Archive for August, 2009

Meninggalkan Langit, Menjejak Bumi

Thursday, August 13th, 2009

Kalimat ini saya dapatkan dua hari lalu dari seorang Inu. Wartawan Kompas super jail ini rupanya mencari saya, saat ada konferensi pers soal keputusan MK. Ketika Inu tak menemukan saya di tempat konpers, dia berinisatif mencari saya di YM. Lalu saya jawab, saya sudah mengajukan surat pengunduran diri dari kantor itu. Tapi saya masih ada di Jakarta untuk serangkaian meeting terkait pekerjaan baru saya sebagai seorang Program Development di sebuah LSM.

LSM kecil yang ingin tumbuh besar dan berbuat lebih banyak ini, menjadi tempat saya berlabuh usai hiruk pikuk pemilu ini. Berkantor pusat di Jogja dan proyek-proyek di luar Jawa, menjadikan pekerjaan baru ini membawa saya menjejak wilayah-wilayah baru dalam kehidupan saya. Saatnya mengenal Indonesia negeri tercinta ini dengan “benar”.

Inu menanggapi dengan nada “iri”. “Balik ke Jogja? Ah enaknya, segera menyusul,” tuturnya. Ya, untuk siapapun yang pernah mengenal Jogja panggilan untuk kembali itu seringkali begitu kuat. Kenyamanan kota ini memang selalu memanggil untuk pulang, untuk kualitas hidup yang lebih baik. Dimana kualitas yang lebih baik tak selalu terkait dengan materi yang berlimpah. Keduanya adalah dua hal berbeda yang tak selalu relevan bagi hidup orang yang satu dan lainnya.

“Salut untuk keberaniannya meninggalkan langit dan menjejak bumi,” kata Inu. Kalimat yang begitu mengena di hati saya. Metafora yang sungguh tepat. Bertahun-tahun saya hidup di langit melayani para dewa. Bergulat dengan isu-isu super besar yang berpusing di tataran menara gading. Status megah yang membuat siapapun tengadah. Membanggakan tapi tak selalu membahagiakan.

Tentu sebuah kehormatan pernah menjadi bagian dari kemegahan itu. Semua pengalaman bergaul dengan para dewa, manusia setengah dewa, yang pahit dan manis itu tentu sungguh berharga. Warna warni dunia kahyangan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup seorang Nenden. Puji syukur tak terkira.

Tapi rupanya cukup sudah semua itu. Adalah sebuah keberanian meninggalkan segala kemegahan status itu. Saya memilih untuk menjalani hidup yang berbeda, yang saya rasakan lebih bermakna. Hidup dengan sebuah tujuan, membaktikan diri bagi sesama, dan menyerahkan segala yang saya punya untuk Sang Pemilik Alam. Sekarang saatnya bekerja nyata untuk manusia-manusia kebanyakan. Real work for real people.

“Life with a purpose, Nu..It’s time to switch my direction in life.”"Wah dalem banget refleksinya,” kata Inu. Dalam, dangkal, ah itu hanya ukuran yang dibuat manusia. Saya hanya mendapati diri saya bangkit dari sebuah kematian dan menatap matahari baru bersinar dalam hidup saya. Membimbing saya ke arah yang lebih baik. Melihat bukan dengan mata, tapi dengan hati. Mendengar bukan hanya dengan telinga, tapi dengan cinta.

Ketika lelaki tercinta itu masih mempertanyakan soal ketenaran, uang dan kekuasaan sebagai nilai yang patut dikejar dalam hidup, maka saya memilih menjauhi ketiganya. Saya lebih suka berkarya dalam kesunyian, jauh dari hiruk pikuk kamera ketenaran. Uang memang perlu, tapi bukan berarti segalanya. Seperti kata Mahatma Gandhi, earth provides enough to satisfy every man’s need, but not every man’s greed. Saya hanya ingin menjadi cukup, tak perlu menjadi kaya. Kaya hati dan teman, jauh lebih ingin saya kejar daripada kaya harta.

