Archive for October, 2009

A Lifetime Friend

Thursday, October 15th, 2009

I was at Paseban Klaten, at a site project, when an sms notified me that my special guest has arrived. Since I moved to Jogja for almost three months, he’s my third VVIP one. First sang begawan, second my angel, and the third is a lifetime friend.

I’m so excited. Finally he’s here. And not just that, as promised, instead of driving a luxury car with driver, he pick me up with a motorbike, and off course extra helmet. Amazing..I have a really special ojek driver with me.

That was the dinner at Gadjah Wong last nite, and continue with blogshop today, and kopdar tonite. I remember this is the event that I was part of the initiation. I’m so happy it happened, even I wasn’t there anymore. It was a new year party 2009, when we discuss it at the first place.

It’s been a long time we’re not seeing each other. I miss him and his wonderful events, he’s such a great event organizer and Nokia man, who connecting people across the circle.

He always wonder why I “disappear” from Jakarta. I just told him that I need a break to give myself an extra space for my mentally exhausted condition. And Jogja always the be best place, as it is home to me.  I know I should get back, just a matter of time, my life is waiting. Maybe soon, maybe later, or maybe just direct to DC not Jakarta, or maybe another places on the globe. Never know what will happen in the future, I just do my part as a human, paint my dreams, give my best effort and let the universe do the rest.

He reminds me about my pledge on my 33th birthday last year, that we will always be friend, no matter what, wherever we will be on earth we will visit each other..

I know later on in our life, we will write another history for our both beloved countries, because we made one. And more to come..

“It’s a bless to have you in my life, even we’re distance, you know that you always have a special place in my heart. You’re the selected one. A true friend is the one who stay when everybody is leaving, the one who stand by my side through the stormy days. And you were there, stay and hold my hand and help me stand. I’m so grateful for that. Thanks you so much”.

When I look back, it’s so beautiful how we found each other. I remember it was at Presidential Office, both of us were working. It was a really hot day, I was so sweat, and a bit nervous to talk to him asked about my IVLP. That scene seems like long time ago, but it was just two years passed, and he will leave next year. Time flies, I hate to say goodbye, but I know there’s no goodbye for a lifetime friend, what we have to say just, see you later. Sampai jumpa lagi.

Cita-Cita, Fokus dan Ego

Wednesday, October 14th, 2009

Hari menjelang senja, udara dingin mulai membalut kulit. Sudah lama aku tak menginjak tanah berumput di kaki Gunung Merapi ini. Kali ini aku kembali kesana setelah bertahun-tahun yang lalu. Kaliurang, di lokasi biasa orang berkemah ini menjadi tempat ku berpijak selama kurang lebih satu jam setengah.

Bumi perkemahan ini menjadi tempat berkumpul sekitar 140 mahasiswa Komunikasi UGM 2009 yang mengikuti acara Great Camping 2009, 10-11 Oktober lalu. Aku datang diundang panitia, mahasiswa 2008, yang ingin aku berbagi cerita dengan adik-adik yang baru datang ke kampus kami itu.

Tanpa makalah, slide, atau materi yang ditampilkan apapun, aku hanya datang dengan niat baik. Semoga apa yang aku ceritakan bisa menjadi sedikit inspirasi bagi mereka yang baru saja menginjakkan kaki di jurusan ini.

Seperti berulang kali kuceritakan dalam forum yang berbeda, aku katakan bahwa sejak remaja aku memang sudah bercita-cita menjadi seorang jurnalis. Alasannya sederhana, karena aku ingin jalan-jalan gratis. Semua berawal karena majalah Gadis dan Hai yang menemaniku tumbuh remaja menyajikan liputan-liputan asik yang membuatku iri pada sang wartawan. Tekadku pun makin bulat, sehingga sempat tersesat di jurusan Sastra Perancis aku pun segera banting setir kembali ke tujuan semula.

