungilah bangsa dan negeri tercinta ini. Berkatilah kami dengan kekuatan untuk menjaga dan merawatnya. God Bless Indonesia, I love you!

Leave a Reply