Hampir tiga bulan saya meninggalkan hiruk pikuk Jakarta. Kemacetan dan polusi itu sudah tak menjadi bagian keseharian saya lagi. Menyenangkan. Godaan untuk kembali memang tak juga surut. Berbagai telepon, email dan sms pun masih berdatangan mengundang bergabung ini itu. Beberapa kesempatan memang terpaksa harus saya lewatkan. Sedikit dilematis, tapi prioritas saya saat ini hanya satu, ingin rehat.
Mental saya lelah, hati saya masih tercabik-cabik, jiwa ini masih perlu ruang yang lega. Rupanya saya masih membutuhkan kelapangan untuk kembali menata hidup saya yang baru saja kena gempa 8,9 SR. Puing-puing itu masih berserakan meski proses evakuasi sudah berlangsung baik. Semoga masa tiga bulan ini cukup sebagai tanggap darurat bagi gempa hati ini.
Saat sulit seperti ini tentu juga jadi penyeleksi terbaik, untuk mengetahui manakah yang benar-benar sahabat, dan mana yang hanya menjadi teman di kala senang. Beberapa sahabat meski terentang jarak, bahkan terpisah benua dan samudera, telah menjadi penerang di kegelapan. Bahkan yang menyenangkan, tak jarang mereka menggampar saya dengan “kejam”. Tudingan pengecut pun mempir ke layar YM saya, yang saya terima dengan pasrah.
Mungkin benar apa kata mereka. Saya pengecut. Mengapa saya lari? Takut menghadapi kenyataan bahwa lelaki tercinta itu sudah memilih perempuan lain untuk dicintainya? Khawatir bila terpaksa harus berpapasan dengan mereka di sebuah tempat dan menyaksikan mereka sedang berpelukan mesra ? Lagi-lagi saya diam, rasanya semua perkataan sahabat saya yang ditulis dengan huruf kapital itu benar adanya.
Ya, saya takut menghadapi kenyataan bahwa lelaki tercinta itu sudah tak mencintaiku lagi. Semua yang pernah kami bangun tak ada artinya lagi untuknya. Saya hanya sekeping sampah yang bahkan harus dihapusnya dari contact list BBM nya. Fakta bahwa saya memang tak ada artinya lagi untuk dia, itu masih memedihkan hati. Saya masih tak bisa menahan rasa cemburu menyadari bahwa semua cintanya dan segenap perhatiannya tak lagi tersisa setetes pun untukku.
Saya masih enggan kembali ke rumah mungil itu, dimana kami pernah sama-sama menatanya. Saya tersiksa melihat semua barang-barangnya masih tersimpan aman di tempatnya. Menyaksikan pojokan tempat biasanya merokok itu sekarang kosong tak berpenghuni. Semua tak berubah. Saya memang masih tak ingin menyentuhnya. Entah kenapa, mungkin saya masih berharap suatu saat dia akan kembali ke sana, atau mungkin saya hanya masih dirundung rasa takut yang menghantui itu.
Sahabat saya yang “sadis” itu rupanya baru saja mengalami badai hidup yang kurang lebih sama meski dalam konteks yang lebih kompleks. Dia sampai harus mengasingkan diri ke Bali sepekan, dan mematikan semua alat komunikasi. Hanya saya satu-satunya yang tahu dia dimana saat itu. Karena dia masih mengabari saya via BBM sebelum benar-benar menghilang. Gone for a week.
Tapi rupanya sepekan itu sungguh ajaib untuknya. Saya yang mendengar ceritanya saja sepulang dia dari Bali itu sampai tercengang-cengang. Jujur saya iri padanya, sungguh sebuah pengalaman hidup yang menohok, mencerahkan dan menjadi titik balik dalam kehidupannya. Sendiri, menggelandang di pantai Kuta setiap hari, duduk di spot yang sama, bengong berjam-jam, kosong, bingung, dan hampa. Rupanya disaat itulah Tuhan mengirim utusan-utusan-Nya dengan cara yang aneh. Untuk menyampaikan pesan-Nya, mengajari sahabat saya esensi hidup, membuatnya terbangun, dan memaksanya berpikir ulang tentang hidup yang harus dijalani. Pengalaman batin yang berarti.