Kisahku mempersiapkan karirku sebagai wartawan, semasa kuliah membuat mereka terlongong-longong. Bukan hebat-hebat amat sih, cuma mereka takjub dengan kebandelanku yang sering bolos kuliah demi merajut cita-cita, dan membekali diri dengan berbagai aktivitas kejurnalistikan. Aku paparkan juga bahwa yang aku raih saat ini tak kubangun dalam sehari, tapi karena jaringan yang sudah kubangun sejak masa kuliah, dan tentu saja nama besar UGM.

Intinya aku hanya ingin mereka memastikan diri, bahwa mereka tahu apa yang mereka mau dengan memasuki jurusan komunikasi. Mau jadi apa sih? Logikanya, bagaimana bisa merancang sebuah rencana study bila tujuan akhir yang ingin dicapai saja masih tak tahu. Aku selalu mengibaratkan kita tiba di terminal, tapi masih kebingungan akan menuju ke kota mana sehingga belum bisa memutuskan akan naik bis yang mana.

Tapi menetapkan tujuan dan merumuskan apa yang aku mau memang sebuah pekerjaan maha berat. Tak banyak yang bisa menjabarkan dengan jelas apa sebenarnya yang dimau dalam hidupnya. Petuah bijak sang malaikat tak bersayap itu, jadikan itu cita-cita sebagai patokan arah, jalani dengan sepenuh hati, fokus dan sabar, lalu biarkan alam memprosesnya.

“Jangan mengkambinghitamkan nasib atau takdir. Wong nasib itu kan kita sendiri yang menentukan dengan munculnya keinginan. Setelah ingin, tinggal apakah keinginan itu didukung hati dan alam apa tidak. Cilakanya, masih kata sang malaikat, seringkali hati dan pikiran itu tak sinkron, apalagi bila ego sudah bermain,” katanya panjang dan lebar.

Ah ego, sulit sekali diri ini hidup tanpanya. Setiap hari aku masih berjuang untuk menaklukannya, membakarnya hingga habis, karena hidup tanpa ego sungguh indah dan membahagiakan. Sahabatku yang baru pulang dari Bali itu berhasil membuatku iri setengah mati, ketika minggu lalu kami bertemu di sudut tercinta itu. “Enak banget Nden hidup kayak gini nih,” katanya dengan tatapan mata sungguh nyaman dan tenang. Huuuuu…aku iriiiii, wish me luck brow, I will be there too..soon..

Berdamai dengan Hati

Monday, October 5th, 2009

Hampir tiga bulan saya meninggalkan hiruk pikuk Jakarta. Kemacetan dan polusi itu sudah tak menjadi bagian keseharian saya lagi. Menyenangkan. Godaan untuk kembali memang tak juga surut. Berbagai telepon, email dan sms pun masih berdatangan mengundang bergabung ini itu. Beberapa kesempatan memang terpaksa harus saya lewatkan. Sedikit dilematis, tapi prioritas saya saat ini hanya satu, ingin rehat.

Mental saya lelah, hati saya masih tercabik-cabik, jiwa ini masih perlu ruang yang lega. Rupanya saya masih membutuhkan kelapangan untuk kembali menata hidup saya yang baru saja kena gempa 8,9 SR. Puing-puing itu masih berserakan meski proses evakuasi sudah berlangsung baik. Semoga masa tiga bulan ini cukup sebagai tanggap darurat bagi  gempa hati  ini.

Saat sulit seperti ini tentu juga jadi penyeleksi terbaik, untuk mengetahui manakah yang benar-benar sahabat, dan mana yang hanya menjadi teman di kala senang. Beberapa sahabat meski terentang jarak, bahkan terpisah benua dan samudera, telah menjadi penerang di kegelapan. Bahkan yang menyenangkan, tak jarang mereka menggampar saya dengan “kejam”. Tudingan pengecut pun mempir ke layar YM saya, yang saya terima dengan pasrah.

Mungkin benar apa kata mereka. Saya pengecut. Mengapa saya lari? Takut menghadapi kenyataan bahwa lelaki tercinta itu sudah memilih perempuan lain untuk dicintainya? Khawatir bila terpaksa harus berpapasan dengan mereka di sebuah tempat dan menyaksikan mereka sedang berpelukan mesra ? Lagi-lagi saya diam, rasanya semua perkataan sahabat saya yang ditulis dengan huruf kapital itu benar adanya.

