6 Hari yang Berarti
Thursday, September 17th, 2009Manusia boleh berencana tapi Tuhan lah yang Maha Berkehendak. Gempa tak diundang kembali mengguncang negeri ini 2 September pukul 14.55. Kali ini bagian lempeng di bumi Jawa Barat yang bergerak, sehingga menciptakan gempa berkekuatan 7,3 SR yang memorakporandakan Jawa Barat bagian selatan.
Sebagai pekerja LSM, baru kali ini aku berurusan dengan bencana alam dalam lingkup kerja yang berbeda. Seminggu berselang setelah gempa, aku dikirim ke Jawa Barat untuk melakukan assesment fasilitas umum yang rusak akibat gempa, sebagai data bagi proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Tiga kabupaten menjadi daerah tujuan, yaitu Ciamis, Tasikmalaya dan Garut.
Sebagai orang Sunda asli, dan telah belasan tahun meninggalkan tanah Priangan, baru kali ini aku kembali merasakan menjadi orang Sunda yang sebenarnya. Tak salah mereka mengirimku, karena bahasa memang kunci untuk komunikasi yang baik, apalagi dengan masyarakat desa yang lebih menggunakan bahasa daerah dibanding bahasa nasional.
Rupanya memori itu melekat dengan erat di kepala, stok kosa kata yang halus dan santun itu masih meluncur mulus dari bibirku menyapa mereka. Perjalanan ini seperti membawaku kembali ke akar budaya yang membesarkanku. Ternyata aku tak pernah melupakannya, semua masih ada disana tersimpan dengan baik, meski mungkin aku tak menggunakannya lagi.
Meluncur di jalanan bagian selatan Jawa Tengah menuju Jawa Barat itu juga membetotku kembali ke masa lalu. Perjalanan darat dengan mobil adalah hobi yang kerap kulakukan di masa muda ku itu. Ah baru sepuluh tahun, tapi sudah tua rasanya. Begitu cepat waktu berlalu. Masa-masa gila bersama Babe, pacar tercinta saat kuliah yang masih jadi sahabat terbaikku saat ini.
I miss you Be, still remember my dream to drive along the Daendels road ? It’s still a dream Be til now..waiting for the right partner who crazy enough to accompany me, like you..
Gara-gara Babe juga aku jadi mencintai perjalanan dengan mobil, berada di balik kemudi, memacu kendaraan menginjak pedal gas dan rem bergantian, meliuk, menikung, menyalip, dan melahap kilometer demi kilometer. Bertelanjang kaki, dengan setelan kursi yang dimajukan dan sandaran ditegakkan serta tubuh yang terikat sabuk pengaman, aku pun siap menjadi ratu jalanan.
Aku lebih merasa percaya diri mengemudi ketika kaki bersentuhan langsung dengan pedal tanpa alas, begitu juga soal posisi kursi, semata-mata karena kakiku tak cukup panjang dan badanku terlalu mungil untuk melihat jalan di depanku. Bila sudah dalam posisi itu, rasanya ada gejolak hati yang terpuaskan dan benar-benar siap menantang adrenalin.
Berada di kursi navigator pun tak kalah mengasyikannya. Mengamati jalanan, memantau sekeliling, membaca peta, dan menyiapkan keperluan sang supir selama mengemudi. Inilah petualangan itu, dimana kemitraan antara supir dan navigator sangat menentukan ritme perjalanan, apakah menjadi perjalanan yang menyenangkan ataukah malah mimpi buruk.
Untunglah, kolega kantor yang dipilih untuk menemaniku adalah sosok yang menyenangkan. Arsitek muda lulusan UGM yang papanya bekerja di Chevron, brondong ganteng yang baik hati dan kooperatif. Duh senangnya, thanks to my boss, yang sudah memilihnya menjadi teman seperjalananku selama enam hari.
Tak terbayang bila salah dipilih partner aku pasti akan jadi monster yang mengerikan selama enam hari bersama. Meskipun masih muda dia rupanya cukup sabar dan gentleman memperlakukan perempuan, sehingga hormon perempuanku yang sedang bergejolak bulanan tak harus meledak.Thanks hun..I wish there would be another trip with you..
Selain kolega yang menyenangkan, perjalanan ini bak sebuah refleksi buatku, yang selama bertahun terakhir ini berada di menara gading. Turun langsung ke pelosok dusun, yang seringkali di ujung bukit yang sulit dijangkau, menyaksikan kehidupan mereka yang memprihatinkan, sungguh menyentuh hati.
Setelah sekian tahun, aku kembali menjadi rakyat biasa, dan menyaksikan kehidupan manusia Indonesia kebanyakan yang apa adanya, tanpa polesan make up yang dibuat-buat untuk menyenangkan penguasa.
Perjalanan refleksi batin yang membuatku berkaca. Seandainya aku hidup di tempat mereka berada saat ini, bisakah ? Seandainya aku harus melakukan apa yang mereka lakukan saat ini, sanggupkah ? Tamparan yang membuatku terjaga, look at yourself Nenden, betapa beruntungnya hidupku, dan betapa tak tahu dirinya aku yang masih suka mengeluh ini dan itu.
Ini memang sebuah petualangan menikmati tanah Priangan yang menakjubkan. Aku yang 20 tahun menjadi orang Sunda pun belum pernah menjelajah Jawa Barat seluas ini. Menyusuri jalanan kota, hingga jalan desa yang berbatu sebesar kepalan tangan orang dewasa, dari perbukitan yang dikelilingi hutan kecil, hingga perkebunan teh, dan berakhir dengan menyusuri pantai selatan. Lengkap sudah, gunung, bukit, pantai, desa, kota, hingga hutan.
Rasanya aku sudah merindukan perjalanan itu lagi..Menyapa alam, berguru pada kehidupan yang bergerak dengan alamiah..Angin, hujan, matahari, pepohonan dan tanah basah. Aku berjanji akan sering-sering menjenguknya lagi.