Hiduplah secukupnya, maka kamu akan menjadi tentram. Saya tak butuh kekuasaan untuk membuat orang tunduk apa kata saya. Saya ingin didengar karena orang-orang mencintai dan menghargai saya, bukan karena dibujuk takut. Respect is earned, never given. Inilah babak baru dalam hidup saya, berkat Tuhan telah membukakan jalan ini dan membimbing saya memasukinya. Damai di hati damai di bumi..Kasih Tuhan untuk seluruh manusia dan semesta alam.

Kupanggil Namamu

Sunday, August 9th, 2009

Sambil menyeberangi sepi
Kupanggil namamu, lelakiku
Apakah kau tak mendengarku?

Malam yang berkeluh kesah
Memeluk jiwaku yang payah
Yang resah
Kerna memberontak terhadap rumah
Memberontak terhadap adat yang latah
Dan akhirnya tergoda cakrawala

Sia-sia kucari pancaran sinar matamu
Ingin kuingat lagi bau tubuhmu
Yang kini sudah kulupa.
Sia-sia.
Tak ada yang bisa kujangkau.
Sempurnalah kesepianku.

Angin pemberontakan
Menyerang langit dan bumi
Dan dua belas ekor serigala muncul dari masa silam
Merobek-robek hatiku yang celaka

Berulang kali kupanggil namamu
Dimanakah engkau, lelakiku?
Apakah engkau juga menjadi masa silamku?
Kupanggil namamu
Kupanggil namamu

Kerna engkau rumah di lembah
Dan Tuhan?
Tuhan adalah seniman tak terduga
Yang selalu sebagai sediakala
Hanya memperdulikan hal-hal yang besar saja.

Seribu jari masa silam
Menuding kepadaku
Tidak
Aku tak bisa kembali

Sambil terus memanggili namamu
Amarah pemberontakanku yang suci
Bangkit dengan perkasa malam ini dan menghamburkan diri ke cakrawala
Yang sebagai gadis telanjang
Membukakan diri padaku
Penuh.Dan perawan.

Keheningan sesudah itu
Sebagai telaga besar yang beku
Dan aku pun beku di tepinya
Wajahku.Lihatlah, wajahku.
Terkaca di keheningan
Berdarah dan luka-luka
Dicakar masa silamku

Sajak Rendra, dari Blues untuk Bonnie, 1971, tapi kata wanitaku diganti lelakiku.

Thanks Mas Willy, rest in peace!

Apakah Cinta Itu?

Wednesday, August 5th, 2009

Kali ini kepala saya disesaki sejuta tanya tentang cinta. Basi mungkin, secara topik cinta menjadi terlalu sering untuk dibicarakan dimanapun. Dari warung kopi hingga teater-teater ternama dunia yang mementaskan lakon tentangnya.

Tapi entahlah, menurut saya cinta selalu menarik dibicarakan, dan tak pernah lekang oleh waktu dan usia. Cinta oh cinta. Membawa ceria dan juga derita. Panahnya begitu menusuk, hingga siapapun yang tertancap hatinya akan terkapar tak berdaya. Lupa segala bahkan seringkali perlu menanggalkan logika. Cinta yang membius bagai virus. Tak kenal usia tak kenal masa. Siapapun, ras apapun, agama apapun, dan berstatus apapun, selama masih punya hati tempat panah asmara menancap, tak akan luput dari sihirnya.

Selalu menyenangkan mengalami rasanya jatuh cinta. Dunia berpendar indah dengan kemilaunya yang memukau. Bibir selalu tersenyum mengingat sang pujaan hati. Berjuta kata cinta pun meluncur deras bagai hujan di bulan November. ” Sayangku kau begitu sempurna,” adalah sms cinta yang pernah saya terima dari seseorang di ponsel tua itu, 11 Januari 2008, pukul 18:00:57.