Ya, saya takut menghadapi kenyataan bahwa lelaki tercinta itu sudah tak mencintaiku lagi. Semua yang pernah kami bangun tak ada artinya lagi untuknya. Saya hanya sekeping sampah yang bahkan harus dihapusnya dari contact list BBM nya. Fakta bahwa saya memang tak ada artinya lagi untuk dia, itu masih memedihkan hati. Saya masih tak bisa menahan rasa cemburu menyadari bahwa semua cintanya dan segenap perhatiannya tak lagi tersisa setetes pun untukku.

Saya masih enggan kembali ke rumah mungil itu, dimana kami pernah sama-sama menatanya. Saya tersiksa melihat semua barang-barangnya masih tersimpan aman di tempatnya. Menyaksikan pojokan tempat biasanya merokok itu sekarang kosong tak berpenghuni. Semua tak berubah. Saya memang masih tak ingin menyentuhnya. Entah kenapa, mungkin saya masih berharap suatu saat dia akan kembali ke sana, atau mungkin saya hanya masih dirundung rasa takut yang menghantui itu.

Sahabat saya yang “sadis” itu rupanya baru saja mengalami badai hidup yang kurang lebih sama meski dalam konteks yang lebih kompleks. Dia sampai harus mengasingkan diri ke Bali sepekan, dan mematikan semua alat komunikasi. Hanya saya satu-satunya yang tahu dia dimana saat itu. Karena dia masih mengabari saya via BBM sebelum benar-benar menghilang. Gone for a week.

Tapi rupanya sepekan itu sungguh ajaib untuknya. Saya yang mendengar ceritanya saja sepulang dia dari Bali itu sampai tercengang-cengang. Jujur saya iri padanya, sungguh sebuah pengalaman hidup yang menohok, mencerahkan dan menjadi titik balik dalam kehidupannya. Sendiri, menggelandang di pantai Kuta setiap hari, duduk di spot yang sama, bengong berjam-jam, kosong, bingung, dan hampa. Rupanya disaat itulah Tuhan mengirim utusan-utusan-Nya dengan cara yang aneh. Untuk menyampaikan pesan-Nya, mengajari sahabat saya esensi hidup, membuatnya terbangun, dan memaksanya berpikir ulang tentang hidup yang harus dijalani. Pengalaman batin yang berarti.

Oleh-oleh dari Bali itu rupanya yang kemudian dia bagikan pada saya. “Nenden elu pengecuuuuuuuuttttt!!!!!,” begitu teriaknya pada saya. Anjrit, udah lama saya gak dimaki orang seperti ini. Tak banyak yang berani melakukannya. Dan saya sangat menghargai siapapun yang berhasil memaki saya tanpa sungkan seperti ini. Karena saya tahu mereka melakukannya untuk apa. They care about me, and want me to wake up and move on. Saya pun cuma bisa misuh-misuh. Begitu tertohoknya saya ketika sederet kebenaran itu dipaparkan dengan gamblang di depan mata. Kebenaran memang seringkali menyakitkan. Tapi itulah obat yang saya yakin bisa menyembuhkan.

Saya tahu tak bisa lari terus-terusan dari kenyataan. Saya harus berhenti, berbalik arah, menghadapinya dengan berani. Saya ingat beberapa hari usai kejadian itu, saya berbincang dengan sang begawan, betapa saya ingin menyepi di Ubud untuk sementara waktu. “Why Ubud Nenden, the turmoil is in your heart, yes Ubud might help, but not that much,” katanya bijak..Lagi-lagi saya terdiam. Dia benar, kegundahan itu ada di hati saya. Suasana Ubud yang tenang hanya akan membantu sedikit, tapi tak akan serta merta menyembuhkan.