Oleh-oleh dari Bali itu rupanya yang kemudian dia bagikan pada saya. “Nenden elu pengecuuuuuuuuttttt!!!!!,” begitu teriaknya pada saya. Anjrit, udah lama saya gak dimaki orang seperti ini. Tak banyak yang berani melakukannya. Dan saya sangat menghargai siapapun yang berhasil memaki saya tanpa sungkan seperti ini. Karena saya tahu mereka melakukannya untuk apa. They care about me, and want me to wake up and move on. Saya pun cuma bisa misuh-misuh. Begitu tertohoknya saya ketika sederet kebenaran itu dipaparkan dengan gamblang di depan mata. Kebenaran memang seringkali menyakitkan. Tapi itulah obat yang saya yakin bisa menyembuhkan.
Saya tahu tak bisa lari terus-terusan dari kenyataan. Saya harus berhenti, berbalik arah, menghadapinya dengan berani. Saya ingat beberapa hari usai kejadian itu, saya berbincang dengan sang begawan, betapa saya ingin menyepi di Ubud untuk sementara waktu. “Why Ubud Nenden, the turmoil is in your heart, yes Ubud might help, but not that much,” katanya bijak..Lagi-lagi saya terdiam. Dia benar, kegundahan itu ada di hati saya. Suasana Ubud yang tenang hanya akan membantu sedikit, tapi tak akan serta merta menyembuhkan.
Hanya satu kuncinya, kata sahabat saya yang baru digampar preman Kuta itu, memaafkan. Memaafkan berarti menerima kenyataan dengan ikhlas, mengampuni apapun yang telah dilakukan lelaki tercinta itu, bagaimanapun dia pernah mencintai saya sebelum kemudian membenci saya. Memaafkan juga bermakna berdamai dengan diri sendiri. Menerima dengan lapang dada bahwa mimpi untuk membangun masa depan bersama lelaki tercinta itu tak akan menjadi nyata. Berdamai dengan diri sendiri bahwa kami ditakdirkan tak lagi hidup bersama. Bersiap dengan rencana hidup baru yang seringkali penuh kejutan. Tersenyum menatap fotonya, bersiap mengulurkan tangan dan mengucapkan selamat bila pada saatnya bertemu dengan lelaki tercinta itu dan pasangan barunya.
Ucapkan terima kasih Nden, begitu saran sahabat saya yang baru diruwat walisongo Bali itu. “Tatap matanya dalam-dalam, ucapkan terima kasih atas semuanya,” saran dia. Sekarang mungkin terdengar gila karena saya masih terluka, dan dia masih membenci saya. Tapi saya yakin pada waktunya saya akan bisa melakukannya. Saat kami berpapasan di sebuah jalan di Washington DC, saya akan bisa menyapanya riang, memeluknya hangat dan menatap mata itu dalam-dalam, dan mengucapkan terima kasih dengan tulus. Kalau tanpa campur tangan cinta dan sakit yang telah diberikannya, tentu saya tak akan berada dalam posisi itu kelak dan menjalani hidup yang saya mimpikan.
Saya tahu saya harus kembali, rasanya sudah lebih baik. Titik-titik pencerahan pun mulai membayang. Perlahan namun pasti tapi upaya perdamaian dengan hati yang cuma satu-satunya ini pun sudah membuahkan hasil. Memang belum utuh, masih perlu waktu, entah berapa lama lagi. Bulan, tahun..hmmm hanya Dia yang tahu. Saya hanya berusaha, melakukan yang terbaik, dan menyerahkan diri ini kembali ke pelukan-Nya, untuk diarahkan. Kemanapun Dia berkehendak.