Jangan heran, saya sebagai pemuja cinta, senang mengoleksi kata cinta yang dikirimkan siapapun, yang saya rekam dalam berbagai bentuk. Indah, karena saat kalimat-kalimat itu dirangkai dan dikirimkan, aroma cinta memang berhembus kencang dari dua hati yang terpapar virusnya.

Saya sedang suka membongkar ulang pemahaman saya tentang cinta ketika tiba saatnya, cinta menjadikan saya begitu menderita. Menderita karena kehilangan lelaki tercinta yang sekarang sedang asyik masyuk dibuai sihir cinta perempuan setengah baya yang sungguh mempesona. Lekuk tubuh sang dewi cinta rupanya begitu memukau hingga arjuna lupa diri. Saya hanya terperangah dalam jengah. Ah ternyata cinta baginya hanya sebatas urusan fisik.  Saya memang tak memiliki tubuh seksi mempesona. Tapi saya sungguh bersyukur memiliki tubuh yang utuh dan sehat.

Menurut referensi yang saya baca, ketertarikan fisik adalah tingkat cinta yang paling rendah, tapi memang begitu indah. Pertautan syahwat dua manusia yang didera gairah adalah perekat yang paling dahsyat. Meskipun tentu saja ada masa berlakunya.

Cinta eros ini biasanya memang tak berlangsung langgeng. Pada saatnya gairah akan mereda, gelombang hasrat yang bergelora pun akan surut. Tubuh bisa layu didera sakit ataupun usia. Seperti hal lainnya di bumi ini tentu tak ada yang abadi. Kemudian cinta eros itu bertransformasi. Bisa bertransformasi pada objek yang berbeda, menemukan gairah baru pada seseorang yang baru, karena pada yang lama sudah reda bahkan hilang, atau bertransformasi pada bentuk cinta baru yang lebih tinggi.Cinta dengan hati yang utuh, ketika fisik tak lagi menjadi hal yang utama.

Apakah patah hati ditinggal yang tercinta itu juga akibat cinta? Lagi-lagi dari referensi yang saya baca, mereka para guru bijak itu mengatakan bahwa itu bukanlah cinta. Itu adalah ego yang salah arah, dan terluka.

Karena cinta tak menyebabkan penderitaan. Cinta tak memiliki, cinta tak membatasi. Cinta yang “benar” tak bersyarat. Hanya satu yang diinginkan, kebahagiaan bagi mereka yang tercinta, bahkan sekalipun ketika mereka memilih untuk pergi bersama orang lain.

Jadi yang sedang saya hadapi saat ini adalah ego saya yang terluka. Ego diri yang tertampar ketika tiba-tiba tanpa pesan, lelaki Dayak tercinta itu menghilang ditelan bumi, dan tahu-tahu muncul bersama seseorang yang sudah saya kira sebelumnya. Ego yang marah karena tak terselesaikan dengan baik. Apakah saya selama ini mencintainya? Dulu saya kira iya seutuhnya. Toh saya bisa menerima kehadiran orang-orang tercinta di masa lalunya, bahkan menjadikan mereka bagian dari kehidupan saya.

Tapi rupanya cinta itu tak seutuh yang saya kira. Cinta saya masih ternoda oleh ego. Sehingga ketika dia pergi begitu saja, ego saya yang lebih banyak berbicara, dan membuat saya terluka. Dalam. Separuh nyawa saya seperti dicerabut dengan paksa. Susah payah saya memaksa diri ini terus bernafas dan melanjutkan hidup.

Tapi situasi setengah mati ini juga memaksa saya kembali bercermin dan bertanya pada diri sendiri, cinta seperti apakah sebetulnya yang saya punya untuknya? Bila saya masih terluka, bila saya masih menyesali diri saya yang tak bertubuh seksi, dan tak semapan perempuan itu? Entahlah, hanya waktu yang bisa menjawabnya. Sang begawan mengirimkan pesan pada saya siang tadi “time is a kind friend, as one poet says”. Yes, I agree..