Hanya satu kuncinya, kata sahabat saya yang baru digampar preman Kuta itu, memaafkan. Memaafkan berarti menerima kenyataan dengan ikhlas, mengampuni apapun yang telah dilakukan lelaki tercinta itu, bagaimanapun dia pernah mencintai saya sebelum kemudian membenci saya. Memaafkan juga bermakna berdamai dengan diri sendiri. Menerima dengan lapang dada bahwa mimpi untuk membangun masa depan bersama lelaki tercinta itu tak akan menjadi nyata. Berdamai dengan diri sendiri bahwa kami ditakdirkan tak lagi hidup bersama. Bersiap dengan rencana hidup baru yang seringkali penuh kejutan. Tersenyum menatap fotonya, bersiap mengulurkan tangan dan mengucapkan selamat bila pada saatnya bertemu dengan lelaki tercinta itu dan pasangan barunya.

Ucapkan terima kasih Nden, begitu saran sahabat saya yang baru diruwat walisongo Bali itu. “Tatap matanya dalam-dalam, ucapkan terima kasih atas semuanya,” saran dia. Sekarang mungkin terdengar gila karena saya masih terluka, dan dia masih membenci saya. Tapi saya yakin pada waktunya saya akan bisa melakukannya. Saat kami berpapasan di sebuah jalan di Washington DC, saya akan bisa menyapanya riang, memeluknya hangat dan menatap mata itu dalam-dalam, dan mengucapkan terima kasih dengan tulus. Kalau tanpa campur tangan cinta dan sakit yang telah diberikannya, tentu saya tak akan berada dalam posisi itu kelak dan menjalani hidup yang saya mimpikan.

Saya tahu saya harus kembali, rasanya sudah lebih baik. Titik-titik pencerahan pun mulai membayang. Perlahan namun pasti tapi upaya perdamaian dengan hati yang cuma satu-satunya ini pun sudah membuahkan hasil. Memang belum utuh, masih perlu waktu, entah berapa lama lagi. Bulan, tahun..hmmm hanya Dia yang tahu. Saya hanya berusaha, melakukan yang terbaik, dan menyerahkan diri ini kembali ke pelukan-Nya, untuk diarahkan. Kemanapun Dia berkehendak.

Lagi, Tentang Mimpi

Friday, October 2nd, 2009

Sahabat saya yang cantik itu baru saja beli BB, bukan karena perlu-perlu amat sih, wong dia udah pake Nokia N series untuk kebutuhan push email dan lain-lainnya. ” Just to feel in that level”, katanya sambil ketawa, sesaat setelah kami tersambung dalam percakapan melalui BBM.

Curhat yang biasanya via sms atau YM pun sekarang berpindah medium ke BBM. Rupanya dia sedang gundah, Lebaran kemarin keluarga pacarnya sudah datang berkenalan dengan keluarganya. Belum ada acara lamaran resmi, tapi sudah semakin serius hubungan sahabat saya ini dengan pacarnya yang baru terjalin dalam hitungan bulan saja. Gerak cepat ala tim buru sergap pun segera dikebut, maklum sahabat saya sudah berusia 36 tahun bulan lalu. Penantian yang cukup panjang memang untuk datangnya pangeran tambatan hati yang siap melamar.

Tapi rupanya permasalahan tak sesimpel itu. Lelaki yang jatuh cinta berat pada sahabat saya itu rupanya tak juga berhasil menjanjikan kenyamanan dan kemapanan bagi masa depan pernikahan mereka yang sudah diujung gerbang. Usianya lebih muda sedikit, masih dalam tahap berjuang untuk mapan. Ditambah keluarga pihak laki-laki segambreng yang harus disupport secara keuangan rupanya membuat sahabat saya ini makin tak mantap. Belum-belum keluarganya sudah merecoki, bagaimana keluarga kecil mereka kelak bisa meniti membangun pondasi bila harus selalu mendahulukan keluarga besar, begitu kegelisahan sahabat saya.

Tak hanya itu, urusan hati pun rupanya terjadi kesenjangan. Lelaki muda itu jatuh cinta setengah mati, sedangkan sahabat saya biasa saja. Tidak seperti orang jatuh cinta yang kliyengan, dia hanya menanggapinya dengan kadar-kadar rasionalitas. Orangnya baik, sabar, perhatian, oke deh bungkus, cinta bisa dibangun sambil jalan, begitu prinsipnya.

Mimpinya untuk menikah mungkin akan segera terwujud, ditambah desakan dari orang tua yang sudah sangat ingin melihat putri tercintanya menjadi pengantin. Meski langkah sang calon pengantin masih tersendat, tapi rupanya sahabat saya tak berani memikirkan untuk mengambil langkah seribu. Dia hanya terdiam, merenung, shalat istikharah, dan berdiskusi dengan saya, salah satu sahabatnya yang lima tahun terakhir ini berjuang bersama-sama menaklukan Jakarta.

Kami memiliki banyak kemiripan sebagai perempuan-perempuan yang punya banyak mimpi. Bukan hanya sekedar mimpi, tapi mimpi-mimpi kami itu untuk kebanyakan orang tidak sederhana. Banyak laki-laki yang memilih mundur karena tak cukup pede bisa mengimbangi kami menggapai mimpi. Meski kalender terus berganti, dan beberapa lelaki yang cukup nekat menghampiri sempat datang dan pergi, kami tak gentar dan tetap berdiri ditengah badai ujian keteguhan atas keberanian kami bermimpi besar.

Kali ini saya melihat, sahabat saya berada di titik persimpangan. Haruskah dia melanjutkan rencana pernikahan ini dengan seorang laki-laki yang akan “mempersulit”nya menggapai mimpi ?Haruskah dia memasukkan impian-impian besarnya ke dalam laci, dan entah kapan akan dibuka lagi.. Atau dia memilih melepaskan kesempatan menjadi istri, dan meneruskan hidupnya mencapai mimpi-mimpinya.

Saya hanya mengatakan, dengarkan apa kata hatimu, karena dia tak pernah berdusta. Bila pun kamu tak juga menemukan kesesuaian antara suara hati dan keberanian untuk menjalankannya, cari alasan lain yang setidaknya akan membantu menentramkan. Lakukan pernikahan ini untuk mama tercinta. Jadi anak yang berbakti mungkin berbuah kebahagiaan yang tak dinyana, siapa tahu. Tak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi berikutnya..

Mungkin nasihat bijak mamanya juga benar, bahwa kita tak bisa terus-terusan egois, hanya berpikir mimpi kita sendiri. Mungkin benar juga petuah bijak lainnya, bahwa kadang kita harus berdamai dengan diri sendiri, bahwa tak semua mimpi bisa kita raih. Bahwa pada titik tertentu kita juga harus ikhlas menerima apa yang terjadi dalam hidup kita. Meskipun pasrah bukan berarti menyerah.

Sebagai sahabat saya hanya bisa meyakinkan dia, bahwa apapun keputusan yang akan diambilnya dalam hal ini, saya akan mendukungnya. “Gue akan selalu ada buat elu, rumah gue selalu terbuka buat elu, elu bisa dateng kapan aja dimanapun gue berada kelak, gue akan selalu bantu elu semampu gue, seperti juga anak-anak elu akan jadi anak-anak gue juga, ” begitu ketik saya di BBM. “Hiks, sedih.., ini keputusan besar buat gue, elu tau kan ?”, jawabnya.

Ya memang, menikah bagi perempuan-perempuan seperti kami adalah keputusan sangat besar. Karena buat kami menikah berarti komitmen seumur hidup, sanggupkah kami menjaganya sepanjang hayat tanpa menodainya ? Benarkan lelaki yang telah dipilih ini menjadi suami dan ayah yang terbaik?

Tapi ya hidup adalah rangkaian pilihan. Satu pilihan terkait pilihan berikutnya, meski kadang tak luput mengait ke pilihan sebelumnya yang kembali muncul di masa depan. Apapun yang sudah menjadi pilihan, mantap tak mantap, jalanilah tanpa mengeluh. Good luck, Sis..Be tough, as you said, next year 2010 gonna be ours..Yes it will !